Actions

Work Header

Sunset

Summary:

In this universe, Hanjin berperan sebagai Jingga while Dohoon berperan sebagai Dion.

“Kalau kehidupan kedua itu nyata adanya, aku harap aku dan Kak Dion bisa bersatu secara utuh. Aku harap aku juga terus punya suaraku biar bisa teriak ke dunia kalo aku suka banget sama Kak Dion.”

Dion memejamkan matanya, membiarkan angin membawa kembali resah yang selama ini ia sembunyikan. “Maaf. Aku janji, di kehidupan yang selanjutnya kita bakal ketemu lagi. Kamu dan aku bakal bersatu secara utuh, tanpa tabu dan aturan yang melarang kita. Aku pastiin aku bakal nyari kamu di kehidupan kita yang selanjutnya, Jingga.” Suara Dion terdengar rapuh. Rengkuhannya pada Jingga pun kian mengerat.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Jingga menatap ponselnya erat. Kepalanya kerap menoleh ke sana kemari, resah, mencari keberadaan seseorang. Hatinya menunggu tak tenang, jemarinya terus menggulir layar ke ruang percakapan antara dirinya dan kakak kelasnya, Dion. Jingga terus menatap percakapan mereka di mana Dion mengajak Jingga untuk pulang bersama. Tanpa sadar, Jingga menggigit bibir bawahnya, tanda semakin tidak tenangnya ia dalam hal menunggu.

 

“Jingga?” 

 

Jingga terperanjat. Sontak, ia menoleh ke belakang, mendapati sosok yang sudah lama ia tunggu kedatangannya. Jingga membungkuk pelan, tangannya ia bawa untuk menggaruk tengkuknya sendiri. Jingga merasa malu karena sudah memberikan reaksi yang berlebihan.

 

Sementara Dion hanya terkekeh pelan. “Eh, maaf. Aku enggak bermaksud buat ngagetin kamu. Maaf juga, soalnya bikin kamu nunggu lama. Tadi tiba-tiba dipanggil Bu Maya.”

 

Jingga menggeleng pelan. Tangannya perlahan bergerak, sedikit gemetar tetapi terasa antusiasnya. “Enggak lama, kok, Kak. Aman.” Jingga menampilkan ibu jarinya, tanda bahwa dia tetap akan menunggu Dion mau selama apapun itu.

 

Dion tersenyum tipis sebelum akhirnya berjalan lebih dulu. Jingga pun mengekor tanpa perlu disuruh. “Tadi Bunda bilang ke aku, katanya bakal pulang telat lagi. Banyak banget yang diurus Bunda, ya, Ngga?”

 

Jingga mengangguk atas pertanyaan Dion. “Kayaknya. Bunda pulang telat terus dari kemarin.” Jingga tersenyum kecil, maklum dengan keadaan Ibundanya. “Bunda ngechat Kak Dion lagi?”

 

“Iya. Katanya, ‘Bunda titip Jingga, ya, nak’ gitu.” Dion terkekeh pelan setelah menirukan bagaimana Ibunda Jingga berbicara padanya tadi. Meski begitu, sorot matanya tak kunjung lepas dari yang lebih muda. “Bisa aku bawa jalan dong? Bunda pulangnya tengah malem, ‘kan?”

 

Jingga mendongak, menatap yang lebih tua penuh tanda tanya. “Mau ke mana, Kak? Tapi jangan malem-malem banget. Besok Kak Dion masih harus latihan buat DBL nanti, ‘kan.”

 

Tanpa sadar, kaki mereka telah sampai di parkiran motor. Obrolan ringan itu pun terpaksa harus tertunda karena Dion menyuruh Jingga untuk menunggunya di depan gerbang sekolah sementara ia mengambil motornya. Jingga menurut, kakinya ia bawa lari kecil untuk keluar gerbang, menunggu kehadiran sang kakak kelas sekaligus tetangganya itu. 

 

“Bisu, kenapa belum pulang bisu? Masih mau nyusahin orang lain, ya?”

 

Jingga mendongak. Segerombolan anak seangkatannya, setidaknya ada empat orang, menghadang tubuhnya. Jingga menghela napas pelan, mereka lagi, batinnya. Tangannya mengepal, mulutnya pun membisu—ah, karena dirinya tidak memiliki kemampuan untuk berbicara juga. Namun, empat anak di hadapannya justru melihat kesempatan di balik diamnya Jingga. 

 

Salah satu di antara mereka mendorong bahu Jingga penuh tenaga. “Kalau ada orang ngomong sama Lo tuh dijawab!” Gadis itu tertawa, merasa sudah mengatakan hal yang begitu pintar. Teman-temannya yang lain ikut terbahak. 

