Work Text:
Kala usianya baru menginjak tujuh tahun, Han Taesan telah terbiasa hidup dalam senyap—dalam rumah sederhana nan hampa kasih. Ia menyaksikan kedua orang tuanya terperangkap dalam pusaran ambisi, berlomba menaklukkan dunia lewat bisnis-bisnis yang tak pernah lepas landas.
Mereka percaya, bekerja di bawah orang lain hanya akan merendahkan harga diri mereka hingga tak ubahnya debu di bawah sepatu. Maka mereka bertaruh, berulang kali, demi kelayakan hidup yang lebih baik. Namun tiga kali sudah usaha mereka kandas. Tiga kali pula mereka dihadapkan pada jurang kegagalan yang tak terampuni.
Semua bertanya: di mana letak celahnya? Tapi Taesan kecil tak pernah memahami kompleksitas dunia itu. Baginya, semua ini semata demi masa depan yang nyaman—demi janji manis bahwa kelak ia dapat membeli apa saja yang diinginkannya.
Namun tak ada yang memberitahunya bahwa ambisi bisa ditebus dengan peluru. Dan janji, bisa berubah menjadi hukuman seumur hidup.
Di usia sembilan belas tahun, hidupnya digerus oleh sebuah kenyataan yang membeku darah. Bukan dari berita, bukan pula dari surat wasiat. Tapi dari mulut seorang pria muda dengan mata sekelam malam.
“ Menikah? Orang tua saya gak pernah bilang ke saya kalau saya harus menikah dengan Bapak,” ucap Taesan berdiri di hadapan seseorang yang kini sibuk menghisap sebatang rokoknya.
Myung Jaehyun, pemilik imperium bisnis SHINEDO—yang wajahnya lebih cocok terpampang di majalah ekonomi daripada berdiri di hadapannya sekarang—menjemputnya di depan gerbang sekolah, menyebut bila ada hal penting tentang orang tuanya yang ingin ia sampaikan. Taesan menurut, tak menyangka bahwa langkahnya akan menyeretnya ke sebuah perangkap. Seharusnya Taesan curiga. Namun, wajah tenang Jaehyun mengundangnya kalut dan hanya bisa ikut masuk dalam mobil ke sebuah tempat.
“Orang tuamu menipu saya,” ujar Jaehyun tenang, “Saya tanamkan lima ratus juta ke bisnis mereka, dengan perjanjian kepemilikan tiga puluh persen saham. Mereka berjanji akan berkembang dalam dua tahun. Tapi sampai sekarang… tidak satu pun yang saya terima.”
“Terus apa urusannya sama saya? Urusan Bapak, kalau ada masalah dengan orang tua saya, silahkan kejar mereka. Cari ke seluruh belahan dunia.”
Jaehyun tertawa. Tapi itu bukan tawa yang ringan. Itu adalah tawa yang menggema menyebalkan yang keluar seolah menghina Taesan saat ini.
“Taesan sayang… kamu benar-benar tak tahu ya, apa yang sudah orang tuamu lakukan?”
Taesan membisu. Di balik kebisuannya, hatinya mencelos. Selama ia hidup, orang tuanya jarang ada di rumah. Taesan hanya hidup bersama dengan asisten rumah tangga mereka, Mba Putri. Setiap kali Taesan bertanya pada Putri, dimana orang tuanya, Putri hanya mengatakan mereka bekerja. Kedua orang tuanya selalu absen, bahkan ketika hadir pun rasanya jauh.
Kini, keduanya menghilang dan Taesan tidak lagi mencari. Taesan tidak bertanya dan dia tidak penasaran. Ia tahu bisnis yang dibangun orangtuanya gagal dan mereka kabur entah kemana.
“Mereka menyerahkan kamu padaku."
Kalimat itu menghantam lebih keras dari apapun.
“Maksud Bapak?”
“Mereka berjanji akan memberikan saya 30% saham dari perusahaan kalian atau jika tidak, mengembalikan lima ratus juta dengan utuh. Kalau mereka tidak bisa memberikan keduanya, mereka izinkan saya untuk mengambil kamu sebagai jaminan.”
Jaminan.
Sebuah kata yang mencabik martabatnya. Yang menggulung harga dirinya hingga tinggal serpihan.
“Saya keberatan. Saya masih harus sekolah dan saya tidak mau menikah.”
“Sayangnya, ini bukan sebuah penawaran Han Taesan, ini perintah.”
“Ya tapi saya gak mau!”
Dan saat itu juga, sesuatu yang dingin berkilat di sudut matanya. Pelatuk ditarik, peluru tinggal dihantarkan ke kepala. Dua ajudan Jaehyun, diam namun mengancam, berdiri seperti bayangan kematian di sisi kiri dan kanannya. Seluruh tubuh Taesan bergetar. Lututnya lemas. Keringat dingin mengalir di punggung. Dunia mengecil, menyempit seperti lorong tak berujung yang memenjarakan dirinya.
