Actions

Work Header

GURU BIOLOGI LAST

Summary:

Geo dan Ares menyadari perasaan mereka masing masing. Namun keduanya juga tak punya keberanian untuk melangkah lebih dari yang mereka punya sekarang.

Hingga perasaan itu semakin lama menggerogoti dirinya sendiri dan menyerah dengan situasi.

Notes:

Fyi butuh satu tahun lamanya untuk Part Last ini keluar

Work Text:

KOTA, SEPTEMBER 2020

Masa Pendidikan Profesi Guru usai setelah setahun Geo mengajar di sekolah pinggiran. Hanya berpamitan dengan jajaran guru, Geo langsung angkat kaki dari sana dan pergi sejauh jauhnya.

Bisa dia bayangkan sehancur apa Ares saat mengetahui sang guru tak berpamitan barang satu patah kata padanya di detik terakhir dia ada di sana.

Geo tidak mau. Geo tidak suka melihat kedua mata Ares yang menatapnya penuh harap seakan Geo bisa mengabulkan satu hal mustahil yang selalu Ares minta. Geo tidak bisa bersamanya.

“Kasian, dia datang hujan-hujanan ngejar mobilku tanpa alas kaki,” jelas Marvin, meminum kopi di hadapan teman lama yang baru ia temui dua tahun kemudian.

“Aku selalu ingat ekspresinya itu. Dia berharap ada kamu di mobil yang aku kendarai. Dia berharap bisa bertemu kamu untuk terakhir kali. Saat aku bilang “geo sudah pergi” tatapannya kosong seperti orang mati. Kamu memang tak punya simpati, tapi aku tidak menyangka kalau kamu sekejam ini.”

Geo membuang wajah. Dia tidak mau peduli lagi dengan Ares.

“Cinta itu cuma sesuatu yang semu. Nanti juga dia akan lupa akan atensiku. Aku tidak berharap dia terus ingat kenangan kita yang bahkan membuat aku sendiri malu.”

Marvin mendengus. Merasa kalau Geo memang begitu kasar memperlakukan cinta tulus Ares yang terus mengejarnya di masa SMA.

“Dia mencintai kamu, Geo. Cintanya sampai bisa membunuh dia sambil berdiri.”

“Kalau begitu biarkan dia sadar kalau cintanya sia-sia sampai dia membenciku. Aku lebih suka dia juga berusaha lupa dan tidak mengenaliku.”

Keduanya duduk di depan cafe klasik yang menyediakan kopi hitam autentik dari pedalaman. Geo bukan pemabuk kafein. Tapi semenjak tinggal di desa itu, dia jadi lebih sering minum kopi daripada air putih.

“Sudahlah. Senang reuni tiba-tiba bersama kamu, Mar. Saya pulang dulu.” Geo mengais tas selempangnya dan menaruh uang lima ribu di bawah gelas kopi itu.

Marvin mengangguk, membiarkan sang teman lama berlalu dengan setelan kemeja hijau toska dan celana katun hitam baru.

Tubuh tegapnya masih seperti dua tahun lalu. Hanya saja auranya lebih suram dan ekspresi wajahnya tidak pernah luput dari muram. Suasana hati Geo selalu kelabu. Menahan perasaan dua tahun yang selalu abu-abu. Dia pantas mendapatkan penderitaan itu, karma dari menyiksa Ares dengan patah hati yang membiru.

Geo melangkahkan kakinya menuju mobil, gontai seperti mayat tak berjiwa yang memaksa hidup walau sukmanya sudah redup.

“Ares…” dia bergunam akan namanya. Nama yang selalu Geo gaungkan sebagai kutukan untuknya.

Tidak ada yang tahu selain tuhan, setan, dan dirinya tentang kebenaran di balik ini semua.

Geo masuk ke dalam sedan tua pemberian ayahnya untuk bekerja dan pergi ke sekolah. Dia duduk sejenak memandang ke depan. Genggaman tangannya pada stir mengerat dan air matanya jatuh.

