Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-08-30
Words:
5,613
Chapters:
1/1
Kudos:
7
Hits:
111

NOT A FATAL ACCIDENT

Summary:

Jaejoong tanpa sadar menyalakan siaran langsung pada akun Instagramnya. Siaran itu menampilkan dirinya dengan Yunho sedang bercumbu. Mereka tidak sadar sampai akhirnya Changmin mendatangi mereka.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Hujan membasahi jendela apartemen pinggir kota itu. Lampu-lampu memantul samar di kaca, berkilauan seperti butiran kristal.

Pintu utama apartemen terbuka perlahan. Dari dalam, terdengar langkah kaki. Kim Jaejoong baru saja tiba. Bahunya sedikit merosot, napasnya panjang dan berat pertanda lelah. Jas kasual yang dikenakan ia letakkan sembarangan di sandaran kursi. Handuk putih tergantung di bahunya, menandakan satu hal, ia ingin segera menenggelamkan diri ke dalam bak mandi hangat, melarutkan penat dari syuting seharian.

Namun, sebelum itu, ia menjatuhkan tubuhnya di sofa. Lampu ruangan menyinar lembut, memantulkan siluet wajahnya yang pucat. Ponsel di tangannya menyala, notifikasi Instagram tak pernah berhenti berdenting. Ia mengusap layar perlahan, membaca komentar penggemar yang menumpuk. Senyum tipis terbentuk, senyum rindu kepada para fans. Sejenak, hatinya menghangat.

Dengan jemari yang sedikit ragu, ia mengetuk ikon kamera di pojok layar, bersiap membuka siaran langsung. Mungkin malam ini aku bisa menyapa mereka sebentar, pikirnya.

Namun, tepat saat ikon "Live" hampir disentuh.

Klek.

Suara pintu terbuka memecah keheningan.

Jaejoong terlonjak, tubuhnya refleks menegang. Jantungnya berdegup kencang, darahnya serasa berhenti mengalir. Tatapannya langsung tertuju ke arah pintu. Suara langkah asing? Tidak. Mustahil. Tidak ada yang bisa masuk. Ia sendiri yang menyetel keamanan apartemen ini, pintu elektronik dengan kartu kunci khusus, tanpa celah, tanpa duplikat. Bahkan keluarganya tidak punya akses.

Trauma lama menghantam tiba-tiba. Ingatan akan fans obsesif yang pernah menerobos masuk menghantui kepalanya. Ia menggenggam ponsel erat-erat, hampir menjadikannya senjata. Hatinya berteriak. Tidak mungkin. Tidak ada yang bisa masuk. Lalu siapa?!

Lampu sensor koridor mendadak mati. Sunyi. Dan dari balik dinding, sesosok tubuh tinggi muncul.

"Yunho?" suara Jaejoong bergetar.

Lelaki itu berhenti, wajahnya muncul jelas di bawah cahaya lampu ruang tamu. Senyum samar terukir di bibirnya.

"Iya," jawabnya tenang, "ini aku."

Jaejoong masih belum bisa bernapas lega. Tangannya sedikit gemetar, wajahnya pucat pasi.

Yunho melangkah mendekat, gerakannya lembut, seolah tak ingin menambah rasa takut yang melingkupi ruangan itu. Ia duduk di samping Jaejoong, jarak mereka hanya sejengkal.

"Kau sakit?" Yunho menatapnya lekat, lalu mengangkat tangan, menyentuh dahi Jaejoong dengan punggung tangannya. "Wajahmu pucat sekali."

Jaejoong menelan ludah, suaranya lirih, hampir seperti bisikan, "Aku kira ada penyusup masuk."

Untuk pertama kalinya malam itu, Yunho menatapnya dalam-dalam. Ada rasa khawatir yang tak disembunyikan, tapi juga ada sesuatu yang lain, kehadiran yang hangat, kontras dengan ketakutan yang baru saja mencekam.


***

"Aku kira ada penyusup masuk."

Yunho menatapnya penuh pengertian. Ia tahu benar kondisi Jaejoong setelah berbagai kejadian yang hampir merenggut rasa aman dari hidupnya. Fans fanatik yang pernah menerobos masuk, melakukan hal-hal di luar nalar. Wajar bila trauma masih membekas dalam diri Jaejoong.

"Maaf, aku tidak memberimu kabar kalau ingin ke tempatmu. Kukira ada Jiho yang menemanimu."

