Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-08-25
Words:
1,585
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
21
Hits:
243

serta mulia, ayang

Summary:

met ultah yang... ❤️

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:


Nggak pernah ada yang nyangka, kalau langit sore itu bisa berasa di titik tercantiknya. Biru langit yang biasanya mendominasi bersama terik matahari serta segala polusi kota itu rasanya tiba-tiba nggak pernah terjadi. Mungkin ada alasan dibalik itu, klisenya mungkin langit juga punya lelahnya untuk jadi sendu dan depresif— jadi, sore itu, jadi cantik adalah hal yang bisa sesekali dilakukan.

Mungkin juga, alasan untuk semesta, langit dan seluruh isinya sedang baik. Sedang ingin saja memberikan hadiah kecil bagi manusia-manusia pencari senyum.

Pergerakan warna kuning dan oranye, serta beberapa titik merah bergerak perlahan untuk menemani hangatnya tawa dan percakapan; entah, apa yang dibicarakan atau apa yang ditertawakan. Hal yang mereka berdua tau, semua orang sedang bersenang-senang disini.

Melepaskan segala masalah yang setiap individu bawa; sehari saja. Sehari saja tidak akan mendatangkan masalah saat berlagak senang.

Pun, mereka, yang lebih suka dipanggil;Abang dan Ayang.

Mungkin ya... seharusnya, kedua nama ini disebut dari awal. Agar mereka yang berlalu-lalang di depan kedua lelaki ini meninggalkan pertanyaan-pertanyaan liar mereka. Meninggalkan juga tatapan sinis pada kedua jari yang mengalung pada satu sama lain. Saling menggenggam, menahan satu sama lain, yang mungkin sewaktu-waktu bisa membalas mata jahat orang-orang itu kapanpun.

Menyebalkan, memang. Namun, seperti kehadiran satu sama lain dalam hidup mereka, hal itu sudah sangat biasa.

ㅤㅤMaklumi saja.

Masih belum, dan mungkin tidak akan terbiasa melihat genggaman tangan dua laki-laki. Kalau boleh meralat, di muka umum.

Sekali lagi, dua laki-laki di muka umum.

'Nggak usah dipeduliin gak sih, Bang?'

Ujung bibir Abang tersenyum, mungkin di antara omelan-omelan kecil pacarnya yang ia dengarkan hampir setiap hari, ada beberapa penenang di tiap kata yang sederhana ia ucapkan.

'ㅤㅤLagian ya... gak akan ada habisnya, kalau dibales...? Iya, gak sih?!'

 

 


 


Sebenarnya, yang namanya disebutkan pertama—Abang, menganggap ide impulsif kekasihnya ini aneh. Ke taman kota sore-sore, hanya untuk duduk-duduk sambil ditemani cake cokelat jadul dan murah, buat apa?

Kalau boleh jujur ya... Abang bahkan sudah punya reservasi atas namanya, di satu restoran termewah dan penuh intim di tengah kota, untuk rayakan satu tahun bertambahnya usia Ayang. Lengkap pula dengan satu setel jas dengan merk mahal yang seringkali terlalu susah untuk diucap— untuk setahun sekali, merayakan Ayang dengan penuh usahanya. Serta, mobilnya yang wangi dan bersih untuk laju lintasi jalanan ramai setelah rush-hour.

ㅤㅤ"Tapi nggak pernah lagi lho, Bang, kamu ajak aku jalan-jalan naik motor..." ㅤㅤkata laki-laki manis itu, di tengah bibirnya yang manyun maju, mulut penuh dengan rajuk, kemarin sore.

Sambil matanya berbinar-binar menunjukan antusias, untuk ceritakan apa yang ia inginkan untuk rayakan ulang tahunnya, sebelum dilanjutkan kalimat yang terdengan belum selesai.

ㅤㅤ"Nanti, kita mampir dulu ke bakery itu! Yang di ujung gang! Beli cake cokelat jadul, Bang, sama lilin angka,"

ㅤㅤ"Ya, Bang? Enak kok kuenya, Bang. Nanti juga! Tempatnya bagus... bersih, aku udah liat di Tiktok, Bang!"

ㅤㅤ"Iya, oke, ayang. Tapi, abang udah reservasi Rem—"

"Abaaaang..."

Abang masih ingat bagaimana semua maksud dan tujuannya hari itu, untuk Ayang, runtuh dan dirinya yang dengan sengaja untuk kalah saat kalimatnya dipotong dengan ucapan gembira Ayang, dengan senyumnya yang mengembang, dan pipinya naik hingga matanya berbentuk bulan sabit terbalik. Lucu.

ㅤㅤ"Nanti kita pulangnya mampir makan nasi lidah deh... yaa? Aku yang traktir, Bang..."

