Actions

Work Header

Elevator

Summary:

From the basement, one, two, three, all the way to the sky — How much higher can I go?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

· · ─ ·✦· ─ · ·

I pick the floor I need to go to

· · ─ ·✦· ─ · ·

 

“Astaga cape banget…”

Desah lelah menemani langkah lunglai pemuda kelahiran Juli yang diamini oleh pemuda di sampingnya dalam diamnya. Waktu perilisan album baru yang semakin dekat menjadi alasan kuat bagi pemuda klan Gyeongju itu untuk tinggal lebih lama di ruang latihan, karena baginya ada beberapa gerakannya yang masih kurang memuaskan.

 

(Tentu sata tidak ada seorang pun yang sependapat dengannya.)

 

Hal tersebut tentu saja langsung melahirkan riak resah dari seluruh teman-temannya, terutama kedua kakak tertua mereka. Meskipun keduanya tidak ingin membatasi eksplorasi dari yang lebih muda, namun ditengah jadwal mereka yang ketat, memiliki waktu cukup untuk beristirahat merupakan prioritas utama.

“Oke, tapi kamu harus ditemani—ngga ada protes, San-ah, atau kamu kuseret pulang sekarang juga,” nada penuh ancaman itu langsung mematikan protes yang hendak San keluarkan. “Dan ngga, Wooyoung, kalo sama kamu yang ada kalian ngga tidur sama sekali.”

Dengus kesal langsung terdengar yang tentu saja diabaikan oleh Hongjoong.

“Sama aku aja ngga apa kak,” fokus dalam ruangan itu langsung tertuju pada pemuda tinggi yang duduk tak jauh dari subjek pembicaraan mereka. “Aku bisa sekalian bantu Sani kalo kesulitan di beberapa gerakan.”

Hongjoong menimbang beberapa saat. Walau terlihat seperti keputusan yang paling tepat untuk mengizinkan pemuda Gwangju itu menemani San, namun membiarkan dua anggota paling energik, ditambah salah satu dari mereka adalah seorang perfeksionis, adalah sumber dari keraguannya saat ini.

“Joong,” satu bisikan lembut itu membuat perhatiannya langsung tertuju pada pemuda yang lebih tua darinya beberapa bulan di sampingnya yang seolah dapat membaca keraguan dalam benaknya. “Yunho bisa kok.”

Hongjoong mendesah lelah, “Kamu tanggung jawab kalo mereka ngga pulang-pulang,” ancamnya pelan sebelum mengembalikan fokusnya pada dua orang yang menunggu keputusannya.

“Oke, tapi maksimal jam dua belas kalian udah sampai di kamar masing-masing.”

“Ay-ay, captain!”

 

Sayangnya apa yang Hongjoong khawatirkan benar terjadi.

 

Adalah ketika San mendapati puluhan panggilan tak terjawab baik dari Hongjoong maupun Seonghwa, keduanya baru menyadari bahwa mereka telah menghabiskan waktu lebih dari yang disepakati. Dan saat ponsel milik San kembali berdering, tanpa berpikir panjang pemuda itu langsung menjawabnya.

“H-halo Kak—”

“Kalo dalam lima belas menit kalian belum sampai juga, ucapkan selamat tinggal untuk Shiber dan seluruh figur spiderman di kamar kalian.”

“KAK!! Tapi paling ngga butuh satu jam—”

“SATU JAM SANI-AH? Hwa, ambil semua boneka—”

“KAKAK—IYA KITA PULANG.”

“Yunho mana?”

“Yunho lagi kemasi barang-barang...”

“Oke.”

 

Ketika sambungan telpon terputus, San menatap Yunho yang juga tengah memandang dirinya dengan tangan yang terhenti di udara sambil memegang botol minumnya, seolah hendak memasukkannya ke dalam tas. Pemuda yang hanya berbalut kaus tanpa lengan itu berjalan perlahan dengan setitik rona sedih yang menghiasi wajahnya, bersamaan dengan munculnya kilat dari pantulan cahaya lampu studio di manik cokelatnya yang terlihat bahkan dari jarak di antara mereka yang tidak bisa dibilang dekat, membuat Yunho setengah berlari menghampirinya.

“Padahal tinggal sedikit lagi…”

Jemari pemuda yang lebih tinggi darinya itu mengusap puncak kepala San, memainkan surai sewarna jelaganya pelan, “Ngga apa-apa kok, Sani. You did perfectly well, udah bagus banget kok.”

