Chapter Text
Mansion Riegrow, Sayap Timur — Ruang San-ho-Jori
Di lantai pertama, dua ruangan yang dulunya jarang digunakan kini berubah wujud total. Pintu kayu besar dibuka, dan aroma segar kayu madu langsung menyambut setiap orang yang melangkah masuk.
Lantai itu hangat—underfloor heating khas rumah-rumah Jerman tetap dipertahankan, tetapi lapisan permukaan diganti dengan papan kayu halus berwarna madu. Teksturnya mengingatkan pada lantai hanok, seperti yang dulu sering diinjak Taeui di Korea. Ilay-lah yang mengatur detail itu; ia tidak pernah menyebut alasannya, tapi setiap orang bisa menebak siapa yang ia pikirkan ketika memilihnya.
Tirai tebal menjuntai, menahan terik cahaya agar tidak menyilaukan. Namun jendela didesain tetap bisa dibuka sedikit, agar udara segar masuk perlahan. Ada kompromi di situ, prinsip "hindari angin" dari tradisi Korea, dan keyakinan orang Jerman bahwa udara baru mempercepat pemulihan. Seperti dua budaya yang berbeda, tapi dipaksa berdamai dalam ruang yang sama—persis seperti dua orang yang kini menjadi penghuninya.
Ruangan itu dikhususkan untuk San-ho-Jori, tradisi pemulihan pasca melahirkan untuk Taeui. Keheningannya dijaga, suhunya stabil, dan setiap detailnya dirancang untuk memberi rasa aman. Di sampingnya, ruangan kembar diperuntukkan bagi bayi-bayi mereka. Dua crib kecil dengan mekanisme co-sleeper berdiri berdampingan. Dindingnya dilapisi warna lembut, tirainya tipis agar cahaya musim semi bisa masuk tanpa menusuk. Kedua ruangan itu dihubungkan pintu kaca transparan, memungkinkan Ilay dan Taeui melihat si kembar kapan saja.
Sejak kepulangannya dari rumah sakit seminggu setelah melahirkan, mansion ini tidak lagi sama. Di sayap timur, kini hidup dengan ritme baru; tangis bayi, langkah hati-hati para nanny, denting botol susu yang disterilkan. Namun semua suara itu tetap dijaga agar nyaris tak mengganggu, seperti orkestra lembut yang bermain di latar belakang kehidupan sehari-hari.
Pagi itu, Berlin mulai menampakkan wajah musim semi sepenuhnya. Hawa dingin surut perlahan, berganti dengan hangat muda yang menyusup lewat celah jendela. Aroma tanah basah bercampur dengan wangi bunga awal musim. Di dalam mansion, semua terasa berbeda—seolah seluruh bangunan ikut menyesuaikan diri dengan kehadiran dua jiwa baru yang rapuh namun penuh arti.
Ilay berjalan menyusuri lorong panjang. Suaranya nyaris tak terdengar di atas karpet tebal. Ia berhenti sejenak di depan pintu, pandangannya memeriksa setiap detail, memastikan ruangan yang akan ditempati Taeui sesuai standar yang ia tentukan sendiri.
Tidak ada satu pun hal yang ia biarkan kebetulan. Ia menolak kamar pribadinya, di lantai dua digunakan karena dinilai terlalu berisiko untuk Taeui yang harus naik-turun tangga. Baginya, hal-hal kecil seperti itu bukan kompromi, melainkan keputusan mutlak—sebuah cara menjaga, meski ia jarang menyebutnya dengan kata-kata.
Pintu kamar sebelah dibuka. Cahaya musim semi yang lembut segera menyusup masuk, jatuh ke lantai marmer, menciptakan pola samar dari tirai tipis yang tersibak. Udara di dalam ruangan itu berbeda—lebih hangat, lebih ringan, dan dipenuhi aroma khas; wangi lembut bedak bayi, bercampur kain bersih yang baru disetrika, dan samar-samar susu hangat yang menguar dari botol di meja.
Di tengah ruangan, dua nanny tengah sibuk. Yang satu menggendong Damian, menimang dengan gerakan sabar, sementara yang lain mengusap punggung Danielle dengan sentuhan telaten. Suara mereka hampir seperti bisikan, bercampur nada nina-bobo yang nyaris tidak terdengar, namun cukup membuat ruangan terasa damai.
Begitu pintu berderit dan sosok tinggi Ilay masuk, keduanya reflek menegakkan tubuh. Gerakan mereka terhenti sepersekian detik, seolah sedang menunggu instruksi. Ilay tidak mengucapkan apa pun. Hanya sebuah anggukan tipis, cukup untuk membuat mereka kembali bergerak.
