Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-07-27
Words:
3,660
Chapters:
1/1
Comments:
13
Kudos:
58
Bookmarks:
5
Hits:
828

Martabak Manis dan Kamar Kos Yushi

Summary:

Waktu sudah larut, seharusnya Yushi sudah terbaring di kasurnya dan menjelajah planet mimpi. Tetapi realita tiba-tiba menendangnya tepat di hati, dan dunia mulai sepi.

Mungkin, hanya sangat mungkin, Riku dan sekotak martabak manisnya dapat membantu Yushi?

Notes:

hi! another kulyung kulyut kuriushi fic for celebrating the last week of july! semoga bisa menghibur, ya! love you dan #salamkulyut <3

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Sepi.

Satu kata yang menggambarkan kamar Yushi saat ini adalah sepi.

Tidak, kamarnya masih sama dan utuh — sepanjang salah satu dindingnya tertata rapi rak kayu yang penuh dengan buku dan figuran koleksinya, dinding di seberangnya memiliki jendela yang cukup besar untuk masuknya cahaya matahari dan bulan, pun terdapat laci sekaligus meja belajar panjang di sisi dinding yang berhadapan dengan kasurnya. Kamarnya penuh dengan dunia, bisa ia katakan bahwa dirinya betah.

 

Namun, Yushi merasa sepi — merasa sendiri.

Yushi tidak tahu mengapa, atau bagaimana perasaan tersebut berhasil mengisi pikirannya. Jika dirinya sedang dalam akal benarnya, justru ia akan merasa lega ketika menyadari bahwa dirinya sendirian. Seharusnya dirinya merasa senang bisa mendapatkan waktu diamnya.

 

Hingga beberapa saat lalu, ketika Yushi benar-benar menutup pintunya.

 

Sepi. Kosong. Hening, yang nyaris mencekik.

 

Dan tiba-tiba saja otaknya ramai. Sangat ramai.

Bisik-bisikan, teriakan, bising kelas, gertakan meja, hentakan kaki, dentuman speaker mikrofon yang tertancap pada dinding kelasnya, dan suara kekacauan lainnya. Pun saat ini, dirinya mendengar segalanya bak kelelawar: suara embus angin dari pendingin ruangan, tetes air dari kran kamar mandi yang enggan menutup sempurna. Tubuhnya tersentak kecil ketika jendelanya yang belum terkunci terbuka dan tertutup dengan sendirinya akibat terpaan angin malam.

 

Di saat yang sama, Yushi tersadar. Ia sendirian. Di sini, di kamar ini, di kota ini.

Yushi tersadar bahwa setahun ini, selama di sini, dirinya tidak pernah bisa berhenti mengalah. Seperti dipaksa — seperti terus menerus disuruh berbagi.

Setahun ini, ceritanya terdengar seperti angin lalu. Tidak akan ada yang menyadari dirinya berceloteh sebegitu banyak. Tidak ketika sekelilingnya bersahutan, menuntut untuk didengar.

Di sini, tidak ada yang mau mendengarkan. Atau mungkin mereka tidak sempat — Yushi suka menganggapnya begitu.

 

Drrt drrt

Ponsel Yushi bergetar. Alarmnya menyala, 22.45.

 

Setahun ini pula, Yushi selalu bangun di malam hari. Sepulang dari kampus, dirinya pasti akan langsung terlelap. Entah di kasur, meja belajar, ataupun lantai.

 

Yushi meraih ponselnya, mematikan alarm. Dirinya terduduk di ujung kasur, kini tengah menggulir layar ponsel untuk meredam suara-suara bising di otaknya.

Tepat pada guliran keempat aplikasi video singkat, muncul sebuah cuplikan seorang laki-laki yang setelah sekian lama pulang ke rumahnya. Lelaki itu disambut hangat oleh kedua orang tua dan adiknya. Lelaki itu juga mengejutkan kedua temannya di hari lain, mengundang senyum bahagia dan rengkuhan tidak percaya dari teman-temannya.

 

Yushi.. Yushi juga mau.

Yushi ingin disambut, diperhatikan, ditunggu-tunggu, dihargai, dipeluk.

Dipeluk. Yushi ingin dipeluk.

 

Yushi juga ingin merasakan hangatnya sebuah pelukan. Dirinya ingin ikut merengkuh, ingin mabuk dalam suasana itu, menggenggam erat apapun yang bisa ia genggam.

