Work Text:
Untuk alasan tertentu, siang ini Shoyo sedang berdiri di hadapan Akaashi Keiji, seseorang yang sudah lama ia tak jumpai. Perjalanan menuju Tokyo menjadi tidak terasa begitu lama dibandingkan detik-detik kecanggungan saat ini. Shoyo tidak bisa menyembunyikan semburat di pipinya, gugup bercampur malu. Namun, tidak ada bedanya dengan lelaki di depannya. Tanpa sadar, ia memperhatikan rambut Keiji yang sedikit lebih panjang dari yang terakhir ia lihat, tetapi lebih pendek dibanding rambutnya; juga dengan kacamata berbingkai hitam—Shoyo baru tahu kalau Keiji punya miopi. Gaya smart casual dengan tas bahu hitam membuatnya tampak memesona, berbanding terbalik dengan Shoyo yang hanya memakai hoodie dan jeans belel terbagus di lemari. Keiji selalu tampak dewasa di matanya, tetapi mungkin akan lebih keren begitu menginjakkan kaki di bangku kuliah. Ia harap penampilannya tidak begitu buruk. Shoyo tak mau terlihat lebih bodoh di pertemuan pertama ini—atau bisa dibilang kencan pertama? —jadi ia berinisiatif untuk memulai obrolan.
Shoyo berdeham, niatnya untuk melegakan tenggorokan agar tidak tersendat saat berbicara. Alih-alih, suara yang ia keluarkan cukup kencang sampai membuat Keiji tersentak. “Ah, sori-sori, Kak.”
Ampun. Bagaimana Shoyo bertahan hari ini?
“Nggak apa-apa,” Keiji menjawab singkat, tetapi gugupnya seketika berkurang begitu melihat Shoyo yang kelihatan lebih gelagapan darinya. Menurutnya itu lucu, jadi ia mendengus geli—hampir menyemburkan tawa. “Mmm, kita keluar stasiun dulu, yuk?”
Shoyo tertegun melihat uluran tangan dari yang lebih tua seolah mengajaknya bergandengan, meskipun kalimat tadi lebih seperti pertanyaan. Namun, Shoyo hanya mengangguk kecil dan menyambut tangan tersebut. Dalam dirinya, jantung berdegup kencang dan ia bisa merasakan merah panas di seluruh wajah sampai telinga. Ia memejamkan mata— tenang, Shoyo, tenang, rapalnya dalam hati. Matanya tak kuasa untuk tak melirik paras di samping dan berpikir kalau ia tak salah pilih orang.
Oke, begini situasinya. Ini semua berawal dari omong kosongnya. Benar, semua ini memang kesalahan Shoyo. Akan tetapi, sebagai pembelaan, ia tidak akan berbohong soal sedang mengencani seseorang kalau saja teman-temannya tidak terus-menerus memojokkannya. Shoyo tidak pernah andal dalam urusan cinta, semua kencan (bisa dihitung jari, sih) yang ia miliki tidak ada yang langgeng sampai satu bulan. Menyedihkan. Itulah mengapa Shoyo dengan konyolnya menyebut nama Akaashi Keiji sebagai kekasih hatinya saat ini. “Sumpah, kali ini beneran, deh!” ucapnya kala itu. Tsukishima Kei menertawakannya dengan keras, tak terkecuali yang lain. Shoyo mengerti itu terdengar begitu bodoh, tetapi ia akan membuktikan kata-katanya.
Tantangan yang sebenarnya adalah berbicara dengan Akaashi Keiji dan mengajaknya untuk jadi pacar palsu, atau pacar sementara, atau apapun itu yang membuat kebohongannya menjadi nyata. Shoyo sudah memperhitungkan ini, tetapi satu hal yang tetap tidak disangka ialah kenyataan bahwa Keiji menyetujui tawarannya. Shoyo membelalak, menggosok matanya berulang kali, barangkali ia salah baca pesan dari laki-laki tersebut. Namun, di layar ponselnya jelas tertulis:
‘Boleh. Aku terima tawarannya, Hinata.’
Malamnya ia tidak bisa tidur, bahkan tatkala kereta melaju pagi ini ia masih memikirkan pesan yang Keiji kirimkan kemarin. Ini memang sesuai harapannya, tetapi apa yang membuat Keiji mengiyakan kontrak kencan yang Shoyo layangkan secara frontal itu? Butuh beberapa hari untuknya membulatkan hati, tetapi justru penerimaan bukanlah sesuatu yang Shoyo benar-benar ekspektasikan. Singkatnya, karena Shoyo tidak mau sia-sia, jadi ia langsung nekat mengajak laki-laki itu berkencan di tengah kota Tokyo—tempat Keiji tinggal—meski jarak yang ditempuh cukup jauh. Setidaknya ia berusaha jadi gentleman.
