Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-07-26
Words:
1,602
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
31
Bookmarks:
2
Hits:
562

don’t think to hard

Summary:

Taesan dan Anton adalah teman dalam satu lingkaran pertemanan. Namun disaat yang bersamaan, mereka adalah orang asing yang terperangkap dalam lingkaran tersebut.

Taesan pikir begitu, tetapi semua berubah ketika Anton mengajaknya berbicara untuk pertama kalinya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Taesan tidak pernah merasa dekat dengan Anton. Meskipun mereka berada dalam satu lingkaran pertemanan, mereka jarang sekali berbincang. Hanya ketika sedang berkumpul saja keduanya akan saling bertukar lirik, sesekali kalimat satu sama lain ditimpali dengan balutan canda, namun hanya sebatas itu.

 

Taesan tidak bisa membawa Anton dalam obrolan dua arah. Jika tidak ada perantara ketiga dan mereka terpaksa terjebak hanya berdua, bahkan nyamuk pun segan untuk lewat diantara mereka saking heningnya suasana yang terbangun. Rasanya begitu sulit untuk menjalin pembicaraan dengan lelaki itu. Mungkin karena Anton adalah sosok pria yang tidak akan berbicara jika tidak ada yang membuka suara dan begitu pula Taesan, dia tidak ingin repot mencari topik. Dan dalam keheningan yang menyelimuti mereka, Taesan hanya bisa menatap. 

 

Menatap rambut hitam tebal yang menutupi dahi—pernah satu kali Taesan bertanya dalam benaknya, apakah helai rambut itu akan selembut seperti yang terlihat? Menatap bagaimana Anton dengan mata bulatnya yang terpaku pada ponsel. Menatap alis legamnya yang bergerak sesekali sebagai bentuk refleks. Menatap bentuk bibir yang ketika melengkung akan menjadi salah satu senyuman terindah yang pernah Taesan temui. Taesan akan menatap seluruh fitur wajah Anton, sebelum membuang wajah begitu ada suara teman-temannya kembali terdengar dalam indra pendengarannya.

 

Entah Anton sadar atau tidak. Taesan tidak begitu peduli. Toh, Anton pasti tidak akan bertanya. Anton bukan tipe yang akan bertanya, Taesan yakin akan itu.

 

Namun, keyakinan Taesan salah ketika Anton membuka suara malam itu.

 

Lapangan basket yang mereka sewa berangsur-angsur kosong saat satu-persatu teman-temannya pulang. Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam, dan dua teman yang lain berkata ingin mampir sebentar ke toserba di sebrang lapangan untuk membeli tambahan air. Sempat mengajak Taesan dan Anton untuk ikut, namun Taesan menggeleng seraya mengangkat botol air minumnya yang masih tersisa setengah. 

 

Dia kira, Anton akan ikut dengan mereka karena Anton hanya membawa botol aqua berukuran 600ml dan sudah habis saat permainan ketiga dimulai. Bahkan lelaki itu sampai meminta minuman dari beberapa temannya yang lain. Tapi yang mengejutkannya, Anton tidak pergi. Dia berada tidak begitu jauh dari tempatnya duduk, bersandar nyaman pada pagar lapangan sembari bermain ponsel.

 

Mungkin terlalu malas untuk beranjak, atau terlalu lelah untuk bergerak. Namun apapun alasannya, hal itu berhasil menarik perhatian Taesan untuk lagi-lagi mengamati. Mengamati semua yang telah Taesan ketahui diluar kepala, bentuk alis yang runcing dan tebal, mata bulat dan bulu mata lentik yang memayungi, hidung bangir yang terpahat sempurna, bibir tipis namun penuh sebagai pelengkap dalam fitur wajah tersebut. 

 

Taesan mengerjap sekali, menyadari lagi-lagi dirinya tercenung dan menatap terlalu lama dari yang seharusnya. Dia sudah siap membuang wajah ketika mata Anton membalas tatapannya. Taesan tidak bohong, tatapan itu mengirim serangan kejutan pada jantungnya—karena untuk pertama kali dari sekian puluh Taesan menatap, Anton membalas tatapannya. Sudah terlalu lambat untuk memutuskan pandang, Taesan putuskan untuk tidak menghindar. Toh, sudah tertangkap basah. Lagi pula, tidak ada salahnya, ‘kan?

 

Mungkin iya, mungkin juga tidak. Taesan tidak bisa memutuskan ketika dia melihat Anton bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampirinya, masih dengan mata yang tertaut padanya. Hal itu memancing ritme jantung Taesan untuk berdetak lebih cepat, sehingga Taesan mengalihkan pandangan. 