Tatapan abu-abu itu menajam, berganti-ganti dari satu bayi ke bayi lain. Tidak ada ekspresi jelas di wajahnya, tapi sorot matanya menahan sesuatu yang bahkan nanny berpengalaman sekalipun tidak bisa membaca.
Salah satu dari mereka, yang sedang menggendong Damian, akhirnya maju dengan langkah hati-hati. Nadanya sopan tapi penuh pertimbangan.
"Tuan Riegrow... bila berkenan, Anda bisa mencoba skin-to-skin contact. Panas tubuh ayah dapat menenangkan bayi, menstabilkan napas, sekaligus memperkuat ikatan emosional."
Hening.
Bayi kecil di pelukan nanny itu menggeliat sebentar, mengeluarkan bunyi rengekan pendek sebelum kembali diam. Ilay menatapnya lama, lalu beralih pada nanny. Tatapannya tajam, netral, tanpa sedikit pun perubahan di wajah. Waktu terasa berjalan lebih lambat, sampai akhirnya bahunya bergerak pelan—sebuah anggukan singkat.
"...Baiklah."
Gerakan Ilay teratur. Ia melepas kancing kemeja satu per satu, tidak tergesa tapi juga tanpa ragu. Kain itu terbuka, memperlihatkan tubuh yang keras dan disiplin. Bahu lebar, dada bidang, otot-otot perut terukir jelas, kulit pucat nyaris tanpa cela. Tubuh yang terbentuk dari kontrol mutlak—dan kini, akan menjadi tempat sandaran makhluk rapuh.
Damian dipindahkan perlahan. Bayi itu meringkuk, pipinya menempel ke dada dingin yang perlahan menghangat. Ilay tidak bergerak selama beberapa detik. Hanya menatap ke bawah, seakan sedang menakar bobot di pelukannya. Napas kecil itu terasa menyusup ke dalam kulitnya, ritmenya cepat, kontras dengan detak jantung Ilay yang tenang dan lambat.
Nanny lain, setelah memperhatikan sejenak, tampak ragu tapi akhirnya maju membawa Danielle yang sejak tadi mulai merengek kecil. Ia mendekat, menunggu tanda penolakan. Tapi Ilay hanya menurunkan sedikit lengannya—gerakan nyaris tak terlihat, tapi cukup jelas sebagai isyarat.
Danielle didekatkan. Begitu tubuh mungil itu bersandar ke sisi dada Ilay yang lain, rahangnya menegang. Dua kepala kecil, dua napas terburu-buru, kini menempel sekaligus di tubuhnya.
Sepersekian detik ia hanya diam. Tapi kemudian tangannya bergerak sendiri, insting lebih dulu daripada logika. Lengan kirinya menyesuaikan menyangga Damian, sementara lengan kanan melingkupi Danielle. Tubuh besarnya membentuk kurva protektif, dadanya menjadi jembatan yang menyatukan keduanya.
Ia bergerak ke kursi dekat jendela, duduk dengan punggung tegak. Cahaya musim semi jatuh ke wajahnya, lembut, memantulkan bayangan samar di kulit pucatnya. Di dada bidangnya, dua bayi itu perlahan tenang. Damian terlelap lebih dulu, sementara Danielle masih sesekali merengek sebelum akhirnya menyerah pada irama detak jantung ayahnya.
Ruangan itu seketika hening, hanya berisi napas ringkih yang berpadu dengan denyut kuat yang membingkai mereka.
Kedua nanny saling melirik, takjub. Tidak semua ayah baru mampu menampung dua bayi sekaligus tanpa kehilangan keseimbangan. Tapi pria yang duduk di sana—dengan wajah datar, sorot mata dingin, rahang tegas—beradaptasi dengan cepat, tampak seperti sudah menguasainya sejak lama.
Namun jika diperhatikan lebih dekat, ada ketegangan samar di garis rahangnya. Bukan karena canggung, melainkan kesadaran penuh bahwa ia sedang memegang sesuatu yang bisa hancur dengan sedikit tekanan.
Ilay tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya duduk, membiarkan waktu berhenti bersama dua jiwa kecil yang kini bertumpu sepenuhnya padanya.
Tirai kamar bergoyang pelan, cahaya pagi yang tembus tipis menari di lantai marmer. Ruangan itu tenang, hanya suara napas bayi yang beradu dengan detak jantung Ilay.
Lalu, terdengar langkah dari arah lorong. Pelan, ringan, tapi jelas berbeda dari langkah para nanny yang selalu teratur.
Pintu terbuka.
