Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-07-27
Updated:
2025-07-27
Words:
2,041
Chapters:
1/?
Kudos:
7
Bookmarks:
1
Hits:
94

plum blossoms in the snow

Summary:

Ironis, pikir Mark. Ibunya menggambarkan darah di atas salju sebagai kelopak bunga, dan pemuda di dekatnya ini, Haechan, menggambarkannya sebagai lambang umur panjang dan keberuntungan.

Ia sangat ingin tertawa sekarang, darah yang keluar dari tubuh dan udara yang terlampau dingin akan menyebabkan kematian, dan kematian bukanlah bunga, jelas pula bukan umur panjang dan keberuntungan. Kematian adalah kematian, sebuah titik akhir yang buruk rupa.

Notes:

Tulisan ini saya tulis untuk hiburan semata, tidak ada maksud untuk menggiring opini, mencemari nama baik atau menggunakan nama setiap tokoh untuk keuntungan komersil.

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Katakan, Tuan, bukankah itu indah?

Chapter Text

Tubuh Mark berguling di atas tanah bersalju. Es menerpa wajahnya yang mulai kebiruan, membekukan darah di sudut-sudut bibirnya. Kendati demikian, ia tetap diam saja dan tidak berusaha untuk menghentikan laju rotasinya, justru membiarkan bongkahan-bongkahan es yang ia tabrak turut menyiksa dan menambah luka terbuka pada raganya.

Darahnya semakin banyak menetes, menodai salju dengan warna merah menyala, sebuah anomali di tanah Siberia yang disebutnya sakral. Mark mengingat sulaman ibunya ketika ia masih berusia sembilan, beberapa kelopak bunga merah tercecer di atas sapu tangan putih yang akan ayahnya bawa untuk bepergian menunaikan tugas di China. Lambang keberanian, kata ibunya, dan keberuntungan. Tetapi juga warna darah dan kematian, pikir Mark, sebab ayahnya tidak pernah berpulang kembali ke rumah. Ayahnya pergi membawa keberuntungan mereka hingga ke negeri China dan tidak pernah kembali, meninggalkan ibunya yang luntang-lantung dan kemudian menjadi budak.

Ayahnya mencampakkan Mark pula pada jurang kelam hutang yang harus ia bayar.

Samar Mark mendengar teriakan beradu-padu dengan letupan mesiu, menyadarkannya perihal nasib yang tengah ia genggam di negeri antah berantah. Dulu ayahnya adalah pembunuh bayaran, seseorang yang dikenal atas pencapaiannya menyelesaikan misi hingga tuntas tanpa jejak. Suatu kali di musim panas, ayahnya pernah membawa Mark ke tengah hutan untuk menggenggam pistol dan menembak. Mark masih berusia tujuh, tidak tahu apa-apa, dan ayahnya sudah menuliskan masa depan untuknya. Mark dijual kepada mafia sebagai ganti uang yang pernah ayahnya pinjam untuk berpesta pora di negeri seberang.

Karena itulah Mark di sini sekarang, sebelah utara Siberia yang dinginnya mencekam. Ia membawa dua buah pistol yang sama-sama habis pelurunya, dan sebuah belati di sebelah dada. Ia dikirim sebagai agen ganda, mata-mata pada sebuah organisasi ilegal sebelum akhirnya topengnya terbongkar. Mark sudah berlari dua hari lamanya, tanpa makan dan minum dan istirahat yang layak. Agaknya hari ini adalah hari di mana ia benar-benar akan pergi meninggalkan dunia, Mark menyesal tidak dapat mati di tanah berumput hijau dan berlangit biru.

Tubuhnya menabrak sebuah batang pohon besar, menimbulkan bunyi krak yang menyakitkan. Mark mencoba membuka matanya yang mulai buram akibat tertutup darah, melihat tetes-tetes merah di atas salju. Seperti sulaman ibunya, dan Mark membayangkan keadaan ayahnya ketika ia berakhir dulu. Apakah ia sempat melihat sulaman ibu sebelum napas terakhirnya terhembus?

Sesuatu berwarna coklat menyusup pada pandangannya. Sebuah sepatu, Mark kenali sebagai sepatu baru Jeno yang ia beli di Rusia sebagai bekal perjalanan ke Siberia. Sepatu yang tebal dan hangat, sepatu yang sama dengan yang tengah ia kenakan sekarang. Ia membelinya juga sebagai simbol pertemanan, sepatu yang sama untuk melangkah bersama. Sepasang sepatu yang kini mengejek pengkhianatannya.

"Ada kata terakhir?"

