Work Text:
Jam dinding menunjukkan pukul 08.15. Kantor pusat perusahaan itu sibuk, printer berbunyi, pegawai lalu-lalang, dan telepon berdering. Di tengah hiruk pikuk, seorang pria dengan kemeja putih rapi, celana panjang hitam yang mulus, dan rambut hitam yang sedikit berantakan, mengetik dengan wajah serius.
Taekjoo, sekretaris pribadi CEO, sedang menyusun jadwal rapat pagi di salah satu meja kosong sembari menunggu sang bos datang.
Lalu, pintu kaca besar dengan berlogo perusahaan terbuka, langkah sepatu kulit berat terdengar. Seorang pemuda dengan tinggi lebih dua meter, berambut pirang, setelannya formal dan rapi, masuk dengan tatapan tajam. Semua pegawai spontan membungkukkan tubuh. Dialah Yevgeny Vissarionovich Bogdanov, dengan nama 'panggung' Zhenya, CEO muda yang karismatik—dingin, berwibawa, dan (katanya) sulit didekati.
Namun, citra itu hancur tepat saat ia berhenti di depan meja Taekjoo.
“Zainka.” Panggilan dalam bahasa negara asal sang CEO, dengan nada lembut dan santai, sontak membuat semua karyawan menoleh.
Taekjoo mendongak, menahan napas. Bukan karena penampilan Zhenya yang selalu hebat di setiap harinya, melainkan kata pertama yang dilemparkan bosnya itu padanya di awal pagi ini, di kantor. “S–selamat pagi, Pak.”
Zhenya, bukannya langsung pergi ke ruangannya, malah bersandar di meja Taekjoo. “Aku bosan. Temani aku minum kopi.”
Beberapa staf di dekat sana hampir tersedak napas. CEO mereka... bosan?
Taekjoo buru-buru membuka buku agendanya. “Pak, sebentar lagi ada rapat dengan para direktur—”
“Rapat bisa menunggu.” Zhenya menyilangkan tangan, matanya terang bagai rubah yang sedang menguntit. “Tapi ini tidak.”
Taekjoo menutup mata sejenak, menghitung sampai tiga demi kesabaran. “Baiklah, saya pesan kopi untuk Bapak.”
Zhenya menggeleng santai. “Bukan pesan. Kita pergi bersama.”
Suara tawa tertahan terdengar dari cubicle terdekat. Taekjoo hampir ingin menenggelamkan diri di bawah mejanya.
Tak lama kemudian setelah sesi minum kopi di pagi hari, di ruang kerja CEO, suasana tak kalah absurd. Zhenya duduk di kursi eksekutif megahnya, dengan dasi hitam yang masih menggantung longgar. Taekjoo berdiri sambil membawa berkas rapat.
“Pak, tolong pakai dasinya dengan benar. Lima menit lagi—”
“Zainka.” Zhenya mencondongkan tubuh, wajahnya serius seperti akan membicarakan sesuatu yang genting, lengkap dengan postur kedua tangannya yang melipat di atas meja mengkilapnya. “Menurutmu, aku cocok dengan dasi biru atau merah?”
Taekjoo membeku. Apa kepala bosnya ini bermasalah? “... itu yang Bapak tanyakan?”
“Ya. Ini menyangkut masa depan perusahaan.” Zhenya bangkit dan pergi ke gantungan, mengambil dua dasi dari sana dan mengangkatnya, seolah tengah memilih pedang. “Kalau aku salah pilih warna, mungkin para direktur langsung bubar.”
“Pak.” Taekjoo menghela napas panjang. “Para direktur bubar karena laporan rugi, bukan karena warna dasi...”
Dan dalam hati, Taekjoo sungguh bertanya-tanya, bagaimana caranya ia masih waras bekerja dengan bos macam ini.
“Tapi tetap saja, aku butuh opinimu.”
Akhirnya Taekjoo menepuk pelipisnya, mendekati sang CEO lalu meraih dasi merah. “Merah. Sekarang, cepat pakai.”
Warna kesukaan Taekjoo, baiklah. Zhenya tersenyum puas. “Lihat? Hidupku memang tak bisa tanpa sekretarisku.”
Dan di luar ruangan itu, gosip karyawan di bawah sudah meledak:
“Bos kita ternyata bisa manja, ya?”
“Tapi sepertinya, kok hanya ke Pak Taekjoo?!”
Sementara Taekjoo di dalam ruangan hanya bisa meratapi nasibnya, sekretaris seorang CEO yang lebih mirip babysitter rubah besar.
•••
Rapat akhirnya selesai. Para direktur keluar dari ruang meeting dengan wajah lega—meski bukan karena pembahasan keuangan berjalan lancar, melainkan karena bos besar mereka aneh sekali hari ini.
Zhenya tampak puas. Ia berjalan ke arah Taekjoo yang sedang merapikan map berisi catatan rapat. “Taekjoo, kau luar biasa. Tadi aku hampir salah sebut angka, beruntung kau beri aku kode.”
Si pirang, meski masih muda dan baru beberapa tahun menjabat CEO, selalu bersikap seenaknya pada Taekjoo. Panggilannya lugas—“aku” dan “kau”—seolah mereka teman sebaya, padahal jarak usia cukup jelas.
Sebaliknya, Taekjoo tak pernah lepas dari tutur sapa formal: “saya” dan “Pak.” Meski diterima bekerja setahun setelah Zhenya menjabat, ia tahu betul batas profesional, meski dalam hati kadang pasrah menghadapi kelakuan bosnya yang kelewat kurang ajar itu.
