Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-08-14
Words:
2,134
Chapters:
1/1
Comments:
9
Kudos:
78
Bookmarks:
4
Hits:
424

kalau jakarta beneran tenggelam

Summary:

kalau jakarta beneran tenggelam, ya sudah lah, mau gimana lagi. asal Max mau nemenin George naik perahu karet bareng, nggak apa-apa deh.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:


Dulu George pernah baca puisi Pak Sapardi Joko Damono yang judulnya “Hujan Bulan Juni” di perpustakaan SD pas lagi nunggu dijemput sama Bapaknya. George SD, baru mau masuk SMP, nggak begitu mengerti tentang puisi itu, jadi George tanya Mamanya pas sudah sampai rumah setelah dianterin pulang sama Bapaknya.

 

Kata mamanya George, puisi “Hujan Bulan Juni” itu tentang cinta yang datang pada saat yang tidak disangka-sangka. Cinta yang datangnya bikin orang-orang keheranan. Cinta yang sabar dan tabah karena tak bisa disampaikan.

 

“Gitu, Dek, makanya judul puisinya ‘Hujan Bulan Juni’ bukan hujan bulan Desember atau November.”

 

“Mama ngarang ya?”

 

Lalu sutil di tangan Mamanya mendarat di dahi George.

 

Besoknya, George kapok dan tidak mau bertanya pada Mamanya lagi, jadi George tanya teman sekelasnya yang dapat nilai 90 di ujian Bahasa Indonesia saat jam istirahat.

 

“Eh maknanya puisi Hujan Bulan Juni tuh emang bener ya tentang cinta-cintaan gitu?”

 

“Lebih dari sekedar cinta-cintaan tau, Kamu nih! Hujan Bulan Juni karya Pak Sapardi tuh membahas tentang—”

 

Pada akhirnya, penjelasan temannya itu cuman masuk telinga kanan dan keluar telinga kirinya George.

 

George masih belum paham apa maksudnya cinta yang seperti hujan yang turun di bulan Juni. George pahamnya, kalau bulan Juni itu libur semester jadi dia bisa main sepuasnya sama tetangganya.

 

Tetangganya namanya Max. Mereka berbeda SD tapi karena rumah mereka sebelahan, Max jadi suka dititipin ibunya buat dianter-jemput bareng George. Karena itu juga, selama libur semester mereka jadi sering main bareng. Sepak bola, PS2 punya kakaknya George, naik sepeda keliling komplek, nerbangin layangan, apa aja mereka mainin bareng.

 

George nggak pernah bertanya kepada Max tentang puisi ‘Hujan Bulan Juni’ karena George tahu Max nggak jago di mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Tapi George pernah ngobrol sama Max di suatu hari pada bulan Juni di libur semester yang turun hujan.

 

“Eh, Max, katanya musim hujan itu mulai kalau bulannya ada ‘-ber’ nya, ya? Kayak September, Oktober, November, Desember. Emangnya itu beneran ya?”

 

“Iya, ‘ber’ itu karena bunyinya jadi ‘brrrr’ kayak kedinginan gitu, makanya musim hujan mulainya bulan September.”

 

“Tapi ini bulan Juni masih tetep hujan ah. Lo ngarang ya.”

 

“Yaudah, hari ini berarti bulan Juniber”

 

George tetep nggak ngerti tentang cinta yang seperti hujan bulan Juni. Tapi, George jadi ngerti kalau Max itu agak aneh.

 

Candaan itu cuman salah satu dari candaan lain waktu liburan semester pas SD. Sekarang, di umur George dan Max yang sudah hampir menyentuh kepala tiga, mereka nggak pernah bercanda lagi soal itu. Karena sekarang, jangankan di bulan Juni, di bulan Agustus yang akhirannya “Tus” dan bukan “Ber" atau “Ni”, Jakarta pun dilanda hujan badai.

 

Sudah beberapa hari ini Jakarta hujan deras. Sudah beberapa hari ini juga, George dan Max jadi harus pulang lebih larut dari biasanya. Hujan bulan Agustus yang pertama, mereka trabas saja dan berakhir dengan hidung tersumbat dan kepala pening besok paginya. Jadi, sejak hujan bulan Agustus yang kedua turun, mereka sepakat untuk menunggu reda lebih dulu.

 

Kadang mereka menunggu di Lawson, kadang di Indomaret, tergantung kosong atau nggak-nya dan mood George sore itu gimana. Kalau sore ini, George lagi kepikiran kopi susu keluarga-nya Family Mart. Jadilah, di tengah hujan bulan agustus yang mengguyur Jakarta sore ini, George dan Max duduk bersebelahan di bangku Family Mart deket kantor mereka.