Woo Jiho, atau Zico adalah sahabat yang sudah seperti adik sendiri bagi Jaejoong. Sosok yang sering menemani di apartemen ketika ia sendirian atau manajer sedang tidak ada.

"Bagaimana luka di kepalamu? Sudah kering?"

Tanpa menjawab panjang, Jaejoong menunduk dan meletakkan kepalanya di pangkuan Yunho. Gerakannya penuh pasrah, seolah hanya Yunho yang bisa memberinya ketenangan.

"Sudah," jawabnya lesu.

"Maaf tidak melihatmu lebih cepat ketika kau terluka." Jemari Yunho turun, membelai rambut Jaejoong dengan lembut, menelusuri helai demi helai, seakan ingin menyapu habis rasa sakit.

"Yunho."

"Hm?"

Jaejoong berbalik, kini terlentang, menatap lurus ke dalam mata Yunho. Dengan gerakan pelan namun penuh keyakinan, tangannya meraih belakang leher pria itu dan menariknya. Bibir mereka pun bertemu.

Ciuman itu ringan, sederhana. Waktu berjalan lambat—tiga puluh detik penuh, dan tidak ada tanda mereka ingin melepaskan. Nafas Jaejoong mulai terengah, tapi ia masih menahan Yunho, enggan kehilangan hangatnya. Hingga akhirnya, Yunho yang lebih dulu mundur, memberi ruang pada helaan napas sang kekasih.

"Kenapa bibirmu semakin terasa manis?" ucap Yunho lirih. Ibu jarinya mengusap lembut sudut bibir Jaejoong, menyeka jejak tipis saliva. Namun Jaejoong justru menggenggam jemari itu, menariknya, lalu mengecup manis, penuh goda.

"Kim Jaejoong...." suara Yunho merendah, hampir seperti desis.

Tawa lirih terdengar dari Jaejoong sebelum Yunho menangkup wajahnya, kembali menyambar bibir ranumnya. Kali ini ciuman mereka lebih dalam dan lebih liar. Sesekali Yunho menggigit lembut bibir atas dan bawahnya, sebelum lidah keduanya bertaut, saling tarik, saling mengulum. Segalanya larut, seolah dunia di luar berhenti berputar.

Tangan Yunho yang kekar menyusup ke balik pakaian Jaejoong, menelusuri kulit hangat itu. Satu gerakan penuh hasrat membuat Jaejoong terdesah, tubuhnya bergetar halus.

Dengan perlahan Jaejoong bangkit, lalu bergeser naik, menduduki pangkuan pria bermarga Jung itu. Kini sorot mata mereka sejajar, intens, penuh cahaya yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua.

"Kau tahu, aku tidak pernah bosan merasakanmu, walau bertahun-tahun sudah berlalu," suara Jaejoong parau, serak namun dalam. Bibirnya segera menelusuri leher Yunho, meninggalkan kecupan-kecupan lembut yang berubah menjadi jejak hangat.

Yunho memejamkan mata, tenggelam dalam sensasi itu. Tangannya merangkul erat pinggang Jaejoong, lalu turun, menggenggam dengan kuat, seolah ingin memastikan bahwa pria itu benar-benar ada di pelukannya.

Kancing demi kancing kemeja Yunho mulai terbuka, satu per satu, dengan gerakan sensual yang perlahan. Jaejoong menatapnya tanpa berpaling, sorot matanya berkilau seperti api yang menyala dalam keheningan. Dan di depan tatapan itu, mata Yunho ikut bersinar, menerima setiap sentuhan, setiap tatapan, setiap napas yang mereka bagi.

Hening sejenak, namun penuh intensitas, sebuah keintiman yang tidak membutuhkan kata-kata.

***

"Mati aku!"

Sandwich yang sedang dikunyah Changmin nyaris menyangkut di tenggorokannya. Ia terbatuk keras, buru-buru meraih soda kaleng di meja dan menenggaknya tergesa-gesa. Suara istri di sampingnya yang bertanya "Ada apa?" sama sekali tidak ia hiraukan.

Ruang keluarga yang tadi hangat berubah tegang dalam sekejap. Televisi masih menyala dengan suara acara hiburan, tapi perhatian Changmin sepenuhnya tersedot pada ponsel di tangannya yang bergetar hebat. Notifikasi menumpuk tanpa henti, panggilan telepon dari manajer, dari Lee Sooman, bahkan Park Yoochun yang akhir-akhir ini sulit dihubungi, hingga Kim Junsu yang seharusnya sibuk dengan bisnisnya. Tidak cukup sampai di situ, nama Park Jungsoo dari grup lain juga ikut muncul.

