Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-07-26
Updated:
2025-07-27
Words:
7,883
Chapters:
5/6
Comments:
4
Kudos:
9
Bookmarks:
1
Hits:
225

The Autumn and The Fallen Hearts

Chapter Text

Seoul di akhir musim gugur 2025 terasa seperti lukisan yang belum selesai.

Daun-daun maple di sepanjang jalan distrik Yeouido telah luruh, menyisakan ranting-ranting telanjang yang gemetar di bawah angin dingin. Hujan salju pertama belum turun, mungkin masih dua minggu lagi atau lebih, tetapi udara telah menusuk tulang, membuat orang-orang berjalan cepat dengan mantel tebal dan syal yang melilit leher. Di sudut jalan yang strategis namun sepi, sebuah studio fotografi vintage berdiri dengan papan nama kayu yang sudah pudar: Sepia Memoirs . Studio ini, dengan jendela-jendela besar yang memantulkan cahaya kelabu, seolah menyimpan rahasia masa lalu yang enggan diucapkan.

Song Seungho, pemuda berusia dua puluh tahun, menjalani hari-harinya di studio ini sebagai kru fotografer paruh waktu. Kesehariannya monoton, seperti ritme lagu yang terulang: bangun, makan, bekerja, tidur, lalu bangun lagi. Ia tidak mengeluh. Studio yang sepi, dengan pengunjung yang datang hanya sesekali, memberinya ketenangan. Seungho lebih menyukai keheningan ini ketimbang keramaian pelanggan yang tak sabar, yang sering kali menuntut dengan nada tinggi dan membuatnya kewalahan. Seperti saat ia bekerja di sebuah cafe bertema western. Di sini, ia bisa merapikan album foto dengan teliti, menyiapkan kamera dengan penuh perhatian, atau sekadar menatap jalanan di luar jendela, membiarkan pikirannya mengembara.

Pagi ini, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Seungho enggan meninggalkan selimutnya tadi pagi, tetapi kewajiban menyeretnya keluar dari kasur. Ia kini berdiri di belakang meja resepsionis, sibuk menyusun album foto yang baru selesai dicetak. Rambutnya yang sedikit acak-acakan dan jaket tebal yang ia kenakan membuatnya tampak seperti remaja biasa, namun matanya yang sendu menyimpan sesuatu yang lebih dalam, seperti danau yang tenang namun gelap di dasarnya.

Tiba-tiba, pintu studio berderit pelan. Seungho tidak segera mendongak; ia terbiasa dengan suara itu, biasanya hanya pelanggan yang tersesat atau kurir yang salah alamat. Namun, ketika ia akhirnya melirik, jantungnya seolah berhenti. Di ambang pintu, berdiri seorang pemuda yang tampak familiar siluetnya, dengan rambut hitam pendek yang tertata secara alami, Seo Kyoungbae, sembilan belas tahun, dengan senyum yang hangat dan canggung namun mata yang sendu, seperti seseorang yang membawa beban dari masa lalu. Kyoungbae mengenakan mantel panjang berwarna abu-abu, syal biru tua rajut melilit lehernya, dan rambutnya yang sedikit basah menandakan ia baru saja berjalan di bawah gerimis tipis.

