Actions

Work Header

Silly Bunny, Dumb Fox

Summary:

Pagi yang seharusnya tenang berubah jadi arena kecil penuh gangguan dan godaan. Taekjoo hanya ingin memotong wortel, tapi Zhenya punya misi lain: memastikan tak ada yang lebih tajam dari mulutnya, kecuali cintanya yang menyebalkan.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Pagi itu seharusnya berjalan damai.

Matahari menyusup lembut melalui tirai putih tipis di dapur kecil mereka, memantul di permukaan meja kayu yang dipenuhi sayuran segar dan sisa bubuk kopi. Aroma roti panggang yang tertinggal dari sarapan mengendap di udara, hangat dan menenangkan. Taekjoo berdiri di depan wastafel, telinga kelincinya yang panjang menjuntai sesekali berkedut mengikuti suara burung dari luar jendela. Ia mengenakan kaus putih dan celana olahraga abu tua, tangannya sibuk mengupas wortel dengan irama tenang yang hampir menyerupai meditasi.

Ya, hampir.

Sebuah suara—keras dan tiba-tiba—meledak dari arah ruang tengah. Benturan logam menghantam lantai dengan denting tinggi, nyaring, dan jelas disengaja.

Taekjoo membeku sejenak. Pisau kecil di tangannya berhenti. Telinganya menegak, ekor lebatnya menegang dan berkedut cepat. Ia memejamkan mata, menarik napas panjang dan dalam seolah sedang menghitung amarahnya dalam angka ganjil.

Tentu saja.

“Zhenya...” panggilnya datar, tanpa menoleh.

Dari balik ambang pintu, muncullah kepala Zhenya. Rambut pirangnya berantakan—tidak seperti biasanya—dan ekor rubahnya melambai-lambai seperti bendera kecil yang tak tahu malu. Ia mengenakan hoodie hijau tua dan celana olahraga putih, seperti seseorang yang baru bangun dari tidur siang, bukan seseorang yang baru saja mengacaukan pagi seseorang.

“Oh?” katanya ringan, seperti seorang anak sekolah yang tertangkap mengintip jawaban ujian. “Aku pikir kau butuh... semangat pagi.”

Taekjoo menatapnya lama, lalu perlahan memutar tubuh. “Apa kau barusan menjatuhkan loyang yang biasa kupakai memanggang roti ke lantai?”

Zhenya memasang wajah polos. “Bukan sengaja. Aku hanya... mengamati bagaimana gravitasi bekerja.”

Taekjoo menyipitkan mata. “Kalau begitu, semoga kau tidak keberatan kalau aku mengamati gesekan antara wajahmu dan lantai.”

Zhenya menyeringai. Ia melangkah maju, ringan dan malas, seperti makhluk yang tahu dirinya tak akan benar-benar dihukum. Ia berjalan solah dunia berputar atas kehendaknya. Dan mungkin, di dalam rumah kecil itu, dunia benar-benar berputar atas kehendaknya.

“Aku bersumpah, suatu hari aku akan—”

“Meninggalkanku karena aku terlalu memesona?” Zhenya memotong cepat, mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Taekjoo. “Kau sudah tahu jawabannya.”

Ia menyenderkan tubuhnya ke pantry, tangannya menyusuri tepian kayu seperti anak kecil yang mencari mainan, lalu menyentuh ringan punggung Taekjoo dengan ujung jarinya. “Kau itu terlalu manis untuk pagi sehening ini. Aku hanya ingin mengganggumu sedikit.”

“Zhenya,” keluh Taekjoo, tapi nadanya sudah tidak sekeras tadi. “Aku sedang memotong wortel. Kau hampir membuatku terluka.”

“Tapi kau tidak, kan? Karena reflekmu sempurna. Karena kau kelinci kecil yang lincah.”

Ia kemudian melingkarkan lengannya dari belakang, memeluk tubuh Taekjoo yang lebih pendek dengan gerakan lambat dan menggoda. Taekjoo menggeliat sedikit, namun tidak menyingkir. Telinganya bergerak pelan saat pipi Zhenya menyentuh rambut coklat gelapnya.

