Work Text:
Noaki sebenarnya sudah tidak heran lagi ketika Sebastien Kresna Traver, sahabatnya berdarah Prancis-Bali sedari kecil yang jenius bin ajaib mampir ke kelasnya hanya untuk menitipkan sesisir pisang. Masalahnya, bagaimana ia menyimpannya tanpa ketahuan guru?!
"Itulah Noaki! Hari ini kelasku ada razia dadakan di mata pelajaran Bu Endang, tahu, kan, bagaimana keganasan guru itu!" Seb sedikit merengek, memaksanya untuk membantunya menitipkan pisang. Tidak terlalu mencolok karena ditaruh dalam tas jinjing bermotif batik khas Cirebon, tapi tetap saja mengkhawatirkan bagi Noaki.
Ia tahu keganasan Bu Endang, guru mata pelajaran IPS yang sering kali membuat ulangan dadakan dan razia dadakan. MacBook Seb tak tanggung-tanggung hampir pernah terancam disita satu semester, membuat Seb mogok sekolah, hingga Ibby, sang abang lembut, harus turun tangan membantu adiknya, meluluhkan Bu Endang untuk meloloskan MacBook.
Hari ini MacBook Seb perlu di-servis jadi tidak bisa dibawa ke sekolah, mujur memang karena waktunya bersamaan dengan razia dadakan. Namun, sekarang hal apa? Pisangnya terancam?! Noaki menatapnya datar, menuntut penjelasan.
Yang ditatap langsung membela diri, "Jangan salah, aku tahu kamu heran, tapi Bu Endang pernah menyita makanan tiap murid yang belum dihabiskan setelah jam istirahat!"
Akhirnya, Noaki menerimanya. Dia tak mau repot-repot berdebat dengan Seb dalam mode penggila pisang. Gadis berambut pendek itu menyimpan tas jinjing isi pisang di bawah mejanya. Kemudian Seb menanggapinya dengan senyum lebar dan acungan jempol. Noaki cemberut, memutuskan mengalihkan perhatiannya pada buku sketsa.
Namun, pikirannya tak fokus. Noaki malah menggambar sesisir pisang. Disusul gambar Seb yang memakannya. Tiba-tiba seseorang mendekatinya. Keo Hadi Wibawanto, sahabat dekat sekaligus doppelganger-nya itu. Noaki segera menutup buku sketsanya. Tidak mau ketahuan menggambar Seb dan pisang. Memalukan saja!
Alih-alih menyapanya riang seperti biasa, Keo malah tampak gugup. Noaki mengerutkan kening, menyuruhnya berkata lebih jelas. Menyampaikan maksudnya dengan baik. Keo menggaruk pipinya, tersenyum pahit, "Maaf Noa, bolehkah aku titip pisang kepadamu?"
"Hah?" Noaki melongo, bingung. Sejak kapan Keo suka pisang?
"Se-sebenarnya Seb membuatku terpaksa menyimpankan pisangnya. Dia sudah merengek dan bahkan bersikap seolah dirinya 'Si Misterius'. Aku jadi takhluk dan nggak bisa menolak." lanjut Keo, menyerahkan sesisir pisang yang disembunyikan di balik punggungnya. Noaki tercenung. Dia ingat Seb dalam mode 'Si Misterius', orang yang membantu Keo secara privat semasa SD. Semenjak identitas Si Misterius ketahuan, Seb tak mau melakukannya lagi.
Padahal Keo kadang-kadang merindukan Si Misterius. Noaki tahu itu. Efek wajah mereka kembar, tak jarang Noaki bisa merasakan apa yang dirasakan sahabatnya. Alhasil, Noaki ikut bersimpati pada keadaan Keo. Dia memutuskan menerima pisang darinya.
Keo sudah memasang gestur tangan minta maaf. "Sekali lagi, maafkan aku! Aku janji akan mengambilnya setelah pelajaran Bu Endang!"
Bu Endang, oh Bu Endang... Noaki menggeleng-geleng, merasa pusing dengan razia dadakan guru galak satu itu. "Enggak apa-apa. Sungguh. Aku tahu Seb sudah memaksamu."