Tidak ada yang tahu selain tuhan, setan, dan dirinya tentang kebenaran di balik ini semua.

Betapa penyakit ini begitu menggerogotinya saat ia kembali mengingat Ares di dalam benaknya. Saat ia sadar dia sudah kehilangan setengah jiwanya, saat dia menyerah akan tujuan hidupnya.

Tidak ada yang tahu selain tuhan, setan, dan dirinya tentang kebenaran di balik ini semua.

Penyakit yang orang sebut rindu itu semakin menyakitinya. Menyiksa jiwa Geo tanpa henti setiap harinya. Menusuk tepat di jantung dan meremasnya hingga sesak di dada dan Geo tak bisa bernafas dengan leluasa.

Nafasnya semakin pendek. Matanya buram dan hidungnya tersumbat. Ares berlari padanya tanpa alas kaki, Ares mati untuknya dalam keadaan berdiri, Ares yang mencintainya tapi Geo membuang cinta seperti meludah semata.

Lupakan aku, Ares.. lupakan aku..

Atau ayatnya kini berbalik menjadi

Tuhan, biarkan aku lupakan ares dan hidup dengan tenang.

Karena pada dasarnya, cinta Ares yang sebesar daratan tak pernah bisa menandingi obsesi Gio yang seluas lautan.


DESA JULI 2018

“Selamat pagi pak!” Ares datang dengan kemeja putih dari satin serta celana pendek selutut dari kain. Dia menata rambutnya, walau bleaching tersebut mulai memudar, kecantikan ares tak pernah berkurang.

Geo yang tengah bersantai menikmati Sorabi lantas menelan ludah dua kali. Cantiknya kali ini semakin memikat hati. Hanya rahasia tuhan dan sanubari, Selalu Geo panjatkan puja puji saat menatap ares setiap hari.

“Pagi,” jawab Geo singkat. Pria yang tak diundang tersebut lantas menaruh tubuh di kursi samping Geo. Menampakan lebih jelas pahatan indah yang tuhan ciptakan dengan garis lengkung wajahnya yang sempurna.

“Hari minggu ini mau ikut ares gak?”

“Kemana?”

“Jalan jalan! Pak Geo ‘kan dari awal ke sini di rumah terus. Memangnya bapak gak mau liat liat desa ini?”

Geo memutar bola mata malas. Sejujurnya di sini tidak seburuk itu. Pemandangan asri menjadikannya tempat cuci mata kala lelah berkecamuk dengan murid murid menyebalkan sepanjang hari.

Geo juga semakin terbiasa dengan kehadiran Ares yang selalu menyapa dengan suara melengking. Mengganggunya setiap saat dan menghampirinya dengan senyum simpul. Rambutnya sudah pirang pudar. Bagian pangkalnya kini terlihat jelas berwarna hitam.

“Rambut kamu, pakai warna hitam.. jangan diwarnai. Masih sekolah”

“Kalau ares pakai warna hitam, bapak lebih suka?”

Geo memutar otak. Membayangkan Ares dengan rambut warna hitam…

Seketika guru biologi itu menyeruput lagi kopinya dengan mengalihkan pandangan kearah lain dan mengangguk. Ares kembali dengan senyum simpulnya.

“Iya! Nanti ares ganti warna hitam karena pak Geo suka.” Geo mengangguk lagi.

“Tapi pak Geo setuju, ‘kan?”

“Soal apa?” Geo bertanya. Ares mencabik dan menjelaskan lagi.

“Soal yang tadi, mau ikut aku?”

Geo menyeruput kopi menyembunyikan ekspresi dan mengangguk tanda ajakan kencannya disetujui.


