Work Text:
Jika melukis diibaratkan salah satu bentuk caranya menyembah, maka Phainon dengan senang hati melakukannya. Setiap gerakan tangan yang kian menyempurnakan figur dalam kanvas dilakukan sebaik-baiknya, seolah tiap guratan adalah doa tak terucap dalam warna. Meski hitam dan cokelat tua mendominasi, tapi kekasihnya masih terlihat cantik dalam kanvas dan dia secara tidak sadar memanjatkan terima kasih pada Sang Pencipta telah memberikan kemampuan berupa melukis.
Lukisannya memang tidak akan sebanding dengan pelukis terkenal mancanegara, karena lelaki itu sendiri melukis hanya untuk memuaskan imajinasi dan kesenangan dari rupa kekasihnya. Katakanlah jika dirinya memiliki obsesi kecil terhadap seni bertemakan gelap —entah bagaimana cara Phainon menyebutnya, tapi yang pasti, lukisan tersebut memiliki sisi menyeramkan yang artistik juga cantik. Maka tangan empunya berusaha untuk mewujudkan imajinasinya, berharap akan memuaskan hasrat, juga dapat menggaet pujian sang kekasih.
Sesekali lelaki itu bersenandung senang, memainkan nada dari lagu kesukaannya, meski harus sedikit memelankan suara karena takut membangunkan sosok inspirasinya di sebelah yang tengah tertidur nyenyak. Atensi Phainon beralih ke arah pujaannya, masih terlihat lelap dalam tidur. Rambut pirang tergerai cantik di rerumputan yang hijau, setiap tarikan juga hembusan napasnya Phainon pastikan stabil, bulu mata lentik sesekali bergerak karena mungkin empunya merasakan cahaya yang berusaha masuk menyapa irisnya.
Karena mereka tengah berada di bawah pohon besar yang menutupi mereka dari cahaya berlebihnya matahari, dengan Phainon yang menghadap pohon tersebut—lebih tepatnya menghadap kanvas berukuran setengah tubuhnya, duduk menyilangkan kaki. Lalu eksistensi yang tengah tertidur di sebelah kiri Phainon, wajahnya menghadap kaki pemuda bersurai putih.
Dan lihat itu, struktur wajah yang selama ini Phainon selalu kagumi dalam diam. Walau sesekali dia puji wajah bagaikan pahatan dari Sang Pencipta itu langsung di depan pemiliknya, kekasihnya akan bereaksi biasa saja—meski semburat merah malu tidak dapat membohongi, tapi tetap saja bukan itu reaksi yang diharapkan Phainon.
Kuas dan palet semula berada di tangan empu surai putih, kini tersimpan di atas rumput. Phainon melayangkan jemari lentik tepat di atas pangkal hidung seseorang yang masih tertidur pulas, bukan ingin memastikan bahwa kekasihnya masih bernapas—karena terlihat dari dada empu naik turun memasok oksigen, hanya saja Phainon ingin menerka jika seandainya dia memiliki kesempatan untuk memahat wajahnya.
Telunjuknya berhasil mendarat di puncak hidung meski tidak benar-benar menekannya—mencegah bangun. Menarik kembali telunjuknya, kini jari tengah Phainon menyentuh pangkal hidung empu surai emas, telunjuk itu kembali mendarat di pangkal hidung. Tidak sedikitpun bagian hidung yang terlewat dari jemari usil milik mata biru langit, bahkan saat hampir mendekati lubang hidung kekasihnya, Phainon mendengus geli—tertawa menikmati gerakan refleks dari pemilik hidung dalam tidurnya.
Keterbalikan dari perasaan yang tidak menginginkan kekasihnya untuk segera terjaga dari mimpi indah, Phainon terus menyentuh halus tanpa henti, atau tidak ingin berhenti. Untuk apa pula dirinya menahan diri agar tidak membuat kekasih tetap tidur.
Setelah meninggalkan banyak jejak jari ‘tak terlihat di hidungnya, hati terus berbisik untuk menyentuh semua yang ada di wajah empu surai pirang. Maka dengan sukarela Phainon mengabulkan keinginan itu. Namun sebelum jarinya mulai mengeksplorasi lebih jauh, Phainon merebahkan tubuhnya tengkurap perlahan di samping kekasih, satu tangan menopang wajah dan tangan lainnya siap mengusili lelaki di sampingnya. Pun kini wajah keduanya cukup dekat untuk berbagi cium.
