Work Text:
Deru suara ombak bersama dinginnya malam yang terasa menusuk, seorang gadis berjalan di pesisir pantai tanpa sebuah alas kaki, tanpa sebuah jaket, ataupun celana panjang yang cukup untuk melindunginya.
Ia menatap lautan, mengingat bagaimana dahulu ada seseorang yang teramat suka dengan tempat seperti ini, menjadi alasan mengapa [Name] menginjakkan kaki ke tempat ini berkali-kali.
Seseorang itu adalah sebuah bintang, ia hangat dan bersinar dengan sangat terang, saking terang dan menyilaukan, setelah bintang itu menghilang, semua terasa gelap dan hampa.
Kisaragi Aine adalah nama bintang itu.
Seorang laki-laki yang lulus dari Akademi lebih dahulu karena bakatnya.
Seseorang yang dengan rakusnya menarik semua perhatian kepadanya, lalu meninggalkan mereka yang berusaha untuk mengejarnya.
Seseorang yang dicintai dan mencintai segala hal, termasuk rasa sakitnya sendiri yang perlahan-lahan semakin membunuh akal sehatnya.
Dingin…
Air laut yang dingin ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang dimiliki laki-laki itu.
Semakin kakinya melangkah menuju lautan, semakin dekat rasanya dirinya dengan sang bintang.
Apakah bintang itu kesepian di dasar laut sana?
Meskipun tidak ada jawaban, [Name] menarik nafasnya sebelum sebuah ombak besar menenggelamkan dirinya seutuhnya.
Dingin…
Ia memeluk dirinya sendiri, membayangkan apakah ini yang Aine rasakan ketika laki-laki itu melakukan hal yang serupa?
Dingin…
Sesak…
Aku tidak bisa bernafas…
Meskipun begitu, akhirnya sekarang manik matanya kembali bisa melihat laki-laki itu.
Bintangnya.
Bukan, tapi bintang semua orang.
Sembari air matanya tercipta, gadis itu menutup matanya.
Hangat…
Pelukan dari laki-laki itu terasa hangat.
Ia bisa merasakannya, rasanya sama seperti dulu.
Kedua tangan itu terulur dan memeluk dirinya dengan lembut.
Menuntun dirinya menuju tempat dimana mereka akan bertemu lagi.
“Terima kasih, maafkan aku, [Name].”
Sebuah kalimat singkat itu sontak membuat [Name] membuka mata secara paksa.
Namun… Ia mendapati dirinya terbaring di tepi pantai, sendirian, namun nyatanya ia masih bisa bernafas, juga dengan tubuh yang basah.
Pelukan dan suara itu terasa nyata, hangat, sampai-sampai ia tidak merasakan rasa sesak karena tidak bisa bernafas, atau bahkan dinginnya air dan udara malam yang menusuk hingga ke tulang.
Ini sudah ketiga kalinya.
Meski bintang itu kesepian, ia tidak membutuhkan teman.
Ia menjadi dirinya yang seperti biasanya, meskipun ia kesakitan, ia tidak ingin menarik siapapun untuk mati bersamanya.
“Aine.”
Suara gadis itu serak dan bergetar, bersama air mata yang menetes, lagi-lagi ia tidak bisa menggapai sang bintang.
-End-