Geo menuruti Ares dengan wajah datar. Naik sepeda ontel berdua pada pagi hari menyusuri sawah sawah yang ada di sana. Musim mulai memasuki masa penghujan. Jam 7 di sana dimulai dengan kabut gelap di sepanjang jalan dengan orang orang tua ke sawah berjalan membawa bibit padi.

Mereka menyapa keduanya, bertukar senyum ketika Geo menggoes sepeda sedangkan Ares apik duduk di belakang.

Sudah lama Geo tidak menginjak pedal, merasakan lagi kakinya bernyawa setelah sekian lama hanya duduk atau bersila.

“Di belokan depan, ambil kiri!” Ares mengintrupsi.

“Nanti tembus ke mana?”

“Ke Curug yang ada di desa ini.“

“Di sini ada curug?”

Ares tak menjawab, justru mengeratkan pegangannya pada pinggang Geo sembari membenamkan wajah di punggungnya.

“Ada lah…,” jawabnya pelan.

Jalanan itu menurun. Walau sempit, tapi kepala desa sudah mengecornya sampai bawah. Hanya sepeda motor yang bisa masuk, mobil terlalu besar untuk menyusuri jalan yang lebarnya hanya semeter itu.

“Ares..” geo memanggil dengan tangannya kuat mengontrol gagang sepeda.

“Iyaa?”

“Pegang yang erat. Takut jatoh..”

Ares tersipu di balik punggung Geo. Sedetik kemudian mimiknya berubah menjadi senyum paling cerah yang pernah ia punya.

“Iyah!”

Tak ada siapa-siapa di sana. Bahkan warung bu yati yang selalu menjadi pusat ngumpul anak-anak saja masih tertutup. Hanya suara deras dari jatuhnya ribuan liter air dari gunung yang membubuhi suasana mereka.

Ares menarik tangan Geo guna menuntunnya menyusuri bebatuan licin yang mana dialiri air sungai pada pijakan kaki mereka. Erat sekali geo genggam tangan ares yang membawanya mendekati air terjun itu.

Saat tiba di satu tempat yang cukup jauh dari gerbang masuk, ditutupi dengan tanaman akar menjalar dan suasana yang cukup gelap berasap, air terjunnya terlihat jelas dan cipratannya mengenai baju mereka.

“Dingin,” ujar Geo, menatap lagi air terjun di hadapannya.

“Biasanya di sini ada pelangi,” celetuk Ares, wajahnya tampak kecewa telah gagal menunjukan sesuatu yang indah pada sang guru.

“Gak ada matahari, gak ada pembiasan cahaya. Wajar aja gak ada pelangi.”

Ares memiringkan kepalanya, berfikir sejenak dan berakhir tersenyum manis untuk Geo.

“Itu pelajaran biologi, kan?” Dia menggantung ucapannya. Mendekat kearah Geo lalu mengalungkan tangan di lehernya.

“Aku bakalan rajin belajar biologi sampe jadi guru kayak bapak!”

Geo berdecih. Mengacak rambut Ares di hadapannya dan memutus lingkar tangan di leher.

“Jangan, deh. Jadi guru di negara kayak gini gak enak enak amat.”

“Tetep aja. Aku mau kalau nanti di masa depan kita satu kantor, duduknya di sebelah aku. Bapak bisa kok minta tolong buat cek nilai anak-anak. Kalau bapak cape, aku bisa bantu buat ganti kelas bapak. Kalau bapak perlu sesuatu, aku bakal jadi kaki dan tangan yang bapak punya tanpa keluar tenaga.” Dia bersungguh-sungguh menyatakan visinya lalu berjinjit untuk menggapai daun telinga si guru dan membisikan satu hal rahasia.

“Bapak bisa pakai aku dalam segala aspek.”

Geo memandanginya dengan jeli seaktu Ares berdiri dengan benar di hadapan. Bisa dipakai dalam segala aspek tentu termasuk hal yang ares tuju tentang hubungan haram dengan dirinya.

