Actions

Work Header

Setidaknya, Saat Ini Dunia Masih Milik Kita

Summary:

Duniaku telah berubah, tapi aku masih menetap di sana — di memoriku yang paling dalam. Aku masih belum paham tentang hal-hal yang baru; seperti tubuhku yang tidak terasa seperti tubuhku sendiri, kepergian Oh Bomseok dan Yeong Yi, nenek yang sudah tambah sering sakit-sakit, sumbangan dana yang muncul dari beberapa instansi, dan banyak lagi. Awalnya, aku pikir aku akan baik-baik saja — pasalnya, Yeon Sieun-ku masih sama. Tapi, entah kenapa, akhir-akhir ini Sieun berbeda. Perlahan-lahan, Sieun menjauh dari apa yang telah tertanam di dalam benak. Aku dihantui oleh pikiran-pikiran tentang itu. Aku takut, aku marah, dan aku dalam pilu. Kalau bisa, aku mau kembali ke duniaku yang dulu.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

 

Aku ingat —  tidak, aku menetap di sana.

Ini tubuhku, tapi rasanya tidak begitu. Tanganku kelu, geranyam merayap tiap kali aku menggerakkan jemariku. Kakiku apalagi; aku tidak tahu bahwa berjalan bisa menjadi hal yang sebegitu asingnya bagiku. Bahkan, ini juga dialami mataku; sinar samar dari matahari yang menyelisik dari balik gorden ruangan ini menyakiti sekeliling retinaku. Aku ingin menganggap bahwa ini bukan aku, dan aku tidak sedang berada di dalam tubuhku — tapi, refleksi dari kaca di depanku berkata lain. Ini memang aku, aku yang baru.

Aneh. Mungkin semua ini akan lebih baik kalau hanya aku yang berubah — masalahnya, di sini, dunia juga berubah. Perasaan, baru kemarin Oh Bomseok masih di sisiku, menghantui dari setiap sisi gelapku. Tapi, entah sejak kapan, dia telah memulai hidup baru di Filipina. Lalu, entah sejak kapan, Yeong Yi sudah menjauh dari hubungan, tidak dapat dijangkau dalam arah pandang. Juga, entah sejak kapan pula, rambut putih nenek sudah semakin banyak, mendominasi di kulitnya yang sudah kian mengerut. Semua berita itu menabrak kesadaranku — sulit untuk percaya, tapi memang faktanya begitu. Rasanya, dunia benar-benar berubah dalam satu malam. Aku dan masa laluku, hanya terpaut oleh satu mimpi panjang.

Kalau boleh jujur, aku takut. Aku tertinggal sendiri dalam memori. Aku masih hidup di sini, tempat di mana orang-orang sudah tidak ingat lagi. Cuma, kata nenek, aku harus bersyukur. Ajaib, katanya, fakta bahwa aku bisa buka mata lagi. Selain itu, menurut pandanganku sendiri, aku memang patut bersyukur; karena di antara semua hal yang sudah berubah, hal yang paling aku sayang masih sama. Yeon Sieun, dia masih sama.

“Suho, hari ini kakinya udah baikan?”

Ya, setidaknya dia masih sama.

Aku tersenyum, berusaha menyembunyikan semburat takut yang terukir di wajahku. Aku tahu kehidupannya tanpaku. Aku tahu menderitanya dia karena tenggelam dalam rasa salahnya untukku. Aku tahu seberapa lelahnya dia menungguku. Dan aku benci itu. Sudah cukup dia terus berjabat dengan lara karena aku.

“Iya!” Aku berdiri, meski masih dibantu oleh kruk yang menopang sebagian dari berat tubuhku. “Lihat, aku udah bisa berdiri sendiri, lho,” lanjutku sombong. Mendengar perkataanku, Sieun memang tidak senyum atau tertawa, tetapi aku tahu kalau itu wajah bahagia.

“Tunggu beberapa minggu lagi, aku bakal bisa lari-lari.” Sieun mengangguk, bibirnya yang cantik itu tersenyum tipis ke arahku, katanya, “Iya, tapi jangan terlalu dipaksain.”

Dia satu-satunya alasanku. Satu alasan yang cukup bagiku untuk melanjutkan hidup.

 

 

 

 

Aku sulit menerima, kamu yang berbeda

Sudah beberapa hari sejak aku kembali ke rumah. Di satu sisi, aku senang karena bisa pulang. Aku akhirnya bersatu dengan kamarku — tempat ternyamanku. Terlebih, akhirnya aku bebas dari label “orang sakit” yang patut dikasihani. Bagiku, label itu terasa seperti ruang isolasi di bui yang paling pencil. Sesak. Makanya, aku bersyukur karena sudah lepas. Nah, di sisi lainnya, aku merasa sama saja. Di rumah, aku juga tidak bisa apa-apa. Hanya bengong, menunggu nenek pulang sambil menenteng sebungkus makanan, serta mengharap bahwa Sieun akan datang dengan sejuta kisah untuk didongengkan.

