Actions

Work Header

Cerita di Suatu Indomaret Fresh

Summary:

George si barista Point Coffee yang udah muak sama pegawai buah-buahan Indomaret Fresh.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Pekerjaan George sebagai barista Point Coffee sebetulnya sangat menyenangkan walau kadang mendapatkan pelanggan nggak masuk di akal sedikit menyebalkan. Tapi secara keseluruhan, ia menikmatinya. Setidaknya begitu kalau tidak ada si pegawai buah-buahan rese yang membuatnya jadi ikut andil dalam mengurus buah di Indomaret Fresh.

Max tidak pernah benar-benar paham bagaimana cara menyusun buah dengan estetika. Kadang dia taruh apel di atas jeruk, kadang pisang dimasukin ke rak frozen, dan kadang dia anggap menyusun itu cuma butuh satu prinsip: asal nggak jatuh.

Tapi hidup tidak sesederhana itu, Max. Hidup bukan soal asal nggak jatuh. Hidup adalah soal komposisi visual dan warna, kata George.

George, barista Point Coffee yang letaknya cuma dua meter dari display buah Max, sudah seminggu stres ringan. Ucapan semangat di cupnya selalu tidak jelas. Foam-nya meletus sebelum waktunya. Karena setiap kali ia melirik ke sebelah kanan, dia melihat sesuatu yang akan ia anggap sebagai neraka buah-buahan.

Buah-buah yang disusun seperti hasil panen gagal. Apel dengan luka goresan. Pir dengan stiker yang belum dicopot. Dan jeruk yang... sepertinya bukan jeruk. George bahkan yakin, itu adalah tomat besar. Max sungguh tidak tahu caranya merawat dan mencintai buah-buahan seperti anak sendiri dengan benar.

Di situ, Max berdiri di antara semuanya, dengan wajah bangga. Bangga karena tidak ada buah yang jatuh hari ini. Hebat, bukan?

Tuhan yang Maha Penyabar lagi Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, George ingin melemparkan mesin kopi ke kepala Max sekarang juga.

Hari itu, ada pelanggan yang mulai komplain.

“Mas, ini pisangnya keras banget ya?”

Max menatap pisang itu. Pisang yang ia beli pagi ini dari pasar. Atau kemarin? Entah. Dia langsung melirik ke arah Point Coffee seperti kucing minta diselamatkan tapi George sedang membuat cookies and cream dengan gaya barista profesional, ia pura-pura sibuk.

Max kaget. Sedangkan George, tanpa ekspresi, balas melotot dari balik meja.
Lalu kembali menyendok foam seolah tak terjadi apa-apa.

Max menelan ludah. “Kayaknya sih fresh, Mas,” katanya ragu.

“Lah kok ‘kayaknya’?”

“Ya... ya kayaknya gitu…”

“MASA IYA FRESH KAYAKNYA? GIMANA SIH?”

George tertawa diam-diam di dalam. Tapi cukup puas, walau ia ikut sedikit iba melihat wajah planga plongo Max di hadapan pelanggan ngomel.

Tapi masalahnya tidak selesai di situ saja. Datanglah dua orang pelanggan setia Point Coffee: Isack dan Gabi.

Keduanya datang hampir setiap malam, membawa aura kematian dan bau bawang dan live streaming Windah Basudara.

“Mas ini buahnya kok lembek?” tanya Isack.

Max yang mengerutkan dahi. “Fresh, kok.”

“Baru juga gue beli udah lemes?”

“Ya mana gue tau, kocak.”

“Lah kan elu yang jual, kocak.”

“Ya kan buahnya yang lembek, bukan gue.”

George ingin menjerit sambil mencekik Max.

Puncaknya adalah malam itu. Kimi, kasir baru yang katanya keponakan si manajer—Toto—sudah tidak tertolong. Alih-alih melayani, dia duduk di kursi kasir, nonton Windah Basudara bareng Isack dan Gabi.

“KALIAN BOCIL KEMATIAN JUGA YA??”
teriak Kimi dengan semangat.

“YES, AYO KITA NOBAR LALU MABAR ROBLOX MALAM INI,” teriak Isack sambil menaikkan volume sampai speaker toko bergetar.

George menggertakkan gigi. “Mbak, kalau belanja biasa ke kasir ya.”

Pelanggan bingung. “Lah kasirnya malah nonton YouTube.”

George mau mati rasanya.

Lalu pernah suatu ketika saat George sedang mengambil cuti karena tidak kuat migrainenya kambuh karena harus bekerja dengan Max si oon satu dan Kimi si oon dua. Max sedang sendiri. George waktu itu cuti dengan alasan “ada urusan mendesak”, padahal upload story lagi ngopi di kafe agak overpriced sambil caption “me time”. Bajingan memang, batin Max.

Kimi sendiri sudah resign sejak minggu lalu—lebih tepatnya diminta Om Toto untuk resign saja—dan sekarang ia mulai viral di TikTok karena suka lipsync lagu SZA, bikin velocity, dan pamer kemesraan bareng pacarnya yang merupakan microseleb Jaksel—kalau tidak salah namanya Ollie.

Jadi, hari ini Max harus mengurus segalanya tanpa bantuan George soal susun menyusun. Ia mengurus kasir buah, potong buah, menyusun ulang rak jeruk yang semalam ambruk karena Isack semangat ambil melon yang promo, sampai ngitung stok sirsak yang entah kenapa tinggal satu padahal nggak ada yang pernah beli.

Di tengah keheningan dan bau buah-buahan, masuklah makhluk pengacau itu—Isack.