Setelah kepergian Keo, Noaki memutuskan lanjut menggambar. Kali ini dia melanjutkan gambar pisang dengan tambahan Keo. Lalu isi kepalanya mendadak ada ide untuk menggambar Seb sebagai pangeran pisang. Pangeran muda yang licik dan punya gunungan pisang. Noaki kesal sekali, tetapi dia lebih tua dari Seb. Jadi dia harus bersabar.
"Anu... Noaki... Aku boleh titip pisang?"
Sosok selanjutnya adalah sosok yang tak terduga. Raden Ajeng Kusumawardhani, sahabatnya yang paling lembut dan penyabar. Padahal Ajeng dan Seb tidak terlalu dekat, walau memang gadis itu pasti tidak akan bisa menolak permintaan Seb. Noaki menghela napas, mulai paham situasi ini. "Kamu dipaksa Seb?"
Ajeng meringis, menyerahkan sesisir pisang kepadanya. Dia cerita singkat bagaimana Seb menyuruhnya menyimpankan pisang karena ada razia dadakan Bu Endang. Noaki jengkel, tetapi kelas dia paling jauh di antara semua sahabatnya. Sehingga kelas dia akan mengalami razia paling akhir. Kelas Ajeng paling dekat dengan ruang guru, akan menjadi target awal razia. Bahkan lebih awal dari Seb. Dasar penggila pisang!
Sebagaimana Keo yang minta maaf, Ajeng juga meminta maaf berkali-kali. Noaki menjawab enteng, menganggapnya bukan masalah. Dia sudah memasukkan sesisir pisang itu ke tas jinjing milik Seb. Rupanya masih muat. Sementara itu, Ajeng sudah pergi dari kelasnya. Gadis berkepang panjang itu tampak sibuk di awal hari.
Emosi yang bertumpuk-tumpuk, Noaki kembali melanjutkan gambarnya. Seb si pangeran pisang dibuatkan singgasana untungnya. Ditambah Ajeng sebagai pelayannya. Keo juga berada di sisinya. Mereka berdua sibuk membawakan pisang terbaik di kerajaan. Noaki mencebik. Dia membuat ekspresi Seb jadi lebih licik.
Mendadak, ada teman yang memanggilnya. Bahwa ada sahabatnya yang mampir ke kelasnya. Apakah itu Seb? Noaki menggeleng, menolak isi pikirannya. Mana mungkin Seb kembali dengan cepat. Saat melihat sosok sahabat sekaligus tetangganya sejak kecil, Noaki tersenyum. Toby, sahabatnya yang pengertian padanya.
"Pagi Noaki! Aku nggak menyangka kamu datang cukup awal." sapa Toby.
Noaki terkekeh. "Pagi juga! Iya, aku terpaksa datang awal karena Ibu menyuruhku segera berangkat. Hana lagi rewel." jawabnya. Hana adalah adik satu-satunya.
Toby tersenyum ramah, tetapi kemudian dia tampak gelisah. Noaki menangkap ekspresinya yang aneh. Dia bertanya, tetapi Toby menggeleng. Sahabatnya itu mengalihkan topik ke soal jadwal kumpul mereka berdelapan. Sepertinya dirinya bakal agak terlambat datang, ada urusan sama guru. Lalu mendadak dia diteriakkan oleh teman sekelasnya. Bahwa Toby harusnya tidak membawa pisang ke sekolah. Noaki tersentak. Sebastien Kresna Traver!
"Toby, serahkan pisang itu padaku." kata Noaki dingin. Ekspresinya jadi gelap memikirkan Seb.
Sang sahabat buru-buru menggeleng. "Eh?! Enggak, nggak perlu! Biar aku saja simpankan untuk Seb. Soalnya dia tampak merana. Lagipula, kamu juga nggak boleh sampai repot-repot. Apalagi kalau sampai kena masalah Bu Endang!" balas Toby, tampak panik.