 

Tanpa menoleh, Taesan tahu Anton mengambil tempat duduk di sampingnya. Dia bisa merasakannya dari pergantian udara di sekitarnya yang berubah lebih hangat, sedikit mengundang bulu kuduk di belakang lehernya untuk berdiri. 

 

Ada begitu banyak pertanyaan yang muncul di benaknya, tapi di saat yang sama, benaknya kosong. Dia tidak tahu harus berbuat apa, sehingga dia memilih untuk menatap pada lapangan di sisi kiri yang masih ramai oleh orang-orang. 

 

“Kenapa?”

 

Taesan menolehkan kepala pada sumber suara. 

 

Pasang mata Anton telah menatapnya, telak. Seakan hanya melalui tatapan, Anton bisa menelanjangi sampai seluk beluk terdalam jiwanya.

 

“Apanya?” Suara Taesan serak, tenggorokkannya menyempit tanpa alasan.

 

Sesuatu dalam tatapan mata Anton berubah. Matanya tiba-tiba berbinar dalam maksud yang tidak diketahui oleh Taesan, diikuti dengan bibirnya yang menyungging seringai tipis. Anton mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menyempitkan jarak antara keduanya. Taesan mengerjapkan mata, rautnya tetap datar meskipun kulitnya mulai terasa panas.

 

Why do you always stare at me?

 

Dalam jarak sedekat ini, semua yang selalu Taesan rekam dari jauh menjadi lebih jelas. Anton mempunyai tiga tahi lalat; di bawah sudut mata kanan, dan kedua pipinya. Begitu juga dengan suaranya yang bernada rendah dan berat namun jernih di telinganya. 

 

Suara kekeh kecil membuyarkan lamunan Taesan. 

 

“Tuh, ngeliatin lagi,” ujar Anton dengan sentuhan canda. 

 

Taesan pun merasa tak berdaya. Seakan mengamati dan menelisik setiap lekuk wajah Anton merupakan tombol otomatis yang akan menyala ketika menangkap lelaki itu dalam jarak pandangnya. Taesan mengangkat bahu ringan, memilih menjawab dengan jujur.

 

“Gue juga nggak tau.” 

 

Anton mendengus geli. Dia memundurkan tubuhnya dan seketika Taesan bisa bernafas. Hangat tubuh yang mengambang rapat antar mereka sebelumnya masih menempel di atas kulit Taesan. Panas.

 

Taesan melirik Anton sejenak. 

 

You’re hard not to notice.

 

Anton menoleh mendengar jawaban Taesan, yang segera disambut berani oleh pasang mata cokelat gelap itu. Mata yang bersinar tenang meskipun telah tertangkap basah, seakan memang intensinya selama ini adalah sekarang—ditodong oleh Anton agar dapat melontarkan kalimat yang mengirim getar ke seluruh sarafnya. 

 

Sebelum Anton sempat membalas, Taesan telah berdiri dari duduknya. Lelaki itu melangkah menuju kedua temannya yang baru saja kembali dari toserba. Meninggalkan Anton yang termenung dengan banyaknya pertanyaan bermunculan di kepalanya. Ditengah semua kebingungan ini, Anton menemukan dirinya bersemangat. Jantungnya berdentum kencang oleh adrenalin. 

 

Taesan berhasil menarik perhatiannya.

 

Terbukti dari perlakuan Anton yang mulai berubah. Tidak begitu jelas. Samar, bahkan. Mereka masih menjadi dua orang yang asing, tidak bertukar kata—hanya sapaan singkat dan lontaraan gurau dalam obrolan ramai. Sekilas mata, tidak ada yang berubah.

 

Namun jika dilihat lebih dekat, sesuatu telah terjadi. Ada bangunan tensi antara dua insan yang kini selalu duduk saling berhadapan. Lirikan-lirikan yang kerap dilempar ketika tidak ada yang melihat, seringai tertahan ketika tidak sengaja bertatapan, tungkai kaki yang kadang secara tidak sengaja menyentuh satu sama lain. 

 

Aneh. Interaksi antara mereka terasa aneh bagi Taesan. Aneh karena memberinya sensasi menggelitik yang samar. Sekejap ada lalu menghilang seperti debu dihembus angin. Membuat Taesan terus mengejar sensansi itu, karena rasanya candu. 

 

Untungnya, perasaan Taesan tidak satu sisi. Sehingga membawa mereka pada pertemuan yang lebih sering, hanya berdua. 

 

Sebagian besar pertemuan mereka terjadi di lapangan basket. Sudah berminggu-minggu lalu kegiatan ini berjalan. Lambat laun, Taesan terbiasa. Ketika Anton mengirim pesan singkat berupa ajakan bermain basket, Taesan akan menyanggupi tanpa berpikir dua kali. Masih dengan kebiasaan mereka; tanpa tukar kata. Begitu sampai di lapangan, tanpa basa-basi, keduanya akan mulai bermain. Tidak ada batas waktu, hanya sampai ketika salah satu dari mereka berjalan menuju pinggir lapangan, maka permainan selesai. Mereka akan berakhir duduk bersebelahan, bersandar pada pagar jaring, lalu menikmati malam. Tidak ada ponsel, hanya hening yang nyaman dari presensi masing-masing.