“Suho, aku boleh masuk?” suara itu terdengar samar, dihalangi oleh pintu rumah yang membatasiku dengan dunia luar. Meski begitu, aku familiar, terlampau hapal dengan suara serak dan paraunya. Itu suara dari harapanku, suara Yeon Sieun.

Omong-omong, aku sudah bisa berjalan, tapi maksimumnya lima langkah. Tidak apa, aku percaya dengan prosesnya — eh, maksudnya — aku percaya dengan Sieun yang percaya akan prosesnya. Intinya, itu adalah alasan kenapa aku hanya memekik, “Masuk aja!” dibandingkan dengan membukakannya pintu. Aku girang bukan main, ini waktu yang aku tunggu-tunggu.

Tapi, sepertinya harapanku kurang spesifik.

 

 

Eh, siapa ini? Itu benakku ketika melihat Sieun yang tidak mampir sendiri. Seakan bisa membaca pikiranku, Sieun menjawab pertanyaanku. “Ini Go Hyuntak. Kamu inget, kan?” Iya, aku ingat. Dia salah satu dari tiga orang yang menemani Sieun saat aku baru menemuinya dari koma.

“Dia ada urusan di daerah sini sebentar lagi, makanya aku ajak mampir. Is it okay?” Kalau itu Sieun yang meminta, bagaimana aku bisa menolak? Aku hanya mengangguk pasrah, membiarkan pria bernama Go Hyuntak itu menjadi bagian dari kami, meskipun hanya sehari.

Setelahnya, segala jenis percakapan mengalir di antara kami bertiga. Entah itu basa-basi atau hal krusial dalam hidup ini, kami bicara tentang apa pun yang terlintas di pikiran kami. Aku tidak mau bohong, ‘Gotak’ adalah orang yang mudah untuk diajak bicara. Pembawaannya santai, bisa diajak bercanda, namun masih ada batasnya. Ditambah, kami punya kesamaan, bahwa kami dulunya adalah seorang atlet. Meski sedikit miris untuk dibicarakan — karena keadaan tubuhku yang baru — tapi, mulutku masih sanggup untuk berceloteh tentang teknik-teknik yang kerap aku gunakan.

Sayangnya, aku juga tidak bisa bohong. Ada kalanya hatiku bersungut, bersumpah, dan berteriak dalam permohonan agar Gotak cepat keluar dari rumah. Dan kala itu paling mencuat dalam adegan yang tengah berlangsung sekarang ini;

By the way, Hyoman diskors lagi, ya?” tanya Gotak, matanya mengarah pada Sieun yang tengah mencamil kudapan kecil di hadapan kami. Aku kelimpungan. Dapat kurasakan bola mataku bergetar kebingungan, diikuti dengan otot wajahku yang kian mengeras. Memang siapa Hyoman?

Aku kira, reaksi Sieun akan sama dengan reaksiku. Tapi, sepertinya, aku terlalu banyak berharap. Pasalnya, sekarang Sieun tengah mengangguk, membenarkan apapun yang tengah Gotak bicarakan. Anggukannya pasti, aku tidak melihat ada keraguan di sana — seakan dia yang paling paham tentang topik yang dibicarakan.

“Iya, dia cari masalah lagi.”

“Ke kamu?”

Sieun mengangguk, Gotak tertawa, sementara aku masih diam. “Harusnya, kamu hajar dia lebih parah lagi. Biar dia tambah takut, gak berani macem-macem sama kamu.”

Dialog tadi berlaku seperti informasi baru yang belum bisa diproses oleh kepalaku. Banyak pertanyaan tercekat di ujung tenggorokanku. Apa maksudnya itu? Apa hingga sekarang Sieun masih kerap diganggu? Lagipula, apa maksudnya tambah takut? Memang, sejak kapan Sieun punya titel semacam itu?

Aku jelas tahu bahwa Sieun itu orang gila, nyalinya sebesar dunia. Dan kurang lebih, aku juga sudah tahu akan hal-hal heroik yang dilakukan Sieun saat aku tengah tiada. Bukannya aku tidak percaya, melainkan semuanya masih belum terasa nyata. Anggap saja aku bodoh, tetapi otakku masih belum bisa memproses bahwa manusia kecil di hadapanku ini ditakuti, disegani, dan dihindari oleh kebanyakan orang. Pasalnya, dalam memoriku, Sieun masih anak teladan yang butuh bantuan — bantuanku, setidaknya.

“Gak perlu, biar dia capek sendiri,” ujar Sieun, membalas pernyataan dari Gotak. Gotak memukul kecil pundak Sieun yang masih terbalut dengan seragam dan jaket abu-abunya. “Iya, deh. Yeon Sieun belajar aja yang serius. Urusan lain mah aku sama Baku aja yang handle.”

