Actions

Work Header

Incomplete Ruler

Summary:

❗Sedikit crossover dengan IDOLiSH7❗

Cerita ini terinspirasi dari lagu duet Nanase Riku & Kujo Tenn, yaitu Incomplete Ruler

────«┅───°•✮•°───┅»────

Ai dan Aine memiliki hubungan seperti anak kembar. Namun, mereka egois di masa lalu, membuat hubungan mereka menjadi tidak baik-baik saja, hingga akhirnya suatu insiden terjadi pada Aine.

Beberapa tahun setelah kejadian itu, akhirnya semua terbongkar. Ai yang tak pernah tahu lagi tentang Aine, akhirnya melihat sebuah kenyataan pahit. Ia menemukan Aine yang terbaring lemah di sebuah kamar yang selama ini tak pernah ia kunjungi. Ai menemukannya seperti mendapatkan telepati, entah bagaimana caranya.

────«┅───°•✮•°───┅»────

𝑼𝒕𝒂 𝒏𝒐 𝑷𝒓𝒊𝒏𝒄𝒆-𝒔𝒂𝒎𝒂 𝑭𝒂𝒏𝒇𝒊𝒄𝒕𝒊𝒐𝒏

Story; ©Airuka13
Character belong to ©Saotomr Gakuen
Start: 22 Juni 2025
End: 29 Juni 2025
Publish: 26 Juli 2025

Chapter 1: Chapter 1

Chapter Text

Hari ini, Ai mengunjungi profesor yang membuatnya untuk melakukan pemeriksaan bulanan dan melakukan pembaruan sistem untuknya. Seperti biasa, Ai hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan dari profesor itu seadanya.

Setengah jam berlalu, Ai turun dari meja operasi setelah semua kabel dicabut dari punggungnya.

"Terima kasih, profesor." Ai pun beranjak setelah profesor itu mengangguk sambil merapikan peralatannya. Tadinya, ia ingin langsung pergi saja. Tetapi, ia berpikir untuk menjelajahi rumah itu sejenak. Sebab, hari ini Ai sedang tidak ada jadwal apa-apa selain berkunjung ke rumah profesor untuk keperluan pemeriksaan bulanan.

Ai berkeliling, melihat-lihat seisi rumah. Lalu atensinya teralihkan pada sebuah pintu, sepertinya itu pintu kamar. Karena penasaran, Ai memutuskan untuk masuk. Sebelumnya, ia sempat ragu-ragu karena yakin kalau pintunya terkunci. Namun, saat ia menyentuh kenop pintunya, rupanya tidak terkunci sama sekali. Lalu ia pun segera masuk.

Saat mulai memasuki ruangan, mata Ai melihat ke sekeliling, rupanya ini adalah sebuah kamar. Tadinya, Ai pikir itu adalah kamar yang masih kosong, sampai ia melihat seseorang terbaring di tempat tidur, orang itu dikelilingi oleh perlengkapan medis dan di infus.

Ai berjalan mendekat secara spontan, lalu ia terbelalak kaget saat melihat wajah orang itu, dia begitu mirip dengannya, tetapi tanpa kuncir rambut. Mata orang itu terpejam, lalu Ai melihat ke monitor pendeteksi detak jantung, kemudian ia melakukan scanner pada tubuh orang itu.

Dari hasil scan, Ai menyimpulkan bahwa orang yang terbaring lemah itu sedang dalam kondisi koma. Ai bingung, tetapi kemudian ia mengingat sesuatu. Kemudian ia terkejut bukan main.

"Aine? Di-dia Kisaragi Aine...?" tanya Ai pada dirinya sendiri. Ia terbata-bata, tak menyangka jika sang profesor menyembunyikan fakta bahwa Aine ada di sini, dalam keadaan koma. Lalu tiba-tiba profesor memasuki kamar itu sambil membawa tabung infus baru untuk menggantikan tabung infus yang isinya sudah hampir habis. Ia terkejut, kala mendapati Ai diam mematung di samping tempat tidur Aine.

