Actions

Work Header

once upon a time, at the kitchen

Summary:

Minato, Shuu, dan percakapan ringan di dapur.

Notes:

Tsurune © Kotoko Ayano

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Sesungguhnya, pemandangan Narumiya Minato yang mengenakan celemek polos berwarna biru, dengan spatula di tangan kanan yang secara cekatan membolak-balik masakan, dan sebelah tangan kirinya menggenggam gagang teflon, bukanlah sesuatu yang baru, apalagi asing. Bagi Minato sendiri, kegiatan domestik—seperti memasak yang dilakukannya saat ini—merupakan rutinitas sehari-hari, selama bertahun-tahun, sejak ibunya tiada. Sang ayah terlalu sibuk bekerja mencari pundi-pundi dolar hingga ke luar kota, maka dari itu sebagai anak yang berbakti pada orang tua, Minato menggantikan sang ibu mengerjakan segala pekerjaan rumah.

Sayangnya, bagi Fujiwara Shuu—yang merupakan seorang tuan muda dari keluarga terpandang Fujiwara—pemandangan yang dilihatnya sekarang sangatlah ganjil, tetapi anehnya, memberi sensasi menyenangkan. Dengan dagu yang ditopang oleh telapak tangan, menyaksikan Minato memasak dari pantry ternyata mempercepat produksi hormon-hormon dopamin di otaknya; rasa menyegarkan mengguyur seluruh indera Shuu, sampai-sampai ia sendiri tidak menyadari lengkungan tersungging di bibirnya sejak beberapa menit lalu.

"Minato," sahut Shuu lembut. Mendadak terlintas sesuatu di benaknya yang ingin ditanyakan pada si empunya iris sewarna emerald. "Kau tidak melihat resep yang kuberikan padamu?"

Minato menjawab dengan gelengan, tanpa mengalihkan pandang dari masakan di depannya. "Aku paham dengan kemampuanku," lanjut Minato. Terdengar sangat antusias dan percaya diri. Seperti Minato saat di lapangan menembak.

Kekehan kecil meluncur ke luar dari si tuan muda. Alunannya sungguh indah dan merdu dirungu, bagi Minato. Dengan posisi masih membelakangi Shuu, lamat-lamat bibirnya membentuk senyuman tipis.

"Aku tahu kemampuan Minato luar biasa—tidak, selalu luar biasa. Aku tidak salah memilih istri."

"Tolong hentikan. Kau membuatku malu, Shuu."

Ketika suara pemantik berbunyi ceklek tanda api pada tungku dipadamkan, di saat yang bersamaan wanginya rempah-rempah dari kare buatan Minato memenuhi ruang makan; secara tidak sengaja membangkitkan gemuruh dari perut Shuu. Keheningan sepersekian detik tercipta. Si pelaku hanya mampu terdiam dengan wajah merah padam, sementara pria yang sedang menata masakan terkikik geli.

Menyodorkan piring dengan nasi dan lauk lengkap pada Shuu, Minato berujar jahil, "makanannya sudah siap, Tuan Muda."

"Tolong hentikan," balas Shuu lirih, menahan malu. Warna merah masih menghiasi wajah tampannya. "Kau membuatku malu, Minato."

"Iya, iya. Aku sayang padamu."

"A—aku juga."

Notes:

tulisan lama yang kupindah ke sini. jadi kangen tsurune :( anyway, semoga suka dengan short fiction-nya <3