Actions

Work Header

Flight and Fall

Summary:

xavier & daffa, november 2024 (crossposted)

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Dulu ayahnya Yesaya bilang bahwa kalau dua orang ditinggal sendirian yang ketiganya adalah setan, Xavier abraham cuman tertawa karena apa iya setan lebih menyeramkan dari nafsu manusia sendiri? Apa iya pikiran-pikiran yang jelas bukan dikirim malaikat itu lantas jadi sesuatu yang dihadiahkan setan dan bukan dari hati manusia yang terlanjur kotor dengan dosa yang terlanjur berlumuran disana?

Adapun rasa dan pikiran yang muncul di kepala Xavier saat ini, saat melihat Gamaliel Daffa dengan ranum merah muda basahnya, dengan peluh keringat di dahinya, dengan noktah-noktah merah di lehernya, yang ini bukan bisikan setan walaupun sama-sama berbentuk ajakan ke neraka.

Lengan Gamaliel Daffa yang melingkar di lehernya jadi panggilan buat Xavier untuk kembali ke bumi. “Berat,” ucapnya dengan sisa-sisa nafas yang sebelumnya direnggut yang lebih muda. Yang itu jenaka, Daffa tau, karena setelahnya Xavier kembali menaruh tangan di tengkuk Daffa dan menarik si laki-laki Januari untuk kembali menyatukan bilah bibir mereka.

Jam tujuh malam, keduanya ada di kamar Xavier, temaram dan Daffa gak tau apakah pendingin ruangannya rusak atau ciumannya sudah berlangsung terlalu lama sampai-sampai bagian belakang kaos Daffa menempel ke punggung karena dibasahi keringat. Kaki-kaki panjangnya menekuk gak nyaman karena posisi Daffa memaksa untuk menduduki Xavier di kursi belajarnya.

Dua puluh menit yang lalu Daffa berhasil masuk ke web ilegal komik jepang yang ingin ia tunjukkan ke Xavier, sepuluh menit yang lalu Xavier mash tertawa karena posisi Daffa yang menghadap Xavier bikin keduanya susah membaca apa yang ada di layar ponsel, delapan menit yang lalu tawanya perlahan menguap di udara karena dengan jarak yang begitu dekat, gak ada lagi hal yang lucu, yang ada cuman akal sehat yang perlahan hilang dan otak keduanya yang cepat dipenuhi awan kelabu diisi banyak mau-mau.

Ciuman Daffa serampangan, yang itu bukan hal baru karena Gamaliel Daffa selalu berantakan dan menggebu-gebu dan gigitannya di bibir Xavier membuat Xavier mendesis sebelum kemudian menerima lidah Daffa yang menunggu izin masuk.

Tangan Xavier dingin ketika menyapa kulit punggung Daffa yang hangat, seakan mengirimkan aliran listrik sepanjang tulang punggung Daffa yang kemudian membuat Daffa melengkungkan punggungnya dalam upaya menjauh dari suhu tangan Xavier yang gak familiar, kemudian malah menciptakan friksi di bagian tubuh selatan yang dikonversi jadi lenguhan yang hilang di antara pagutan bibirnya.

“Ngapain kayak gitu?” Dan Daffa benci senyum miring yang Xavier pakai setiap ia meledek Daffa.

“Dingin, tangan kamu.”

“Terus?”

Jawaban gak kunjung keluar dari mulut Daffa. Xavier gak melepas pandangannya saat lengannya dilingkarkan di pinggang Daffa untuk menarik tubuhnya semakin mendekat. Friksi yang ditimbulkan sukses membuat Daffa mengeluarkan erangan yang tertahan sembari tangannya mencengkram kedua bahu Xavier, yang lebih tua malah makin senang.

Leher Daffa panjangnya sebanyak 10 kali ciuman, Xavier sudah hafal yang itu. Lalu seharusnya Daffa dan Xavier sma gak perlu yang namanya mencoba-coba, karena benar kata ayahnya Yesa, memang ajakan ke neraka selalu datang dalam bentuk-bentuk yang menarik. Seperti sebotol memabukkan yang Riko tawarkan, seperti kantuk di jam 5 pagi yang buat Daffa gak beribadah. Seperti pusing yang dihasilkan oleh jilatan di leher Daffa dan jambakan di rambut Xavier. Seperti desahan yang keluar dari mulut Daffa ketika tangan yang lebih tua turun ke selangkangan dan bertemu yang sedari tadi mengeras di balik celana pendeknya.