Bulu-bulu halus yang ada di tubuhku bergidik. Rasanya, ada hal yang mengalir dalam darahku saat mendengar kalimat itu — hanya saja, aku belum tahu apa. Seketika, aku merasa semua khawatirku sia-sia. Aku lupa kalau dia punya sekutu yang dapat dipercaya. Aku lupa, kalau sekarang keadaannya sudah beda. Aku lupa, kalau sekarang dunia sudah bukan milik kita — bukan milik aku dan dia.

Klimaksnya adalah saat ujung mataku menangkap senyum kecil yang terukir di wajah Sieun. Tubuhku susah bergerak, jantungku melorot sejenak — aku tidak bisa dan tidak mau percaya dengan dengan apa yang aku lihat sekarang; Sieun tersenyum, tapi bukan untuk aku, bukan karena aku, dan bukan dengan aku.

Memang, sejak kapan dia senyum semudah itu?

“Gak perlu, aku bisa sendiri,” ujar Sieun mengakhiri dialog mereka.

Aku tahu bahwa ada yang salah denganku. Aku seharusnya bahagia dengan Sieun yang sudah memegang kendali atas hidupnya. Aku seharusnya senang karena Sieun sudah tidak perlu menjabat lara. Aku juga ingin bersukacita, tapi entah kenapa tidak bisa.

Mungkin…, karena ini adalah pertama kalinya, aku merasa kurang mengenalnya.

 

 

 

 

Apa bagimu, aku masih ada artinya?

Oh iya, apa aku sudah pernah cerita? Untuk melatih kembali otot-ototku yang sudah istirahat selama dua tahun, aku menjalani fisioterapi. Dan sejak hari pertama aku menjalani fisioterapi, Sieun selalu ikut menemani. Pribadinya sih masih sama, dia tidak terlalu banyak bicara. Meski begitu, eksistensinya besar. Aku bersyukur dia ada.

Saat dia ada, aku suka merecokinya dengan seribu satu cara. Entah itu mengejeknya, menanyakan isi harinya, menceritakan hal terkecil padanya, bahkan sampai menggodanya. Hal yang paling aku suka adalah ketika aku mengerjainya sampai mata seribu bintangnya itu melotot; mangata-ngatai agar aku berhenti meributi. Itu adalah alasan kenapa hari ini rasanya sepi. Pasalnya, sudah 15 menit sejak sesi ini dimulai, namun Sieun belum kunjung ada hilalnya.

Sieun, sebenarnya kamu di mana?

           

 

Banyak alasan yang tengah terlintas di kepalaku, misalnya; mungkin saja hari ini kelasnya selesai lebih lambat, atau mungkin saja hari ini jalanannya padat — mengingat jarak rumah sakit dan sekolahnya yang lumayan banyak, atau mungkin saja hari ini ada barang yang tertinggal. Setidaknya, hal-hal receh itu saja yang terlintas di kepalaku. Aku tidak terpikir alasan lain yang membuat Sieun terlambat — sebelum akhirnya datang mendobrak pintu ruang rehabilitasi dengan terengah-engah.

“Yeon Sieun!” aku memekik di tengah terapi rentang gerak kaki.

Di tengah cungah-cangih napasnya, dia masih sempat menjawab, “Maaf telat.”

Mataku menyapu tubuhnya, dari ujung kepala sampai jari-jari kakinya — aku merasa ada yang aneh di sana. Aku mendapati dadanya yang naik-turun; seakan baru saja berehenti dari pelarian, mulutnya yang menyuarakan sedikit lenguh; seakan tengah menahan kesakitan, dan yang terakhir — wajahnya. Aku melihat ada bercak keunguan di pipinya. Lebam.

Aku tertawa kecil, meski dapat kurasakan wajahku memerah karena khawatir. “Yeon Sieun, abis berantem?” tanyaku retorik. Aku tahu kalimatku bisa terkesan dingin. Ya, harap maklum, itu caraku agar tidak ketahuan tengah menggelisahinya.

“Bukan berantem…,” Ada ragu di sana.

“Terus?”

“Ada deh pokoknya.”

“Berantem, kan.” Kalimatku bukan berupa pertanyaan, aku menekankan pernyataan hal yang tengah dibantah olehnya.

Aku dapat melihat Sieun menghela napasnya, “Engga, Suho.”

Aku meringis, baru ingat kalau pribadi di depanku punya kepala yang cukup keras — dia tidak pernah kalah dalam hal apapun, termasuk debat kecil begini. “Have you seen yourself in the mirror? Kamu lebam, Sieun. Itu apa kalau bukan berantem?”

Hening menyelimuti kami, tidak ada yang berani menyuarakan satu bentuk erangan — sebelum akhirnya Sieun sedikit menundukkan kepalanya sambil menggumamkan kata maaf.

