Work Text:
Adriana bukan pakar cinta, pakar kopi aja bukan. Dia sih minum kopi biar keliatan cocok aja sama outfit yang dia pake. Capek, loh, milah-milih outfit yang dia lihat dari papan Pinterest dia. Adriana yakin hari ini gaya pakaian yang dia tampilkan memberikan energi gadis penikmat sinema klasik, hingga seseorang yang ia temui di jalan bertanya padanya; “Suka film-film Wes Anderson juga ya, Kak?”
Jangan tanya apakah dia sudah melakukan gaya pakaian dengan tema film-film Wong Kar-wai, buktinya sudah terpampang jelas pada unggahan akun Instagram-nya. Ingat ya, Adriana itu bukan poser, bukan salahnya kalau ia punya selera yang keren.
Eh, Adriana sudah bilang belum kalau dia bukan pakar cinta? Sudah, ya? Makanya dia sekarang gelagapan ketika Kerin mengayunkan lengannya, menunjukan gelang dengan benang berpilin dan dihiasi miniatur penyu. Berdiri gadis itu di depan pintu ruangan dengan senyum yang rasanya membuat mata Adriana kesakitan. Rasa sakit yang Adriana rela rasakan ratusan kali.
“Gelang kita couple!” ucap Kerin sebelum ia berjalan kembali ke mejanya. Adriana mengangguk, setiap langkah yang ia lalui menuju mejanya adalah untaian penyesalan tentang peristiwa dua hari lalu. Dua hari lalu, Adriana memilih gaya pakaian bertema pantai. Ia kenakan t-shirt berwarna dasar putih dengan garis merah dan biru. Tak lupa jorts, lengkapnya jeans shorts, yang paling cocok dipasangkan dengan sepatu kanvas bertali. Suatu kebetulan bahwa tantenya memberinya hadiah dua buah gelang berwarna biru dengan miniatur penyu kecil di tengahnya. Tantenya berujar bahwa gelang itu akan terlihat cocok pada keponakan kesayangannya alih-alih dirinya yang merasa tak begitu se-necis Adriana.
Dan dua hari lalu, Adriana yang sedang bersantai sambil menikmati segelas mojito—yang jelas senada dengan warna bajunya—dihampiri oleh Kerin. Jemari Kerin meraba untaian gelang itu, membuat Adriana mengalihkan kepalanya dari layar TV.
“Kamu dapet darimana, Dri?” tanya Kerin. “Oh, itu tante gue. Dia kan tinggal di Bali, terus mampir ke rumah. Gue dikasih ini, deh” balas Adriana.
“Tante kamu aktivis, ya? Ini, kan, gelang dari organisasi aktivis laut. Tuh, gambar penyunya, aku kenal sama logo itu” jelas Kerin, yang membuat Adriana sedikit terkejut.
“Kok tau? Iya, tante gue aktivis. Semacam itulah. Lo suka sama gelangnya? Gue ada dua” Biar Adriana perjelas. Bukan niat awalnya untuk memberi gelang itu pada Kerin. Ia hanya bingung, gelang manakah yang lebih cocok dipasangkan dengan pakaiannya. Sudah dua kali di pagi ini ia mengganti gelang yang tersampir di tangannya, dan pilihannya berakhir pada gelang berwarna biru. Biru yang bisa kau lihat pada air kolam renang berbau kaporit yang menyengat. Gelang lainnya yang berwarna hijau rumput laut ia simpan di kantung.
“Boleh, Dri?” sumringah wajah Kerin, hingga Adriana heran, pernahkah ia melihat wajah Kerin secerah ini? Atau memang wajahnya selalu seperti ini? Selalu terasa seperti ia bersaing dengan lampu neon di atap kantor? Adriana mengangguk, lidahnya kelu ketika Kerin memeluknya.
Mulutnya pun tak bisa diajak berkoordinasi ketika Kerin, yang sudah memakai gelang pemberiannya, mempertemukan miniatur penyu yang ada padanya dan pada Adriana. Seakan dirinya dan Adriana sedang bersulang merayakan sesuatu.