Geo tak menahan diri. Dia biarkan setan itu merasukinya lagi seperti waktu lalu ia babat habis dosa tanpa menyisa.

Virgo yang lebih tua menunduk dan tangannya menyentuh pipi Ares untuk dibelai. Ibu jarinya berputar lembut pada daun telinga hingga pipi lalu mundur ke belakang dan menarik tengkuk Ares untuk ia bubuhkan ciuman pada pagi itu.

Suasana dingin menusuk kulit kini bukan lagi isu yang mereka pedulikan. Keduanya terjun jatuh dalam jurang nafsu satu sama lain.

Geo yang duduk di atas batu dan Ares yang dipangku bertelanjang tanpa sehelai baju. Kecup demi kecup berjejer di seluruh dada Ares. Tangan Geo tegap menahan tubuhnya dan terus ia lahap bagai rakus yang kelaparan. Bahkan, suara bising dari desahnya tidak terdengar karena air terjun yang tak kalah nyaring di sebelah.

Kakinya melebar, dicium tak terbilang oleh orang yang akalnya hilang. Ares menjambak rambut Geo sewaktu dia dengan khidmat menyedot pucuk sari dari klentitnya, lidah masuk ke dalam labia dan liar menyisihkan ludah sampai berbaur dengan lendir bekas pelepasan Ares.

Ares sendiri yang naik ke pangkuan, Ares sendiri yang membuka lebar selangkangan, dia biarkan Geo memperkosanya sampai inti terdalam, berharap juga sang guru bisa meninggalkan jejak barang sperma agar Ares punya yang mirip seperti bapaknya.

Dalam kepalanya sendiri sudah menari banyak syair yang terus terlantunkan berulang seperti lingkaran setan tanpa jalan keluar.

Sentuh aku lagi, sentuh aku di setiap epidermis dari tubuh ini, buang tiap ragu bahwa madu tak boleh dituangkan kedalam tungkunya. Kita anggap saja hipotesa bahwa tautan tanpa penutup tak akan menghasilkan apapun.

Karena jauh dalam lubuk hati ares, dia mengetahuinya. Cinta yang tumbuh di sela vela dan arteri yang terdapat di dalam jantung hanyalah aliran getar listrik sepihak. Hanya rangsangan yang diberikan tanpa afeksi sungguhan, sebuah harapan dalam topeng tanpa adanya kebenaran.

Hingga semakin lama ares juga jatuh ke dalam jurang opium di sela nirwana indah pada netra yang bersitatap dengan agungnya entitas cinta yang ia dambakan.


Keadaan kini berbalik. Semenjak kejadian di dekat air terjun itu mereka makin erat melekat. Ares tidak tahu kalau mungkin saja air dingin di pagi itu benar benar menghantam sel kepala yang ada di kepala geo hingga pria di hadapannya ini ikut menikmati pola setan yang ia buat.

Geo tak masalah kalau pagi hari sekali ditarik ares pada persimpangan jalan di sekolah untuk sekali mengecup bibir, geo tak masalah kalau pada malam minggu area datang ke rumah lalu mencintai dan menghangatkan kasurnya lagi sampai ke pagi. Geo tak masalah pada tangan yang bertautan sewaktu berjalan saat tak ada yang memperhatikan, geo tak masalah pada kepala yang bersandar saat keduanya hanya bersama di ruangan.

Kedekatan itu bagai opium yang makin merusak sel otak ares. Mengeratkan seluruh kepercayaan pada geo yang memberi tanda seakan cintanya berbalas dan penantiannya seakan telah tiba dan dibayar kontan.

Ares tahu hari ini akan datang. Hari di mana geo juga sadar akan kehadirannya sebagai seorang hamba paling mencinta bukan hanya seekor serangga.


DESA, DESEMBER 2018

Pagi buta di jam 5. Geo mengikat erat tali sepatunya di teras depan rumah yang sudah setahun ia tinggali.