"Ai, bagaimana kau menemukan tempat ini?" tanya profesor. Setelah terdiam selama beberapa saat, Ai pun menoleh ke arahnya, dan menjawab, "tadinya, aku hanya ingin berkeliling rumah karena bosan. Tapi kemudian, aku menemukan pintu masuk kamar ini. Awalnya, aku pikir dikunci, tapi ternyata tidak. Dan saat aku masuk... Aku tidak menyangka kau menyembunyikan ini..., kau menyembunyikan Aine...,"

Sang profesor seakan tertohok oleh ucapan Ai. Memang benar, ia menyembunyikan Aine di sini, fakta bahwa dia selamat dari kematian saat insiden bunuh diri beberapa tahun silam, juga fakta tentang hubungan antara dirinya sendiri dengan Aine. Ai tidak mengerti, tetap ia merasa seperti.... Marah?

Ai merasakan emosinya memuncak, seakan ia merasa dipermainkan seperti alat yang seharusnya, namun entah kenapa, saat Ai merasakan itu, Aine menunjukkan reaksi.

Tangannya bergerak, perlahan-lahan melingkari pergelangan tangan Ai, seolah mencoba untuk menahannya agar tidak meledak, atau lebih tepatnya, mencoba menenangkannya agar tidak overheat.

Kemudian, Ai menoleh ke arah Aine. Ia tidak mengerti, tetapi, rasanya sangat.... Nyaman?

Ya, Ai merasakan sensasi seperti kehangatan dan kasih sayang hanya dengan membiarkan tangan Aine melingkari pergelangan tangannya. Kemudian, profesor angkat bicara.

"Ya, benar. Aku berbohong pada publik, aku juga selalu menutupi segalanya dari kalian, bahkan tidak membiarkan kalian bermain bersama atau sekedar mengobrol, meski hanya sekali. Aku benar-benar minta maaf, Ai. Padahal, dulu Aine selalu merengek dan memaksa, tapi aku tak pernah memberikan izin padanya,"

Ai hanya diam, ia masih marah, tetapi setidaknya, dengan menatap Aine, kemarahannya memudar, digantikan dengan rasa khawatir yang menjalar.

"Berikan aku waktu, profesor.... Kali ini, biarkan aku bersama Aine...,"

Mendengar nada bicara Ai yang masih setengah marah dan setengah khawatir, sang Profesor hanya dapat mengiyakan, lalu ia pergi setelah mengganti tabung infus milik Aine.

Ai mengambil kursi untuk duduk di samping tempat tidur Aine, ia menatap wajahnya yang pucat itu lekat-lekat. Kemudian, ia membuka memori lama di otaknya, kala proses update besar-besaran untuk sistemnya, dan saat ia masih belajar untuk menjadi seorang Idol secara otodidak.

Ai ingat, dulu, saat ia bosan atau lelah belajar, ia akan menatap ke jendela kamar dan melihat sosok Aine yang baru akan pergi sekolah, pulang sekolah, atau saat Aine sedang dapat liburan selama di Akademi Saotome. Ia juga ingat, di sela-sela belajarnya, Ai kadang mendengar rengekan atau omelan dari Aine yang selalu meminta izin untuk bermain dengannya. Tetapi, sampai sekarang ia masih tidak mengerti sama sekali.

"Aine, kenapa kau sangat ingin main denganku dulu? Padahal, kau pasti tahu aku ini apa..." Tangan Ai terulur untuk menyentuh rambutnya secara spontan, ia bisa merasakan hal aneh, seolah-olah mereka berdua punya ikatan khusus. Padahal, mereka tidak pernah berinteraksi sama sekali, hingga hari ini tiba.

Aine bereaksi, ia menggerakkan tangannya, seolah bergerak untuk menyentuh kepala Ai, awalnya, Ai bingung, tetapi, pada akhirnya ia menunduk sedikit, mendekatkan tangan Aine ke kepalanya. Benar saja, Aine benar-benar membelai rambut Ai, seperti seorang kakak yang mencoba menghibur adiknya yang sedang sedih.

Ai yang sudah mengerti beberapa emosi manusia pun secara spontan tersenyum, lalu berkata, "meski dalam keadaan seperti ini, kau bahkan masih mencoba menghiburku...,"

Bibir Aine bergerak, membentuk senyuman tipis, namun terasa hangat. Ai merasa aneh, tetapi ia merasakan ketenangan saat tangan Aine mendarat di kepalanya dan membelai rambutnya dengan lembut. Ai ingat, ia pernah mempelajari tentang hubungan keluarga tak sedarah. Jadi, setidaknya ia mengerti perlakuan Aine padanya sekarang. Meskipun, mereka hampir tidak pernah bisa bertatap muka secara langsung selama bertahun-tahun.

