Chapter Text
Kali pertama melihat Heeseung di usianya yang ke lima, ada sesuatu yang membuat jantung Sunoo berdebar. Seperti percikan kembang api kecil yang tiba-tiba membesar seiring berjalannya waktu. Sunoo pikir, itu hanya akan berakhir sepanjang dirinya beranjak dewasa. Namun dia salah—Sebab seberapa keras dia melupakan wajah dan senyuman itu, Sunoo selalu terbayang-bayang dengan sorot mata bulatnya yang menggemaskan, juga suaranya yang lembut ketika tertawa.
Saat pulang ke rumah, Sunoo berbicara kepada ibunya bahwa dia ingin masuk ke sekolah dasar di mana seorang kakak yang tampan berada. Ibu sangat bingung siapa yang dimaksud oleh putra kecilnya, dan mereka hanya berjanji akan melakukan hal itu jika Sunoo rajin belajar dan tidak pilih-pilih makanan. Meskipun sering ingin muntah, Sunoo menelan semua makanan yang dimasak ibu.
Di tahun kedua setelah pertemuan itu, Sunoo akhirnya masuk ke sekolah yang sama dengan Heeseung. Dan dia mengetahui jika usia mereka terpaut dua tahun, Sunoo menangis sebab tidak bisa berada di satu kelas dengan si kakak tampan. Bu Guru yang bingung dengan sikap Sunoo akhirnya mengatakan kepada ibu soal itu, tetapi mereka tidak bisa melakukan apa-apa sebab usia si kecil baru menginjak 7 tahun dan belum bisa masuk ke kelas yang dia inginkan.
Jadi Sunoo belajar begitu keras agar bisa mengikuti Heeseung—kendati tetap gagal, hingga kelulusan pemuda itu, Sunoo hanya bisa melihatnya dari jauh dan dia tertinggal, bahkan ketika dirinya belum sempat memperkenalkan diri.
Perasaan Sunoo terhadap Heeseung dibawa hingga dia lulus dan masuk ke Sekolah Menengah Pertama. Dan Sunoo mengetahui bahwa rasa cintanya semakin kuat, bersamaan dengan banyak fakta yang dia temukan. Sosok yang selalu memiliki banyak teman di sekitarnya, pandai—Akademik dan Non-akademik, mudah bergaul, reputasinya selalu bagus dan tidak pernah aneh-aneh.
Heeseung selalu dikelilingi oleh orang yang menyayangi dan mendukungnya.
Dan bagi Sunoo, dia membutuhkan waktu 15 tahun untuk membuat Heeseung menyadari kehadirannya. Ketika malam tahun baru di mana semua anak berkumpul di lapangan untuk melihat kembang api. Ramai di lapangan, duduk di tengah-tengah untuk menghitung bergantinya tahun. Kala Heeseung tak sengaja menyenggol lengannya karena orang-orang berdempetan, berebut membeli makanan ringan.
Heeseung hanya mengatakan “Maaf” dan dia berlalu begitu saja bersama tiga temannya, tetapi Sunoo tak bisa melupakan betapa jemarinya bergetar saking bahagianya malam itu. Sunoo yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang dan menghabiskan waktu hanya untuk belajar dan mengagumi Heeseung dari jauh, akhirnya memutuskan untuk mengikuti organisasi di mana Heeseung adalah wakil ketua. Namun frekuensi obrolan mereka tidak sering, meskipun keduanya berbagi udara yang sama—Dan Sunoo tidak mengeluh akan hal itu, sebab melihat Heeseung dari jauh sudah cukup baginya.
Mungkin—Hingga Sunoo harus benar-benar berpisah dengan Heeseung tanpa mereka mengenal lebih jauh, sebab pria itu meninggalkan kota kecil mereka begitu lulus. Pergi ke kota yang lebih besar, dengan menggenggam mimpinya untuk diwujudkan.
Sunoo—lagi-lagi, tertinggal dan tidak mengeluh.
