Actions

Work Header

Si Dokter Cantik Luocha

Summary:

Pertemuan pertama Jing Yuan dengan Luocha adalah saat dia menjenguk temannya di rumah sakit. Beberapa bulan kemudian dia malah menjadi penunggu pasien di rumah sakit yang sama. Kemudian menjadi pasien di rumah sakit itu sendiri. Mungkinkah ini takdir dia akan terus bertemu dengan si dokter cantik itu di rumah sakit yang sama?

Notes:

Halo! Ini pertama kalinya aku menulis fanfic di fandom HSR. Akhirnya kesampaian mengupload fanfic kapal kesayangan aku sejak jaman beta sampai hari ini. Aku sudah lama suka kapal ini bahkan sejak HSR belum rilis. Kira-kira saat beta terakhir sebelum perilisan. Padahal mereka belum ada canon interaksi dan belum ada dialog apa-apa hahaha...

Ada beberapa catatan untuk fanfic ini:
- Cerita ini mengambil tema era modern atau lebih tepatnya bukan canon timeline cerita. Jadi High Cloud Quintet masih hidup dan menjadi teman Jing Yuan sejak sangat lama.
- Aku tidak terlalu paham lore High Cloud Quintet jadi mohon maaf kalau ada yang tidak akurat pengkarakterisasinya.
- Di cerita ini Xianzhou Luofu adalah sebuah negara. Xianzhou itu semacam kontinentalnya dan Luofu adalah negaranya. Jadi nanti jabatan Jing Yuan itu mencakup satu negara bukan hanya satu distrik atau provinsi saja karena Luofu di sini adalah negara.
- Cerita ini mungkin mengandung medical inaccuracies karena aku bukanlah seorang tenaga medis jadi aku hanya menulis berdasarkan riset saja. Mohon dikoreksi apabila ada yang kurang tepat!

Selamat membaca!

Chapter 1: Menjadi Penjenguk Pasien

Chapter Text

 

Pertemuan pertama mereka berawal ketika Jing Yuan sedang menjenguk temannya di rumah sakit.

 

Siang hari itu rumah sakit sedang ramai oleh kunjungan pasien. Dia yang baru saja sampai tepat di jam dua belas siang segera melangkahkan kakinya yang panjang menuju ruang inap di lantai 4. Sebelum pergi ke lantai 4, Jing Yuan mampir sebentar ke toko donut yang ada di dalam rumah sakit. Dia membeli selusin donat dan tiga cup kopi susu. 

 

Elevator berdering ketika sudah mencapai lantai 4. Dia segera melangkah ke kamar yang sudah sangat dia hafal karena sering datang kemari menjenguk temannya. Sesekali dia akan melempar senyum kepada perawat yang sempat dia kenal selama beberapa hari kemarin.

 

Jing Yuan berhenti sejenak di depan pintu kamar nomor 0410. Dia menarik napas dalam-dalam sambil berusaha menahan senyum dan gelak tawa yang entah kenapa ingin sekali keluar dari tenggorokannya. Kemudian pintu berwarna krem itu dibuka.

 

“Hai, semuanya!” sapanya kepada orang-orang di dalam ruangan. 

 

Dalam ruangan itu ada tiga orang yang mengitari di sekitar ranjang rumah sakit. Di ranjang rumah sakit itu terbaring seorang wanita foxian berambut ungu cerah dengan selang infus di tangan kirinya. Semua orang di ruangan itu langsung mengarahkan pandangan mereka ke Jing Yuan. 

 

“Wah, Jing Yuan! Akhirnya kamu da–”

 

“Hei, lihat aku bawa apa untuk kalian semua!”

 

Jing Yuan meletakkan kotak donat dan tiga cup kopi susu ke atas meja. Dia juga langsung membuka kotak donut itu dan mengambil sebuah donat coklat dari dalamnya.

 

“Jing Yuan.” wanita foxian itu menggeram kepada Jing Yuan. “Kamu sengaja ya?!”

 

Jing Yuan yang sedang mengunyah donat coklatnya itu menatap kawannya itu dengan wajah sok polos. “Sengaja apaan, Baiheng?”

 

Baiheng menodongkan telunjuknya ke arah Jing Yuan dengan ekspresi marah. “Kamu sengaja kan meledekku dengan membawa donut itu!”

 

“Apaan sih, aku bawa donut buat Yingxing, Dan Feng, dan Jingliu kok.” 

 

“Ya tapi kamu tahu kan itu donut kesukaan aku?!”

 

Dengan wajah tanpa dosanya Jing Yuan kembali menyahut dengan mulut penuh makanan. “Oh. Memang. Kamu mau?”

 

“Tapi kamu tahu kan aku sedang nggak boleh makan?!” Baiheng mulai agak menjerit karena kesal.

 

“Oh iyakah? Aduh, maaf.”

 

“Sudah, sudah. Jangan ribut-ribut di rumah sakit.” kata Dan Feng mencoba melerai. Pria bersurai hitam panjang itu memegang tangan Baiheng yang mulai bergerak-gerak kesal. 

