Work Text:
Kasa berbaring di ranjangnya bergelung dalam keheningan. Setelah kejadian kelam itu berlalu semua hal berubah. Ia teringat kamarnya yang dulu disinari mentari pagi membangunkannya, melihat taka yang tidur di ranjang sebelah tidak ada lagi. sahabatnya yang telah memulai harinya terlebih dahulu. Terdengar dentingan sendok di dapur dan aroma kopi yang menyeruak ke hidung kasa dan sesekali ia mendengar seruan serta renteran repetan taka yang yang keras yang mencoba membangunkannya. Begitu hangat, begitu menenangkan, menandakan ia tidak sendiri di sini.
Dan kini semuanya sirna
Meninggalkannya dalam kebisuan
Sendirian
Di kamarnya
Cahaya mentari yang dulunya membawanya ke dalam keceriaan kini tidak lagi begitu bermakna baginya. Hanya sebuah biasan yang menganggu tidur. Kasa menggerang dan mencoba menarik lagi selimutnya hingga menutupi wajah mencoba melanjutkan tidur. Namun nihil. Kesal. Ia menghempaskan selimut dan mulai beranjak duduk di pinggir ranjang, mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak bisa tidur lagi tapi ia juga malas memulai harinya, membiarkannya terdiam di sana. Sekali lagi memori datang menghampiri kasa. Ia ingat ketika masa-masa ia malas bangun dahulu di mana masih ada masa-masa Taka bersamanya. Retaka yang disiplin tidak menyukai tingkah kasa yang suka bermalas-malasan di kasur. Kadang upayanya membangunkan kasa jika ia tidak ingin repot-repot membangunkannya ia akan inisiatif menyiramkan satu timba penuh berisi air dingin ke seluruh tubuh kasa. Membuat kasa tersontak dan berseru karena kedinginan
“UWOOOOOH!!! DINGIIIN COK!” serunya saat itu
Mengingat kembali kejadian pada hari itu membuat Hangkasa tersenyum getir. Betapa pedulinya Retakka terhadap dirinya dulu walaupun ia membangunkan kasa dengan cara yang cukup keras. Khas dirinya. Memastikan Kasa tidak terlambat memulai hari-harinya.
Suatu hari Kasa menangkap sesuatu hal yang janggal di kamar mereka saat ia ingin kembali bergolek di kasurnya sendiri
Kasa terkekeh ketika melihat buku diary Taka yang tergeletak diatas kasurnya
Ternyata dia bisa seperti ini juga ya.
Batin kasa, Geli. Setelah menoleh kiri kanan memastikan Retakka tidak ada di sana kemudian tanpa rasa berdosa ia meraih buku itu dan mulai membuka isinya. Halaman demi halaman Kasa rata-rata hanya mendapatkan halaman kosong. Ternyata Retakka tidak terlalu banyak menulis di buku itu, sesekali ada terlihat satu dua kata yang tertulis di sana hingga ia terpaku pada sebuah halaman yang di penuhi tulisan. Itu sebuah lirik lagu yang di tuliskan dengan bolpen bertintakan hitam. Sejak kapan ia suka menulis lirik lagu? Kasa merasakan kebingungan dalam dirinya. Ia membaca tulisan itu lamat-lamat
Tak perlu sendiri
Kau tetap di sini
Lihat telus ke dalam mataku
What do you see?
Saat membaca empat baris pertama Kasa sontak terdiam sesaat, di dalam pikirannya ia mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya Retakka tulis. Ia mulai mengambil nafas dan terus melanjutkan
Tak perlu bersedih Aku kan di sini
Luahkan semua perasaan hati kamu
Ku tulis lagu buatmu
Bangun
Ingatan itu kini melayang di pikirannya. Semua derita ... semua kerja keras itu ... ia baru menyadari bahwa taka selalu ada di sisinya setiap kali ia merasa jatuh. Ia ingat saat ia di hadang oleh sesama survivor di Gugura yang kasar dahulu dan taka selalu ada di sisinya untuk membelanya.
So close your eyes
I'll be there for you
I swear that it's true
Kata-kata itu ... begitu dalam ... Kasa teringat saat Taka benar-benar selalu ada di sisinya. Dan semua tindakan itu terasanyata. Tanpa pamrih ia selalu membela kasa bahkan saat perdebatan dan pemfitnahan jatuh kepadanhya.