 

Mereka pesen odeng, satu bagi dua. Odengnya sudah habis sampai ke kuah-kuahnya, tapi macet Jakarta masih belum habis-habis. Mungkin nggak akan pernah habis kalau itu. Hujan di luar pun nggak ada tanda-tanda habisnya, nggak seperti kuah odeng mereka yang sudah ludes dari tadi.

 

George menatap gelas kopi susu keluarga-nya yang dihiasi oleh wajah-wajah karakter dua dimensi dari anime yang George nggak kenal siapa. Ia mengalihkan pandangannya, mengintip handphone Max yang menunjukkan for you page Max yang isinya orang feeding arapaima gigas. George mendengus, ia meneguk kopinya yang tersisa dan menatap ke luar.

 

“Max, kopi susu keluarga tuh keluarganya siapa ya?” Celetuknya, asal.

 

“Cukup Jakarta aja yang aneh tiba-tiba musim hujan lagi, lo nggak usah ikutan aneh.”

 

“Gue boseeeen banget, Max.”

 

“Terus gue harus gimana?”

 

“Ngobrol kek, apa kek.”

 

Max menghela nafasnya dan meletakkan ponselnya. “Kita ketemu tiap hari, apalagi yang mau diobrolin?”

 

George mengangkat bahunya. Benar, mereka terlalu sering bertemu, sampai-sampai mereka sudah kehabisan topik untuk dibicarakan. Lalu pandangannya diarahkan kembali ke jendela yang memperlihatkan hujan yang masih betah mengguyur Jakarta.

 

“Kenapa ya Jakarta ujan mulu akhir akhir ini.”

 

Max mengedikkan bahunya, menjawab dengan asal. “Climate change, kali.”

 

George terdiam, tidak mengatakan apa-apalagi, lalu Max kembali menunduk dan menatap layar ponselnya.

 

“Lagian bulan Agustus ujan, aneh banget ah! Gue mau pulang pleaaseeee, badan gue lengket banget, gue pengen mandi.”

 

“Ya sana lo protes sama yang di atas.”

 

“Lo mah, asal banget mulutnya.”

 

George selalu bicara tentang seribu satu hal, dan Max, entah bagaimana caranya, selalu punya seribu satu tanggapan untuk George.

 

Mereka masih duduk di bangku yang sama, kuah odeng mereka tidak secara ajaib bertambah, dan es batu di kopi susu keluarga milik George sudah cair sehingga menambah rasa air di kopinya yang bikin nggak enak. Hujan yang sebelumnya mengguyur Jakarta seperti selang bapak-bapak saat mencuci mobil mulai mereda seperti nenek-nenek menyiram tanaman. Orang-orang yang sama menunggu reda pun sudah mulai berdiri dari tempatnya, dan sepertinya Max punya ide yang sama seperti orang-orang di sekitar mereka.

 

“Udah agak reda nih, mau balik?”

 

“Dukuh atas pasti masih rame nggak sih?”

 

“Kalau mau nggak rame nunggu tutup aja Ge.””

 

“Lucu lo begitu?”

 

Charger ponsel Max dicabut dan dimasukkan ke dalam tasnya, sampah dirapihkan dan dibuang ke tempatnya, bangku family mart yang kini hangat itu dirapikan agar tidak menghalangi jalan. Masker sudah dipakai, jaket sudah dikenakan, dan e-money sudah diisi. Mereka pun berjalan menuju stasiun.

 

Trotoarnya becek. Lampu-lampu mobil memantul di genangan dan suara klaksonnya bersahutan. Max berjalan setengah langkah di depan George

 

“Kayaknya besok harus bawa payung deh, Max.” Celetuk George, “Tas gue basah deh ini, takut kena laptop.”

 

“Yaudah lah, Ge, laptop kantor juga.” George merespon dengan tawa kecil.

 

Max berjalan menghindari genangan-genangan yang terbentuk di trotoar yang nggak dibetul-betulin oleh pemerintah Jakarta itu dan George senantiasa mengekori Max di belakangnya.

 

“Max,” Panggil George, “Sekarang berarti Agusberrrrr ya, bukan Agustus?”

 

Max tertawa, masih setengah langkah di depan George “Tai, masih aja.”

