Work Text:
Natha's Birthday
Natha's Birthday.
Sebaris kalimat yang muncul di layar HPnya itu membuat Renata yang baru saja bangun di pukul 12 siang langsung melompat dari kasurnya dan menjerit tertahan.
Dia lupa!
Ini sudah tahun keberapa mereka saling mengenal, dan semalam Renata sengaja begadang demi membuatkan surprise tapi gagal!
Melihat kertas laporan yang baru setengah jadi itu menyadarkannya kalau semalam dia ketiduran!
Sekarang udah jam 12 siang!
Sial. Pasti Nathaniel udah berangkat ke kampus. Mentang-mentang hari ini kelas Renata itu kelas sore pasti cowok itu sengaja gak bangunin dia.
Cepat-cepat Renata ke kamar mandi, siap-siap dan menyambar tasnya untuk keluar mencari hadiah paling bagus yang bisa dia temukan untuk Nathaniel.
Menurut kalian, hadiah paling bagus untuk Natha itu apa?
Jawabannya...
Adalah sesuatu yang Renata juga masih pertanyakan.
Dulu pas masih SMA, Rena baru tau soal ulang tahun Nathaniel pas masih jelek-jeleknya hubungan mereka. Setelahnya pun kalau Natha ulang tahun entah kenapa lelaki itu sulit dihubungi. Baru sejak tahun lalu, lelaki itu berada di sekitarnya ketika di tanggal ulang tahunnya.
Cuman-
Pasti kan mereka merayakan ultah Nathaniel dengan yang lain.
Dan jujur aja, Renata taking so much time to choose a damn gift. Karena dengan kekayaan Nathaniel yang Rena belum tau seberapa banyak, lelaki itu bisa saja membeli apapun yang dia mau.
Jadi waktu tahun lalu, dia ikut Gemini sama Ethan buat patungan buat hadiahnya.
Tapi tahun ini, Renata udah berdedikasi untuk beli hadiahnya sendiri!
Bermodalkan saran Yasha- Renata bisa memilah apa yang sekiranya bisa dia beli dan cocok untuk Natha!
Waktu dia hanya sisa setengah hari untuk nyari hadiahnya! Karena malam ini, mereka sudah sepakat akan merayakan ulang tahun Natha di apartemen.
And honestly, he just wasted his first hour to stroll around with no clue.
Aslinya dia udah keliling mall, udah lihat-lihat barang yang dia mau kasih ke Natha.
Baju? Jam tangan? Tas? Topi? Parfum?
Tapi setiap ada yang mau dia ambil, dia selalu berat sama harganya atau dia ngerasa itu gak cocok buat si empu.
Too simple? Yes.
Too flashy? Yes.
Too boring? Absolutely.
Oh ya, berat sama harga itu sebenarnya bukan karena harganya terlalu mahal. Dia merasa itu lebih murah dari apa yang pernah Nathaniel kasih ke dia selama ini. Dia udah nyimpen uang banyak demi beliin barang mahal buat Nathaniel dan entah kenapa barang yang dia ambil selalu terasa gak ada harganya kalau disandingkan dengan apa yang Nathaniel kasih ke dia.
Dia mau kali ini barang yang dia kasih juga sepadan.
Masalahnya, sepadan itu yang kayak apa??
Renata stress.
Pas sekali disaat Renata ini lagi desperate di depan toko buku, dia gak sengaja denger percakapan dua orang disebelahnya.
"You're telling me you just made that book for your boyfriend?"
"Yess!! It might sounds a bit cringey, but that'll do for our anniversary"
Mata Renata menyipit sedikit, melihat buku jenis apa yang ada digenggaman dua gadis yang berdiri di sebelahnya. Rupanya itu adalah album foto yang gadis itu cetak untuk merayakan anniversarynya dengan pacarnya.
Sesaat berikutnya lampu imajiner muncul diatas kepalanya.
That was the very least thing he'd thought about, but the first thing that he can afford if he starts now!
Segera, Renata masuk ke dalam toko buku itu dan memilih notebook kosong yang mungkin bisa ia gunakan untuk membuat buku yang dipikirkannya barusan.
Lalu saat ia pikir ide hadiah Nathaniel apa sudah beres, dia sadar sesuatu-
Dia gatau Nathaniel suka warna apa.
It is HIS birthday.
Yes, indeed it is.
