Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-07-26
Updated:
2025-07-26
Words:
2,027
Chapters:
2/?
Kudos:
10
Hits:
158

信白 - Romansa Pecel Lele

Summary:

(Lokal AU, Latar di Indonesia)
⚠️ OOC

Team Manager Han Xin x Young Boss(CEO) Li Bai

Li Bai tidak pernah menyangka, hidupnya yang penuh kemewahan sejak kecil akan bergeser setelah bertemu kekasihnya, Han Xin, yang penuh dengan kesederhanaan. Namun tentu saja, cinta dan kasih sayang di antara mereka, membuat Li Bai sama sekali tidak mempedulikan hal itu.

Chapter Text


Di lantai lima gedung perusahaan 'Sutra Emas Nusantara', nama Li Bai, sang bos muda, selalu disebut dengan nada hormat dan sedikit kekaguman. Wajahnya yang rupawan, rambut kastanyenya yang selalu tertata rapi bak iklan sampo, serta aura cerdas yang memancar, membuatnya menjadi idola di kalangan karyawati. Setiap langkahnya di koridor selalu diiringi bisikan kagum dan tatapan memuja. Namun, di seluruh penjuru kantor, ada satu nama yang tak kalah bersinar, bahkan mungkin lebih membakar: Han Xin. Han Xin, dengan rambut merah panjangnya yang diikat tinggi menyerupai surai singa, mata ungu yang penuh pesona, dan seringai tipis yang selalu menghiasi bibirnya, adalah magnet alami. Dia adalah manajer tim proyek yang cakap, namun popularitasnya jauh melampaui kemampuan kerjanya.

Hampir setiap hari, ada saja karyawati yang mencoba mengajaknya makan siang, atau bahkan kencan sepulang kerja. Bahkan ada yang terang-terangan membawakan bekal nasi kuning lengkap dengan lauk pauknya. Dan setiap kali itu terjadi, Li Bai akan merasakan sengatan cemburu di dadanya. Ironis memang, ia adalah bos, memiliki segalanya-termasuk kartu kredit tak terbatas-namun hatinya justru terpaku pada Han Xin, sang bawahan yang hobinya bikin jantungan.

Setelah sekian lama menahan perasaan dan menyaksikan Han Xin diincar banyak wanita (Li Bai sampai berpikir apakah harus mengadakan lokakarya tentang 'Etika Menggoda Atasan Orang'), Li Bai akhirnya mengungkapkan perasaannya. Dan syukurlah, Han Xin ternyata membalasnya dengan senyum lebar dan pelukan erat yang membuat Li Bai nyaris kehabisan napas. Hubungan mereka kini sudah berjalan satu tahun, penuh dengan tawa, kejutan, dan sesekali, kebiasaan unik Han Xin yang membuat Li Bai harus beradaptasi seolah ia sedang menjalani pelatihan militer.

Salah satu keunikan Han Xin adalah hobinya: menonton konser dangdut. Sebuah hobi yang sejujurnya membuat Li Bai bertanya-tanya, apakah ia salah memilih kekasih?

Suatu sore, ponsel Li Bai berdering. Nama "Mas-ku Sayang" (baca: Han Xin) terpampang di layar. "Dek," sapa Han Xin dengan nada ceria yang terlalu bersemangat. "Malam ini ada konser akbar Aldi Taher dan King Nassar! Mau ikut? Dijamin pecah!"

Li Bai hampir tersedak kopi yang sedang diminumnya. Konser dangdut? Aldi Taher dan King Nassar? la bisa membayangkan lightstick bergoyang heboh dan suara gendang yang menggelegar sampai ke relung jiwanya. Musiknya terlalu bising, liriknya terlalu frontal (kadang relate tapi tetap saja), dan goyangannya... ah, Li Bai tidak bisa membayangkannya. "Mas, kau tahu aku tidak terlalu suka musik itu. Aku lebih ke jazz atau classical, bukan jedag-jedug."

"Ayolah, sayangku," bujuk Han Xin, suaranya sedikit merajuk dan terdengar seperti anak kucing kehujanan. "Sekali ini saja? Ini pasti seru! Kita bisa goyang bersama. Aku janji tidak akan merekammu kalau kamu khilaf ikut ngebor."

Membayangkan dirinya bergoyang di antara kerumunan penggemar dangdut membuat Li Bai bergidik. Itu akan menghancurkan reputasinya sebagai bos muda yang cool dan berwibawa. Namun, ia juga membayangkan senyum kecewa Han Xin jika ia menolak. Han Xin selalu berusaha menyenangkan hatinya, bahkan jika itu berarti menonton film dokumenter tentang sejarah puisi yang membosankan menurutnya. Demi Han Xin, ia akan melakukannya. Walau ia yakin akan trauma permanen.

"Baiklah," Li Bai akhirnya menyerah, dengan nada pasrah seperti narapidana yang pasrah. "Tapi jangan paksa aku ikut goyang, ya. Dan jangan berani-berani posting foto atau video aku di Instagram!"