Belum pernah Yushi seperti ini. Bahkan Yushi tidak tahu harus membayangkan apa, siapa yang memeluknya, ataupun bagaimana pelukannya akan terjadi. Ia hanya.. hanya ingin dipeluk. Ingin merasa hangat.

 

Drrt

 

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini bukan alarm, melainkan sebuah panggilan suara.

 

Kak Riku

 

Kakak tingkatnya yang satu fakultas dengan dirinya, dan menempati indekos yang sama dengan dirinya. Mengapa dia menelepon? Yah, mungkin karena satu dan lain hal — mungkin Riku memerlukan bantuan.

 

Yushi mengangkatnya, mau tidak mau, untuk menjaga kesan baiknya pada kakak tingkat itu agar dapat tetap hidup.

 

“Halo, Kak Riku?” ujar Yushi begitu panggilannya tersambung.

“Hai, Yushi.” yang di seberang menjawab. “Lo di kamar, gak?”

Yushi mengangguk, kemudian menjawab, “Iya.”

“Gue.. ini, ada bawa martabak dari tongkrongan. Masih utuh. Kayaknya gak bisa gue habisin sendiri.” ucap Riku, agak hati-hati.

“Oke..?” adalah jawaban yang Yushi berikan. Lagipula, dirinya tidak tahu harus menjawab apa.

“Itu,” Riku terdengar sedikit ragu untuk melanjutkan. “Mau gak?”

 

Yushi mengerjap lucu.

 

Ah, iya. Yushi sejenak lupa kalau kakak tingkatnya ini pernah, atau mungkin masih menyukainya. Secara.. serius. Yushi pernah diajak keluar untuk nonton film (bukan alasan kencan pertama yang baik kalau menurut Yushi), makan siang, makan malam, dan sekadar mengobrol.

Dan semuanya Yushi tolak.

Bukan apa-apa. Yushi hanya tidak mau menuntun terlalu jauh, apalagi di posisinya yang saat itu belum memiliki perasaan yang sama. He’s doing the best that he can: not leading him on.

 

“Kalo mau, sepuluh menit lagi gue ke kamar lo.” suara Riku kembali terdengar.

 

Yushi ingin menolak. Otaknya sudah mengirimkan sinyal pada bibir lucu itu untuk mengatakan tidak.

But they say loneliness leads to impulsive decisions —

 

“Mau, Kak.”

 

Seberang sana sunyi, seakan terkejut dengan jawaban Yushi yang terkesan keluar dari skrip.

 

“… Serius?” tanya Riku, memastikan.

“Iya.” Yushi melanjutkan, “Ditunggu ya, Kak.”

 


 

Di sinilah Riku. Di depan pintu kamar Yushi, laki-laki yang sudah ia usahakan untuk dekati selama kurang lebih dua bulan.

 

Pegangan tangan kanannya yang menggenggam kantung plastik berisikan sekotak martabak manis ia kuatkan, sebelum akhirnya ia berani untuk mengetuk pintu.

 

Tok tok tok

 

“Yushi.” panggilnya.

Riku menunduk, menutup mata, dan menggigit bibir bawahnya, gugup. Jemari kirinya tidak berhenti dimainkan, dan degup jantungnya serasa lebih cepat seiring langkah kaki pemilik kamar terdengar mendekat ke pintu.

Kenop pintu mengeluarkan bunyi yang samar ketika diputar dari dalam. Suara engsel pintu yang dibuka pun membuat Riku membenarkan posisi kepalanya.

 

“Hai, Kak.” sapa Yushi.

“E— iya. Hai. Hai, Yushi.” jawab Riku, tangan kirinya terangkat untuk melambai. Oh astaga. Riku salah tingkah. Siapa juga yang melambaikan tangannya ketika pintu terbuka?

 

Sejenak, Riku melupakan niat awalnya untuk memberikan martabak manis yang ia tawarkan. Matanya sibuk menatap paras lucu adik tingkatnya yang berada di ambang pintu. Padahal Yushi hanya berdiri di situ, menunggu Riku melakukan.. sesuatu — memberikan martabaknya.

 

“Kak..?”

 

Suara Yushi menyadarkan dirinya dari lamunan. “Oh. Iya, iya,” ujarnya. “Ini.. martabaknya. Tadi pas main beli kebanyakan, terus bingung mau dikasih ke siapa. Jadinya buat lo aja.”