"Silahkan tuan muda"
Lelaki tinggi yang menggunakan kemeja putih dipadukan dengan dasi hitam. Rambutnya tersisir rapi, membiarkan visualnya bersinar. Matanya melirik bosan ke jam tangan yang terlihat berdetik lambat. Tangan kanannya mengangkat segelas minuman cocktail yang baru ditawarkan padanya.
Ia sedang mendengarkan bualan orang-orang terkait perayaan ulang tahunnya di club mewah yang sang ayah pesankan untuk dirinya.
Oh- dia bahkan melewatkan sejenak fakta kalau ayahnya masih ingat kapan ulang tahunnya.
Tapi sejujurnya, ini sangat membosankan.
Perayaan kecil ini hanya mengundang kolega kerja ayahnya saja. Sebagian jaringan kecil super elit yang memiliki priviledge untuk mengetahui identitas Nathaniel yang tentunya adalah sebuah rahasia untuk mata publik. Semuanya sudah disaring dengan ketat oleh Doni, asisten pribadinya.
Jelas Nathaniel tidak mau mengambil resiko teman kuliahnya mengetahui siapa dirinya.
Semua ada waktunya.
Termasuk akhir dari perayaan ulang tahun yang super membosankan ini.
Yah, Nathaniel harus bersabar karena dia sendiri yang sudah meminta ke ayahnya kehidupan ini.
"It's a very nice party. Bagus sekali papamu mau membuatkan pesta untuk ulang tahunmu, don't ya think?" Dari samping, seorang tamu undangan menghampirinya dengan nada bicara yang terdengar manis.
Nathaniel mendengus dalam hati, tapi yang ia keluarkan hanya senyuman tipis untuk gadis bergaun itu.
Hm, untuk seorang gadis yang berani mendekatinya secara terang-terangan sudah pasti memiliki tujuan lain. Ia tidak sebodoh itu.
"Terima kasih, that's very nice of you"
"I'm Grace, heiress of HK Company. I heard so much about you" Gadis itu menjulurkan tangannya, Nathaniel hanya melirik sambil memperhatikan bagaimana bibir gadis itu terus bergerak tanpa benar-benar ia dengarkan isi pembicaraannya.
Lagipula tak perlu didengarkan, coba biarkan Nathaniel tebak arah pembicaraannya.
Our company is very interested working with yours. Bla bla bla some bullshit that he knew will led to an invitation for a coffee after the party ends.
Ironically, Nathaniel tau ajakan ini adalah awal mula dari perjodohan yang tidak akan dia tertarik ikuti.
Tapi demi menjaga citranya, Nathaniel menerima uluran tangan itu hanya untuk mengucapkan, "Haha, mungkin lain kali saja. Saya cukup sibuk, dan setelah ini pun saya sudah memiliki jadwal lain"
By that mean, fuck off.
Gadis itu terlihat kecewa dengan jawaban Nathaniel tapi beruntungnya ia tidak menekan lebih lanjut.
Pesta kecil itu berakhir juga, setelah menutup acara, Nathaniel tak berbasa-basi lagi dan langsung berjalan keluar dengan Doni yang mengekor di belakangnya.
"Bang, langsung ke apart aja, gue capek"
"Baik"
Mereka masuk ke mobil, Nathaniel yang duduk di kursi penumpang di depan langsung melonggarkan dasinya dan sedikit memberantaki rambutnya. Dua telinganya ia sumpal dengan earpods.
Doni yang sedang mengendarai mobil itu melirik sejenak ke tuannya sebelum bertanya, "Apa anda bersenang-senang, tuan?"
Natha langsung bangun dan menatap kesal kepada asistennya itu. "Do I look like having fun?"
Doni tertawa pelan.
"Saya sudah jadwalkan anda untuk pulang besok"
Natha yang udah kesal jadi semakin bertambah, "Kok lo gak ngomong dulu ke gue??"
"Perintah tuan besar, beliau ingin menghabiskan waktu dengan anda"
Suara erangan terdengar dari yang lebih muda.
"Gue belum ketemu sama Renata seharian, gue minta lo batalin sekarang"
"Saya sarankan untuk memanfaatkan malam ini dengan bertemu tuan Renata" Doni tetap tenang meskipun dari ekspresi Nathaniel terlihat seperti akan mengamuk dalam waktu dekat.
Natha yang merasa kalah mendengus kesal, menggerutu sepanjang jalan.