 

Malam ini, Taesan yang lebih dulu berjalan menuju pinggir lapangan. Dia mendudukan dirinya seraya bersandar pada pagar jaring di belakangnya. Matanya mengikuti setiap pergerakan Anton yang masih bermain sendirian. Sepertinya mengamati Anton telah menjadi kebiasaan yang tumbuh tanpa Taesan sadari.

 

Tidak lama kemudian, Anton menyusulnya. 

 

Awalnya, Taesan pikir Anton akan duduk di sampingnya seperti biasa. Namun dugaannya salah ketika Taesan dapati pahanya terasa berat—sang pelaku telah tidur telentang dengan paha Taesan sebagai bantal. Sejenak, dia terdiam kaku. Mata Taesan langsung berlarian memeriksa sekitar, takut ada pasang mata asing yang menangkap basah mereka. Karena apa yang mereka lakukan sekarang tidak sesederhana duduk bersebelahan dengan bahu saling menempel, atau kulit tangan yang saling bersentuhan dengan sengaja untuk merasakan hangat tubuh masing-masing, ini adalah sesuatu yang tidak lazim; terlalu intim.

 

Taesan panik. Panik sampai perutnya terpelintir hingga sakit, jantungnya berdentum gila-gilaan seolah akan loncat dari tulang rusuknya. Perasaan itu memaksa Taesan untuk mendorong bahu Anton agar menjauh. Namun dorongannya lemah, seperti setengah hati. Dorongan itu hanya membuat Anton membuka matanya, alis saling bertaut kebingungan.

 

“Lo ngapain?”

 

Gelombang di dahi Anton semakin dalam mendengar pertanyaan Taesan. Pertanyaan retoris macam apa itu?

 

Meski begitu, Anton tetap menjawabnya. “Tiduran.”

 

Tangan Taesan masih di bahu Anton, jari-jemarinya merasakan hangat dan keras otot kulit di bawahnya. Hari ini Anton menggunakan singlet hitam yang mencetak struktur tubuhnya dengan jelas. Nafas Taesan tersendat pelan.

 

Saat tangan Taesan ingin memberi dorongan lagi (lebih kuat dari sebelumnya), tangan Anton menangkap pergelangan tangannya. Tanpa suara, hanya melalui sepasang mata tenang tanpa riak emosi, Anton memindahkan tangan Taesan ke atas kepalanya. 

 

Taesan segera menarik tangannya sebelum mendarat di antara helai rambut Anton. Taesan balas tatapan Anton dengan binar segan; dia ragu. 

 

Ragu dengan perasaan yang menjerat hatinya sejak pertama kali semua ini mulai. Sejak Anton mulai membalas seluruh perilaku diam-diamnya, membalas dengan gerakan yang yakin dan berani. Keraguan Taesan membawanya pada malam-malam tanpa tidur, dimana dia termenung memikirkan semua interaksi dengan Anton—mengkalkulasi, menganalisa; apakah semuanya berlebihan? Apakah dia telah melewati batas?

 

Tapi apa sebenarnya batas yang dia maksud? Kenapa Taesan perlu merasa ada batas yang memerangkap dirinya untuk bersikap leluasa? Apa yang membuat Anton berbeda dengan teman-temannya yang lain dalam merangkul? Atau berbicara? Atau sekedar melempar tatapan tanpa arti yang terasa seperti membawa seribu kata? Kenapa rasanya segan? Kenapa perlu ragu?

 

Don’t think to hard.

 

Buyar. Taesan kembali menatap pada mata Anton. 

 

Hanya ada keberanian dan keyakinan disana. Seakan menenangkannya, memberinya kepastian bahwa semua tindakan mereka itu normal; semuanya akan baik-baik saja. Dengan itu, keraguan Taesan terhapus seluruhnya. Batas yang menjerat Taesan menjadi garis kabur. Benar, semuanya akan baik-baik saja. 

 

So, he did. Taesan placed his palm gently on top of Anton’s head, carefully caressing his hair. It was slightly damp with sweat, but still soft to the touch—just like he imagined it would be.

 

Anton tersenyum tipis melihat Taesan tidak lagi tegang. Dia memejamkan mata, menikmati belaian tangan Taesan di kepalanya. Hangat dan nyaman. He leans even further into Taesan’s touch, a wider smile spreading across his face as Taesan lets out a soft, humming chuckle.

Notes:

izin menaruh tonsan disini 🫰