Work Text:
Caleb menatap wajah Zayne yang tertidur di seberangnya. Ia tidak ingin membangunkan temannya yang tertidur pulas meski dengan kacamata yang masih terpasang. Mereka tengah belajar di perpustakaan umum hingga larut malam, menyelesaikan berbagai soal try out dan melakukan tanya jawab untuk mengetes pengetahuan masing-masing untuk mempersiapkan ujian masuk universitas nanti. Ini sudah kali sekian mereka belajar hingga larut di perpustakaan ini—yang untungnya dibuka 24 jam.
Hanya sedikit orang yang masih berada di perpustakaan menuju tengah malam, karena itu keduanya memilih tempat duduk yang paling ujung agar menjauh dari penjaga perpustakaan dan bisa berbicara lebih leluasa. Pembicaraan mereka yang membahas topik itu-itu saja; soal-soal yang menjebak, jurusan yang dipilih, universitas yang diinginkan, dan bagaimana kehidupan mereka setelah melepas seragam abu-abu itu.
”Aku bakal langsung cari magang pas kuliah. Biar gak usah minta uang jajan lagi dan nenek bisa nyisihin buat biaya sekolah adek.”
Zayne melirik ke arah Caleb. “Aku kira kamu akan daftar ke BEM kampus.”
Caleb memutar pena dengan satu tangannya, mendengus kecil ketika mendengar tebakan Zayne. “Tadinya aku juga mikir kayak gitu.” Tangannya berhenti memutar pena lalu diganti dengan menaruh dagunya sambil menatap ke luar. Pemandangan lampu dari beberapa rumah dan bangunan sekitar serta beberapa kendaraan yang lalu lalang. Caleb menghela napasnya. “Tapi gak realistis.”
Zayne membuka halaman baru di buku tulisnya, tangannya mulai menulis catatan baru. “Kalau secara idealis, memangnya seperti apa?” Tanyanya tanpa melihat ke arah Caleb, masih fokus dengan catatannya.
Caleb melirik ke arah Zayne tanpa mengubah posisi kepalanya. Mereka terdiam untuk waktu yang terasa lama, tapi Zayne masih fokus menulis catatan di lembar try-out tanpa mengetahui Caleb sedang tersenyum ke arahnya. “Idealnya aku mau di kampus dan jurusan yang sama kayak kamu.”
Zayne berhenti sejenak, perhatiannya langsung berpindah ke laki-laki bermata ungu itu. “Kamu mau masuk kedokteran?”
Caleb tertawa kecil, melempar pulpennya ke arah kertas-kertas yang berserakan di depannya lalu badannya menyender ke kursi. “Bisa mati aku, Zayne. Belum masuk aja aku udah eneg liat bacaan kamu!”
Zayne tersenyum kecil lalu lanjut melengkapi catatannya. “Nilaimu mencukupi kok.”
“Mencukupi buat masuk ke strata paling bawah,” dia mengerlingkan matanya. Caleb kembali duduk tegak, menyilangkan tangan dan mencondongkan wajahnya ke arah Zayne. “Kalau kuliah nanti kita bisa deketan kayak gini, kan lebih enak.”
Zayne tersenyum kecut. Meskipun tujuan kampus mereka sama, jurusannya berbeda, fakultasnya berbeda. Mereka sudah sering bersama sejak SD sampai SMA. Sepuluh tahun bersama, rasanya sedikit menakutkan harus berjauhan dengan Caleb.
“Kalau kita satu kota, kita masih bisa sama-sama,” jawab Zayne.
”Tapi kita gak sekelas lagi, gak bisa ke kantin bareng lagi.” Caleb menatap buku-buku yang berserakan di meja dengan mulut sedikit termanyun. Raut matanya ikut menunjukkan kesedihan. “Kita gak bisa duduk sebelahan lagi.”
Zayne menghela napasnya. ”Kita memang tidak bisa selalu bersama, kan?”
— ”Kita selalu pikir kita punya waktu.” —
Tahun ajaran hampir berakhir. Koridor sekolah lebih sepi dari biasanya. Siswa/i kelas tiga hanya masuk untuk mengikuti tutor tambahan atau kegiatan ekskul yang belum melakukan perpisahan. Semuanya berjalan seperti biasanya hingga Zayne mendengar percakapan di ruang guru bahwa Caleb telah membatalkan pendaftarannya untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Ketika mendengar itu, sekujur tubuh Zayne terasa dingin, seakan darahnya tidak lagi mengalir. Dua detik kemudian, tubuhnya kembali menghangat, namun jantungnya berdetak kencang. Seakan-akan atap di atasnya akan segera rubuh dan dinding di sampingnya akan hancur. Napasnya tersenggal, keringat mengucur dari dahinya.
Zayne tidak menyangka Caleb akan mengambil langkah ini—atau mungkin dia sudah menduganya namun tidak pernah mengindahkan kemungkinan itu. Kemungkinan terburuk untuknya karena Zayne tidak bisa menghubungi Caleb lagi sejak kejadian itu. Satu-satunya harapan Zayne adalah saat seleksi masuk atau ketika mereka kuliah, namun itu sudah tidak memungkinkan sekarang. Caleb mulai menghilang dari kehidupannya.
Setelah periode tes seleksi berakhir, Zayne mencoba untuk mengunjungi rumah Caleb dan Emmy, namun nihil. Meskipun ia telah bertanya ke sekitar, tidak ada yang tahu secara pasti dimana kakak-beradik itu berada. Ada yang mengatakan bahwa mereka pindah ke luar kota, ada juga yang bilang mereka kembali ke panti asuhan.
Tapi Zayne lebih tahu dari siapapun kalau Caleb benci panti asuhan itu dan karena dia sudah mendekati usia dewasa, tidak mungkin dia kesana. Apalagi meninggalkan adiknya sendirian di panti, itu lebih tidak masuk akal lagi. Emmy adalah prioritas Caleb. Karena itu, sangat mungkin kalau mereka pergi bersama-sama.
Tapi kemana? Dan kenapa?
Zayne sudah mencoba menghubungi Caleb, lewat telepon dan pesan yang tidak terhitung jumlahnya. Setiap hari. Berkali-kali. Nihil.
Ia bertanya ke semua orang yang mengenal Caleb, dari orang tuanya yang mengenal baik nenek mereka, sampai tukang mi ayam langganan Caleb dan Emmy. Tidak ada. Usahanya untuk mencari tahu lebih banyak mengenai Caleb tidak membuahkan hasil. Justru Zayne lah yang menjadi pembawa kabar bahwa Caleb menghilang ke teman-temannya. Harapannya hampir pupus. Caleb menghilang bagai asap putih yang melebur ke udara.
Kata-kata Caleb di hari pemakaman saat itu berputar ulang di kepalanya, terus menerus, mencoba mencari petunjuk tentang keberadaannya. Zayne baru tersadar sekarang bahwa Caleb benar-benar mengucapkan perpisahan hari itu. Tapi, meskipun ia sadar saat itu adalah kali terakhir ia akan melihat Caleb, tidak akan ada yang berubah. Caleb tidak akan memberitahunya dan Zayne tidak akan berani untuk menanyakannya. Karena jika Caleb bisa memberitahunya, Caleb sudah mengatakannya sejak awal ke Zayne. Tapi tidak ada percakapan berarti di hari itu selain perpisahan, jadi mungkin itu adalah pilihan terbaik Caleb saat itu dan Zayne mencoba menghargainya.
Sampai pada akhirnya, Zayne harus pindah ke luar kota untuk melanjutkan studinya dan saat itulah dia benar-benar menyerah untuk bertemu Caleb lagi. Ada sedikit harapan bahwa, entah bagaimana, Caleb berada di kota tempat dia melanjutkan studi, memenuhi janjinya untuk memastikan dia tidak pernah melewatkan jadwal makannya.
Tapi itu hanyalah harapan semu.
Ketika semester pertama dimulai, Zayne perlahan-lahan meninggalkan angan-angan itu. Meski begitu, bayangan laki-laki bernetra ungu itu masih merayap di pikirannya setiap kali dia memasak makanan untuk dirinya sendiri atau ketika perutnya kelaparan karena menghabiskan sepanjang hari menyelesaikan tugas dan pekerjaannya satu demi satu.
Makalah dan laporan yang tak ada habisnya membayangi tenggat waktu setiap minggunya, ditambah dengan proyek kelompok yang tak kunjung selesai dan terkendala dengan kurangnya komunikasi dan pertanggungjawaban, menyebabkan rasa lapar menjadi hal yang tidak masuk dalam prioritasnya, dan membuatnya sering lupa untuk melakukan apa yang ia sering sampaikan kepada pasiennya: makan teratur dan tidur yang cukup.
Dua puluh empat jam sehari terasa terlalu singkat dan tujuh hari dalam seminggu berlalu dalam sekejap. Bulan berganti tahun, dan siklus itu berulang terus menerus hingga ia memahami bagaimana waktu berjalan berbeda sebagaimana di masa lalunya. Sekarang, waktu bergerak lebih cepat tanpa henti. Zayne pun hampir tidak percaya bagaimana matahari terbenam secepat waktu terbit.
Ketika ia mencoba kembali menyamakan persepsinya terhadap waktu seperti di masa lalu, Zayne tersadarkan oleh pahitnya realita bahwa hal itu tidak mungkin lagi. Semuanya sudah berubah. Waktu tidak akan melambat dan malah akan semakin cepat berlalu. Karena itu, dia memilih untuk mengejar ketertinggalannya, menerima bahwa semakin cepat waktu berjalan, semakin jauh dirinya dari masa lalu.
Karena, semuanya hanya perlu waktu, bukan?
Untuk bisa beranjak, melanjutkan hidup, dan sembuh dari masa lalu.
Mungkin karena sekarang dia tidak memiliki sesuatu yang menghalanginya. Karena sekarang dia tidak terikat secara emosional pada apa pun—siapa pun. Mungkin karena itulah dia tidak perlu mengikuti kecepatan orang lain. Dia akhirnya bisa menemukan ritmenya sendiri. Dan dengan semua perjuangan dan beban yang ada, dia akhirnya bisa berdamai dengan waktu.