Hangat menyapa telapak tangan yang menjalar dari pipi sang kekasih, hangat yang selama ini Phainon kenal. Lembut diterima oleh ibu jari, cubitan kecil dia lakukan juga untuk menerka lebar pipi kekasihnya jika ditarik. Melepasnya sementara, telunjuk itu pindah mengelus kelopak mata yang masih tertutup, berpindah cepat pada bulu matanya.
Biru yang tidak kalah cerah dari langit di atas keduanya, menatap kekasih kian lekat, senyum teduh belum juga lepas dari pahatan wajahnya. Ekspresi yang tengah Phainon buat, perasaan sayang yang menjalar ke ujung jari untuk meluapkan kasihnya, Phainon berharap dapat menguapkan dan mencerminkan— setidaknya sedikit —perasaan itu dengan sebaik-baiknya. Cinta yang lelaki itu tanam dan jaga sehingga sudah sebesar pohon willow, berharap dapat menyejukkan, menjadikannya tempat aman dan nyaman—untuk seseorang yang dia sayangi setengah hidup—di bawah pohon itu dalam tidurnya, sama seperti saat ini.
Semoga senantiasa kita terus bersama, semua perasaan ini untukmu…
“Mydei.”
Satu panggilan nama telah membangunkan pemiliknya, masih berusaha beradaptasi dengan cahaya yang masuk. Kedipan kecil dan lambat itu berhasil mengambil seluruh atensi Phainon, melihatnya bagai tontonan film yang menarik. Sedikit aneh juga karena setelah diberi gangguan berupa sentuhan kecil yang umumnya akan memberikan reaksi geli, sedangkan Mydei—kekasihnya tidak bangun dengan mudah.
“Kita pulang? Kamu kelelahan sekali sepertinya, aku yang akan menyetir.” terdengar dengusan kecil sebagai ganti tawa dari Phainon.
Belaian pertama dia daratkan untuk helaian rambut Mydei, seperti angin, usapan itu dilakukan dengan cepat. Jemarinya tenggelam di antara emas juga gradasi merah dan Phainon menenggelamkan wajahnya di rambut Mydei. Wangi lemon menyapa indera penciuman lelaki itu, meski mereka berbagi sampo yang sama, Phainon lebih menyukainya jika itu dipakai Mydei. Beralih dari rambut, Phainon mengecup dahi Mydei yang masih juga sibuk mengumpulkan nyawa dari mimpinya.
Sedikit serak, Mydei berusaha mengeluarkan suara seraya menggosok matanya guna menghilangkan rasa gatal. “Jam berapa sekarang?”
“Aku belum lihat ponsel, tapi mungkin kamu sudah tertidur selama… dua jam?” terka Phainon selagi meraih tangan Mydei yang terus menggosok matanya.
Sedikit hening menyelimuti, Mydei mengalihkan atensi ke arah Phainon di sebelahnya yang tengah tengkurap—sedangkan dirinya terlentang. Belum juga hilang senyum itu, seperti memang Tuhan sengaja mengukir untuk tidak pernah hilang dari wajah Phainon. Lesung pipi tercetak jelas seperti danau gula—penyebab inti kemanisan senyum Phainon.
Karena belum juga saling mengalihkan pandangan dari wajah masing-masing, Mydei merentangkan tangan untuk meraih belakang kepala kekasihnya, bertujuan agar wajah mereka lebih dekat. Dapat dilihat bahwa ekspresi Phainon saat ini sangat kegirangan bukan main, sebab kini sudah seperti anak anjing kala mengibaskan ekornya. Baik Phainon atau Mydei, tahu jika salah satu dari mereka lebih mendekat akan terjadinya ciuman, dan itu yang paling Phainon harapkan. Ciuman bangun tidur!
Memelas, itu yang dilakukan Phainon. Mydei masih menatap tanpa ekspresi untuk dibaca oleh lelaki samoyed di depannya, sampai akhirnya senyum kecil dan dengusan keluar dari Mydei. Baru saja Phainon akan bertanya apa yang lucu, Mydei mencium sudut bibir—lesung lebih tepatnya—milik lelaki surai putih itu.