Riku meluruskan tangan kanannya untuk memberikan kantung plastik itu, dan untungnya segera diterima dengan baik oleh Yushi.

“Makasih, Kak.” ucap Yushi setelah menerimanya, membawa sekotak martabak itu dengan senyuman.

 

“Sama-sama.” Yang lebih tua ikut tersenyum dan mengangguk, “Yaudah kalo gitu. Gue balik ke kamar, ya. Selamat makan, Yushi.”

 

Riku sudah siap untuk balik badan dan berjalan menjauh, sebelum—

 

“Eh, Kak.” seruan Yushi yang tiba-tiba itu membuat Riku berhenti dan kembali menatap yang lebih muda.

“Ya?”

 

Riku bisa melihat Yushi menimbang-nimbang perkataan yang akan ia lontarkan. He looked a bit conflicted.

 

“Lo gak mau masuk dulu?” kata Yushi. “Ngobrol.. gitu? Or just.. i don’t know, spend.. time?”

 

Yang lebih tua mengernyitkan dahinya.

 

Hah.

 

Sepertinya Riku salah dengar. Kurang ajar sekali otaknya, membiarkan Riku mendengarkan kata-kata yang tidak masuk akal itu.

Dari apa yang Riku dengar, Yushi baru saja mengajaknya untuk berbicara dan ngobrol sebentar di kamarnya. Yah, halusinasinya sudah sangat parah ternyata. Mana mungkin Yushi mengucapkan kata-kata itu.

 

“Kalo.. kalo gak mau ya.. gapapa sih, Kak. Tanya.. doang..” Yushi melanjutkan dengan terburu-buru ketika wajah Riku terlihat kebingungan. Riku semakin meragukan pendengarannya.

 

“… Gimana?” Riku berusaha meyakinkan dirinya kalau ini semua hanya candaan yang dimainkan oleh otaknya, bukan ajakan asli dari Yushi.

 

“Kalo gak mau, gapapa. Kak Riku balik aja.”

Riku menggeleng, “Bukan-bukan. Yang tadi, sebelumnya, lo bilang apa?”

“Oh.” Yushi mengulangi kalimatnya, “Kak Riku gak mau mampir dulu?”

 

Yang lebih tua mengerjapkan matanya berkali-kali, masih berusaha menemukan alasan untuk menganggap ini hanya khayalannya semata.

Namun naas, gagal.

 

Yushi benar-benar ada di hadapannya, membawa martabak yang ia berikan, menunggunya memberikan jawaban atas ajakannya untuk mampir. Bahkan Yushi masih terlihat.. asli.

 

Kak? You’re.. you’re spacing out?”

 


 

“Maaf kamar gue berantakan.” ucap Yushi sembari mengambil karpet dari lemari pakaiannya yang paling bawah untuk dijadikan alas duduk mereka berdua.

“Berantakan apaan,” Riku memindai seisi kamarnya. “Kalo ini berantakan, kamar gue kapal pecah dong namanya.”

 

Yushi tertawa pelan.

 

Karpetnya sudah tergelar dengan bantuan Riku, dan Yushi mempersilakannya untuk duduk. Sekotak martabak tadi Yushi letakkan di tengah, bersama dengan dua gelas air mineral dan makanan ringan yang Yushi dapatkan dari lemari snack-nya.

Si tuan rumah mulai mengambil satu potong martabak, sebagai tanda mempersilakan Riku untuk ikut menikmati jajanan yang ada di depan mereka.

 

“Lo gak keluar gitu, Yu?” Riku mengajukan pertanyaan sembari ikut mengambil martabak.

Yushi menggeleng, bibirnya tanpa sadar mengerucut. “Enggak, Kak, hehe. Lagi males.”

Bibir Riku membentuk huruf ‘O’ sebagai tanggapan. Iya, sih. Riku juga tidak kaget.

 

“Kakak habis nongkrong sama siapa emangnya?” kini ganti Yushi yang bertanya, membuat Riku sedikit senang dalam hati.

“Itu, sama Sohee, MJ, dan kawan-kawannya aja sih. Biasalah.” jawab Riku dengan gesture tangan yang sudah menjadi kebiasaannya.