“Jangan pikir kau bisa menyentuhku dan semuanya selesai,” gumamnya.

Zhenya menunduk sedikit, bibirnya nyaris menyentuh pangkal telinga Taekjoo saat ia berkata dengan suara serak yang terlalu akrab, “Silly bunny.”

Taekjoo langsung membalas, “Dumb fox.”

Zhenya tertawa kecil, geli. “You know you love me, right?”

Taekjoo tidak menjawab langsung. Ia meletakkan pisau di samping talenan, lalu tersenyum perlahan. Kepalanya menoleh untuk menatap Zhenya, dan di balik tatapannya ada cemas yang samar, tapi lebih banyak kelelahan yang dicintai dalam diam.

“Do I know that?” katanya lembut. Sebuah jeda.

“Yes,” lanjutnya. “Yes, I do.”

Keheningan menggantung sejenak di antara mereka. Bukan sunyi yang canggung, melainkan seperti selimut tipis di pagi musim semi—lembut dan menenangkan. Taekjoo kembali mengupas wortelnya. Zhenya masih memeluknya longgar dari belakang, kali ini dengan dagu yang bertumpu di kepala Taekjoo.

“Aku masih marah, tahu,” ucap Taekjoo akhirnya, nyaris berbisik.

“Aku tahu,” balas Zhenya, mencium pelipis Taekjoo sesaat.

“Tapi kalau kau masak malam ini... mungkin aku akan melupakan segalanya.”

Zhenya menatapnya dalam, senyum kecil mengembang di sudut bibirnya. Ia tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia mengeratkan pelukannya, dada hangatnya menempel di punggung kelinci itu.

“Kalau begitu, mungkin aku harus memasak sesuatu yang.. tidak bisa kau tolak,” bisiknya.

Tangan Zhenya mengambil wortel dari tumpukan di sebelah wastafel. Ia menatapnya sejenak, lalu mengangkatnya di antara dua jari seperti sedang mengukur sesuatu yang lebih dari sekadar sayuran. “Atau, kita bisa mulai lebih awal, di dapur ini, misalnya.”

Taekjoo mendesah pelan. Telinganya berdiri setengah, bergetar samar. “Zhenya, ini masih pagi.”

“Dan pagi adalah waktu terbaik untuk membakar energi,” sahut Zhenya, kini menggigit ujung wortel tanpa sungguh-sungguh. “Kau tahu, supaya nanti malam kita masih bisa makan dengan tenang.”

Taekjoo akhirnya menoleh lagi, alisnya terangkat. “Kau berniat menggoda atau mengusir nafsu makan?”

Zhenya mengangkat bahu, lalu menyenggol hidung Taekjoo dengan miliknya. “Aku hanya membuatmu mempertimbangkan semua pilihan. Seperti rubah yang baik.”

“Rubah yang menyebalkan,” gumam Taekjoo, tapi pipinya mulai memerah.

“Tapi rubahmu,” Zhenya membalas cepat, lalu mengecup ujung telinga Taekjoo sebelum menarik diri sepenuhnya.

Ia mengambil celemek, namun tidak langsung memakainya—hanya menggantungnya di bahu, masih dengan mata yang belum lepas dari sosok kelinci kecilnya.

“Makan malam tetap akan kupersiapkan. Tapi,” katanya sambil berbalik menuju kulkas. Pria Rusia itu membuka lemari pendingin, dan kembali berkata dengan santai, “kalau kau terus melihatku seperti itu, aku mungkin akan memanggangmu, bukan ayamnya.”

Taekjoo langsung memutar badan kembali ke wortel. “Diam dan lakukan tugasmu.”

“Baiklah, sayang.”

Notes:

Akh, seharusnya aku memposting ini semalam, tapi aku terlalu sibuk, apa boleh buat.

SELAMAT DATANG, SS2 MANHWA CODEANA! Semoga kita kuat karena kita tahu apa yang akan terjadi (sobs) dan ASTAGA, art-stylenya yang baru bagus sekaliii, Zhenyaa 🤏🏻 dan Jujuuu 🤌🏻