Work Text:
“DOR!”
“Whoa—!”
Badan Zhang Hao refleks terlonjak ke belakang, diiringi suara tawa Gyuvin turut mengudara. Yang lebih tua langsung memelototi tampang cengengesan si Agustus, kelihatan banget kalau tidak merasa bersalah. Hehe.
“Kamu ini,” Zhang Hao dengan sengaja memundurkan kepala guna beri jarak di antara badan mereka, saat Gyuvin beringsut melingkarkan lengan ke pinggang sang pencinta biola. “kebiasaan. Sengaja biar Hyung serangan jantung?”
Cengiran lebar Gyuvin sukses memamerkan deret gigi putihnya. “Habisnya, reaksi Hyung lucu banget, sih.”
Balasan itu terlontar dalam nada tanpa dosa, dan Zhang Hao bisa merasakan pelukan Gyuvin mengerat. Decak sebal lolos dari bibir Zhang Hao, satu tangan terangkat untuk menabok punggung yang lebih muda. “Hati-hati bikin mati muda.”
“Mana mungkin dibiarkan begitu sama aku dan Hanbin-hyung,” nama partner in crime Gyuvin dalam keisengan mengagetkan Hao kini disebut.
Zhang Hao lantas menghela napas, netra tajamnya memandangi wajah Gyuvin lekat seolah tengah meneliti apa yang sebaiknya ia lakukan dalam mengahadapi personifikasi puppy ini. Kemudian, segaris senyum tertahan di sudut bibirnya, “Lihat aja. Nanti Hyung bikin kaget, baru kamu tahu rasa.”
Kepala dengan rambut berponi milik yang lebih muda langsung menggeleng. “Enggak, enggak akan bisa. Aku sama yang seram-seram juga biasa,” ujarnya percaya diri.
Yah. Sayangnya, kejutan yang Zhang Hao rencanakan memang bukan sesuatu yang menyeramkan.
Kejutan itu hadir lewat gerak-gerik Zhang Hao yang tangannya terangkat, menahan leher Gyuvin supaya tetap bertahan di posisinya. Tanpa aba-aba, Zhang Hao pun menelengkan kepala sedemikian rupa sampai bibirnya menyentuh pipi yang lebih muda.
Menyerempet sedikit, nyaris ke sudut bibir sih sebetulnya.
Sepasang bola mata Gyuvin yang bentuknya sudah bulat pun otomatis makin melebar. Sempurna bundar. Mirip boba dalam minuman manis kekinian itu. Tampak mulutnya terbuka setengah, sementara Zhang Hao menarik diri dengan seulas senyum puas tersungging di bibirnya.
“HAO-HYUNG!”
Dan teriakan itu dibalas gelak tawa di udara, “Nah, kan?”