Changmin membeku.

Beberapa menit sebelumnya ia hanya iseng sekadar menelusuri akun Instagram Kim Jaejoong. Hubungan mereka masih terjalin dengan baik meski tidak diumbar di publik. Changmin santai saja saat menekan foto profil Jaejoong, sampai ia sadar ikon merah "LIVE" sedang menyala.

Degupan jantungnya melonjak. Panik. Karena ia lupa, ia sedang memakai akun aslinya.

Seketika layar ponsel menampilkan sesuatu yang membuat tubuh Changmin kaku. Pandangannya membesar, darahnya seperti berhenti mengalir.

Di layar itu ada Jaejoong. Dan Yunho.

Keduanya jelas terlihat, tenggelam dalam adegan intim yang panas. Bibir mereka saling bertaut, tubuh bergeser, berpindah posisi. Setiap gerakan terekam langsung, dipertontonkan pada ribuan pasang mata.

"Ya Tuhan..." bisik Changmin, wajahnya pucat.

Ponselnya ia lemparkan ke lantai seolah benda itu beracun, seolah akan meledak kapan saja karena derasnya notifikasi yang masuk. Suara bergetar, histeris, lolos dari bibirnya:

"Jung Yunho! Kim Jaejoong! Apa yang kalian lakukan!"

Ruang tamu bergema oleh teriakannya, meski ia tahu kedua orang itu tak mungkin mendengar.

Changmin bangkit panik, tubuhnya kacau, pikiran melayang. Dengan gusar ia menyambar jaket yang tersampir di sofa. Sambil berjalan cepat menuju pintu, ia masih sempat melontarkan kalimat buru-buru pada istrinya,

"Aku sepertinya akan pulang larut. Ini bukan hal kecil. Kau bisa lihat di televisi atau internet, maka kau akan tahu apa yang sedang terjadi."

Tanpa menunggu jawaban, ia keluar rumah. Langkahnya terburu-buru, hampir berlari, napasnya tersengal. Keringat dingin mulai mengalir di pelipis meski malam udara tidak panas.

Changmin tahu betul ini gawat. Fatal. Selama bertahun-tahun mereka berhasil menjaga rahasia itu rapat-rapat, menahan segala kemungkinan bocor. Namun malam ini, dengan satu siaran langsung yang ceroboh, semuanya bisa runtuh dalam hitungan menit.

Dan lebih dari semua itu, ia tahu satu hal yang paling menakutkan.

Jika Yunho dan Jaejoong sudah larut dalam dunia mereka sendiri, bahkan suara dering ponsel yang tak ada habisnya tidak akan mampu menghentikan mereka.

***

Changmin hampir menabrak pintu pagar ketika ia mengerem mendadak. Mobilnya bahkan belum sempat diparkirkan dengan benar. Ia sudah lebih dulu keluar, pintu mobil dibiarkan terbuka, langkahnya setengah berlari menuju bel rumah Jaejoong.

Tangannya menekan tombol bel berulang kali. Ting tong. Ting tong. Ting tong. Suaranya menggema di malam yang sunyi.

Tak lama, penjaga rumah keluar. Lelaki paruh baya itu mengenali Changmin dengan segera. Namun kata-katanya membuat dada Changmin semakin sesak.

"Jaejoong-ssi tidak ada di rumah."

Changmin terpaku. Otaknya berhenti sepersekian detik. Napasnya tercekat.

"Dimana mereka?" tanyanya dengan suara rendah, nyaris mendesak.

Penjaga itu hanya diam, menggeleng pelan. Tanda bahwa ia juga tidak tahu.

Tanpa berkata banyak lagi, Changmin buru-buru pamit, lalu berlari kembali ke mobilnya. Pintu mobil terbanting.

Di balik kemudi, pikirannya berantakan. Ia meraih ponsel dengan tangan gemetar. Ikon merah di profil Jaejoong masih menyala. Siaran langsung itu masih berlangsung.

Ya Tuhan, sudah selama ini?

Jantung Changmin berdegup. Ia memaksa dirinya menekan siaran itu. Layar terbuka. Pandangannya terfokus.

Namun kali ini, hanya ruangan kosong. Tanpa Jaejoong. Tanpa Yunho.