Sentiasa aku
Pinjamkan bahuku
Saat-saat itu ... begitu murni ... dari rasa ketulusan. Ia ingat saat saat Taka selalu sedia membantunya, menyelesaikan masalahnya bersama, memastikan dirinya tidak sendiri, taka selalu bersamanya. Ia ingat dirinya pernah melakukan kesalahan konyol yang membuat Taka pernah tak habis pikir terhadapnya namun untungnya ia tetap menolong kasa. Itu menjadi sebuah kisah berwarna didalam persahabatan mereka
So close your eyes
Akan kau tahu
Ku juga perlu
Sentiasa kamu
Pinjamkan bahumu
Namun di sisi lain ia juga menyadari bahwa Retakka juga membutuhkannya. Walaupun ia terlihat sangat kuat dan mampu berdiri sendiri, ia tau taka juga membutuhkannya. Kemanapun jua, ia akan selalu bersamanya. Itu janji mereka. Kasa akan selalu menjaga taka dengan segenap jiwanya sebagaimana Taka juga menjaga dirinya
Tak usah kau bimbang
Sinar pasti datang
Menerangi segala
Kemahuan kehendakmu
Ia mengingatkan kepada Kasa bahwa harapan pasti akan datang. Walaupun mereka berada di titik paling terpuruk, paling gelap sekalipun. kasa lah mengingatkannya terlebih dahulu agar terus berharap akan sebuah cahaya yang mengeluarkan mereka. Kekuatan harapan mampu membuat mereka melangkah jauh sampai ketitik ini. Ungkapan itu kini tertulis di buku itu
Itu bukan hanya sekedar lirik lagu melainkan curahan isi hati taka terhadapnya. Betapa ia bersedia memberikan bahunya kepada kasa kapanpun saat ia butuhkan. Kasa menutup buku itu kemudian meletakkan kembali ke tempatnya seakan tidak pernah di sentuh sama sekali. Lirik itu di tulis saat kasa sedang berjuang dengan persiapannya mengikuti pentas musiknya. Di saat itu kasa begitu tertekan, dan merasa tidak pantas untuk tampil di tengah-tengah para peserta yang lebih hebat lainnya di tambah gitarnya hilang di rusak oleh sekelompok preman saat memalaknya.
Kasa benar-benar merasa di titik terpuruk saat itu namun Taka selalu di sisinya. Memberi dukungan, nasehat dan semangat di kala itu. Membuat Hangkasa untuk terus maju. Ia mengoreksi melodi gitar yang salah, dan membantu menambahkan lirik yang menurut kasa tidak pas. Selama itu ia juga menulis liriknya sendiri di dalam buku dairy-nya Menuliskan pesan-pesan yang tak pernah ia ungkapkan langsung kepadanya. Walaupun ia cukup gengsi untuk mengunggapkannya namun semua tindakannya menunjukkan semua isi hatinya. Ia menununjukkannya dengan tindakan yang nyata
Saat itu ...
begitu tulus, begitu murni.
ia mencintai kasa sebagai saudaranya tanpa syarat. Mungkin kasa hanya menatapnya sebagai seorang yang berhati keras dan acuh tak acuh di hadapannya. Namun tanpa ia sadari begitu berarti posisinya di dalam diri Taka.
Mata kasa mulai berkaca-kaca. Kini buku itu masih di simpan bersamanya sebagai salah satu kenang-kenangan dari Retaka yang di tinggalkan. Kenapa ia harus pergi? Kenapa takdir menentukan mereka berakhir seperti ini?
Pikiran lain mulai menari-nari di benaknya saat ia tak sengaja melihat sebuah alat pemutar suara. Ratna... entah kenapa nama itu melintas secara tiba-tiba. Ia ingat saat masa-masa ia pergi Gurlatan pertama kali untuk memperdalam ilmunya dan ia di terima dengan hangat disana.