 

Mendengar jawaban itu, Yushi mengangguk paham. Dua nama yang disebutkan oleh Riku adalah nama kakak tingkatnya yang lumayan dikenal di fakultas mereka: Sohee merupakan MC langganan BEM di acara-acara fakultas, dan MJ (nama panggilan, dibaca Emje. Nama aslinya adalah Myung Jaehyun) adalah Ketua Departemen Hubungan Eksternal BEM fakultas mereka.

 

“Keren,” Yushi bergumam pada dirinya sendiri. Lirih. Yushi tidak menyangka Riku akan mendengarnya.

“Apanya yang keren? Gue?” ah, tengilnya.

 

Yushi berusaha menyembunyikan senyumannya yang nyaris mengembang ketika mendengar pertanyaan Riku. Tidak salah, Riku juga lumayan keren kok.

 

“Bukan,” Yushi bisa melihat wajah Riku yang sedikit kecewa. “Temen-temen lo anak aktif semua, Kak. Keren.”

 

“Di fakultas kita mah aktif semua, Yu. Emang ada ya yang gak keliatan gitu?”

Yang lebih muda memasang wajah canggung andalannya. “Gue..” ujar Yushi disusul dengan kekehan, lumayan malu untuk mengaku.

“Lo?”

Yushi mengangguk. “Gue gak ikut organisasi dan kepanitiaan gitu, Kak. Agak kurang minat juga, sih.” kata Yushi, menjelaskan. Mungkin jawabannya kurang jelas, tetapi Yushi bukannya kurang minat dengan event-event yang ditawarkan, melainkan kurang minat untuk bekerja dengan orang-orang seperti itu. Ya.. tahulah, orang-orang seperti apa.

 

Riku memiringkan kepalanya, “Lo bukannya aktif UKM Sepak Bola, ya?”

“Eh.” Yushi terkejut. “Kok.. kok tau, Kak?”

 

Memang patutnya Yushi terkejut. Pasalnya, ia bukanlah orang yang terbuka. Mengikuti UKM Sepak Bola juga menjadi salah satu hal yang disembunyikan dan tidak diceritakan oleh Yushi.

 

“Namanya orang suka mah tau-tau aja, Yu.”

 

Jawaban itu membuat Yushi tersedak dan batuk kecil, yang membuat Riku panik. Dirinya langsung memberikan segelas air dan tertawa gemas saat Yushi buru-buru meminumnya. “Lo kan udah tau, Yu, ngapa kaget gitu dah?” Riku melanjutkan, “Makan martabaknya yang bener, Yushi.”

 

Ah. Yushi segera meletakkan kembali martabak yang tidak jadi masuk ke dalam mulut saking terkejutnya, mengikuti nasihat dari Riku.

 

“… Masih, Kak?” tanya Yushi.

“Apa?”

“Masih suka?” Yushi meringis geli sebelum melanjutkan, “Sama gue?”

 

“Gue jawab jujur apa gimana?” Riku malah balik bertanya, sedikit membuat Yushi jengkel.

“Ya masa gue minta lo bohong sih, Kak?”

 

Riku menghentikan kegiatan memilih-jajanan-yang-selanjutnya-akan-dilahap-nya dan menatap Yushi. Yang lebih muda tidak sadar, sedang sibuk berusaha mengambil kembali sepotong martabaknya.

 

“Masihlah.” kata Riku, “Ya kali gue segampang itu nyerahnya.”

“Emangnya gak capek ya, Kak?”

“Karena lo tolak mulu?” Yushi mengangguk, dan Riku melanjutkan. “Buktinya sekarang gue lagi makan martabak sama lo, di kamar kos lo.”

 

Iya juga, ya.

 

“Seru tau, Yu, suka sama lo.” Riku kembali menyusun kata-katanya — kata-kata yang sebenarnya tidak ingin Yushi dengar.

 

Yushi tidak kuat kalau sudah seperti ini..

 

“Lo tuh pendiem, tenang, kalem, gak banyak omong, gak banyak tingkah.” lalu, “Tapi sekalinya ngomong, gak menye-menye juga.”

Oke, Yushi rasa sudah cukup—

 

“Gue pernah gak sengaja ngeliat lo main di lapangan sepak bola. Keliatan keren tau, Yu. Tapi ada lucunya dikit.” Riku menambahkan, “Eh, enggak, banyak. Lucu banget, Yu.” Riku terdengar sedang tersenyum ketika mengatakan kalimat terakhir.

