Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-07-30
Completed:
2025-10-06
Words:
5,909
Chapters:
5/5
Comments:
31
Kudos:
313
Bookmarks:
19
Hits:
4,358

I Wish You Would

Summary:

Max dan George tumbuh bersama dan saling mencintai, tapi ambisi membawa Max ke dunia balap dan meninggalkan George.

Chapter 1: But it's not even an option

Chapter Text

Max dan George tumbuh bersama di lingkungan kecil yang hangat, di pinggiran kota Milton Keynes. Rumah mereka hanya berselang dua blok. Dari kecil, mereka selalu bersama, main sepeda, membuat markas rahasia di taman belakang, saling bantu ngerjain PR. Banyak yang bilang mereka seperti kembar yang lahir di dua keluarga berbeda.

Saat masuk SMA, hubungan mereka perlahan berubah. Mungkin karena kebersamaan yang tumbuh menjadi rasa lain. Yang pasti, waktu Max menggenggam tangan George di bawah meja perpustakaan dan berbisik, “Aku suka kamu,” George mengangguk dengan senyum kecil yang tak bisa dia sembunyikan.

Sejak kecil, Max sudah digembleng untuk jadi pembalap. Semua orang tahu itu. Ayahnya keras, ambisius, dan punya rencana besar untuknya. Ketika Max masuk Formula 1 di usia 17, semuanya berubah. Mereka masih duduk di bangku SMA waktu itu, dan George masih ingin dunia mereka tetap seperti dulu, penuh pesan tengah malam, tawa pelan di telepon, dan pelukan sebelum berpisah.

Tapi Max mulai jarang membalas pesan. Jarang pulang. Jarang menemui George meski George datang jauh-jauh ke sirkuit hanya untuk bertemu dengan max.

Sampai akhirnya, di tengah paddock yang sibuk dan bising, Max menatapnya datar dan berkata:

“Kamu bikin aku kehilangan fokus, George. Kamu ganggu.”

Cuma itu. Satu kalimat pendek, dingin, tajam, seperti pisau yang menancap dan ditarik pelan-pelan.

George berdiri mematung di sudut paddock waktu itu, menatap Max yang bahkan tidak menoleh ke belakang. Tidak ada penjelasan. Tidak ada alasan yang bisa dia pahami. Hubungan yang mereka susun dengan hangat dan hati-hati, yang mereka jaga selama bertahun-tahun, berakhir begitu saja, diputuskan sepihak oleh orang yang selama ini dia pikir akan memilihnya.

Dan sejak hari itu, George menghilang. Bukan hanya dari hidup Max, tapi dari dunia yang dulu mereka bagi berdua.

Akun media sosialnya lenyap. Nomor ponselnya tak lagi bisa dihubungi. Ia tak pernah datang ke paddock, tak pernah duduk menunggu di hospitality atau berdiri di pit wall seperti dulu. Tidak di tribun. Ia menghilang seperti kabut pagi yang diam-diam pergi tanpa pamit.

Namun George tidak pernah membenci Max. Tidak pernah bisa.

Meskipun setiap kali mengingat kalimat terakhir dari max, dadanya seperti diremas dan dibakar dalam waktu bersamaan, dia tetap menyisakan satu ruang kecil dalam hatinya untuk Max.

George masih menonton balapan diam-diam. Sendirian. Setiap sorotan kamera ke arah Max terasa seperti tamparan. Setiap sorakan kemenangan, setiap radio tim yang dipenuhi tawa, mengingatkannya bahwa ia tidak lagi menjadi bagian dari dunia itu. Tidak lagi menjadi bagian dari Max.

Hidup terus berjalan, katanya. Tapi bagi George, waktu seakan berhenti sejak hari itu.

Hari ketika Max memilih kecepatan di atas cinta. Memilih fokus di atas kebersamaan. Memilih kemenangan di atas hatinya.

Dan George hanya bisa menerimanya. Dengan diam. Dengan luka yang tak berdarah, tapi mematikan pelan-pelan.

Sebab kalau cinta adalah tentang saling memilih, maka Max telah memilih untuk tidak lagi memilihnya.