Taekjoo hanya menjawab singkat pada perkataan Zhenya. “Itu memang pekerjaan saya, Pak.”
Nada suaranya terdengar datar.
Zhenya berkedip. Matanya menyipit, pria Rusia itu menangkap sesuatu yang tidak biasa. “... Zainka? Kau marah?” tanyanya pelan.
Taekjoo menjatuhkan map yang tersisa ke atas tumpukan map lainnya dengan suara yang lebih seperti gerakan kasar, lalu menatap bosnya dengan wajah lelah. “Pak, dengan segala hormat. Saya sekretaris, bukan babysitter. Saya tidak bisa terus-terusan mengikuti keinginan Bapak yang... yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan!”
Ruangan hening. Semua staf yang kebetulan masih berada di dalam dan sekitar ruangan pura-pura sibuk sendiri, padahal jelas-jelas telinga mereka dipasang.
Zhenya terkedip. “Jadi... kau marah sungguhan?”
Taekjoo mendengus pelan, lalu membalik badan sambil membawa pergi map-map miliknya. “Saya ada laporan yang harus diselesaikan. Mohon jangan diganggu dulu, Pak.”
Ia keluar dari ruangan, meninggalkan Zhenya yang membeku di tempat, dengan mata biru yang menatap kepergian Taekjoo dengan bingung bercampur sedih.
Lima belas menit kemudian, pintu kaca ruang sekretaris diketuk pelan. Yang sebenarnya tidak ada gunanya, sebab bisa dilihat dengan jelas bahwa itu adalah seseorang dengan tubuh besar yang ragu untuk masuk.
“Zainka...” suara rendah terdengar, lembut sekali. Namun tidak ada jawaban.
Pintu terbuka perlahan. Zhenya menyembulkan kepala, ekspresinya jauh dari CEO berwibawa—lebih mirip anak anjing yang ketahuan berbuat nakal.
“Zainka, aku salah, ya?”
Taekjoo tetap mengetik, pura-pura sibuk. “Pak, saya sedang sibuk. Dan berhenti panggil saya dengan itu, ini di tempat kerja.”
Zhenya masuk, lalu berhenti di samping meja. Dan tangannya meletakkan sesuatu ke dekat Taekjoo. “Buatmu.”
Taekjoo berhenti mengetik. Matanya melirik sekotak kue tart mini dengan topping stroberi segar.
“Ini apa?”
“Perdamaian.” Zhenya tersenyum tipis, agak canggung, sangat jarang ia terlihat begitu. “Aku janji, aku tidak akan ganggu pekerjaanmu lagi... setidaknya sampai jam makan siang.”
Taekjoo mendengus, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit. “Setidaknya sampai jam makan siang?”
“Ya. Setelah itu, aku akan mengganggumu lagi.”
Taekjoo menutup wajah dengan tangannya, berusaha menahan tawa. “Astaga... Bapak ini...”
Zhenya mendekat, menunduk hingga menyamakan wajahnya dengan Taekjoo. “Berarti... kau sudah tidak marah?”
Mata coklat itu menatapnya sebentar, lalu bergeser ke kue. “Saya maafkan, tapi hanya karena kuenya terlihat enak.”
Zhenya menyeringai puas, seperti rubah yang baru saja berhasil mencuri ayam. “Bagus. Karena tanpa Kwon Taekjoo, CEO ini tidak akan bisa bekerja dengan benar.”
Dan setelah insiden kue perdamaian, Taekjoo kembali sibuk dengan layar laptop. Jemarinya mengetik cepat, mencoba melupakan kehadiran rubah pirang yang mungkin sedang mondar-mandir di ruangan depan.
Hening sejenak.
Lalu, pintu kayunya terbuka, disusul dengan seseorang yang masuk ke ruangannya, dan tap—selembar sticky note kuning ditempel di sudut monitor Taekjoo. Tulisannya miring dan rapi, jelas tulisan seseorang yang bermartabat.
“Jangan lupa makan siang dengan bosmu.”
Kata tulisan di sana.
Taekjoo berkedip. “Pak... serius?”
Zhenya, yang masih berdiri di depan meja Taekjoo, menyeringai kecil. “Sangat serius. Ini instruksi CEO, tidak bisa ditolak.”
Taekjoo mendesah panjang, menahan tawa yang nyaris pecah. Ia mencabut sticky note itu, tapi kedua sudut bibirnya tetap terangkat. “Instruksi macam apa ini...”
Belum sempat ia melanjutkan, sticky note kedua ditempel. Kali ini berwarna biru muda, berbentuk hati yang jelas digunting seadanya.
“Zainka, kalau kau tidak makan, aku juga tidak akan makan.”
Tulisan di sana berkata, khas nada Zhenya yang terlalu familiar.
“Pak—”
“Ini strategi negosiasi tingkat tinggi.” Zhenya mengangkat bahu, seakan membicarakan kontrak internasional. “Kau tidak mau CEO-mu kelaparan, kan?”
Taekjoo terbengong sebentar, sebelum akhirnya menutup wajah dengan satu tangan, bahunya berguncang pelan. “Astaga, kantor ini pasti runtuh kalau saya cuti sehari.”
Zhenya tertawa puas, lalu mundur, berniat kembali ke ruangannya. “Benar. Jadi jangan pernah cuti, Zainka.”
Dan begitu pintu menutup, Taekjoo hanya bisa menggeleng sambil tersenyum kecil.
Sekretaris pribadi? Ya.
Babysitter? Sepertinya juga iya.
Tapi, entah kenapa... ia tidak benar-benar keberatan.