Pada tahun pertama kelulusannya di sekolah menengah atas, Sunoo mengatakan kepada ibu bahwa mungkin dia akan langsung bekerja di kota. Namun keluarganya tidak setuju, sebab mereka lebih menginginkan Sunoo untuk berada di kota kecil mereka untuk berkuliah, bekerja dan bahkan berkeluarga di sana. Mendapat seseorang untuk melamarnya tidak sulit, sebab Sunoo memiliki banyak pria mengantri untuk menimangnya. Namun semua orang yang datang dia tolak—Dalam hati masih meyakini jika Heeseung akan kembali dan mereka bisa bertemu lagi.
Dia tidak mengatakan hal itu kepada ibu, sebab dia akan merasa begitu malu kalau ada yang mengetahui jika perasaannya begitu awet dan semakin kuat terhadap Heeseung. Hingga dia memutuskan untuk membuka sebuah toko roti dari uang yang dia kumpulkan selama bekerja paruh waktu semasa kuliah.
Bersama seorang teman yang membantunya di kasir, pekerjaan Sunoo sedikit lebih ringan. Tidak butuh waktu lama untuk membuat toko kue Sunoo berkembang dan dikenali, dia juga memiliki pembeli reguler yang kerap datang membeli cupcakes setiap hari-hari tertentu. Beberapa anak muda juga kerap mampir ke sana dan Sunoo berinisiatif membuat toko kuenya menjadi serupa kafe, agar mereka bisa bersantai di sana sepulang sekolah dan menyediakan wifi gratis bagi pembeli.
Semua orang menyukai kue buatannya. Ruangan yang hangat, juga vibes yang diberikan begitu nyaman sehingga Sunoo berpikir bisa melupakan Heeseung sejenak—Nyatanya, dia salah ketika akhirnya menyadari jika salah satu pelanggan yang kerap membeli cupcakes adalah ibu Heeseung. Tanpa sengaja mendengar percakapan wanita itu dengan seorang teman yang duduk di sana untuk mengobrolkan sesuatu—Termasuk ibu Heeseung yang kerapkali mengutarakan rasa kecewa sebab setiap kali pulang ke kota kecil mereka, putranya tak pernah sekali pun membawa seseorang yang dikenalkan.
Sunoo hanya curi dengar, tetapi tak pernah berani untuk bertanya lebih lanjut. Kecuali menunjukkan sikap ramah dan kedekatan yang tidak dibuat-buat, sebab pada dasarnya, Sunoo adalah sosok hangat yang disukai banyak orang—Yang tanpa sadar, ibu Heeseung juga menyukainya dan suatu waktu mengatakan, “Kue buatanmu sangat enak, Nak. Kapan-kapan jika anakku kembali, akan kubawa ke sini untuk merasakan kue buatanmu. Bahkan Ibu tidak bisa memakan kue buatan orang lain semenjak mengenal milikmu.”
Sunoo tersanjung, responsnya hanya tawa lembut dan kata terimakasih. Namun ibu Heeseung seolah selalu memiliki banyak stok obrolan—Tak menyadari jika apa yang dia katakan justru memberi informasi secara gratis dan harapan besar kepada Sunoo yang senantiasa antusias mendengar cerita-cerita soal Heeseung. Kendati dia tidak pernah bertemu dengan pria itu untuk waktu yang lama.
Dan Sunoo menyadari bahwa semesta bekerja pada waktunya.
Lambat laun, pertemuannya dengan ibu Heeseung lebih intim dibanding orang tuanya sendiri. Dan Sunoo jadi tahu dimana Heeseung bekerja, apa yang dia lakukan dan segala macamnya—Tetapi sang ibu juga tidak bercerita soal orang yang mungkin mengisi hati Heeseung.
“Putraku sangat tertutup, dan kami juga tidak pernah memaksa dia untuk bercerita jika tak ingin. Namun kamu tahu sendiri kalau sebagai seorang Ibu—Kami sangat khawatir jika dia menjadi perjaka tua.”
Sunoo tertawa kecil—Tidak bermaksud mengejek, dia hanya merasa jika itu semua cukup untuk menjadikan bukti bahwa Heeseung masih lajang.
“Kamu sendiri, Nak Sunoo? Apakah kamu tidak pernah berhubungan dengan siapa pun?”
Mereka tengah duduk di kafe milik Sunoo. Di tengah musik akustik yang berkumandang, pada jam tiga sore, ditemani secangkir teh hijau dan kue kering yang baru diangkat dari panggangan. Sunoo hampir tersedak minumannya ketika mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu.