“MAS MAU APEL DONG,” teriak Isack dari balik rak Tropicana Slim sambil lari-lari kecil kayak anak yang baru kabur dari les Kumon.

Max, masih jongkok di belakang meja kasir sambil mencatat jumlah buah naga busuk, hanya mendesah lelah. “Sebentar ya, Dek.”

Lalu Max memulai mengupas dan memotong apel. Tapi lima menit kemudian, Isack datang mengatakan, “Eh sorry nggak jadi, Mas.”

Max berhenti memotong. Ia menoleh. Isack sedang berdiri dengan santai sambil memainkan plang harga dari rak roti.

“Dek ini udah gue potongin loh.”

Isack cuma menggendikan bahu. “Nggak dulu deh, lagian habis ngambil pisang keras banget.”

“...”

Dalam hati, Max mengumpat, “Bajingan lo.”

Tak lama, masuklah Gabi, pacar Isack, sekaligus pelanggan tetap Point Coffee, sekaligus orang yang selalu bawa Tumblr warna pastel kemana-mana padahal isinya cuma air galon, sekaligus bocil kematian nomor dua.

Begitu Gabi melihat Max mulai terlihat gila sambil memotong apel dengan tangan kiri dan ngitung stok dengan tangan kanan, ia langsung maju.

“Isackkk, udah deh. Stop gangguin masnya. Kasihan itu, dia udah pusing.”

“Eh? Kok kamu malah belain mas-mas dekil ini? Kamu udah gak sayang lagi sama aku ya?”

Gabi menghela napas. “Kita gak boleh semena-mena sama karyawan underpaid, Sak...”

Sekali lagi, batin Max yang berbicara dengan wajah tersenyum. “Makasih udah dibelain… TAPI LU MONYET.”

Di hari menyebalkan lainnya yang yang sempat bikin George ingin keluar dari tubuhnya adalah ketika Max menyeretnya paksa ke pasar.

“Ayolah, temenin gue beli buah. Gue gak bisa bedain mana yang mateng sama yang busuk.”

“Kenapa gue, anjing?!” protes George.

“Ya soalnya lo ngerti mana yang bagus. Estetika lo tinggi nih, gue mah apa daya dibandingin sama lo, George.”

George diam. Itu pujian, kan? Walau terdengar menyebalkan dan dia gengsi. “Ya ampun, gitu doang lo butuh gue? Dasar oon.”

Tapi tetap ikut. George ikut milih buah, ikut colek-colek mangga, ikut marah kalau harga buah naik. Perasaan di hatinya jadi senang karena menyentuh buah bagus dan menyusunnya dengan benar. Mungkin ink adalah free therapy. George benci karena Max lah yang membuat kepalanya migraine dan orang ini juga yang memberikan obat tersebut walau harganya adalah melakukan pekerjaan Max.

Akhirnya di hari ini, George sedang ikut nyusun semangka pakai kecepatan dewa, tangan kanan-kiri menaruh buah ke display kayak pesulap. Sedangkan, Max… dia lagi mengambil mangga satu per satu dari dus, jalannya pelan kayak pensiunan yang uangnya belum cair.

George, yang telah melewati dua jam shift dengan kopi hitam saset supaya tidak tertidur dan dendam hidup, cuma bisa melotot dari jauh. “Lu tuh ngapain, Max? Display mangga bukannya langsung diambik sekardusnya!” katanya sambil jalan mendekat, melipat lengan kemeja hitamnya.

Max dengan tampang tanpa dosanya melihat ke arah George. Max, “Gue cuma pengen buahnya kesusun simetris, kan lo sendiri yang bilang harus rapih.”

Tangan George rasanya mau menjambak rambut Max tapi yang dia lakukan cuma menjambak rambutnya sendiri karena frustasi. “Tapi kan nggak usah diambilin satu-satu!”

Di situ George mendekat ke Max, langsung jongkok, ngebongkar dus mangga, dan nyusun dengan efisiensi 100%. “Gini loh caranya. Kalau kayak tadi kayaknya gue duluan yang hidupnya selesai sebelum display buahnya jadi.”

Max langsung menggembungkan pipinya ngambek-ngambek lucu. “Lo mah sukanya nyalahin gue.”

Tapi sebelum Max bisa drama lebih lanjut, George berdiri dan Max yang juga mau berdiri tanpa liat ada George tepat di belakangnya.

DUAR.

Max jatuh. George ikut keseret. Kepala mereka mendarat di tumpukan mangga. Dan bibir mereka? Cup.

Iya, mereka ciuman di antara mangga.

Kedua mata mereka membulat kaget dan Max dengan cepat langsung berdiri walau hampir kesandung mangga. Wajah keduanya memerah seperti habis kepanasan habis upacara karena pembinanya terlalu banyak berbicara.

“Sumpah, George! Gue nggak sengaja maaf banget!” Max dengan panik merapal permintaan maaf sambil mengulurkan tangan untuk membantu George berdiri.

Dengan lelah dan masih salah tingkah, George menerima uluran tangan itu. Ia menepuk-nepuk jeansnya sambil mengatakan gapapa berulang kali.

Keadaan jadi canggung dan keduanya menggaruk tengkuk dengan kikuk.

“Ya… kita beresin dulu aja kali mangganya..?” ajak George yang langsung disetujui Max.

Akhirnya kedua laki-laki itu membereskan mangga-mangga yang berserakan di lantai Indomaret tanpa mengetahui kalau Toto—manajer mereka—tengah geleng-geleng kepala sambil menyeruput kopi saat melihat CCTV.

“Ada-ada aja mereka berdua.”

Notes:

i'm trying my best to be make it funny kita rehat sejenak dengan ge dan max yang agak oon ini