 

Salah satu pemuda di antara mereka pun maju. “Hidup Lo tuh bisanya memang cuma nyusahin orang lain doang aja, ya? Gue tahu, Bunda Lo itu jarang pulang karena muak punya anak cacat kayak Lo!” 

 

Suara hantaman benda keras tiba-tiba terdengar—seseorang baru saja menonjok pemuda di hadapan Jingga ini dengan tinjuannya. Yang perempuan berteriak histeris, sedangkan laki-laki sisanya membantu pemuda yang dihantam itu untuk kembali berdiri. 

 

“Apa-apaan ini, Yon?!”

 

“Elo yang apa-apaan Dika?!” Dion balas membentak seraya menunjuk pemuda di hadapannya. “Enggak ada bagus-bagusnya, ya, kon—” Dion tidak melanjutkan umpatannya lantaran menyadari bahwa masih ada Jingga yang berdiri gemetar di belakangnya. 

 

Dion mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi yang tak dapat ia sembunyikan. “Ah, emang Lo semua kayak anjing.” Dion menunjuk empat remaja di hadapannya. “Lo, Lo, Lo juga. Elo yang paling anjing, Dik. Gerombolan gini ganggu Jingga, cupu Lo semua.”

 

Salah satu gadis di antara mereka maju, mendekati Dion. “Kamu kok gitu, sih, Yon? Emang kita salah apa sam—”

 

Dion tukas omongannya dengan tawa sarkasnya. Sorot matanya begitu tajam, menatap mata lawan bicaranya hingga ia tak berani menatap balik. “Enggak usah sok baik gitu, Jess. Muak gue sama kemunafikan Elo. ‘Salah apa’ kata lo? Minimal punya otak dipake buat mikir.” Dion bawa jari telunjuknya untuk menoyor kepala Jess dengan kuat, buat si gadis terhuyung ke belakang. 

 

Jess yang tidak terima pun menghentakkan kakinya. Tangannya ia bawa untuk menunjuk Jingga yang masih berdiri di belakang tubuh besar Dion. “Apa bagusnya dia sampai kamu bela segininya, sih!? Ke mana-mana juga masih cantikan aku! Jangan bilang kamu suka sama Jingga?”

 

Amarah Dion makin melonjak. Hendaknya pemuda itu menghampiri si gadis kalau saja lengannya tidak ditahan oleh Jingga. Dion menoleh ke belakang, melihat Jingga yang terus menggelengkan kepalanya. Dion pun menghela napas kasar sebelum kembali menatap lawan bicaranya. “Ngomong sama gue lagi kalo udah bisa ngalahin Jingga di OSN.” 

 

Dion segera menarik lengan Jingga menuju motornya yang tak jauh dari gerbang sekolah, meninggalkan keempat perundung itu terdiam karena pernyataan Dion di akhir cukup menusuk ke hati mereka. 

 


 

Dion diam selama perjalanan. Suara mesin motor dan embusan angin saja yang menemani mereka kala itu. Dion yang selalu cerewet itu kini tengah menggunakan angin sore untuk mendinginkan kepalanya. 

 

Menyadari suara desiran pasir dan deburan ombak yang mendekat, Jingga mulai menduga-duga. “Pantai?” Jingga bertanya segera setelah mereka sampai di tempat tujuan. 

 

Dion yang membaca gerakan tangan Jingga pun mengangguk. Amarahnya sudah menurun, terima kasih atas pemandangan indah di hadapannya. Langit sore yang menguning kala mereka sampai di pantai, dan .... 

 

Jingga dan matahari yang hendak terbenam. 

 

Sepatu keduanya sudah tertanggal, ditinggal di dekat pepohonan bersama dengan tas mereka. Yang ada pada mereka hanya seragam sekolah, dan jiwa yang terus mencari ketenangan dalam ributnya dunia. 

 

Jingga menyentuh bahu Dion pelan. Si empunya menoleh seraya melayangkan senyuman lembut.

 

Jingga menarik napas panjang-panjang sebelum akhirnya ia mengangkat kedua tangannya, mulai menggerakkan jemarinya—cara ia berkomunikasi. “Kenapa Kak Dion ngebela aku sampai segitunya? Yang Jess bilang juga bener kok, aku cuma nyusahin Kak Dion dan Bunda aja.”

 

“Hei.” Dion segera menangkup kedua tangan Jingga agar tidak ada kata-kata negatif lagi yang ia ucapkan. Dion melepas tangan Jingga dan mulai balas berkomunikasi dengannya. “Jingga enggak pernah sekalipun jadi seseorang yang menyusahkan buat aku.” 