Bibirnya tarik kurva secara santun dan dia meletakkan cangkirnya berhati-hati, bahkan tidak terdengar denting saat kedua bola mata indahnya mendongak naik. Bibirnya yang terasa kering dia jilat sejenak sebelum memberi jawaban. “Belum pernah—Bibi.”
Seolah ada hela napas lega keluar dari hidung ibu Heeseung, dia tersenyum lebih lebar dan Sunoo menggigit bibirnya, tak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang terlihat begitu jelas. Terlebih, dia tidak mungkin mengatakan bahwa putra wanita itu yang menjadikannya tak ingin menjalin hubungan dengan siapa pun, dan fakta bahwa Sunoo hanya menginginkan Heeseung seorang.
Kepalanya ditundukkan malu ketika ibu Heeseung menyentuh punggung tangannya sebelum pergi, berlanjut menggenggamnya begitu intens.
“Mau Ibu kenalkan dengan putra Ibu? Suatu saat—Kalau dia kembali, Putra Ibu sangat baik dan tidak aneh-aneh, Nak Sunoo—“ Ibu Heeseung terdiam sejenak. “Kalau kamu mengizinkan, tentu saja.”
Sunoo tidak langsung menjawab. Jantungnya berdebar terlalu kencang, bahkan dia cemas jika wanita di hadapannya bisa mendengar parade yang tengah berlangsung di dadanya, hingga sahutan yang bisa dia berikan hanya anggukkan kepala kikuk—Menyembunyikan antuasiasme yang menggebu-gebu—Dan pada malam harinya, Sunoo tak bisa tidur sebab terlalu bahagia.
Sunoo tidak membutuhkan waktu lama untuk ibu Heeseung membawa pria idamannya datang menemuinya. Di tokonya—Dengan napas yang tertahan, bisa dibilang—Saking bahagianya—Sunoo susah untuk sembunyikan getar di bibir. Jungwon dan Riki, teman Sunoo semenjak sekolah bisa melihat itu sebab pria itu juga tahu semenjak kapan perasaan Sunoo dimulai dan terus berkembang setiap harinya, hanya bisa menggelengkan kepala dan menyelamatinya secara tulus.
Jungwon bahkan bisa merasakan tremor di nyaris seluruh tubuh Sunoo saat wanita cantik itu mendekati dan menyapanya, di sisinya ada Heeseung berdiri. Sulit bagi Sunoo membuka suara—Dia terlalu gugup, sehingga Jungwon harus mengambil alih pekerjaan sementara dengan membalas sapaan, memberikan apa yang ibu Heeseung minta dan mengantarkan mereka berdua di kursi yang nyaman. Dekat jendela dengan pemandangan indah—Ada bunga mawar di luar jendela, dan itu menjadikan nuansa kafe Sunoo semakin romantis.
“Kamu seharusnya keluar, Sun.” Jungwon menegur temannya yang duduk di sofa mereka. “Kamu sudah menunggu kesempatan ini sangat lama. Jangan malah bersembunyi seperti itu,” ucapnya melanjutkan. Duduk di sisi Sunoo yang mendongak, menunjukkan matanya yang berkaca-kaca—Bahagia luar biasa. Dia tidak bisa mengendalikan dirinya, bahkan hanya untuk berkata dia bahagia saja kesulitan.
“Aku—Aku senang sekali, aku bahkan tidak bisa bicara dengan benar,” ucap Sunoo lirih. “Ternyata waktu seperti ini akan tiba.”
Jungwon mengangguk. “Tentu saja akan tiba, Sun. Kamu bahkan memilih tempat strategis untuk membuka toko sehingga ibu Heeseung bisa melihat kafe-mu. Aku akui kerja kerasmu sangat patut diacungi jempol. Sekarang, ayo temui calon ibu mertua dan suamimu!”
“E-eyh! Aku bahkan belum menyapanya,” sahut Sunoo sedikit merengek. Tidak tahu harus bersikap bagaimana nantinya. Dia menutup matanya dengan tangan, ingin menangis sekali rasanya setiap kali mengingat jika dirinya telah menunggu begitu lama—Sangat lama—Bisa dibilang.