“Kamu mah bagus-bagus aja…”

“Loh aku serius tau,” kali ini Yunho mengacak rambutnya gemas, membuat San tersenyum kecil. “Aku mana pernah sih bercanda kalo menyangkut kerjaan.”

Setelah memastikan seluruh barang bawaan mereka tidak ada yang tertinggal, Yunho mencoba mengubungi Kak Manajer—yang sebelumnya ia kabari kalau mereka akan tinggal lebih lama untuk latihan tambahan—dan betapa terkejutnya ketika panggilannya langsung diangkat pada dering pertama.

“Kalian tunggu di lobby, aku siap-siap keluarin mobil dulu.”

 

Maka di sinilah mereka, duduk di sofa lobby, menunggu manajer mereka tiba. Dan untungnya tak berapa lama mereka melihat siluet mobil yang biasa mereka gunakan untuk berpergian, dengan Kak Manajer yang dari kursi pengemudi mengisyaratkan agar mereka segera masuk ke dalam mobil karena udara malam ini lebih dingin dari biasanya, sedangkan keduanya hanya berbalutkan hoodie tipis dan memiliki jadwal rekaman pagi.

Celoteh ria yang biasa mengisi ruang sepi selama perjalanan tak terdengar kali ini. Membuat Kak Manajer melirik melalui spion dalam dan menemukan dua anggota termuda Tropical Boys itu tengah bersandar pada kursi penumpang dengan mata terpejam. Kak Manajer hanya bisa menggeleng lemah dan mulai memutar alunan musik jazz lembut—menemaninya selama berkendara sekaligus sebagai pengantar istirahat dua pemuda di kursi belakang.

Jalanan kota nampak begitu lengang—saat ini waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Maka tak heran ketika mereka hanya membutuhkan waktu kurang dari lima belas menit untuk tiba di gedung apartemen, yang mana biasanya membutuhkan setidaknya empat puluh lima menit.

Kak Manager menoleh ke arah kursi penumpang ketika hanya deru napas konstan yang terdengar saat mesin mobil telah mati—pertanda mereka telah sampai. Ada enggan yang menghinggapi ketika netranya menangkap siluet keduanya yang nampak begitu lelap. Namun mengingat jadwal mereka yang jauh dari kata lengang, membuatnya memberikan beberapa ketukan halus pada atap mobil dan cukup untuk membuat Yunho terjaga, dan secara tak langsung juga ikut membangunkan San yang tengah bersandar pada bahunya.

“Kita sudah sampai.”

Setelah mengucap terima kasih—dan langsung dibalas dengan senyum tipis, juga pesan agar mereka segera kembali berisitrahat karena jadwal mereka akan dimulai cukup pagi—keduanya bergegas masuk ke dalam gedung.

Di dalam, mereka berpapasan dengan Pak Penjaga yang menyambut dengan seulas senyum simpul dan satu anggukan singkat sebelum menekan tombol lift.

Sembari menunggu, Yunho melirik sekilas ke arah jam dinding. Dirinya menghela napas ketika melihat waktu menunjukkan hampir pukul setengah tiga pagi, yang berarti sudah lewat dari batas lima belas menit yang diberikan oleh Kak Hongjoong—dalam hati Yunho sudah pasrah jika seluruh figur spiderman miliknya benar-benar dimusnahkan oleh kakak mereka—dan juga berarti mereka hanya memiliki waktu kurang dari tiga jam untuk tidur.

Ketika lift tiba, Yunho mempersilahkan San untuk masuk terlebih dahulu diikuti dengan satu lengannya yang terjulur untuk menahan sekaligus memastikan pintu lift tidak tertutup saat pemuda penyuka kudapan manis itu melangkah masuk. Karena pernah satu kali, San hampir terjepit oleh pintu lift—entah karena mereka terlalu lama menahannya, atau memang pemuda yang berperawakan lebih mungil darinya tersebut mulai mengadopsi karakteristik dari hewan peliharaannya yang memiliki hawa keberadaan tipis.

Apapun itu, dalam hati Yunho berjanji untuk selalu memastikan setiap pintu yang akan dilewati oleh San terbuka lebar, sehingga pemilik rasi kepiting itu tak perlu mengambil langkah tergesa.

Barulah setelahnya Yunho melangkah masuk. Tak lupa keduanya mengucapkan terima kasih juga selamat malam kepada Pak Penjaga sebelum pintu lift tertutup sepenuhnya dan membawa mereka pergi.