 

“Kenapa? Aku dari dulu nanyain Kakak, alasan kenapa kakak selalu ngelindungin aku, alasan kenapa Kakak selalu merhatiin aku. Tapi, Kakak enggak pernah ngasih tahu!” Tanpa sadar, mata Jingga sudah sudah penuh oleh air mata yang menggenang. Mengedip sekali pun air mata itu jatuh membasahi pipinya.

 

Sebelum Jingga berhasil menghapusnya dengan tangannya sendiri, Dion sudah membawa tangannya untuk mengusap air mata itu. Dion paling tahu, Jingga paling tidak suka dikasihani. Dion paling tahu, Jingga yang paling menyayangi Bundanya dari siapapun. Dion paling tahu, hati Jingga itu begitu rapuh. 

 

Terlalu rapuh, maka dari itu Dion ingin terus melindunginya. 

 

Tangannya kali ini ia bawa untuk menangkup wajah Jingga. Sesekali ibu jarinya ia bawa untuk mengusap pipinya lembut. 

 

Sebelum akhirnya ia mendekat, mencium Jingga dengan lembut. Tak ada gerakan tambahan lainnya. Dion hanya ingin menyentuh bibir Jingga dengan miliknya. Dion hanya ingin menyalurkan perasaannya yang sesungguhnya.

 

5 detik yang terasa seperti selamanya. 

 

Dion perlahan menjauhkan wajahnya, menatap yang lebih muda penuh afeksi. Lantas ia terkekeh pelan lantaran mendapati wajah Jingga yang memerah bak sebuah tomat. Suara Jingga sampai keluar saking gugupnya ia. Tangannya mulai bergerak-gerak. “Ciuman pertamaku ….”

 

“Itu juga ciuman pertamaku.” Dion segera menjawab dengan bahasa isyaratnya yang fasih—efek sudah bertetangga jauh sebelum Jingga kehilangan suaranya. Meski sebenarnya Dion tidak perlu melakukannya. Kedua telinga Jingga masih berfungsi sebagaimana mestinya. 

 

Jingga masih belum berani untuk menatap mata Dion. Meski begitu ia tetap menggerakkan kedua tangannya. “Memangnya boleh? Kita berdua sama-sama laki-laki ….”

 

Senyum Dion perlahan memudar, menyadari satu fakta yang ia lupakan, seakan-akan dunianya pecah begitu saja. Bagaimanapun mereka hendak melawan arus dunia, mereka tidak akan pernah bisa bersatu mau seperti apapun caranya. Jingga tidak pernah mau mengecewakan Bundanya, maka Dion harus sebisa mungkin mengabulkan keinginan kecil Jingga. 

 

Tak kunjung mendapat jawaban, Jingga memberanikan diri untuk mendongak. Malah pemuda itu mendapati Dion tengah menatap cakrawala di depan sana, menatap langit yang mulai kemerahan. Dan, Jingga dapat melihat sebuah senyum manis terpatri pada wajah Dion.

 

Namun, entah mengapa hati Jingga merasa sedih kala ia melihat senyuman itu. 

 

"Perasaan memang sulit ditebak, Ngga. Kita enggak bisa nentuin mau suka ke siapanya, karena gimanapun juga hati kita sendiri yang paling jujur soal apa yang kita rasakan sendiri." Dion menoleh, menatap Jingga teduh. “Tapi, ya ... dunia punya aturannya sendiri. Enggak apa-apa. Biarin ini jadi rahasia kita berdua aja, ya? Mamaku, Bundamu, enggak ada yang boleh tahu, oke?” 

 

Jingga mengangguk pelan sebagai jawaban. Dengan ragu, ia sandarkan kepalanya pada bahu lebar Dion, ikut menatap matahari yang sisa setengah di ujung sana. “Kalau kehidupan kedua itu nyata adanya, aku harap aku dan Kak Dion bisa bersatu secara utuh. Aku harap aku juga terus punya suaraku biar bisa teriak ke dunia kalo aku suka banget sama Kak Dion.”

 

Pupil mata Dion membesar kala membaca kalimat terakhir Jingga. Dion langsung menengok ke arah bahunya, menatap yang lebih muda tidak percaya. “Jingga, kamu bilang apa barusan?” Dion memegang bahu Jingga cukup erat, tetapi tidak sampai mencengkeram dengan kencang. 

 

Jingga mengulanginya. Bahasa isyarat untuk mengatakan “aku suka kamu” itu benar-benar terlihat begitu jelas di mata Dion. Sontak, Dion bawa Jingga ke dalam dekapannya. Begitu erat, seakan Jingga akan hilang kalau ia melepas pelukan hangat itu. 