Aku bingung harus bertanggapan dengan jenis reaksi yang bagaimana. Normalnya, aku harus marah, kan? Namun, sepertinya, mataku masih menolak percaya kalau Sieun sudah berbeda. Di mataku, Sieun terlihat kecil — ada bagian berharga dalam dirinya yang mengajak aku untuk ikut melindungi hidupnya, bahagianya. Entah karena itu atau hal lain; aku terlampau tahu bahwa aku lemah padanya — aku tidak tahu cara marah padanya.

Jadinya, aku hanya menghela napasku lumayan panjang. “Ngapain pake bohong segala, sih, kecil?” tanyaku sebelum menggerakkan suatu gestur dari jemariku, mengajaknya untuk mendekat ke arahku. “Let me see.”

Dia menurut. Secara perlahan, langkah kaki itu membawa dirinya mendekat ke arahku. Dalam jarak ini, aku dapat mencium raksi dari tubuhnya — semerbaknya yang tenang, bak tertidur di tengah pinus malam. Aku selalu suka wanginya. Hanya saja, hari ini ada yang berbeda. Tak hanya ada pinus di sana, tetapi radarku juga menyadari kehadiran sang sepat; itu wangi tembakau.

Tidak pernah kubayangkan dalam benakku bahwa hari ini akan datang — hari di mana aku benar-benar merasa tidak mengenalinya. Apabila ini Sieun yang lama, aku jelas tahu bahwa tidak akan tercium aroma pahit dari tubuhnya. Bukan, bukan, bukan — ini bukan karena aku kecewa, melainkan karena aku takut dia kenapa-kenapa. Aku takut kalau ada yang salah dengan dirinya dan aku tidak bisa apa-apa.

Masa bodoh dengan perawat yang saat ini tengah menjamah kakiku, mataku menatap lekat-lekat wajah Sieun, mencari-cari celah lain yang ada di sana. “Sakit?” Pertanyaanku hanya dijawab dengan gelengan. “Jangan bohong lagi,” pintaku.

“Beneran gak sakit, Suho.”

Aku bukan pribadi yang agamis, tapi aku mengamini ucapannya. Aku mengamini bahwa dia tidak sakit, dia tidak sedih, dan dia tidak sendiri. Aku mengamini bahwa dia bertengkar bukan karena terpaksa, tapi karena dia bisa. Aku mengamini bahwa puntung yang dia hisap hari ini adalah karena suka, bukan karena dia menderita.

Aku mengamini karena aku tahu bahwa aku tidak bisa lagi melindunginya. Makanya, aku harap biar dunia bersedia baik untuknya. Kalau sekiranya Yang Maha betul adanya, aku mau berdoa atas nama-Nya. Amin.

 

 

 

 

Aku mau kembali; ke dunia yang lama…

Aku kira, sore ini akan berjalan dengan biasa, tapi ternyata tidak. Hariku berubah setelah melihat pesan dari Gotak; katanya Sieun telah diserang Ganghak. Waktuku berhenti tanpa belas kasih. Sekujur tubuhku merasa diingkari; pompa jantungku, aliran darahku, air liurku, kesadaranku — hidupku. Tulisan yang baru aku baca ini terlihat seperti sebuah mimpi; mimpi yang paling buruk, yang paling ingin aku hindari sehari-hari. Ah tidak, tidak, tidak — alangkah syukurnya kalau ini hanya mimpi. Sayangnya, ini bukan. Aku tidak bisa bangun, meski sudah kedip berkali-kali. Apa begini rasanya mau mati?

Tapi, ini bukan saatnya aku begini. Aku membiarkan seluruh pikiranku, kagetku, penasaranku, perasaanku, kondisiku — bahkan, aku membiarkan nenek yang saat ini tengah memasak galbijjim untuk aku. Saat ini, yang aku tahu adalah aku harus menemuinya, berada di dekatnya; tanpa peduli keadaannya seperti apa. Meski begitu, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri apabila Sieun kenapa-kenapa.

Makanya, aku cepat-cepat keluar dari rumah ini — telingaku sudah memblokade teriakan dari nenek dan suara dering ponselku yang meminta jawaban. Aku menopang tubuhku yang cacat dengan bantuan sepasang kruk. Tak-tik-tak-tuk, begitu bunyinya setiap aku melangkah. Kalau boleh jujur, aku mau gila mendengar suara bak irama itu; aku mau gila karena itu menyadariku bahwa dengan tubuh ini, aku tidak bisa apa-apa; dan itu menyadariku bahwa aku bisa saja kehilangan Sieun untuk yang kedua kalinya.

Namun, aku enggan berhenti.

“TAKSI!” Aku meneriakkan satu kata dengan ribu harapan di sana. Di dalam taksi pun aku terus merapalkan namanya layaknya suatu doa. Mulutku bergumam, tanganku bergetar hebat, kaki lemahku nyut-nyutan karena banyak berjalan, pikiranku merah darah, rasanya seperti mau muntah — bukan hal yang aneh kalau yang mengemudi menganggapku sebagai pengguna. Tolong, aku hanya tidak mau — tidak bisa kehilangan dirinya.