Yushi hendak membuka mulutnya untuk menghentikan monolog Riku, tetapi—

 

“Terus, kalo gak sengaja ketemu sama lo di gedung fakultas tuh rasanya kayak ketemu artis, Yu. Seneeeeng gitu bawaannya. Mana muka lo kayak, sok garang gitu. Malah keliatan lucu sih, di mata gue.”

 

Riku memberikan jeda yang lumayan lama, lalu perhatiannya ia pusatkan kepada Yushi. Melihat yang lebih muda sudah kalang kabut menutup wajahnya yang memerah, Riku tertawa.

“Merah banget itu mukanya….” ujar Riku, mengejek Yushi yang masih menyembunyikan wajahnya.

 

“Lo berisik banget sumpah, Kak.” suara Yushi terdengar samar-samar karena terhalang tangannya. Beruntung Riku masih bisa mendengarnya dengan baik, mendengar suara yang malu-malu itu.

 

“Biar kamar lo ga sepi, Yu.” kata Riku, sambil meminum air yang tadi disediakan oleh Yushi. “Seru kan, dengerinnya?”

 

Kalau Yushi boleh jujur, iya. Cerita Riku barusan, walaupun membuatnya malu tak kepalang, terdengar seru. Dirinya tidak pernah menyangka akan mendengarkan itu semua dari Riku, yang notabenenya hanya adalah seorang kakak tingkatnya.

Yushi suka mendengarkan celotehannya.

Benar kata Riku: kamarnya jadi tidak sepi. Suara kipas pendingin ruangannya kini jadi tidak terdengar karena teredam oleh suara Riku. Tetes air kran yang tidak bisa tertutup rapat itu pun hanya terdengar samar, nyaris tidak ada.

Pun, kamarnya menjadi sedikit lebih hidup. Sedikit lebih seru, sedikit lebih hangat.

 

Yushi.. suka?

 

“Mikirin apa?” Riku membuyarkan pikiran Yushi.

 

Sedari tadi, sedari awal ia berbicara dengan Yushi, Riku sadar akan satu hal: Yushi mudah hanyut dalam pikirannya sendiri. Terlebih ketika mereka sudah melewati satu topik, Yushi akan diam sebentar sebelum dirinya bisa melanjutkan percakapan mereka.

Detil-detil kecil Yushi ini, membuat Riku lebih mudah untuk menyukainya.

 

“Enggak, Kak, gapapa.” kata Yushi, enggan menjelaskan isi pikirannya.

“Cerita aja gapapa tau, Yu.” ujar Riku. “Sekali-kali gue pengen dengerin lo cerita.“

 

Yushi berusaha menyembunyikan ekspresi sedihnya. Seandainya saja ia benar-benar bisa berani untuk bercerita, pasti ia sudah menjadi orang paling cerewet sedunia.

 

“Cerita gue gak seru buat didengerin, Kak. Nanti lo bosen.” jawab Yushi, masih menunduk. Sepertinya ia gagal menyembunyikan rasa sedihnya ketika mengucapkan kalimat itu.

 

“Gak seru juga tetep gue dengerin, Yushi.”

 

Hati Yushi seperti terjun bebas.

Belum pernah dirinya mendengar kata-kata itu diucapkan kepadanya. Tubuh dan otaknya bingung harus bereaksi bagaimana — rusak. Jantungnya seperti lupa cara menjaga irama detaknya, matanya enggan fokus, pita suaranya seperti tergores dan tidak tahu caranya mengeluarkan suara.

Pipinya merah.

 

Dirinya tidak mengira bahwa mengundang Riku untuk mampir sebentar dan sekadar mengobrol adalah pilihan yang berbahaya.

 

“Martabaknya tinggal satu, Yu.” ucap Riku seakan dirinya tidak baru saja membuat Yushi salah tingkah. “Buat lo, gih. Gue udah kenyang.”

 

Yushi menarik dan membuang beberapa napas, berusaha menenangkan diri sebelum kembali menghadapi Riku.

 

Satu detik, dua detik, tiga detik.

 

Yushi masih menunduk, pun Riku dapat melihat mata lucunya sedang dipejamkan. Erat. Namun, Yushi tidak kunjung kembali ke realita, tak kunjung menjawab perkataan Riku, yang mana membuat Riku sedikit (atau banyak) khawatir.