 

Sampai saat ini, George tidak pernah bertanya kepada Max tentang makna puisi Hujan Bulan Juni yang ia baca di perpustakaan SD-nya bertahun-tahun silam. George sebenarnya lebih ke lupa, daripada tidak pernah bertanya. Namun, George masih ingat tentang percakapan mereka saat hujan turun di bulan juni bertahun-tahun yang lalu. Tentang candaan payah dari Max.

 

Mungkin seperti kata Max, hujan turun karena perubahan iklim, atau mungkin hujan bosan kalau terus turun di akhir tahun, atau yang paling masuk akal, memang sudah kehendak yang di atas kalau hujan harus turun hari ini. Tapi, apapun alasan kini hujan turun di bulan Agustus, seenggaknya di dalam MRT, George dan Max kebagian tempat duduk.

 

George menyandarkan kepalanya pada jendela kereta dan Max disebelahnya melakukan hal yang sama. Lutut mereka bersentuhan karena ruang duduk yang terbatas, tapi dibiarkan saja. Kereta MRT yang berada di bawah tanah itu meredam suara rintik-rintik hujan dan klakson mobil yang menemani mereka. Diganti dengan suara announcer dan suara kereta melintasi rel dengan cepat.

 

Stasiun Dukuh Atas tidak pernah sepi. Ada ratusan, mungkin ribuan, orang yang berlalu lalang di situ. George dan Max, tentu saja salah dua dari orang-orang yang berlalu lalang di situ. Gerimis yang tadi terdengar samar di dalam MRT kini kembali terdengar jelas begitu mereka sampai di atas.

 

Angin membawa aroma aspal basah, rintik gerimis yang sudah memelan kembali jaruh dengan terburu-buru, memaksa orang-orang untuk mempercepat langkah mereka.

 

Kalau hujan bulan Juni itu tabah dan rintiknya dirahasiakan di pohon, maka hujan bulan Agustus itu jauh dari kata tabah karena rintiknya tanpa malu-malu mengguyur lagi Jakarta tanpa ampun saat Max dan George tiba di stasiun Dukuh Atas.

 

“Besok beneran bawa payung deh.” Gerutu George

 

“Mau trabas aja, nggak?”

 

“Tapi deres banget anjir.”

 

“Daripada nunggu lagi?”

 

“Yaudah deh.”

 

Dalam hitungan ketiga di kepala Max, ia berjalan setengah langkah lebih dulu daripada George dengan ransel di kepalanya. George, setengah langkah di belakang Max, meraih jaket Max. “Pelan-pelan kek!”

 

“Kaki lu panjang, Ge, masa nggak bisa keep up?”

 

Mereka melewati kerumunan orang yang sama-sama berlari menerobos hujan menuju stasiun KRL. Max setengah langkah di depan dan George di belakangnya, memegang jaket Max agar tidak terpisah.

 

Setelah setengah berlari di hujan bulan Agustus yang tidak sabaran, lalu mengantri untuk tap in di stasiun KRL dan sedikit berlomba untuk masuk gerbong, George dan Max akhirnya berdiri berhadap-hadapan di tengah kerumunan manusia yang sama-sama ingin pulang di dalam KRL. Max bisa merasakan rambut George yang basah bersentuhan dengan dahinya karena George sedikit lebih tinggi dari Max. Tapi Max biarkan saja air dari rambut George menetes ke dahinya.

 

George meraih ponselnya yang dia simpan di bagian atas ranselnya, membaca notifikasi dari ibunya yang ia baca melalui lockscreen-nya.

 

“Anjir kata nyokap gue jalan ke rumah udah banjir.”

 

“Nggak kaget, dari kita kecil juga begitu,” timpal Max. “Makanya gue pindah.”

 

George mengusap wajahnya kasar, hari ini sudah cukup menyebalkan dengan hujan yang tiba-tiba turun deras. “Ah elaaah kenapa sih Jakarta nih.”

 

“Lama-lama lu beli perahu aja kalau kata gue, daripada lu beli Wuling, ntar kalau banjir kesetrum.”

 

“Ngaco tai.”

 

Tidak ada lagi perbincangan di antara keduanya setelah itu. Max membuka ponselnya sementara George menatap kaca yang dengan Ikhlas ditumpangi oleh rintik hujan itu.

 

Kalau hujan bulan Juni diserap akar pohon, hujan bulan agustus ini harusnya mengalir di Kali Krukut biar nggak bikin banjir. Kalau hujan bulan Juni yang diserap bikin bunga mekar, hujan bulan agustus ini terseah lah mau sampai ke Muara Angke atau sampai ke Ancol jadi George dan Max bisa main ke dufan dan rumah George jadi nggak kebanjiran.