Seungho membeku. Tangannya yang sedang memegang album foto terhenti di udara. Kenangan setahun lalu melintas cepat di benaknya, seperti kilatan petir yang menyakitkan. Musim gugur tahun lalu, mungkin pada bulan Oktober 2024, dari ingatan seungho yang awalnya sedikit memudar, di atap sekolahnya, Gyeongseong Highschool, Kyoungbae, dalam kebingungan dan amarah kekecewaan pada dirinya sendiri, meninggikan suaranya. “Aku bukan… aku tidak mau dikatakan seperti itu! Aku bukan orang seperti ini, ini... ini salah!” katanya waktu itu, menolak label apa pun untuk hubungan mereka, menolak dirinya yang seperti ini, seolah perasaan yang tumbuh diantara mereka selama ini adalah sesuatu yang memalukan, tidak pantas, tidak normal, dan menyimpang. Seungho, yang lebih pendiam namun keras hati, tak mampu menahan kekecewaan. Hatinya hancur, seperti merasa dirinya telah dihina oleh orang yang ia sukai. Marah dan kecewa, begitu pula dengan kesedihan yang menyelimuti seluruh tubuh Seungho. Ia tak berkata apapun, hanya meletakkan kotak hadiah berwarna abu-abu itu di lantai—lalu pergi tanpa menoleh. Hari itu adalah hari kelulusan bagi Seungho, kenangan yang tak akan mudah ia lupakan, hari yang seharusnya menjadi istimewa dalam hidupnya kini menjadi mimpi buruk. Disaat orang-orang bersuka cita, bertegur sapa dengan teman-temannya yang mungkin akan menjadi terakhir kalinya. Seungho berjalan dalam diam, menghilang diantara kerumunan.

Satu tahun tanpa kabar, hingga Kyoungbae, dengan tekad dan penyesalan yang ia bawa dari masa lalu, mencarinya melalui setiap relasi yang mungkin tahu keberadaan Seungho. Dan kini, di sini ia berdiri, di studio kecil yang sepi ini. Kyoungbae melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati. Ia memilih duduk di tepi ruangan, di salah satu sofa kulit berwarna cokelat tua dekat jendela, tempat ia bisa melihat Seungho dari kejauhan. Tak ada sapaan, atau sekadar basa-basi, seperti pelanggan yang membisu, menunggu antrean yang tak pernah ada. Seungho berusaha mengabaikannya, tak berani menatap lebih lama sosok pemuda yang lebih tinggi darinya itu, ia memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Kyoungbae, diam di sudut ruangan dengan matanya yang mengikuti setiap gerakan Seungho, sibuk mengatur kamera dan lighting yang diperlukan, merapikan album, atau berbincang ringan dengan rekan kerjanya sekaligus pemilik studio ini, seorang pria paruh baya yang selalu menggodanya dengan lelucon ringan, Pak Kim. Senyum Kyoungbae penuh kebanggaan, namun ada luka di matanya, seperti seseorang yang tahu ia telah kehilangan sesuatu yang berharga dan kini hanya bisa memandang dari jauh.

“Seungho,” panggil Kyoungbae pelan, suaranya hampir tenggelam oleh derit mesin pemanas di sudut ruangan. Seungho menoleh, ekspresinya kaku. Ia meletakkan album di tangannya dengan gerakan yang terlalu hati-hati, seolah ingin menunda waktu. “Kyoungbae,” jawabnya, suaranya datar, namun ada getar halus yang tak bisa disembunyikan. “Apa yang kau lakukan di sini?” Kyoungbae tersenyum tipis, tetapi matanya tetap sendu. Ia berdiri dari duduknya, mencoba melangkah, mendekat ke arah Seungho di balik meja resepsionis, tetapi langkahnya berat, terlihat ragu dan tertahan. “Aku hanya ingin melihatmu. Sudah lama.” “Lama,” ulang Seungho, nadanya dingin namun penuh pertanyaan yang tak terucap. “Setahun, Kyoungbae. Dan kau tiba-tiba muncul begitu saja?” Kyoungbae menunduk, jari-jarinya meremas ujung syalnya. “Aku mencarimu. Di setiap tempat yang mungkin kau kunjungi. Aku tahu aku salah… waktu itu.” Suaranya melemah, seperti daun yang jatuh perlahan di angin musim gugur. “Aku tidak bermaksud menyakitimu.” Seungho diam. Ia berpaling, berpura-pura sibuk dengan kamera di tangannya, tetapi tangannya gemetar. Kenangan itu masih hidup, seperti bara yang belum padam. “Kau bilang kau tidak mau dikatakan seperti itu, atau terlibat denganku, tetapi kau disini.” katanya akhirnya, suaranya rendah namun tajam. “Kau membuatku merasa seperti kesalahan.” Kyoungbae menggigit bibirnya. “Aku bodoh. Aku takut. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang kurasa. Tapi aku menyesal, Seungho. Setiap hari aku menyesal.”