 

· · ─ ·✦· ─ · ·

If you give me a chance, We'll reach a place we've never been to

· · ─ ·✦· ─ · ·

 

Segala kantuk dan lelah yang sedari tadi Yunho rasakan seketika lenyap, ketika dirasakannya ada bobot tambahan yang hadir di bahunya. Tanpa perlu melihat pun Yunho tahu kalau San tengah mencari posisi ternyaman dengan kepalanya yang masuk semakin dalam diantara perpotongan leher dan bahunya.

“Aku bau gak sih?” ucapnya pelan memecah keheningan, yang langsung dibalas dengan dengus tidak setuju.

“Ngga, aku suka.” ada rajuk terselip disana. Sedetik kemudian bahunya terasa ringan. “Oh? Aku berat ya?”

“Eh–engga kok—” belum sempat Yunho menyelesaikan ucapannya, indra pendengarnya disambut oleh kekeh geli dari lawan bicaranya, sebelum bahunya kembali terasa hangat.

“Bercanda,” San berusaha menghentikan geli yang tersisa, “Kamu lucu banget, gitu aja panik.”

Yunho hanya bisa terkekeh kecil. Dalam hati ia berdoa, semoga Tuhan dapat menyembunyikan segala keributan yang tengah terjadi baik di jantung dan otaknya akibat tingkah manis nan menggemaskan pemuda disampingnya itu.

(Karena berusaha menetralkan irama jantungnya sama saja seperti berharap dirinya berhenti bermain online game.)

Batinnya terbagi antara inginkan lift bisa segera sampai agar keduanya bisa mendapatkan waktu istirahat lebih atau harapkan waktu bisa melambat, sehingga ia bisa menghabiskan waktu lebih lama, berdua saja, dengan sosok yang diam-diam mengisi ruang di hatinya.

Namun satu hal yang pasti, ia memohon kepada Tuhan agar tidak ada seorang pun yang menaiki lift ini.

 

· · ─ ·✦· ─ · ·

Between all those guys that show up halfway —

· · ─ ·✦· ─ · ·

 

Tinggal dalam satu atap dan menghabiskan waktu remaja bersama, mengarungi luasnya samudra dengan berpuluh ribu macam ombak yang menerpa kapal mereka, hingga kini mereka berada dipertengahan dua puluh, tentu bukan hal yang mustahil jika benih rasa mulai tumbuh tanpa mereka sadari.

Hal demikian yang mungkin bisa menjadi alasan, bagaimana Yunho menemukan dirinya telah jatuh begitu dalam pada pesona pemuda manis personifikasi kucing itu. Bagaimana, walau tanpa diminta, pusat gravitasinya selalu kembali pada pemuda yang tegah bersandar pada bahunya.

 

Namun, jika saja Yunho memperhatikan lebih berbagai kepingan anomali rasa yang sekilas hadir alih-alih diabaikan, bisa saja ia menyadarinya lebih cepat.

 

Seperti pada saat mereka berada dalam sebuah acara tanya-jawab live stream dari platform media sosial burung biru tak lama setelah debut. Ada kepuasan yang tak bisa ia jelaskan, saat merasakan tubuh mungil dari penghuni ranjang bagian atas itu menegang ketika Kak Seonghwa berkata jika ia ingin berbagi kamar dengannya, yang diikuti dengan peluk erat dari lengan kecil yang bahkan tak mampu melingkar sempurna pada tubuhnya.

Logikanya menganggap, apa yang ia rasakan kala itu merupakan suatu hal yang wajar mengingat kedekatan mereka selama tinggal bersama.

 

Dan ketika tanpa disangka setitik rasa tak nyaman menghampiri, ketika Wooyoung secara tiba-tiba berkata ingin sekamar dengan San yang langsung disambut dengan seulas senyum manis, menurutnya tetap adalah hal yang wajar karena; ‘Bukankah sebelumnya San mati-matian tidak ingin berpisah dengannya? Kenapa kini malah ia yang menyambut uluran tangan dari lelaki lain?’ dan memilih untuk tidak memikirkannya lebih jauh karena pada akhirnya pun, San tetap memilih dirinya untuk menjadi teman sekamar.

Serta mengabaikan fakta bahwa dalam sepersekian detik ia menganggap Wooyoung sebagai orang asing.