Masa dia mengajar di penjara ini sudah selesai. Dia harus segera pulang dan melupakan apa yang sudah terjadi seakan hal tersebut hanyalah halaman buku ringkih yang bisa ia sobek lalu dibuang sesuai kehendak.

Pada halama halam tersebut, seakan terhapus otomatis seluruh nama yang menyebutkan seseorang benama ares, menyoret tiap kalimat bertuliskan cinta dan kasih sayang.

Lalu dengan tinta hitam basah ditulis khusus pada satu halaman.

Semuanya hanya skenario sampah dan teater cinta yang tak laku terjual.

Topengnya ia lepaskan. Dramanya sudah usai, tak ada yang dibawa oleh pemeran utama. Hanya kesenangan semu yang tak pernah ia harapkan sejak awal.

Geo memang pengecut sampah untuk satu goresan di hidup ares. Dia tak mau bertanggung jawab lebih jauh tentang anak itu. Dia hanya mengikuti alur permainan.

Geo meninggalkannya.

Namun ia lupa, bahwa setiap tabur dari perbuatan akan menuai karma yang setimpal. Jadi pada setiap langkah yang geo ambil, satu penyakit muncul di dalam hatinya yang akan tumbuh menggerogoti jiwa hingga kandas tak tersisa.

Mereka sebut penyakit itu penyesalan, mereka sebut penyakit itu rasa bersalah, mereka sebut penyakit itu adalah kerinduan tak berujung yang mencekik di setiap malam dan menghantui tanpa pernah berhenti.

Geo bergumam pada tiap langkahnya, mengatur nafasnya dan menenangkan dirinya.

Lupakan aku, Ares.. lupakan aku..

Atau ayatnya kini berbalik menjadi

Tuhan, biarkan aku lupakan ares dan hidup dengan tenang.

Dengan tangisnya tersedu menetes di kedua kelopak matanya.


KOTA, SEPTEMBER 2020

(Multo by cup of joe)

Sekolah SMA yang kini menjadi tempat baru geo ramai dengan anak-anak alumni yang akhirnya bisa lulus ke perguruan tinggi bergengsi di negri. Sekolah mengundangnya untuk sekadar memberi seminar dan mengobrol dengan kelas 12 yang akan mendapat giliran.

“Katanya gak semuanya alumni dari sini,” ujar Tirae, guru matematika kelas sepuluh. Dia berdiri di samping geo yang memandangi anak anak di lapangan.

“Oh ya?” Jawab geo, sekadar formalitas. Dia tidak mau punya hubungan buruk dengan guru killer di sebelahnya ini.

“Iya, satu kampus yang alumninya cuma tiga atau empat orang, dimintai tolong sama pak Jendra buat bawa teman biar ramai ramai bisa diskusi sama anak kelas dua belas. Kamu lulusan mana, pak geo?”

“Saya? Lulusan ITJ.” Tirae mengangkat kedua alisnya hingga kacamata kotak itu longsor dari hidungnya.

“Pantesan pintar sekali. Di SMA kita tahun kemarin yang lulus ITJ cuma 4 orang. Jadi pak Jendra suruh bawa 4 orang lain yang bukan alumni. Bapak gak penasaran sama anak kampus bapak?” Geo memberi senyum kikuk. Tidak sih..

“Mungkin nanti,” lirih Geo, menunduk dengan suram. Dalam memorinya sekilas mengingat Ares yang bercita-cita bisa satu kampus dengannya. Apa itu tercapai? Apa kabarnya sekarang?

“Kampus ITJ di kelas 12 IPA 6. Saya denger ada yang jurusan pendidikan biologi juga, tapi bukan alumni sini.”