Han Xin bersorak gembira di ujung telepon, tawanya renyah dan menular. Li Bai bersumpah ia bisa mendengar Han Xin melompat-lompat di kantor.

***

Malam itu, Li Bai mendapati dirinya berada di tengah lautan manusia yang bergoyang mengikuti irama musik. Lampu sorot berwarna-warni membanjiri panggung, di mana Aldi Taher dan King Nassar tampil penuh semangat dengan kostum bling-bling mereka. Han Xin di sampingnya benar-benar di elemennya. Rambut merahnya bergerak-gerak mengikuti irama seperti api yang menari, matanya berbinar penuh kebahagiaan, dan sesekali ia tanpa malu ikut menyanyikan lirik lagu dengan suara keras, "Seperti mati lampu ya sayang, seperti mati lampu!!" Li Bai hanya bisa tersenyum pasrah dan menggelengkan kepala, sesekali tertawa kecil melihat Han Xin yang tampak begitu bebas dan bahagia. la tidak bohong, ada sedikit rasa terhibur melihat kekasihnya yang flamboyant ini tenggelam dalam hobinya yang antimainstream.

Setelah konser selesai, Han Xin menarik Li Bai keluar dari kerumunan, menembus lautan pedagang kaki lima. "Lapar?" tanyanya. "Aku tahu tempat pecel lele paling enak di pinggir jalan! Sambalnya nampol!"

Li Bai hanya mengangguk. Han Xin memang seperti itu. la bisa mengenakan jas paling mahal di kantor, memimpin rapat dengan investor asing, tapi juga tidak keberatan makan di warung pecel lele pinggir jalan dengan bau asap bakaran yang menyengat. Mereka berdua naik motor Han Xin-motor sport modifikasi dengan warna merah yang mencolok. Li Bai memeluk pinggang Han Xin erat, merasakan setiap goncangan kecil dan menikmati embusan angin malam Jakarta yang hangat, yang jauh lebih baik daripada AC kantor yang kadang terlalu dingin.

Dulu, Li Bai terbiasa dengan restoran bintang lima, makan malam mewah dengan peralatan makan perak, dan supir pribadi yang selalu siap sedia. Tapi setelah mengenal Han Xin, dunia Li Bai sedikit bergeser. Han Xin mengenalkannya pada kesederhanaan, pada tawa lepas di tempat-tempat yang tidak ia duga-seperti toilet umum di konser dangdut, pada kebahagiaan yang tidak harus diukur dengan kemewahan. Dan anehnya, Li Bai menyukai itu. la mulai menikmati pecel lele, dan terkadang, ia bahkan ikut bersenandung kecil saat Han Xin memutar lagu dangdut di mobil.

Di warung pecel lele sederhana itu, di bawah temaram lampu jalan dan bisingnya lalu lintas ibukota, mereka menikmati hidangan mereka. Han Xin dengan lahap menyantap pecel lele-nya, sesekali mengusap sambal di sudut bibirnya dengan tisu yang ditarik dari kotak tisu lusuh. Li Bai menatapnya, ada kehangatan yang menjalar di hatinya. Meskipun Han Xin dengan hobinya yang unik dan gaya hidupnya yang sederhana terkadang "tidak biasa" di mata orang lain, bagi Li Bai, Han Xin adalah pria yang paling romantis dan begitu menyayanginya.

"Mas, kau tahu, aku bersyukur kau tidak pergi dengan wanita-wanita kantor itu," kata Li Bai tiba-tiba, menopang dagu. "Mereka lebih... normal."

Han Xin tersenyum miring, lalu meraih tangan Li Bai di atas meja dan menggenggamnya erat. "Untuk apa? Mereka tidak punya pesona sepertimu, Sayang," balas Han Xin, mengedipkan mata, seolah baru saja memenangkan lotre. "Lagipula, mana ada yang mau menemaniku nonton dangdut sampai dini hari dan makan pecel lele begini? Pasti mereka langsung pingsan di tempat."

Li Bai terkekeh, menggelengkan kepala. "Aku yakin ada."

***

Beberapa hari kemudian, saat Li Bai sedang minum kopi dengan Feyd, sahabat dekatnya. Feyd, dengan seringainya, berkomentar, "Bagaimana konsernya? Kudengar Han Xin mengajakmu goyang TikTok di sana? Ada videonya, tidak?"

Li Bai hanya diam, menyeruput kopi, tidak peduli dengan ejekan Feyd. la memaklumi kekasihnya. Karena pada akhirnya, semua itu adalah bagian dari pesona Han Xin. Pesona seorang pria berambut merah yang suka dangdut, makan pecel lele, dan berhasil mencuri hati bosnya yang dulunya hanya mengenal kemewahan. Dan Li Bai tidak akan menukarnya dengan apapun. Kecuali, mungkin, sesekali, ia ingin Han Xin menyanyikan lagu jazz untuknya.

 

-tbc