 

 

Memakan waktu 37 menit hingga akhirnya aku bisa berdiri di sini, di depan bilik apartemen Sieun. Aku masih bergetar, takut dengan posibilitas terburuk yang dapat terjadi di depan. Namun, di antara itu, mataku masih dapat menemukan pintu apartemen Sieun yang sedikit terbuka; persetan dengan sopan santun, aku anggap celah itu adalah sebuah invitasi — barangkali ini adalah cara dunia mengabulkan rapalanku.

“Yeon Sieun…”

Aku memang tidak berharap akan disambut dengan meriah; hanya saja aku juga tidak menyangka akan disambut dengan pemandangan ini. Sebenarnya, ini juga tidak bisa disebut sebagai pemandangan — pasalnya, yang terlihat sekarang hanyalah kemenangan uap kelabu dalam adu melawan murninya angin malam.  Uap itu panas, tebal, juga apek — menjadi hilal dari lapuknya suci. Dan, yang paling parah, uap itu menyeruak, memagari semburat kelap-kelip lampu ruang tengah yang tengah coba menyeludup.

Tanganku mengepak-ngepak tanpa arah sampai pagar yang terbuat dari asap itu terbuka; sampai akhirnya aku dapat menatap mata Sang Pengepul yang tengah terbelalak. “Lho?”

Aku mengernyit, tak habis pikir dengan kata yang barusan keluar dari mulutnya — tak habis pikir juga dengan keadaanya yang tengah tersandar dengan penuh luka di wajahnya, sembari menjepit sepuntung sigaret di antara jari telunjuk dan tengahnya. “What do you meanlho’? Kamu gapapa?”

Bukannya menjawab pertanyaanku, perhatiannya seakan terkecoh dengan hal lain. Katanya, “Kok gak bilang dulu kalau mau dateng?”

“Emang kenapa harus bilang?”

“Kalau kamu bilang dulu, aku gak akan kaya gini, lah.”

“Maksudnya?”

Dia mengangkat kedua jarinya yang masih menjepit puntung rokok itu, seakan hendak menekankan suatu poin padaku. “Ahn Suho, kamu kan gak suka bau rokok,” kata Si Pemilik Mata Sayu dengan ekspresinya yang datar. Entah kenapa, aku memaku mendengar kalimat itu. Aku terlampau bingung, bertanya-tanya bagaimana dia bisa memikirkan hal itu di tengah kondisinya yang babak belur. Aku terdiam sejenak sebelum berkata, “Sekarang kan bukan itu poinnya…”

“Sebentar, aku beresin dulu.” Sieun menekankan bara api dari ujung sigaretnya di asbak. Setelahnya, ia berusaha beranjak dari sofa — sepertinya hendak menyingkirkan sisa-sisa sebat yang tertinggal di sana. Di saat yang sama, aku mendengar sedikit erangan dari mulutnya tiap kali ia bergerak; ditambah dengan wajahnya yang kentara menahan lara. Aku tidak tahan melihatnya.

Aku maju mendekatinya, menahan badannya yang sudah setengah berdiri. “Udah, gak usah. Duduk aja.” Aku menatapi wajahnya, nanar — entah apa maksud dunia sampai tega melihat anak seteladan dirinya terluka. “Ini lukanya udah kamu obatin?” tanyaku yang hanya dijawab oleh gelengan kepala.

Aku menghela panjang, intensinya agar perasaanku juga bisa ikut terhempas seiringan dengan napas. “Lukanya di mana aja, memang?”

“Kan kamu bisa lihat sendiri.”

Aku berdecit, “Orang kelihatannya cuma muka, gimana mau lihat?” Tidak ada jawaban dari lawan bicaraku. “Coba, bagian mana yang paling sakit?” lanjutku bertanya.

Sieun menurunkan pandangannya ke arah tubuhnya. Tangannya bergerak, membuka kaus yang membalut torsonya secara perlahan. “Sini,” dirinya menunjuk ke arah perut bagian kirinya — terlihat ada memar sebesar tinju di sana; warnanya tidak merata, yang muda mendominasi sedangkan yang pekat menyebar luas. Melihatnya, aku meringis — aku sakit membayangkan Sieun yang sakit.

 

Aku menggenggam wajah mungil Sieun — dapat kurasakan mata seribu bintangnya tengah menusukku dalam-dalam, namun aku enggan membalas. Aku terpaku pada beberapa luka yang terpampang nyata di wajahnya; luka lecet di pelipisnya serta luka robek di bibirnya. Meski aku tidak sampai hati untuk melihatnya, aku berusaha mengobati lukanya dari yang paling atas.

“Kamu kenapa dipukulin lagi?” tanyaku dingin tanpa menatapnya.