 

“Kamu pasti sengaja kan ingin buat Baiheng kesal.” sahut Yingxing yang sejak tadi cuek dengan perdebatan mereka. Dia sedang asik menonton acara National Geographic di televisi.

 

“Mentang-mentang kamu paling muda di antara kami, kamu bisa jahil seenaknya begitu.” gerutu Baiheng. Dia mengalihkan pandangannya kepada Jingliu yang sejak tadi diam saja sambil melihat layar tabletnya. Dia tampak sibuk dengan pekerjaannya. “Tuh, Jingliu, muridmu kurang ajar lagi.”

 

“Baiheng, kamu sudah tahu kalau kamu nggak boleh makan apapun selama 8 jam non stop sebelum operasimu nanti jam 3 sore.” kata Jingliu anteng tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet di tangannya. Lalu dia mengangkat telunjuknya kepada Jing Yuan yang masih asik memakan donutnya. “Dan kamu, Yuan. Meskipun kamu termuda tapi kamu sudah beranak satu. Jadi bersikaplah selayaknya seusiamu.” 

 

“Oh iya, kadang aku lupa hanya Jing Yuan di antara kita semua yang sudah punya ‘buntut’ lebih dulu.” gumam Dan Feng. 

 

“Loh Yingxing kan sudah punya ‘buntut’ juga.” kata Jing Yuan. 

 

“Yunli keponakanku ya, omong-omong.”

 

Ketika Baiheng ingin memulai kembali perdebatan terdengar suara ketukan di pintu ruangan itu. Sontak mereka yang ada di dalam menengok ke arah pintu. Tanpa menunggu persetujuan dari penghuni ruangan, pintu itu terbuka. Sepertinya orang yang mengetuk hanya ingin memberi tahu kedatangannya ke dalam kamar itu.

 

Pintu krem itu terbuka, menampakkan sosok berjas putih dan berambut pirang yang berjalan masuk ke dalam ruangan. Dia membawa beberapa peralatan medis di tangannya. Wajahnya tersenyum hangat ketika akhirnya mendapatkan perhatian dari penghuni ruangan.

 

“Selamat siang.” sapanya ramah dengan suara berat yang lembut.

 

“Ah, Dokter Luocha!” Baiheng menyapa balik dengan ceria. Lalu seketika dia memberengut sambil menodongkan jarinya kepada Jing Yuan. “Lihat! Temanku meledekku dengan membawa donut.”

 

Dokter Luocha melirik sebentar ke arah Jing Yuan, lalu kembali menatap Baiheng sambil berusaha menahan senyum geli. “Memangnya kenapa kalau temanmu bawa donut kemari?”

“Aku kan nggak boleh makan!” ucap Baiheng dengan suara merajuk. 

 

“Ya kalau begitu Nona Baiheng harus menahan diri dong agar tidak ikutan makan.”

 

“Tuh!” sahut Yingxing. 

 

“Tapi aku kan mau.” Baiheng bercicit pelan sambil memanyunkan bibirnya.

Dokter Luocha tersenyum kecil. “Nanti kalau Nona Baiheng sudah sembuh boleh makan donut sepuasnya kok.”

 

Baiheng hendak menanggapi namun langsung terdiam karena Jingliu yang tadinya cuek dengan cekcok mereka kini mulai meletakkan tabletnya ke pangkuannya. Lalu dia bangkit berdiri menghadap dokter Luocha.

 

“Untuk operasinya bagaimana, Dokter?” katanya tanpa basa-basi.

 

Dokter Luocha mengeluarkan tensimeter dari kotak yang dia bawa tadi. “Sesuai jadwal yang sudah diberitahu kemarin, Nona Baiheng akan menjalani operasi jam 3 sore nanti. Berarti kurang lebih dua jam lagi. Melihat dari tingkah Nona Baiheng yang ingin sekali makan donut berarti Nona Baiheng sudah tidak makan sejak jam 7 pagi tadi, benar?”

 

“Iya, benar.”

 

“Bagus. Makan makanan berat memang tidak boleh. Tapi untuk mencegah dehidrasi Nona Baiheng masih boleh minum air putih. Nona Baiheng sudah minum air putih kan sejak tadi?” kata dokter Luocha sambil memasangkan tensimeter ke tangan kanan Baiheng. Dia mulai mengotak-atik mesin itu, lalu terdengar suara deru dari mesin itu yang artinya mulai mengecek tekanan darah Baiheng.

 

Baiheng menganggukkan kepalanya.

 

Dokter Luocha kembali tersenyum. “Baguslah. Itu artinya Nona Baiheng siap untuk dioperasi nanti jam 3 sore. Sebelum itu saya juga harus melakukan pengecekan terakhir sebelum nanti Nona Baiheng dipindahkan ke ruang operasi jam 2 siang.” 

 

Dokter Luocha mulai memberikan penyuluhan terkait hal-hal pra operasi. Semua orang di ruangan itu mendengarkan dengan seksama penjelasan dari dokter Luocha. Semuanya, kecuali satu orang.