Yah, Doni sudah terbiasa. Jadi tidak masalah. Ia hanya melakukan tugasnya saja.
Hal pertama yang Nathaniel temui saat masuk ke unit apartemennya adalah suara nyaring dari party pooper dan glitter-glitter yang bertebaran di sekitarnya. Disusul lagi oleh suara cempreng teman satu unitnya alias Gemini yang berteriak, "HAPPY BIRTHDAY NATHANIELLL!!" dengan suara terompet yang menyebalkan dari Ethan dan sushi tart dengan lilin yang masih menyala dipegang oleh Renata.
Perayaan kecil yang mungkin tidak mewah jika disandingkan pesta yang baru saja dia hadir tapi lebih bisa membuatnya tersenyum lebar.
Karena kali ini dirayakan dengan orang-orang yang ia pedulikan.
Duh, obviously.
Tanpa menunggu sedetikpun, keempatnya duduk di meja makan dan menikmati "kue" sushi itu bersama.
Kalau ditanya kenapa mereka memilih sushi untuk ultah Nathaniel?
Karena, Natha pribadi sebenarnya bukan tipikal orang yang suka kudapan manis. Jadi setelah banyak pertimbangan ketiga temannya memutuskan untuk membeli sushi tart saja sebagai gantinya. Toh harganya sama, cuma beda isi dan rasa saja.
"Ini hadiah gue tahun inii" Gemini menyodorkan sebuah kotak berisi tie clip. "Gue bingung mau beliin apa, lo udah punya banyak soalnya"
Ethan juga ikut menyodorkan sebuah bingkisan kecil yang ternyata berisi kemeja. Katanya sih, "Kurang juga gue liat baju formal lo kalo kuliah"
Semuanya ngelihat ke Rena, satu-satunya yang belum ngasih apa-apa ke Nathaniel. Tapi Renata bilang, "Hadiah gue, ntaran aja gue kasih. Gue lupa haha"
Semuanya ngedengus, tapi gak ada yang marah. Nathaniel malah ketawa juga. It's like typical Renata.
"Lo mah emang gak niat beliin gue apa-apa kan?" Celetuk Natha bercanda. Renata juga hanya tertawa kecil.
Tapi tidak papa, buat Natha, kehadiran Rena aja udah cukup.
Sesaat kemudian, sushi tart mereka sudah habis. Dan ketika semuanya sedang beres-beres, Nathaniel berujar.
"Besok gue mau pulang ke rumah. Kayaknya semingguan"
Yang pertama kali merespon itu Ethan, agak kaget dengan pengumuman tiba-tiba itu. "Loh terus kuliah lo?"
Natha ngangkat sebelah alis, "Masih ada jatah bolos, jadi gapapa"
"Ketemu papa, Nat?" Gantian Gemi yang nanya, yang mana langsung diiyakan oleh Nathaniel.
Beda lagi Renata, yang cuma diem aja sambil ngelirik tasnya sendiri.
"Tumben lo minta dianter?"
"Emang lo gamau nganter gue?"
Perdebatan kecil itu terdengar di jalan, dengan dua orang yang bersangkutan berada di atas motor yang sama.
"Ya tumben aja, sayang. Biasanya lo harus gue bujuk dulu"
Renata mendengus. "Hadiah lo masih gue tinggal di kos. Gue kasih sekarang aja, besok kan lo pulang"
Nathaniel terkekeh, "Manisnya gue dikasih hadiah tahun inii"
Renata diem, diem-diem overthinking maksudnya.
Hadiah dia mungkin gak se-wah yang dikasih Gemini atau Ethan tadi. Dia takut juga kalau Nathaniel ngetawain hadiahnya.
Begitu sampai di depan kos Rena, Rena turun dari motor itu dan bukannya masuk, ia malah berdiri diam di depan Natha yang masih diatas motor.
"Kenapa gak masuk?"
Rena menunduk, tangannya membuka tas dan mengeluarkan buku bersampul pink. Nathaniel mengangkat sebelah alis, mulai menerka-nerka.
"Hadiahnya buku?"
"Gak!" Wajah Rena memerah, dengan cepat mengklarifikasi. "Ini bukan buku biasa, gue udah effort banget buat ngehiasnya cuma sejam sebelum kelas gue. Gue bingung mau ngasih lo hadiah apa. Jadi maaf hadiah gue mungkin kurang berkesan dibandingin yang lain"
Natha menatap buku itu sesaat, sebelum akhirnya ia mengambilnya dan memperhatikan dari sudut matanya kalau Rena itu masih malu-malu.