Ruangan menjadi hening. Hanya suara angin di luar jendela dan derit lantai kayu yang memecah keheningan. Pak Kim, yang merasa suasana mulai tegang, memilih mundur ke ruang belakang, meninggalkan mereka berdua. Seungho menatap Kyoungbae, matanya penuh dengan campuran kemarahan, rindu, dan sesuatu yang tak bisa ia namai. “Apa yang kau inginkan sekarang?” tanya Seungho, suaranya sedikit lebih lembut, namun masih waspada. Kyoungbae menghela napas panjang. “Aku tidak tahu apakah aku pantas meminta maafmu. Tapi aku ingin memulai lagi. Tidak harus seperti dulu, tetapi… setidaknya sebagai teman. Aku merindukanmu, Seungho.” Seungho tidak menjawab segera. Ia berjalan menuju jendela, menatap jalanan yang mulai diselimuti kabut tipis.

Musim dingin akan segera tiba, dan salju pertama akan turun. Mungkin, seperti salju itu, hati mereka juga bisa mencair, meski perlahan. Namun, untuk saat ini, ia hanya bisa berkata, “Aku perlu waktu, Kyoungbae.” Kyoungbae mengangguk, senyumnya kini bercampur dengan sedikit harapan. “Aku akan menunggu. Selama apapun yang kau mau.” Seungho tidak menoleh, tetapi sudut bibirnya sedikit terangkat, di dalam dirinya mungkin masih ada kesempatan yang diinginkan oleh Kyoungbae, namun harinya masih penuh keraguan, dan rasa takut akan kepercayaan yang akan ia berikan ke pemuda yang lebih tinggi itu. "Baiklah." katanya, suaranya nyaris tak terdengar. Di luar, angin musim gugur bertiup lebih kencang, membawa aroma daun yang sudah berguguran. Dan di dalam studio kecil itu, dua hati yang retak mulai mencari cara untuk berdamai dengan masa lalu.

Langit Seoul di penghujung musim gugur masih memancarkan sisa-sisa terang, namun semburat kemerahan senja mulai merayap di ufuk barat. Trotoar di sepanjang jalan distrik Yeouido terlihat sepi, hanya ditutupi ranting-ranting telanjang yang bergoyang pelan diterpa angin dingin. Daun-daun yang dulu menghiasi jalanan telah lama luruh, meninggalkan jejak musim yang pergi. Song Seungho berjalan di trotoar itu, langkahnya tenang dan santai, seolah dunia ini tak memiliki kuasa untuk mengejarnya. Jaket tebalnya sedikit terbuka, membiarkan angin menyelinap ke lehernya, namun ia tak peduli. Ada ketenangan dalam caranya melangkah, seperti seseorang yang telah belajar menerima keheningan hidupnya. Di belakangnya, dengan jarak yang tak terlalu jauh namun juga tak terlalu dekat, Seo Kyoungbae mengikuti. Langkahnya selaras, hati-hati, seolah tak ingin mengganggu ritme Seungho.

Syal biru tuanya berkibar lembut, dan wajahnya yang diterpa cahaya senja tampak penuh dengan perenungan. Di studio tadi, sebelum mereka berpisah, Kyoungbae telah memohon dengan suara yang nyaris patah. “Berikan aku satu kesempatan lagi, kumohon. Biarkan aku berada di dekatmu, aku akan diam, hanya itu yang aku inginkan,” katanya, matanya memancarkan campuran harap dan penyesalan. Ucapan itu kini terputar berulang-ulang di benak Seungho, seperti lagu lama yang tak bisa ia hentikan. Seungho tidak menoleh. Ia terus melangkah, tangannya terselip di saku jaket, matanya menatap trotoar yang mulai diselimuti bayang-bayang. Pikirannya bercampur aduk, seperti awan yang bergulung di langit senja. Setahun lalu, kemarahan dan kekecewaan telah membuatnya meninggalkan Kyoungbae dengan luka yang masih terasa hingga kini. Namun, melihat Kyoungbae di studio tadi, dengan senyum bangga namun mata yang sendu, ada sesuatu di hatinya yang bergetar. Apakah itu rindu? Atau hanya bayang-bayang masa lalu yang enggan pergi?

