Work Text:
Mobil yang dikendarai Bujang menepi di sisi jalan, tepat di dekat sebuah taman terpencil tak jauh dari Ibu Kota. Begitu mesin dimatikan, ia keluar dan melangkah memasuki area taman. Langkahnya terus berlanjut hingga berhenti di dekat pembatas tebing yang mengelilingi sisi luar taman itu.
Sorot matanya lurus ke depan, tertuju pada gemerlapnya suasana Ibu Kota yang membentang di bawah sana.
Sesekali, pria itu menoleh ke kiri-kanan dan mendapati beberapa orang masih berlalu-lalang di sekitar taman terpencil ini. Ada yang sekadar berjalan-jalan. Ada yang duduk di kursi taman, mendengarkan lagu, membaca buku, atau memakan camilan. Dan terakhir, ada yang berdiri di dekat pembatas tebing, hanya untuk menikmati pemandangan indah Ibu Kota—sama seperti dirinya.
Taman terpencil. Begitulah ia menyebutnya. Bujang temukan lima bulan lalu. Saat itu, ia sedang berkendara malam tanpa tujuan. Tatapan matanya yang tanpa sengaja menangkap area taman yang membentang di sepanjang sisi jalan membuatnya tak kuasa menahan dorongan untuk menepi. Ia keluar dari mobil, melangkah mendekati pembatas tebing, dan berdiri di sana. Ketika pandangannya menyapu pemandangan Ibu Kota yang gemerlap di bawah sana, Bujang langsung jatuh hati. Dan ia jatuh hati lebih dalam ketika mendapati tempat itu menjanjikan keheningan dan kenyamanan. Dua hal yang sudah lama ia idam-idamkan untuk menemani waktu-waktunya seorang diri.
Bujang tak menyangka, di tengah hiruk pikuk Ibu Kota, masih ada ruang yang mampu memberinya jeda seperti ini. Tanpa pikir panjang, taman terpencil ini ia tetapkan sebagai tempat favoritnya. Tak ada satu pun yang tahu bahwa ia sering datang ke sini. Bujang pun enggan menceritakannya. Biarlah tempat ini menjadi 'Tempat Rahasia'-nya, yang setidaknya mampu menuntunnya keluar sejenak dari gelapnya dunia yang masih ia jalani hingga kini.
Bujang menarik napas dan menutup matanya. Menikmati angin malam yang berhembus dengan lembut, memainkan anak rambut. Ia selalu menyukai momen-momen seperti ini. Rasanya begitu familiar. Tidak ada seorang pun yang menganggunya.
Yaa.... Tidak seorang pun. Seharusnya begitu. Hingga tiba-tiba saja terdengar suara seseorang dari arah lain yang berhasil membuat Bujang membuka sedikit matanya, merasa terganggu. Itu suara seseorang yang baru saja menerima telpon.
Hanya saja tidak sampai dua detik, suara yang awalnya Bujang anggap menganggu, kini berubah menjadi sesuatu yang membuatnya merasakan hal lain di dalam dirinya. Penasaran.
"Ada apa, Nina?"
Nina? Bujang seperti pernah mendengar nama itu sebelumnya.
"Aku di luar. Kenapa?"
Eh, tidak. Tunggu dulu.... Dibandingkan dengan nama Nina, bukankah Bujang justru lebih pernah mendengar suara ini? Bujang mengenali suara ini.
Bujang kemudian menoleh dan seketika terdiam di tempatnya. Astaga, lihatlah siapa yang sedang berdiri tidak jauh darinya. Berjarak tujuh langkah.
Itu Padma.
"Iya, baiklah. Nanti kubeli—" Padma yang sedang berbicara melalui telpon tiba-tiba menahan kalimatnya setelah tanpa sengaja menoleh ke sisi kanannya dan matanya menangkap sosok Bujang. Ia turut terdiam.
"Padma...." Bujang lebih dulu memanggilnya.
Lengang.
Dua menit mereka habiskan untuk beradu pandang, seolah sama-sama memastikan bahwa orang yang sedang mereka lihat ini bukanlah sekadar khayalan. Siapa yang menyangka mereka akan bertemu di sini?
Bujang lebih dulu memutus pandangan tersebut. Pria itu tanpa ragu melangkah menghampiri Padma yang masih berdiri di tempatnya.
"Kau…." Padma bicara, "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku...." Bujang menahan kalimatnya sebentar, mengerjap beberapa kali. "Tidak ada. Hanya sekadar mampir."
Padma diam. Satu alisnya terangkat.
"Lalu, bagaimana denganmu?" tanya Bujang.
"Sekadar mampir juga," jawab Padma.
Sesuatu yang terasa begitu familiar tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam pikiran mereka.
"Apa kau sering datang kemari, Padma?"
"Beberapa kali, ketika aku merasa sedikit jenuh atau sekadar ingin menikmati waktu sendiri."
Giliran Bujang yang diam. Matanya menatap perempuan itu lekat. "Sejak kapan kau menemukan tempat ini, Padma?" Bujang bertanya lagi.
Padma turut menatapnya, "Sekitar lima bulan yang lalu. Aku tidak sengaja menemukannya ketika sedang berkendara malam."
"Sama. Aku juga menemukan tempat ini sekitar lima bulan yang lalu, ketika sedang berkendara malam," sahut Bujang.
Padma diam. Bujang ikut diam.
Jadi, mereka sama-sama menemukan tempat ini sekitar lima bulan yang lalu?
Kembali lengang.
Senyum tipis terbit di wajah Bujang. Ia menatap Padma yang masih diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Meskipun tak ada kata yang terucap, Bujang tahu persis apa yang tengah berkecamuk di benak perempuan itu. Bujang tahu ada segunung pertanyaan yang hadir dalam benak mereka berdua—tentang bagaimana mungkin, setelah puluhan tahun berlalu, mereka kembali menemukan 'Tempat Rahasia' yang sama. Tempat yang mereka selalu idam-idamkan untuk bisa menikmati waktu seorang diri.
Bagaimana bisa takdir memperlakukan Padma dan Bujang seperti ini?
Atau mungkin bukan mereka yang tanpa sengaja menemukan 'Tempat Rahasia' tersebut? Melainkan tempat-tempat itulah yang memilih mereka, agar kisah mereka terukir di sana?
"Kali ini, kau tidak akan mengajakku bertarung untuk memperebutkan tempat rahasia ini seperti dulu, kan, Padma?"
