Work Text:
Masa mencari jati diri adalah masa kritis bagi setiap remaja. Setidaknya, itu yang aku rasa ketika ingatan akan masa lalu kembali berputar di kepala tiba-tiba. Masih sunyi pagi itu. Hanya lantunan sebuah lagu dari senar-senar yang kupetik dalam tempo lambat mengisi sudut kamar. Terdengar sendu, aku tidak tahu itu lagu milik siapa, atau, apakah pernah direkam sebelumnya? Karena ada nostalgia yang merambat naik ke dada.
Sendirian di ruangan minim cahaya, berandalkan rembulan yang cukup besar, purnama. Sinarnya memaksa masuk melalui tirai transparan kamarku yang hanya kulirik dari kasur dengan mata sayu. Agaknya mengantuk, satu setengah hari belum tidur.
Serpihan ingatan-ingatan lambat laun menggumpal jadi sebuah skenario berjalan yang nyaris meraup seluruh kesadaranku. Bukan hal yang buruk untuk dikenang, cukup jadi pelajaran yang membuka logikaku terbuka makin lebar.
Membangkang adalah satu hal yang sering kulakukan pada jaman sekolah dulu. Bertengkar dengan bapak pernah dikecap juga. Otak belia yang menghasilkan buah pikiran naif memang sangat bertentangan dengan pola pikir dewasa. Namun, bapak tidak pernah sekalipun memaksa untuk melakukan hal-hal yang tidak berlandaskan pada kemauanku, menjadi satu poin penting yang kuingat dan catat dalam benak dari sosoknya.
Aku tidak benci bapak, hanya saja kami jarang bicara. Terasa sekali ikatan emosi yang renggang antara bapak dan anak. Bahkan akupun tak tahu apa yang dilakukannya di luar sana untuk menghidup kami. Pulang bawa dua bungkus nasi campur dan es teh plastikan yang kutaksir harganya sekitar dua ribu rupiah. Hampir setiap malam begitu. Bapak tak pernah bertanya apa yang terjadi di sekolah. Aku yang pulang bengep setelah menghajar satu geng siswa dari sekolah lain, pun hanya diam tak buka suara. Kami makan ditemani denting sendok yang beradu dengan piring seng. Sekali pandangan kami bertemu saat beliau bertanya apakah kangkung kulup yang kusisihkan boleh diambilnya. Kadang aku teringat ucapan beberapa teman perempuanku yang sempat melihat bapak datang ke sekolah ketika pengambilan rapor. Mencecar dengan pertanyaan tak sopan hingga mendidih darahku.
“Bapakmu ganteng gitu. Body-nya oke. Kerjanya apa?”
Sambil cekikikan disertai lirikan mata yang menjatuhkan. Omongannya mencla-mencle, perek muka dua. Anehnya, tak pernah ada rasa peduli bertandang ke benakku tentang apa pekerjaan bapak. Intinya, bisa bayar sekolahku sampai tamat.
“Memangnya bapak punya uang?”
Aku tidak pernah berhasil membaca pikiran yang tidak pernah sempurna tertulis di raut wajahnya. Waktu itu, aku hanya sesekali melirik sambil menunggu di parkiran, duduk di atas motor Supra keluaran 2004 yang bapak beli dari salah satu temannya, nyicil. Tidak banyak bicara setelah keluar dari bilik ATM, menyulut sepuntung rokok kretek lalu menjawab,
“Pasti ada kalau buat sekolahmu.”
Berubah. Semua pasti mengalami itu. Aku dijauhkan dari teman-temanku untuk menuntut ilmu di negeri seberang. Awalnya aku menolak. Apa untungnya kuliah di sana? Aku sempat kesal. Hidup seperti ini saja sudah susah bukan kepalang, apalagi harus cari dana untuk biaya sekolahku di Jepang. Itu pertama kalinya bapak memaksaku untuk menuruti kehendaknya. Lucu. Akibat perdebatan itu, aku tidak pulang selama satu minggu. Meski demikian, bapak tidak mencariku. Aku ingat, waktu aku duduk di angkringan bersama teman, aku lihat bapak turun dari angkot dan berjalan menjauh dengan tampang datar. Tak sadar atas kehadiranku. Masih kesal rupanya, aku mendecih dan berpikir bahwa bapak tidak peduli padaku.