“Kau masih di belakangku,” kata Seungho tiba-tiba, suaranya datar namun cukup keras untuk menembus angin. Ia berhenti melangkah, tetapi tetap tidak menoleh. Kyoungbae menghentikan langkahnya, jarak di antara mereka tetap terjaga. “Aku tidak ingin mengganggu,” jawabnya, suaranya lembut namun teguh. “Aku hanya… ingin memastikan kau sampai di rumah dengan selamat.” Seungho menghela napas panjang, uap tipis keluar dari mulutnya, bercampur dengan udara dingin. “Kau selalu begitu,” katanya, nadanya bercampur antara kesal dan lelah. “Kau bilang kau akan diam, tapi kau tetap mengikuti. Apa yang kau cari, Kyoungbae?” Kyoungbae menunduk, jari-jarinya kembali meremas ujung syalnya, kebiasaan yang selalu muncul saat ia gugup. “Aku tidak mencari apa-apa selain kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku,” katanya. “Aku tahu aku menyakitimu. Aku tahu aku bodoh waktu itu. Tapi aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, Seungho. Setiap hari, aku membayangkan apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu memaafkanku.”

Seungho akhirnya berbalik, matanya bertemu dengan mata Kyoungbae untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan studio. Cahaya senja memantul di wajah Kyoungbae, menonjolkan garis-garis lembut di wajahnya yang masih kehilangan bayang-bayang kekanak-kanakan. Ada ketulusan di sana, tetapi juga luka yang sama yang Seungho rasakan di hatinya sendiri. “Kau pikir semudah itu?” tanya Seungho, suaranya sedikit lebih keras, namun ada kerapuhan yang terselip di dalamnya. “Kau pikir kau bisa muncul setelah setahun, mengatakan kau menyesal, lalu semuanya akan kembali seperti dulu?”

Kyoungbae menggeleng pelan. “Aku tidak berharap semuanya kembali seperti dulu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku tidak akan menyerah. Bahkan jika kau tidak pernah memaafkanku, aku ingin kau tahu bahwa aku akan tetap ada di sini.” Kata-kata itu seperti angin yang menerpa wajah Seungho, dingin, namun membawa kehangatan yang aneh. Ia menatap Kyoungbae lama, mencoba mencari kebohongan di matanya, tetapi yang ia temukan hanyalah kejujuran yang telanjang. Untuk sesaat, ia teringat masa-masa mereka bersama: pertandingan basket di gymnasium yang sepi, bangku taman yang dingin dan hening, dan perkataan serta janji kecil yang kini terasa seperti mimpi yang pudar. “Pulanglah, Kyoungbae,” kata Seungho akhirnya, suaranya lebih lembut, namun masih tegas. “Udara semakin dingin. Kau akan sakit jika terus di luar seperti ini.” Kyoungbae tersenyum tipis, senyum yang penuh dengan penerimaan namun juga harapan yang belum padam. “Aku akan pulang. Tapi besok, aku akan datang lagi ke studio. Dan lusa, mungkin juga. Sampai kau tidak lagi merasa terganggu olehku.”

Seungho tidak menjawab. Ia hanya mengangguk samar, lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya. Kyoungbae tetap berdiri di tempatnya sejenak, menatap punggung Seungho yang perlahan menjauh. Trotoar itu, dengan ranting-ranting telanjang dan semburat senja, terasa seperti lukisan yang menyimpan rahasia mereka berdua. Di kejauhan, lampu-lampu jalan mulai menyala, menandakan malam yang semakin dekat. Dan di hati Kyoungbae, ada tekad yang tak goyah: ia akan terus berjalan di belakang Seungho, meski hanya dengan jarak yang tak terlalu jauh atau terlalu dekat.