Apakah dia salah bicara? Salah mengajukan pertanyaan? Salah membaca Yushi? Atau Yushi sudah lelah, dan sekarang ia ingin Riku untuk pulang?

 

“Yu? Yushi?” Riku kembali memanggil yang lebih muda. Tangan kanannya bergerak untuk menepuk pelan bahu Yushi, “Yushi? Udah ngantuk?”

 

Mendengar adanya khawatir di suara Riku, Yushi buru-buru menyelesaikan meditasi singkatnya dan memperbaiki posisi kepalanya. “Sorry, Kak,” sahutnya. “My mind was.. a bit.. noisy earlier. Makanya.. diem bentar. Maaf.”

 

Yushi tersadar bahwa pilihan alasannya (yang bohongan itu) salah. Sekarang, Riku malah terlihat lebih khawatir dari sebelumnya.

 

“Mau.. cerita kah?” tanyanya, benar-benar terdengar khawatir. Kedua matanya menatap lurus pada milik Yushi. Pandangnya dalam, seperti ingin mencari apa yang membuat Yushi kesusahan. “Biasanya kalo cerita nanti jadi lebih enteng, Yu.”

 

“Um..” Yushi tidak tahu harus menjawab apa.

 

“Sorry if it feels like i’m pushing you to talk. I’m just… you know, worried.”

 

Yushi masih diam, hanya bisa memandang Riku yang sedang duduk (tidak tenang) di hadapannya.

 

“Gue tadi bilang gue suka lo karena lo pendiem, tapi if i were being honest, kayaknya kalaupun lo cerewet juga gue bakal tetep suka.” ujar Riku, menjelaskan. “As long as it means you’re fine, i’ll be twice as happy as you are.”

 

Sekali lagi Yushi deklarasikan: dirinya tidak menyangka bahwa mengundang Riku untuk mampir sebentar dan sekadar mengobrol adalah pilihan yang berbahaya baginya — bagi keseluruhan dirinya. Dirinya tidak menyangka bahwa Riku sebegitunya suka dengan dirinya. Sebegitunya.. sayang? Perhatian?

 

“Gak nyaman, ya?” Riku bertanya, was-was.

 

Yushi menggeleng, “I’m okay kok, Kak.” jawab Yushi dengan jantung yang masih berdegup kencang.

 

You can be honest, Yu.” ujar Riku. Dirinya tidak percaya dengan jawaban Yushi. “Kalo gue bikin lo gak nyaman, gue bakal nyoba buat gak deketin lo lagi. At least gue bakal nyoba buat sembunyiin perasaan gue.”

 

Yushi mengerjapkan matanya, “Gue boleh jujur, Kak?”

Meski Riku mengangguk, sejujurnya Riku takut dirinya tidak bisa memenuhi apa yang ia janjikan; mencoba untuk tidak mendekati Yushi lagi. Menurutnya, menyembunyikan suatu perasaan itu adalah hal terakhir yang mesti dilakukan oleh seseorang yang sedang jatuh hati. Terkait perasaan, semuanya harus terlihat jelas agar tidak ada kesalahpahaman, harus masing-masing paham agar bisa menemukan titik terang.

 

“Gue deg-degan, Kak.”

 

Hah?

 

“Gue.. dari tadi deg-degan dengerin lo ngomong.” Yushi melanjutkan, “Gue.. gue gak tau harus gimana.”

 

Di antara mereka berdua, kini tidak bisa dibedakan. Keduanya sama-sama memerah dari pipi hingga pucuk telinga. Pun saat ini keduanya tengah membeku, sama-sama tidak tahu harus berbuat apa, sama-sama tidak tahu caranya mengatasi waktu yang sepertinya ikut membeku.

 

“Maaf udah bikin Kakak khawatir, i was just… trying to calm myself down.”

 

Riku akhirnya meleleh.

Karena panggilan itu: Kakak. Rasanya lucu saat Yushi yang mengatakannya.

 

“Gak ngira lo bisa salting, Yu.” ucap Riku sambil tersenyum gemas.

Sekarang, Yushi yang juga sepertinya sudah merasa lebih tenang dari lima detik lalu, menimpal, “Gue pendiem bukan berarti batu kali, Kak.”

 

“Yushi, panggil gue ‘Kakak’ lagi dong.” pinta Riku, yang membuat Yushi kebingungan.