Benar, sahabatnya yang satu ini pasti tidak akan tega menitipkan pisang kepadanya. Jadilah Noaki sudah lari ke kelas Toby, merebut pisangnya. Dia terengah-engah, menatap pemuda itu di hadapannya yang merasa tidak enak. Noaki mencoba tersenyum. Menepuk pundaknya dengan tangan kiri. Tangan kanannya masih membawa sesisir pisang. "Enggak apa-apa. Aku bakal jadi razia paling terakhir di antara kalian."
"Tapi, Noaki... Kamu juga sahabatku seperti Seb..." Toby mulai bersikap keibuan padanya.
"Tobias Zhaonan Chen. Percayakan saja padaku." Noaki menyebut namanya lengkap, membuat Toby bergidik merinding. Pastilah ekspresinya sudah tampak marah sekali. Noaki tidak peduli. Dia akan membalas perbuatan licik Seb nanti. Kakinya sudah melangkah ke kelasnya. Dengan membawa sesisir pisang dari Toby. Ralat, sesungguhnya pisang itu dari Seb.
Dengan emosi bergemuruh, Noaki lanjut menggambar. Dia menambahkan Toby yang ikut membawakan pisang untuk Seb. Ekspresinya tampak tertekan, hingga Seb tampak semakin jahat. Si pangeran yang menyusahkan para pelayannya akibat cinta berlebihan pada pisang. Noaki menambahkan gunungan pisang di sekitar mereka. Hingga tiba-tiba bel pertanda masuk berbunyi. Jam pelajaran Bahasa Indonesia, Bu Rara yang lembut akan dimulai.
Bu Rara memulai kelas dengan damai. Sungguh berbeda dari Bu Endang yang selalu membuat seisi murid panik. Kelas tampak santai dan saling tersenyum membuka buku. Termasuk Noaki yang sudah menutup buku sketsanya, membuka buku paket Bahasa Indonesia dengan hati tenang. Setidaknya, pikirannya bisa lepas dari urusan pisang.
"Anak-anak, buka buku paket kalian halaman seratus tujuh puluh..."
Ketika tiba-tiba sosok tak terduga muncul di balik pintu kelas. "Selamat pagi, Bu Rara. Ini saya, Endang."
Seisi kelas tersebut langsung riuh, merasa panik dengan kemunculannya. Tak ada yang menduga sama sekali, termasuk Noaki. Dia mulai komat-kamit berdoa agar Bu Endang tidak berniat memulai razia di kelasnya. Bercanda ya? Masa kelasnya jadi target paling awal?! Padahal selama ini kelasnya aman dari razia atau setidaknya paling terakhir.
Bu Endang tampak mengobrol dengan Bu Rara, entah apa yang dibicarakan mereka. Tak ada yang mendengarnya akibat panik. Semua kompak menyembunyikan barang-barang. Akan tetapi, Noaki bingung harus menyimpan tas isi pisang ke mana. Terlalu besar dan mencolok. Jadilah Noaki diam-diam membuka ponsel, mengirimkan pesan omelan ke Seb. Bahwa Bu Endang pergi ke kelasnya.
"Oke, anak-anak. Bu Endang ingin mengecek barang-barang kalian. Anggap saja semacam pembelajaran kedisiplinan. Baik, silahkan Bu..." Bu Rara sudah mempersilahkan Bu Endang untuk masuk. Razia dimulai dari bangku paling depan. Di bangku belakang, Noaki terduduk lemas. Tak terpikir cara apa untuk menyimpan tas pisang ini.
Beberapa murid sudah meringis mengeluh ketika Bu Endang memukul mereka dengan penggarisnya akibat barang razia yang tak perlu dibawa ke sekolah. Untungnya, ponsel diperbolehkan. Akan tetapi, Noaki tidak merasa aman. Selain soal buku sketsanya, urusan pisang juga besar sekali. Terlalu banyak pisang yang dia simpan.
Semakin jengkel, Noaki sudah mengirim pesan lagi dengan cepat. Bahwa dia muak dengan pisang-pisang ini dan kemungkinan dirinya akan kena razia. Lalu tak berapa lama, Bu Endang tiba di bangkunya. Menyuruhnya menyerahkan tas miliknya. Noaki menyerahkannya dengan tenaga lemas.