Begitulah cerita bagaimana seorang Hinata Shoyo bisa berkencan dengan Akaashi Keiji, secara kontrak, selama satu bulan. Menurutnya sudah cukup realistis mengingat hubungannya selalu kandas sebelum mencapai tiga puluh hari. Toh, Keiji masih jomlo, padahal Shoyo bisa menebak di luar sana masih ada yang berusaha merebut hati laki-laki yang sedang jalan beriringan dengannya hari ini. Siapa sangka Shoyo adalah laki-laki yang beruntung.
Dengan pengalaman ceteknya, Shoyo memulai kencan pertamanya dengan makan bersama, super biasa dan super aman untuk kesan pertama—meskipun mereka sudah mengenal satu sama lain sejak dua tahun yang lalu. Namun, baru hari ini Shoyo menemukan fakta kalau Keiji punya kepribadian lebih ceria dari yang ia tahu. Keiji juga pendengar yang baik, merespons sama banyaknya dengan Shoyo berceloteh—yang entah dari kapan rasa canggung di antara mereka hilang. Satu lagi, Keiji juga tidak terlalu suka manis. Ia yakin kopi yang dipesan Keiji cukup pahit meskipun katanya itu bukan americano. Shoyo jadi bertanya-tanya apakah ia bisa meneguk minuman pahit seperti kopi ketika setahun lebih dewasa.
“Hinata masih sama seperti dulu, ya. Cuma lebih tinggi sedikit,” ucap Keiji.
Tawanya spontan keluar. “Haha, tapi sudah mau lulus pun ternyata nggak bisa menyusul Kageyama dan Tsukishima.”
“Tapi, mungkin bisa menyusul dalam hal voli?” Keiji tersenyum. “Ah, siapa tau di masa depan kamu bisa jadi atlet voli nomor satu, terus aku bisa bangga-banggain pernah jadi pacar bohongannya.”
Shoyo terkikik, tetapi diam-diam mengamini ucapan laki-laki di depannya. “Justru itulah kata-kataku. ‘Kok bisa salah satu setter paling keren mau pacaran sama aku?”
“Jangan berlebihan, deh, Hinata.”
“Serius. Kageyama masih kagum sama Kakak dan hampir meninjuku waktu aku bilang soal kencan ini,” Shoyo menghela napas tatkala mengingat semburan dari partner di klub volinya itu. Paham, paham, ia mungkin akan bereaksi sama jika ini terjadi pada Tobio.
“Kamu mau tau alasannya?” Keiji bertanya. Shoyo mengangkat alisnya, bingung maksud lelaki itu apa, jadi ia menunggu Keiji melanjutkan perkataannya. “Soalnya aku kaget ternyata orang kayak kamu mau punya hubungan romansa. Hinata selalu ambisius tentang voli, kupikir nggak akan tertarik sama aku yang malah berhenti voli begitu lulus SMA.”
Mendengar sesuatu tentangnya dari orang lain membuat Shoyo terdiam. Ah, selalu alasan itu. Ia menopangkan dagu dan bergumam, “Mungkin karena itu juga cerita cintaku nggak pernah seserius itu, haha.”
“Jadi, kamu tertarik sama hubungan serius?”
Shoyo tersentak mendengar pertanyaan itu. “Eh, maksudku bukan yang ini! Ah—aku nggak menghindar, tapi maksudku … Aku tau Kak Akaashi cuma mau bantu, ini tetap sementara, jadi—”
Keiji tergelak. “Aduh, Hinata! Tentu aku tahu ini cuma sementara, bisa dibilang cuma sandiwara juga. Aku ngerti. Maksudku, buat kedepannya ….”
“Ah … mungkin?” Lidahnya kelu, ia tak tahu harus bersikap seperti apa sebagaimana ia tak pandai bicara cinta. “Tapi, meski cuma sebulan, aku harap kita bisa membuat kenangan indah sama-sama. Mungkin ini bisa jadi kenangan terakhir sebelum aku ke Brazil.”
“Eh? Brazil? Kamu … mau pergi?”
Shoyo mengangguk kecil. “Sebulan setelah kelulusan. Aku akan bermain voli pantai di sana, hanya sekitar dua tahun, pasti nggak akan terasa lama …, lalu aku akan balik ke sini.”
Laki-laki berkacamata itu tampak termangu, mungkin lebih pada takjub mendengar ucapan Shoyo. Di satu sisi, ada perasaan aneh tentang seorang kenalan biasa yang tidak begitu dekat; yang tiba-tiba menjalin cinta fana denganmu, sekarang punya kehidupan yang jauh berbeda. Shoyo dengan mimpi setinggi langit dan ia akan melakukan apa saja demi terbang ke atas. Sedangkan, Keiji lebih suka menatap cakrawala dari bumi.
“Kamu keren.”
“Eh?”
