Work Text:
Pada malam hari yang dituruni oleh rintik hujan, seorang pemuda berambut kelam berlari dengan tergesa. Di sebelahnya terdapat juga seorang wanita yang sama berlari secepat dirinya. Kedua orang itu memimpin segerombolan orang yang juga mengikuti mereka pergi. Pergi dari kediaman mereka sendiri untuk menghindari perang yang sudah meletus. Untuk menghindari kejaran musuh yang hendak menangkap setiap orang yang berasal dari negeri mereka.
Merasa sudah berada jauh dari pasukan yang mengejar, pemuda yang memiliki nama Giyu itu lalu menyerukan perintah kepada wanita di sebelahnya yang bernama Shinobu untuk berlari terlebih dulu menuju rute pelarian mereka disaat dia sendiri hendak pergi kembali ke belakang untuk mengelabui pergerakan musuh. Hal itu jelas saja ditentang oleh Shinobu, sebab, bagaimana bisa dia meninggalkan satu-satunya saudara yang masih dia miliki itu?
“Shinobu, dengar aku,” adalah apa yang Giyu katakan saat mereka sedang menghentikan langkah ketika sudah mencapai persimpangan. Jalan yang membentang lurus di depan mereka adalah rute menuju pelabuhan, tempat mereka akan pergi sementara jalan yang terdapat di sisi kiri Giyu adalah rute memutar yang memiliki jalan keluar pada bagian dalam istana. Dan Giyu berniat untuk mengorbankan dirinya sendiri sedikit lebih lama agar bisa memastikan bahwa Shinobu dapat melarikan diri dengan selamat. Namun Shinobu hanyalah Shinobu yang masih saja keras kepala seperti dia yang biasanya. Gadis itu menggeleng dengan kuat sambil meneriakkan, “Tidak! Giyu-san juga harus ikut denganku. Aku tidak mau sen-’
“Shinobu, dengarkan aku!” sambil meremas erat lengan Shinobu, Giyu juga berusaha menguatkan, “Aku tepat berada di belakangmu dan aku pasti akan menyusulmu setelah ini. Tugasmu sekarang adalah mempersiapkan kapal itu untuk siap berangkat, bersama dengan yang lain. Mengerti?”
Setelah mendapat anggukan kecil dari Shinobu dan memastikan bahwa pasukan yang tadi dia pimpin telah kembali melanjutkan aksi pelarian mereka, Giyu kini beralih untuk memasuki area hutan yang lebih dalam setelah mendengar derap langkah kaki dari pasukan yang mengejarnya tadi semakin dekat.
Semakin jauh Giyu memasuki hutan, semakin banyak dia melewati semak belukar yang menggores kulit maupun baju yang dia kenakan. Semakin banyak juga sulur besar yang mencuat dari dalam tanah, membuatnya tersandung. Mengabaikan rasa sakit pada tubuh juga angin malam beserta air hujan yang dinginnya terasa seperti menusuk kulit, Giyu terus berlari semakin dalam ke hutan yang hanya dia seorang yang mengerti jalurnya itu. Terus berusaha membawa pasukan musuh untuk berjalan memutar sebelum nanti dia arahkan untuk kembali ke jalan yang menuju pada area pertokoan di wilayah dalam kerajaan. Sebelum menuju jalan itu, Giyu diharuskan untuk melewati sebuah danau kecil terlebih dulu. Danau yang sering dia kunjungi dikala ingin menghabiskan waktu sendiri, karena tidak seorang pun yang mengetahui, akan adanya sebuah danau kecil yang berada di tengah-tengah hutan itu. Maka dari itu, Giyu sangat terkejut ketika dia menemukan kehadiran orang lain di pinggir danau ketikat dia telah berhasil keluar dari rimbunnya pepohonan.
Sigap mengeluarkan sebilah pedang yang dia bawa, Giyu pun kini berusaha menormalkan detak jantungnya sambil berusaha mengamati siapa sosok yang kehadirannya sangat tidak terduga itu. Giyu berharap bahwa dia menemukan rekan. Jika pun itu musuh, bukan menjadi masalah besar karena Giyu bisa menghabisi orang itu. Namun seperti takdir memiliki caranya tersendiri untuk memberi cobaan hidup terhadapnya, Giyu malah menemukan seorang pemuda yang memiliki tahta sebagai Putra Mahkota dari Kerajaan Angin, pihak yang saat ini tengah memburu setiap orang dari tanah kelahirannya — Kerajaan Air.
“Shinazugawa…sa — ma?” ucap Giyu kelu saat menyebutkan nama orang itu. Nyalang tatapan yang selanjutnya dia dapatkan dari orang itu membuat sekujur tubuh Giyu bergidik ngeri.
