Chapter Text
He’s one of a kind you’d probably ask for in your prays; coming your way as the Divine’s humble mercy or disquieting punishment you could never get rid of. As for me, it’s the later.
Sangwon adalah hukuman.
Atas diriku.
Terhadap doa-doa nggak kenal batas yang nggak pernah jeda dilangitkan secara egois setiap kali ada kesempatan.
Mengerikan mengatahui bahwa ada banyak sekali hal kelewat remeh tahu-tahu melucut menjadi petaka hanya dalam satu kedipan. Mengetahui bahwa ada, dan akan selalu ada, eksistensi yang terasa dekat sampai nggak ubahnya bisa berbagi degup, tapi juga sejauh semenanjung di saat yang bersamaan. Kabar bagusnya, aku nggak sinting.
Biar aku beri tahu kenapa.
Lee Sangwon, kegilaan itu nyatanya punya wujud dan nama. Pemilik atensi orang-orang. Pemintal perhatian paling lihai.
Nggak ada peristiwa apapun — seenggaknya selama hampir delapan semester aku ingat — yang membuat interlokusi terjadi antara aku dan Sangwon. Dia memulai dengan menjadi salah satu peserta orientasi yang nggak pernah absen dicecar karena idealismenya setinggi langit. Lalu ada aku; di baris tengah, mendengarkan lamat-lamat setiap tutur yang diatur sembari berdoa agar lekas bisa pulang. Dia pula yang bisa lekas menjuarai lomba studi kasus tingkat fakultas saat aku bahkan nggak punya anggota kelompok sampai akhir pendaftaran. Lantas dia, sekali lagi, jadi sosok yang namanya akan selalu dapat reaksi oh yang itu selagi yang lain mungkin cuma diketahui namanya oleh dua orang di kelas akuntansi dasar.
Lee Sangwon seyogyanya histeria yang menjangkit seluruh FEB hanya dalam hitungan bulan. Berangkat dari bulan-bulanan Komdis, siapa sangka dia bakal jadi jagoan andalan prodi — atau mungkin, kayaknya, sudah masuk aset krusial fakultas.
Soal itu, coba aku konfirmasi lagi nanti.
“Itu tandanya lo naksir.” Zoa, sambil menggulung mie di antara gilingan bakso di mangkuk, pernah memberikan diagnosis. “I’d have also pulled that pick me girl shit if I were you, don’t worry.”
“But you didn’t,” sanggahan datang dari aku yang sama-sama berusaha fokus menikmati sisa-sisa bakso.
Kening Zoa mengernyit, bentuk refleks yang selalu bakal muncul kalau sekiranya ada sesuatu yang menurutnya kelewat tolol. Kedua alisnya kompak beradu saling mendekat seakan hendak bergandengan. “Bentar, deh. Aren’t we talking about the Lee Sangwon right now?” Dia menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga dan menyambung, “Maksud gue, tuh, ya ampun minat banget. Siapa, sih, yang nggak mau?”
Obrolan itu lantas selesai begitu saja. Bersamaan dengan tertelannya bakso terakhir di mangkuk Zoa dan helaan kelewat lega yang serentak mengelupas topik obrolan sebelumnya. Memaksa perempuan berambut merah terang sepundak itu bangkit dan berderap meninggalkan kantin lebih dulu setelah tahu dosen kesayangan yang cuma berkenan balas chat sepekan sekali akhirnya bisa ditemui setelah jam makan siang buat bimbingan.
Kenyataannya, Zoa hampir selalu benar dalam banyak hal — tapi nggak ada jaminan dia juga benar dalam hal ini. Persekusi sepihak Zoa tentang adanya gandrung pada ikon Fakultas Ekonomi dan Bisnis itu terdengar mengganjal, mau dilihat dari sisi manapun.
Bukan karena aku lagi berusaha denial seperti yang selalu dilabelkan Zoa selama ini, demi apapun nggak begitu. Aku mengakui sepenuhnya kok sosok Sangwon dan pengaruh ugal-ugalannya di manapun dia berada sekarang. Cuma — sebentar, bagaimana harus disebutnya perasaan kayak gini. Aneh, deh, pokoknya. Seluruh isi kepala seolah nggak pernah stop memberondong impuls untuk nggak pernah menyumbang perhatian pada laki-laki itu. Padahal aku tahu Sangwon bukan orang berbahaya.
