Work Text:
Yoon Dongju tidak ingat sejak kapan dia mulai menyukai pria berkacamata itu, bahkan dia tidak menyangka kalau dia adalah seorang biseksual, sebab dia belum pernah menyukai pria sebelumnya.
Dongju menghela nafas dan memangku wajah dengan tangannya, melihat ke luar jendela, melihat Jonghyeon yang sedang menggiring bola, lalu melakukan tos dengan Jaehong dan tersenyum lebar saat mencetak gol.
Kapan ya dia akan tersenyum seperti itu kepadaku, pikirnya berandai-andai. Dia pernah melihat senyuman itu, tepatnya saat Jonghyeon sedang berinteraksi dengan Hanna.
'Kupikir aku tidak bisa mengalahkan Hanna, tentu saja aku tak bisa karena muka datar itu masih memiliki perasaan untuk Hanna'
Takk~
Suara nyaring pertemuan dari spidol dan tempurung kepala terdengar dipenjuru ruangan.
"Dongju mau sampai kapan kau melamun hah?"
Tangan Dongju mengusap kepalanya yang nyeri, dia melirik pria tua di depan kelas yang melihat nyalang kearahnya, teman kelasnya dan Hanna hanya diam, karena sudah terbiasa dengan kejadian ini, perkelahian si pembuat onar dan guru pemarah, tidak ada habisnya.
"Sampai kelas selesai" jawabnya dengan senyum konyol, beberapa siswa menahan tawa, pria tua di depan sana cuma bisa mengerang sambil memegangi lehernya yang tiba-tiba saja menjadi kaku.
"Anak sialan ini!! Keluar kau!!!" Teriaknya dengan wajah memerah.
"Terima kasih" Dongju membungkukkan badannya dan segera keluar kelas sebelum guru itu makin mengamuk, tersenyum sekilas ke arah Hanna yang memberikan tatapan khawatir dan kesal karena perilakunya.
Kini dia bingung harus kemana, dengan langkah lebar dia tak sadar sudah sampai ke lapangan sekolah. Disana dia melihat Jonghyeon yang sedang beristirahat meminum airnya, menonton teman-temannya bermain bola.
Ide jahil terlintas dibenak Dongju, dia menyelinap sepelan mungkin kebelakang pria itu dan akan menutup matanya, begitu rencananya.
Srett
Tetapi dia kalah cepat dari refleks Jonghyeon yang segera menarik tangannya, tubuh Dongju hampir jatuh jika saja tangan Jonghyeon tidak memeluk pinggangnya dengan erat.
Mereka saling melemparkan tatapan terkejut, dan terdiam dengan posisi canggung itu selama beberapa detik.
Brukk
"Aduhhh...."
Jonghyeon melepaskan pelukannya dan Dongju belum siap untuk jatuh, menyebabkan pria itu merintih kesakitan karena bokongnya mencium tanah.
"Sialan tidak bisakah kau lebih lembut" makinya pada pria berkacamata itu.
"Itu kesalahanmu puppy" jawab si kaca mata singkat dan segera meraih botol minumnya yang tersisa setengah, isinya sudah meresap ke tanah lapangan karena insiden tadi.
"Cih dasar muka datar yang tidak romantis" gerutu Dongju, beranjak dari jatuhnya sambil sesekali mengusap bokongnya.
"Kau mau aku bersikap romantis padamu?" tanya Jonghyeon dengan seringai kecil yang menyebalkan.
"T..TIDAKK...KAU GILA HAH"
Jonghyeon menghela nafas dan menyuruh pria tengil itu untuk tenang, beberapa teman kelasnya melirik kearah mereka dengan bingung dan penasaran, tapi sudah tidak heran lagi jika kedua orang itu disatukan pasti selalu ada keributan.
"Diamlah" kata pria yang lebih tua, Dongju menurutinya tetapi masih bergumam kecil dengan mulut mengerucut.
"Hai Dongju, kenapa kau disini dan tidak dikelas?" Jaehong mendatangi mereka "Minta ya hehe" merebut botol minum Jonghyeon dan segera meneguknya.
"Aku diusir" jawaban percaya diri itu meluncur dari mulut Dongju, mendengarnya Jonghyeon hanya bisa menampilkan tatapan datar, Jaehong tertawa keras.
"Kalau begitu terus kau tidak akan naik kelas"
"Selama ini tetap naik kelas kok"
"Ya pertahankanlah, kau akan menyesal dan mendapatkan nilai jelek nantinya" Jonghyeon beranjak membereskan barang-barangnya dan berpamitan kepada Jaehong dan teman kelas lainnya.