"Sejujurnya, aku juga ingin sekali bermain denganmu, mengobrol denganmu secara langsung. Tapi, aku terlalu egois saat itu, aku terlalu fokus pada tujuanku untuk menjadi Idol yang sempurna, maafkan aku, Aine,"

Ai tertunduk setelah mengembalikan tangan Aine ke posisi semula, ia merasa bersalah dan menyesal karena tidak berjuang untuk bisa bermain dengan Aine dulu, ia malah terlalu egois. Kemudian ia ingat, kalau Profesor pernah bilang padanya tentang otaknya yang dihubungkan dengan ingatan dan kesadaran seseorang. Namun, profesor tidak menyebutkan siapa orang tersebut, hingga hari ini, ia akhirnya tahu siapa orangnya. Meskipun, profesor tidak mengatakannya tadi, tetapi, Ai sudah tahu jawabannya saat ia menemukan Aine. Sebab, Ai benar-benar merasa seperti terikat dengannya.

Akhirnya, Ai tetap di sana selama berjam-jam, ia tidak mau keluar dari kamar Aine, sampai-sampai profesor harus mengantarkan makanan untuknya saat jam makan siang.

"Ai, makanlah. Kalau kau mau, kau bisa menginap di sini," kata profesor, seraya menyerahkan nampan berisi makanan dan segelas air pada Ai.

Ai menerima nampan itu dan berterima kasih, lalu meletakkan nampan itu di nakas. "Profesor, di sini ada futon?" tanya Ai kemudian.

Profesor yang mengerti maksud Ai langsung mengambil futon yang ia simpan di gudang dan membawanya ke kamar Aine. Ai menunggu dengan sedikit kesal sambil makan, mengingat, ia masih marah dan kesal karena banyak sekali rahasia yang tidak ia ketahui selama ini, terutama tentang Aine.

Tak butuh waktu lama, profesor kembali dengan membawakan futon yang tadi ditanyakan Ai. "Nah, ini dia yang kau minta. Kau boleh menginap sampai kau merasa puas, anggap saja ini sebagian kecil permintaan maaf dariku karena menyembunyikan Aine darimu."

Ai yang baru saja selesai makan langsung menatap tajam ke arah sang profesor. "Jika kau sudah siap, tolong jelaskan segalanya pada kami. Dan aku akan tinggal di sini selama seminggu ke depan, mumpung libur. Tapi, aku akan ke apartemen dulu untuk mengambil barang-barangku."

Profesor mengangguk, lalu ia keluar sambil membawa nampan berisi peralatan makan kotor yang tadi digunakan oleh Ai. Sementara Ai kembali memfokuskan perhatiannya pada Aine. "Hei, Aine. Aku akan menginap di sini selama seminggu ke depan. Setidaknya, aku ingin meluangkan waktu menjagamu. Tapi, sekarang aku harus ke apartemen dulu untuk mengambil barangku, ya? Jangan khawatir, aku akan segera kembali, oke?"

Aine memberikan reaksi, senyuman penuh kasih terukir dari bibirnya, meskipun matanya masih terpejam. Ai mengangguk dan membelai rambut Aine dengan lembut, seolah ia adalah bunga yang mudah rapuh. "Aku akan segera kembali."

Kemudian, Ai pun keluar dari kamar Aine sambil memesan taxi online. Lalu ia berpamitan pada profesor dan berjalan ke depan rumah.

Sekitar setengah jam perjalanan, Ai pun sampai di apartemen Quartet Night. Beruntung, saat itu tidak ada orang di sana, karena saat itu yang lain sedang ada jadwal perorangan. Reiji yang sibuk membantu latihan Tokiya dan Otoya, Camus yang sedang ada pemotretan, dan Ranmaru yang tampil solo di sebuah acara musik. Ai langsung mengambil koper dan memasukkan barang-barang yang perlu ia bawa. Setelah selesai packing, Ai mengirim pesan melalui grup untuk mengabari kalau ia akan menginap di rumah profesor selama seminggu kedepan, berhubung selama itu mereka hanya mendapat jadwal perorangan dan jadwal Ai yang paling sedikit. Jadi, setidaknya ia bisa leluasa mengurus Aine.