Kalau saja orang di hadapannya ini hanyalah prajurit biasa, Giyu yakin dia pasti akan bisa menang dengan mudah. Namun lain halnya jika dia harus berhadapan dengan seseorang yang terkenal akan keagresifannya dalam mengayunkan pedang. Giyu sendiri pernah bertarung melawan Sanemi pada sesi latihan untuk mengisi waktu luang ketika Sanemi mengunjungi Kerajaan Air untuk menemui tunangannya, Kanae — putri sulung dari Kerajaan Air yang juga merupakan kakak kandung dari Shinobu.
“Rupanya kau, Giyu.”
Pada panggilan Sanemi akan namanya, membuat nafas Giyu tercekat begitu saja akibat lembutnya nada yang Sanemi gunakan saat menyebutkan namanya,
“Giyu,”
Pada panggilan kedua akan namanya itu, membuat Giyu mengeratkan genggamannya pada gagang pedang yang dia genggam..
“... apa ada seseorang yang lupa kau selamatkan?” tanya Sanemi dengan nada datar yang membuat Giyu marah. Giginya bergemeletuk geram akan gestur tubuh Sanemi yang bisa-bisanya masih bisa terlihat santai dalam situasi genting seperti ini. Seakan-akan Sanemi tidak memiliki rasa takut terhadapnya karena Sanemi lah sang pemburu, dan Giyu adalah mangsa yang tengah Sanemi buru.
“Seharusnya kau teruskan saja pelarianmu itu dan tidak usah kembali.”
Pada satu langkah yang Sanemi ambil untuk mendekat, Giyu dengan panik menggertak, “Kenapa?!” Sambil menatap Sanemi tepat di mata dalam rintiknya hujan yang membuat matanya sakit, Giyu kemudian melanjutkan, “Kenapa anda bisa berada di sini?”
Hanya ada suara hujan yang terdengar sebelum Sanemi menyunggingkan sebuah senyuman simpul. Senyuman simpul sederhana yang sukses membuat mata Giyu membelalak akan penjelasan yang mengikuti setelahnya.
“Aku hanya teringat pada cerita seseorang yang sering mengasingkan dirinya sendiri ke dalam hutan. Kau tahu? Tempat-tempat seperti itu bisa saja menjadi tempat persembunyian mereka disaat genting seperti ini dan tebakanku ternyata benar.”
Giyu jadi merutuki dirinya sendiri karena sudah pernah menceritakan rahasia kecil yang hanya dia sendiri ketahui kepada orang lain. Entah setan macam apa yang merasuki Giyu waktu itu sehingga bisa membagikan cerita paling intim dari dirinya kepada seseorang yang harusnya hanya memiliki relasi formal dengannya itu.
Akan pandangan Sanemi yang perlahan berubah sendu, Giyu jadi teringat bahwa alasan dari kenapa dia bisa menceritakan hal paling pribadi dari dirinya itu kepada Sanemi adalah karena, pria itu juga menatapnya dengan pandangan yang sama saat ini. Sendu yang menyuarakan kesepian, juga jauh yang mengharapkan pertemanan.
Lahir sebagai seorang anak dari hubungan raja dengan selir, membuat Giyu banyak dikucilkan orang-orang. Dia memang memiliki tiga orang saudara perempuan namun dua dari ketiga orang itu adalah orang yang mempunyai martabat lebih tinggi, jauh darinya. Yang sering menemani Giyu setelah ibu kandungnya meninggal hanyalah seorang kakak perempuan yang berasal dari rahim yang sama. Namun hal itu tidak pula berlangsung lama saat sang kakak sudah menginjak usia legal untuk menikah. Meninggalkan Giyu seorang diri dalam tingginya tembok istana yang susah untuk dia lalui. Giyu terpaku oleh tugasnya untuk menjadi seorang prajurit. Hari-harinya yang terasa kelabu setelah kepergian sang kakak yang telah menikah hanya diisi oleh kegiatan latihan serta patroli. Kesehariannya yang monoton itu seketika berubah saat dirinya diberi mandat untuk menjadi pendamping dari putri sulung raja bernama Kanae yang dijodohkan dengan putra mahkota dari Negeri Angin. Alasan dari terpilihnya Giyu menjadi orang yang ditugaskan untuk mengawal Kanae di pertemuan-pertemuannya dengan sang putra mahkota dari Negeri Angin adalah karena permintaan dari Kanae sendiri yang berkata bahwa dia merasa lebih nyaman ketika ditemani dengan seseorang yang sudah dia kenal dekat —karena keduanya adalah saudara tiri.