Aku dapat merasa ada penolakan dari lawan bicara. “Bukan dipukulin, Suho. Orang aku yang men-..” Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, aku langsung memotong. “Jawab aja apa susahnya, sih?”

Untuk sejenak, dirinya tidak bergeming. Mungkin, dirinya merasa asing dengan sikapku yang dingin. Namun, aku tidak menyesal atas kalimatku — ini cara terbaikku untuk melindunginya, yaitu dengan bicara padanya.  

“Bukan aku yang mulai duluan…, aku juga gak mau berantem.”

Kalimat itu merasuk ke tulangku, terulang-ulang sebagai sebuah kutukan di tubuhku. Aku ditelan pilu, pernyataannya tidak sesuai dengan rapalanku. Doa-doaku tak berhasil. Fakta bahwa dia terluka karena terpaksa itu membebaniku. Aku lebur melihatnya — siapa pun, tolong ajarkan aku untuk menolongnya.

“Dari SMA Ganghak? Orangnya yang mana?”

“Emang kalau tau, kamu mau apa?”

Iya. Memang aku mau apa? Ah salah — kalau masalah mau, aku mau lenyapkan siapa pun orang yang menyakitinya, aku mau bahagiakan hidupnya, aku mau berikan satu dunia untuknya — asal dia sejahtera, tidak apa kalau aku harus kembali koma. Tapi, pertanyaan yang sebenarnya adalah; memang aku bisa apa? Aku benci diriku yang adalah beban baginya.

 

Setelah dialog tadi, aku tidak banyak bicara; aku tenggelam dalam tanya dan sesal. Detik-detik yang kami lalui dalam sunyi perlahan berganti menjadi menit, aku juga sudah hampir selesai mengobati lukanya, yang tersisa tinggal memar di perutnya. Untuk itu, perlahan aku bersimpuh, mempertemukan lututku dengan lantai apartemen yang dingin. Dapat kurasakan lutut cacatku bergetar — tapi tidak apa, bisa aku tahan sebentar.

Aku menarik kausnya ke atas. “Pegang,” pintaku pada pengguna kaus tersebut. Begitu sudah dituruti, aku menekan lukanya dengan handuk yang telah kurendam dengan air dingin.

“Suho…” Aku hanya menaikkan daguku sebagai jawabannya.

“Kamu gapapa?” lanjut Sieun. Aku membalas tatapan matanya, dapat kulihat dia bertanya-tanya di sana. Aku merasa aneh, kurang paham atas intensinya dalam menanyakan hal tersebut. “Kenapa?” tanyaku meminta penjelasan.

Nothing…, tapi rasanya hari ini kamu banyak diemnya.”

Aku terkekeh kecil, “Gapapa, aku cuma gak tau mau ngomong apa.”

“Suho…, kamu gak lagi marah, kan?”

Aku sedikit tertegun atas pertanyaan itu. Apa aku terlalu mudah dibaca? Tapi, aku cepat-cepat mengembalikan mentalku. Aku menutupi perasaanku dengan muka meremehkan. Aku berdecit tepat di depan wajahnya, “Emang aku siapa sampe boleh marah ke kamu?”

Sieun tampak bingung; wajahnya berekspresi seakan dirinya tengah dibodohi. Tanpa menunggu lama dan tanpa aba-aba, dia langsung menjawab, “Kamu temenku, lah. Kok pake tanya?”

“Emang kalau kita temenan, aku boleh marah ke kamu?”

Aku melirik ke arah Sieun yang tengah menatap ke arah lain. Sieun berpikir sejenak, sebelum akhirnya menatap ke arahku sembari mengangguk dengan mantap. “Seharusnya, sih, boleh.”

Maka, aku anggap itu sebagai sebuah invitasi; waktu ini akan aku luapkan sebagai ladang penuai emosi. Aku tahu ada potensi bahwa aku akan menyesal nanti. Ya, tapi, itu urusan nanti. Sekarang, aku mau izinkan emosiku untuk ambil alih.

Aku menurunkan semua peralatan kesehatan yang tadinya tengah aku pangku. Dari bawah sini, aku menengadah untuk menatap mata seribu bintangnya yang sekarang penuh tanya. Aku mengepalkan kedua tanganku menjadi satu; seakan aku adalah seorang hamba — seakan aku tengah berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Mulutku yang bergetar pun mulai berbicara, “Kalau gitu, aku mau minta tolong satu hal aja…,”

“Tolong banget, Sieun. Tolong berhenti berantem,” pintaku tergesa.

Sieun masih belum bisa keluar dari suasana bertanya-tanya, “Hah?”

“Yeon Sieun, kamu tau aku gak pernah sekali pun minta apa-apa ke kamu, kan? Makanya, tolong turutin aku sekali ini aja. Ya? Tolong berhenti berantem, Sieun. Aku mohon…” mohonku dengan napas yang tidak teratur.

“… aku harus gimana, Suho?”