“Dari dulu, kamu udah bikin aku takjub. Aku masih ingat waktu pertama kali lihat kamu di lapangan, begitu keren, dan aku berpikir … ternyata memang ada orang-orang yang punya kekuatan seperti itu.”
Shoyo tidak begitu mengerti ungkapan Keiji, yang jelas ia sedang memujinya. Jadi, selama ini ia terlihat keren di mata Keiji?
“Kadang lucu, kita sama-sama suka voli. Oh, aku amat suka, Hinata. Kamu tahu rasanya. Tapi, aneh begitu melihat jalan yang kita tempuh berbeda. Kalau saja aku nggak memilih jalan ini ….”
“Kalau Kak Akaashi nggak milih jalan yang sudah Kakak pilih, mungkin akan ada yang beda, tapi juga akan ada banyak hal baik yang terlupakan. Bukannya Kak Akaashi senang? Berkuliah, punya teman baru, mungkin lebih suka belajar daripada aku. Kalau Kak Akaashi nggak milih jalan ini, kita mungkin nggak bisa ketemu lagi.”
Shoyo mengulurkan tangannya, berusaha meraih tangan Keiji. Ia menggenggamnya, tidak begitu erat, tetapi dengan senyumnya sudah cukup. “Meskipun ada seribu perbedaan, aku nggak masalah. Setidaknya sekarang kita punya satu ikatan yang sama dan selama satu bulan ini, aku bakal jaga ikatan itu baik-baik.”
Sungguh, hati Keiji mencelos sampai membuat matanya panas. Hampir ia menitikkan air mata. Separuh dirinya tidak siap menerima “nasihat” yang tidak terduga, tetapi separuhnya lagi ia merasa terharu karena kata-kata itu datang dari orang yang lebih tidak terduga. Kata-kata itu menembus hatinya, dadanya terasa hangat sekarang, dan hanya itu yang Keiji butuhkan. Segala kekhawatirannya selama setahun terakhir, rasa cemas meninggalkan lapangan dan tidak lagi melemparkan bola—semua itu sirna.
Mungkin, Shoyo tidak benar-benar lugu. Malu ia telah meremehkan laki-laki jingga yang masih senantiasa menggenggam tangannya. Ini seperti … seakan-akan Keiji diingatkan kembali mengapa semua orang menyukai Hinata Shoyo. Tentu saja meskipun kisah cintanya payah (katanya), ia tetap sudah punya buku panduan dalam beromansa. Mungkin Keiji harus meninggikan ekspektasinya.
Tangan Shoyo lebih mungil darinya, Keiji baru menyadari itu. Ia balik menggenggam, mengelus punggung tangannya, lalu membawanya pada kecupan. Shoyo terkesiap, merah di pipinya langsung menguar, sikap yang amat berbeda dari semenit yang lalu. Keiji menahan tawa melihat reaksi lucu itu.
“K-kak?! Ngapain?!”
“Aku nggak boleh cium pacar sendiri? Cuma tangan, ‘kok.”
“B-bukan gitu! Ya—boleh … aku kaget …,” Shoyo menundukkan kepalanya, kepalang malu. “Ini baru hari pertama, seenggaknya kasih aku aba-aba.”
Keiji menutup mulutnya, tertawa tanpa suara. “O-oh … kamu nggak suka?”
“Nggak!” Shoyo langsung mengangkat kepalanya. “M-maksudnya suka! Duh, nggak gitu … aku suka-suka aja, nggak masalah bagiku ….”
“Oke, kalau gitu kamu harus terbiasa,” tukas Keiji. Ia tak kunjung melepas genggamannya, alih-alih mengambil ponsel dan membuka kamera. Keiji memotret kedua tangan mereka yang tertaut, lalu tersenyum. “‘Kan kamu harus nunjukin ke teman-temanmu kalau kamu betul berpacaran denganku.”
Shoyo tidak tahu harus merespons apa saking kikuknya. Ia melihat Keiji sibuk memotret tangan mereka dengan latar belakang minuman serta kue di atas meja. Lalu, tiba-tiba Keiji beranjak dari tempatnya dan duduk di samping Shoyo, dekat sekali.
“Kak …? Ng-ngapain?” Oke, itu kali keduanya Shoyo bertanya.
Keiji tersenyum, sedikit berbeda dari yang seringkali Shoyo lihat. “Ayo kita selfie berdua.”
Ia mengarahkan kamera ponselnya sedikit jauh, tangannya tiba-tiba merangkul lengan Shoyo sambil menyenderkan kepalanya di bahu. Shoyo terkejut bukan main, tetapi ia bereaksi cepat dan berpose peace dengan senyum agak canggung.