 

Sejak dokter Luocha masuk ke dalam ruangan, Jing Yuan mendadak terdiam. Bahkan donut yang baru habis setengah itu terlupakan olehnya akibat perhatiannya yang sangat terpaku kepada dokter Luocha. Tatapannya tidak lepas dari sosok dokter berparas cantik dan manis itu. Rambutnya yang digelung dan dijepit dengan jepitan berwarna hijau memperlihatkan lehernya yang putih. Matanya berwarna hijau bagaikan permata peridot. Namun dari semua itu yang membuat Jing Yuan sampai menahan napas adalah senyumannya. Ketika dokter Luocha berjalan masuk dan menyapa semua orang dengan senyum hangatnya, seketika itu juga Jing Yuan merasa dunia berhenti berputar. Dia seperti mendengar bunyi nada “sha la la la” di dalam benaknya dan seperti ada binar-binar di sekujur tubuh dokter Luocha.

 

Mungkinkah… mungkinkah dia jatuh cinta pada dokter Luocha pada pandangan pertama?

 

“Baiklah. Saya akan kembali lagi nanti jam 2 siang untuk mengantar Nona Baiheng ke ruang operasi.”

 

“Baik, terima kasih, Dokter.”

 

Entah sudah berapa lama Jing Yuan melamun menatap dokter Luocha. Kesadarannya kembali saat dia melihat dokter Luocha berjalan ke pintu kamar hendak pergi. Seketika itu juga tubuhnya bereaksi tanpa dia pikir. Jing Yuan segera mengejarnya ke depan kamar sebelum dokter Luocha menghilang di koridor.

 

“D-Dokter!”

 

Langkah kaki dokter pirang itu terhenti. Dia membalikkan tubuhnya dan mendapati pria bersurai putih tadi sedang berdiri tak jauh di belakangnya.

 

“Apa masih ada yang perlu ditanyakan?” 

 

Jing Yuan mendadak merasa gugup. Dia sendiri tidak tahu kenapa tubuhnya bereaksi ingin mengejar dokter Luocha. Mulutnya terbuka ingin mengatakan sesuatu tapi tak tahu itu apa. 

 

“A-Anu… saya belum bertemu dengan dokter sejak kemarin. Apakah Anda yang akan menangani teman saya saat operasi nanti?”

 

Dokter Luocha tersenyum kecil. “Ya. Saya dokter anestesi yang akan menangani pembiusan teman Anda saat operasi nanti. Saya memang baru bertemu dengan Nona Baiheng tadi pagi-pagi sekali jadi mungkin Anda belum bertemu saya sejak kemarin.” 

 

“Ah, begitu.”

 

Lalu Jing Yuan kembali bingung ingin bertanya apalagi. 

 

“Maaf. Tapi apakah masih ada yang ingin ditanyakan kepada saya?”

 

Jing Yuan mendadak menjadi semakin gugup. Jantungnya berdebar kencang. Dia berdeham sekali sebelum kembali berkata-kata.

 

“Anu… saya mohon bantuannya, dokter…”

 

“Luocha.” sahut Luocha melihat kegugupan Jing Yuan.

 

“Ah ya, dokter Luocha. Saya mohon bantuannya untuk teman saya selama menjalani operasi nanti. Baiheng adalah sahabat saya sejak lama dan dia adalah orang yang sangat berharga buat saya. Jadi, saya percayakan keselamatan teman saya kepada Anda.”

 

Rasanya Jing Yuan ingin memukul dirinya sendiri mengucapkan kalimat menggelikan itu. Tapi apa boleh buat daripada dia mati kutu karena tidak tahu harus berucap apalagi di depan dokter cantik ini. 

 

Luocha menganggukkan kepalanya sambil tetap memperlihatkan senyumannya. “Tentu saja. Ini sudah menjadi tanggung jawab saya dalam menangani pasien. Anda tidak perlu khawatir.” 

 

“Terima kasih, dokter.”

 

“Kalau begitu saya permisi dulu. Masih ada beberapa pasien yang perlu saya periksa.”

 

“Ah iya. Silakan, dokter. Maaf sudah mengganggu waktu Anda.”

 

Keduanya saling menganggukkan kepala sebagai tanda perpisahan. Tanpa berlama-lama lagi Luocha segera pergi dengan langkah cepat ke ruangan berikutnya. Meninggalkan Jing Yuan yang masih berdiri di koridor dengan wajah melongo. 

 

“Hei, Yuan, apa yang kamu lakukan di situ?” Yingxing muncul dari balik pintu ketika akhirnya Luocha menghilang dari pandangan Jing Yuan.

 

“Bukan apa-apa kok.” ucapnya dengan suara sedikit bergetar.

 

“Kamu kok tadi tiba-tiba keluar mengejar dokter Luocha. Apa masih ada yang ingin kamu tanyakan?”

 

Dia menatap Yingxing selama beberapa detik lalu terkekeh. “Ya. Ada beberapa hal. Dia dokter anestesi kan?”

 

“Hu’um. Kalau begitu kenapa tadi nggak tanya saat dia masih ada di dalam ruangan saja?”

 

“Aku kelupaan.”

 

Yingxing menelisik sikap Jing Yuan itu. Entah mengapa seperti ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu. 

 

“Sudahlah. Ayo makan donut sama-sama.”

 

 

 

 

 

~~~