Setelah semuanya beres, Ai kembali memesan taxi online dan pergi ke rumah profesor. Ia merasakan sensasi aneh, rasanya ia tidak sabar untuk melihat Aine lagi. Yah, tadi Reiji sempat bertanya alasan mengapa Ai tiba-tiba ingin menginap, tetapi setidaknya Ai bisa beralasan kalau ia khawatir dengan kondisi profesor. Padahal, kenyataannya ia lebih khawatir pada Aine.

Kali ini, perjalanan lebih cepat karena Ai meminta agar pak supir melewati jalur lain yang lebih dekat, ia benar-benar tidak sabar untuk segera kembali ke sisi Aine. Kadang, Ai berandai-andai, kalau saja mobil Reiji tidak dipakai, pasti ia sudah meminjam mobil Reiji sekarang.

Ai pun sampai di rumah profesor, ia mengetuk pintu dan profesor segera membukakan pintunya. Dengan cepat, Ai menyeret kopernya dan masuk ke kamar lamanya. Ia bersyukur karena kamar itu sangat bersih dan terawat. Lalu Ai merapikan barang-barangnya di sana. Setelah selesai, ia langsung bergegas untuk menemui Aine.

Ai membuka pintu kamar Aine, ia tersenyum lebar sambil mendekati tempat tidurnya dan duduk di kursi. "Hai, aku kembali. Maaf karena membuatmu menunggumu, ya, Aine."

Kemudian, Ai menghabiskan waktu dengan bercerita dan mengoceh, ia menceritakan tentang bagaimana kehidupannya sekarang, dan juga tentang Quartet Night.

Anehnya, saat Ai menyebutkan tentang Reiji yang benar-benar tidak bisa diam dan seperti badut, reaksi Aine justru lebih bagus dari sebelumnya. Matanya bergerak, seakan ia berusaha untuk membuka matanya. Ai berpikir untuk bertanya pada profesor, tetapi pada akhirnya ia memutuskan untuk mencari tahu sendiri.

"Hei, Aine. Apa kau mengenal Reiji? Ah, sayang sekali. Dulu kita tidak pernah berinteraksi secara langsung. Kalau kita sering mengobrol, pasti kau sudah membahas banyak hal padaku."

Ai terkekeh pelan, kemudian ia melepaskan ikat rambutnya dan bercermin. Benar, mereka benar-benar mirip, seperti kembar identik. Tiba-tiba, imajinasi Ai melayang, ia membayangkan jika Aine sudah bangun dan mereka berdua menggunakan gaya rambut yang sama, entah itu dikuncir seperti Ai, atau terurai bebas seperti Aine.

"Pasti menyenangkan, ya, kalau kita mencoba gaya rambut yang sama, bermain bersama, melakukan segalanya bersama," kata Ai pada dirinya sendiri sambil berjalan kembali ke sisi Aine dan mengikat rambutnya lagi lalu duduk. Aine bereaksi, ia tersenyum lebih lebar lagi dari sebelumnya.

"Aku harap kau segera bangun, Aine....," ujar Ai kemudian, setelah hening beberapa saat.

Malam hari kemudian, seusai makan malam, Ai menggelar futon tepat di sebelah tempat tidur Aine. Lalu ia menatap ke arah Aine sebelum berbaring di atas futon.

"Selamat malam, Aine," ucap Ai sambil tersenyum.

Ai belum bisa tidur, ia hanya berbaring dan menatap langit-langit kamar Aine sambil berpikir tentang keinginannya sekarang. Kemudian ia mengambil kabel charger miliknya karena baru ingat kalau baterainya sudah hampir habis. Setelah memasang charge, Ai mendongakkan kepalanya sedikit untuk menatap Aine.

"Sekarang, aku hanya ingin melakukan segalanya untukmu, Aine. Apapun itu, akan aku lakukan, asalkan kita bisa menggantikan waktu kita yang hilang," ujarnya sambil tersenyum, lalu perlahan-lahan, Ai mulai mengantuk.

Meski mengantuk, pikiran Ai melayang ke mana-mana.

Ia ingin merawat Aine.

Ia ingin lebih mengenal Aine.

Ia ingin Aine segera bangun.