"Nilaiku tidak buruk tau" Dongju mengekorinya dengan baik. Jonghyeon berhenti ditengah koridor sepi dan membalikkan badan.
"Tidak buruk dan tidak bagus juga, aku mendengarnya dari Hanna, dia khawatir padamu"
Kan, selalu saja nama Hanna yang terucap dibibir itu, setelah diingat-ingat Jonghyeon tak pernah memanggilnya dengan benar, selalu 'hei', 'kau' atau 'puppy', apakah sesulit itu memanggil namanya?
"Aku bisa mendapatkan nilai bagus" mood Dongju seketika menjadi jelek.
Jonghyeon memperhatikan sikapnya yang berubah drastis, kenapa anak ini, pikirnya bingung.
"Benarkah?"
"Benar, aku akan mendapatkan nilai bagus di ujian tengah semester kali ini dan kau harus menuruti keinginanku" jarinya menunjuk Jonghyeon dengan tidak sopan.
Jonghyeon menyeringai, dia melangkah maju mendekat, tangannya perlahan menurunkan tangan Dongju yang jarinya masih mengarah padanya.
"Keinginanmu? Sepertinya menarik" badannya semakin mendekat, membuat kening Dongju mengerut kebingungan.
"Lalu bagaimana kalau kau kalah?"
Dongju menelan ludah dan melirik kearah lain selain wajah rupawan Jonghyeon yang kini sangat dekat dengannya.
"K..aku..akan menuruti keinginanmu"
"Apapun?"
"Ya apapun" Dongju menarik tangannya dari genggaman Jonghyeon yang terasa panas.
"Baiklah deal, tapi kau harus mendapatkan nilai minimal 80 disetiap pelajaran, jika tidak aku yang menang" sudut bibir Jonghyeon naik, lalu memundurkan badannya dan segera berbalik dan berjalan menjauh.
Dongju memegang tangannya yang masih terasa sisa kehangatan dari Jonghyeon.
...
"Sialan" geraman Dongju membuat Hanna dan Yeonha yang duduk didepannya bingung, apa lagi keonaran yang dibuat anak ini.
"Aku harus mendapatkan nilai bagus untuk ujian tengah semester kali ini"
Kedua wanita itu berhenti mengunyah, setan apa yang sudah merasuki teman mereka ini sampai dia memikirkan nilai ujian yang selama ini telah disepelekannya.
"Aku akan mendapatkan nilai bagus dan si muka datar itu akan menuruti keinginanku"
Hanna dan Yeonha akhirnya mengerti, hanya satu orang yang dijuluki 'muka datar' oleh Dongju, siapa lagi kalau bukan Jonghyeon, kakak kelas mereka yang juga mantan pacar Hanna itu.
"Kau buat masalah apa lagi dengan Kak Jonghyeon?"
Dongju mendelik kearah Yeonha dengan pipi penuh makanan, dengan cepat dia menelannya.
"Dia meremehkan ku, aku tidak suka, kalau aku kalah aku harus menuruti apapun maunya" rengeknya seperti bayi tidak diberikan mainan.
"Ya sudah tinggal belajar saja" kata Hanna, wanita yang dulu pernah disukainya itu.
"Andai segampang itu, kau tahu aku tidak suka belajar"
Kedua wanita itu berpikir, ya Dongju memang tipikal anak sekolahan yang tidak terlalu suka belajar dan hanya suka pelajaran yang berbau fisik saja, nilainya di beberapa mata pelajaran memang tidak buruk tapi tidak bagus juga, dia unggul dalam pelajaran olahraga pernah beberapa kali menjadi pemenang dalam ajang tinju antar-siswa SMA. Tapi dari pengamatan Hanna yang lebih lama berteman dengan Dongju, dia termasuk yang gampang menerima materi pelajaran, dia hanya pemalas saja.
"Aku akan membantumu, bagaimana?"
Mata Dongju berbinar seperti anak anjing, dia mengangguk semangat membuat Hanna takut kepalanya akan copot dari badannya.
"Tenanglah, ujian tengah semester dua minggu lagi, kau yakin bisa mendapatkan nilai bagus?" tanya Yeonha tak yakin.
"Aku pasti bisa" Hanna tersenyum kepada temannya itu, dia selalu menyukai Dongju yang bersemangat dan pantang menyerah.