Suara Jeno lantang dan tajam, tidak kalah dingin dari suhu minus sekian derajat di udara. Moncong pistol terarah tepat ke kepala Mark, dan dari jarak yang sedemikian dekat, Jeno tidak akan salah sasaran. Begitu Jeno memicu pelatuknya, Mark akan tamat sebagai seorang pengkhianat tanpa nama. 

Seorang pecundang.

"Te..m..bak sa...ja."

Jeno menembaknya.

 


 

Mark membuka mata.

Ia dapat melihat langit-langit kayu, sama seperti kubikel kecil tempatnya biasa tidur dulu. Ia juga melihat tembok kayu di sebelah kiri serta sebuah kursi kosong di sebelah kanan. Ia tidak membau ataupun mendengar hal lain, senyap.

Mark mencoba bangun, sesaat itu ia tersadar tubuhnya telah terbalut perban dengan beberapa luka tergores sudah mengering. Ia memicing, memindai sebuah kamar asing tempatnya bangun. Mantelnya tergantung di salah satu sisi ruangan, sepasang pistol dan sebilah belatinya teronggok di atas meja di sampingnya. Mark bergegas berdiri, tidak peduli dengan luka-luka di tubuhnya dan sakit yang menjera, disambarnya mantel dan belatinya.

Ia harus segera pergi.

Mark tidak tahu sudah berapa lama ia tidak sadarkan diri, atau bahkan posisinya sekarang. Suhu ruangannya cenderung panas walau tidak ada satupun penghangat ruangan yang ia temukan. Mungkin saja saat itu ia tidak dibunuh ㅡJeno tidak menembaknya, ia jatuh pingsan dan dikirimkan ke sindikat lain. Barangkali ginjal dan hatinya telah terjual, jantung dan sepasang korneanya pula, dan hanya menunggu waktu hingga klien datang.

Daun pintu ia buka perlahan, tanpa suara. Sebuah ruangan lain menyapa indra penglihatannya. Terdapat meja, sofa, almari penuh buku. Dua buah pintu. Tidak ada satupun kalender maupun jam penunjuk waktu. Terdapat lubang di berbagai tempat, tembok dan atap. Mark dapat mengintip dunia luar. Putih sepenuhnya.

Tidak ada tanda-tanda kehidupan, Mark mengendap-endap menuju pintu keluar.

Dan yang ia lihat memang hanya putih seluruhnya. Seluruh tanah yang dapat ia tapak tertutup salju. Ia melihat barisan pohon berjarak cukup jauh, mungkin dua kilometer. Serta langit kelabu tanpa ujung. Selain itu, tidak ada apa-apa.

Nihil.

"Sudah akan pergi, Tuan?"

Mark tersentak. Ia menyambar belatinya sembari bergerak pelan, menghadap sumber suara di belakangnya. Mark merupakan seorang mafia terlatih, pendengarannya tajam dan ia sedang cukup sadar untuk menangkap bunyi apapun yang tercipta dan dirambatkan udara menuju gendang telinganya. Namun kali ini, ia benar-benar tidak memerangkap suara ataupun presensi apapun.

"Anda melupakan ini."

Seorang pemuda membawa dua pistolnya. Pemuda itu bersurai coklat dengan sepasang manik berwarna senada. Pada pipi kirinya terbentang konstelasi tahi lalat yang merambah hingga leher, begitu anggun dan cantik. Kulit pemuda itu sedikit tan, kontras dengan nuansa salju di sekitarnya.

Asing, aneh.

"Anda tidak akan mengambilnya?"

Pemuda itu kembali berujar, mengirimkan gelenyar aneh pada raga Mark yang tengah bergeming di tempat. Suara si pemuda terdengar meleleh seperti madu di gendang telinganya, juga mengingatkannya pada bunyi-bunyian musim panas. Paduan cicada, nyanyian burung bulbul. Gemerisik dedaunan yang diayun angin.

Sejenak Mark kehilangan kata-kata, sebab sesosok di depannya amat menakjubkan.

"Aku…"

"Namun, jika saya boleh berpendapat, lebih baik Tuan masuk kembali dan beristirahat. Saya akan mengobati luka Tuan sampai kembali sehat."

Pemuda itu mengambil langkah perlahan, satu demi satu untuk mengikis jarak dengan Mark. Jejak-jejaknya tertinggal di atas salju tebal yang bertumpuk, nanti akan terkikis angin dan menghilang. Tidak akan bertahan lama, sementara. Mark perlahan meraih belatinya, juga dengan sangat hati-hati agar tidak menghentikan langkah si pemuda. Bertahun-tahun ia melatihnya, sebuah aksi singkat yang akan membunuh siapa saja targetnya bahkan sebelum targetnya sadar dan dapat bertindak melawan.