“Gelang couple!” Kerin terkekeh. Yang terjadi selanjutnya tak begitu diingat Adriana. Kerin bercerita tentang bahaya sampah plastik, pengunjung pantai yang kerap kali tak peduli dengan sampah dan bagaimana turis yang menyelam di laut tak boleh mengusik terumbu karang. Silakan Kerin berbicara pada tante Adriana soal itu, yang jelas, hingga larut malam, Adriana masih terbayang dengan dua hiasan penyu yang beradu itu. Harapnya, hanya dialah satu-satunya yang melakukan itu dengan Kerin. Cuman Adriana satu-satunya yang boleh menyilangkan lengannya dengan Kerin sembari mempertemukan miniatur penyu pada gelang mereka.
Kesalahan bodoh!
Semenjak itu, tawa Kerin membuat Adriana kerap memasukan kedua tangannya ke saku celananya demi menjaga sikapnya yang harus terlihat acuh tak acuh, bahasa kerennya; nonchalant. Belum lagi, Kerin kini bersaing dengan layar ponselnya setiap Adriana jenuh dengan setumpuk tugasnya di depan laptop. Satu kali ia melirik pada Kerin, dua kali ia mengumpat pada dirinya sendiri. Ia mencoba membuka akun media sosialnya, hal yang biasa ia lakukan ketika jenuh datang. Tetap saja ibu jarinya berakhir menekan profil akun Kerin. Foto Kerin dibalut gaun musim panas dengan padang rumput membentang di belakangnya. Foto makanan. Foto anjing kecilnya. Adriana benci anjing kecil. Foto Kerin dengan adiknya yang baru saja lulus dari sekolah sarjana. Ah, foto Kerin bersama beberapa orang yang terlihat sehabis membersihkan sampah di pantai. Adriana mengangguk-angguk di mejanya, menyambungkan ini dan itu di pikirannya yang bercabang. Tak sadar, ibu jarinya menekan layar ponselnya dua kali, hingga muncul ikon hati untuk sesaat.
Gawat!
Adriana ingin tenggelam dan meleleh pada karpet yang membalut ruangan ini. Tindakan yang sangat tidak keren. Maka, sepanjang sore itu Adriana menghindar dari Kerin.
“Masa pacaran sama orang sekantor, sih? Eh, sekantor mah kebanyakan ya” ejek teman kecilnya di seberang telepon. Adriana menggerutu, wajahnya ia benamkan dalam bantal. Mulai malam ini, Adriana menyusun rencana untuk tidak jatuh cinta pada Kerin.
“Bisa gak dalam dua minggu ini gue cancel perasaan gue?” ucap Adriana yang terasa seperti pertanyaan retorik. “Dikira pesenan ojol lo cancel, Dri. Lagian apa salahnya pacaran sekantor, deh?” Adriana enggan menjawab.
Rencana pertama, ia akan masuk kantor lebih pagi, lebih dulu, lebih cepat dari Kerin. Hanya saja, kepalanya yang pening ketika ia memaksa untuk bangun lebih awal membuat rencananya ia revisi. Bagaimana kalau begini; jangan sampai ia berada dalam satu ruangan yang sama dengan Kerin? Setidaknya bukan di lift, di pantry, di kamar mandi, atau dimanapun selain ruang kerja mereka. Adriana mengandalkan penciumannya yang sudah mengenali parfum Kerin. Parfum yang tidak terlalu menyengat, tak membuatnya sakit kepala, yang aromanya mirip dengan pelembut pakaian kesukaan Adriana. Yang membuatnya rindu dengan kasurnya. Benar, parfum Kerin berbahaya.
Maka pagi ini, Adriana lari ke kamar mandi sebelum Kerin menyapanya di balik meja resepsionis. KTP-nya ia ambil dengan tergesa-gesa. Adriana masuk ke bilik kamar mandi dan menunggu sebanyak dua lagu. Dengan percaya diri ia keluar dari kamar mandi hanya untuk mendapati Kerin yang berdiri di samping meja resepsionis.
“Kamu lupa ambil lanyard kamu” Kerin menyodorkan sebuah kartu pada Adriana. Kartu yang Adriana inspeksi sepanjang ia berada di lift untuk mendistraksi pikirannya dari parfum Kerin. Warna latarnya kurang kontras, logonya kurang jelas, bahan kartunya terasa murahan. Ha! Tak salah Adriana lulus dengan predikat cum laude dari program studi Desain Produk. Dia memang jelas pintar. Namun tak cukup pintar menghadapi wanita biasa yang empatetik di sampingnya.