“Miss girl, I believe avoiding and pretending to give no fuck about him ain’t gonna fly. Drop the act, OK?” Di hari lain, Zoa kembali bersabda. Menyerang secara membabi buta setelah sosok yang jadi bahan pembicaraan tampak melintas di antara halaman berumput sintetis dan beringin kampus, jalan agak tergesa keluar perpustakaan sembari menenteng laptop dalam posisi terbuka di tangan kiri. “You can’t keep backing away as if you aren’t into him.”
“I am.”
Zoa menghela pendek. “Naksir Sangwon nggak bikin lo mendadak jadi cewek gampangan, please?” Dia menambahkan dalam nada bicara hampir merengek, “Lagipula apa salahnya, sih, naksir Sangwon?”
Aku mengangguk saja. Bukan karena mengamini tuduhan sepihak yang diklaim Zoa, tapi tentang pernyataannya yang terakhir. Nggak ada yang salah perihal menama Sangwon sebagai salah satu alasan menerjang badai di Senin pagi tiap semester — ini ceritanya Zoa, aku cuma pinjam sebagai contoh. Pun, nggak ada yang keliru tentang kepala yang sigap menoleh jika dengar nama Lee Sangwon disebut — sekalipun tahu si pemilik nama mungkin nggak ada di tempat yang sama.
Nggak ada yang salah — sama sekali.
“I start to believe there’s something going on with you two behind my back.” Zoa melipat tangan di depan dada.
“Assume away.” Paragraf kelima sore ini. Cukup nggak produktif mengingat hampir dua jam sudah lewat sejak kata pertama diketik. Esai malang ini kayaknya bakal bernasib sama seperti tulisan lainnya; ditutup dalam keadaan belum beres dan baru dibuka kembali jelang deadline.
“Masa beneran, sih, lo nggak pernah ngobrol sama Sangwon?” tanya Zoa. Terlalu dekat, aku bisa merasakan napas hangat dari mulutnya menyapu telinga kanan.
“Like it’s some kind of accomplishment.”
“It indeed is, gila ya?” pekik Zoa histeris. Zoa dan obsesinya menjadikan Sangwon sebagai maskot andalan fakultas, betulan hampir nggak tertolong lagi. “Gimana bisa lo tahan buat nggak ngobrol sama Sangwon selama hampir empat tahun, dalam keadaan berkali-kali satu kelas, dan satu dosen pembimbing?”
Zoa meringsut makin dekat. Pudaknya sekarang betulan nggak berjarak.
“Dia belum bisa beneran hold the utmost crown of everyone’s that cannot be everyone’s kalo masih ada satu onggok manusia yang belum pernah ngobrol sama dia,” ujar Zoa, dia merangkul pundak. “Omong-omong, lo nggak naksir gue, kan?”
“First and foremost, not everyone’s after him, Zoa. Get a grip.”
“Tapi kan lo termasuk yang naksir berat.”
“Second of all,” — aku tepis tangannya dari bahu, mengabaikan selorohan nggak masuk akal yang nggak bakal bikin Zoa masuk surga itu mentah-mentah — “Belum ada waktu pas aja buat ngobrol. Lagian, mau ngobrolin apa? We both are like two similar poles of magnets.”
“I’ll flip the pole so you two can draw each other out.” Zoa memicingkan mata. “But seriously though, dari mana lo tau kalian beda kalo nggak pernah ngobrol?”
Memang nggak ada buku panduan ber-ISBN buat mengenal Lee Sangwon. Namun, faktanya, siapapun cuma perlu nongkrong di Galeri Fakultas kurang dari sejam untuk dapat hampir semua informasi tentang orang itu. Hiperbola, sih, memang, tapi kurang lebih begitu, deh. Informasi trivial yang seharusnya nggak mengganggu privasi Sangwon mudah ditemukan di fakultas. Entah dari celetukan orang-orang atau hasil dari bicara langsung dengan yang bersangkutan.
Aku kira, Zoa bakal berhenti kalau aku nggak menanggapi lagi. Rupanya nggak segampang itu. Sebab di detik setelahnya, Zoa kembali merangkul bahu, menyelipkan rambutku yang masih terlalu pendek buat dikuncir dan jatuh di sekitar telinga, sambil bilang, “Lo berdua bukan mantan yang lagi saling berusaha move on, kan?”
Oh.