Changmin mengembuskan napas lega setengah hati. Ada kemungkinan mereka pindah ke kamar, atau tempat lain. Tapi ponsel Jaejoong masih menyala, masih merekam, masih menyiarkan. Itu berarti ada kemungkinan adegan panas tadi tidak terekam. Namun ketidakpastian justru semakin menyesakkan dadanya.

Mereka dimana sekarang?!

Lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu. Zico.

Tanpa ragu, jari panjangnya menekan kontak. Nada sambung terdengar.

"Hallo? Hyung?" Suara Zico masuk, samar, dengan latar musik keras. Dari bunyinya, jelas ia sedang berada di sebuah klub.

Changmin langsung memburu, tanpa basa-basi. "Kau tahu dimana apartemen Jaejoong?"

Zico sempat terdiam sejenak. "Ada apa, hyung?"

Suara bass musik di belakangnya semakin keras. Zico tidak paham. Tidak sadar apa yang sedang terjadi.

"Dimana alamat apartemen Jaejoong? Tolong menjauh dari keributan sebentar saja. Aku harus bicara denganmu," desak Changmin.

"Oh, sebentar."

Beberapa detik terasa seperti menit. Changmin mengetukkan jarinya ke setir, wajahnya penuh amarah bercampur panik.

"Hyung, aku sudah di toilet. Ada apa?" suara Zico kembali, lebih jelas kali ini.

"Aku butuh alamat apartemen Jaejoong. Kau belum tahu apa yang terjadi?"

"Ada apa? Aku akan mengirimkan alamatnya padamu. Tunggu sebentar."

"Cepat!" suara Changmin meninggi, penuh tekanan. "Aku sekarang di depan rumah Jaejoong. Tapi mereka tidak ada di sini. Aku bahkan baru sadar tempat mereka tadi berbeda dengan rumah ini."

"ASTAGA!" teriakan Zico membuat Changmin menjauhkan ponsel dari telinga.

"Kau sudah tahu sekarang keributan apa yang sedang terjadi," Changmin mendesis.

"Hyung! Aku sudah kirim alamatnya. Tapi pintunya tidak ada sandi angka, hanya kartu. Aku punya kartunya. Aku juga akan kesana. Tapi lokasiku lumayan jauh. Tunggu aku!"

Changmin memejamkan mata, kepalanya menunduk ke setir. Dada naik-turun cepat, seolah udara menolak masuk.

"Baiklah," jawabnya lirih, sebelum kembali menginjak gas, melaju ke arah yang baru saja dikirimkan Zico.

***


Changmin akhirnya tiba di basement parkiran. Mobilnya berhenti mendadak di salah satu slot kosong. Tangannya langsung meraih ponsel dan mengirim pesan singkat pada Zico.

"Aku sudah di parkiran. Mobilku warna putih."

Alamat apartemen yang baru saja dikirim Zico ternyata cukup jauh dari pusat kota Seoul. Baru kali ini Changmin tahu ada tempat seperti ini. Apartemen sederhana tidak terlalu mewah, tidak terlalu besar, juga tidak seramai gedung-gedung pusat kota. Lingkungannya tenang, tertata rapi, jauh dari hiruk-pikuk metropolitan.

Namun justru itu yang membuat Changmin semakin tegang.

Ia menatap sekeliling parkiran basement yang sepi. Cahaya lampu memantul di lantai semen. Beberapa mobil terparkir rapi, tapi tidak satu pun yang dikenali sebagai milik Yunho.

"Hyung naik taksi kesini?" gumamnya lirih, hampir seperti bicara pada diri sendiri. Rahangnya mengeras. "Mereka benar-benar luar biasa dalam bertindak diam-diam. Tapi satu hal bodoh berhasil menghancurkan semuanya."

Ponselnya kembali ia cek. Ikon merah "LIVE" di profil Jaejoong masih menyala. Siaran itu belum berhenti. Changmin menahan napas saat membuka tayangan.

Kamera diam. Masih menampilkan ruangan kosong—hanya dinding dan sofa. Tidak ada sosok Jaejoong. Tidak ada Yunho.

Meski sedikit lega, pandangan Changmin terpaku pada jumlah penonton yang terus meroket. Lima juta.

Kolom komentar membanjiri layar, bergerak terlalu cepat untuk dibaca satu per satu. Ada yang menuliskan pujian, ada yang bertanya, ada yang berspekulasi dalam berbagai bahasa. Beberapa bisa dipahaminya, sebagian lain asing saat ia baca. Semuanya menambah denyut panik yang menggedor kepala.