Bu Endang membuka buku sketsanya. Awalnya keningnya berkerut, tetapi semakin lama beliau tidak tampak marah. "Gambar-gambarmu bagus. Pasti kau dapat nilai tinggi di pelajaran Seni Budaya. Pertahankan." puji Bu Endang. Noaki lega karena beliau melihat gambarnya soal Formasi 8 dengan baju adat tradisional. Setidaknya, gambar itu tidak terlihat buruk. Noaki membalas ucapan terima kasih.
Kemudian beliau mengecek bawah bangkunya. Wanita berkacamata itu menatap tajam ke tas jinjing yang berada di sana. Noaki bergidik merinding. Dia mengangkat tas Seb dengan dada berdebar. Bu Endang terkejut melihat pisang yang menumpuk. Noaki jadi gugup, "I-ini pisang untuk te-teman saya. Saya belum sempat memberikannya, ja-jadi saya bawa ke sekolah..."
Sang guru tegas sudah mengangkat buku catatan merahnya. Mencatat nama Noaki Neomarica. "Seharusnya kamu tidak membawanya ke sekolah. Ini akan mengganggu pikiranmu saat belajar. Apalagi pisang yang kamu bawa ada banyak, pastilah mengganggu kakimu karena diletakkan di bawah meja. Saya juga akan menyita pisangmu sampai bel pulang sekolah." kata Bu Endang.
Noaki mengangguk lemas. Dia syok karena berujung namanya tetap dicatat. Tak disangkanya pisang sungguh menjadi masalah baginya. Ketika kepalanya sedang terpukul, tiba-tiba ada sorakan ramai dari luar. Seisi kelas terkejut, spontan menoleh ke arah jendela. Noaki ikut menoleh. Dia ternganga. Ada Keo dan Seb. Tidak, bahkan Toby dan Ajeng juga terengah-engah menyusul mereka berdua.
"NOAKI, PISANG MILIKKU MASIH ADA DI KAMU?!" teriak Seb, menarik perhatian Bu Endang pula.
Keo ikut berteriak di sampingnya, "MAAF KARENA AKU MENITIPKAN PISANG PADAMU, NOA!"
Noaki terkesiap. Melirik Bu Endang yang tampak marah dengan permasalahan baru yang mendadak muncul. Melirik sahabat-sahabatnya yang malah membuat masalah di depan Bu Endang. Namun, Toby yang anak baik itu malah ikut-ikutan berteriak, "BU ENDANG, KAMI AKAN BERTANGGUNG JAWAB! PISANG ITU JUGA MILIK SAYA!"
Bahkan Ajeng yang biasanya malu dan lembut untuk jadi murid nakal, ikut berteriak lewat jendela, "MAAFKAN KAMI, BU ENDANG! SAYA JUGA BERSALAH MENITIPKAN PISANG PADANYA!"
Dia lantas membuka ponselnya. Noaki terhenyak kaget. Rupanya dia bukan mengirimkan pesan omelan pada Seb, tetapi pada grup persahabatan mereka. Lalu ada chat usulan ide Keo yang mengajak mereka untuk ke kelas Noaki. Disusul Toby yang setuju. Ajeng juga mengikuti. Seb sedikit ragu, tetapi akhirnya dia mau ikut. Bahkan si kembar Wamena dan Timika Mailangkay, dua sahabatnya yang lain menyemangati mereka. Lovely Lady juga mengatakan akan menjitak Seb dan menyemangati mereka.
Perasaan Noaki bergemuruh, antara malu, terharu, tetapi juga lega karena sahabat-sahabatnya membelanya. Setidaknya, dia tidak sendirian. Walaupun dia tahu konsekuensi ini akan menjadi masalah bagi mereka. Terlebih, Bu Endang sudah tampak marah karena sahabat-sahabatnya keluar kelas saat pelajaran berlangsung. Beliau tampak sudah hafal nama-nama mereka, menuliskan di buku catatan merahnya dengan emosi mendidih.
"Noaki Neomarica, Sebastien Kresna Traver, Keo Hadi Wibawanto, Tobias Zhaonan Chen, dan Raden Ajeng Kusumawardhani.... Kalian dihukum membersihkan lapangan sekolah akibat bekerja sama membuat masalah."