Dan hal itu membuahkan hasil. Enam tahun berlalu dan dia akan segera memasuki masa PPDS. Tak satupun dari teman kuliahnya di tahun pertama berada di tahap yang sama dengannya, jadi dia harus beradaptasi dengan para senior yang beberapa tahun lebih tua darinya. Dunianya kini dikelilingi oleh orang dewasa, dokter dan profesor yang tertarik padanya karena intelektualitasnya. Kesempatan yang tersedia baginya bagaikan daftar belanjaan yang dapat ia pilih sendiri mana yang ia butuhkan dan mana yang tidak, karena waktunya terbatas. Seperti uang, dia perlu mengalokasikan waktu dan tenaganya secara efisien.
Sesulit apa pun itu, dia berhasil mencapai puncak, masuk ke bagian tertinggi hierarki sosial untuk anak seusianya. Banyak yang menyanjungnya, seorang anak muda jenius yang menyelesaikan studinya beberapa tahun lebih awal dibandingkan anak sebayanya, membuktikan kemampuan yang luar biasa. Hal itu datang secara natural baginya karena dia tahu inilah yang pasti akan terjadi. Dia melihat orang tuanya berada di bawah sorotan yang sama sebelumnya, sehingga menjadi sebuah ekspektasi baginya untuk mengalami hal yang sama.
Dan benar saja.
Setiap orang yang mendengar ceritanya menginginkan kemampuan yang sama dengannya, tempat yang sama, kesempatan yang sama. Namun mereka tidak pernah mengetahui apa yang dia korbankan untuk mendapatkan semua itu.
Zayne tidak ingat kapan terakhir kali sepasang iris ungu itu tidak memenuhi kepalanya dengan bayang-bayang kehadirannya. Dia tidak ingat bagaimana rasanya hidup di luar kepala sendiri, tidak pernah peduli seberapa penuh atau kosong otaknya karena tidak ada yang perlu dipikirkan. Setiap pikiran yang muncul tertata rapi di lemari miliknya, tidak berantakan dan terbuka seperti perpustakaan yang asri.
Tapi, kini kepalanya menjadi gudang yang dipenuhi hal-hal tak bertuan, disimpan di sana sampai dia tau harus diapakan. Suatu hari mungkin ada yang akan mengambilnya, entah kapan. Tapi untuk saat ini dia menaruhnya asal hingga gudang itu penuh, tidak terurus. Hanya peduli bahwa apa yang ia taruh di sana akan tetap ada di sana. Namun bagaimanapun juga, gudang itu akan kehabisan ruang dan ketika saat itu tiba, Zayne tidak tahu apa yang akan terjadi. Dia tidak ingin tahu.
Dia sedang berada di pusat sorotan sekarang, jadi gudang yang berantakan itu tidak boleh menjadi terlihat. Dia tidak ingin gudang itu terbuka dan isinya berserakan karena dengan begitu, tempat itu akan benar-benar kosong. Segala hal yang masuk kesana dapat menjadi pengalih perhatian, sebagai suatu motivasi agar pikirannya selalu penuh. Selalu ada. Selalu tersimpan. Sehingga dia tidak bisa membiarkan isinya kosong.
“Apakah ada kabar mengenai Caleb?”
Dan saat itu juga, waktu seolah mengulur. Detik-detik yang biasanya melaju tanpa kenal ampun itu kini melambat, seperti memberi ruang bagi satu nama yang meluncur dari bibir ibunya—nama yang menggema seperti mantra, mengguncang ruang dan waktu. Nama itu menyeretnya kembali ke masa-masa ketika segalanya terasa lebih lambat. Ke masa ia masih berseragam putih abu-abu, tenggelam dalam tumpukan buku perpustakaan dan deretan soal try out . Sebuah masa yang sederhana, tapi tak pernah benar-benar pergi. Saking kuatnya tarikan kenangan itu, Zayne butuh waktu lebih lama untuk sekadar menjawab.
“Nggak…”
Suaranya hampir tercekat. Hampir. Zayne pun kaget terhadap reaksi suaranya sendiri. Untungnya, ibunya tidak menyadarinya.
“Sekarang, seharusnya adiknya sudah masuk kuliah kan? Dia kuliah juga gak ya?”
Rasanya seperti ada tali yang mengikat kuat di sekitar dadanya hingga terasa sesak. Bahkan rasanya bernapas menjadi lebih sulit ketika mendengar pertanyaan itu. Zayne menahan napasnya, menyiapkan dirinya untuk menjawab lagi.
“Aku…tidak tahu,” hanya itu yang bisa dikerahkan Zayne untuk menjawab ibunya.
Ibunya menghela napas. “Sepertinya tidak, ya? Kasihan sekali Caleb itu, dia harus menjaga adiknya tanpa bantuan dari siapapunn. Bahkan neneknya tidak meninggalkannya harta apa pun.”
Zayne langsung melihat ke arah ibunya yang sedang mengambil yoghurt dari kulkas. “Nenek mereka tidak meninggalkan apa-apa?”
Ibunya mengangkat bahu. "Jika dia meninggalkan rumah untuk mereka, mengapa mereka harus pindah?”
Itu masuk akal. Tetapi tidak masuk akal untuk Caleb yang pindah tanpa memberitahunya. Meskipun Caleb tidak pernah memiliki perasaan yang sama tentang hubungan mereka seperti dirinya, mereka cukup dekat.
Cukup dekat untuk menjaga persahabatan mereka selama sepuluh tahun. Cukup dekat untuk saling menawarkan masakan satu sama lain ketika mereka masuk ke perguruan tinggi yang sama. Cukup dekat untuk berjanji bertemu satu sama lain ketika waktu liburan tiba, bahkan ketika mereka berjarak jauh nantinya.
Cukup dekat hingga Caleb menunjukkan sisi lemahnya dalam pelukan Zayne hari itu—yakni titik balik hubungan mereka.
Dan dia masih menghilang tanpa jejak.
Dia bertanya-tanya jika dia lebih jujur tentang perasaannya di perpustakaan saat itu, apakah akhirnya akan berbeda? Akankah Caleb setidaknya memberitahunya tentang keberadaannya?
Ketika Zayne menyadari isi pikirannya, dia menertawakan dirinya sendiri.
Sudah enam tahun berlalu dan dia masih dihantui oleh anak laki-laki bernama Caleb.
— ”Lalu kita pilih untuk nanti dulu.” —
Caleb menatapnya. Pria dengan kacamata itu seperti sedang menghindari tatapannya. Tapi dari gelagatnya yang seperti ingin menulis tapi tidak kunjung menulis, Caleb tahu kalau Zayne sedang menyembunyikan perasaan sebenarnya.
”Idealnya sih bisa.” Caleb bersandar ke kursinya lagi, mengangkat pena dengan Evol-nya dan memutarnya di udara. “Idealnya kita bareng, terus menerus.”
Zayne terdiam sejenak. “Sampai kapan?”
Caleb mendengus tersenyum. “Idealnya?” Ia mencari mata Zayne yang ternyata telah menunggunya. “Sampai setelah kuliah. Sampai kamu menyelesaikan med school , sampai aku bisa dapat pekerjaan tetap.”
Keheningan kembali terasa. Caleb ingin melanjutkan, akan tetapi dia tidak yakin apakah dia ingin melewati batas itu. Dia tidak tahu apakah mengatakannya pada Zayne saat ini adalah ide yang bagus. Dia tidak bisa membayangkan reaksi Zayne jika dia mengatakannya.
”Lalu?” Zayne bertanys lagi.
Tapi Caleb tidak bisa. Dia tidak sanggup.
Lagipula, mereka masih punya waktu.
“Entahlah, siapa tahu?” Caleb melengos, senyumnya menggoda dan Zayne kelihatan bingung karena ia segera mengalihkan pandangannya.
“Kalau nanti kamu udah sukses jadi dokter, jangan lupain aku ya!” Celetuk Caleb lagi.
”Kamu bukan orang yang mudah dilupakan,” jawab Zayne sambil menata ekspresinya lagi.
”Aduh, berarti kamu bakal kangen aku dong kalau kita pisah.”
Zayne tersenyum balik kearahnya. “Idealnya, kita gak harus berpisah.”
Jantung Caleb berdegup. “Aww, kamu gak mau pisah juga dari aku?”
Zayne tidak menjawab. Sebaliknya, dia melihat ke arah jendela, mengamati lampu-lampu kota. "Sepuluh tahun sudah kita berteman bersama. Rasanya baru kemarin kita bermain rumah-rumahan dengan adikmu.”
Caleb hampir tertawa lepas sebelum Zayne menepisnya, takut mereka akan dikeluarkan dari perpustakaan. "Kita sering bertengkar tentang siapa yang akan berperan sebagai ayah karena Emmy selalu menjadi ibu."
"Maksudmu, kamu bertengkar dengan Emmy apakah kamu yang harus menjadi ayah atau aku," Zayne mengoreksi.
Caleb mengangkat bahu. "Lebih masuk akal jika aku yang menjadi ayahnya.”
Zayne menggelengkan kepalanya. "Itu setelah kamu berdebat dengan Emmy karena dia lebih muda, dia seharusnya berperan sebagai anaknya. Entah bagaimana aku menjadi peran ibu."
"Kamu tidak pernah mempermasalahkannya."
"Setelah kalian berdua berdebat soal peran itu, aku tidak ingin mengganggu suasana..."
Caleb masih menahan tawanya. "Kamu adalah 'ibu' yang baik"
Zayne tersenyum sambil menghela napas. "Terima kasih, sayang ."