Awal pertemuan Giyu dengan Sanemi tidak banyak bicara sebab Sanemi hanya memberikan perhatiannya terhadap Kanae. Dugaan Giyu terhadap itu adalah mungkin karena Sanemi merupakan tipe orang yang hanya berinteraksi dengan orang-orang yang dia anggap perlu dan Giyu pun maklum, serta merasa diuntungkan akan hal itu karena dia juga jadi tidak perlu berinteraksi dengan sang putra mahkota. Namun seiring dengan berjalannya waktu yang membuat hubungan Kanae dan Sanemi mendekat, Giyu juga jadi sedikit banyaknya ikut mengetahui bahwa Sanemi sebenarnya adalah pribadi baik yang begitu mengemban tanggung jawabnya dengan serius. Dia agresif dalam seni mengayunkan pedang serta berbagai macam lagi seni bela diri lainnya dan terkadang juga bisa memancarkan aura sendu yang seolah mengatakan bahwa dia butuh ditemani. Bahwa dia juga butuh didengar sebagai seorang individu biasa bernama Sanemi tanpa titel putra mahkotanya, dan Giyu seringkali menemukan dirinya berada didalam waktu dimana Sanemi menanggalkan topeng putra mahkotanya.
Giyu mengetahui ohagi yang menjadi makanan kesukaan Sanemi—yang bahkan Kanae pun tidak mengetahuinya. Gadis itu hanya mengetahui bahwa Sanemi menyukai makanan manis, dan Giyu pun ikut memberitahu satu rahasianya tentang tempat ini kepada Sanemi.
“Kenapa kau kembali, Giyu?”
Pertanyaan itu terlontar bersamaan dengan petir yang menyambar, membuat suasana di sekitar mereka semakin mencekam dengan angin yang semakin berhembus besar, membuat Giyu harus menggertakkan giginya untuk menghalau dingin, namun Sanemi di hadapannya masih dengan postur tubuh tegap ala putra mahkotanya itu. Mengatupkan rahangnya kuat-kuat untuk menekan emosinya yang sedang bergejolak, Giyu lalu menjawab dengan mantap. “Aku tidak memiliki keharusan untuk menjawab pertanyaan itu.”
Petir yang menyambar semakin menggelegar menyuarakan gemuruhnya. Hujan rintik yang tadinya jatuh seperti gemericik air sungai kecil pun semakin terasa menusuk kulit, dan kedua anak adam itu tetap beradu pandang dalam satu garis lurus yang sama. Mengabaikan segala yang terjadi di sekitar mereka untuk bisa menyelam pada bola mata itu sedetik lebih lama sampai pada Sanemi yang mengeluarkan pedangnya dengan gerak perlahan, membuat Giyu lebih siaga.
“Kalau begitu angkat pedangmu dan lawanlah aku.”
Segera setelah Giyu mendapati satu kaki Sanemi mundur untuk memasang kuda-kuda bertahan, di detik itu juga dia melancarkan serangan. Serangan Giyu itu berhasil ditangkis oleh Sanemi dengan mudah. Giyu terus saja mendorong agar Sanemi kehilangan keseimbangannya namun pria itu tetap bisa mengimbangi Giyu dengan mudah.
Dari jarak sedekat ini, Giyu bisa melihat tatapan tajam yang Sanemi layangkan untuknya, beserta bisik harap pada doa, “Kalau saja kau terlahir sebagai seorang wanita,” yang membuat Giyu merasa direndahkan, memicu api amarahnya yang langsung saja mendorong Sanemi dengan sekuat tenaga sehingga pria itu berhasil diharuskan untuk mundur sebelum melancarkan serangannya yang pertama.
Giyu menangkis segala macam serangan yang Sanemi berikan secara singkat dan tangkas. Dia lebih dari tahu untuk tidak meladeni Sanemi yang mempunyai stamina berlebih dengan serangan yang sama serius dan fatalnya karena hanya akan membuatnya semakin lelah.
“Kalau saja aku tidak terlahir di tempat itu!”
Teriakan Sanemi yang terdengar marah dan juga frustasi itu selanjutnya membuat Giyu sempat kehilangan fokus sesaat yang mengakibatkan Sanemi berhasil menyelinap ke belakangnya. Disaat Giyu merasa bahwa pada detik itu juga ajalnya telah tiba, dia malah mendengar bisik suara lirih Sanemi yang terdengar begitu dekat sebab pria itu berbisik di dekat telinganya. Membisikkan sebuah kalimat yang membuat Giyu ingin menangis pada saat itu juga. Menangis meraung kepada dewata yang melahirkannya seperti ini. Menangis karena tidak berdaya karena Sanemi berhasil membuatnya jatuh tersungkur setelah membisikkan kata-kata yang seharusnya tidak pria itu utarakan terhadap dirinya.