Dan benar saja, karyawannya mengetuk pintu ruang untuk istirahat. Kepalanya melongok dari bilik pintu. “Hei, Bos—Ada yang ingin bicara denganmu.”
Sunoo mendongak, ludahnya ditelan dan dia mengangguk. Setelah menetralkan dirinya, Sunoo beranjak dari sana. Napasnya dihela begitu lama, meyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik saja—Sebab, inilah yang dia nantikan. Pertemuannya dengan Heeseung kembali.
Langkah pertamanya terasa berat, jantungnya belum bisa dinetralkan, bahkan corak wajahnya sudah sempurna memerah—Menuju ke telinga yang terasa begitu panas. Sunoo beberapa kali harus menoleh ke belakang, ke arah Jungwon yang memberikan semangat dengan kepalan tangan dan senyuman riang—Bibirnya bergerak, mengatakan dukungan. Hingga akhirnya, Sunoo keluar dan dia bisa melihat wajah itu lagi; fitur wajah yang dia rindukan.
Sunoo masih ingat ketika dulu dia hanya mampu melihat Heeseung dari jauh. Selalu berjalan sepuluh langkah di belakangnya, dengan tangan menggemgam pada tas dan dia menunduk. Khawatir perasaannya akan terbaca.
Pada langkah yang ke tiga belas, akhirnya Sunoo bisa merasakan debarnya sedikit lebih tenang. Heeseung dan Ibunya bangkit dari duduk, tersenyum menyapa dan Sunoo mendongak. Air muka pemuda itu terlihat lebih tenang dibanding perkiraannya saat mata mereka bertemu, dan Heeseung mengangkat tangan untuk menyalami—“Hei,” sapa pria itu dengan suara lembutnya. Begitu lembut—seperti sutra, dan Sunoo sadar jika selama ini sosok di hadapannya masih Heeseung yang sama, yang dia cintai tanpa syarat dan selalu—selamanya, tanpa henti, meski harus tertatih-tatih.
Pertemuan itu menjadikan awal keakraban Heeseung dan Sunoo. Sementara Heeseung tak banyak menceritakan soal dirinya—Pria itu lebih senang mendengarkan si Kecil mengisahkan keseharian. Terkadang, Heeseung akan duduk di kafenya lama, menantikan Sunoo pulang dan mengantarkannya ke rumah.
Ketika Sunoo bertanya apakah Heeseung tidak bekerja dan mungkin kembali ke kota, Heeseung menjawab jika pekerjaannya bisa dibawa pulang. Dan ibunya meminta Heeseung untuk tetap tinggal di sana, sebab ayahnya mulai sakit-sakitan dan takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan ketika Heeseung tak sedang berada di rumah.
Kekaguman Sunoo terhadap Heeseung semakin bertambah tatkala mendengarkan itu, sebab sebagaimana semua orang tahu bahwa pria yang berjalan di sisinya itu begitu penyayang. Dia tidak pernah membiarkan orang lain merasa sendiri dan memberikan yang terbaik kepada orang tuanya. Heeseung adalah anak yang penurut dan patuh, serta sangat berbakti. Menjadikan Sunoo lupa bertanya hubungan mereka apa, sebab sepanjang waktu, Heeseung tidak pernah absen menunggunya pulang.
Hingga pada suatu malam yang sunyi, ketika Heeseung mengantarnya pulang, Heeseung berkata bahwa ibunya menginginkan seseorang untuk dijadikan menantu dan Heeseung bertanya, apakah Sunoo tengah menjalin hubungan dengan seseorang? Atau dekat dengan orang lain.
Malam yang dingin itu menggetarkan bulu roma si pemuda mungil, kepalanya didongakkan. Langkah mereka berhenti dan Heeseung menghadap ke arah Sunoo. “Apakah ini baik-baik saja jika kamu menikah denganku?”
Pertanyaan itu tertuang begitu sopan di telinga Sunoo. Air matanya mengalir tanpa dia sadari dan Sunoo—Dengan suara tercekat—mengangguk. Tak mampu ungkapkan kata karena dia begitu bahagia. Lebih bahagia. Dia adalah seseorang paling bahagia di dunia ini dan itu semua berkat Heeseung.