 

Kereta terus melintasi rel-nya, berhenti di satu stasiun ke stasiun selanjutnya. Di dalam gerbong, udara dingin AC bercampur dengan bau seluruh rakyat Jabodetabek. Di luar, rintik hujan yang turun menempel di kaca bersama dengan Jakarta yang semakin jauh. George menatap ke arah Max yang sibuk bermain block blast di ponselnya lalu kembali menatap ke jendela kereta. Pikirannya melompat-lompat dari kuah odeng yang hangat, kopi susunya yang kecampur es batu, jalan menuju rumahnya yang banjir, dan ke hujan yang turun di pertengahan bulan Agustus ini.

 

Jakarta berlari mundur di balik kaca sementara George berangan-angan ke masa depan dimana hujan di bulan Agustus nggak pernah berhenti.

 

Gimana kalau suatu hari nanti hujan di bulan Agustus nggak pernah berhenti dan bikin Jakarta tenggelam? Gimana kalau suatu hari nanti ada pejabat lain yang ngalahin rekor korupsi negara ini dan pemerintah masih mikir kalau kita semua nggak apa-apa? Gimana kalau suatu hari nanti kurs rupiah makin gak masuk logika sampai iblis taubat karena nggak habis pikir terus akhirnya dia sedekah?

 

George menatap pantulan dirinya dan Max di kaca yang buram karena hujan.

 

Dari pantulan di kaca, Max sudah berhenti bermain block blast dan George sudah berhenti berangan-angan tentang masa depan. Suara announcer KRL sudah berkali-kali menyebutkan stasiun tujuan Max. Orang-orang mulai berdiri dari duduknya dan mendekati pintu keluar di sebelah kiri. Max dan George, yang berdiri di dekat pintu terdorong dan menyebabkan jarak antar mereka menipis.

 

“Gue turun di stasiun ini ya Ge.”

 

“Iya tau gue.”

 

Max tidak membalas, hanya mengangguk. Kereta melambat, terguncang sedikit saat benar-benar berhenti. George sedikit kehilangan keseimbangan dan terdorong ke arah Max.

 

Refleks, Max menahan tubuh George agar tidak benar-benar terjatuh. “Sorry.” Gumam George.

 

“Ya elah, lu badan lebih bongsor dari gue masa letoy amat.”

 

“Tai lu, sana turun!”

 

Max terkekeh, lalu menatapnya satu detik lebih lama dari biasanya, “Besok mau pulang bareng lagi?”

 

Pintu di sebelah kiri pun terbuka dan Max masih terdiam menunggu jawaban George. Sebagian orang keluar masuk, sebagian orang berdiri ke tempat yang lebih nyaman, dan sebagian yang beruntung kebagian tempat duduk. Max masih menatap George lamat-lamat, menunggu jawaban George, yang sebenarnya Max sudah tahu apa jawabannya.

 

Petugas KAI sudah celingak-celinguk di pintu kereta, menunggu apakah akn ada yang turun lagi atau tidak. George belum menjawab tapi Max tidak mau terjepit pintu KRL—akhirnya dia keluar melewati petugas KAI yang celingak celinguk di pintu sebelah kiri,

 

dan George, akhirnya menjawab, cukup untuk sampai di gendang telinga milik Max.

 

“Masih nanya lu?”

 

Pertanyaan yang lebih seperti pernyataan itu membuat Max tersenyum dan melangkah lebih mantap sampai hilang ditelan kerumunan orang-orang di stasiun tujuannya. Pintu kereta itu akhirnya tertutup lagi dan George harus berdiri melalui dua stasiun lagi untuk sampai ke rumahnya. George tersenyum kepada dirinya sendiri.

 

Pantulan kacanya sekarang hanya menunjukkan dirinya sendiri, tapi George tahu betul kalau Jakarta beneran tenggelam, George punya Max buat tenggelam bareng atau naik perahu karet bareng di Jakarta. George punya Max buat jadi pegangan kalau mereka dihantam ombak manusia saat transit di Manggarai. George punya Max yang mau melangkah setengah langkah di depannya kalau lagi jalan kaki di trotoar Jakarta yang separuhnya dimakan proyek dan separuhnya lagi dimakan galian.

 

Meski hujan bulan Juni kini tak tabah lagi, atau Max harus turun dua stasiun lebih dulu, seenggaknya besok mereka akan bertemu lagi di kantor.


 

Notes:

wrote this karena jakarta ujan mulu