Jeong Taeui muncul, rambutnya masih lembap karena baru cuci muka, kaos polos rumahnya sederhana, wajahnya segar dengan rona pipi samar. Seketika ia berhenti di ambang pintu. Matanya langsung jatuh pada pemandangan di kursi dekat jendela—sosok Ilay, tubuh bidangnya terbuka, dua bayi kecil terlelap di dadanya.
Senyum melebar begitu saja, tanpa bisa ditahan.
"Wah..." suaranya rendah, setengah takjub, setengah menggoda. "Kamu sudah bisa menggendong keduanya sekaligus."
Nanny yang ada di ruangan menunduk sopan, mundur perlahan, memberi ruang tanpa benar-benar meninggalkan tempatnya. Tapi keheningan tetap terasa, seakan seluruh ruangan menahan napas menunggu respon.
Ilay hanya menoleh sedikit. Senyum samarnya muncul, dagunya bergerak kecil, memberi isyarat agar Taeui mendekat.
Taeui masih mempertahankan tatapan jahilnya, melangkah mendekat, lalu duduk di hadapan Ilay. Matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
"Bagaimana rasanya? Sulit? Berat? Kamu butuh bantuan?"
Ilay menunduk sejenak, menatap dua kepala mungil di dadanya. Butuh waktu sebelum ia menjawab.
"...Rapuh." Suaranya datar, nyaris gumam. "Tubuh sekecil ini... bisa hancur hanya dengan sedikit tekanan."
Taeui sempat terdiam. Bagi orang lain, kalimat itu terdengar seperti ancaman. Tapi ia tahu betul, dari Ilay itu pengakuan jujur, tanpa hiasan. Ia terkekeh kecil, menahan rasa hangat sekaligus getir di dadanya.
"Kita juga seperti mereka, dulu."
Ilay tidak membalas. Tatapannya terangkat, memantulkan wajah Taeui dengan ketajaman yang begitu familiar. Beberapa detik, ia hanya diam. Lalu, dengan nada datar yang lebih mirip perintah ketimbang permintaan, ia berkata,
"Cium mereka."
Taeui sempat melongo sebentar, lalu tersenyum kecut, tapi tubuhnya tetap menuruti.
Ia menunduk, bibirnya menyentuh rambut tipis Danielle dengan lembut. Aroma bayi yang samar bercampur kain bersih memenuhi inderanya, membuatnya tersenyum kecil.
Tepat saat itu, Ilay condongkan wajahnya, memberi ciuman singkat di dahi Taeui.
Refleks, Taeui terlonjak. Ia buru-buru melirik ke dua nanny yang berdiri tidak jauh, masih menjaga dengan wajah datar. Pipinya panas, bibirnya tercekat.
"...Kau gila," desisnya cepat, lebih kepada dirinya sendiri daripada pada Ilay.
Kali ini Ilay yang memasang wajah jahil, dengan senyum kemenangan. Matanya kembali ke bayi, tapi dagunya bergerak lagi, kali ini ke arah Damian.
"Dia belum."
Taeui menghela napas panjang, mencoba mencari alasan. "Aku harus siapkan susu dulu." Suaranya dibuat praktis, tapi jelas itu lebih pada usaha melarikan diri.
Ilay tidak perlu bicara banyak. Satu kata saja keluar dari bibirnya,
"Siapkan."
Dua nanny langsung bergerak serentak, sigap mengambil alih tugas menyiapkan susu. Taeui kehilangan alasan untuk kabur.
Ia berdiri sejenak, pasrah, lalu merunduk lagi. Bibirnya menyentuh pucuk kepala Damian, sama lembutnya seperti tadi.
Dan sekali lagi, tepat pada detik itu, Ilay memberi ciuman cepat di dahinya.
"Arghh!" Taeui mendesis pendek, mendongak dengan tatapan menyipit penuh protes. Tapi bukannya mundur, ia justru mendekat. Kedua tangannya menangkup wajah Ilay, lalu dengan cepat ia mendaratkan ciuman singkat di bibirnya.
"Aku menang," ujarnya kilat, dengan setengah tergelak melihat Ilay masih tenang memeluk si kembar dengan kedua tangannya penuh, tidak bisa membalas. Ia berdiri, lalu melangkah ke pintu.
"Aku harus pompa ASI. Jangan ganggu."
Pintu menutup.
Hening kembali memenuhi ruangan.
Ilay menunduk pada dua bayi yang masih lelap di dadanya. Garis tipis yang samar, tak lekas hilang dari wajahnya, cukup untuk menandai bahwa pada akhirnya, dialah yang benar-benar menang.