Ditinggal melamun karena masih merasakan euphoria, sedangkan Mydei sudah terduduk dari tidurnya, meraih tas di sebelah untuk mengeluarkan botol minum. Terlihat Phainon sudah mengerutkan kening, mencibir betapa tidak adilnya ciuman yang dia harapkan hanya tertuju di lesung pipinya. Phainon tetap bersyukur.
Sedangkan Mydei tertawa kecil, menikmati emosi Phainon di tengah tegakkan minumnya.
“Sudah diberi tulang vertebra, kamu minta jantung.”
“Tapi aku mau kasih kamu jantung punyaku.” sela Phainon, sudah kembali duduk menyilangkan kaki, kedua tangan terkepal bergesekkan dengan rumput.
Hening membungkam keduanya, bukan karena mereka mau, tapi karena Mydei merasakan punggungnya menegang mendengar ucapan Phainon, mau itu bercanda atau serius.
“Jangan berbicara seolah kamu baru saja menggunakan morfin secara bebas.”
Menderetkan giginya dengan bangga—entah untuk apa, Phainon terhibur dengan c andaan Mydei. “Apa aku terlihat mabuk? Aku benar-benar akan mabuk setelah menghirup wangimu seharian.”
“Kalau begitu cium saja dirimu sendiri, kita memakai semua jenis dan merek yang sama. Apa bedanya?” elak Mydei malas mendengar omong kosong kekasihnya.
Seperti baru saja menerima kutukan dari mulut Mydei, Phainon terkesiap dengan dramatis. “Lihat? Kamu memang tidak pernah mengerti bedanya! Andai kamu bisa jadi aku sehari saja, kamu pasti akan mengerti betapa memabukkan mencium wangi pacar sendiri.”
Belum ada balasan selain lontaran tatapan aneh dari Mydei, lalu menghela napas gusar mengacak rambut sendiri yang semula sudah tidak rapi karena tidurnya.
“Kau dan omong kosongmu, tentu saja.”
Di sela pandang yang berusaha meraih semua tangkapan mata—selain Phainon, Mydei melihat kanvas yang tengah disandarkan di pohon. Dia baru ingat telah meninggalkan kekasihnya melukis sendiri sedangkan dirinya—yang seharusnya membaca buku, malah tertidur. Akhirnya senja menatap biru bersama kerutan di dahinya.
“Bagaimana lukisanmu, apa sudah selesai? Aku tertidur karena suasananya mendukung.”
“ Oh? Kamu akan menyalahkan angin karena tertidur?”
“Aku tidak pernah mengatakannya. Sini kanvasmu.”
Seperti melihat dosen galak yang meminta tugas dari mahasiswanya—dalam Mydei, Phainon tertawa kecil, berbalik untuk meraih kanvas lukisnya dan menyerahkan pada lelaki di depannya.
Kanvas yang telah berpindah tangan tidak membuahkan reaksi apa-apa, Mydei melihat seolah telah tahu persis bagaimana hasil jadi yang dibuat oleh Phainon. Sebenarnya dia sengaja selalu melempar pandangan ke arah manapun—selain kanvas sang kekasih, bukan karena takut dengan gambar yang akan dibuat selanjutnya, hanya saja dia memilih melihat hasil selesainya. Ada perasaan ingin dikejutkan dari lukisan itu meski Phainon sendiri tidak pernah berniat menutupi, karena tentu saja izin konsep atau tema selalu ditanyakan kepada Mydei sebelum si surai putih menyentuh kuas.
Mydei melihat dirinya sendiri di kanvas: tidak bernyawa, sinar mata yang kosong, terlihat seperti akan menjerit jika bukan karena kehabisan napas terakhir. Kain putih pudar panjang melilit hampir seluruh tubuhnya yang telanjang—selain dada di mana jantung berada. Terdapat sayatan besar dari pedang pipih yang menusuk dari tulang belakang—menembus memperlihatkan ujung tajam dari pedang. Darah yang harusnya berwarna merah, diberi warna emas, mengotori kain putih di tubuh.
Seperti lukisan lama yang kian menguning karena perpaduan dua warna kuat. Mydei berpikir jika Phainon cukup pintar dalam memainkan warna, atau teknik yang digunakan begitu sempurna untuk menciptakan hasil antik buatan.