—”Tapi semua yang kau cinta akan pergi.”—
Zayne pikir dengan memblokir pikiran mengenai Caleb, ia bisa berhenti membayangkan wajah pria dengan netra ungu itu di tengah kerumunan, berhenti berharap untuk menemukannya di jalan yang telah ia lewati seribu kali, berhenti merasakan perasaan yang terus muncul ketika mengingat sedikit saja tentangnya. Zayne kira, ketika Caleb tidak lagi menjadi hal pertama yang ia pikirkan saat seseorang bertanya tentang status percintaannya, dia akhirnya bisa lepas dari bayang-bayang Caleb dan perasaannya terhadap anak laki-laki itu. Tapi sungguh, siapa sebenarnya yang sedang ia bohongi?
Dia melihat ke arah mejanya, penuh dengan buku-buku medis dan sebuah piala yang baru saja dia dapatkan, satu dari sekian banyak koleksi miliknya yang nantinya akan bertengger selamanya di lemari. Melalui kaca jendela besar di kamarnya, ia melihat salju yang turun dari langit malam, lalu perlahan mengalihkan fokusnya ke pantulan kamarnya yang terang dan hangat.
Bertahun-tahun yang lalu, dia membuat alasan, memikirkan penjelasan logis tentang apa yang mungkin membuat Caleb harus melakukan apa yang dia lakukan. Saat itu, ia masih terlalu muda dan naif tentang cara bekerja dunia. Emosinya menutupi penilaiannya dan menyalahkan Caleb yang menghilang tanpa memberitahunya.
Dia tidak pernah memikirkan kembali kejadian itu dan sekarang setelah mendengar namanya lagi, dia mencoba untuk menghapus potongan-potongan yang tersisa dalam ingatannya tentang Caleb.
Caleb .
Segala sesuatu tentang ingatan masa SMA-nya selalu berkaitan dengan Caleb. Makanan favorit mereka di kantin, tempat persembunyian Caleb saat ia sengaja tidak masuk kelas, lapangan basket tempat ia bermain sepulang sekolah, guru-guru olahraga yang bersikap pilih kasih kepadanya, guru fisika yang selalu memergokinya saat ketiduran di kelas, kepala sekolah yang entah bagaimana bisa menjadi akrab dengannya, petugas kebersihan yang selalu memberinya akses untuk menggunakan peralatan olahraga.
Di waktu itu, Zayne tidak merasa bahwa gudangnya terasa penuh dan menyesakkan. Pada saat itu, pikirannya tertata rapi, seperti perpustakaan yang bersih dan terawat.
Saat itu, dia tidak terjebak di dalam kepalanya sendiri. Saat itu, ada Caleb di sisinya.
—” Maka tunjukkan cintamu sebelum terlambat .”—
"Terima kasih, sayang ."
Lagi-lagi, jantung Caleb hampir melompat keluar dari tulang rusuknya dan dia langsung mematung. Setelah memastikan jantungnya tetap berdetak dengan kencang di dadanya, ia menatap Zayne. "Hah?" Sebuah reaksi bingung yang juga seperti pertanyaan, tapi terdengar seperti sedang mencari penegasan.
Menyadari apa yang baru saja dikatakannya, Zayne dengan cepat menjelaskan. "Itu sebutan yang biasa aku pakai untuk memanggilmu yang seorang ayah, ingat kan? Emmy memaksaku untuk memanggilmu seperti itu saat kita bermain.”
Begitu mendengar penjelasannya, Caleb tertawa canggung. Jantungnya terasa seperti diobrak-abrik. ”Oh…hahaha, benar juga…”
“Maaf, aku tidak kepikiran—“
”Eh, enggak! Gak apa-apa. Tadi aku cuman…udah malem sih jadi otakku agak nge- lag , maaf.”
”Oh iya, sudah larut. Kalau begitu, kita pulang sekarang?”
Caleb tidak merespon pertanyaannya. Justru—
“Zayne.”
”Hm?”
“Jika waktunya memungkinkan, bisakah kita nongkrong bareng lagi ketika sudah kuliah? Bisa saja saat liburan.”
"Tentu. Kita bisa ajak Emmy juga."
"Nggak," kata itu keluar begitu saja, lebih cepat dari yang bisa dia proses, "Maksudku, hanya kita berdua."
Zayne menatap sepasang mata ungu di hadapannya, menemukan semua ekspresi yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya—ekspresi yang ia pikir tidak bisa dimengerti hanya dengan sebuah tatapan. Namun nyatanya, tidak ada penjelasan yang diperlukan. Memahami hanya karena dia mengerti. Sesederhana itu.
"Tentu saja," jawab Zayne. Tapi dia juga seorang pengecut, tidak berani menghadapi apa yang ada di balik ekspresi itu. "Kita tidak perlu pergi jalan-jalan ke luar. Aku akan memasakkan sesuatu untukmu di rumahku."
Caleb menaruh dagunya di telapak tangannya, memandang Zayne dengan senyuman jahil. "Tapi aku lebih jago masak daripada kamu."
"Kamu nantangin aku?"
"Mana tega aku minta seorang mahasiswa kedokteran yang sedang stres untuk memasak untukku."
Zayne terkekeh. "Jika kita bertemu di hari libur, maka aku pasti punya waktu memasak makanan untukmu."
Senyum Caleb semakin lebar. "Jadi kalau bukan hari libur, aku yang masak?"
Zayne menghela napas, menyerah. "Kalau itu yang kamu mau."
"Memang itu yang aku mau. Bahkan, aku akan membuatkanmu bekal jika kita diterima di kampus yang sama."
Zayne tertawa. "Kamu juga akan sibuk, tahu? Tidak hanya mahasiswa kedokteran yang sibuk dengan kuliah.”
Caleb mengedikkan bahu. "Aku udah sering memasak untuk keluargaku. Memasak untuk satu orang lagi mah, gampang!”
Kata-kata sederhana itu membuat jantung Zayne berdetak lebih cepat. Tidak ada yang aneh dari kata-kata Caleb. Dia hanya mengatakannya dengan santai, tanpa beban. Namun di benak Zayne, ada suatu bisikan harapan. Harapan yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat pada kemungkinan sesuatu yang dia terlalu takut untuk mengutarakannya dengan lantang.
“Zayne?”
Lalu, aku ini apa bagimu?
Tapi dia terlalu pengecut untuk mengatakan itu. "Kamu tidak perlu melakukannya. Aku bisa memasak sendiri."
Caleb cemberut. "Tapi aku mau. Boleh ya?" Dia menatapnya dengan tatapan memelas sehingga Zayne tidak bisa menahan senyum yang merekah di wajahnya.
"Kita harus berada di kota yang sama biar kamu bisa ngasih aku bekal," kata Zayne.
"Kalau gitu, aku pastikan kamu gak akan skip makan," kata Caleb, penuh percaya diri. "Aku jamin, kamu gak akan kena asam lambung!"
"Aku tidak ada riwayat terkena asam lambung."
"Yah, siapa tahu?”
Tawa kecil mereka berdua menggema di perpustakaan, nyaris terdengar oleh mereka yang duduk di kejauhan. Tapi tidak ada yang mengganggu mereka—mungkin terlalu lelah untuk mengadu atau terlalu sibuk untuk peduli. Hari sudah larut dan kesunyian perpustakaan yang pekat menyelimuti setiap orang. Namun, di sudut jauh perpustakaan, kedua remaja itu berada dalam gelembung kecil mereka sendiri, sebuah dunia yang terpisah dari kesuraman yang menyelimuti seluruh ruangan. Sebuah ruang bagi mereka untuk menemukan kesenangan, untuk menjelajahi masa depan yang jauh yang terasa asing, namun penuh dengan segala kemungkinan.
Siapa yang menyangka bahwa salah satu dari merekalah yang akan memecahkan gelembung itu?
"Maaf, Zayne."
Itulah hal pertama yang dikatakan Caleb kepadanya secara langsung ketika dia menghadiri pemakaman neneknya.
Semuanya terjadi dalam sekejap mata. Zayne langsung melompat dari tempat tidurnya saat membaca pesan Caleb yang dikirim pada tengah malam. Mereka mengalami kecelakaan lalu lintas dan Zayne segera bertanya kepada orang tuanya apakah mereka dapat memeriksa nama Caleb dan Emmy di rumah sakit tempat mereka bekerja.
Untungnya, keduanya selamat. Sayangnya, salah satu dari mereka tidak.
"Kenapa kau meminta maaf?" Zayne menariknya ke dalam dekapan. "Aku akan selalu ada di sini kapanpun kamu membutuhkanku."
Caleb tidak mengatakan apa-apa. Dia kembali memeluknya dan membenamkan wajahnya di bahu Zayne. Zayne berani bersumpah bahwa ketegangan Caleb perlahan mengendur dan pelukannya semakin erat.
" Semuanya akan baik-baik saja," bisik Zayne dengan lembut sambil mengusap punggungnya. Dia bukanlah tipe orang yang suka dengan sentuhan fisik, tapi hari ini berbeda. Hari ini ada pengecualian yang harus dibuat, terutama untuk Caleb.
"Caleb?" Sebuah suara kecil yang lirih menarik perhatian mereka. Sebelum Zayne dapat melihat sumber suara itu, Caleb segera melepaskan diri dari pelukan dan membalikkan badannya ke arah seorang gadis kecil, matanya merah dan sembab, tampak kelelahan karena menangis.
"Emmy," Caleb merangkulnya dan seketika, anak laki-laki yang tadi tampak lemah dalam pelukannya telah hilang, tergantikan oleh sosok tegar yang segera menghibur adik perempuannya yang membutuhkan. "Maaf, aku sedang berbicara dengan Zayne. Apakah kamu capek?"
Dia mengangguk lemah sebelum melirik ke arah Zayne. Dia menganggukkan kepalanya sedikit dan Zayne melakukan hal yang sama, sebuah pertukaran senyap di antara mereka. Emmy menggenggam tangan Caleb dengan kuat dan Zayne dapat melihat bahwa dia sedang menahan air matanya agar tidak menangis lagi.