“Bukannya dari awal gue udah panggil ‘Kak’ ya, Kak?”

Riku menggeleng, “Yang lengkap. ‘Kakak’, gitu.”

 

Permintaan aneh dari Riku itu sejenak masih membuat Yushi bingung. Tetapi, melihat Riku yang terlihat serius, Yushi pun mengabulkan permintaannya.

“Kakak..?”

Riku tersenyum. Senyumnya sangat cerah. Sudah lama ia tidak sesenang ini. Bahkan dirinya sendiri tidak menyangka kalau senyuman secerah ini bisa muncul hanya karena Yushi memanggilnya ‘Kakak’.

 

“Apa sih, Kak? Aneh.”

 


 

00.47

 

Sudah terhitung hampir 2 jam kedua insan ini bertukar cerita dan adu ketahanan dalam lomba ‘Siapa yang Akan Salah Tingkah Duluan’. Keduanya masih belum terlihat bosan. Malah, jajanan yang tadinya memisahkan mereka berdua kini sudah disingkirkan. Mereka benar-benar terbangun hanya dengan eksistensi satu sama lain.

Bahkan mereka berdua heran mengapa masih belum ada penghuni kos lain yang menegur mereka karena terlalu bising.

 

“Yushi,” Riku memanggil yang lebih muda, yang saat ini sedang merapikan lemari snack-nya yang sempat berantakan beberapa saat lalu. “Masih mau cerita lagi, gak?” tanyanya.

“Ummm,” yang lebih muda menimbang-nimbang jawabannya. “Emangnya kenapa, Kak?” Yushi menoleh untuk memeriksa keadaan Riku.

Riku membuka ponselnya, “Bentar lagi udah jam satu, Yu. I feel like i’m interrupting your sleep time.”

 

Mendengarnya, entah mengapa Yushi merasa sedikit kecewa. Ucapan Riku itu terdengar seperti perpisahan.

“Oh…. Lo mau balik, Kak?” Yushi bertanya, kembali menyibukkan diri dengan lemari snack-nya yang sebenarnya sudah tertata rapi. Dirinya hanya tidak mau terlihat dan terdengar kecewa.

“Iya.” jawab Riku singkat.

 

Yushi tidak suka. Entah mengapa, Yushi tidak suka — tidak mau.

 

Yushi akhirnya menutup lemari snack-nya, sudah puas berbenah. Dirinya kini berdiri dan menghadap pada Riku yang masih duduk bersandar pada sisi kasurnya.

“Beneran mau balik?”

 

Pertanyaan Yushi terdengar aneh bagi Riku, seperti ada suatu bumbu nada yang sebelumnya belum pernah Yushi gunakan sebelumnya. Riku pun melepaskan pandangan dari ponselnya untuk melihat Yushi: wajahnya datar, tetapi matanya terlihat.. sedih? Riku juga bisa melihat jemari-jemari Yushi yang terlihat tidak tenang, terus menerus bergerak dan dimainkan.

 

“If you want me to stay for a little while, then i’ll stay.” jawab Riku. Pandangannya terfokus pada air muka Yushi.

 

Oh, jawaban Riku tidak membuat Yushi lebih senang.

 

“Enggak deh. Kak Riku kalo mau balik, gapapa balik aja.” ketus Yushi. Sekarang dirinya mengalihkan perhatian pada meja belajarnya (tidak ada yang salah dengan meja belajarnya, Yushi hanya tidak mau terus-terusan dilihat oleh Riku karena dirinya sebenarnya masih belum mau Riku pergi).

 

Riku, dengan kepekaannya yang selalu bekerja 100% ketika berkaitan dengan Yushi, tersenyum gemas.

I’ll stay for a bit more then, Yu. Gue di sini kalo lo mau cerita. Or anything sih, gak harus cerita,” Riku melanjutkan, “Cium juga boleh.”

 

Yushi terdiam. Ia kira lomba ‘Siapa yang Akan Salah Tingkah Duluan’ sudah selesai sedari 30 menit yang lalu ketika mereka sepakat untuk berhenti mengejek dan menggoda.

 

Seakan membaca pikiran Yushi, Riku langsung menyanggah ucapannya sendiri. “Bercanda, Yu. I’ll make us official dulu, itu juga kalo lo mau. Gue gak buru-buru kok, tenang.”