Namun, aku salah.
Sudah waktunya dilepas. Tugas bapak hanya menghantarkanku ke gerbang. Seperti waktu dulu aku menginjak jenjang sekolah dasar. Tangan kecilku dilepas oleh bapak dan ibu, kemudian aku melambai sambil melangkah masuk ke halaman sekolah. Ada lingkungan baru, orang-orang baru, baik teman, maupun guru. Duniaku berbeda.
Nalar manusia itu terbatas, masa depan hanyalah siluet di tengah kabut tebal membutakan mata. Samar-samar dipandang, terutama bagi kami yang tidak punya banyak uang. Sebuah kebiasaan hanya berlaku di lingkungan dan bersama orang-orang yang kita kenal. Benar atau tidak? Logikanya, sih, begitu. Aku terbiasa dengan ketidakhadiran bapak, sampai mati mungkin juga akan begitu.
Setiap tempat punya banyak tantangan dan pembelajaran. Tapi tidak semua pukulan dan asahan akan menggebukiku dengan brutal untuk menjadi ‘manusia’ baru.
“Bapak bukan orang berilmu. Sedikit yang bapak punya sudah nggak bakal nyampe ke kamu. Teori-teori yang jadi landasan bapak mikir itu bisa jadi nggak cocok buat jamanmu di masa mendatang,” katanya, setelah menyeruput kopi pagi yang diseduh sendiri. Aku sedang jongkok sambil ngelap motor saat itu. Dulu, beberapa tahun lalu.
Aku, sebongkah besi mentah. Kehidupan sosial yang keras adalah penempanya. Kekuatannya mungkin berbeda, tapi, dengan lika-liku yang aku tatap di tempat ini, alasan bapak melemparku ke sini di tengah seretnya keuangan kami, barulah aku paham apa yang dimaknai dengan menghasilkan seorang ‘manusia’ sejati.
Gitar tertidur di sampingku, aku beranjak duduk di tepian kasur menatap satu lukisan yang aku bawa dari studio, kini duduk di lantai, tengah bersandar di meja, tepat di hadapanku. Tadi, kuasku sempat menggores kanvas putih, teringat bapak. Cuma lukisan langit dan laut yang mandi sinar palsu purnama. Itu aku dan bapak, di atas sana.
Selama aku kuliah di luar negeri, dua kali bapak mengirimiku surat. Pertama, ketika semester awal dimulai. Dan kedua, ketika aku sudah lulus. Isinya tentang bapak yang tidak mengizinkanku untuk pulang, tetaplah di Jepang. Bapak juga menulis kenapa beliau selalu kirim surat, hape-nya hilang. Aku tidak begitu peduli.
Tak lagi mendengar apapun dari bapak, aku juga tidak memberi kabar. Aku pulang di akhir tahun ke rumah yang sedang kosong. Mungkin bapak belum pulang, aku hanya menunggu di lincak berdebu. Sampai matahari turun di ufuk barat, bukan disambut bapak, melainkan dua laki-laki berpakaian rapi, ternyata mereka yang pegang kunci. Mas Satoru dan Mas Kento, minta dipanggil begitu. Kemudian kami duduk bertiga di ruang tamu.
Terakhir kali bapak mengirimkan surat supaya aku tidak pulang, dan melihatnya sekarat. Hidupnya dulu sunyi, tidak menyimpan banyak cahaya, seperti bulan yang redup tanpa sinar matahari. Sementara aku hanya bisa diam menikmati gelombang kehidupanku, terombang-ambing di tengah buih ombak seorang diri.
Besoknya, aku minta diantar ke makam bapak. Ingin memberi kabar kalau aku sudah pulang, dan berterima kasih.
Tamat.