"Sehabis ini kita pulang, oke? Aku hanya perlu berbicara dengan..." mata Caleb melihat seseorang di kejauhan. Ketika dia hendak berjalan pergi, dia berbalik untuk melihat Zayne. Senyuman pilu tergambar di wajahnya saat ia mengucapkan kalimat yang tak pernah diharapkan Zayne untuk didengar.
"Selamat tinggal, Zayne."
Ada bagian dari diri Zayne yang berharap Caleb tidak mengatakannya dengan arti yang sebenarnya. Dia berharap itu hanya sebuah kekeliruan dan mereka akan segera bertemu lagi.
Bagaimanapun juga, mereka sudah membicarakan masa depan mereka bersama.
— ”Kita selalu pikir kita punya waktu.” —
Lalu kini Caleb muncul lagi di hadapannya, terluka dan tak sadarkan diri di atas ranjang UGD. Dia hampir membeku di tempat saat mengenali wajah itu.
Ada keributan lain di ranjang sebelah, keributan yang meresahkan siapapun yang mendengarnya. Zayne sudah tahu apa yang akan terjadi. Dia telah melihatnya berkali-kali di ruang UGD. Para dokter dan perawat bergerak secepat mungkin, berlomba dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa seseorang. Zayne mengenali wanita yang terbaring di sana dengan EKG yang menunjukkan denyut nadi yang lemah. Dia melihat petugas medis melakukan CPR pada wanita itu dan dari penampilannya, dia sudah tahu hasilnya. Dia melihat monitor yang menunjukkan denyut nadi wanita itu semakin lemah dari setiap detiknya.
Dokter muda itu menatap monitor dengan penuh harap, berdoa kepada apapun yang dapat mengabulkan harapannya agar teman masa kecilnya selamat, agar temannya selamat . Tapi jauh dalam lubuk hatinya, dia tahu berdoa itu sia-sia, dan menaruh harapan di dalamnya hanya akan menggandakan rasa kecewa dalam dirinya.
Karena nyatanya hanya ada garis lurus yang tersisa di monitor yang terhubung dengan tubuh temannya itu. Hanya ada pekikan nyaring monitor, menggantikan suaranya sendiri yang hilang ketika ia tersungkur di lantai UGD, menyaksikan wajah Emmy kehilangan segala rona dan jejak kehidupan.
Ditengah keputusasaan itu, mata Zayne melirik ke arah monitor Caleb. Terdapat garis zig-zag di sana, detak jantungnya normal. Dia selamat. Caleb hidup.
Tapi tidak ada kelegaan di sana.
Zayne kehilangan temannya malam itu.
Namun Caleb kehilangan adiknya.
Lagi-lagi, waktu tidak berjalan sesuai dengan persepsinya. Kain putih telah dibentangkan di atas muka Emmy. Gadis manis yang selalu tersenyum itu sudah tidak ada lagi. Bahkan Zayne tidak bisa melihat senyumnya untuk terakhir kali. Telinganya harus mendengar dokter di samping tubuh yang rapuh itu mengumumkan waktu kematiannya.
Seharusnya Zayne sudah kebal dengan situasi ini karena dia sendiri sudah pernah berkali-kali mengumumkan kematian seseorang ketika sudah tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan di sana. Zayne tahu dengan baik hal itu. Namun itulah yang membuat situasi ini lebih menyakitkan untuk dirinya.
Bukannya kebal, tubuh Zayne justru seakan menyerap rasa sakit yang seharusnya tidak ia rasakan—rasa yang asing, menyesakkan, dan terlalu nyata. Dadanya terasa dihimpit gua sempit tanpa celah, menahannya untuk tetap berdiri di sana, menyaksikan segalanya tanpa bisa lari. Tangannya mengepal begitu kuat hingga kuku-kukunya menembus kulit telapak, mencoba menciptakan rasa perih yang bisa menjaganya tetap terjaga. Tapi bahkan untuk sekadar menelan ludah pun terasa mustahil. Tenggorokannya tercekat, seolah disumpal kain basah, menolak semua bentuk pelarian.
Tiba-tiba terdapat suara nyaring yang menarik perhatiannya; bunyi ringtone ponsel yang berasal dari kantong Emmy.
Perawat di dekatnya mengangkat ponsel yang langsung dikenali Zayne—ponsel Emmy, dengan warna favoritnya dan hiasan kecil di sekelilingnya. Zayne segera melangkah maju.
“Dokter Zayne, Anda mengenal pasien ini?”
Ia mengangguk pelan. “Dia… temanku.”
Perawat itu menatapnya penuh iba. “Saya turut berduka, dokter Zayne. Maaf. tapi bisakah Anda menghubungi keluarga atau kerabatnya?”
Zayne menoleh perlahan ke ranjang di sampingnya. Caleb masih terbaring tak sadar, seperti tenggelam dalam mimpi buruk yang tak ia tahu sedang terjadi.
“Akan saya urus,” ucapnya pelan.
Pertemuan kembali yang dulu sempat ia harapkan, kini hadir dalam rupa yang mengiris. Bukan sebagai pengobat rindu, melainkan sebagai ironi yang ditulis oleh takdir. Tak ada suka cita. Tak pula amarah. Hanya sunyi yang menggantung dan sebuah penantian yang tak lagi tahu apa yang ditunggu.
Caleb dipindahkan ke ruangan lain dan Zayne kembali ke pekerjaannya. Menyibukkan diri sambil menerka-nerka bagaimana cara dirinya mengantarkan kabar bahwa Emmy telah meninggal kepada Caleb. Ponsel Emmy tersimpan dengan baik di sakunya, tidak berdering lagi sejak deringan terakhir di UGD.
Kali ini, meskipun ekspresinya tetap tenang—demi menjaga profesionalisme—jauh dalam hatinya ia sangat rapuh dan tertekan, seakan dia berjalan dengan batu besar yang terikat di dadanya. Dan jika dia berhenti bergerak, dia akan terpenjara dalam pikirannya sendiri, tenggelam dalam penyesalan dan kesedihan.
Zayne cepat-cepat menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran buruk dan melanjutkan pekerjaannya.
Waktu akan terus berjalan dan dia tidak bisa tertinggal lagi.
Karena itu dia melanjutkan pekerjaannya hingga shift -nya selesai, hingga pada akhirnya, dia bisa menunggu Caleb di ruang pasien. Bukan sebagai dokter atau tenaga medis, tapi sebagai temannya.
Saat Caleb perlahan terbangun, bulu matanya bergetar di bawah cahaya putih tajam lampu rumah sakit, Zayne sudah ada di sana—menunggu dalam diam.
Diperhatikannya napas Caleb sampai menemukan iramanya kembali, hingga kabut di matanya menguap, digantikan oleh kesadaran perlahan menyeruak.
“Zayne?”
Suaranya serak, lebih berat dari yang ia ingat. Zayne memaksakan tersenyum, tapi langsung lenyap sebelum sempat sampai ke matanya, terlalu lelah untuk bersandiwara.
“Bagaimana perasaanmu? Apakah…kamu tahu di mana kita sekarang?”
Sepasang mata ungu itu mengernyit, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya yang menyilaukan, lalu melihat sekeliling, menyapu ruangan perlahan.
“Ini…rumah sakit?”
Caleb mengerang pelan, berkedip beberapa kali, lalu—akhirnya—menoleh ke arah Zayne. Tatapan mata yang sedikit berbinar dan senyuman kecil diarahkan kepadanya. “Kamu benar-benar menjadi dokter,” ucap Caleb dengan suara paraunya namun ketulusannya masih terdengar jelas, “syukurlah.”
Dan saat itulah, ada sesuatu dalam diri Zayne yang hampir hancur. Kelembutan yang menyakitkan, membuat napas Zayne tersengal-sengal di dadanya. Untuk sesaat, semua tahun yang memisahkan mereka runtuh. Caleb benar-benar di hadapannya. Dia di sini. Hidup, bernapas, terluka, nyata.
Ada bagian dari diri Zayne yang ingin menceritakan segalanya, berbagi apa yang terjadi selama mereka berpisah. Tapi ini bukan waktunya untuk itu. Karena sekarang, momen ini bukan tentang mereka berdua.
Ia menelan ludah. Jari-jarinya sedikit gemetar di sisinya. Lalu, dengan perlahan, Zayne mulai membuka mulutnya.
“Caleb,” panggilnya, “ada…hal yang perlu kamu dengar.”
Caleb menatap Zayne dengan lekat—seperti sudah menerka apa yang akan dikatakannya, seolah ada bagian dirinya yang telah melalui masa-masa kritis tadi, bahkan dalam keadaan tidak sadar.
Tapi Zayne tetap melanjutkannya. Ini bukan pertama kalinya dia menjadi pembawa berita duka kepada keluarga pasien. Namun, hal seperti ini tidak menjadi lebih mudah meski sudah berulang kali dilakukan. Karena terkadang, mengetahui sesuatu dan mendengarnya langsung adalah dua hal yang berbeda.
"Ini tentang Emmy," ucapnya dengan hati-hati. "Dia sudah meninggal."
Ruang pasien itu seketika menjadi lebih dingin dan sunyi.
Caleb tidak bereaksi. Matanya dialihkan ke langit-langit—seperti berharap ada sesuatu di sana. Lalu melalui matanya, Zayne menyaksikan bagaimana segala sesuatu dalam dirinya menjadi hancur berantakan.
Zayne tidak berani bersuara lagi, seakan-akan tiap kata telah tercekat di tenggorokannya.
Tidak ada cara yang mudah ketika menyampaikan kabar duka. Hanya penyampaian yang lugas untuk mempersingkat waktu.
Zayne memperhatikan bagaimana cahaya di mata Caleb lama-lama memudar, digantikan oleh sesuatu yang lain. Bukan amarah ataupun penolakan. Hanya... penerimaan yang nyaris tanpa rasa. Seakan hati sudah tahu, tetapi berharap—memohon—agar dugannya salah.