 


 

ㅤㅤ“Abang,"
"Abang ngelamun?”
ㅤㅤ
Sekelibat, lamunannya pecah saat laki-laki disampingnya menengok ke arahnya. Sisa-sisa langit cantik berwarna oranye ikut turun dan hadir di sela-sela tatapan laki-laki lucu itu.
ㅤㅤ
Tepat di ujung matanya ada satu box kue cokelat yang terbuka, dan ditancapkan dua lilin angka 3 dan 0, yang hilang bagian atasnya tersapu api. Serta sendok plastik putih, yang kekasihnya beli... walau agak secara paksa, di tukang bakso yang berada di sebrang taman tempat mereka berada.

ㅤㅤ”Mikir apaaa?”
ㅤㅤ
Yang ditanya, tentu harus menjawab,

ㅤㅤ”Nggak, Yang. Langitnya bagus disini,”
ㅤㅤ
Ucap Abang asal, hanya untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Sekilas tatapannya pindah ke arah wajah kecil kekasihnya, Ayang, sambil sesekali mengusap pelan punggung tangan Ayang. Hanya sentuhan asal, refleks. Tidak ada maksud tertentu.
ㅤㅤ
ㅤㅤ”Kan, dibilang. Ide aku tuh bagus, ya!”
ㅤㅤ
Kita sebut sekali lagi; Ayang, nama kekasih itu. Laki-laki lucu yang barusan mendengus ke arah wajahnya, tanda sebal atas ucap asal yang dilontarkan.

Abang hanya tersenyum kecil sebagai respon kalimat kekasihnya, masih menatap sekilas ke arah laki-laki itu.
ㅤㅤ
"Jadi kaya nggak ekslusif gitu loh, Yang, ulang tahun kamunya..."
ㅤㅤ”Mana banyak nyamuk, Yang,”

Ayang menatap ke arahnya sambil mendengus kesal, lagi, kali ini bibirnya ikut merespon dengan bergerak maju. Manyun untuk sesaat.

ㅤㅤ”Ngaco, Abang... orang masih sore,”
ㅤㅤ
Lagi, entah sampai kapan Ayang harus mendengus ke arah laki-laki yang sudah bersamanya selama beberapa tahun itu.
ㅤㅤ
ㅤㅤ”Nggak ada nyamuk... Abang asbun sumpah! Males ya!"

Hanya tawa yang Abang keluarkan untuk sebuah respon. Karena memang lucu, entah situasi itu atau kekasihnya. Tidak ada bedanya.

Tapi memang benar, mungkin satu alasan konkrit yang membenarkan ide duduk berdua di tengah taman sore-sore adalah langit oranye ini. Langit senja para indie, kalau kata orang-orang. Tapi baginya, langit sore seperti ini pasti punya arti sendiri bagi setiap orang. Apapun itu, alasannya benar.

Cantiknya langit sore hari itu membuat laki-laki itu berpikir. Pantas saja, Sukab sangat mengagumi senja hingga ia nekat mencuri sepotong untuk Alina, pacarnya. Dan dengan alasan konyol, melipatnya dan dimasukan pada saku kemejanya. Berharap ia bisa membawanya ke Alina.

Namun sekarang, langit oranye yang sedang cantik-cantiknya itu perlahan menggelap. Malam mulai jatuh, oranye langit digantikan oleh oranye lampu hutan kota yang redup. Sayang sekali, padahal baru saja Abang ingin ikut mencuri langit. Sepotong kecil saja, biar tidak kentara.

Tidak ada hal aneh, hiruk pikuk tawa dan percakapan orang-orang di taman kota itu masih menguar. Dalam pandangan Abang, ada beberapa anak kecil yang berlari-larian, ada sekelompok orang— mungkin seumurannya, yang asik membangun tawa. Ada juga, yang sama dengan dia dan Ayang, seperti sepasang kekasih. Hangat, pikirnya. Dan lagi, apapun itu, tidak pernah ada salah disini.

Hingga mungkin, ingatan tentang beberapa hal lampau yang menyakitkan datang lagi.

ㅤㅤ”Orang-orang tadi mikir apa, ya, Yang?”

Tatapannya terpaku ke netra kekasihnya, sekilas pandangan itu tertutup jemarinya sendiri yang mengusap rambut-rambut kecil pada dahi Ayang. Tidak ada alasan khusus yang Abang punya untuk hal seperti ini.

ㅤㅤ”Hmmm, paling ya, gitu,”

Ucap Ayang pelan, hampir bisa dikatakan datar. Seperti menjawab hal yang tidak perlu dipertanyakan— oh, setidaknya, baginya. Tubuhnya mengarah mendekat kekasihnya, hanya untuk membuat jarak di antara mereka mengecil. Tatapannya menyantai, mengarah ke arah laki-laki di depannya untuk membalas tatapan dua bola mata itu.

ㅤㅤ”Abang..."
"Bulan depan nikah lho, kita. Masih mikirin orang lain?”

