Actions

Work Header

like arrows, we always return to each other

Summary:

Narumiya Minato dan Fujiwara Shuu. Suatu hari, di aula dojo kyuudo.

Notes:

Tsurune © Kotoko Ayano. Fiksi pendek ini ditulis murni untuk hiburan semata.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Minato menatap penuh minat dengan kedua iris zamrud miliknya pada sosok yang tengah berdiri di aula dojo, sosok bernama Fujiwara Shu yang sedang menarik tali busur dan memusatkan fokus pada target di depannya.

Tali busur dilepas, gema tsurune dirungu oleh telinga Minato yang terperangah (entah untuk ke berapa kali), dan panah menancap tepat di tengah target. Hal seperti ini bukanlah sesuatu yang baru bagi Minato—melihat kemampuan Shu menembak—tetapi, tetap saja, mau berapa kali pun Minato menyaksikan, dia akan selalu terpukau bagaimana postur tubuh Shu ketika menarik tali busur dan melepaskan anak panahnya dengan begitu elegan. Meski mereka pernah berada dibawah bimbingan guru yang sama, tetapi masih terdapat perbedaan mencolok antara dirinya dan Shu.

Shu menarik sudut bibir tatkala tahu bahwa tembakannya tidak meleset dan itu adalah anak panah terakhir yang dia tembakkan. Shu beringsut mundur sesuai dengan protokol yang digunakan ketika melakukan kyuudo, kemudian menghampiri Minato yang duduk di sudut lain aula. Sedikit meringis geli ketika mendapati Minato menatapnya dengan binar-binar antusias, bahkan Shu sedikit berkhayal melihat kilauan imajiner di sekitar kepalanya.

"Ada apa, Minato?"

Minato sedikit menggeleng. "Tidak. Hanya terlalu terpukau saat melihatmu menembak." Intonasi suaranya sedikit meninggi karena rasa kagum. "Kau selalu punya postur tubuh yang elegan, Shu."

Terkekeh geli mendengar jawaban Minato yang menurutnya kekanakan, Shu membalas, "tetapi, aku lebih suka milikmu. Tidak ada alasan khusus, hanya kelewat indah. Menurutku."

"Kau adalah orang ketiga yang mengatakan itu."

"Benarkah? Siapa yang pertama dan kedua?"

"Seiya yang pertama dan Masa-san yang kedua."

Shu kembali menarik senyuman, yang entah kenapa selalu berhasil membuat jantung Minato bertalu-talu abnormal. "Ternyata selain Seiya, sainganku adalah pelatihmu sendiri, huh?"

"Berhentilah menyebut kalian saingan, Shu," Minato sedikit mengerucutkan bibir. Topik mengenai persaingan antara Shu dengan Seiya dan Masaki (yang mencetuskan adalah Shu sendiri) tidak pernah menjadi topik yang disukai Minato. Padahal Shu sudah resmi menjadi kekasihnya sejak tahun kedua kuliah, tetapi sifat mudah cemburunya itu masih sulit dihilangkan. Minato mendesah lelah. "Kau adalah kekasihku. Bukankah wajar bila aku memintamu berhubungan baik dengan sahabat dan pelatihku?"

Dan inilah yang terkadang membuat Shu sedikit jengkel, Minato dan empatinya yang diatas rata-rata.

Dia mengerti bahwa Minato memang murni baik hati dan ramah, tetapi siapa yang tidak kesal ketika kekasihnya didekati secara terang-terangan? Shu kesal, tentu. Melihat bagaimana Seiya sangat gamblang menunjukkan keprotektifan berlebih dan Masaki dengan afeksi kelewat batasnya, tidak sekali atau dua kali membuat Shu terbakar cemburu. Ditambah dengan Minato yang mungkin terlalu polos untuk menyadari tindakan aneh dari dua orang terdekatnya. Oh, Tuhan, seandainya Shu tidak ingat bila punya imej yang harus dijaga, bisa saja dia segera menyeret Minato dan menjauhkannya—sejauh-jauhnya—dari Seiya dan Masaki.

Apakah dua orang tersebut tidak tahu kalau Minato sudah ada hak milik?

Ah, keposesifan Shu sudah di titik puncak rupanya.

"Wajar saja, tetapi tetap aku tidak berminat untuk berbagi. Bahkan dengan Seiya."

Tawa Minato meledak setelah itu. Sungguh langka melihat Shu setengah merajuk seperti ini dan Minato tidak akan melewatkan kesempatan emas untuk menggodanya.

"Begitu? Padahal Seiya adalah sahabatku sejak kecil dan kami bertetangga. Aku hanya tidak ingin merusak persahabatan kita."

"Aku tahu."

"Dan Masa-san, aku berhutang banyak padanya, Shu. Beliau berperan besar menyembuhkanku dari hayake."

"Aku tahu."

Minato terkekeh geli mendengar Shu membalas semua ucapannya tanpa minat. Mungkin dia harus berhenti menggoda atau sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi. Memancing amarah Shu, misalnya.

"Tetapi, kau lebih dari tahu," sebuah senyuman terukir di bibir Minato. "Kalau aku memprioritaskanmu di atas segalanya, setelah kyuudo dan ayahku, tentu."

Shu dalam hati mengutuk dirinya yang selalu lemah terhadap senyuman Minato. Tidak terhitung banyaknya dia menyaksikan Minato tersenyum, walau hanya lengkungan tipis yang samar, Shu akan selalu berakhir jatuh cinta lagi dan lagi untuk ke sekian kali. Dan bila orang berkata bahwa senyum itu menular, ya, Shu sangat membenarkan ucapan tersebut. Sebab, setiap Minato tersenyum padanya, Shu tanpa pikir panjang akan menarik sebuah lengkungan di bibirnya. Terinfeksi.

"Aku mengerti. Aku mencintaimu, sayang."

Blush!

Minato terduduk kaku, wajahnya memerah hebat hingga ke leher dan telinga. Sepasang iris zamrudnya bergerak tidak menentu arah, memandang apapun selain pada Shu. Shu hanya tertawa pelan. Meski telah dua tahun menjalin hubungan, tetapi Minato masih belum terbiasa ketika Shu memanggilnya dengan panggilan intim dan hal tersebut selalu berhasil membuatnya gemas.

"B-berhentilah memanggilku b-begitu, Shu."

"Padahal sudah dua tahun dan kau masih belum terbiasa."

Menyembunyikan wajah dibalik punggung tangan karena malu, Minato sedikit meninggikan ucapannya, "t-tentu saja aku belum terbiasa." Kemudian intonasinya berubah menjadi mencicit. "Karena kau akan terlihat dua kali lebih tampan ketika memanggilku begitu."

"Terima kasih."

"Uhhh ... kau menyebalkan, Shu."

Notes:

shuumina yang kedua kalinya, haha. ini tulisan lama, pas awal-awal abis nonton tsurune season pertama. buat yang suka pair shuumina, tulisan ini untuk kalian <3