Mata Caleb masih terbuka, namun terasa berjarak. Jarak menyesakkan yang membuat Zayne merasa mual. Di sana terbesit kedamaian—namun bukan yang melipur lara, melainkan yang hadir hanya untuk menutup segalanya.
Zayne tidak bisa mengatakan apapun yang bisa menguatkan. Saat ini, mereka terasa seperti dua orang yang tidak pernah dekat sebelumnya.
“Aku akan beri kamu ruang untuk sendiri dulu,” ucapnya dengan pelan sebelum keluar dari kamar pasien. Namun, meski pintu di belakangnya telah tertutup, Zayne masih tidak bergeming dari sana. Kakinya terasa berat untuk melangkah lebih jauh dari kamar itu. Dari Caleb.
Dirinya seperti menemukan jangkar setelah terombang-ambing sekian lama—namun rasanya tak pantas untuknya menggenggam sauh yang akhirnya berada di jangkauannya.
Jika waktu mereka tidak pernah terhenti, Zayne pasti tetap di dalam sana, menguatkan Caleb entah dengan kata-kata atau sekedar menggenggam tangannya. Setidaknya dia akan berada di samping Caleb. Setidaknya dia akan melakukan sesuatu.
Tapi itu hanyalah skenario semu.
Saat ini, mereka hanyalah teman lama yang baru bertemu lagi.
Setelah bertahun-tahun tanpa bertukar kata, sekarang hanya ada ruang kosong yang terukir di antara mereka. Waktu mereka telah terhenti sekian lamanya. Untuk meminta jarum berdetik kembali seperti sedia kala terasa memberatkan. Apalagi untuk bergerak berirama lagi sebagaimana seharusnya.
Mereka bukan siapa-siapa lagi.
Tidak terlalu jauh sampai menjadi asing, namun tidak cukup dekat hingga bisa disebut sesuatu yang lebih.
Mungkin jika Zayne mencoba—benar-benar mencoba—untuk hanya menjadi teman bagi Caleb, mendampinginya setelah menyampaikan kabar duka mengenai Emmy, mungkin dia tidak perlu merasa bersalah seperti ini.
Nyatanya, dia meninggalkan Caleb sendirian di dalam kamarnya dan menyesali tiap detik yang terlewat dengan dirinya tidak berusaha masuk kembali ke kamar. Namun, meski rasa bersalah yang dirasakannya berat dan menyesakkan, Zayne memilih untuk berjalan pergi dari sana. Kemanapun kakinya membawanya.
Sesak itu merambat, dari dada hingga kepala. Napasnya memberat, begitu pula kepalanya. Rasa bersalah itu memanifestasi menjadi suara samar di telinga hingga terasa pengang.
Langkahnya semakin cepat, beriringan dengan rasa bersalah yang semakin bising. Dilewatinya koridor, perawat, pasien-pasien yang masih tersisa di ruang tunggu rumah sakit yang saling berbicara. Suara-suara di tengah rumah sakit itu membuat kebisingan di kepalanya mereda, tapi Zayne butuh lebih.
Dia butuh kebisingan yang lebih. Karena itu langkahnya tidak berhenti sampai akhirnya dia berada di luar.
Suara klakson mobil dan motor bercampur menjadi satu. Cahaya lampu jalanan bercampur dengan pendar merah kendaraan dan kuning lampu sorot, berbaris dengan terpaksa. Terdengar sirine polisi di antara kemacetan itu, diikuti dengan lampu biru-merahnya yang berkedip menyilaukan. Beberapa pengendara berteriak dan mengeluh frustasi, menghadapi kemacetan yang tak kunjung bergerak entah sejak kapan.
Hanya ada kebisingan di sini. Sesuatu yang Zayne butuhkan untuk meredam kebisingan di kepalanya.
Dirinya berdiri di tepi jalan, merasakan angin malam yang dingin menusuk kulitnya, membiarkan kesemrawutan di depannya meredamkan pikiran buruknya itu.
Sayangnya, meski dengan segala kegaduhan di jalanan, itu saja tidak cukup.
Tidak cukup untuk menenggelamkan kenangan masa SMA-nya yang muncul kembali.
Tidak cukup untuk menghilangkan wajah Emmy yang terbaring di ranjang rumah sakit.
Tidak cukup untuk membungkam sesal yang menggerogoti kepalanya, arogansi yang membanjiri hati menyebabkan dirinya tidak berada di sisi Caleb di saat ia membutuhkan.
Napasnya tercekat, udara dingin membakar paru-parunya disaat air mata tertahan di balik pelupuk matanya. Zayne berusaha mengatur napasnya kembali, mengamati pendar-pendar benderang diikuti kumandang kendaraan beroda di jalan raya dan sahutan emosi beberapa pengendara kepada satu sama lain. Distraksi sementara dari bisikan di kepalanya.
Satu tarikan napas. Kedua. Ketiga.
Dia tegakkan kembali dirinya, menyeka matanya sebelum air mata sempat jatuh dari sana. Karena jika ia membiarkan dirinya hancur di sini, di jalanan yang bising ini, semuanya akan runtuh. Kenangan, sesal, beban tak tertahankan dari apa yang telah hilang—dan apa yang tak pernah sempat diucapkan.
Zayne menoleh ke belakang, ke lampu-lampu rumah sakit yang masih akan terus menyala. Dia tahu kalau dia harus masuk kembali ke sana. Karena di dalam sana, Caleb ada di salah satu kamar, bergulat dengan kesunyiannya sendiri.
Ini bisa jadi kesempatan terakhirnya. Untuk membangun jembatan pada jurang yang tengah tercipta di antara mereka. Biarlah jurang itu tetap ada, asalkan mereka masih bisa terhubung entah bagaimana. Entah seperti apa.
Ia mendongak sejenak, menatap langit malam dan membiarkan kebisingan jalanan meredam bisikan untuk tidak kembali. Dia sudah memantapkan hati. Setelah menarik napas sekali lagi, Zayne mulai berjalan kembali ke rumah sakit, ke kamar Caleb, ke tempat di mana kata-kata masih perlu diucapkan.
Namun yang mengejutkannya, Caleb sudah berdiri di depan meja resepsionis—masih pucat, tetapi berdiri tegak dan tegap. Melihatnya yang seperti itu malah terasa lebih aneh dibandingkan jika ia mendapatinya hancur dan menangis.
Ia masih mengenakan seragam yang sobek sejak pertama kali tiba di sini di atas tandu. Anehnya, terlepas dari kondisi Emmy, Caleb tidak mengalami cedera serius di tubuhnya.
Tangannya bertumpu biasa di atas meja, berbicara dengan perawat dengan begitu tenang. Namun, ada sesuatu yang tertahan dalam posturnya, seperti benang yang ditarik kencang tepat di bawah permukaan kain.
Ia berbalik seolah merasakan kehadiran Zayne di belakangnya. Tatapan mereka bertemu—dan untuk sesaat, tak satupun dari mereka bergerak.
Zayne membuka mulutnya, tetapi suaranya tidak keluar. Kata-katanya tercekat di tenggorokannya—permintaan maaf yang ia pikir seharusnya ia ucapkan—larut begitu ia melihat raut wajah Caleb.
Bukan amarah ataupun duka.
Sesuatu yang mirip seperti kekosongan. Persis seperti yang dirasakan oleh Zayne sendiri.
Untuk sesaat, hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Hingga Caleb berbalik ke arah perawat yang ia ajak bicara dan Zayne melangkah mendekat—akhirnya memberanikan diri ketika Caleb tidak melihat. Ia mengangguk ke arah perawat sebagai sapaan singkat.
“Katanya shift -mu sudah berakhir,” ucap Caleb tiba-tiba. “Aku dengar dari perawat.”
"Oh," Zayne merespon singkat, sedikit terkejut karena Caleb tiba-tiba memulai percakapan. "Aku... tidak bisa—" dan lagi-lagi, suaranya tercekat. Pikirannya terlalu kabur untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan Caleb. Zayne cepat-cepat menyembunyikan kepanikannya di balik wajah tanpa ekspresi itu, tetapi keheningan canggung yang mengikuti tak bisa terelakkan.
Untungnya, Caleb segera mengganti topik. "Aku baru selesai menandatangani beberapa dokumen Emmy."
Zayne langsung menatapnya, matanya melebar karena terkejut. Dia tidak bisa membaca ekspresi pria di depannya. Tidak mungkin Caleb yang dikenalnya akan setenang ini—terutama setelah mendengar kabar adiknya telah tiada.
Apalagi tepat setelah dia bangun?
Baru beberapa menit terlewat setelah Caleb diberitahu tentang keadaan adiknya. Zayne pikir setidaknya dia akan menangis atau marah setelah mendengarnya. Tapi ternyata tidak.
Siapa pun bisa melihat kelelahan dan kekosongan di mata Caleb, tapi dia terlalu tenang sampai-sampai terasa mengkhawatirkan.
Melihat wajah Zayne, Caleb menghela napasnya. "Seharusnya kau lebih mengkhawatirkan dirimu sendiri dibanding aku."
Zayne tak bisa menyembunyikannya lagi. Kebingungan dan kekhawatiran terpancar begitu jelas di wajahnya yang biasanya tenang. "Caleb..."
Caleb menepuk bahunya dua kali lalu berjalan menuju kamarnya. Zayne terdiam sejenak, merasa ia tak seharusnya mengikutinya. Seolah mereka berada di ujung tebing yang berbeda, dipisahkan oleh jurang yang sangat besar.
Dan Caleb meninggalkannya. Lagi.
Tapi bukankah dia ingin membangun jembatan di jurang itu?
Ia hendak menyusulnya, tapi kakinya bergerak hanya setengah langkah sebelum terhenti. Tubuhnya menjadi berat untuk melangkah, seakan lantai putih rumah sakit telah menyatu dengan sepatu sketchers -nya. Dan sebagian dari diri Zayne turut merasa bahwa memang sebaiknya Caleb tidak perlu dikejar lagi. Mungkin hubungan mereka sudah tidak bisa dijembatani lagi. Mungkin ini benar-benar akhir dari apapun yang tersisa di antara mereka.