Ada pertanyaan yang tidak pernah Mydei layangkan dari lidahnya untuk kekasih selama dirinya dilukis sedemikian rupa. Hampir tiga tahun semenjak resmi menjadi pasangan.
“Sebenarnya kamu lihat aku seperti apa?”
Mengulang kembali memori, Mydei ingat pernah dilukis memiliki tanduk rusa besar, sedang mengoyak hewan rusa lainnya, dimandikan merah delima. Mydei bersayap dari kulit punggung yang telah dikuliti. Mydei dihujani banyak tombak di punggungnya. Mydei kehilangan kepala dan diganti oleh kepala domba, sedangkan kepalanya dia peluk sendiri. Mydei berkepala dua dalam satu tubuh. Mydei—
“Kamu cantik, aku berani bersumpah.” serius Phainon tanpa berpikir panjang. “Tapi kalau yang kamu maksud itu lainnya…”
Ada hening sejenak kala lelaki surai putih menopang dagu, seperti sedang mengaitkan benang ke benang lainnya.
“Aku bisa lihat banyak peran dan sifat yang tidak kamu punya di kanvas. Meski kamu bukan dewa perang, kamu pantas dilukis demikian rupa. Pun kamu yang tidak punya kebiasaan aneh juga buruk seperti mengoyak kulit makhluk hidup dengan taringmu sendiri, aku bisa merealisasikan di kanvas.”
Sesekali atensi Mydei melayang ke kanvas di tangannya, lalu kembali lagi untuk menatap Phainon, berpikir jika alasan kasih bisa masuk akal untuk Mydei.
“Bukan aku ingin kamu seperti apa yang aku lukis, hanya saja kamu selalu cantik di semua lukisan yang pernah aku buat. Bahkan dengan bentuk abnormal pun, tidak pernah gagal.”
Tentu, Phainon berani bersumpah bahwa dia masih waras— mungkin —setelah melukiskan Mydei menjadi sosok inspirasinya dalam kanvas: ekspresi sedih, kesakitan, memiliki wujud setengah abnormal dan lainnya.
Mydei tidak langsung menjawab. Tatapan masih sama, senja seperti mencari celah antara warna biru dan makna iris kasihnya. Tidak berniat untuk menghakimi di sela ketenangan dari keduanya, Mydei menerima wujudnya dijadikan imajinasi tidak masuk akal Phainon.
Akhirnya terputus keheningan oleh helaan napas Mydei. “Aku tidak pernah merasa wujud-ku abnormal seperti yang kamu atau aku bilang dalam kanvas. Maksudku, jika itu tentang seni, tidak ada yang namanya abnormal. Mungkin .”
“ Hah, apa kamu baru saja mengatakan kamu sebenarnya dua orang?” dengus geli kala menutup mulutnya seolah akan tertawa lepas.
“Jangan bodoh, bukan begitu maksudku. Aku memang berpikir itu sedikit aneh, tema lukisan milikmu. Tapi jika dalam kamus seni, mungkin tidak ada kosakata ‘aneh’, bukan?”
Tanpa adanya pertanda dari angin, Phainon mengubur wajahnya— sekali lagi —di ceruk leher Mydei, mengusap pelan bagian pangkal hidungnya di kain yang menutupi kulit kekasih.
Sedikit merasakan suasana janggal, Mydei hanya gelisah seandainya Phainon akan merasa sedih jika perasaannya tidak tervalidasi. Lagi pula yang mengetahui obsesi kecil Phainon hanya Mydei seorang, dapat dimengerti kalau alasannya disebabkan pendapat masyarakat .
Semata Mydei berpikir demikian, salah pahamnya dipatahkan detik itu juga lewat gumaman kecil—sedikit harap dari Phainon agar Mydei tidak dapat mendengarnya.
“Kamu. Aku hanya ingin mengabadikannya.”
Bergantian, tangan Mydei melayang untuk meraih punggung Phainon yang setengah meringkuk. Mulanya telunjuk menyentuh tulang leher belakang, menonjol seperti akan keluar dari kulitnya, kini turun menuju vertebra lumbal—punggung bawah. Mengusapnya pelan jikalau area itu akan terasa sakit secara tiba-tiba.