What a coincidence…

“Dia pinter banget, padahal gak pernah ada riwayat ikut olimpiade waktu sma. Sekolahnya juga bukan sekolah yang bagus, pinggiran kota. Bahkan kata alumni, nilai SBMPTN-nya sempurna, sudah 2 tahun juga selalu bawa piala buat kampus. Dia bisa saja masuk Universitas Nasional atau Universitas Patih Mada. Bukan saya ngejelekin ITJ lho, pak. Cuma saja anak sepintar itu maunya ambil pendidikan biologi. Padahal dia bisa lebih dari itu, gigih sekali.”

Geo memberikan senyum canggungnya. Telapak tangannya basah dan jantungnya mulai berdegub kencang. Secercah harapan muncul namun langsung ia tangkis dengan tamparan realitasnya sekarang. Ares tak mungkin mengambil jalan yang sama dengannya, ares membencinya. Pasti sudah tak ada tempat di hati anak itu sejak hari geo meninggalkannya.

“Berati masih ada yang peduli sama pendidikan dong, pak.” Tirae mendengus, dia betulkan kacamata melorot itu hingga tersangkut kembali di pangkal hidung.

“Betul, berati anak anak setelah ini masih punya harapan kedepannya.”

Tirae pergi lebih dulu saat bel masuk dari anak kelas 10 berbunyi. Dia punya banyak tugas yang merepotkan untuk ditinggalkan sekali.

Geo sendiri masih termenung. Memandangi lapangan upacara yang legang karena anak anak mulai masuk ke kelasnya. Hanya beberapa anak kelas 12 yang masih berkeliaran karena kelas dibebaskan untuk hari ini.

Sangat sepi, dia juga tak punya kegiatan lain karena pekerjaannya hanya memegang kelas 12. Geo pergi dari sana dan berjalan di koridor panjang menuju laboratorium untuk mengecek persiapan praktek di esok hari walau sebenarnya asisten labornya pasti sudah melakukannya dengan benar, tapi tetap saja. Setidaknya Geo ada kegiatan sedikit daripada hanya mendengar gosip di ruang guru.

di sana benar benar sepi. Suara angin begitu nyaring karena kelas jauh dari area tersebut. Hanya ada graha eskul, aula, gudang dan 3 laboratorium berjejer di lahan paling ujung.

Dia berdiri di depan pintu masuk. Sejujurnya alasan dia menjauh dari kerumunan bukan karena alasan klise yang ia buat untuk menipu diri sendiri. Namun, hanya ingin memberi ruang untuk dirinya sendiri menenangkan diri. Kepalanya menunduk melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidung.

Suara langkah kaki terdengar dari pinggir. Geo menoleh, menatap sepatu putih dan celana hitam, berdiri dengan jarak lima langkah dari tempatnya. Perlahan tatapannya naik, almamater biru tua dengan logo yang paling Geo kenali, kemeja hitam tanpa corak, lalu yang terakhir, wajah putih pucat dengan rangkaian anatomi yang tertancap permanen dalam ingatan geo.

Tanpa kacamata, begitu jelas ia tatap sosok di hadapan. Tampilannya sedikit berubah, dengan rambut hitam legam dan tubuh yang sedikit lebih tinggi namun tak melebihi geo. Dulu selalu ada garis runcing di ujung kelopak matanya, kini menghilang, bibirnya juga tidak semerah itu. Baru hari ini geo sadar bahwa dia memiliki bibir yang penuh di bawah namun runcing pada bagian veltrum.

Selama ini geo tak pernah menyadarinya, karena bibir itu selalu tersedia tipis dengan senyum lebar dan pipi mengembang di tiap kali geo menatapnya.

Kini, tubuh dari tautan benang jiwa yang sudah ia gunting hanya berdiri dengan jarak tiga meter dari tempatnya. Dia tak memberikan ekspresi seakan hanya sebuah kertas putih tanpa segoret jawaban.

Banyak pertanyaan mengisi kepala Geo. Di kehidupan ares yang sudah membuka lembar baru kali ini, apa yang ia telah jalani? Apa dia mendapatkan cinta yang berarti? Apa dia makan dengan baik? Apa dia punya sumber senyum yang mutual hingga ares tak merasakan tumpuan cinta itu sendirian?