Tapi, ketika dia ingin membalikkan tubuhnya, tangannya menemukan ponsel Emmy di dalam sakunya. Zayne menggenggamnya erat, mengingat Emmy di saat-saat terakhirnya. Setidaknya ia harus mengembalikan ponsel ini kepada Caleb, bagaimanapun caranya, haruslah ia yang mengembalikannya. Maka ia pun mengikuti Caleb ke kamarnya.
Ia membuka pintu dan mendapati Caleb berdiri di dekat jendela. Udara dingin menerpa kulitnya, tetapi ia tak peduli. Perhatiannya tertuju pada punggung Caleb, sedikit berbeda dari yang ia ingat. Anehnya, terlihat lelah namun tegar. Tertekan namun bebas.
Bunyi pintu menggema di ruangan sebelum menghilang ke dalam atmosfer yang berat. Meskipun begitu, ruangan itu sunyi dan redup. Udara dingin mengalir dari jendela, mengibaskan tirai tipis di udara.
Zayne menggenggam erat telepon, seolah memberinya keberanian untuk membuka mulut lagi.
"Caleb," ia menahan napas. "Ini ponsel—"
Ponsel itu berdering lagi dari balik kantong Zayne. Nada dering familiar yang hanya dipakai oleh Emmy, bergema di ruangan kosong itu dan Zayne hanya bisa menatapnya.
"Siapa?" tanya Caleb dengan tenang.
Zayne segera mengeluarkan telepon itu dan membaca layarnya. "Dari... Tara?"
Seketika telepon itu mati. Zayne membaca notifikasi yang muncul dan menemukan 56 panggilan tak terjawab dari kontak bernama 'Tara'.
Tiba-tiba telepon berdering lagi. Namun kali ini, Caleb berjalan ke arahnya dan mengambil ponsel Emmy. Ia menggeser layar untuk menjawab dan mendekatkannya ke telinga. Entah volumenya terlalu keras atau ruangan itu terlalu sunyi, suara Tara terdengar dari telepon.
"Emmy! Kamu baik-baik saja? Aku nggak bisa reach kamu dari kemarin-kemarin! Kamu di mana!? Kamu jangan menghilang gitu aja!"
Caleb membiarkan Tara selesai berbicara dan menunggu gilirannya. "Halo," sapanya dengan suara setenang mungkin, membuat Zayne merasa salah dengar. "Ini kakaknya Emmy."
“O-oh, halo. Maaf menelpon malam-malam. Apakah Emmy disitu?”
Jeda beberapa saat. Zayne menatap Caleb lekat-lekat dan menangkap secercah kelemahan dari matanya. Tatapan Caleb sedikit berubah sebelum kembali netral. "Emmy tidak ada."
Dan sekarang, jeda itu bertambah panjang, lebih berat, dan menyesakkan.
Suara di seberang telepon tergagap tidak percaya. “A-apa? Ma-maksud—”
“Emmy meninggal.”
Kata-kata itu menusuk bagai jarum berduri yang menusuk dadanya, menjahit hatinya hingga tertutup meski berdarah. Duka yang tak terucap itu meresap ke paru-parunya, kental dan menyesakkan. Namun, pendarahan itu berhasil menyusup ke paru-parunya, membuatnya tenggelam hanya karena mendengarnya.
"Sudah ya." Caleb segera mengakhiri panggilan.
Layar meredup saat panggilan berakhir, menampilkan pantulan wajah Caleb tanpa ekspresi, tak terbaca.
Zayne berdiri mematung beberapa jarak darinya, tidak dapat mengeluarkan suara apa-apa. Kata-kata itu masih bergema di dalam ruangan, lebih berat daripada keheningan yang mengikutinya.
Emmy meninggal.
Bahkan udara malam yang masuk ke kerongkongannya tidak cukup untuk mendeskripsikan perasaannya ketika mendengar Caleb sendiri yang mengatakannya.
Caleb menurunkan ponsel di tangannya, dengan cepat dimasukkan ke dalam saku miliknya. Dia tidak melihat ke arah Zayne. Dia tidak melihat kearah manapun.
“Terima kasih telah menyimpan ponsel Emmy, Zayne.”
Pernyataan yang simpel. Namun dalam penyampaiannya, terasa ketajaman maksud sesungguhnya. Mengusir dengan sopan, tanpa adanya kata-kata yang menusuk. Dengan begitu, Caleb sudah menarik garis lebih dalam di antara mereka.
Dan Zayne sudah paham.
Tidak seharusnya dia menyeberangi jurang itu.
Tapi sampai kapan dia harus terus berada di tepi jurang?
Mereka pikir mereka punya waktu.
Karena itu mereka pilih untuk nanti dulu.
Zayne menelan ludah dengan keras, kepalan tangannya semakin kencang seolah-olah ingin menahan diri. Lalu, perlahan, dia suara muncul.
“Caleb...” ucapnya. Hanya namanya—pelan, tidak pasti. Permulaan.
“Bagaimana... keadaanmu?”
Pertanyaan yang canggung. Tapi Zayne tidak peduli. Dia hanya perlu mulai berbicara untuk menjangkau Caleb, tidak peduli seberapa rapuh hubungan mereka saat ini.
Caleb tidak menjawab. Tidak menoleh. Dia terasa jauh–-seperti seseorang yang berdiri di balik kaca, tak terjangkau.
Sebaliknya, ia berjalan kembali ke arah jendela-yang dibiarkan terbuka. Angin sepoi-sepoi berhembus melalui tirai, lembut nan sejuk, melawan udara yang terasa berat di dalam ruangan.
Dia berdiri di sana, menatap lampu-lampu kota yang berpendar indah di malam hari.
Zayne mencoba lagi, kali ini lebih tenang. "Kamu dimana selama ini? Aku tidak bisa menghubungimu ataupun Emmy selama bertahun-tahun. Lalu sekarang kau muncul begitu saja..."
Sisanya tersangkut di tenggorokannya bagai bubuk kering. Dia tahu pertanyaan ini menyakitkan baginya—tetapi lebih menyakitkan bagi Caleb.
“Tak bisakah kau katakan padaku?” pintanya. "Kamu kemana saja? Apa yang terjadi padamu dan..."
Dia menggigit bibirnya, terlalu takut untuk menyebutkan namanya setelah apa yang terjadi.
Angin berhembus lebih keras melalui jendela yang terbuka, menyibak tirai dan mengenai lengan Caleb. Tapi dia tidak bergeming. Matanya masih tertuju pada cahaya kota—hidup, berkilauan, tak gentar.
Lalu, akhirnya, dia berbicara.
"Kami harus meninggalkan rumah lama kami karena alasan keamanan. Emmy dan aku juga sepakat agar kamu tidak terlibat lagi dengan kami."
Zayne menatapnya bingung. “Kenapa? Bukankah kita berteman?”
Untuk pertama kalinya, Caleb menoleh untuk menatapnya. Kekosongan telah terpatri di matanya, namun bibirnya tersenyum pahit ke arahnya.
“Kau pikir kami tidak tahu?”
Zayne terdiam.
"Kami berdua tahu. Seharusnya kamu masuk ke sekolah swasta yang peringkatnya tinggi itu kan? Kamu juga seharusnya bisa skip satu tingkat biar lulus lebih cepat. Tapi kamu gak ambil tawaran-tawaran itu. Kenapa?"
Zayne membuka mulutnya, tapi kata-katanya tergagap. “Itu-”
"Tidak ada alasan untuk menolaknya. Dipikir berkali-kali pun gak masuk akal."
“Sekolah swasta itu terlalu mahal, dan kelasnya—”
Caleb tertawa datar. "HAH! Gak usah mengelak, Zayne. Kita tahu itu sama sekali tidak benar. Orang tuamu pasti mampu membayar sekolahmu semahal apapun itu."
Zayne memalingkan pandangannya, masih terdiam.
Suara Caleb melembut, bukan karena simpati, tapi karena sesuatu yang terasa menyedihkan. "Kau membuang kesempatan yang diberikan padamu hanya agar kau bisa tetap dekat dengan kami. Terkadang aku sampai bertanya-tanya apakah kamu itu pintar atau bodoh."
Zayne masih tidak menanggapinya.
"Kau tahu? Emmy adalah orang pertama yang menyadari hal ini," lanjut Caleb. "Awalnya, dia sangat senang. Kamu akan satu sekolah denganku, dan dia akan segera bergabung dengan kita di sekolah negeri yang sama. Tapi kemudian... dia tersadar dengan keanehanmu. Bertanya-tanya mengapa seseorang seperti kamu malah menyia-nyiakan kesempatan seperti itu.
"Aku pun juga mempertanyakannya, apakah kita berdua benar-benar alasan kamu tidak mengambil kesempatan untuk maju, merasa bodoh dan ge-er. Tapi, ternyata itu benar, ya? Saat kami keluar dari duniamu, kamu membumbung tinggi seperti yang seharusnya. Kamu bisa naik ke puncak teratas, seperti yang seharusnya kamu lakukan bertahun-tahun yang lalu."
Zayne berdiri dalam diam, dengan dada sesak.
“Jadi percayalah padaku saat aku mengatakan ini yang terbaik,” kata Caleb. "Menjauhlah dari kehidupan kami-kami. Demi kebaikanmu sendiri."
Zayne tidak bergerak. Kakinya terasa berat, seperti terpaku dengan lantai.
“Tapi kenapa?” bisiknya.
Caleb kembali menoleh ke jendela, menatap jauh dan tak terjangkau. "Besok, saat matahari terbit, aku akan memulai pemakaman Emmy. Dan setelah itu, kita tidak perlu bertemu lagi."
“Enggak.” Zayne melangkah maju, suaranya semakin tajam. “Kenapa?”
Ia berdiri di depan Caleb sekarang, cukup dekat untuk merasakan hawa dingin yang datang darinya. Siluet mereka berdua berada di dalam bingkai yang sama, saling menatap dengan cahaya kota yang masih berpijar di kejauhan.