Jarak keduanya hanya bersisa satu uluran tangan. Mark menarik belatinya, mengarahkannya pada leher si pemuda, tepat pada nadi yang akan mengucurkan darah hingga ia kehilangan kesadaran dan kemudian kehilangan nyawa. Merah akan menggenangi salju, mengalir dan mengeras. Terpatri dan menjadi jejak yang tidak akan hilang diterpa angin, tanda bahwa si pemuda pernah berada di tempat ini.

"Kau siapa?"

Tidak ada musim panas lagi untuk Mark.

Mark tidak akan dilemahkan oleh ilusi, atau kehausan dalam diri yang membuatnya sesaat termakan imaji. Mark adalah mafia muda, ia pembunuh dengan darah mengalir setiap kali target ia tetapkan. Dan pemuda di depannya, yang layaknya personifikasi musim panas dengan kulit sewarna mimpi-mimpi di pesisir pantai dan suara semegah nyanyian burung-burung bulbul, yang tampak sangat amat ganjil di tengah mencekamnya musim dingin dan salju setebal beberapa sentimeter, bukanlah seseorang yang akan luput dari daftar target Mark.

Mark adalah pembunuh yang handal, ia tahu dan dapat menimbang siapa yang dapat ia iris nadinya. 

Si pemuda menarik kedua ujung bibirnya membentuk sebuah senyum yang ramah. Lantas ia menjatuhkan kedua pistol di genggaman, dan kepalanya bergerak maju pelan. Darah mengalir dari lehernya yang tergores, menetes, menjejak merah pada salju di bawah. Tidak mengalir, hanya membentuk titik-titik merah pada hamparan putih bersih. Seperti puluhan kelopak bunga di atas salju.

"Nama saya Haechan, dan saya tidak dapat berbohong. Terlebih lagi pada makhluk seperti Tuan."

Belati Mark masih menggores kulit Haechan sementara ia memindai netra coklat Haechan. Ia benci melihat sepasang manik itu begitu jernih, sehingga dapat merefleksikan bayang Mark sendiri. Kepalanya yang besar dan rambutnya yang mencuat acak-acakkan, leher dan bahunya, tubuh militernya. Bayang itu tampak mengejeknya. Genggaman Mark pada belatinya menguat, dan ia dapat merasakan gejolak darahnya yang mendidih akan amarah. Apakah bayang itu adalah dia? Apakah bayang itu benar-benar Mark yang sekarang?

Mark adalah pembunuh, ia dapat membunuh targetnya bahkan tanpa targetnya tahu ia telah bertemu ajal. Mark adalah pembunuh, yang karena kecepatannya ia tidak pernah melihat korban-korbannya. Mark adalah pembunuh, Mark adalah pembㅡ

Ia melepaskan belatinya. Belati itu jatuh bersama dengan ambruknya tubuh Mark ke atas salju yang dinginnya mencekik.

"Apakah dapat Anda lihat, Tuan, tetesan darah di atas salju ini?"

Mark dapat melihatnya dengan jelas, bersama dengan bau amis yang menusuk hidungnya. Mark juga dapat melihat Haechan turut berjongkok dan mengamatinya, sepasang netranya terpaku pada tetes-tetes merah di atas putih.

"Mereka terlihat seperti puncak kepala burung bangau berkepala merah. Saat saya kecil, Tuan, kakek saya pernah berkata bahwa burung bangau berkepala merah melambangkan umur panjang dan keberuntungan."

Ironis, pikir Mark. Ibunya menggambarkan darah di atas salju sebagai kelopak bunga, dan pemuda di dekatnya ini, Haechan, menggambarkannya sebagai lambang umur panjang dan keberuntungan. Ia sangat ingin tertawa sekarang, darah yang keluar dari tubuh dan udara yang terlampau dingin akan menyebabkan kematian, dan kematian bukanlah bunga, jelas pula bukan umur panjang dan keberuntungan. Kematian adalah kematian, sebuah titik akhir yang buruk rupa.

"Katakan, Tuan, bukankah itu indah?"

 


 

Dalam mimpinya, Mark melihat Jeno.

Ia menenggak setengah gelas sake-nya sekaligus dengan teramat kacau. Sisi-sisi mulutnya basah, dan pria itu hanya mengelapnya dengan lengan kemeja yang tengah ia gunakan. Mereka berdua duduk di sebuah bar di bawah tanah, dengan udara lembab musim gugur dan bunyi riuh rendah orang-orang mabuk yang berpesta.

"Kau terlihat berantakan, bung."

Mark ikut minum amazake-nya, yang terasa manis dan membakar kerongkongan. Pandangannya beralih dari Jeno, liar dan tidak tentu arah menuju pendatang-pendatang lain. Pria-pria berjas, wanita-wanita dengan pakaian elegan yang tepat memeluk tubuh mereka. Bar ini kecil dan tersembunyi, namun tetap memiliki banyak pelanggan yang datang dengan cerita dan masalah masing-masing.

