Work Text:
Ujian Tengah Semester.
Atau bisa disingkat dengan UTS, suatu ujian yang mengevaluasi bagaimana kemampuan akademik siswa. Mungkin terdengar remeh untuk sebagian orang, tapi tidak untuk Kyungmin. Dibalik kata ‘ujian’ tersembunyi tuntutan tak tertulis baginya. Sebagai seorang siswa dan idol di negaranya ini, keseharian Kyungmin hampir tidak mengenal kata “luang”.
Bagi Kyungmin, minggu-minggu sebelum ujian adalah rentetan hari dengan tekanan sunyi yang menggantung udara. Memang, ia terbiasa dengan jadwal padat dari saat dia menjadi trainee sampai sekarang debut sebagai member TWS, tapi harga dirinya sebagai siswa teladan dipertaruhkan dalam Ujian kali ini.
Hari-hari sebelum ujian terasa seperti kabut, udara pagi bercampur dengan harum kopi semalam yang tak sempat habis, malam yang dipenuhi hening dalam kamar menjauh dari sumber kebisingan.
Meja belajarnya dipenuhi dengan stabilo, pulpen, pensil yang berserakan, catatan yang mulai kusut berisi kumpulan angka yang tak beraturan tempatnya. Serta dirinya dengan posisi tertelungkup di meja ditopang dengan tangan tidur dengan nyenyak. Napasnya naik turun dengan ritme Lelah yang kentara. Kemeja sekolahnya masih terpakai, kerahnya kusut dan headsetnya masih tergantung di leher.
Langkah kaki ringan terdengar mendekat. Seorang pemuda menghampirinya, rambut yang berantakan dengan hoodie yang nyaris menutupi setangah wajah. Dia menatap tubuh Kyungmin yang tertidur dalam posisi mengkhawatirkan.
“Kyungminnie,” panggilnya pelan sambil menyentuh bahu Kyungmin. Tapi Kyungmin sama sekali tak bergeming.
Dia menghela napas pasrah, jam dikamar mereka menunjukkan pukul 2 malam. Dengan hati-hati, ia membungkuk dan menyelipkan tanagn dibawah tubuh Kyungmin, lalu mengangkatnya perlahan ke kasur yang berada tak jauh dari meja belajar tempat Kyungmin terlelap kelelahan belajar.
Begitu tubuh Kyungmin menyentuh kasur, ia menggeliat mencicit kecil, tubuhnya hangat. Selimut tebal menghinggapi dirinya, terpeluk erat. Samar-samar ia buka indra penglihatannya. Pandangannya buram, tapi masih bisa mengenali siluet orang disampingnya.
“Maaf…Hanjin-hyung…,” suaranya serak dan hampir tak terdengar.
Hanjin tersenyum lembut. “Ah, maaf Kyungmin jadi kebangun,” katanya, sambil menepuk nepuk kepala Kyungmin. Kyungmin kembali terjun kealam bawah sadarnya.
Hanjin yang melihatnya hanya terkekeh ringan. Ia menatap wajah Kyungmin yang damai, lalu berdiri, mengahampiri meja belajar- medan persiapan untuk perang. Satu persatu, ia menutup buku yang masih terbuka, Menyusun pulpen dan pensil ke dalam wadah, lalu mematikan lampu belajar yang masih menyala.
Sebelum ia kembali ke ranjangnya, tepatnya ada diseberang Kyungmin, ia menoleh sekali lagi.
“Semangat Kyungmin,” bisiknya pelan.
