Work Text:
petang hampir membumbung, mizi bersyukur karena nigeh—orang tua angkatnya sua—tidak membawa pulang sua lebih awal untuk latihan secara intens seperti hari-hari kemarin.
mendengar kabar baik yang diucapkan sua secara langsung, mizi tentu saja kepalang bahagia bukan main. namun, di sisi lain, sua merasa tidak enak kepada mizi karena telah menginformasikan kabar tersebut di waktu yang tidak tepat. pasalnya, nigeh membatalkan agenda membawa pulang sua secara tiba-tiba di waktu yang berdekatan dengan jam istirahat anak-anak penghuni anakt garden. mau tidak mau, sua menginformasikan kabar itu langsung kepada mizi di waktu yang berdekatan dengan jam istirahat.
beruntungnya, mizi tidak mempermasalahkan hal itu. yang terpenting: mizi bersyukur karena sua akhirnya dapat menghabiskan waktu lebih bersamanya sebelum riuh tepukan tangan meramaikan pertunjukan yang akan mereka tampilkan di panggung yang sama nantinya pada beberapa pekan ke depan.
dalam rangka mengisi waktu luang dengan poin minus—mereka bingung harus melakukan apa—mizi dan sua pun sepakat untuk beristirahat sejenak dari latihan bernyanyi, bernyanyi, dan bernyanyi. sebagai gantinya, mereka memutuskan untuk berendam di dalam bak mandi yang sama untuk mengisi waktu luang yang tak seberapa.
mungkin hal ini akan terdengar tabu, mengingat bahwa mereka berdua adalah remaja yang baru saja menginjakkan usia dewasa. bisa-bisanya terlintas ide untuk mandi bersama demi menghindari jam tidur lebih awal. jangankan tabu di mata orang lain, bagi mizi dan sua pun, berendam di dalam bak mandi yang sama adalah hal yang jelas-jelas tabu karena mereka tidak pernah saling telanjang bulat di satu ruangan yang sama sebelumnya.
ah, sebenarnya tidak juga. mizi baru ingat sesuatu.
sejujurnya ini adalah informasi yang tidak seperlunya disebarluaskan. namun, mizi teringat saja saat pertama kali dirinya melihat belahan dadanya sua untuk pertama kalinya secara tidak sengaja. sebenarnya hal itu terjadi karena kesalahan mereka berdua, sih. mereka saat itu diam-diam mengganti pakaian olahraga di ruang ganti yang sama karena ruang ganti yang lain sudah penuh. jadi, secara terpaksa, mereka berdua sepakat untuk mengganti pakaian di ruang ganti yang sama.
namun, mengingat bahwa mizi adalah anak yang cukup ceroboh, mizi secara tidak sengaja berbalik badan untuk becermin. akan tetapi, yang pertama kali dilihatnya bukanlah refleksi geraian rambutnya sendiri, melainkan belahan dadanya sua yang entah mengapa menarik perhatiannya lebih dulu—atau mungkin memang dari cerminnya—entahlah. alhasil, mereka berdua pun kepalang malu sampai semburat merah mewarnai pipi dan telinga keduanya.
di saat itu juga, mizi sadar bahwa dirinya tidak akan sanggup melihat buah dada sua untuk kedua kalinya. jangankan buah dadanya sua, melihat seluruh tubuh sua yang telanjang bulat pun pasti akan membuat mizi pingsan di tempat.
lalu, dengan bodohnya—dengan kesadaran penuh—mizi sepakat untuk berendam di dalam bak mandi yang sama bersama sua malam ini.
sebenarnya memang mizi yang kehabisan ide atau memang mizi yang cabul?
──────────────
mentari terlelap dalam kelamnya malam, begitu juga dengan moralitas mizi dan sua di loker kamar mandi yang turut terlelap juga seiring dengan berjalannya waktu. mizi memantau ke sana, ke mari, seolah tidak sedang melancarkan niat tabunya secara diam-diam selagi sua sedang menyiapkan air di bak mandi yang nantinya akan direndami keduanya.
lalu, entah mengapa, terlintas di ingatan mizi akan ucapannya ivan terdahulu: area loker kamar mandi dan bagian utama kamar mandi itu sangat minim pemantauannya. meskipun semua anak tetap diwajibkan mengenakan kalung yang sama walaupun sedang mandi, para alien yang sedang memantau pergerakan emosi kita lewat kalungnya tidak akan begitu peduli dengan apa yang sedang kita rasakan atau lakukan. jadi, mau kita mandi bersama orang tersayang pun, mereka sepertinya juga tidak akan peduli. setidaknya begitu, ucap ivan yang sedang berfantasi mandi bersama till kepada mizi.