Tertahan hanya di ujung lidah, Mydei berusaha berbicara sebaik hatinya bereaksi, namun tidak ada satu pun yang berhasil lolos. Setiap kali mencoba menyatukan kata menjadi satu kalimat penuh, ragu menerpa dan akhirnya hanya menjadi potongan kecil yang tidak pernah utuh. Masih tergurat gerakan lembut jari di punggung Phainon, ingin membaca bagaimana hasil abstrak yang telah ditulis secara kasat.
“Tapi aku tidak akan tahu kalau kamu benar-benar menyukainya. Memang benar kamu selalu bilang lukisan yang telah selesai terlihat cantik, aku bisa melihat kesungguhan dari ucapannya.” Terdengar kelembutan di balik ucapan Phainon di setiap katanya.
“Selama ini aku melukis selalu mengikuti kemauanku, lalu bagaimana denganmu? Kamu tidak punya keinginan untuk dilukis sesuai yang kamu mau, Mydei?”
Napas dirasakan Mydei dari Phainon, menyentuh dadanya meski berlapis kain, hangat dan berirama. Tertanda Phainon belum kunjung ingin melepaskan diri, bersandar erat, meringkuk dalam pelukan, menolak menyapa dunia luar.
Mydei pun tidak berniat mendorong pergi, kala merasakan tenang bukan karena keheningan menggerogoti eksistensi mereka nyaris tidak berjarak. Menyadari keinginannya untuk tidak membiarkan Phainon singgah—Phainon juga tidak berniat begitu, pelukan yang dirasa nyata, menjadikan mereka utuh dalam sepenuhnya, berharap deru kencang darah Mydei dirasakan Phainon.
Dramatis, tapi cukup menjadikan keduanya kelu.
“Tidak pernah terpikirkan.”
Diraihnya pinggang Mydei oleh kedua tangan Phainon, dekapnya buat nyaman. “Lebih lucu lagi kalau kamu bisa ikut lukis di kanvas itu.”
“Oh, bagaimana kalau kamu mewarnai dasarnya, lalu aku akan lakukan sisanya? Lucu seperti tema date di media sosial itu, ayo kita coba lain kali!” seru Phainon mengangkat kembali wajahnya, sejajarkan pandangan dengan Mydei. Telah kembalinya sifat dan nada riang menghasilkan napas lega dari surai pirang.
Percakapan lain menyimpang secara alami, begitu si lelaki putih ingat belum membeli peralatan lukis baru, karena yang sebelumnya sudah tidak layak pakai. Berganti membicarakan kelas mata kuliah pagi, lalu membicarakan teman lucunya. Semua berjalan seperti angin yang membelai wajah keduanya, di tengah tawa kecil, mengisi penuh hati yang terasa gatal.
Sampai akhirnya ketika akan pulang, membawa berat beban barang mereka—Phainon tepatnya, Mydei terpikirkan sesuatu. Mulutnya menganga kecil namun pikirnya tengah bergelut jika itu adalah ide yang bagus atau bukan. Menyadari bahwa Phainon tengah melihatnya melamun sendiri menuju mobil yang terparkir, mau tidak mau, Mydei harus mengatakannya. Lagi pula Phainon belum pernah menolak permintaannya sebelumnya.
“Bagaimana jika melukis aku sebagai pewaris tahta, sedangkan kamu pendekar cahaya?” saran Mydei kurang percaya diri—menggertak gigi. “Itu hanya saran, aku tidak bisa memikirkan ide lainnya karena mengingat novel klasik yang pernah aku baca.”
“Iya, ide yang bagus. Ayo gambar itu setelah pulang!” tidak ada penolakan dari kekasihnya, hanya ada suasana antusias mengelilingi.
Maka lega Mydei dibuatnya, berharap bisa melihat proses lukisan dengan baik, tertanam di ingatan juga hati agar jikalau napas terakhir menghampiri, Mydei dapat melihat ingatan dirinya tengah melukis berdua dengan Phainon. Mungkin akan menjadi lukisan pertama dan terakhir—jika dirinya tidak berniat untuk melukis—yang Mydei lakukan.
Kekalkan aku di setiap warnamu, ingat aku di semua lukismu. Kelak aku tetap menemanimu hingga kembalinya kita di dunia lain dengan nama yang berbeda, perasaan yang sama.