Senyuman culas terukir di wajahnya.
Lagipula, Nathaniel tidak mempermasalahkan hadiah apa yang diberikannya kok. Mau itu adalah stroberi yang paling ia benci pun akan tetap ia makan.
Halaman pertamanya ia buka, lantaran membuatnya tertegun sejenak sebelum kekeh halus mengalun.
Happy Birthday, You Dummy.
Dihias dengan berbagai ornamen berwarna kuning dan pink. Dengan foto mereka berdua yang diambil pertama kali saat mereka SMA.
Itu adalah Scrapbook yang dihias dengan sedemikian rupa, memang terlihat buru-buru saat pembuatannya. Tapi cukup menyentuh hatinya. Foto-foto mereka yang ditempel, dihias dan diberi keterangan kecil di setiap halamannya.
"Why pink?" Setelah cukup lama diam dengan suasana yang terasa aneh, Nathaniel akhirnya mengeluarkan suara.
"That's your favourite color, right?"
Jawaban Renata itu membuat yang lebih tinggi mengangkat sebelah alisnya, bingung.
The thing is, Nathaniel didn't even have a favourite color.
"Barang-barang yang lo pake sering gue liat warna pink sih, jadi gue pikir itu warna yang lo suka. Lagian cantik kan? Gue suka kuning, lo suka pink. Warnanya nabrak tapi bagus aja gitu"
Cukup lama keduanya hening kembali hingga membuat Renata panik sendiri, "Eh- gue salah ya?? Lo gak suka warnanya?? Gue ganti-"
"Nah, bener kok. Itu favorit gue"
Nathaniel tersenyum lebar. Membuat si empu terdiam sebelum menunduk lagi karena sialnya lelaki di hadapannya sekilas tampak lebih tampan.
Having one now won't hurt.
"Hm? Ini halamannya emang kosong?"
"Gue kosongin buat diisi lagi nanti. Kalo lo gak keberatan aja sih"
Selesai. Sekarang dua-duanya malah saling mendiamkan dengan canggung.
"Besok lo pulang jam berapa?" Renata lagi yang membuka pembicaraan.
"Siang kayaknya"
Renata menarik sedikit lengan hoodie yang dikenakan Natha, sambil berbisik malu. "Kita belum ngerayain ultah lo... maksud gue, lo sama gue aja. Besok gue kelasnya juga siang..."
Natha tertawa geli, "Emangnya mau dirayain gimana lagi?"
"Ihh gue masi ada duitt, gue traktir makannn"
Yang lebih tinggi tiba-tiba mengistirahatkan kepalanya di bahu Rena, sekilas hembusan nafasnya bisa ia rasakan menerpa lehernya.
"Kita pesen takeaway aja, habis itu nginep di hotel, kita nonton, makan lagi sambil ngobrol. Kalau gue mintanya gitu boleh?"
Ajakan seperti ini bukan pertama kalinya, tapi Renata masih aja merona tipis dan malu sendiri. Tapi ujungnya ia mengiyakan.
Apapun. Asal mereka bisa berdua di akhir hari spesial ini.
"Tuan muda terlihat lebih cerah, apa ada yang baru terjadi?"
Nathaniel yang daritadi lagi melamun sambil tersenyum memandangi scrapbook pemberian Renata semalam terperanjat sedikit mendengar teguran Doni yang sedang menyetir di sebelahnya.
Sebenarnya dari Doni menjemputnya tadi, Nathaniel memang lagi in a good mood. Suatu hal yang agak jarang terlihat saat tuannya itu mau pulang. Karena biasanya ia benci menemui papanya sendiri. Tapi hari ini, wajahnya memang berseri-seri bahkan pilihan kemeja yang dikenakan tuannya itu agak berbeda dari yang biasanya dikenakan.
Kemeja berwarna soft pink. Tumben sekali.
"Apa itu hadiah yang semalam diberikan tuan Renata?"
Nathaniel tersenyum saja.
"Bang, kapan ya gue bisa nikahin dia?"
Doni tertawa hambar. "Tolong diluruskan dulu hubungan kalian ya, tuan"
Sepertinya habis ini Doni harus menyiapkan alasan jika nanti ditanya tuan besar tentang kenapa putra semata wayangnya ini bahagia sepanjang jalan pulangnya.