Pernikahan mereka berlangsung beberapa bulan setelahnya. Begitu sederhana dengan hanya kerabat dan teman terdekat yang datang. Semuanya terlihat begitu bersyukur dan terharu. Sunoo menjadi pengantin paling indah sepanjang masa, dan dia tak berhenti menangis saking bahagianya.
Heeseung beberapa kali tertawa karena Sunoo terus mengalirkan air mata, berusaha menghiburnya dengan berbagai macam pujian dan memijat kaki suaminya sebab tahu jika mereka berdiri terlalu lama. Meskipun Sunoo tidak mengeluhkan itu, tetapi Heeseung teramat sangat perhatian terhadapnya. Memberikan apa yang Sunoo selama ini tak berani mimpikan. Bahkan ketika malam pertama keduanya hanya menghabiskan waktu dengan menatap langit-langit secara canggung dan tidur tanpa melakukan apa-apa, Heeseung dan Sunoo belajar untuk saling mengerti sepanjang waktu bersama.
Bedanya, kini Sunoo memiliki seseorang yang mengecup kening dan kelopak matanya sebelum tidur. Yang selalu menemaninya ketika hendak berangkat ke kafe, seseorang yang selalu menanyakan bagaimana kesehariannya, juga sosok yang mendengarkan keluh kesahnya setiap malam—juga yang akan memijat bahu, serta kakinya jika Sunoo berkata sedikit kelelahan.
Heeseung dan Sunoo adalah pasangan paling behagia seantero kota. Heeseung pun tidak malu untuk menunjukkan kasih sayang secara terang-terangan dan setiap hari, begitu pun Sunoo yang membalas dengan riang dan anggukan. Mereka adalah dua sejoli yang jatuh cinta—Dan hal itu dibuktikan oleh testpack bergaris dua pada usia pernikahan mereka yang pertama.
Dengan tangan mengelus perut yang masih datar, Heeseung mendekatkan bibirnya.
“Halo, Kecilnya Ayah. Selamat datang di perut Papa—nanti kita bertemu lagi di bulan ke sembilan. Baik-baik di sana, ya, Sayang?” ucapnya Heeseung sembari mengecup perut suaminya yang masih datar. Kepalanya mendongak ke arah Sunoo dan tersenyum lembut, sedikit menggerakkan tubuhnya untuk memberikan ciuman pada bibir pualam Sunoo yang memerah. Kemudian menyatukan kening mereka. “Terimakasih karena sudah menjadikan aku orang paling bahagia, Sunoo.”
Mendengar itu, Sunoo mengangguk. Air matanya tidak bisa berhenti, dia selalu ingin menangis acapkali Heeseung mengatakan hal itu—Rasanya, dunia tengah berpihak kepadanya.
Dan selama kehamilan, Heeseung semkin perhatian kepadanya. Memberikan yang terbaik. Menemaninya, tidak membiarkan dia kelelahan. Heeseung juga mencoba memahami mood dan ngidam-nya Sunoo, meskipun aneh-aneh.
Jika Heeseung sedikit sibuk, suami kecilnya akan ditemani sang ibu mertua yang tidak kalah sayang kepadanya. Selalu memasakkan dan membelikan makanan yang Sunoo inginkan, bahkan tanpa dia meminta. Membawakan mainan, membelikan pakaian untuk Sunoo dan si kecil yang terus berkembang dalam perutnya.
Setiap malam, Heeseung akan mengobrol dengan perut Sunoo yang mulai menampilkan gundukan besar. Mengecupi kulitnya yang halus dan memeluk Sunoo dari belakang hingga terlelap.
Terkadang, Heeseung meminta Sunoo untuk libur bekerja. Namun pemuda itu sangat—teramat sangat keras kepala.
Sambil manyun dia bilang, “Aku tidak punya kegiatan selain memanggang kue.”
Heeseung mendesahkan napas pendek. Mendekati Sunoo yang duduk pada sofa di ruang keluarga, menonton acara televisi yang membosankan. “Iya, tapi nanti kamu kelelahan. Sebentar lagi ‘kan lahiran. Apa nggak sebaiknya tinggal di rumah?”
“Aku nyamannya bekerja ….”