 

Atau bagaimana, perasaan tak nyaman itu kembali hadir ketika mereka tengah melakukan rekaman untuk acara variety show awal tahun. Dimana dirinya menyaksikan Mingi, dengan begitu santai meraih wajah San—yang tengah berusaha menahan tawanya—dan tanpa ragu menciumnya tepat di hadapan kamera, yang tentu saja mengundang sorak tak percaya dari semua orang di sana. Walau Kak Seonghwa berusaha sekeras mungkin menjelaskan jika Mingi tidak benar-benar mencium San tepat di bibir dan hanya mengenai area dagu, tetapi dari reaksi puas yang Mingi tunjukkan serta bagaimana San masih terdiam mematung, seolah mengatakan hal yang berbeda.

 

Dan Yunho tidak suka. Benar-benar tidak menyukainya barang sedetik pun.

 

Dalam suasana yang masih semarak, Produser-nim secara tiba-tiba memberi kesempatan pada San jika ada pesan yang ingin disampaikan kepada salah satu dari mereka. Setelah beberapa kali menggoda Kak Hongjoong—si paling pembenci skinship itu—tanpa disangka San memanggil namanya, disertai dengan senyum ceria yang menghiasi wajah cantiknya.

 

“Dih, udah nungguin dia ternyata.”

 

Berisik, Mingi.

 

Pun begitu, rasa penasaran tetap menghantui Yunho bahkan setelah proses rekaman selesai. Kecup singkat yang San berikan nyatanya tak mampu menghilangkan rasa mengganjal di hatinya. Membuatnya bertanya langsung kepada pemuda jangkung yang tengah sibuk memainkan ponsel disebelahnya.

 

“Min, just curious, tadi beneran di bibir?

Nice, suaranya terdengar sangat tenang dan normal.

Mingi nampak bingung beberapa saat sebelum bibirnya melengkung menahan tawa.

“Coba tanya aja sama anaknya langsung,” Yunho masih mengingat jelas bagaimana seringai angkuh tercetak jelas di wajah menyebalkan pemuda Leo itu. “Sekalian tanyain, mau lagi ngga nanti?”

 

Anak ayam sialan.

 

Pada akhirnya, Yunho tidak pernah mengetahui kebenarannya. Lagipula, bagaimana cara Yunho menanyakannya kepada San? Bagaimana jika San justru balik bertanya kepada Yunho, apakah baginya, tindakan yang Mingi lakukan kepadanya terlalu berisiko menghancurkan karir mereka? Yang mana disaat bersamaan hal itu hanyalah sebuah hukuman yang telah diatur oleh produser—dan merupakan interaksi mereka sehari-hari?

Kenapa dadanya terasa lebih sesak ketika membayangkan gores kecewa hadir di wajah pemuda bersurai oreo itu—terlebih disebabkan oleh dirinya?

 

Puncaknya adalah ketika manik cokelatnya menyaksikan jemari Wooyoung dengan mudahnya menemukan tempat pada lekuk indah tubuh pecinta kudapan manis itu, menariknya masuk dalam dekap hangatnya ditengah waktu latihan akhir untuk pentas Kingdom.

Serta bagaimana pemuda dalam rengkuhannya itu menyambut dengan melingkarkan kedua lengannya pada leher Wooyoung, disertai kilat penuh damba menghiasi wajah keduanya.

Tidak, interaksi seperti itu bukanlah hal yang baru bagi mereka. Namun, entah mengapa, interaksi keduanya kali ini nampak berbeda. Seperti ada tembok tak kasat mata yang memisahkan mereka dengan dunia sekitar. Netranya tentu tak melewatkan bagaiman setiap gerak tubuh mereka seakan memiliki arti lebih. Seolah keduanya tercipta untuk satu sama lain. Seolah keduanya menemukan jalan pulang setelah sekian lama berpisah.

 

Tapi, sejak kapan?

Bukankah selama ini San selalu bersamanya?

Bukankah seharusnya yang bisa sedekat itu dengan San hanyalah dirinya?

 

Puluhan pertanyaan apa, kenapa, serta bagaimana mendadak menyesaki pikirannya, tak ketinggalan gemericik amarah sunyi yang entah sejak kapan mulai memenuhi rongga dadanya, membuat Yunho memaksa untuk berbalik sebelum akal sehatnya benar-benar tertutup kabut dan membuatnya hilang kendali.