Tak ada salah satu dari mereka yang bergerak, tak ada salah satu dari mereka yang berbicara.

Keduanya seakan menunggu satu sama lain untuk buka suara dan mendengarkan apa yang kali ini diucapkan. Karena keduanya sama sekali tak pernah tau bilik hati masing masing.

Penyakit dalam diri Geo kini sudah menggerogoti keseluruhan jiwanya. Parasit itu tak berhenti menyakitinya hingga di saat ini, detik di mana Geo perlahan mulai meregang jiwanya sendiri, dia tak bergerak sama sekali walau Geo tahu penawar dan obatnya tengah berdiri menunggu tindakan.

Karena geo sama sekali tak punya apapun untuk membeli penawar dari racun yang ia minum di hari itu.

Geo tidak pernah mau berurusan dengan murid bermasalah. Sejak dulu hidupnya selalu dalam zona nyaman dan suka cari aman. Dia tidak suka punya urusan panjang. Lebih baik dicaci sebagai cupu daripada hidupnya tak tenang.

Flat sekali. Tidak pernah ada percikan di hidupnya. Hal yang paling mendebarkan adalah saat dirinya menunggu nilai kelulusan dan terkejut. Selain itu? Jantungnya normal saja.

Dia tidak suka cari sensasi. Jadi dia tidak pernah berfikir untuk jatuh cinta. Dunianya terkurung di dalam satu frame kacamata kotak yang sudah ganti 2 kali setahun.

Geo mau hidupnya terus baik baik saja.

Sayang, kedamaian itu harus sirna karena hilangnya Ares di hidupnya.

Jadi ia mengambil langkah mundur. Seperti yang selalu Geo lakukan dalam hidupnya, menjadi pengecut walau tubuhnya sudah hilang dilahap kegelapan dari rasa sakitnya.

Geo berbalik, kakinya melangkah dari tempatnya hendak meninggalkan Ares di sana.

“Ares mau dengar permintaan maaf dari bapak.”

Sesungguhnya pemilik keseluruhan jiwa Geo adalah Ares, tuannya, langitnya, kuil dan segala yang ada di semesta kehidupan Geo.

Kakinya berhenti. Tubuhnya berbalik dan matanya langsung bersitatap dengan oksidian ares. Rahang geo mengeras, tangannya mengepal hingga buku buku jarinya memutih. Bahkan tanpa berkedip, seluruh perasaannya tumpah. Bukti dari rasa sakitnya mengalir deras di kedua matanya membasahi pipi.

Tatapan kosong ares bak cermin pada ruangan gelap tak bercahaya kini berubah menjadi gemerlap kilauan yang diisi dengan ekspresi terkejut.

Geo kini tahu rasanya begitu malu mencekik dan mati sembari berdiri.

Ares mengambil langkah lebih dekat, tangannya melingkar di tubuh Geo hingga wajah yang lebih tua jatuh ke pundaknya.

“Maaf ares, maaf, maaf, maaf,”


Ares menghela nafasnya panjang. Kelas yang ia isi untuk seminar kampus expo di sma tempatnya adalah di lantai dua. Tepat sekali pada lorong balkon kelas langsung menghadap kantin yang ada di samping aula.

Ares menumpu dagu dengan satu tangannya melihat orang lalu lalang di bawah. Tasya bilang kalau Ares tidak perlu merepotkan diri. Hanya hadir sebagai pengisi ruang kosong karena lulusan sma yang masuk ke kampus ares sekarang hanyalah empat orang.

Bohong kalau Ares tak tahu SMA Tasya kini adalah tempat kerja Geo yang baru. Dia mendapatkan informasi itu dari Ghandi yang diberi tahu pak Marvin. Dengusan kesal itu muncul lagi mengingat Ghandi si brengsek jarang sekolah bisa mendapatkan hati orang yang ia suka hingga terus berhubungan sampai sekarang, sedangkan Ares justru penuh dengan drama pelarian.