Ucapan Sunoo membuat Heeseung hanya bisa menghela napas. Tak dapat kembali memaksa, bagaimana pun yang menjalani hal itu adalah Sunoo. Jadi dia hanya mengelus puncak kepala pemuda itu dan beranjak dari ruang keluarga dan masuk ke kamar, tak mengatakan apa pun setelahnya.
Dan pemuda yang ditinggal bisa melihat secara perlahan punggung itu menghilang ke balik dinding. Kepalanya ditundukkan, dia mengelus perutnya yang membuncit dan merasakan tendangan kecil dari bayi dalam kandungannya—Masih belum ingin tidur, atau masuk kamar, bahkan Heeseung tidak mencoba untuk membujuk, kendati waktu hampir tengah malam.
Sunoo pikir, Heeseung tidak akan mengajaknya masuk ke kamar sehingga dia berakhir berbaring di sofa dengan televisi masih menyala. Kantuknya mulai datang dan dia nyaris masuk ke dalam dunia mimpi sebelum akhirnya merasakan hangat telapak tangan menyentuh pipinya, menahan diri—Setengah sadar ketika tubuhnya diangkat dan dibaringkan ke kamar tidur.
Keesokan paginya, perdebatan kecil semalam telah terlupa dan Heeseung tetap menjadi suaminya yang pengertian; mengantar dan menjemputnya dengan tekun.
Pada kehamilannya di bulan yang ke sembilan—Operasi kelahiran Sunoo berlangsung lancar. Keduanya selamat dan tangisan bayi dalam ruangan itu membuat seisi ruang lega. Ibu Sunoo menemani putranya yang baru mendapatkan kesadarannya kembali dan memberikan kenyamanan, begitu pun Heeseung dan ibunya.
Heeseung beberapa kali mengucapkan terimakasih karena telah menjadikannya seorang ayah. Mengecup kening dan bibir Sunoo dengan lembut, penuh kasih sayang. Perhatiannya tak pernah berkurang. Bayinya yang sehat berjenis kelamin laki-laki dan diberi nama “Haneul” yang berarti langit.
Lee Haneul.
Langit atau Surga.
Heeseung yang memilih nama, sebab Haneul adalah anak pertama mereka—Jadi Sunoo memberikan hak istimewa itu kepada suaminya. Dan kehadiran Haneul menjadi pelengkap bagi rumah tangga mereka, yang sudah indah, menjadi lebih sempurna.
Sempurna menurut Heeseung. Karena seperti inilah manusia seharusnya bersikap, bukan?
Namun semakin lama—Sunoo menyadari ada sesuatu yang kurang. Sesuatu yang sulit dijelaskan dan dikulik. Ada yang tidak bisa dia jelaskan, meskipun Heeseung tidak berubah—Sunoo hanya merasa—kurang.
Suatu waktu, dia tengah duduk di bilik peristirahatan kafe bersama Jungwon dan Riki. Bersantai sejenak. Kafe semakin ramai, dan Sunoo membuka cabang—Dia tidak lagi bekerja di dapur, hanya melihat para pekerjanya yang melakukan semuanya. Terkadang, Sunoo datang hanya untuk mengontrol, terlebih sebab kini Haneul sudah mulai bisa berjalan sehingga dia membutuhkan perhatian ekstra.
Sunoo hanya bisa beristirahat di waktu Haneul terlelap.
Pada tahun kedua semenjak kelahiran itu—Sunoo berkata kepada dua temannya, “Heeseung tidak pernah bilang, “Aku mencintaimu.” Tetapi, “Terimakasih.” Kenapa aku baru menyadarinya?”
Jungwon dan Riki yang mendengar itu hanya bisa menggumam sebab bagaimana pun, mereka tak bisa melihat keanehan dari hubungan keduanya. Dan hanya melihat segalanya dari luar—yang terlihat baik-baik saja. Tidak ada keanehan, ataupun hal janggal.
“Kamu cuma overthinking, Sun. Coba deh kamu pikir ulang, kamu pernah juga tidak mengatakan hal itu?” tanya Riki pelan.
Sunoo mengatupkan mata. Dia juga tidak pernah mengatakan itu—Karena Heeseung juga tidak melakukannya. Dia tidak ingin membebani Heeseung dengan ungkapan-ungkapan cinta yang menggelikan. Jadi, dia menggeleng.
