Work Text:
"Kalau cerita hidupmu dijadikan satu buku—"
Hyeeun mengatakannya sambil memeluk lutut, duduk di lantai Hostel yang dingin. Matanya menatap langit-langit usang, seolah kalimat itu ditujukan bukan untuknya, bukan pula untukku, tetapi untuk malam yang terlalu sunyi untuk usia kami.
"Maka bukunya tidak akan pernah selesai," lanjutnya, lebih lirih dari sebelumnya.
Kupandangi ia saat itu,gadis dengan rambut hitam yang bergelombang indah, berseragam sekolah yang mulai kusut, dan wajah lelah seperti terlalu banyak berpikir untuk seseorang seusianya. Ia tampak begitu kecil di tengah ruangan kosong itu, seakan sedang menunggu sesuatu yang tak pernah benar-benar datang.
Aku tidak menjawab.
Bukan karena tak ingin, tetapi karena tak tahu harus berkata apa.
Hidupku bukan buku, pikirku waktu itu. Hidupku lebih seperti catatan kasar: dilipat-lipat, dicoret-coret, dipenuhi bekas sobekan. Tak ada bab, tak ada prolog, dan yang pasti, tak ada akhir yang rapi.
Aku tumbuh liar. Dunia memperlakukanku seperti pecahan kaca. Tajam, tak diinginkan, tetapi tetap harus diinjak.
Tidak ada rumah yang bisa kusebut rumah. Tidak ada pelukan yang bisa kukenang hangatnya. Sejak kecil, aku belajar memukul lebih dulu agar tidak dipukul. Dan dari semua yang pernah kumiliki, kekerasan adalah satu-satunya yang selalu kembali.
Kim Hyeeun sebaliknya.
Kim Hyeeun adalah segala hal yang tidak pernah kupunya: gadis sekolah biasa, anak dari seorang jaksa yang sangat menghargai reputasi dan hasil rapor. Ibunya adalah perempuan dingin dan terhormat, yang berbicara dengan nada datar dan menatap orang-orang seperti lembar data yang bisa dinilai dan disortir.
Ia membesarkan Hyeeun dengan harapan, dengan rencana, dengan target. Dan dalam dunia itu, aku tidak termasuk.
Namun entah bagaimana, Hyeeun tetap datang. Lagi dan lagi.
Kami bertemu karena Hostel. Tempat yang tidak pernah benar-benar aman, tetapi cukup sunyi untuk kami merasa sendiri bersama-sama. Ada banyak anak di sana, semuanya dengan cerita yang tidak ingin mereka ceritakan. Tapi hanya ia yang duduk diam di sampingku, tidak menanyakan apa pun. Tidak menghakimi. Tidak takut.
Ia mendengarkanku bahkan ketika aku tidak berbicara.
Dan aku, tanpa sadar, mulai mendengarkannya juga.
***
Kedekatan kami tidak dirayakan dengan janji atau bunga. Tidak ada kencan, tidak ada tanggal jadi. Hanya malam-malam panjang yang dilalui dengan bahu bersentuhan dan napas pelan di antara kalimat-kalimat setengah jadi.
Aku tak ingat siapa yang lebih dulu menginginkan yang lebih dari sekadar diam. Tetapi di satu malam yang dingin dan terlalu senyap, kami berbaring berdampingan, dan tidak ada lagi batas antara aku dan dia.
Bukan soal nafsu. Tetapi semacam kepercayaan diam yang terlalu rapuh untuk dibahas.
Setelah itu, ia tersenyum kecil dan membisikkan kalimat itu.
"Kalau hidupmu dijadikan buku… Orang-orang akan menangis, marah, jatuh cinta... dan tetap ingin membacanya sampai habis."
Waktu itu, aku hanya menatap langit-langit dan bertanya-tanya, kenapa seseorang sepertinya bisa jatuh hati pada seseorang sepertiku. Dan yang lebih menyakitkan: kenapa aku membiarkannya?
***
Kenangan itu tetap tinggal bahkan setelah semuanya hancur.
Ketika ia hamil, dunia seolah membalik arah. Ibunya datang, marah, kecewa, dan memaksanya pulang. Aku tidak cukup kuat untuk melawannya. Aku tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan seseorang yang bahkan tidak tahu apakah ia ingin diselamatkan.
Lalu datang kebohongan.
Lalu manipulasi.
Lalu hari di mana ia pergi sendirian ke klinik, dan tak pernah kembali.
Aku tidak melihat tubuhnya saat itu.
Tetapi aku melihat anak kami.
Bayi kecil yang menangis dalam dekapan suster, dikelilingi cahaya putih dan duka yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dan di saat itu, aku tahu: buku yang ia bicarakan, tidak akan pernah selesai.
Karena penulisnya telah mati sebelum mencapai akhir.
Kini aku masih hidup. Kalau ini bisa disebut hidup.
Aku bangun tiap pagi karena harus. Membuat sarapan. Mengantar anak ke sekolah. Menjawab pertanyaan sederhana dengan suara yang tidak pernah benar-benar ramah.Aku memotong rambut untuk hidup. Ironisnya, itu mimpi Hyeeun. Ia ingin jadi penata rambut. Ingin punya salon kecil di ujung kota, dengan tanaman hijau di jendela dan musik jazz pelan di latarnya.
Aku mewujudkannya—setengah hati, setengah berharap suatu hari ia akan masuk dari pintu dan bilang semua ini hanya salah paham.
Tetapi itu tidak pernah terjadi.
Kadang aku duduk sendiri di malam hari, menatap foto lama yang mulai pudar warnanya. Anak kami tertidur di kamar sebelah. Dan kalimat itu kembali terngiang:
"Kalau hidupmu dijadikan satu buku..."
Aku ingin menjawab sekarang.
"Kamu salah, Hyeeun. Cerita ini tidak akan selesai. Bukan karena terlalu panjang. Tapi karena kamu tidak di sini untuk menyelesaikannya."
Dan itu adalah satu-satunya kalimat yang belum pernah kutemukan akhirnya.