“Belum diapa-apain udah kayak gini, kayak cewek tau gak?” tanya Xavier beriringan dengan suara-suara sisa ciuman basah di leher Daffa.

“Emang pernah, sama cewek?” Daffa masih balas bertanya walaupun ekspresinya gak bisa menyembunyikan kalau Daffa sudah hampir hilang akal. “Vi—ah, kontol.” Umpatannya entah ditunjukkan untuk tangan Xavier yang menekan ereksinya atau pada celana pendek yang payah dalam menyamarkan kontak kulit antar kulit.

Harusnya Xavier dan Daffa gak usah coba-coba. Karena memang semua yang ada kaitannya dengan dosa punya substansi yang adiktif disana. “Lu belum dikontolin aja udah goblok kayak gini, Daf, Daf.” Kalimat yang itu keluar tanpa ada andil bagian setan. Pun setan gak hadir di ruangan ketika Daffa mengangkat tubuhnya sebelum kembali menggesek, membuat friksi, membawa diri sendiri nalk dan turun lalu kembali naik. Daffa bermain di ujung langit yang ke sembilan.

Dan buat Xavier, Daffa yang seperti ini mirip mimpi basah di umur sebelas. Celana basket yang diambil dari lemari Xavier tersingkap sampai pahanya terpampang jelas.  Daffa senang (kayaknya), soalnya nama Xavier terus dilantunkan seperti mantra. Nafasnya terbata-bata tapi Daffa yakin saat kembali membawa wajah Xavier mendekat.

Lumatan yang diberikan penuh desperasi dan ingin-ingin yang belum terpenuhi. Tentu kontaknya masih dibatasi fabrik tapi Daffa masih kejar nikmat yang disana, mungkin benar semuanya enak ketika itu bukan sepenuhnya milik kita, mungkin ini surga dunia yang bayarannya neraka untuk selamanya. Tangan Daffa meraih rahang Xavier dalam upaya memperdalam ciumannya, menuntut, dan setiap jilatan spesifik yang Xavier beri di rongga mulut Daffa selalu buat ia bingung ingin mengejar yang mana.

Setan gak hadir dalam ruangan, yang ada cuman Xavier yang ada dimana-mana (tangannya menjamah tubuh Daffa di balik pakaian, lidahnya bermain di mulut Daffa, suara Xavier mengisi setiap inci pikirannya), yang ada cuman desah-desah Daffa yang mengejar titik ekstase, padahal pakaiannya masih lengkap dipakai di badan, padahal Xavier gak menyentuh apa-apa selain punggungnya. Juga puji-pujian yang dibisikkan ke telinga bukan dari setan, cantik, pinter, kalo gini doang mah mending gue main sama ayam kampus, Daf, yang itu dari Xavier, keluar beriringan dengan jilatan  yang diberikan di sepanjang leher, beriringan pula dengan detak jantungnya yang terdengar hingga ke telinga.

Nanti Xavier akan masuk neraka kalau begini ceritanya.

Seperti cerita lain dari ayahnya Yesaya tentang Ikaros—si anak Daedalus dan Matahari. Nanti, nanti Xavier akan tau akibat dari bermain-main terlalu dekat dengan api (deru nafas Daffa panas saat menyapa wajahnya, Xavier kembali menginisiasikan ciuman, berantakan, lidah dan gigi, dan Daffa merengek manja ketika bibir bawahnya digigit). Nanti sayap Xavier boleh meleleh, Xavier boleh jadi Ikaros yang bodoh dan terjatuh untuk kelak ditelan ganasnya ombak laut Ikaria. Namun Ikaros jatuh cinta dengan Matahari (ceruk leher yang lebih tua jadi tempat berpulang paling nyaman setelah putihnya bukan lagi sebatas perasaan di balik celana) dan Xavier yakin Ikaros gak menyesali perbuatannya.

Ikaros memang jatuh ke laut ikaria —kalau Xavier ke neraka, tapi Xavier yakin di jatuhnya juga Ikaros tetap teriakkan bahwa nafasnya yang diambil ketika ia mencintai Matahari adalah nafas paling indah seumur hidupnya (seperti bagaimana Xavier akan biarkan seluruh dunia tau soal besar cintanya untuk Daffa).

Notes:

haaaaaaaiiii. aku bingung mau nulis apa tapi mau ngasih tau yj is yesaya, dh is daffa, dan sy is xavier. this was originally posted on twitter as a part of an on-going social media au series i have. aku harap tulisan ini bisa dinikmati karena aku juga senang menulis ini ^^