Selama beberapa hari ini Dongju, Hanna dan Yeonha mengunjungi perpustakaan sekolah pada sore hari, kadang ada Jonghyeon yang datang dan bergabung untuk belajar bersama karena meja lain sudah ditempati oleh beberapa siswa rajin yang juga belajar untuk ujian tengah semester.
Dongju menggerutu melihat interaksi Jonghyeon dan Hanna yang mengiritasi matanya, Jonghyeon selalu menepuk lembut kepala Hanna dan tersenyum lembut saat wanita itu mengerti dengan materi yang diajarkannya.
Menurut Dongju dari banyaknya ketidaksukaan Jonghyeon bergabung di kelompok belajarnya ada satu yang membuatnya bersyukur, tidak disangka Pria berkacamata itu ikut mengajari Dongju beberapa materi yang tidak dipahaminya, dan entah kenapa penjelasannya dapat cepat dimengerti oleh otak Dongju, tapi dia tidak menepuk kepala Dongju seperti Hanna, dan itu membuatnya agak kesal.
Tapi hari ini cuma ada Dongju dan Jonghyeon saja dimeja itu, Hanna sedang ada jadwal latihan tembak bersama ayahnya, sedangkan Yeonha baru saja pergi meninggalkan dua pria itu ketika diajak berkencan pacarnya.
Dongju sedang sibuk membolak-balikkan lembar buku pelajaran didepannya dengan fokus, melirik sebentar Jonghyeon yang beranjak dari duduknya, 'mungkin ke toilet' pikirnya kembali fokus pada buku, ingat dia tidak ingin kalah dari Jonghyeon, dia harus membuktikan dirinya.
Si kacamata kembali lagi dengan minuman kaleng dikedua tangannya. Dongju terlonjak kaget merasakan dingin di pipi kanannya, matanya berkedip lucu melihat Jonghyeon yang tersenyum kecil melihat reaksinya, lalu segera berekspresi datar lagi.
"Minumlah puppy" katanya lalu segera duduk dan melanjutkan belajarnya.
Dongju tanpa pikir panjang segera menyesap minuman kaleng itu, dia baru sadar kalau itu adalah minuman kesukaannya, apakah Jonghyeon mengetahui kesukaannya atau hanya kebetulan, bisa jadi Hanna yang memberitahunya, tapi kenapa?
Dongju menatap Jonghyeon yang terlihat semakin menawan jika sedang fokus. Semuanya sangat sempurna, wajahnya, rambutnya, otaknya, tubuhnya pun atletis, tidak heran dia termasuk siswa populer di sekolahnya. Tatapan Dongju tertuju pada mata turun ke hidung yang mancung itu dan mendarat di bibirnya yang 'bagaimana ya rasanya bibir itu?' pikirnya tidak terkontrol.
'Apa aku minta ciuman saja sebagai imbalan atas nilai bagusku nanti?'
'Tidak-tidak..dia sudah membenciku karena aku lebih dekat dengan Hanna, jangan lebih merusaknya lagi'
'Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba bukan?'
Pikirannya ruwet.
"Apakah ada yang tidak kau mengerti?"
Suara dan tangan Jonghyeon yang menepuk bahunya membuyarkan lamunan panas Dongju.
"TIDAK"
Semua mata diruangan itu kini tertuju pada Dongju yang tiba-tiba beranjak dari kursinya.
"Mohon jangan berisik" tegur petugas perpustakaan dengan suara tegas, Dongju menggaruk leher belakang sambil menunduk berkali-kali minta maaf pada beberapa orang, lalu kembali duduk dengan cemberut.
"Kau kenapa?" Jonghyeon bertanya bingung.
"Tidak apa-apa" Dongju menelungkupkan wajahnya di meja, wajahnya terasa panas setelah mengingat apa yang dia pikirkan tadi, kenapa dia menjadi mesum begini sih?
"Aku mau pulang" Dongju segera membereskan barang-barangnya dan segera pergi meninggalkan Jonghyeon yang menatapnya terkejut.
Dongju berjalan mendekati rumah anak anjing yang berada di toko kelontong dekat sekolah, dia berjongkok dan mengelus kepala anak anjing itu dengan lembut, melirik papan nama di rumah kecilnya yang bertuliskan 'Dongju', nama yang sama dengannya.
Dulu anjing itu adalah anjing liar yang ditemukan oleh Hanna, Dongju dan Jonghyeon di selokan got samping sekolah, mereka membawanya ke toko kelontong itu untuk membersihkan badannya, bibi penjaga toko menawarkan diri untuk merawatnya jadi mereka bertiga bisa terus melihat dan bermain dengan 'Dongju'.