“Kamu saja tidak pernah, bagaimana bisa menuntut orang lain melakukannya? Sekarang, yang terpenting adalah kebahagian kalian berdua dan Haneul," kali ini Jungwon menyahut.
“Aku tahu. Hanya saja, rasanya sangat aneh. Kami sudah menikah selama empat tahun—Hampir lima, dan Heeseung memang tidak pernah berubah, tetapi—Kamu tahu, Won. Aku ingin mendengar hal itu satu kali saja. Heeseung itu … anak yang baik, suami yang bertanggung jawab dan suami yang begitu manis. Pokoknya, dia sempurna. Aku benar-benar mencintainya, makanya aku sendiri khawatir kalau dia melakukan itu karena aku terlalu mencintainya.”
“Tuh, kan. Kamu benar-benar overthinking.”
Sunoo menghela napas. Dia menyandarkan kepalanya ke dashboard sofa, merasakan pusing luar biasa di kepalanya.
Kurang tidur dan dia sedikit lelah karena harus mengurusi Haneul. Putranya yang terbangun dengan rengekan menyertai. Pemuda itu bangun dari duduknya dan mengendong tubuh mungil sang buah hati dan mengelus punggungnya. Membawanya ke luar sambil berjalan-jalan di areal kafe.
“Lihat, ada banyak bunga—wah, cantik sekali.”
Haneul tertawa riang. Memeluk leher Papa-nya yang menimang-nimang tubuhnya, dan di sana, Sunoo melihat seorang pelanggan datang.
Ramah senyumnya terpatri. “Halo~” sapanya riang, menurunkan Haneul yang bermain tidak jauh dari sana. Sosok itu terlihat begitu menawan, membalas sapaan Sunoo, yang mengantarnya masuk.
“Aku dengar di sini jual kue yang enak—jadi aku ingin coba,” ucapnya. Pemuda itu terlihat ramah dan asing. Melihat deretan kue yang terpampang di etalase, aroma sedap lelehan cokelat dan gula merasuk ke hidungnya—Kue yang baru dipanggang baru dikeluarkan, mengisi kembali stock yang habis. Kepalanya mendongak karena aroma itu dan dia menunjuk scone. “Mau itu dua … kemudian, latte. Apakah nanti bisa dibungkus juga?”
“Tentu. Kami akan bungkuskan saat kamu mau pulang biar hangat.”
“Terimakasih!”
“Kamu baru di sini?” tanya Sunoo—masih tetap ramah, sembari membantu melayani. “Aku nggak pernah lihat kamu di sekitar sini.”
“Ah, iya. Baru pindah kemarin. Aku baru sempat keluar hari ini karena ingin coba sesuatu yang manis, ternyata yang punya juga sangat manis, ya?” pujinya tertawa. Diikuti Sunoo yang tersipu. Memberikan pesanan kuenya kepada si pembeli.
“Tunggu kopinya, ya? Sebentar lagi akan diantar. Kamu bisa duduk di mana saja.”
“Terimakasih.”
“Sama-sama.”
Dan Pemuda itu mengambil duduk di dekat jendela, di mana ada banyak bunga mawar tengah mekar. Menikmati waktu sore dengan scone dan secangkir kopi. Pemandangan sore yang tiba-tiba saja, mengundang hujan—bersamaan dengan sosok yang buru-buru masuk ke dalam kafe. Tubuhnya hampir basah, rambutnya kuyup dan dia melepaskan topi saat mata mereka tidak sengaja bertemu.
Lee Heeseung sejenak terpaku pada tatapan itu, sebelum dia akhirnya mengalihkan pandangan sebab merasakan pelukan kecil di kakinya dan menyadari jika Haneul berada di betisnya yang basah.
“Haneul, Ayah datang. Di mana Papa?” tanya pria itu, menggendong Haneul dalam pelukannya. Mendengar jawaban Haneul yang masih belum jelas dan terpotong-potong, sekali lagi menoleh ke arah pemuda yang tadi memandangnya, kini kembali menatap keluar jendela yang basah akibat rintik air hujan.
Dan Sunoo menyaksikan sesuatu yang anehnya membuat napasnya tercekat. Selama 4 tahun bersama, Sunoo menyadari jika Heeseung tidak pernah melihatnya dengan tatapan itu. []