Satu kalimat itu membuat Abang terdiam. Rasanya, seperti ditembak tepat di dadanya. Walaupun sebenarnya, ia belum pernah merasakannya— dan tidak mau. Kalau mati, siapa yang jaga Ayang?

ㅤㅤ”Aku tau sih, Bang,”
ㅤㅤ”Masih nggak enak, kok, rasanya ditatap kaya gitu.”

Ucap Ayang lirih, sambil kedua lengannya mengusap ke punggung tangannya. Dan yang di seberang sana, masih diam. Mendengarkan kata demi kata laki-lakinya. Berusaha membuat dirinya mengerti.

ㅤㅤ”Tapi, rasanya... Kita nggak butuh menjelaskan tentang apapun. Ke siapapun.. asal kita, berdua, saling ngerti,”

Kalimat laki-laki kecil itu berlanjut, masih dengan nada lirih, mengisyaratkan bahwa tidak ada emosi sia-sia yang hadir diantara setiap kata yang ia ucap. Di akhir kalimatnya, ia tersenyum.

ㅤㅤ”Yang penting, kita, kan, Bang?”

Iya. Abang langsung menjawab dalam hati. Bukan karena ia tidak berani, atau tidak mau menjawab kekasihnya. Tapi, baginya, itu saja sudah cukup. Toh, ia yakin Ayang paham atas reaksinya itu.

ㅤㅤ”Yang, masih kan?”

Keduanya tau kemana hal ini harus bermuara.

ㅤㅤ”Masih, Abang. Belum pengen berhenti buat sayang sama Abang,”

Keduanya saling tersenyum, tanda respon atas kalimat satu sama lain. Kalau boleh membongkar satu hal, mereka berdua jarang sekali berbagi kata-kata cinta untuk mengais validasi. Bagi mereka, beberapa tahun ini mereka bersama sudah layaknya pembuktian yang cukup. 

ㅤㅤ”Jadi pengen peluk kamu,”

Ucap Abang, sambil masih memfokuskan tatapannya pada Ayang. Jatuh, ia semakin jatuh.

ㅤㅤ”Abang lebay....”

Ayang menjawab singkat, sambil mendongakan kepalanya dan tertawa kecil. Tak lama, ia menempelkan sekilas pucuk kepalanya di bahu kekasihnya. Usapannya di punggung tangan Abang masih berlanjut, seakan mengunci kekasihnya itu agar tidak pergi darinya. Oh, oke, setidaknya, malam ini.

ㅤㅤ”Yaudah, cabut yuk, Bang. Udah gelap..”
ㅤㅤ
Tarikan di lengan bajunya menemani kalimat Ayang. Sekilas, Abang tersenyum sebagai tanda setuju. Bergegas mereka bangun untuk membersihkan sampah-sampah bekas makanan dan minuman kecil yang ia bawa tadi untuk menemani kencan mereka.

ㅤㅤ”Abang,”

"Mmhm?"

"Gimana kalau,"

Ucap Ayang dalam sekeali tarikan nafasnya, sebelum terpotong oleh senyuman kecil pada bibirnya yang penuh manyun.

ㅤㅤ”Kita nggak usah jadi mampir makan, jadi nanti kita Go-Food aja, tapi Abang... nginep... yaa...?”

Ayang menyudahi frasa yang terpotong, terlihat dengan senyuman penuh arti. Hanya mereka berdua yang tau, layaknya kode detektif Sherlock Holmes, atau kode-kode ilmu kriptografi. Oh, mungkin, sederhananya, seperti kode di koper jalan-jalan mereka. Bahkan, petugas bandara yang bertanggung jawab tidak boleh tau.

Tidak ada yang boleh tau juga— tidak pada pedagang kaki lima yang mereka lewati sedari tadi pada perjalanan mereka ke motor Abang, atau juga tidak pada tukang parkir yang mungkin sedikit banyak menguping pembicaraan mereka. Tidak ada, tidak perlu.

ㅤㅤ"Yang,"
"Nggak janji Abang bakal behave, tapi,"

"Kaya aku bakal nolak aja kalau Abang apa-apain,"

Abang menjawab kalimat kekasihnya dengan senyum mengembang. Lagi, senyuman itu, cuma mereka yang tau artinya. Dengan sadar, kedua lelaki itu mengarahkan tubuh mereka ke atas motor. Entah bagaimana, tiba-tiba mereka sudah sangat siap untuk pulang. Sedikit tampak terburu-buru.

Lagi, tidak tahu apa yang jadi alasan. Mungkin terlalu lelah karena terpapar sinar matahari sore, atau mungkin terlalu lelah untuk tertawa dan mengobrol berdua selama dua jam penuh.

ㅤㅤatau mungkin hal lain..

 

 

— Dah.

 

Notes:

selamat ulang tahun yoon dowoon... sampai tahun ini aku masih sayang ya, dan semoga akan terus begitu, yoon dowoon....

with love, sopbun. ❤️