Rencana kedua ia jalankan tiga hari setelahnya. Rencana dadakan yang sebenarnya sia-sia. Rencana ini berbunyi; Jangan sampai lo tau tentang lagu kesukaannya. Semua ini karena Ilham. Bisa-bisanya laptop Ilham tanpa sengaja memutar lagu di tengah sesi presentasi. Beruntungnya mereka, karena sesi ini bukan sesi presentasi sesungguhnya. Pak Cokro memutuskan untuk mengambil break selama lima belas menit. Saat itulah ujung mata Adriana mendapati Kerin yang menggumamkan lagu yang terputar dari laptop Ilham sebelumnya. Membuat Ilham kembali memutar lagu itu dan bernyanyi bersama Kerin. Lagu yang bukan Adriana banget. Tak mungkin lagu itu tersimpan di playlist Adriana.
“Masa lo gak tau, Nay? Ini loh, lagu dari Kpop Demon Hunter. Apa, tuh, judulnya. Golden!” timpal Ilham pada Naya. Kedua rekan kerjanya itu bertengkar sembari diiringi lagu yang begitu dinikmati Kerin. Bagaimana kepalanya berayun pada nada lagu itu membuat Adriana melamun di parkiran motor. Pun ketika pucuk kepalanya dibasuh air untuk membilas sisa shampoo, lagu itu tak sengaja terputar. Rupanya benar kalau lagu itu sedang ngetren. Lagu itu kembali terputar ketika Adriana sudah terbaring di ranjangnya dan kelopak matanya nyaris tertutup. Membuat gadis itu kembali sadar. Untuk saat ini, ada baiknya Adriana menyalakan mode private session pada akun Spotify-nya. Rencana ini seakan hanyalah penyesalan dari bencana yang disebabkan Ilham.
Rencana ketiga adalah rencana paling mudah. Adriana terbiasa melakukan ini dengan orang yang ia tidak suka. Ia akan berusaha menatap objek di belakang Kerin ketika Kerin berbicara secara empat mata padanya. Cara ini menjadi salah satu cara ia bertahan di lingkungan kerja selama lima tahun belakangan. Adriana kembali percaya diri bahwa perasaannya akan memudar, bahkan tak perlu dua minggu untuknya kembali bebas. Dengan ia terbiasa berbicara dengan Kerin, ia yakin hatinya akan terbiasa dengan kerut pada alis Kerin ketika ia tidak setuju terhadap sesuatu. Ia akan terbiasa dengan cara bicara Kerin yang cenderung lebih cepat ketika dirinya kesal. Ia akan terbiasa dengan suara Kerin yang terdengar seperti pramugari yang menjelaskan kiat-kiat memasang masker pernapasan saat situasi darurat datang. Selalu pasangkan masker pada dirimu sendiri sebelum pada orang lain.
Sayangnya, Kerin pun terbiasa akan satu hal tentang Adriana. Siang itu, Adriana sedang berbicara dengan Naya tentang film horror yang sedang naik daun. Naya bercerita tentang bagaimana ia meyaksikan santet secara langsung sewaktu ia berumur tujuh tahun.
“Lo tau gak? Kata Mami gue, gue waktu kecil punya indra keenam. Soalnya gue suka liat kesana kemari, tapi dia bilang sih indra keenamnya ‘ilang begitu aja” jelas Adriana. Naya mangut-mangut, lalu di belakangnya, Kerin muncul.
“Lo masih suka kok ngeliat kesana-sini, Dri. Gue sadar lo gitu akhir-akhir ini kalo ngobrol sama gue” timpal Kerin. Naya heboh, mulai ia berspekulasi tentang penghuni tak kasat mata di kantor ini. Tangannya terbentang, berusaha merasakan energi buruk di setiap sudut kantor. Danu nimbrung, dia mulai bercerita tentang kunjungan menyeramkannya ke salah satu hutan di belahan Asia Tenggara lain. Ilham bercerita tentang buyutnya yang merupakan keturunan salah satu Prabu di jaman Majapahit. Semuanya sibuk dengan topik astral ini, sedangkan kepala Adriana terkulai di kursi, sibuk ia membayangkan dirinya yang terlihat konyol setiap ia berbicara pada Kerin. Salahkan rasa gugupnya yang terselip setiap Kerin berdiri terlalu dekat padanya.
