Work Text:
Hujan. Aku nggak suka hujan. Hujan bikin aku kedinginan. Kadang-kadang sampai pilek dan demam.
Ibu bilang, hujan membawa berkah. Tapi berkahnya menyerap ke dalam tanah, bukan ke otak manusia.
Jadi, aku nggak boleh main hujan-hujanan. Kalau hujan membasahi tanah, tanahnya jadi subur. Tapi kalau hujan membasahi badanku, badannya jadi sakit.
Aku nggak suka kalau sakit. Besoknya pasti nggak bisa sekolah karena kepalaku berputar-putar. Semua permen dan cokelat di atas meja lenyap, Ibu ganti dengan mangkuk bubur yang disuapkan ke aku sehari tiga kali. Mual. Aku nggak suka sakit, jadi aku nggak suka hujan.
Makanya waktu langit menggelap dan petir mulai sahut-sahutan, aku langsung meringkuk di sebelah Miss Gaeul (Miss Gaeul, guruku di sekolah). Takut. Nanti penyakitnya merambat ke tubuhku.
Tapi Miss Gaeul bilang, nggak apa-apa, Jaehyun nggak akan kenapa-napa. Aku nggak percaya karena setiap hujan, aku sering kenapa-napa.
Cuma ada satu hal yang buat aku goyah: Miss Gaeul nggak pernah bohong. Miss Gaeul adalah orang dewasa yang baik hati. Jadi aku mengangguk dan tetap duduk di sebelahnya. Miss Gaeul tertawa dan usap-usap kepalaku kayak yang selalu dilakukan Ibu. Mungkin benar waktu Miss Gaeul bilang, beliau adalah orang tua kami di sekolah (kami itu maksudnya para siswa; aku dan teman-temanku yang lain). Karena aku pun tidak keberatan menganggapnya sebagai jelmaan Ibu.
“Hei, Taesan. Ibumu belum datang juga?”
Sampai si anak baru itu datang.
Miss Gaeul tiba-tiba jadi menyebalkan sebagaimana beliau merangkul cowok menyebalkan itu.
Aku nggak sudi sedikitpun menoleh ke arahnya. Dia duduk di sebelah kanan Miss Gaeul. Setidaknya ada beliau yang jadi penghalang di antara kita. Dia baru muncul pagi ini di kelas. Tapi langsung bikin aku nggak suka. Dia nakal. Dia mendorong temanku karena mau cepat-cepat dapat giliran naik perosotan. Dia nakal. Makan siangnya nggak dihabiskan karena katanya masakan ibunya tidak enak. Aku nggak pernah diajarkan ibu untuk berteman sama anak yang nakal. Jadi aku nggak mau berteman sama Taesan.
“Mhm, sama kalau gitu. Jaehyun juga belum dijemput, nih.”
Miss Gaeul menggeser tubuhnya sedikit supaya Taesan bisa lihat aku. Nggak aku respon. Aku justru buang muka alih-alih menyapa cowok itu. Nggak mau! Miss Gaeul sepertinya sadar kalau aku masih jengkel sama kelakuannya hari ini. Miss Gaeul lihat kok semua kejadian itu. Aku cukup senang kalau itu alasan beliau enggak memaksaku atau bertanya di depan Taesan kenapa aku cemberut (biasanya, Miss Gaeul akan menggoda demikian supaya murid yang digoda malu lalu akhirnya dua murid yang tadinya bertengkar jadi saling bicara).
Tapi aku rasa Miss Gaeul juga setuju kalau Taesan memang nggak bagus diajak bicara.
“Mungkin ibunya malas jemput dia, Miss. Lihat aja wajahnya cemberut terus gitu.”
Tuh, ‘kan.
Tuh, ‘kan !
Aku melotot. Kepalaku langsung terputar dan menunjuk Taesan dengan tatapan berapi-api. “Kamu pikir ibu kamu mau jemput kamu? Anak nakal nggak tau terima kasih, nggak habisin bekal makan siang sama sekali. Kalau aku jadi ibumu juga aku malas jemput kamu sampai besok!”
Aku pikir, habis itu kita akan bertengkar. Aku sudah siap kalau Taesan mau balas omelanku. Aku sudah siap dilerai sama Miss Gaeul terus dilaporkan ke Ibu. Aku sudah siap menjelaskan kepadanya (ibuku) kenapa aku begitu semangat menghardik Taesan. Pokoknya, aku sudah siap!
Tapi yang kemudian terjadi malah Taesan terbahak-bahak. Aku jelas keheranan sebagaimana Miss Gaeul pun sama herannya. Dia ketawa keras sekali sampai agak lama. Belum selesai sampai sana, senyumnya malah merekah pula.
“Nah, gitu dong, nengok ke aku.” Taesan tertawa. Dia berdiri sembari seorang wanita melangkah mendekat ke arah kami. “Aku, ‘kan, juga mau lihat wajah cantik kamu.”
“Taesan? Yuk, pulang, nak.”