Jonghyeon dan Hanna sepakat menamainya 'Dongju' karena mengingatkan mereka dengan Dongju yang pembuat onar dan mirip anak anjing besar, itu juga yang menjadi awal sebutan 'Puppy' dari Jonghyeon untuk Dongju, yang Dongju asumsikan sebagai sarkasme dari pria itu.
"Ohh nak Dongju, baru pulang?"
"Halo bibi, iya saya baru pulang" Dongju menyapa bibi toko yang baru saja keluar dan memberikan makan 'Dongju'.
"Tadi Jonghyeon juga baru kesini membeli minuman dan seperti kembali lagi kedalam sekolah, memang anak yang rajin"
Jadi dia tadi membeli minuman itu disini, setelah dipikir-pikir minuman itu hanya dijual di toko bibi saja, di dalam sekolah memang ada mesin penjual minuman tapi tidak menyediakan minuman favoritnya.
'mungkin hanya kebetulan' pikirnya sambil terus mengelus 'Dongju' yang sedang makan dengan lahap.
...
Minggu ujian tengah semester telah berlalu dengan sangat menegangkan dan penuh frustasi bagi Dongju. Dia berjalan terseok diantara siswa-siswa yang sama lesunya setelah menyelesaikan ujian terakhir mereka ke kantin sekolah.
Hanna dan Yeonha disebelahnya hanya berjalan pelan sambil menepuk bahu teman mereka itu, merasa bangga karena akhirnya Dongju bisa lebih memikirkan pentingnya nilai ujian walau harus diiming-imingi imbalan dari Jonghyeon.
"Apakah aku bisa mendapatkan nilai yang bagus? Setidaknya harus 80 agar bisa menang dari muka datar itu"
"Tenanglah, kau sudah berusaha selama dua minggu ini, jikapun kau kalah kak Jonghyeon tidak akan meminta yang aneh-aneh darimu" jawab Hanna santai.
"Kenapa kau begitu percaya dia akan begitu?" Dongju menoleh ke Hanna, wanita itu terdiam sebentar lalu bertatapan dengan Yeonha, mereka tersenyum penuh arti.
"Yahh mungkin karena selama ini kau yang selalu memulai pertengkaran dengannya, kak Jonghyeon tidak childish sepertimu Yoon Dongju" Yeonha mencubit pelan pipi Dongju membuat pria itu merengek.
"Kenapa aku, dia selalu tersenyum remeh padaku" bantah Dongju.
"Itu bukan senyum meremehkan, aku mengenal kak Jonghyeon sebaik mengenalmu Dongju, dan asumsimu itu harus diperbaiki" katanya Hanna sambil berlalu meninggalkan Dongju yang tercengang.
"Apa maksudnya? Jadi selama ini aku salah mengartikan senyuman si muka datar?"
"Entahlah, ayo makan siang, aku sudah lapar" Yeonha menarik tangan Dongju mengejar teman mereka yang sudah lebih dahulu memasuki kantin yang dipenuhi oleh zombi siswa-siswa kelaparan.
...
Hari pembagian nilai ujian tengah semester pun datang, dengan harap-harap cemas Dongju mengeratkan genggaman tangannya saat mendekati namanya dipanggil oleh wali kelasnya.
"Yoon Dongju, wahhh nilaimu kali ini lumayan juga ya, teruskanlah, jangan hanya tinju, kau juga harus memikirkan pelajaranmu, maka kau bisa naik kelas dengan tenang"
Dongju tersenyum kecil dan segera duduk kembali setelah menerima kertas yang berisikan nilai.
Hanna menoleh kebelakang untuk melihat Dongju yang tengah menyiapkan hati. Wajah Dongju menegang melihat kertasnya lalu berangsur gembira lalu berganti cemberut dan Hanna tahu itu adalah ekspresi kecewanya Dongju, dia segera menarik kertas itu dan menelusuri nilai yang sebagian besar 80 ke atas, tetapi diantaranya ada tiga mata pelajaran yang mendapatkan nilai dibawah 80, dengan ini kesepakatannya dimenangkan oleh Jonghyeon.
"Jangan kecewa, nilaimu sudah sangat bagus" hibur Hanna.
"Ayo kita ke kantin saja, aku akan mentraktir mu" kata wanita itu berusaha menarik Dongju dari kursinya.