Namun waktu terus berlalu, Hangkasa sebenarnya juga datang dengan membawa beberapa masalah dari dirinya, tak sepenuhnya murni tanpa masalah, dan parahnya ia tidak memberi taukan sama sekali kepada mereka. Namun setelah mereka tau, alih – alih membencinya, mereka tidak marah, justru membantu kasa keluar dar masalah itu hingga ia berhasil. Ia juga ingat pada saat ia ingin sendiri ratna mengirim pesan kepadanya melalui rekaman pesan suara. Menunjukkan betapa perhatiannya ia kepada Kasa pada saat kasa sangat terpuruk saat itu.
Kasa mengingat pesan itu dan masih menyimpannya. Ia beranjak dari kasur dan menghampiri alat rekaman yang ia gunakan dulu saat merekam yang tak jauh darinya. Memutarnya. Kemudian terdengar suara Ratna yang begitu ia rindukan
Hei Kasa, apa kau di sana?
Maaf jika ini tiba-tiba
aku Cuma hanya ingin mengatakannya saja sih ... tapi ...
Kamu nggak papa?
kamu baik-baik saja kan?
Yah maksudku ... mungkin ini terasa terlalu berlebihan ...
Dan terdengar seperti apalah ...
Tapi Kasa aku hanya ingin kau tau, tidak apa jika kamu tidak ingin tersenyum sesekali
Dan kamu tidak perlu menjelaskan alasannya kenapa pada kami
Kami paham ... dan kami mengerti ...
Ingatlah kasa, langit yang mendung pastinya akan kembali di sinari oleh matahari setelahnya ...
Jadi berikanlah waktu untuk itu ... tenangkan dirimu
Pada akhirnya semuanya akan baik-baik saja ... aku yakin itu. hehehe ....
Terdengar suara kekehan Ratna di seberang sana
Kau akan merasakan sanyummu kembali merekah di sana
Dan kau menyadari itu adalah senyum asli dikarenakan semua orang bisa merasakannya di matamu
Tapi tentu saja aku aku meneleponmu karena aku memikirkanmu
Dan aku ingin memastikan kau baik-baik saja di sana
Beritau aku jika tidak karena aku akan selalu disini jika kamu membutuhkannya
BEEEEEEEEEEEEB .....
Tawa renyah Ratna, senyumnya yang berbinar... kemana semua itu? Kemana semuanya berlalu?
Suara dering menyertai menandakan rekaman telah berakhir. Kasa menundukkan kepalanya dalam-dalam, mentangkupkan kedua tapak tangannya di wajahnya, Membiarkan air matanya perlahan mengalir di pipinya. Ratna, Retaka, semuanya, orang-orang yang mencintainya tambah pamrih kini telah sirna. Walaupun pahit, pesan-pesan Ratna selalu menenangkannya.
Ya ... Ia harus bangkit dan ia tidak bisa terus tenggelam dalam keterpurukannya walaupun ia tau ia membutuhkan waktu untuk dukannya. walaupun rasa penyesalan itu masih menyertainnya dan belum hilang dalam ingatan. Tapi ia sadar dia tidak boleh terus terlarut-larut dalam kesedihan, jalan masih panjang dan masa depan masih membentang. Pengalamannya yang telah melewati itu semua mengajarkannya untuk menjadi tegar, menyadarkannya bahwa segala sesuatu pasti datang dan pergi, semua ini tidaklah abadi, semua ini hanya sementara. Ia juga merasa bersyukur bisa bersama dengan mereka.
Dia bahagia pernah menghabiskan waktu dengan mereka, ia bahagia telah berbagi moment dengan mereka. Setiap detik, setiap menit merupakan suatu makna yang berarti, tidak ada penyesalan melainkan suatu momen yang berharga menjadi sebuah kenangan yang indah. Ia telah berjanji tidakkan akan terus terlarut dalam kesedihannya tapi dia tetap akan menyimpan kenangan itu dalam pelukannya sebagai suatu kenangan yang berarti. Ia akan bangkit, akan terus melangkah maju menuju masa depan yang terus menunggunya.
Mereka telah memberikanku kesempatan untuk berharap... mereka telah memberiku kesempatan untuk berjuang... mereka telah memberikan kesempatan untukku kembali melihat dunia... dan aku tak akan menyia-nyiakan pengorbanan mereka
Kasa melangkah maju menuju pintu keluar dan cahaya terang menerpanya
Masa depan yang indah menanti ...
__◊◊◊__