"Kau masuk tim ke Siberia?"

Jeno mengangguk, agak ragu.

"Ya, kupikir?"

"Siberia akan menjadi sangat dingin saat misi nanti," lirih Mark. Jeno tetap diam sambil menatap gelasnya, barangkali suara Mark telah teredam bunyi-bunyi lain yang terakumulasi pada gendang telinganya. Seseorang baru saja berteriak.

Lantas Jeno tergelak. Lengan kekarnya beralih dari menggenggam gelas menjadi mencengkram bahu Mark. "Memangnya kenapa? Kau takut dingin?"

"Kuharap mereka mengubah hari pertemuannya, mungkin awal musim semi. Itu saja."

"Hei, bung, kau benar-benar takut dingin? Aku belum pernah mendengarmu bilang 'kuharap'."

Seketika Mark pikir pijakannya di bumi telah berubah. Keheningan yang ia rasakan seolah telah melemparkannya ke ruang hampa di antariksa, hanya ada Mark dan sebuah kaset rusak yang mengulang-ulang pernyataan Jeno barusan. Mark tidak pernah menyadarinya.

Bisa jadi ia telah berhenti berharap sehingga kata itu tidak lagi pernah terlontar dari mulutnya. Namun mengapa sekarangㅡ

Ah, Mark tersadar. Ia tengah berada dalam mimpi dan mimpinya mengubah beberapa adegan dalam ingatan yang ia punya. Ia bergegas bangun, menangkap lanskap coklat dinding-dinding kamar dan ia merasa telah menjadi agak sinting dan gila. Seingatnya ia telah berada di Siberia, bukannya suatu negara tropis di dekat khatulistiwa. Namun ruangannya terasa hangat dan ia dapat mencium aroma daging panggang.

Agaknya ia telah memperbolehkan dirinya sedikit berharap, sehingga yang bercokol di pikirannya hanyalah bahwa semua yang telah ia alami hanyalah bagian dari mimpi belaka. Mark kembali menutup mata.

Mark tidak sadar telah berapa lama tertidur pulas, lantaran ia sendiri pun sudah tidak ingat kapan terakhir kali ia dapat tidur tanpa merasa harus tetap menjaga sedikit kesadaran dan insting yang telah ia poles bertahun-tahun lamanya. Akan tetapi ketika ia kembali membuka mata, seorang pemuda telah duduk di sebelah kanannya.

Haechan, Mark ingat. Jadi semua bukanlah mimpi belaka.

"Tuan benar-benar sudah bangun?"

Haechan tersenyum sumringah.

"Tuan sudah tidak sadarkan diri selama empat hari, saya sungguh khawatir."

Empat hari. Seseorang pasti akan datang membunuhnya.

"Apakah Tuan tidak lapar?"

Bohong jika Mark berkata bahwa dia tidak lapar, tetapi Mark merupakan seorang pembohong ulung. Ia menggeleng.

"Sayang sekali, Tuan, padahal ini malam Natal. Saya telah mempersiapkan sebuah perayaan kecil dan memanggang daging rusa."

Malam Natal, kah?

Mark ingat di masa kecilnya, ketika sang ibu mengajaknya menghias pohon natal kecil yang keluarganya punya. Mark menggantungkan miniatur sinterklas, bola-bola berwarna terang, melingkarkan lampu. Ia berjinjit kecil untuk meletakkan sebuah bintang emas di puncak pohon. Sentuhan terakhir diberikan ayahnya tepat ketika malam natal, dengan bungkusan kado berupa mainan-mainan atau buku-buku, sebuah hadiah kecil yang selalu membuat hatinya sangat bergembira.

Mark merindukannya. Natal-natal sederhana di masa kecilnya.

"Tuan? Apakah Tuan mendengar saya?" Haechan menepuk-nepuk pelan selimut Mark, pada lengan kanannya. "Apakah Tuan benar-benar sudah sadar?"

"Kau tidak menghabiskan malam natal bersama teman-temanmu saja?"

Bukannya mengurus orang asing yang hendak membunuhmu beberapa hari sebelumnya.

Haechan memiringkan kepala, mulut dan matanya membulat, kemudian mengerjap.

"Teman? Tapi Tuan teman saya. Saya sejak tadi mengajak Tuan untuk menyantap makan malam di dapur. Ataukah Tuan masih tidak bisa berjalan? Bagian manakah yang masih sakit?"

Mark terdiam.

 

Notes:

draft from... uhm... the year of 2020... will continue start today... promise (to myself)