"Aku tidak selera, aku mau ke rooftop saja, jangan mengikutiku" cegahnya saat Hanna akan beranjak mengikutinya.
"Astaga, kenapa dia seperti perempuan sih" gerutu Hanna sambil menyalakan ponselnya dan menelpon seseorang.
Dongju duduk bersila di lantai rooftop dengan memandangi kertas nilainya, kalau dia berusaha lebih keras lagi dia pasti bisa kan?
Dia bukannya menyesal karena harus menuruti permintaan Jonghyeon nantinya, dia bisa melakukan apapun untuk pria itu. Dia hanya kesal dan kecewa pada dirinya sendiri karena menurutnya pasti Jonghyeon akan berpikir bahwa dia bukanlah orang yang bisa dipegang omongannya, orang yang tidak dapat dipercaya, cuma bisa beromong kosong.
Dia meremas kertas itu, menutup mata, nafas berat keluar dari mulutnya, punggung bersandar pada dinding dibelakangnya, entah kenapa hari ini lebih lelah dari hari biasanya.
Keningnya mengernyit karena merasakan bayangan yang menutupi tubuhnya, Dongju menyipitkan matanya untuk melihat sosok yang menutupi cahaya matahari. Orang itu berjongkok didepannya dan memperbaiki kacamatanya yang agak turun.
"Apakah kau sangat benci untuk menuruti keinginanku Dongju?" tanya Jonghyeon, matanya melihat Dongju yang belum selesai dengan kagetnya, ini pertama kalinya dia memanggilnya dengan nama, ingatkan Dongju untuk menulisnya di kalender.
"Kenapa kau disini?" tanya balik Dongju sambil memalingkan wajahnya. Tangan Jonghyeon menarik tangan Dongju dan menukarkan kertas nilainya yang kusut dengan minuman kaleng kesukaan Dongju, raut muka Dongju berubah heran, kenapa lagi dengan minuman ini, apakah dia berusaha menghiburnya, tidak mungkin.
"Tentu saja untuk menemui mu, kesepakatan kita belum berakhir bukan?"
Mata Jonghyeon menelusuri angka-angka yang tercetak di kertas itu, sudut bibirnya naik, Dongju menghela nafas, merasa kesal.
"Baiklah, apa keinginanmu tuan muka datar?"
"Hmmm..." Jonghyeon tampak berpikir sebentar sambil memperhatikan Dongju dengan lekat.
'Apakah dia belum memikirkan keinginannya, kenapa harus dipikirkan lagi, apakah mungkin dia akan menyuruhku untuk menjauhi Hanna? Tidak, dia tidak akan sejahat itu kan?'.
"Baiklah" suara Jonghyeon membuyarkan lamunan Dongju.
Tangan pria berkacamata itu terulur dan menarik dagu Dongju, membuat wajahnya lebih dekat dengan pria itu. Tatapannya semakin intens dan turun ke bibir Dongju, membuat pria itu menelan ludahnya.
"Jadilah 'anak baik' untukku puppy" bisiknya tepat didepan bibir Dongju. Belum sempat mencerna maksud perkataan Jonghyeon kini jantung Dongju dipaksa untuk memompa cepat aliran darah keseluruhan tubuhnya, dan minuman kaleng ditangannya terjatuh begitu saja.
'Jadi begini rasa bibir Jonghyeon??? Hahh ini beneran, begini rasanya??'
Otaknya belum memproses sama sekali kejadian ini, kenapa bisa begini, kenapa sekarang Jonghyeon melumat bibir bawahnya seperti itu adalah sesuatu yang wajar bagi pria berkacamata itu.
Apakah dia bermimpi? Jika iya dia akan menikmatinya, terima kasih Tuhan.
Bibir kedua pria itu saling melumat mengejar kenikmatan yang selalu didambakan mereka, Jonghyeon mengigit dan menjilat pelan bibir Dongju meminta izin untuk masuk, dan segera diiyakan oleh si pemilik bibir, membuat pergulatan itu semakin panas dan membuat keduanya segera kehabisan oksigen.
Jonghyeon menjauhkan wajahnya dan menatap Dongju yang berkedip antara bingung dan terkejut, tangannya yang tadi berada di dagunya kini bergeser ke pipinya. Bibir Dongju memerah dan mengkilap seperti miliknya, nafas hangat terasa dari keduanya, dada keduanya saling berdetak kencang beriringan.
"Apakah kau menyukainya?" tanya si kacamata masih memperhatikan gerak-gerik Dongju yang lucu karena pikirannya masih hilang arah setelah berciuman.
