Work Text:
Wonbin menjauhinya—mereka. Kalau Sungchan mengingat-ingat, mungkin sudah sekitar dua minggu. Wonbin tidak bilang apa-apa, wajahnya biasa saja, masih tertawa, masih menanggapi jika diajak ngobrol, tapi ada sesuatu yang terasa salah—sulit bagi Sungchan untuk tidak menyadari. Eunseok juga sadar; Eunseok juga tidak bilang apa-apa, tapi Sungchan mengenal Eunseok sudah terlalu lama untuk tahu bahwa ia juga mulai terusik.
Sungchan tidak tahu bagaimana mulanya. Rasa-rasanya, semua berjalan seperti biasa saja, kecuali mereka disibukkan dengan persiapan tur hingga jarang punya waktu untuk satu sama lain—Eunseok lebih senang menghabiskan waktu di kamar, main gim sesempatnya, tidur sebisanya, pun Sungchan yang hilang kesadaran begitu kepala sudah menyentuh bantal. Sisanya, tidak ada yang berbeda, tidak ada yang istimewa—tidak kurang, tidak lebih.
Lantas, kenapa Wonbin seperti tidak ada? Memang benar-benar tidak ada ketika Sungchan keluar untuk mengambil pesanan makan malam. Biasanya, Wonbin suka santai-santai di sofa—entah kenapa tapi Wonbin lebih suka menghabiskan waktu berlama-lama di sofa, mau itu sambil nonton teve atau hanya duduk-duduk bermain ponsel. Sebelum Sungchan pindah kamar ke unit bawah, ia sering dengar Chanyoung mengeluh, minta Wonbin masuk ke kamar dan istirahat dengan benar daripada diam di sofa, kadang-kadang sampai ketiduran semalaman.
Sungchan tidak seperti Chanyoung. Sungchan tidak pernah minta Wonbin masuk ke kamar. Keberadaan Wonbin di sofa itu, sering kali ia dengar suara tawanya meski tak tahu apa yang ditertawakan, tahu kau ada di sana, membuat Sungchan tenang. Ketiadaannya membuat Sungchan makin gelisah; Eunseok adalah senyap, begitu juga dengannya, maka Wonbin adalah satu-satunya nyawa yang memberi hidup pada unit mereka—padaku dan Eunseok, kalau saja kau sadar.
“Dia di atas.” Suara Eunseok membuatnya menoleh; kekasihnya itu berjalan keluar kamar dengan ponsel di tangan, menghampiri dengan pandangan melekat di layarnya yang menyala. “Kak Taro bilang dia makan di atas.”
“Lagi?”
“Dia sekarang lebih sering di atas kalo kamu sadar.”
Ia bisa dengar gelisah di suara Eunseok, di hela napasnya.
Wonbin bahkan tidak berupaya untuk bilang kalau ia mau makan di atas—Wonbin biarkan Shotaro yang bilang kalau ia mau makan di atas. Malam itu bukan yang pertama; sudah berkali-kali, sudah sekitar dua minggu.
Sungchan menggumam, dadanya tersumpal perasaan tak nyaman.
“Gimana rasanya tinggal bareng Sungchan sama Eunseok?”
“Kayak … ini gue tinggal sendirian, ya?”
Tawanya renyah, seperti tidak ada apa-apa.
Sungchan menatap wajah Wonbin lekat-lekat, menatap senyum lebar yang terpampang di layar ponselnya lekat-lekat.
Oh.
“Gue kan selalu di sofa, duduk di sofa udah lama banget …. Nggak ada yang keluar.”
Oh.
Ia merutuk.
Jung Sungchan dan Song Eunseok, pacar paling tolol sedunia.
Wonbin datang paling terakhir ke dalam hubungan mereka. Eunseok jatuh cinta pada Wonbin di tahun kelimanya berpacaran dengan Sungchan. Entah bagaimana, Sungchan juga sama, mungkin malah lebih lama, mungkin lebih terlihat terang-terangan, lebih blak-blakan daripada yang kusadari. Butuh dua tahun menghindari Wonbin mati-matian untuk akhirnya sampai di satu titik di mana Eunseok menyerah, di mana aku menyerah, dan mereka menyepakati satu hal—mencintai Park Wonbin.
Wonbin mencintai Sungchan dan Eunseok adalah hal tak terduga. Wonbin setuju untuk berpacaran dengan mereka adalah hal tak terduga.
Bodohnya Sungchan mengira tidak akan ada yang berubah dengan Wonbin menjadi pacar keduanya. Bodohnya Sungchan menganggap Wonbin sama saja dengan Eunseok, yang tidak harus selalu sama-sama, tidak harus menghabiskan waktu banyak-banyak, cukup dengan tahu mereka ada untuk satu sama lain—toh, setiap hari bertemu, apa salahnya punya waktu luang untuk diri sendiri, di redup dan tenang kamar masing-masing tanpa harus merasa rindu, sendirian.
Harusnya ia sadar dari awal. Wonbin tidak akan mengeluhkan yang menurutnya tak penting dan cuma akan jadi beban. Harusnya ia bisa membaca dari bagaimana Wonbin memaksa mereka untuk makan malam bersama—meskipun sering dapat penolakan dan Wonbin jadi makan di unit atas bersama Sohee, Shotaro, dan Chanyoung. Makian untuk diri sendiri ia rapalkan dalam hati sepanjang live berlangsung, kakinya cepat-cepat membawanya ke depan kamar Wonbin sesaat setelah layar menggelap pertanda siaran telah disudahi.