Ares hanya ingin melihat lagi orang yang meninggalkannya tanpa kata di dua tahun lalu. Ares ingin melihat apakah dia masih menjadi pria cungkring canggung dengan kacamata kotak atau sudah berubah dengan sedikit berisi karena bahagia pada kehidupannya sekarang yang tak punya gangguan.

Dia tak pernah membenci geo. Justru selama ini hanyalah rasa hampa dan kekosongan yang ada di hatinya. Saat lamunannya mulai hanyut, matanya menangkap sesuatu hingga bosannya buyar dan badannya tegak.

debaran itu mengisi hati ares lagi setelah sekian lama. Kakinya secara tak sadar ikut bergerak mencari ke mana orang yang selama ini menjadi hantunya. Ares berlarian di tangga, mengejar pada tempat terakhir dia berpijak lalu mencari dengab putus asa.

Rencana di awal seketika hancur begitu saja. Padahal Ares hanya ingin melihatnya dari kejauhan, namun dorongan dari perasaannya memaksa hingga otaknya bergerak sendiri tanpa perintah.

Saat sampai di belakang kantin, pria jangkung dan baju batik berwarna biru itu terlihat di ujung lorong. Ares melangkahkan kakinya lagi, euphoria memenuhi tiap sudut kehampaan dan ruang kosong itu kini sesak lagi seperti hari pertama di setiap pagi masa SMA nya.

perlahan langkah ares berubah menjadi keraguan hingga saat Geo berhenti, Ares hanya bisa berdiri pada jarak lima kaki.

Aku itu lagi ngapain… kenapa aku seneng ketemu pak geo lagi..

Mungkin saja kesenangannya akan berakhir menjadi bencana di hari ini. Mengetahui bahwa Ares adalah mimpi buruk abadi untuk geo sendiri. Seorang pengganggu yang merusak seluruh kehidupan geo.

Tatapannya berubah menjadi takut saat Geo menatapnya. Hening di antara mereka membunuh ares pelan pelan, darahnya berlarian tak karuan hingga gemetar melingkupi dirinya.

Geo berbalik, saat itu ares sadar dengan posisinya. Selama ini dirinya tak pernah menjadi orang itu, seseorang yang Ares anggap sebagai sisi istimewa dan bukan hanya serangga.

Tanpa sadar hatinya tergerak lagi, suara itu seperti keluar sendiri sama seperti langkah kaki yang ia ambil tadi.

“Ares mau dengar permintaan maaf dari bapak.”

Geo berhenti. Mungkin saja ia akan mencaci Ares dan sekali lagi menamparnya untuk sadar bahwa perasaan rendahan itu begitu menjijikan untuk Geo ingat lagi.

Namun saat Geo berbalik sekali lagi dengan ekspresi yang tak pernah Ares bayangkan, ia melempar semua penyesalan itu dan sekali lagi mengejar Geo untuk kali ke seribu, mengambil tubuh ringkih pria yang ia cintai.

“Maaf, Ares.. Maaf, maaf, maaf,”

Seketika telinganya berdengung dan seluruh dunia berubah menjadi abu abu. Ares mengeratkan pelukannya, sekalipun ini yang terakhir, ia tak akan menyesal. Hanya dengan Geo yang tak membencinya dan tetap mengingatnya adalah sebuah keinginan yang selalu Ares dambakan.

Geo mengangkat wajahnya, mata teduh dengan sejuta konstelasi bintang terkandung pada tatapannya. Geo menunduk, mengecup kedua kelopak mata Ares yang menambah pacu degub jantungnya.

“I won’t be coward anymore, ares. I promise i will be your side Until the love you gave is no longer left.”

And being 'someone' for Geo is not one thing I dare to hope for even in a dream

Series this work belongs to: