Work Text:
Semenjak kedatangan mereka, si rombongan mahasiswa stress akibat revisi proposal di tiap pertemuan mata kuliah Metopen yang tiada hentinya, suasana di salah satu titik pemandian air panas - curug menjadi jauh lebih ramai dan heboh dibanding sebelumnya. Apalagi ibu-ibu arisan yang datang lebih dulu, juga tidak segan menunjukkan ketertarikan mereka dengan mengajak mengobrol dan berbagi makanan — yang langsung diterima oleh Yukie dengan senang hati — menambah sorak gembira tiada henti tanpa terkecuali. Anehnya, Shimizu mendapati Sugawara jauh lebih santai dibanding hari-hari sebelumnya. Ternyata, kekhawatiran yang muncul sejak semalam, tidak terbukti adanya. Tak berapa lama setelah semuanya berganti pakaian, satu persatu dari sekelompok anak muda itu mulai memasuki kolam pemandian untuk berendam dengan air panas yang alirannya berasal dari salah satu gunung aktif di daerah sekitar. Dengan tujuan, guna menenangkan tubuh serta pikiran dari hiruk-pikuk tugas kuliah. Padahal, kalau pembaca ingin tahu, ini belum memasuki libur semester. Banyak sekali alasan yang mereka lontarkan dengan harapan, sekembalinya mereka ke kampus, mereka sudah dalam kondisi fit dan siap bertempur menghadapi UAS. Ya sudahlah, namanya juga darah muda, darah yang berapi-api.
Semi Eita. Meskipun sibuk meladeni teman-temannya yang tak bisa diam seperti anak kecil yang baru belajar berenang, dan genggaman tangannya yang juga tak lepas dari sang kekasih, sepasang matanya masih saja dengan cepat menangkap moment krusial Sugawara dan Shimizu yang memilih memisahkan diri sejenak dengan duduk santai berdua saja di sekitar pinggiran kolam. Dengan satu anggukan, Yukie menyadari intruksi yang diberikan Semi. Kemudian, meminta teman-temannya untuk mengerti bahwa Sugawara dan Shimizu tengah tidak bisa diganggu. Maka dari itu, semuanya kembali sibuk masing-masing. Membiarkan waktu berhenti sejenak hanya untuk Sugawara dan Shimizu.
Di lain sisi, Shimizu masih menantikan gerak mulut Sugawara menyelesaikan ucapannya. "Gue hanya mau memastikan sekali lagi. Setelah ini, apapun jawabannya, gue siap. Gue akan tetap menjadi Sugawara yang lo kenal, menjadi Sugawara paling jujur yang pernah lo tau, makanya lo juga harus sama. Shimizu juga harus jujur sama perasaannya." Kalimat itu berhenti sejenak. Sesaat setelah menarik dan menghembuskan napas secara perlahan, Sugawara kembali menoleh sepenuhnya kepada Shimizu. "Shimizu, gue mau kita lebih dari teman, lebih dari sahabat, lebih dari hubungan yang dulu sering kita bilang "sudah seperti saudara sendiri", apa bisa? Apa lo mau jadi pacar gue? Partner hidup gue?" Pertanyaan itu jelas sudah tidak asing lagi terdengar di telinga Shimizu. Bahkan, setelah mendengarnya untuk yang kedua kali, Shimizu masih pada posisi yang sama. Ia tak bergerak, tak melakukan pergerakan. Bukan karena tidak mau, tapi tidak bisa. Inilah maksud dari pemikirannya semalaman perihal ia yang siap mengambil keputusan. Gadis itu membalas tatapan mata Sugawara, berusaha terlihat yakin. "Sebetulnya, nggak cuma lo yang mau ngomong, tapi gue juga."
"Lanjutkan sebanyak yang mau lo sampaikan. I'm all ears, Shimizu," balas Sugawara.
"Jelas gue sayang sama lo, Sugawara. Teramat sangat sayang, lo nggak akan pernah bisa membayangkan betapa besarnya rasa sayang gue terhadap lo, tapi...."
"Tapi, itu sayang sebagai sahabat. Sebagai saudara." Pada akhirnya Sugawara memilih untuk melanjutkannya sendiri, ia mengingkari ucapannya. Namun, Shimizu tidak tersinggung sama sekali. Gadis itu mengangguk mantap, walaupun setelahnya ia menunduk dalam. Terlihat sederhana, bukan, jika dikomunikasikan? Tapi nyatanya tidak. Langkah awal yang harus ditempuh selalu memiliki kesan berat untuk diambil. Shimizu sudah banyak memilah sejak hari pertama Sugawara mengungkapkan perasaannya. Hanya saja, opsi yang ia coba selaraskan dengan ekspetasi Sugawara tidak pernah ia temukan. Kata cinta dalam hubungannya dengan Sugawara yang sudah tumbuh sejak lama, tak pernah ada yang serupa warnanya. Merah muda itu tak pernah muncul kehadirannya.
"Tegakan kepala lo. Shimizu yang gue kenal adalah Shimizu yang apapun situasinya mampu menegakkan kepala. Shimizu adalah Shimizu itu sendiri, makanya gue suka. Apapun tentang lo, gue suka. Tapi balik lagi, apa artinya rasa suka sebesar itu, kalo gue nggak akan pernah mampu menciptakan rasa sayang di hati lo, yang punya definisi sama seperti yang gue punya. Dan gue mau, meski adanya perbedaan itu, Shimizu tetap menjadi Shimizu. Perempuan yang nggak takut menegakan kepalanya." Sugawara menepuk pundak Shimizu menyemangati. Rasanya Shimizu ingin tertawa sekencang mungkin, mana ada orang yang ditolak tapi justru malah memberikan semangat pada yang menolak? Hanya Sugawara seorang.
"Maaf, ya, udah buang-buang waktu lo cuma buat nungguin jawaban gue yang nggak memuaskan ini. Tapi seperti yang lo minta, gue akan jawab dengan tegas. Sugawara, gue nggak bisa jadi pacar lo. Perasaan sayang kita nggak pernah satu jalur dan definisinya berbeda. Tapi gue mau jadi sahabat lo seterusnya. Sahabat Semi juga. Gue mau jadi orang yang menyaksikan kalian berdua menemukan kebahagiaan masing-masing di depan sana. Gue mau ikut hadir dalam cerita itu. Apa masih boleh?"
Sugawara lekas mengangguk mantap, ditarik Shimizu ke dalam dekapannya. Shimizu tidak menolak. Gadis itu membalas pelukan Sugawara dengan sama hangatnya. Mengusap punggung Sugawara tulus tanpa ragu. "Tetap menjadi Sugawara yang jujur, maka gue juga akan menjadi Shimizu yang sama. Janji?" Dalam rengkuh Shimizu, Sugawara mengangguk lagi. Dibiarkan lelaki itu memeluk sedikit lebih lama, Shimizu tak apa. Setelah ini mereka hanya perlu kembali ke titik semula. Ke titik di mana Shimizu dan Sugawara memandang satu sama lain penuh kasih bak keluarga sendiri. Walaupun, mungkin bagi Sugawara ia masih membutuhkan waktu lebih untuk kembali ke sana. Bukan suatu perkara besar. Toh, Shimizu memang masih punya banyak ruang untuk mengerti. Gadis itu sedia menyanggupi.
"Makasih, Shimizu, udah memberikan kesempatan buat gue untuk menaruh harapan." Kali ini Shimizu tertawa lepas, dan dekapan itu pun kian lama. Tidak apa-apa, sedikit lebih lama lagi juga tidak masalah. Tidak apa-apa.