 

Perkataan Riku lagi-lagi membuat Yushi mengalih-alihkan pandangannya dan mengulum senyum.

 

Setelah puas (belum puas) bertukar pikiran dan pandang dengan Riku selama hampir 2 jam tadi, bohong jikalau Yushi bilang dirinya tidak sedikit (atau banyak) tertarik dengan Riku. Bagaimana tidak? Selama mereka berbincang, Riku tidak henti-hentinya berusaha agar percakapan mereka terus mengalir. Mulai dari warna kesukaan, mata kuliah kesukaan, hobi, makanan favorit, dan pertanyaan-pertanyaan simpel lainnya, terus menerus Riku ajukan supaya ia bisa berbicara dengan Yushi.

Dan Yushi belum pernah mendapatkan sebegitu banyak perhatian dari orang lain selain dari kucingnya yang ada di rumah. Hobi Yushi untuk menghabiskan jatah kata hariannya pun dapat tersalurkan melalui Riku, yang dengan telaten menanggapinya. Riku juga ikut berbagi kisah, yang mana membantu Yushi untuk lebih mengenalnya juga.

 

Yushi senang bisa merasa seperti ini setelah sekian lama. Merasa dihargai, merasa disambut, merasa diperhatikan.

 

“Udah kah, Yu? Gue balik, ya?” Riku beranjak dari duduknya.

 

Yushi menoleh dan memandang Riku yang tengah meregangkan tubuhnya.

Riku menghela napas, menengok ke arah Yushi dan pandang mereka bertemu. “Gue balik, ya, Yu.” pamitnya.

 

Salam perpisahan itu membuat Yushi bergerak, melangkah mendekati Riku dan mengikutinya sampai ke pintu kamarnya.

 

Tepat ketika tangan kanan Riku menyentuh kenop pintu, Yushi menghentikannya dengan meraih pergelangan tangan kirinya.

 

Riku menoleh dengan ekspresi sedikit terkejut. Yushi menatapnya dengan kedua mata bulat. Kelopak matanya mengejap, dan pupilnya sedikit bergetar. Riku bisa merasakan tangan kanan Yushi yang gemetar terhadap genggamannya pada pergelangan Riku.

Belum sempat Riku mengungkapkan herannya, kedua lengan Yushi sudah melingkar pada tubuhnya. Gemetar tangan Yushi masih bisa Riku rasakan saat Yushi menggenggam erat kain jaket pada punggungnya. Degup jantung Yushi yang sangat amat berisik itu kini juga bisa Riku rasakan dentumannya. Berisiknya tidak keruan.

 

“Lucu lo,” gumam Riku, sebelum akhirnya membalas pelukan Yushi. Kedua lengannya mendekap tubuh Yushi, menariknya lebih dalam ke pelukannya.

Yushi tersenyum terhadap tindakan Riku. Dirinya bisa merasakan sensasi memanas pada wajahnya yang kian parah, sehingga ia memilih untuk mengubur wajahnya pada bahu Riku.

 

“Deg-degan lo kedengeran tetangga deh, Yu.” gemetar suara Riku terasa geli pada dada yang lebih muda, mengundang tawa kecilnya yang lucu.

“Lo juga sama aja, Kak.”

 

Lalu mereka berdua tetap dalam posisi itu: saling mendekap. Sesekali Riku memberikan usapan-usapan lembut pada punggung dan surai yang lebih mungil, sesekali pula Riku mengucapkan terima kasihnya pada Yushi karena sudah mau memberikan dirinya kesempatan.

Yushi juga tidak jauh beda, hanya saja Yushi lebih memilih untuk merasakannya dalam diam. Ia menghela napas lega ketika Riku sedikit mempererat pelukannya, dalam diam menikmati hangatnya dekapan dan usapan yang diberikan oleh Riku.

 

“You’re still trembling,” kata Riku. “I was trying to soothe you, but you’re still trembling.”

“Gak tau,” Yushi melanjutkan jawabannya, “I guess you’ll have to keep hugging me then, Kak.”

 

Balasan Yushi itu membuat Riku tertawa gemas. “Sampai kiamat juga gue ladenin, Yushi.”

Notes:

(user hereafter kecanduan nulis kulyut imut) bYyThe WaaYy aku juga.. punya x/twitter? kinda? @hereafteresque