setelah mengingat hal itu, beban di pikiran mizi terasa lebih ringan daripada sebelumnya. setidaknya, hukuman berat tidak akan menimpa mizi dan sua hanya karena mereka berendam di dalam bak mandi yang sama, ‘kan?
selagi mizi masih sibuk memantau seraya me-reka adegan di mana ivan mengucapkan hal itu kepadanya, sua sudah lebih dulu merendamkan tubuhnya ke dalam bak mandi setelah memberi kode ketukan pintu dari dalam kepada mizi, mengingat bahwa bak mandinya sudah siap direndami.
sua mendahului tumit kecilnya, merendamnya ke dalam air yang tenang, diakhiri dengan tulang selangkanya yang seolah rapuh jika tidak disentuh dengan perlahan. bau sabun antiseptik menyeruak, bau yang terkesan kekanak-kanakan, bau yang tidak menggairahkan nafsu sama sekali. sua mengayunkan kakinya, airnya bergemericik sampai tetesan airnya mendarat ke pipi sua. di saat itu juga, sua tersadar bahwa airnya terasa dingin—setidaknya bagi mizi. sua khawatir jika mizi menggigil kedinginan karena kecerobohannya. sua hanya bisa berdoa: berharap bahwa mizi tidak akan kecewa karena sua melupakan kadar toleransi suhunya mizi.
mizi akhirnya menyusul, memakan waktu yang cukup lama sampai sua hampir tenggelam dalam skenario buruk di kepalanya. tampaknya, mizi gugup karena malam ini akan menjadi malam pertama di mana keduanya saling mengekspos tubuh masing-masing yang tak berbalut sehelai kain sedikit pun.
perlahan demi perlahan, mizi menanggalkan pakaiannya sebelum pakaian tersebut diletakkan di sebelah tumpukan handuk berwarna putih. mizi membiarkan tubuhnya yang telanjang bulat ditelusup udara yang masuk dari ventilasi sebelum merendamkan tubuhnya di bak mandi yang sudah direndami oleh sua lebih dulu.
anehnya, sua enggan melihat tubuh mizi yang sudah terekspos begitu saja di hadapannya. apakah tubuh mizi tidak memenuhi ekspektasi sua? sehingga sua tidak sudi menaruh pandangan kepada tubuhnya. atau justru karena sua juga sama gugupnya seperti mizi? sehingga sua tidak berani menaruh pandangan kepada tubuhnya. apapun itu, ada seribu pertanyaan yang menggantung di udara tanpa sepeser jawabannya sedikit pun.
mizi menghela napasnya sebelum tumit kakinya menyentuh air yang masih sama tenangnya. mizi merendamkan tubuhnya, menyangga punggungnya ke pembatas bak mandi, sama seperti apa yang sua lakukan. helaan napas terlepas sekali lagi, kali ini jauh lebih berat. sua paham betul bahwa itu adalah reaksi tubuh mizi yang sedang mencoba meredamkan kegugupannya.
hening perlahan menelusup anak rambut keduanya yang basah berbalut air. sunyi berjalan cukup lama sebelum sua memberanikan diri untuk menatap mizi yang sedang memeluk kakinya sendiri. di lain sisi, mizi sadar bahwa sua sedang menatapnya. karena mizi mencintai sua, mizi tak segan untuk menatap kembali kedua matanya sua.
sua tersenyum. walaupun sedikit dipaksakan, sua tetap terlihat cantik. senyuman itu tak berlangsung lama sebelum sua melebur keheningan.
“aku senang karena akhirnya aku bisa menghabiskan waktu bersamamu, mizi.”
mendengar hal itu, mizi pun turut tersenyum kembali. senyuman yang hanya dapat dirasakan hangat kasihnya oleh sua seorang.
“aku juga merasakan hal yang sama sepertimu, sua. walaupun waktu yang kita miliki tidak seberapa, aku tetap senang karena aku dapat menghabiskan waktu yang kumiliki bersamamu.”
sua tersenyum dengan matanya, “bagaimana harimu dalam seminggu terakhir? apakah kamu mendapatkan strawberry cake yang kamu inginkan dari minggu lalu? lalu, bagaimana dengan ivan dan till? mereka tidak bertengkar lagi, ‘kan?”