“Kalau begitu,” suara Jaehyun kembali terdengar, pelan tapi mengiris, “Kembalikan lima ratus juta itu. Saya beri kamu waktu satu bulan.”
Satu bulan.
Satu bulan untuk membayar dosa yang bukan ia lakukan.
Taesan mencibir, nyaris menertawakan apa yang baru saja diucapkan Jaehyun. “Kenapa harus saya? Kejar aja mereka. Bukan saya yang ambil uang itu.”
Jaehyun menarik napas dalam-dalam, seolah sedang bersabar menghadapi seorang anak yang tak tahu posisi. “Mencari mereka hanya akan membuang waktu dan tenaga. Lagi pula, nyawa yang bisa saya pegang saat ini... ya cuma kamu.” Ia menatap tajam, seperti sedang mengukur seberapa jauh batas kewarasan di balik mata Taesan.
“Jadi silakan pilih,” lanjutnya. “Menikah dengan saya... atau bayar lunas utang orang tuamu."
Seketika dunia di mata Taesan menjadi medan yang dipenuhi siluet iblis. Semua orang terlihat serupa. Berwajah manusia, berhati serigala. Bumi ini tak lebih dari panggung teater kotor, tempat para penipu berdansa di atas luka-luka orang tak bersalah.
Dan di antara mereka, Jaehyun berdiri paling tinggi. Seperti Lucifer yang jatuh dari langit, menyulap keadilan menjadi alat untuk mencengkeram. Seorang pebisnis tanpa nurani yang percaya bahwa segalanya bisa dibeli, bahkan hidup seseorang.
Dan Taesan membenci fakta itu dengan segenap yang ia miliki.
Tiga bulan telah berlalu sejak hidup Han Taesan ambruk tanpa peringatan. Rumah lamanya yang dulu jadi tempat berpulang, ia tinggal tanpa basa-basi. Toh, sudah tidak ada lagi alasan untuk tinggal disana. Orangtuanya tidak akan kembali, dan sanak saudara pun ia tidak punya. Atau lebih spesifiknya, mungkin mereka tidak peduli. Tahu betul citra jelek dari keluarganya, mereka pun tidak minat untuk ikut campur dalam urusan keluarga Han. Rumah tersebut hendak Taesan jual tadinya. Namun ia tidak menemukan satu pun berkas yang dapat ia serahkan pada notaris untuk dijual. Sehingga saat ini, rumah itu akan menjadi rumah terbengkalai tanpa penghuni dan Taesan tidak lagi peduli.
Sekilas, tak banyak yang berubah. Ia masih bangun pagi, masih pergi ke sekolah, masih menekuni buku-buku demi satu hal yang bisa ia kendalikan: kelulusan. Tapi malam-malamnya telah jadi ritual sunyi yang panjang dan menyesakkan.
Malam ini pun tak berbeda.
Meja makan yang seharusnya menjadi ruang kehangatan, kini penuh dengan kertas soal dan buku catatan. Taesan memilih belajar di ruang makan. Kamar hanya akan membuat pikirannya menggema lebih keras. Di ruang ini, setidaknya ia bisa berpura-pura ada kehidupan lain yang sedang berlangsung.
Tadi, Mba Ira sempat menawarkan cokelat panas. Ia adalah wanita paruh baya yang bekerja di rumah ini. Tapi Taesan menolak. Ia tak suka cokelat.
Sudah dua jam sejak tawaran itu, dan kantuk mulai merayap pelan. Ia bangkit dari kursinya dan menunju dapur untuk membuat segelas kopi. Sebuah kotak terbuka di atas meja dapur, menyimpan berbagai rasa kapsul kopi yang ada. Ia kemudian mengambil salah satunya untuk ia minum. Aromanya perlahan memenuhi ruangan. Ini bukan kopi murahan, dan Taesan jarang sekali menyentuhnya. Bukan hanya karena harga, tapi juga karena itu bukan miliknya. Meski sang pemilik tak pernah mempermasalahkan berapa banyak kapsul yang habis selama seminggu terakhir, tetap saja ada rasa segan yang masih tersimpan.
Di tengah aroma kopi yang menghangatkan udara, terdengar langkah pelan dari arah lorong. Taesan diam sejenak. Ia tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Sosok itu berhenti di sampingnya, tanpa suara, hanya berdiri dan memperhatikan gerak-gerik Taesan saat menuang kopi ke dalam cangkir.
“Kenapa belum tidur? Aku nunggu kamu di kamar,” tanya pria yang baru datang, rambutnya sedikit berantakan bekas bersandar di bantal.
“Saya masih harus belajar buat besok.”