Namun kedua iris violet itu redup, seakan Zayne tidak ada di depannya. Seakan tidak ada apapun di depannya. Kosong.
"Keamanan."
Singkat. Padat. Final.
Seperti pintu yang dibanting, meruntuhkan semua yang pernah mereka lalui bersama.
Suara Zayne meninggi, merasa putus asa. "Apa maksudmu? Kalian dalam bahaya? Itu alasan kamu ke rumah sakit? Dengan Emmy?”
Tak ada jawaban. Bagai bertutur dengan sebuah tembok.
"Jawab aku!”
Tapi Caleb hanya membuang mukanya.
Untuk pertama kalinya, emosi Zayne melonjak. Pintu gudang yang telah ia tutup rapat selama bertahun-tahun menjadi retak didorong beban. Terlalu banyak rasa sakit dan hal yang tak terucapkan membebani muatannya.
Air matanya meluap.
"Aku hanya meminta penjelasan, Caleb. Kita sudah berteman selama 8 tahun. Apa kamu mau membuang semua itu? Aku hanya mau kabar dari kamu, apapun bentuknya biar aku tahu kamu masih hidup.”
Mata Caleb masih hampa dan Zayne tidak sanggup menatap kekosongan itu lebih lama lagi. Dia menundukkan pandangannya ke lantai dan baru dia sadari kalau air matanya telah menetes ke lantai, di dekat sepatunya.
Kedua lengannya tergantung di sisinya, bergetar.
"Aku gak bisa kehilangan kamu juga..."
Dan akhirnya, bendungan itu luruh.
Tidak ada lagi ruang penuh menyesakkan, hanya ada barang-barang berserakan yang terus tumpah ruah tanpa henti. Zayne menunduk, tak mampu menatap mata Caleb lagi. Air matanya mengalir deras, membasahi sepatu yang tidak terpaku di lantai.
Namun, di tengah-tengah meluapnya emosi, rasa bersalah juga ikut menderu.
Betapa egoisnya dan tidak tahu malunya dia, mengatakan hal itu kepada seseorang yang baru saja kehilangan adiknya. Dia malah berkoar-koar tentang dirinya sendiri, menangis di depan orang yang seharusnya tengah bersedih dan berduka.
Di depan Caleb, yang telah kehilangan dengan semua yang dia miliki. Di hadapan Caleb, dia merengek takut ditinggalkannya.
Napas Zayne tercekat di tenggorokannya, seolah berusaha menghentikan tangisan, sakit, dan waktu itu sendiri.
Tapi bahkan itu pun keinginan yang egois.
Angin dingin kembali menerpa ruangan dengan hawa yang menusuk. Tapi tak satupun dari mereka bergerak. Tidak ada tukar pandang maupun uluran tangan.
Kalau ini adalah enam tahun yang lalu, mereka pasti sudah merangkul satu sama lain, menghibur dan menguatkan tanpa ragu.
Tapi sekarang?
Sekarang, mereka hanyalah bayangan masa lalu.
Zayne mengepalkan tangannya, bahunya bergetar karena hal yang tak bisa dia ungkapkan.
Tanpa dia sadari, Caleb juga melakukan hal yang sama. Menahan diri untuk tidak melewati batas yang dia buat sendiri karena kelemahan sesaat.
Gudang yang telah tertutup begitu lama, menyimpan segala memori masa lalu yang menolak untuk dilupakan. Kenangan masa lalu yang tidak ada kejelasan bagaimana akhirnya, menetap di sana bertahun-tahun lamanya. Tumpukan berserakan yang bisa digantikan dengan hal baru tapi tidak pernah dilakukan.
Tapi sekarang, Zayne bisa menerka nasib barang-barang berserakan yang selama ini memenuhi ruang sempit itu. Orang yang ia tunggu untuk merapikan hal-hal yang ia simpan sekarang akan membuang semuanya. Pada akhirnya, gudang itu akan kosong. Dan saat itu terjadi, Zayne tidak lagi memiliki apa-apa di sana.
Karena itu, dia berusaha mempertahankan apapun yang bisa dia raih. Agar ruang itu tidak kosong sepenuhnya. Apapun itu.
Dan yang dia raih adalah Caleb.
“Jangan pergi,” bisiknya pelan. Tangannya bergetar memegang Caleb. Namun dengan segenap keberanian hati, Zayne melanjutkan. “Jangan tinggalkan aku lagi.”
Zayne menduga Caleb akan mengabaikannya, berkata sesuatu seperti dia konyol karena mengatakan itu. Tapi Caleb tidak melakukannya. Caleb berdiri di sana dalam diam, menghindari tatapan Zayne. Dan itu sudah cukup menjawab permintaan Zayne kepadanya.
Dadanya terasa sesak.
“Caleb…” Dia mendekat, berusaha menatap matanya. “Tolong tatap mataku.”
Caleb akhirnya melakukannya. Ekspresinya berubah sedikit menjadi sedih dan lelah. Senyum tipis terlukis di bibirnya, namun tidak sampai ke matanya.
“Jangan terlibat dengan orang seperti aku lagi, Zayne.”
Alis Zayne bertaut, bingung. “Maksudmu apa?”
“Aku terlibat dengan orang-orang berbahaya. Terlibat denganku bisa membahayakan hidupmu.”
Jantungnya terasa jatuh sesaat. “...Hah?”
Caleb memegang tangannya dengan lembut. “Saat ini, kamu sudah berada di jalan yang benar. Karirmu sedang melambung tinggi. Aku bangga padamu.” Dia melepaskan tangannya, jari-jarinya terlepas seperti kepingan salju yang meleleh saat menyentuh kulit tangan yang hangat “Jadi jangan terlibat denganku. Nanti reputasimu bisa ternodai dan aku juga gak mau hal itu terjadi.”
Zayne hendak protes, merasa tidak terima dengan asumsi tidak masuk akal yang dikatakannya.
“Kamu gak aka—”
“Aku sudah membunuh orang, Zayne.”
Dunia terasa sunyi, senyap, gelap. Seolah-olah otaknya menolak memproses apa pun kecuali kalimat yang baru saja dia dengar.
“Jika yang kamu maksud Emmy, itu kece—”
“Enggak,” Caleb memotongnya dengan cepat, “Aku pernah membunuh orang sebelumnya dan itu bukan yang terakhir.”
Hah?
Zayne tidak lagi sekedar menatap, tapi menggali dari ekspresi dan gerak-gerik Caleb. Mencari kebohongan, penyesalan, atau apapun yang bisa membantah kengerian dari kata-kata yang baru saja diucapkannya. Tapi Caleb hanya berdiri di sana, tersenyum tipis. Tenang tanpa rasa bersalah. Tidak berusaha membenarkan atau menyangkal apa yang baru dia katakan.
Sikapnya mengatakan bahwa memang begitu adanya. Tidak ada yang perlu dibantah. Inilah kenyataannya
Lalu dia harus merespon seperti apa?
Kalau ini enam tahun yang lalu, mungkin Zayne bisa langsung tahu apa yang harus dikatakan tanpa ragu.
Tapi sekarang? Setelah dia mengucapkan sumpah dokter? Bisakah dia, seorang dokter yang bertugas menyelamatkan nyawa, berpihak pada seseorang yang mengakhiri nyawa orang lain?
“Kamu… pasti kamu punya alasan. Kamu gak akan membunuh orang begitu sa—”
Tawa Caleb memotong ucapannya.
Bukan tawa yang pelan atau ditahan. Tapi keras nan histeris. Mengejek.
Tawa itu menghancurkan harapan Zayne yang tersisa.
“Ah, Zayne…” Suara Caleb merendah, dibalut tawa getir. “Kamu gak mungkin sepolos itu, kan?”
Dia mendekat, tatapannya terkunci pada iris hazel. Untuk pertama kalinya, Zayne mundur—menghindar—dari pandangan mata violet itu.
“Kamu kan pintar,” kata Caleb, senyumnya semakin tajam. “Selalu selangkah lebih maju. Seharusnya tidak sulit untukmu mengerti maksudku.”
Dia memiringkan kepalanya, suaranya hampir seperti nyanyian. “Apalagi aku udah ngomong segamblang ini .”
Refleks, Zayne mundur sedikit. Rasa tidak percaya dibalut sedikit kengerian terpampang jelas di wajahnya.
“Ternyata,” kata Caleb, suaranya kini lebih pelan, “kehidupan normal terlalu sulit untuk digapai. Bahkan ketika kami berdiam-diam, bahkan ketika kami menjaga agar tidak tersorot, itu masih tidak cukup.” Dia menatap Zayne, ada sesuatu yang runtuh terlintas di wajahnya. “Dan sekarang... mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan.”
Terpaku oleh kata-kata yang diucapkan Caleb, Zayne hanya bisa berdiri diam, berusaha memahami apa yang Caleb coba sampaikan.
“ Mereka itu siapa?” tanyanya pelan.
Tapi Caleb tidak menjawab. Dia hanya melihatnya dengan tatapan kosong, lelah.
“Udah ya, Zayne. Udah malem.”
Zayne menggelengkan kepala. Tenggorokannya terasa kering dan tersendat. Bahkan untuk menelan ludah saja sulit. Tapi dia memaksakan suaranya agar bisa keluar.
“Enggak.”
Hanya itu. Satu kata yang bisa dia ucapkan sebagai pembuka.
Suaranya mulai bergetar, tapi dia tidak berhenti. Tidak akan berhenti. Karena semuanya— momen ini —sudah terasa terlepas dari genggamannya.