Pikiranku kalut, aku tidak bisa menyaring hal-hal yang hendak aku katakan. Dapat kurasakan bahwa aku akan menyesal dengan kalimatku sendiri nantinya.  “Ya gimana kek? Coba deh kalau ngomong sama orang pake bahasa yang baik, yang santun, yang sopan. Or, simply just don’t be a jerk. Pasti ada caranya, kan?”

Yang aku recoki sudah tidak menatapku dengan tatapan kebingungan. Tatapannya berganti menjadi dingin, aku hampir merinding melihatnya. “Maksudmu, aku gak boleh jadi Yeon Sieun?”

Bukan, bukan, bukan — bukan itu maksudku. Penyampaianku salah kaprah, aku sadar itu. “Gak gitu, Sieun… Atau, gimana kalau kamu pindah sekolah aja?” saranku.

“Gak bisa seenaknya gitu, dong. Lagian, kamu kan juga tau kalau aku gak diterima di sekolah mana pun selain Eunjang,” jawab Sieun dengan nadanya yang mulai meninggi.

Aku frustrasi; tidak ada satu pun maksudku yang tersampaikan dengan rapi. Aku mengacak-acak rambutku, dalam rangka mencoba memutar kepala agar Sieun bisa mengerti. Meski begitu, aku tetap tidak bisa berpikir jernih, lagi-lagi aku mengeluarkan kalimat yang hendak aku sesali, “Kalau engga, kamu sekolah di luar negeri aja. Bukannya kamu pinter mampus, ya?”

Sieun menghela napasnya panjang. Sepertinya, dia mulai lelah dengan aku yang terlalu terbawa emosi ini. Katanya, “Apa kamu sebenci itu kalau aku ada di sini.” Mendengar itu, aku memundurkan kepalaku, menatapnya dengan tatapan yang paling intrik, “Nonsense.”

Dapat kurasakan Sieun tengah memakiku dengan matanya. “Terus apa? Suho, kamu hari ini kenapa nyebelin bang-…”

“Aku begini soalnya aku cacat, Sieun."

"I feel so fucking wronged karena aku gak bisa apa-apa di saat kamu sesakit ini,” kataku lagi-lagi memotong ucapan Sieun dengan menggebu-gebu. “Padahal aku jelas-jelas tau kalau kalau ada yang salah sama kamu – kalau kamu lagi susah bertahan sama hidupmu, tapi aku gak tahu harus apa biar bisa bantu kamu…”

“Suho…”

“Yeon Sieun, kamu tau gak, sih? Kadang, aku rasanya mau mati. Mau tau kenapa?” tanyaku. Aku memberi jeda di tengah kalimatku; aku melirik ke arah Sieun, mendapati dirinya yang tengah termangu ke arahku. Melihatnya begitu, dapat kurasakan mataku panas — didorong oleh seluruh perasaan yang meluap tanpa pembatas.

“Aku kepikiran kalau kamu bisa hidup tanpa aku. Aku kepikiran kalau hidupmu gak akan beda jauh tanpa aku — atau bahkan, bisa lebih baik kalau gak ada aku. Setiap kepikiran gitu, aku rasanya kaya mau mati, Sieun.” Aku tidak mau, tapi mataku meneteskan airnya tanpa disuruh.

“Suho…”

“Aku juga sering kepikiran begini; seandainya aku bisa berantem lagi — eh, itu mah gak masuk akal, ya? Atau, seandainya aku bisa naik motor lagi — eh, engga deh, itu juga masih kejauhan. Ya udah, ini aja; kalau seandainya aku bisa jalan lagi, kamu pasti gak akan sesakit ini. Aku benci banget sama badanku yang ini…”

“Ahn Suho…”

“Sieun, kira-kira, dunia bisa balik kaya dulu gak, ya? Kalau bisa, aku mau balik ke dunia yang lama. Dunia di mana semua-semuanya punya kita — dunia di mana kita gak pernah takut, gak pernah runtuh, gak pernah sakit, gak pernah sedih — asalkan isinya ada kita berdua. Caranya gim-…”

Kali ini, Sieun yang memotong omonganku. Ia membungkam mulutku dengan mulutnya. Gila. Hanya satu kata itu yang dapat menggambarkan kecupannya. Pasalnya, kejadiannya terlalu cepat; dan aku terlalu kaget untuk ikut menikmatinya.

Mata Sieun hanya berjarak sepuluh sentimeter dari mataku. Jemari Sieun menyapu bibirku; bibir yang baru saja dia pilih untuk dicium dengan bibirnya. Sieun tersenyum — teduh, seperti aroma yang menyerbak dari badannya, “Maaf, aku bau rokok, ya?”

Masa bodoh dengan bau rokok itu. Aku mematung, mataku tidak dapat berpaling darinya, mulutku juga kelu; tidak dapat menyatakan bahwa aku mau yang lebih dari itu. Melihat aku yang begitu, Sieun terkekeh menertawakanku. Dia membantuku untuk keluar dari zona simpuh, tangannya ikut membantu menopang tubuhku agar bisa bangkit dan duduk di sampingnya; di sofa cokelat ruang tamunya.