“Nanti aku akan post di Instagram, terus kamu repost, ya! Aku kirim ke kamu juga fotonya,” cerocos Keiji yang membuat Shoyo tak berkedip. Shoyo memperhatikan Keiji yang sibuk dengan ponselnya—membuka Instagram, memilih foto yang paling bagus, memikirkan caption terbaik untuk foto pertama mereka.
Wah, Akaashi Keiji juga punya sisi seperti ini ternyata. Tanpa sadar, Shoyo tersenyum. Keiji tidak tahu ini karena perhatiannya teralihkan, tetapi jantungnya sedang berdetak tidak normal. Tunggu, ini termasuk normal, ‘kan? Wajar ia berdebar karena tiba-tiba disodorkan kecupan di tangan dan rangkulan singkat. Sekarang mereka tampak seperti sepasang kekasih yang sebenarnya meskipun sifatnya sementara.
“Boleh aku cium pipi?”
Itu adalah suara hati Shoyo yang tak sengaja terucap keras-keras dari bibirnya. Keiji menghentikan pergerakannya, lalu menoleh ke arahnya. Shoyo tidak tahu arti dari ekspresi Keiji saat ini, tetapi yang pasti Shoyo mati kutu dan ingin kabur sekarang juga.
“Ya?”
Shoyo menjerit, “Ahh!!! Maksudnya—latihan!! Kalau di depan teman-temanku, ‘kan kita harus keliatan benar-benar pacaran … ah, lupakan.”
Bodoh, bodoh, bodoh! Ia merutuki dirinya sendiri. Ia menundukkan kepala, tidak berani menatap yang lebih tua. Sungguh memalukan, pasti wajahnya sudah seperti kepiting rebus yang dimasak sampai matang sematang-matangnya. Ia akan mampus kalau Keiji ilfeel dengannya.
Namun, kekehan justru terdengar. “Nggak apa-apa ‘kok kalau mau cium.”
Keiji tak kuasa untuk menahan gemas melihat Shoyo yang begitu salah tingkah di depannya. Ia merasa tidak adil kalau menolak, padahal ia yang mencuri kecup terlebih dahulu dari Shoyo. Satu kecupan di bibir tak akan melukai siapapun, hanya sengatan kecil yang membawa satu sensasi.
Kedua mata mereka bersirobok. Keiji dengan senyum penuh keyakinan bahwa tak apa untuk bersikap seperti sepasang kekasih, sedangkan Shoyo sedang menyiapkan mental. Kecupan itu terjadi kurang dari satu detik. Satu sentuhan mendarat di pipi bawahnya, nyaris mendekati bibir kalau Keiji raba. Itu seperti kilat, tetapi Keiji masih bisa merasakan lembut di sana dan satu sensasi itu benar-benar nyata. Terasa baru, terasa … mengejutkan.
Sejujurnya, semua yang terjadi bersama Shoyo selalu membawa perasaan baru kepada dirinya. Kencan kontrak yang begitu tiba-tiba, begitu tidak terduga, tetapi di luar ekspektasinya ia merasa tidak keberatan. Menjalani hubungan tanpa landasan cinta, hanya sedikit kenangan lama dan nostalgia pendek. Shoyo bukanlah sosok yang sepenuhnya “baru” di kehidupannya, tetapi hari ini ia belajar banyak tentang laki-laki kecil ini.
Mungkin Shoyo juga berpikir demikian. Ia penasaran seperti apa dirinya di benak Shoyo. Ia harap bisa menemukan jawaban itu dalam satu bulan ini sebelum Shoyo pergi meninggalkan Jepang, sebelum Shoyo terbang lebih tinggi. Dengan ikatan yang Shoyo tawarkan, Keiji mengemban rasa yang nantinya terpupuk di dalam lubuk. Entah apa itu namanya, Keiji dengan senang hati membantu Shoyo menjalani sandiwara ini.
Keduanya saling bertukang senyum dengan semburat merah di masing-masing pipi. Barangkali mereka merasa lucu dengan hubungan yang mendadak seperti ini. Satu hari terlewati dengan baik, masih ada 29 hari lagi menanti. Entah perasaan apa yang mendatangi mereka, pula muara yang mereka singgahi di akhir bulan nanti.
Shoyo memberikan senyuman lebar penuh kemenangan. Lihatlah wajah teman-temannya yang nyaris melayangkan protes kepadanya, tetapi tidak sanggup saat melihat foto mesra Shoyo dan Keiji. Ya, Akaashi Keiji yang tadinya hanya omong kosong belaka.
“Bohong!”
“Editan!”
“Kamu nyogok dia, ya?!”
Shoyo tidak peduli. Sekarang ia bisa memamerkan cerita kalau ia sudah pernah mengecup pipi laki-laki itu. Di lain sisi, Yachi Hitoka, manajer klub voli di sekolahnya sedang menunjukkan ekspresi kecewa.
“Aku nggak tahu kalau Senior Akaashi adalah seorang gay ….”