"Hahh? Apa?"
"Ciumanku, apa kau menyukainya? Atau apakah kau marah?"
Dengan kaku Dongju mengangguk lalu menggelengkan kepalanya, menunduk merasakan seluruh aliran darahnya naik ke wajahnya.
"Ini mimpi?" tanyanya masih linglung, tangan pria didepannya mengangkat kepalanya agar kembali terarah ke depannya.
"Jangan pernah berpikir ini mimpi Dongju" Jonghyeon mendekatkan kembali wajahnya, tetapi Dongju menahan wajah rupawan yang selalu terbayang-bayang sebelum dia terlelap itu.
"Sebentar...sebentar...ini..asli? Aku tidak berhalusinasi kan?" tangannya memegangi seluruh wajah Jonghyeon hingga kacamata pria itu terjatuh dan rambutnya berantakan, tangan Dongju mencubit pipi Jonghyeon dan menariknya agak kencang.
"Bisakah kau berhenti, itu terasa sakit dan seharusnya kau mencubiti dirimu sendiri bukan aku" Jonghyeon memakai kembali kacamatanya dan merapikan rambutnya.
"Ohh" Dongju mengangguk bingung.
"Tunggu, KAU....KENAPA KAU MENCIUMKU?" paniknya terlambat, Jonghyeon hanya tertawa kecil melihat reaksi pria itu.
"Aku menyukaimu" pernyataan Jonghyeon membuat mata Dongju hampir keluar dari tempatnya.
"Kau tidak sadar?"
"Sadar? Bagaimana aku bisa sadar kau selalu menunjukkan wajah datar dan arogan mu itu kepadaku, sikapmu pun selalu kasar dan dingin, dan senyuman meremehkan ku itu bagaimana aku bisa sadar?"
"Jadi senyumanku terlihat seperti itu, padahal aku cuma merasa gemas melihat tingkahmu" Jonghyeon berdehem mencoba menghilangkan rasa canggung diantara mereka.
Wajah Dongju memanas, jadi selama ini Jonghyeon merasa gemas dengan tingkah lakunya.
"Aku selalu menggoda mu, bahkan Hanna dan Yeonha saja tahu" jelas Jonghyeon.
"Kau bilang menggoda? Sarkasme yang selalu kau lantangkan jika berbicara denganku?"
"Hmm adil juga, hmm ok aku kadang memanggilmu 'puppy', itu panggilan kesayangan bukan?"
Dongju tercengang tak percaya.
"Kau...kau memanggilku 'puppy' yang artinya 'anak anjing' orang berasumsi itu makian sialan" tak habis pikir, si jenius Jonghyeon bisa bodoh seperti ini.
"Terserahlah, sekarang kau tahu aku menyukaimu" kata Jonghyeon dengan cuek.
"Ya...ok aku juga menyukaimu" gerutu Dongju dengan suara pelan.
"Kau mengatakan apa?" Jonghyeon tersenyum menggoda kearahnya.
"Kubilang aku juga menyukaimu bodoh" kata Dongju dengan lantang dan wajah makin memerah, membuat Jonghyeon menyeringai dan tertawa pelan.
"Aku sudah tahu puppy" katanya enteng dan beranjak bangun dari jongkoknya dan berjalan menjauhi Dongju, sekali lagi Dongju hanya melongo mendengarnya.
"Ohh iya, ku beritahu mulai sekarang kau harus menjadi 'anak baik' untukku puppy, artinya kau harus menuruti semua perkataanku, dan juga selamat untuk peningkatan nilai pelajaran mu" Jonghyeon berjalan meninggalkan rooftop dengan Dongju yang makin tercengang.
"DASAR BAJINGAN SIALAN, KENAPA DARI SEMUA ORANG AKU HARUS MENYUKAI IBLIS ITU SIH??"
...
"Kau yakin tidak apa-apa jika kak Jonghyeon menemui Dongju sekarang?"
"Tenang saja Yeonha, mereka bukan anak kecil lagi, ohh kecuali Dongju dia memang anak kecil, tapi aku tahu kak Jonghyeon bisa mengatasinya" kata Hanna dengan santai dan meminum kembali jusnya, dia tersenyum kecil memikirkan apa yang akan dilakukan oleh dua orang kasmaran berkedok musuh itu.
"Yah setidaknya Dongju jadi belajar dan nilainya naik, kalau begini terus dia tidak akan tinggal kelas"