“Ahn Suho, aku udah pernah tinggal di dunia yang gak ada kamunya. Tapi, buktinya, hari-hariku justru tambah parah. Aku buka mata, kamu selalu masih tidur; aku pergi, kamu selalu masih di tempat yang sama; aku tunggu, kamu gak pernah datang-datang. Aku napas, Suho, tapi aku gak hidup. Duniaku tanpa kamu, bahkan gak layak buat disebut dunia.” Kalimat itu ringkih dan rintih. Mendengarnya, dadaku sesak bukan main. Rasanya, seperti ada gigi yang menggerogoti jantungku secara bertahap, sehingga mereka berpacu lebih cepat dan badanku memanas.

Tangan halus Sieun beranjak dari pahanya, jemarinya membelai wajahku; menjamah dari pelipisku hingga rahangku, “Duniaku bakal baik-baik aja, Suho. Asal ada kamu di dalamnya.”

Cantik. Kalimat itu disampaikan dengan cantik — dengan indah. Solek itu juga didukung oleh wajah pembicaranya. Matanya, yang selalu jadi kelemahanku, kali ini berair dan permai — aku ingin terjun ke dalamnya; hidungnya yang terdengar tengah menarik dan menghembuskan napas dengan berat; serta bibirnya, bibirnya yang merah muda dan bundar itu entah mengapa terlihat mengundang.

Maaf, aku tidak sanggup menahan lagi. Aku menarik tangan Sieun; menarik tubuhnya sehingga bibirnya bisa menabrak bibirku. Kali ini, aku yang menginisiasi ciuman itu. Aku menutup mataku — di tengah kegelapan itu, dapat kurasakan betapa lembut, basah, dan hangatnya bibir sahabatku. Bibirku bak diperawani oleh hutan hujan tropis yang becek, aku terlampau mau untuk terus tinggal di sana.

Namun, menempel saja belum cukup. Aku menekankan bibirku lebih keras lagi, memaksa dirinya memberikanku celah untuk masuk ke dalam sana — ke area yang lebih pendam, yang lebih basah. Di dalam, aku dapat merasa sisa-sisa sepat dari rokok yang dia hisap sebelumnya. Aku kira, aku tidak akan peduli dengan rasanya. Tapi, aku salah — aku bukannya tidak peduli, melainkan aku terobsesi dengan pahitnya. Lidahku meliuk-liuk, mencari residu lain yang ada di dalam sana. Begitu aku meliuk, tubuh Sieun menggeliat tak karuan tanpa penolakan. Aku anggap itu sebagai persetujuan untuk melanjutkan.

Aku mengangkat tubuhnya yang jauh lebih ringan untuk duduk di pangkuanku. Sambil masih menutup mata, tanganku masuk ke dalam bajunya. Perlahan, satu demi satu dari jemariku bermain di sana, menyusuri kulitnya yang terlampau mulus dan pinggangnya yang terlampau kurus. Dengan itu, mungkin Sieun merasa geli sehingga badannya ikut bergerak sesuai irama yang dituntun oleh jemariku — sampai akhirnya dia memutuskan ciuman itu.

“Ahh!” pekiknya kecil sembari menarik perutnya menjauh dari badanku. Dari pekikan ini, aku baru kembali ke dunia nyata, sedangkan adegan tadi serasa seperti mimpi indah yang selalu aku dambakan.

Melihat pergerakannya, sepertinya aku tidak sengaja mengenai luka di perutnya. “Eh, maaf! Did I hurt you?”

Yang diajak bicara terkekeh di tengah sakitnya, dia mengecupku sekali sebelum berkata, “No, you could never hurt me, Ahn Suho.” Lalu menyerbuku dengan ratusan kecupan lagi.

Untuk momentum-momentum selanjutnya, biar jadi rahasia milik kami berdua. Intinya, aku mendapatkan validasi bahwa dunia masih milik kita; di mana dia ada di dalam genggamanku, dan aku di dalam genggamannya. Oh iya, aku juga diberi tahu bahwa perputaran dunia tidak ada yang tahu. Tidak apa, setidaknya, tautan kami cukup untuk menahanku hidup selamanya.

Notes:

Hai, teman-teman! Terima kasih untuk para SHSE Nation Lokal yang sudah mau membaca tulisan ini sampai akhir. Sejujurnya, ini pertama kalinya aku mempublikasi narasi melalui AO3, hehe. So, I'm a bit nervous and masih belum terbiasa dengan cara menulisnya. Mohon maklum dan pengertiannya, ya! I hope you guys enjoyed it!

Oh iya, buat chat dari Gotak-nya, bisa dilihat di akun X @hotguypjh, ada after cookie-nya juga lho di sana!