Ia ingin segera membawa Aine jalan-jalan.

Banyak sekali yang ingin ia lakukan bersama Aine, sangat banyak, sampai tak terhitung jumlahnya.

Lama-kelamaan, Ai tertidur juga. Namun, ternyata ia masuk ke dalam sebuah ruangan seperti kotak penyimpanan. Tempatnya seperti sebuah ruangan yang penuh dengan layar, mirip seperti ruang pemantau CCTV. Di sana, ia berjalan sambil melihat-lihat beberapa kenangan, itu adalah kenangan Aine.

Ai terus berjalan, hingga ia melihat salah satu layar yang merupakan sebuah ingatan Aine. Ai melihat Aine kecil yang merengek pada profesor agar membolehkannya mengajak Ai bermain. Lalu Ai juga melihat saat dirinya sendiri malah egois dan tidak mencoba untuk berjuang demi mereka berdua.

Kemudian atensinya teralihkan pada layar lain, Ai melihat kenangan Aine bersama Reiji, Kei, dan Hibiki. Ai ingat sekarang, jadi, itu alasan kenapa dua orang tersebut mendatangi Reiji beberapa kali, ditambah lagi, mereka juga sering meneror Reiji, mengatakan bahwa kematian Aine adalah salahnya.

Mereka kurang ajar, pikir Ai. Ia kesal sekali saat mengingat ketika Kei dan Hibiki menyalahkan Reiji terus-menerus sampai meneror segala. Kemudian Ai beralih lagi pada layar yang menunjukkan kenangan saat dirinya sedang rusak berat karena terlalu overwork. Saat itu, Ai memang dalam keadaan setengah pingsan dan hanya sayup-sayup mendengar suara seorang remaja yang mirip dengannya, namun lebih berat. Sekarang, ia tahu siapa remaja itu. Rupanya, itu adalah Aine yang sedang menangis karena khawatir, tapi, Aine saat itu juga marah-marah karena masih saja dilarang untuk menemui Ai di waktu senggang. Alasannya selalu sama, yaitu karena Ai tidak suka diganggu dan lebih fokus dengan tujuannya.

Lalu Ai melihat layar yang lain. Layar yang membuatnya benar-benar ingin sekali pergi dari sana, yaitu insiden saat Aine mencoba bunuh diri karena stress gara-gara jadwal pekerjaannya yang terlalu padat saat itu. Saat kejadian itu, Ai sendiri sedang ada di laboratorium karena akan mendapatkan update sistem secara besar-besaran.

Ai menatap layar itu dengan seksama, ia melihat dengan jelas saat Aine benar-benar stress dan mencoba menelpon Reiji yang sedang sibuk dengan audisinya. Lalu ia melihat insiden itu, ketika akhirnya Aine terjun bebas ke air pantai. Yah, meskipun akhirnya ia diselamatkan oleh profesor.

"Sekarang aku mengerti, Aine. Bukan hanya aku yang harusnya berjuang sekarang, tapi kita berdua. Tapi, untuk sekarang sampai kau bangun, aku akan berjuang untukmu, apapun akan aku lakukan, aku janji!" kata Ai, sambil menatap layar yang menunjukkan ketika Aine begitu sedih setiap melewati kamarnya.

Kemudian, Ai akhirnya keluar dari tempat itu dan terbangun, ia menatap jam dinding, rupanya masih jam 12 malam. Ai melihat ke arah Aine sambil mencabut charger nya karena baterainya ternyata penuh lebih cepat dari biasanya. Setelah mencabut ujung kabel charger dari belakang lehernya dan stop kontak, lalu ia pun duduk di futon dengan nyaman sambil menatap Aine.

"Aku hanya ingin kau bangun dan mengganti waktu-waktu kita yang hilang, berjuanglah, Aine," ucap Ai sambil tersenyum lebar, lalu ia berdiri untuk melihat reaksi Aine.

Aine menunjukkan reaksi berupa senyuman yang cukup lebar, namun begitu lembut. Ai merasakan kehangatan menjalar di sekujur tubuhnya, ia tak sabar ingin memeluk Aine ketika ia bangun nanti. Ai ikut tersenyum, lalu ia kembali berbaring di atas futon. "Selamat malam lagi, Aine."

 

-𝑩𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒃𝒖𝒏𝒈-