Dan disaat yang bersamaan, Yunho seolah berhasil memecahkan teka-teki terbesar dalam hidupnya, yang selama ini seolah menghantuinya tanpa bisa dirinya pahami:

Yunho inginkan dunia San berpusat hanya pada dirinya.

 

· · ─ ·✦· ─ · ·

— please allow me to be the only one who can go there

· · ─ ·✦· ─ · ·

 

Denting lembut lift memutus seluruh rangkaian imajiner dan menyadarkannya kembali pada realita saat ini—keduanya telah sampai di lantai kamar mereka, dan San yang tak lagi bersandar pada bahunya.

“Yunho? Ngga turun?”

“Oh,” pemuda jangkung itu sedikit berlari karena pintu lift akan kembali menutup. “Aku ngga sadar kalau udah sampai.”

Senyum kecil terlukis indah di wajah San, kali ini diikuti dengan sorot khawatir yang tak bisa sembunyikan. “Kamu capek banget ya?”

Dengan cepat Yunho menggelengkan kepala seraya berusaha memberikan senyuman terbaiknya yang bisa ia tawarkan saat itu. “Ngga kok. Cuma… keinget kita dulu.”

“Huh?” San memiringkan kepalanya tanda dirinya tak paham. “Dulu?”

Senyum jahil tak kuasa Yunho tahan melihat reaksi menggemaskan San, “Inget ngga dulu, pas Kak Hwa bilang mau sekamar sama aku, kamu yang, ‘Ngga boleh iiihh Yunho punyaku!!’? Dramatis banget,” satu lengan bebasnya mencubit hidung lelaki mungil di sampingnya, tak melewatkan setitik warna merah muda yang menghiasi wajah San. “Sekarang malah kamu yang sekamar sama Kak Hwa.”

Ah, betapa Yunho begitu menyukai tawa renyah yang kini mengalun lembut dari lawan bicaranya. Membuatnya selalu ingin memastikan hanya tawa bahagia yang akan keluar dari pemuda berparas indah itu. Menjaganya agar tidak ada lagi—

 

“Tapi Yunho emang punyaku, kan?”

 

· · ─ ·✦· ─ · ·

Skyscraper high, where you at?

· · ─ ·✦· ─ · ·

 

Seluruh geraknya terhenti seolah ada belenggu tak kasat mata yang menahannya untuk bergerak barang satu senti. Hangat yang semula ia rasakan seketika lenyap sebagaimana pikirannya yang juga mendadak kosong mendengar pertanyaan singkat dari San. Kedua netranya tak dapat lagi fokus dan hanya memandang jauh punggung pemuda yang kini berada beberapa langkah di depannya.

Yunho tau, kalau pernyataan polos bernada jahil yang San berikan tak lebih hanya sekedar gurauan belaka yang biasa dan sering mereka lemparkan kepada satu sama lain. Yunho juga sadar, bahwa tak seharusnya hatinya membuka ruang harap pada pertanyaan itu.

 

Yunho tahu. Sangat tahu.

 

Tapi kenapa masih saja—

 

“Yunho?” Sapaan lembut itu berhasil menariknya kembali dari spiral tak berujung dalam benaknya, diiringi dengan genggaman lembut pada kedua tangannya yang entah sejak kapan berada disana, membuat fokusnya kini tertuju pada wajah penuh riak khawatir yang kini nampak begitu dekat di hadapannya. “Yunho-ya, kamu beneran gapapa?”

 

· · ─ ·✦· ─ · ·

I'm not afraid

· · ─ ·✦· ─ · ·

 

“San-ah, aku—” lidahnya terasa kelu saat dirinya ingin mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, seolah seluruh tubuhnya menolak untuk mengucap dusta hanya untuk sekedar menghapus gurat khawatir pada wajah San.

 

Seakan tubuhnya tak lagi mampu mempertahankan kotak rasa yang setengah mati Yunho jaga agar selalu tertutup.

 

Namun, jawaban apa yang bisa Yunho berikan? Kalau sebenarnya ia ada perasaan tak nyaman melihat interaksi San dengan orang lain—bahkan dengan sesama anggota tim mereka? Kalau dirinya tidak ingin San berbagi kamar dengan siapa pun selain dengannya? Kalau Yunho ingin selalu bersama dengannya dalam situasi apapun? Kalau—

Kalau sebenarnya, jauh dari lubuk hatinya, Yunho men—

“Yunho-ya?”

