Work Text:
Sejak masa kekuasaan Voldemort hancur, dunia sihir perlahan-lahan mulai kembali bangkit dari keterpurukan dan menunjukkan perubahan yang cukup signifikan—dalam arti baik. Banyak revolusi terjadi, entah di dalam komunitas penyihir, Kementerian, bahkan Hogwarts. Termasuk hubungan antara Harry Potter dan Draco Malfoy.
Dengan selesainya perang, permusuhan yang berlangsung lama tersebut juga ikut berakhir. Tidak ada lagi Draco yang angkuh dan sombong atau Harry dengan rasa berang yang mengakar kuat pada sosok lelaki Slytherin tersebut.
Draco menjadi lebih tenang dan dewasa, meskipun seringai menyebalkan miliknya masih setia bertengger ketika sibuk menjahili Harry. Sementara itu, Harry, dengan temperamen khas Gryffindor-nya, masih mudah tersulut emosi saat Draco mulai mengganggunya, meskipun tak ada lagi jejak kebencian di sana.
Harry dan Draco adalah teman baik. Untuk saat ini.
Meskipun teman-teman seangkatannya seringkali skeptis terhadap sikap yang ditunjukkan oleh Harry dan Draco. Terlalu berlebihan untuk disebut sebagai teman, tetapi juga tidak layak dipanggil sepasang kekasih.
Akhir-akhir ini, Draco gemar menempel pada Harry, bahkan terang-terangan mempertontonkan afeksi di ruang publik dan Harry yang tampak tidak terganggu sama sekali oleh tindakan Draco. Hal tersebut tentu mengundang banyak pertanyaan di masing-masing benak teman-temannya: jadi, sebenarnya mereka itu apa? Namun, berkaca pada ucapan Hermione di suatu hari, “mereka itu bodoh dan tidak peka,” sejak saat itu, tidak ada lagi yang bertanya mengenai hubungan pasti antara keduanya.
Dengan kedekatan tidak wajar tersebut, maka bukan suatu pemandangan yang mengherankan bila menyaksikan Harry berbaring terlentang dengan santai di salah satu sofa beludru mahal milik Keluarga Malfoy, kedua tangannya terangkat ke atas membuka lembaran novel, dan sepasang mata hijau zamrudnya bergerak-gerak mengamati tulisan di dalamnya.
Di seberang Harry, terpisah oleh meja kayu berpoles mewah, Draco duduk di sofa untuk satu orang. Posisi kakinya disilangkan, salah satu kakinya bertumpu pada kaki lain—postur yang tampak arogan, namun sialnya tetap memancarkan aura aristokrat—sedang membaca beberapa lembar perkamen berhiaskan diagram dan angka; sepertinya pekerjaan dari Kementerian.
Sungguh suatu Minggu pagi yang damai di Malfoy Manor.
Kesunyian masih menyelimuti keduanya, hingga akhirnya Harry memutuskan untuk sedikit menurunkan jarak pandang novelnya dan berbicara tanpa mengalihkan perhatian dari deretan huruf dari lembaran halaman, “Malfoy, apa kau pernah berciuman?”
Pertanyaan yang diajukan Harry mendadak membuat Draco tersedak ludahnya sendiri.
“Ada apa dengan pertanyaanmu?” Draco balik bertanya dengan nada defensif.
“Tidak ada,” balas Harry tenang, sepenuhnya tak menyadari dan abai pada Draco yang kini telinganya memerah. “Di novel yang kubaca, ada adegan tokoh utama wanita berciuman dengan tokoh utama lelaki. Aku hanya penasaran.”
Salah satu alis Draco terangkat. “Maksudmu?”
Mendengar Draco yang tidak segera menangkap maksud pembicaraannya, Harry hanya menghela napas panjang. Harry bangkit dari posisinya yang semula berbaring terlentang, kini duduk dengan punggung bersandar pada sofa. Novel yang dibacanya masih berada dalam genggaman. “Maksudku, Malfoy,” suara Harry kental akan nada sarkasme. “Aku penasaran dengan rasanya berciuman.”
“Kau ingin aku menciummu?”
Terdapat jeda hening beberapa detik sebelum Harry mencerna ucapan Draco. “Apa!?” Reaksi pertama Harry adalah kedua mata membulat lebar dengan ekspresi bodoh tercetak jelas di wajah. Tidak lupa semburat merah yang muncul, menghiasi dari telinga, pipi, sampai ke leher. Harry serupa kepiting rebus sekarang. “Aku tidak pernah meminta begitu, Malfoy idiot!”
“Tapi, jika aku benar-benar menciummu, apa kau akan menolak?”
“Tentu tidak!”
Draco menyeringai. “Tuh, kau sendiri mengerti jawabannya."
Harry mengerang frustasi. Masih dengan wajahnya yang merah padam. “Ferret sialan!”