“hariku tentu saja berjalan baik seperti biasanya. namun…” mizi menggembungkan pipinya, diiringi dengan pandangannya yang turun ke kedua kakinya yang masih dipeluknya, “hm, ya, sesuai tebakanmu, aku tidak mendapatkan strawberry cake yang kuinginkan. walau begitu, aku tetap bersyukur karena ivan rela memberiku beberapa permen yang seharusnya sudah menjadi jatahnya minggu ini. lalu, tentang ivan dan till… ah, jangan pikirkan mereka! mereka tidak bertengkar lagi, kok! tetapi, till tentu saja masih mendiamkan ivan karena pertengkaran mereka minggu lalu.”
buliran air menetes dari anak rambut sua kala sua terkekeh mendengarkan ceritanya mizi, “ah, mereka ini. ada-ada saja perbuatannya.”
mizi pun turut terkekeh mendengar jawaban dari sua yang tampaknya sedikit kecewa walaupun ekspektasinya lagi-lagi benar dan benar. pada dasarnya, memang bukan ivan dan till lagi kalau tidak lekat dengan keributan.
kekehan keduanya tidak berlangsung lama setelah sua kembali mengingat skenario buruknya tentang reaksinya mizi: apakah mizi merasa kedinginan? apakah mizi akan kecewa kepadaku karena aku melupakan suhu intolerannya?
sua tidak bermaksud untuk menghentikan kekehan mizi, tetapi—sua butuh kejelasan secara jelas dari mizi sebelum skenario buruk di kepalanya semakin memburuk.
“mizi.”
mizi meredamkan kekehannya, “ada apa, sua?”
“apakah kamu merasa kedinginan karena rendaman airnya?”
kalau boleh jujur, mizi sebenarnya tidak sadar sama sekali akan suhu airnya yang ternyata jauh dari intoleran suhunya. bahkan, jauh sebelum sua menyadarkan mizi, mizi belum sadar sama sekali.
namun, karena cinta mengalahkan segalanya, mizi pun menghiraukannya.
“eh, iya! aku baru sadar,” mizi terkekeh, tidak tertarik untuk mempermasalahkan hal sepele, “kamu tidak sengaja mengatur suhunya ke dingin, ya?”
sua terkekeh canggung. walaupun mizi tidak terlihat kecewa kepadanya, sua tetap gugup jika konsekuensi terburuknya benar-benar terjadi, “ah… tentang itu… sebenarnya tidak juga. aku terbiasa untuk mandi dengan air dingin, entah di anakt garden atau di rumah nigeh. aku juga lupa kalau kamu tidak tahan dengan air dingin.”
mizi memiringkan kepalanya, “kamu terbiasa mandi dengan air dingin?”
“tepat sekali.”
mizi terdiam sejenak.
“sua, walaupun aku masih bisa mentoleransi suhu dinginnya karena aku tahu kamu tidak sengaja melupakan suhu intoleranku, menurutku air di bak mandi ini sudah sangat dingin, jauh lebih dingin daripada suhu yang mereka sarankan. kamu benar-benar terbiasa mandi dengan air sedingin ini?”
“tepat sekali.”
“sua, kamu paham kalau frostbite itu nyata adanya, ‘kan?”
“iya, aku paham. aku paham sekali, mizi. namun, selagi aku masih kuat, mungkin tidak ada salahnya untuk melakukan hal yang sama secara rutin.”
“sua,” mizi mengerutkan dahinya, “apakah kamu baik-baik saja?”
“maksudmu?”
“apakah kamu baik-baik saja?”
sua tidak paham, atau mungkin—sua paham sekali dengan apa yang dimaksud oleh mizi. kadang kala, sua bersumpah serapah di dalam batinnya karena tebakan mizi yang tidak pernah meleset setiap membaca situasi dan keadaan. namun, dalam waktu yang bersamaan, hal itu menjadi salah satu alasan mengapa sua menaruh perhatian kepada mizi. mizi sangat menyayanginya, sua paham akan hal itu. walaupun begitu, sua tetap teguh kepada keyakinannya: mizi tidak akan pernah mencintainya sebagaimana sua mencintainya.
sua tersenyum masam, mencoba menutupi segala hal yang seharusnya tidak ditunjukkan secara terang-terangan kepada mizi. pandangannya turun ke bawah bersama kepalanya, seolah tulang lehernya tidak dapat menopangnya lagi.