 

· · ─ ·✦· ─ · ·

Now I'm going nonstop

· · ─ ·✦· ─ · ·

 

“San-ah,” ada getar kecil terselip dalam ucapnya, menyadarkannya terlalu lambat akan gejolak adrenalin yang tiba-tiba saja meningkat dalam dirinya—tidak, ini terlalu cepat. “Aku—ada sesuatu yang harus aku katakan. Sekarang.”

Yunho memejamkan matanya sejenak—tidak, dirinya tidak memiliki cukup waktu untuk sekedar menenangkan debar jantungnya yang terus meningkat—sebelum kembali melanjutkan, “Dan maaf karena ini terlalu mendadak. Aku tau kalo kamu, dan aku juga, masih terlalu lelah karena latihan tadi. Dan kita juga harus udah stand by lagi dari jam dela—”

Ucapannya terhenti kala hangat menyapa sisi kanan wajahnya, menariknya paksa untuk bertemu pandang dengan pemilik senyum hangat berhiaskan lekuk senyap nan cantik kini tengah memandangnya teduh. Satu lengannya yang bebas digunakan oleh yang lebih muda untuk memberikan afeksi kecil pada tangannya yang entah sejak kapan mengepal erat, memberikan rasa hangat yang begitu kontras dengan udara malam itu.

“Yunho-ya,”

Ah, betapa Yunho begitu menyukai bagaimana namanya mengalun lembut dari pemuda dihadapannya ini.

Betapa, hanya dengan satu panggilan lembut itu Yunho dapat mengerti satu hal:

 

Yunho tak perlu berlari.

 

Yunho kembali memejamkan matanya, kali ini diikuti dengan tutur napas yang lebih perlahan agar baik hati maupun pikirannya dapat kembali meniti satu per satu jejak kata yang sempat berhamburan tak tertata.

Ketika rasa damai sudah ia dapatkan, Yunho membawa netranya untuk kembali menatap pemuda manis di hadapannya.

 

Berlatarkan langit malam penuh bintang, bersanding dengan gemerlap lampu kota, menjadikan sosok yang tengah menatapnya dengan penuh kasih itu bak mahluk surgawi yang tengah tersesat—begitu indah, nyaris tak tersentuh. Melenyapkan tak hanya seluruh retorika kata yang sudah susah payah ia persiapkan, namun juga mengikis habis akal sehatnya. Hingga yang tersisa hanyalah Yunho dan hati kecilnya, menuntunnya untuk membawa pemilik kepingan hatinya itu dalam dekap erat yang selama ini hanya terjadi dalam khayalnya.

 

Tak ada satu pun dari keduanya yang membuka suara. Keduanya tampak sibuk menata kembali pikiran masing-masing yang terkoyak akibat hangat yang secara tiba-tiba melingkupi keduanya. Dari jarak sedekat ini, Yunho dapat melihat betapa memikatnya semesta raya yang terefleksikan dari manik cokelat pemuda manis didepannya—membawanya semakin mendekat hingga hembus napas mereka saling bertemu.

 

Sungguh, rasa-rasanya tak ada satu pun kata dalam kamus yang dapat mendeskripsikan sebesar dan sedalam apa perasaan yang dimilikinya untuk pemuda yang selalu mengisi ruang di hatinya itu.

 

· · ─ ·✦· ─ · ·

Today, I'll definitely say I—

· · ─ ·✦· ─ · ·

 

Notes:

Halooo semuanyaaa (ノ◕ヮ◕)ノ*:・゚✧
Makasiiiih untuk semuanya yang udah nyempatin baca sampai akhir (´◡`)
It's my first time in this fandom, dan aku harap kalian suka dengan cemilan yang aku buat hihihi ⸜(。˃ ᵕ ˂ )⸝♡
Aku mau doong denger kesan kalian mengikuti perjalanan Yunho hingga — (˵ •̀ ᴗ - ˵ ) ✧
Juga, kalo ada kritik dan saran agar cemilan-cemilan yang kubuat selanjutnya lebih enak, boleh langsung kasih tau aku ya! (˵˃ ᗜ ˂˵)

Oh iya! Kalo ada yang penasaran flashback yang aku maksud, kalian bisa cek langsung ke sini (spesifik mulai 44:13), sini (ssst, ada bonus 🤫 ), daaan juga disini ღゝ◡╹ )ノ♡

Last but not least, semoga hari kalian semakin menyenangkan (๑'ᵕ'๑)⸝*