Dengan kakinya yang gemetar, Giyu berusaha bangkit dan kembali bertarung dengan Sanemi. Namun di pertarungan yang mempertaruhkan nyawa itu, Giyu merasakan sesuatu hal yang aneh. Pada hunusan pedang yang bisa mengenai tubuhnya dengan mudah, Sanemi seakan-akan membelokkan itu agar tidak mengenai titik vital Giyu, dan pada serangan Giyu yang seharusnya bisa Sanemi hindari dengan mudah, Sanemi malah seakan menerima semua itu dengan kedua tangannya yang terbuka. Satu serangan terakhir Giyu lancarkan yang berhasil membuat Sanemi terhempas, punggung pria itu menabrak pohon di belakangnya sampai retak.
Disaat Giyu disibukkan dengan menormalkan nafasnya kembali disaat Sanemi perlahan bangkit, pria itu juga melontarkan kata–kata yang membuat Giyu merasa putus asa.
“Pergi. Pergi lah yang jauh karena kampung halamanmu sudah tidak ada lagi.”
Hati Giyu mencelos akan perkataan Sanemi yang tidak bisa dia elak. Satu hembusan nafas Giyu tarik panjang sebelum kemudian pergi dari sana, meninggalkan Sanemi yang menatap kepergiannya dengan tatap yang sulit diartikan.
Hampir tiga tahun telah berlalu sejak kampung halamannya terhapus dari peta dan selama itu pula Giyu telah hidup dalam persembunyiannya di Negeri Suara. Setelah mengantarkan Shinobu dengan selamat sampai ke Desa Serangga tempat dimana kampung halaman dari Ratu Air sebelumnya berasal, Giyu langsung melangkahkan kakinya menuju ke tempat sang kakak perempuan yang sudah menikah, yang diboyong ke Negeri Suara, sebuah tempat meriah yang menjadi pusat transit dari beberapa negeri di sekitarnya yang membuat tempat itu menjadi ramai dengan pertukaran budaya.
Giyu saat ini sedang menemani kakaknya untuk berbelanja kebutuhan rumah disaat sepasang matanya menangkap sebuah barang display dari dalam toko yang menunjukkan sebuah lonceng. Lonceng yang akan berbunyi dengan cantik ketika ditiup oleh angin. Giyu berpikir itu akan sangat cantik menghiasi teras rumah kakaknya. Dia juga berpikir untuk memberikan Shinobu satu pada surat bulan ini yang akan dia kirim minggu depan. Saat sedang ragu menentukan warna apa yang cocok untuk diberikan kepada kakaknya dan Shinobu, seketika saja rintik hujan mulai turun dengan sedikit deras dari langit. Menengadahkan kepalanya ke atas untuk melihat pada awan yang kelabu, Giyu jadi seketika teringat akan seseorang yang kenangannya sudah dia simpan di pojok memori. Giyu baru saja akan melangkahkan dirinya pergi dari sana untuk kembali menyusul sang kakak yang tadi dia lihat memasuki toko roti di depan sana sebelum kulit wajahnya tidak lagi terasa basah.
Giyu bisa merasakan kehadiran seseorang di belakangnya yang membuat nafasnya terhenti seketika. Panik menjulur ke seluruh denyut nadi dalam tubuhnya saat Giyu mendengar suara orang itu yang menyuruh, “Jangan berdiam diri terlalu lama dibawah hujan.”
Giyu masih mengingat dengan jelas siapa orang yang memiliki suara itu walau sudah lama tidak mendengar dan itu membuat tubuhnya mematung. Membeku dalam ketakutan juga kerinduan akan dambanya untuk berbalik dan melihat wajah sosoknya, namun sodoran gagang payung di hadapan selanjutnya membuat lamunan Giyu buyar. Dengan perlahan, Giyu mengangkat tangannya untuk menerima sodoran payung itu. Telapak tangannya sempat menyentuh permukaan kasar punggung tangan itu saat Giyu menerima, yang menyebabkan hatinya diselimuti oleh perasaan hangat. Namun saat Giyu berbalik untuk mengucapkan terima kasih, Giyu tidak menemukan siapapun di sana kecuali orang yang sibuk berlalu lalang menghindari hujan. Sehembus angin yang berlalu dengan kencang kemudian hadir bersamaan dengan teriakan khawatir dari kakaknya yang berlari menghampiri.
“Kalau saja aku bertemu denganmu lebih awal, aku pasti akan mendekapmu saat ini juga.”
… adalah apa yang waktu itu Sanemi katakan di pertemuan terakhir mereka yang penuh dengan darah. Kalau dulu Giyu menolak ide itu dengan sekuat akal pikirannya pada harap Sanemi yang terlalu tabu. Kini, hari-harinya dipenuhi oleh bayang, ‘Bagaimana kalau dia dan Sanemi tidak terlahir dengan latar belakang mereka yang sekarang?’