 

Jingga tersenyum simpul sebelum akhirnya ia membalas pelukan Dion. Ah, hangat banget .... 

 

Dion memejamkan matanya, membiarkan angin membawa kembali resah yang selama ini ia sembunyikan. “Maaf. Aku janji, di kehidupan yang selanjutnya kita bakal ketemu lagi. Kamu dan aku bakal bersatu secara utuh, tanpa tabu dan aturan yang melarang kita. Aku pastiin aku bakal nyari kamu di kehidupan kita yang selanjutnya, Jingga.” Suara Dion terdengar rapuh. Rengkuhannya pada Jingga pun kian mengerat.

 

Dion yang selama ini terlihat kuat itu pada akhirnya menangis dalam dekapan Jingga. Menangis karena tidak bisa melawan aturan dunia. Menangis karena belum bisa memenuhi keinginan Jingga yang satu ini. 

 

Deburan ombak yang merdu menjadi pengiring tangisan Dion sore itu. 

 

Jingga melepas pelukan mereka perlahan. Kedua tangannya meraih wajah Dion, kali ini gilirannya yang menghapus air mata Dion. “Kenapa jadi giliran kamu yang nangis. Nanti aku ikutan nangis gimana?” Tangannya kembali bergerak, mengucapkan kalimat dengan kesunyiannya. 

 

Dion terkekeh pelan. “Matamu udah berkaca-kaca gitu. Nangis bareng aja kita.”

 

Jingga memukul pelan bahu Dion, diikuti gelakan yang cukup keras dari Dion. Jingga pun akhirnya ikut tertawa. 

 

"Jingga." Dion memanggil Jingga dengan lembut, si empunya nama pun menatap mata yang lebih tua. Jingga memiringkan kepalanya, bertanya-tanya apa yang hendak Dion lakukan. 

 

Perlahan, wajah Dion mendekat. Seakan tahu apa yang hendak Dion lakukan, Jingga secara otomatis menutup kedua matanya. Sama halnya dengan Dion. 

 

Namun, hanya diam yang menyambut keduanya. Napas hangat Dion menerpa wajah Jingga dengan lembutnya. Bibir mereka tak kunjung bertaut meski jaraknya tak lagi jauh. 

 

Dion tersenyum miris. Tanpa mengikis jarak keduanya, Dion membuka mata, menatap Jingga penuh kasih sebelum akhirnya ia bawa telapak tangannya untuk menangkup wajah mungil Jingga. Si pemilik wajah sontak membuka matanya, balik menatap Dion. 

 

Jingga lagi-lagi memiringkan kepalanya, pertanda ia bingung. Dahinya pun berkerut. Dion yang ditatap begitu hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum getir. Pada akhirnya ia masih belum berani. 

 

Pada akhirnya Dion hanya membawa Jingga untuk kembali ke dekapannya. "Maaf. Lain kali aja, ya?" bisiknya pada Jingga. Jika saja perasaan bisa disampaikan lewat napas yang tertahan, batin Dion. 

 

Jingga menepuk pelan punggung Dion. Dion pun melepas rengkuhan mereka sebelum akhirnya ia fokus ke jemari Jingga yang bergerak. "Minta maaf terus. Enggak ada yang salah. Berhenti buat minta maaf!" 

 

Dion tertawa gemas kala ia melihat Jingga menyilangkan kedua tangannya segera setelah Jingga mengusaikan ucapannya. 

 

Diam kembali melanda. Namun, kali ini kesunyian mereka jauh lebih riuh dari yang terdengar. Sampai akhirnya Dion menghela napas panjang. "The sunset is beautiful … isn't it?” gumam Dion seraya menolehkan kepalanya ke arah ujung cakrawala. 

 

Jingga yang mendengar terdiam, memahami secara penuh maksud dari gumaman Dion. Pada akhirnya ia hanya mengangguk seraya menatap ke arah matahari yang terbenam sepenuhnya itu seraya kembali menyandarkan kepalanya pada bahu Dion. 

 

It is indeed beautiful, Kak.

Notes:

ada yang bilang "the sunset is beautiful, isn't it?" itu punya arti tersirat seperti: aku suka kamu, tapi aku harus merelakan kamu. tapi menurutku, kita bisa interpretasi maksud frasa itu segimana maunya kita menganggap arti itu saja. anyways! ini first fiction au-ku di sini! first time, kinda nervous ≥~≤

makasih untuk yang sudah membaca hingga akhir, ya!