“Jelasin dulu kamu kemana aja selama ini. Kamu tiba-tiba menghilang, Caleb. Kamu ninggalin aku kayak hubungan kita tuh gak berarti apa-apa.” Suaranya pecah. “Aku nungguin kamu selama ini. Kamu pergi gitu aja setelah nenekmu meninggal, dan aku terus berharap—”
Zayne berhenti. Rasanya terlalu nekat dan berlebihan jika mengatakannya secara langsung seperti ini. Tapi, memangnya kalau tidak dikatakan, Caleb tidak akan pergi? Tidak ada alasan lagi untuk ragu dan takut, karena kali ini—saat ini—mereka sudah berada di ujung jurang dan jika jatuh, maka jatuhlah hingga hancur berkeping-keping.
Zayne mendekat, mata hazelnya memancarkan sisa keberanian terakhir.
“Apakah bagimu, kita ini bukan apa-apa?” Pertanyaan bagai bisikan itu keluar dengan penuh keraguan dan harapan. Seperti menghidangkan hati kecilnya yang paling dalam di atas meja untuk dinilai.
Napas Zayne tidak beraturan. Gugup, berharap, dan takut bercampur menjadi satu. Terlalu penuh dengan segala hal yang tidak pernah diucapkan.
Dan kemudian—Caleb menatapnya.
Tatapannya tak terbaca. Rahang mengatup. Hati yang lama tertutup.
“Kita memang bukan apa-apa.”
Sakit. Hatinya yang telah dikeluarkan untuk disajikan telah tersingkir begitu saja. Tak bernilai.
“Dan kita tidak akan pernah menjadi apa-apa.”
Keheningan mengisi kekosongan di antara mereka.
Tapi Zayne tidak mundur. Memangnya kenapa jika hatinya tidak bernilai lagi? Sudah sejauh ini, jika hatinya diinjak-injak lagi pun dia tidak peduli lagi. Selama Caleb masih di depannya, dia masih bisa menggapainya. Bahkan jika itu ego yang berbicara.
“Kalau memang kita tidak akan jadi apa-apa, katakan dengan jujur, Caleb. Jujur dengan perasaanmu sendiri,” pinta Zayne yang hampir seperti memohon. “Apakah benar-benar tidak ada apa-apa di antara kita? Selama 8 tahun lamanya, apakah memang tidak ada perasaan apapun? Katakan yang sejujurnya.”
Caleb tidak menjawab. Tidak dengan kata-kata.
Dia mendekat, mendekapnya, dan menyatukan bibirnya dengan bibir Zayne. Ciuman yang singkat dan senyap. Bukan sesuatu yang terlalu dalam tapi juga tidak terlalu dangkal untuk tidak menjadi apa-apa.
Ketika dia melangkah mundur, suaranya pelan namun tegas. “Ini adalah jawabanku untuk pertanyaanmu itu.” Ia terdiam sejenak. Sorot matanya terlihat bimbang barang sedetik sebelum berubah kembali menjadi dingin. “Jangan cari aku lagi.”
Caleb baru akan pergi melewatinya, tapi Zayne tiba-tiba mencengkram lengan bajunya. Upaya terakhirnya. Harapan terakhirnya.
Matanya berkaca-kaca, masih berharap. “Tidak bisakah kita menjadi sesuatu? Aku gak akan minta hubungan yang serius, jadi kumohon…” ucap Zayne, suaranya hampir pecah.
Tak ada jawaban langsung dari Caleb. Hanya keheningan yang panjang dan menyakitkan. Lalu tangan pria beriris ungu itu memegang tangan Zayne, dengan lembut dilepaskannya dari lengan bajunya. Sentuhannya lembut—terlalu lembut untuk seseorang yang berusaha pergi.
“Saat ini, kamu berjalan di atas karpet merah—reputasimu berada di puncak, dikelilingi oleh orang-orang berstatus tinggi. Jika kamu terlibat denganku, kamu akan membuang semua itu—kerja kerasmu, keluargamu, hidupmu.” Untuk pertama kalinya, ada senyuman tipis di wajah Caleb yang ikut terpancar di matanya. “Aku tidak bisa mengambil itu darimu. Tidak lagi.”
Dengan itu, hatinya yang ia kira sekadar tersingkirkan menjadi menyusut. Betul-betul tidak bernilai lagi. Meski dikembalikan pun, akan tersisa kekosongan yang besar di ruang hati itu.
“Bagaimana jika aku tidak masalah? Seperti dulu lagi.”
Caleb tertawa getir, pelan dan menusuk. “Kita sudah bukan anak-anak lagi, Zayne. Kita sudah dewasa. Kita punya tanggung jawab sekarang dan aku tahu kamu sangat terikat dengan tanggung jawab itu.”
Zayne menatapnya lekat. “Apakah kamu juga terikat dengan itu?”
“Iya,” jawab Caleb dengan tegas. “Aku terikat pada tanggung jawabku. Konsekuensi dari pilihan yang dibuat. Pada utang yang tidak bisa dibayar dengan uang.”
Zayne menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa terbakar.
Suara Caleb menjadi lirih, seperti ada sesuatu yang tertahan di tenggorokannya tapi dia masih memaksa mengeluarkan suaranya.
“Adikku sudah tidak ada lagi.” Dia menoleh, tatapannya kosong. Namun ada yang berubah dalam suaranya. “Dan karena itu, aku sudah tidak bisa lagi menjadi diriku yang dulu.” Dia berjalan melewatinya, tak menoleh hingga sampai di pintu. “Ada harga yang harus kubayar. Kehidupan yang aku pilih. Datanglah ke pemakaman besok jika kau mau, tapi setelah itu... kita tidak saling mengenal lagi.”
Caleb memegang gagang pintu dengan dan membukanya dengan lebar lalu menoleh ke arah Zayne.
“Pulanglah.”
— ”Lalu kita pilih untuk nanti dulu.” —
Namun percakapan mereka malam itu membuat Caleb termenung lebih lama. Ia menatap Zayne yang sedang tertidur lalu ke arah jendela besar di samping mereka. Pemandangan malam yang gemerlap di luar dapat memikat atensi siapapun yang melihatnya. Namun pandangan Caleb tidak ke arah sana, melainkan pemandangan yang jauh, lebih jauh dari waktu mereka saat ini. Ilusi yang lahir dari harapan dan kemungkinan yang dapat terjadi.
Laki-laki dengan iris ungu itu tersenyum tipis. Matanya kembali menatap rambut hitam gelam di hadapannya. Dengan perlahan, ia memiringkan kepalanya, kembali menatap Zayne yang masih tertidur. Tampak sedikit lelah dari raut wajahnya, sesuatu yang jarang terlihat dari laki-laki minim ekspresi itu.
“Semoga, ya Zayne? Kita sama-sama terus sampai akhir. Dan kalau kita diperbolehkan untuk terus bersama sampai kuliah…” Caleb menarik napasnya pelan. Dia bisa merasakan berat di hatinya bertambah, tapi dia ingin melanjutkannya, paling tidak saat ini, ketika bunga hatinya sedang tertidur. “Kalau kita sama-sama lolos tes masuk, aku akan jujur tentang perasaanku ke kamu.” Caleb berbisik dengan sangat pelan. Takut ada yang dengar, atau lebih tepatnya, takut Zayne mendengar. Ia tatap wajah yang masih tertidur itu, tidak ada perubahan.
“Zayne,” panggilnya dengan suara yang lebih keras. Tidak ada pergerakan. Caleb tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Zayne lalu berbisik lagi.
“Aku janji.”
— ”Kita punya detik ini sekarang juga.” —
Pemakaman Emmy berlangsung secara sederhana dan tenang.
Langit mendung dengan awan abu-abu yang tak bergerak berada di atas mereka, seolah turut berduka bersama mereka.
Zayne berdiri di bawah payung hitam, rintikan hujan hampir tak menyentuhnya, namun hatinya terasa berat sampai kepalanya terus menunduk sepanjang pemakaman berlangsung.
Tidak banyak orang yang hadir—hanya beberapa tetangga lama yang masih mengingat keluarga Caleb dan Emmy. Orang tua Zayne juga hadir di sana. Mereka berdiri dekat dengannya, merasa cemas dengan raut muka Zayne. Keduanya terus bertanya apakah dia baik-baik saja. Zayne hanya menjawab dengan gelengan kepala. Berat di hatinya terlalu sulit untuk diutarakan dengan kata-kata.
Dia tidak menangis selama pemakaman, hanya terkadang melirik Caleb dari kejauhan.
Dulu, mereka sering berdiri berdampingan. Kini, mereka seperti orang asing. Dua kehidupan yang pernah bersentuhan secara kebetulan.
Caleb menyapa tiap tamu satu persatu, mengucapkan terima kasih kepada semua yang hadir—ramah, tenang, bahkan lembut. Dia menyapa orang tua Zayne dengan sopan, menerima bela sungkawa yang diucapkan keduanya dengan senyuman tipis dan ucapan terima kasih. Kemudian akhirnya, dia menoleh kepadanya.
Mereka bertatapan untuk beberapa saat, cukup lama dibandingkan dengan tamu lainnya.
Tak ada kata-kata yang terucap. Hanya suara rintikan hujan yang mengenai payung. Keheningan yang begitu pekat sampai-sampai kedua orang tuanya melirik mereka berdua.
Zayne memandangi wajahnya, mencari sesuatu—pengakuan, penyesalan, apa saja. Tapi Caleb hanya menatapnya, tak terbaca, seperti hantu yang menyamar menjadi seseorang yang pernah dia ken
Lalu, akhirnya, Caleb memberi mengangguk kecil.
“Selamat tinggal, Zayne.”
Zayne tidak menjawab.
Satu kata itu memutus harapan terakhir yang masih dia pegang erat. Harapan, kenangan, rasa sakit bahwa mungkin—mungkin saja—semuanya masih bisa diselamatkan.
Tapi sudah tidak ada lagi yang tersisa.
Jadi Zayne melepaskan segala yang tersisa.
“Selamat tinggal,” katanya lirih, hampir tak terdengar di antara suara hujan.
Sebuah perpisahan untuk Emmy.
Untuk Caleb.
Untuk semua perasaan yang tak lagi punya kesempatan untuk bisa menjadi sesuatu yang berarti.