Sungchan berhenti ketika mendapati Eunseok ada di sana lebih dulu, di depan pintu kamar Wonbin. Penyesalan tergurat di wajahnya sama persis dengan apa yang juga tergurat di wajah Sungchan. Eunseok tersenyum tipis melihatnya tergopoh-gopoh menghampiri, membiarkannya memencet bel.
Sepasang mata bundar menyapa tatkala pintu terbuka. Sepasang mata bundar berbintang, yang membuatku jatuh cinta, dulu, sekarang, nanti pun. Wonbin terlihat terkejut, tentu tidak mengantisipasi kunjungan dadakan kedua kekasihnya.
“Kak? Kenapa—”
Sungchan tak memberinya kesempatan untuk bertanya—tak perlu, Sungchan dan Eunseok akan menyajikan jawabannya tanpa Wonbin perlu repot bertanya. Wonbin memekik pelan ketika tubuh Sungchan yang tinggi menjulang menubruknya, kedua lengan berotot liat mendekap erat-erat. Eunseok menyusul setelah menutup pintu; berdua mereka menenggelamkan Wonbin dalam pelukan besar, membuat lelaki itu tertawa bingung.
“Kenapa, sih?” Iris cokelat gelap Wonbin menyimpan tanda tanya, senyumnya penuh heran, walaupun ia biarkan saja Eunseok menggiringnya ke tempat tidur, menurut saat diisyaratkan untuk duduk di pangkuan Eunseok sementara Eunseok membenamkan wajah ke ceruk lehernya.
“Maaf aku nggak peka, Eunseok nggak peka,” ujar Sungchan; ia berdiri di sisi mereka, tangan terulur membelai surai hitam Wonbin. “Maaf udah bikin kamu ngerasa kesepian, Bina.”
“Kita bobo bareng, ya,” Eunseok mengemu. “Hari ini, besok-besok juga.”
Wonbin mengerjap. “Ini gara-gara live tadi?” tanyanya meyakinkan, pandangan melayang pada Sungchan. “Gara-gara yang aku bilang?” Sepasang netra itu beralih pada Eunseok; ia menggeliat untuk melonggarkan pelukannya, kemudian menangkup pipi Eunseok. “Kak Eunseok. Iya, Kak?”
Eunseok mengecup telapak tangan Wonbin, cukup jelas untuk menjawab pertanyaan itu. Hati Sungchan menghangat saat melihat tatapan mata Wonbin melembut—hangat oleh hangatnya Wonbin, hangat oleh perasaan bersalah telah meninggalkan orang sehangat Wonbin mendingin sendirian.
“Aku, Eunseok,” Sungchan menghela napas berat, “terlalu biasa sama satu sama lain. Low maintenance. Kelewatan, kayaknya. Nggak pernah ada yang lain—aku tau ini bakal kedengeran kayak shitty excuse, tapi—”
“Aku ngerti.” Wonbin terkekeh ringan, seolah Sungchan dan Eunseok tengah meributkan hal yang sepele dan tidak perlu dipermasalahkan. “Aku tau kamu butuhnya apa, Kak Enseok butuhnya apa. Aku ngerti kalian butuh me time kalo nggak nanti pada gila. Kita kenal nggak cuma setaun dua taun, Kak.”
“Kamu ngerti bukan berarti itu nggak ngebebanin kamu, kan.”
“Ngebebanin apa? Aku bisa adjust. Kalo sepi, aku selalu bisa ke atas. Di atas udah kayak kebon binatang—”
“—Aku takut kamu naksir Kak Taro trus ninggalin kita.”
Mata bundar itu kembali mengerjap mendengar perkataan Eunseok (yang terasa masuk akal bagi Sungchan, di situasi mereka sekarang), bibir tebal merah muda membentuk seulas senyum sebelum kemudian merekah memuntahkan tawa. “Teori dari mana coba!” Ia memukul bahu Eunseok sebelum lantas bangun dari pangkuannya dan pindah untuk duduk bersandar di kepala tempat tidur. “Punya pacar dua aja udah banyak; aku nggak punya space lagi buat orang lain.”
Eunseok menyusul, rebah di sisi Wonbin, wajah bersembunyi di perutnya sementara ia memeluk pinggang ramping itu. Sungchan juga ikut, meskipun ia hanya duduk saja, membiarkan Wonbin melabuhkan kepala di bahunya.
“Kamu bilang kalo kamu kesepian, ya,” ucap Sungchan; ia meraih sebelah tangan Wonbin yang tidak sibuk bermain-main dengan rambut Eunseok yang baru saja berganti warna. “Aku nggak mau kamu ngerasa sendirian sementara aku asik sendiri, nggak tau apa-apa.”
“Maaf aku bikin kalian ngerasa gitu.”
Sungchan menggeleng. “Bukan salah kamu.”
“Aku bakal beliin kamu mandu tiap malem.” Eunseok mengangkat kepalanya; dua bola matanya yang besar—Sungchan bilang membuatnya jadi terlihat seperti setengah bengong, setengah melotot—menyorot penuh penyesalan. “Kamu boleh nonton aku main juga.”
Wonbin menaikkan satu alisnya. “Aku cuma butuh mandi duluan tanpa kamu matiin lampu kamar mandi,” katanya dengan nada usil, “dan kamu refill sabun.”
Eunseok mengerang, setengah tak rela tapi tahu tak punya pilihan lain. “Apa aja asal kamu jangan naksir Kak Taro.”
“Kamu dapet ide kayak gitu dari mana, sih!”
Gelak Wonbin kembali terdengar. Sungchan diam saja, tapi tersenyum melihat apa yang ada di depan matanya—apa yang ia miliki.
Wonbin terbahak makin keras kala Sungchan menghujani wajah cantiknya dengan kecupan.