Jaehyun hanya tersenyum kecil sebelum ia menyandarkan kepala pada bahu Taesan, seolah semua yang ada di antara mereka adalah hal biasa.
“Besok kamu gak usah naik bus, biar diantar sama Pak Rudi aja.”
“Gak perlu, Mas. Saya naik Bus aja.”
Mas.
Panggilan itu masih terasa asing di lidah. Bahkan setelah tiga bulan Taesan menyerah pada satu kenyataan: ia tak bisa melunasi lima ratus juta dalam waktu sebulan. Maka ia memilih tunduk. Menikah. Menjadi milik seseorang yang tak ia kenal.
Anehnya, Jaehyun tidak memperlakukannya dengan buruk. Tidak marah, tidak main tangan, bahkan nyaris tidak hadir.
Mereka hidup seperti dua orang asing yang terikat dalam perjanjian sunyi. Jaehyun pergi sejak pagi dan kembali larut malam. Sementara, Taesan sibuk dengan sekolah. Interaksi mereka lebih banyak melalui pesan singkat yang kering dan seperlunya. Bahkan, ponsel Taesan telah ditanam chip, agar Jaehyun bisa memantau setiap langkahnya. Satu-satunya kendali yang benar-benar membuat Taesan ingin berteriak. Tapi selain itu, pria itu tidak menyentuhnya. Bahkan tidak menjualnya—seperti yang paling ditakuti Taesan saat pertama kali mendengar bahwa orangtuanya telah menyerahkannya secara utuh.
Ia hanya... menyimpan Taesan
Seperti memelihara makhluk kecil yang belum ia putuskan nasibnya.
“Kamu belum tidur, Taesan. Kalau kamu bangun kesiangan dan kamu naik bus, yang ada kamu telat.” ujar Jaehyun lagi, nadanya seperti seseorang yang sedang mencoba bersikap hangat, tapi hanya terdengar seperti perintah yang dibungkus perhatian.
“Saya telat juga bukan jadi urusannya Mas. Itu akan tetap jadi urusan saya karena pengaruh ke nilai saya, jadi Mas gak perlu mikirin itu.”
Kata-katanya seperti peluru kecil yang dilepaskan dengan tenang. Jaehyun hanya tersenyum samar, lalu mengikuti Taesan kembali ke meja makan.
Ia duduk di seberang, menatap buku-buku terbuka dan coretan soal yang memenuhi permukaan meja.
“Setelah ini, kamu akan lanjut ke jurusan apa?”
“Musik.”
“Kenapa gak bisnis? Kamu bisa belajar sama aku.” Taesan menatapnya lurus. Dingin.
“Belajar? emangnya Mas mau ngajarin anak dari orang yang nipu Mas? Kalau saya juga akan menipu Mas, gimana?”
“Silahkan, kalau kamu berani.”
Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang menggantung di antara keduanya, diselingi bunyi kertas saat Taesan membalik halaman soal.
“Saya mau kejar impian saya. Dan kalau saya berhasil kumpul lima ratus juta… saya akan kembalikan semua. Setelah itu, saya harap status ini bisa dicabut.”
Tak ada respons. Jaehyun berdiri pelan, menyentuh pundak Taesan sekilas. Sebelum benar-benar keluar dari ruangan, Jaehyun menoleh dan merendahkan dirinya untuk berbisik, “Kamu tahu kan, saya bisa pantau kamu ke mana pun kamu pergi?”
Lalu jeda.
Panjang. Mencekam.
"Kita lihat nanti, apa saya berkehendak untuk lepas kamu atau tidak.”
“Tapi kan Mas bilang sendiri pilihannya menikah atau kembalikan uang Mas. Kalau saya bisa kembalikan, bisa dong status pernikahan kita dicabut?”
“Mungkin sekarang saya berubah pikiran. Karena ternyata, lebih menarik untuk tahan kamu disini dan jadikan kamu sebagai peliharaan saya.”
Taesan menggertakkan gigi. Tapi belum sempat ia menjawab, Jaehyun kembali mendekatkan wajahnya, mengecup pelipis Taesan singkat namun tetap terasa lembut.
“Ayo tidur,” ucap yang lebih tua sebelum akhirnya meninggalkan Taesan sendiri.
Tangannya mengepal, dadanya sesak. Nafasnya tercekat, seperti sedang ditahan dalam paru-paru yang tak bisa lagi menampung beban. Ia merasa seperti makhluk kecil yang dikurung dalam akuarium kaca—terlihat, tapi tak bisa lari.
Ia tahu Jaehyun belum benar-benar menyentuh hidupnya. Tapi bukan berarti ia aman. Jaehyun hanya sedang menunggu. Menunggu Taesan tumbuh. Menunggu celah. Menunggu momen untuk mencengkeram.
Dan sebelum semuanya terlambat, Taesan punya satu keinginan yang harus ia lakukan.
Meloloskan diri.