-000-
"Serangan geli!"
Seb segera dihujani gelitik oleh sahabat-sahabatnya yang kesal akibat masalah pisang. Noaki juga ikut memukul kepalanya pelan. Gemas sekaligus jengkel. Si jenius paling muda itu menjerit tertawa-tawa akibat gelitik yang didapatkannya. Dia memohon ampun berkali-kali. Walau Lady baru berhenti saat Seb terbatuk-batuk lantaran banyak tertawa. Lalu ia menjitak Seb.
Mereka sudah berkumpul di saung milik rumah keluarga Seb. Wamena dan Timika menyiapkan makanan untuk mereka yang kelaparan dan kehausan akibat hukuman membersihkan lapangan sekolah. Semua menyantap dengan rakus. Termasuk Noaki yang perutnya sudah berbunyi. Si kembar membuka percakapan, bertanya-tanya apa yang terjadi. Maka, Noaki sudah menceritakannya sejak awal Seb menitipkan pisang karena takut razia dari Bu Endang.
Toby menepuk keningnya. "Kalau tahu Noaki kesusahan menyimpan banyak pisang, aku nggak bakal ikutan titip."
Keo menimpali dengan setuju. "Aku juga nggak mengira Seb menitipkan banyak pisang. Kukira, dia cuma menargetkan aku."
Tak hanya mereka berdua, Ajeng juga ikut menyesal. Noaki tersenyum kecut. Mengatakan bahwa itu semua bukan masalah. Malah, dia terharu dengan sikap semua sahabatnya yang mau turun tangan membantu. Toby membalas bahwa dia tak akan melakukan itu kalau bukan ide dari Keo. Benar, mereka semua kena masalah Bu Endang jelas karena Keo yang mengajak.
Giliran Noaki menatap Keo penuh terima kasih. Dadanya berdebar hangat. Sang lelaki dengan wajah mirip dengannya itu menatapnya dengan malu. "Efek wajah kembar, aku bisa merasakan Noa yang sangat panik. Aku nggak kepikiran hal selain ikut terkena hukuman Bu Endang. Kupikir itu nggak masalah bagiku. Selama itu untuk Noa, aku akan rela..."
Kata-kata Keo menggelitik hatinya. Noaki merasakan wajahnya turut memerah. Dia buru-buru mengalihkan pandangan pada Seb yang asyik memakan pisang. Si Pangeran Pisang malah asyik makan pisang, tak peduli dengan sekitarnya. Dengan kesal, Noaki sekali lagi memukul kepalanya, tetapi kali ini dengan buku sketsa. Seb mengaduh-aduh, minta maaf karena membuat masalah.
"Mon Dieu! Aku jadi capek kena hukuman bertubi-tubi. Tapi Noaki, sekarang kamu sudah naik tingkat sebagai sahabatku. Banana Expert. Mau menyimpan pisang milikku saat ada razia. Rupanya kamu memang orang paling cocok untuk menyimpankan koleksi pisangku!" balas Seb enteng. Noaki tersenyum kesal, mencubitnya tanpa ampun. Buku sketsanya jadi terjatuh dari pangkuannya.
Timika mengambil bukunya yang terbuka. Kembarannya, Wamena, menahan tawa. "Apa ini? Kamu menggambar Seb dan pisang?"
Di sisinya, Lady tersenyum geli. "Pangeran Pisang. Seb kelihatan jahat banget bagi Noaki."
Noaki berhenti mencubit Seb. Dia seketika malu saat sahabat-sahabatnya melihat gambarnya saat emosi. Bahkan Keo, Toby dan Ajeng ikut melihat. Disusul Seb yang menjadi penasaran. "Wah, aku jadi Pangeran Pisang? Kelihatannya keren! Aku jadi prioritas semua sahabatku! Noaki, kamu tambahkan gambar Wamena, Timika, Lady dan dirimu juga, ya? Lalu kamu buat gambar dirimu jadi Banana Expert yang bersinar! Please..."
"DASAR SI JENIUS YANG GILA PISANG! AKU BUKAN BANANA EXPERT UNTUKMU!"
-000-
End