“Gagal semua! Gue harus gimana lagi?” keluh Adriana di hari kedua belas pada teman kecilnya. Kaki Adriana menendang bantal kecil hingga bantal itu jatuh dari ranjang.
“Paling ampuh itu lo harus cari hal yang bikin lo ilfeel ‘ama dia, Dri” usul temannya. “Tapi gak mungkin, dong, gue ngerjain dia. Gue gak sejahat itu” balas Adriana frustrasi.
“Ajak makan aja. Lo cari tempat yang nyediain makanan kayak burger jumbo, yang kalo dimakan, lo harus mangap, mangap jelek gitu lah. Pokoknya tempat makan yang gak cocok buat first date” dengan sigap Adriana meraih ponselnya dan mencari restoran yang sesuai. Kalo bisa, restoran kaki lima saja. Uangnya sudah ia alokasikan dengan benar untuk kopi, untuk kios gelato dan untuk kios-kios lain yang instagramable. Eh, berarti ini first date, ya?
Rencana terakhirnya membuat ia dan Kerin berada di warung seafood kaki lima pada hari keempat belas. Harusnya, Gema dan yang lainnya ikut bersama. Hanya saja, Gema beralasan bahwa mamanya sudah menunggu di depan kantor, karena kebetulan hari ini adalah hari spesial bagi mereka berdua. Kerin dan Adriana ikut mengantar Gema yang menghampiri mamanya. Ilham menolak ikut, ada festival yang harus ia ikuti sore ini. Danu pun menolak, untuk alasan yang sudah Adriana lupakan. Naya adalah harapan terakhir Adriana, hanya saja Naya lebih peduli untuk melanjutkan vlog keseharian gadis korporat untuk akun sosial medianya. Tersisalah Adriana bersama Kerin.
Adriana memesan paket lengkap, yang nantinya akan disajikan tanpa piring, melainkan ditumpahkan begitu saja di depan mereka hanya dengan beralas plastik. Macam-macam makanan laut ada di sana, lengkap dengan potongan jagung yang besar-besar. Sekalipun rencana Adriana adalah untuk dirinya merasa ilfeel pada Kerin, ia memilih tempat makan dengan sangat hati-hati dan rasanya yang terjamin. Ia tak ingin akhirnya Kerin yang ilfeel padanya. Terasa lebih menyakitkan.
“Dri, mamanya Gema beda banget ya sama Gema. Maksudnya, wajahnya gak begitu mirip” Kerin memulai obrolan sembari menunggu pesanan mereka.
“Iya. Mungkin Gema lebih mirip papanya” balas Adriana. Tak biasanya Kerin mengangkat topik tentang penampilan seseorang.
“Mama Geman cantik” balas Kerin. Adriana setuju, maka ia hanya berdehem pelan untuk membalas Kerin.
“Kamu nonton The Office gak? Acara TV itu?” Kerin mengalihkan topik. Adriana mencoba mengingat-ngingat.
“Nonton, tapi season awal kayaknya udah lupa” balas Adriana. Kerin terdiam sejenak. Ia menyeruput es jeruknya.
“Tau kan Michael sama Pam sempet berantem, lucu banget, deh” lanjut Kerin.
“Berantemnya banyak gak, sih. Yang mana emang?” tanya Adriana.
“Yang Michael ternyata pacaran sama ibunya Pam” Makanan mereka sedang disajikan ketika Kerin membalas Adriana.
“Kayaknya aku sekarang ada di posisi Michael” gumam Kerin, yang masih terdengar oleh telinga Adriana.
“Maksudnya?” tanya Adriana.
“Etis gak ya kalo aku naksir sama Mamanya Gema?” Adriana melongo.
“Udah aku duga, pasti gak etis. Huft! Extremely unprofessional! You can do better, Kerin”