“aku akan berbohong kepadamu untuk kesekian kalinya jika aku mengiyakan pertanyaan itu, mizi.”
mizi menggigit bagian bawah bibirnya, berharap bahwa rasa sakit di bibirnya dapat mendistraksikan dirinya dalam meratapi sua yang berusaha sekeras mungkin untuk menutupi segalanya dengan kebohongan manisnya.
“kamu tidak berpikir untuk merencanakan kematianmu lagi, ‘kan, sua?”
“salah satu caraku untuk berhenti memikirkannya adalah dengan berendam di air dingin, mizi.”
heningnya mencekam lagi setelah pertanyaan beruntun direspon oleh sua yang kemudian menenggelamkan mukanya ke tumpukan lengannya di atas kedua lututnya. rasa sesak di dadanya kembali lagi, rasa sesak yang sama setiap kali sua sedang menahan tangisnya. namun, sua tetap berusaha keras untuk tidak meluapkannya dengan tangisan di hadapan mizi yang disayang seribu sayang.
sedangkan mizi tentu saja menyadari gerak-gerik palsunya sua untuk kesekian kalinya. namun, mizi juga sama munafiknya seperti sua. mizi berpura-pura tidak tahu karena mizi paham bahwa dirinya tidak akan sanggup menyaksikan kesedihan yang terukir di mata sua seperti pada saat mizi hampir mengakhiri hidupnya di tepi jurang.
mizi sadar bahwa dirinya egois karena selalu menghindar untuk menyaksikan kesedihan yang sua rasakan untuk kesekian kalinya.
mizi sadar bahwa dirinya egois karena selalu berpura-pura untuk berperan menjadi perempuan yang tidak paham akan dunianya untuk kesekian kalinya.
mizi paham bahwa dirinya egois.
maka dari itu, mizi akan mengulanginya.
mengulanginya. mengulanginya. mengulanginya sampai kewarasan mizi terkuras tanpa hentinya demi merangkai kebahagiaan duniawi tiada taranya.
kedua tangan sua perlahan terselip ke telapak tangan mizi, jemarinya yang menelusup ke jemari mizi menyadarkan mizi dari lamunannya yang tak disadarinya telah berangsur sedari tadi.
sua menarik kedua telapak tangan mizi, mengarahkannya ke lehernya, membiarkan mizi melakukan segala hal yang dapat mizi lakukan kepada lehernya sua.
mizi menaikkan kepalanya yang tadinya menunduk untuk melihat raut muka sua. mizi sedikit terkejut dengan apa yang dilihatnya. ternyata, sua tersenyum. ah, sua cantik sekali. bahkan dalam keadaannya yang lemah tak berdaya seperti boneka porselen yang dipajang untuk koleksi, sua masih terlihat sangat cantik. setelah itu, mizi turut membalas senyumnya walau sedikit dipaksakan karena seribu pertanyaan mengelilingi kepalanya: apa yang sebenarnya sua lakukan?
“cekik leherku, mizi.”
mizi yang awalnya sedang memproses keadaan setelah terkejut, kini dibuat terkejut lagi sampai kedua matanya terbelalak.
“cekik leherku sampai aku lupa untuk merencanakan kematianku.”
buliran air mata perlahan turun dari kantung matanya sua, entah apa yang dipikirkannya. di sini, di dalam kamar mandi, sua telah mengingkari janjinya sendiri di hadapan mizi tanpa pembelaan sedikit pun.
mizi hanya terdiam dengan tangannya yang masih menyelimuti lehernya sua, menyaksikan sua meluapkan kesedihan melalui tangisan selagi mizi sadar bahwa mizi dapat mencekik sua untuk menghentikan buliran air mata itu. namun, mizi enggan untuk melakukannya. setidaknya untuk saat ini.
“bahkan sampai cekikanku membekas di lehermu?”
“jangan sampai membekas,” bibir sua bergetar, membuat suaranya turut bergetar dalam isak tangisnya, “nanti nigeh tau.”
“lucu sekali,” mizi tersenyum kaku, siap melontarkan candaan di waktu yang tidak tepat seperti: “sua masih dimandikan oleh nigeh ternyata.”