Menit-menit berikutnya terasa panjang, penuh kegelisahan. Changmin duduk di balik kemudi, jemarinya mengetuk setir tanpa sadar, matanya terus menatap arah pintu masuk parkiran.

Lalu—tok tok.

Ketukan di jendela mobil membuatnya tersentak. Ia menoleh cepat.

Zico berdiri di sana, napasnya sedikit terengah, wajahnya tegang.

 

***

 


"Ponselku di mana?"

Jaejoong merogoh sisi ranjang, matanya menoleh ke nakas samping. Kosong. Tidak ada benda persegi yang ia cari.

"Dimana ponselku?" ulangnya.

Ia menyingkap selimut, berniat turun dari ranjang dan mencarinya keluar kamar. Namun sebuah tarikan lembut menahannya.

Yunho.

Tangannya menggenggam lengan Jaejoong, menariknya kembali ke dalam pelukan hangat. Selimut kembali membungkus keduanya. Yunho mendekap erat, sesekali mengecup puncak kepala Jaejoong.

Tubuh mereka masih basah oleh keringat. Baru saja selesai dengan aktivitas yang membakar tenaga. Nafas mereka belum sepenuhnya stabil.

Jaejoong akhirnya menyerah. Ia membalas pelukan Yunho, kedua lengannya melingkari tubuh kekar yang begitu akrab dengannya.

"Rasanya aku ingin berhenti jadi artis," bisik Yunho lirih. "Agar bisa hidup normal bersamamu."

"Hidup normal..." Jaejoong mengulang, nadanya ragu.

"Tidur bersamamu, lalu bangun pagi menatap wajahmu. Jalan-jalan sambil bergandengan tangan. Tanpa peduli apa kata orang."

Jaejoong terdiam sesaat, lalu berujar pelan, "Tapi citra artis sudah melekat pada kita."

"Aku tahu."

"Kita mendambakan yang disebut 'normal'. Bekerja kantoran, buka usaha, bebas memilih pasangan hidup. Tapi... di luar sana, ada jutaan orang yang justru mendambakan kehidupan kita sebagai artis."

Tatapan Jaejoong menerawang. "Ingatlah tujuanmu sejak awal, Yunho. Kau sudah bekerja keras sampai berada di titik ini. Kau bisa menginginkan hidup sederhana hanya karena, kau sudah punya segalanya."

Yunho menghela napas panjang. Mereka sudah terlalu sering membicarakan hal ini. Ribuan kali. Sejak memutuskan bersama, pikirannya selalu kembali pada satu hal: ingin hidup normal dengan Jaejoong. Ingin dunia melihat mereka apa adanya.

TING TONG!

Bunyi bel memecah keheningan.

Jaejoong hampir terlonjak. Matanya melirik jam digital di atas nakas. 23.00.

"Zico?" pikirnya cepat. Tapi mustahil. Terakhir, Zico bilang ia sedang di klub.

"Siapa itu?" Yunho ikut penasaran. Ia tahu, tak mungkin ada tamu malam-malam begini.

"Kau pesan makanan?" tanya Jaejoong sambil meraih kimono handuk.

"Tidak."

Yunho buru-buru mengenakan celana dari lantai, merogoh saku, lalu menarik ponselnya.

Layar menyala, puluhan panggilan tak terjawab. Nama yang sama berulang kali.

Changmin.

Yunho tertegun. Ia angkat panggilan itu.

"Hyung!" suara Changmin melengking, membuat Yunho refleks menjauhkan ponsel dari telinga.

"Ada apa?"

"Aku di depan apartemen Jaejoong, bersama Zico! Siaran Live Instagram Jaejoong masih menyala dan menampilkan kalian berdua!"

Mata Yunho membelalak. Detik itu juga tanpa banyak bicara, ia berlari keluar kamar.

"Yunho?" Jaejoong kebingungan, mengikuti langkah cepat kekasihnya.

Begitu tiba di ruang tengah, Yunho langsung menyapu pandangan ke sekeliling. Sofa. Meja. Dinding. Lalu ponsel Jaejoong.

Benda itu tergeletak begitu saja. Kamera menyala, lampu indikator kecil berkilat merah.

Jantung Yunho berdegup kencang. Ia meraihnya, lalu cepat-cepat mematikan siaran, berusaha menghindari wajahnya agar tidak lagi tertangkap kamera.

Tangannya gemetar. Nafasnya berat. Namun ia memaksa tenang, menoleh ke belakang.

Jaejoong berdiri di sana, dengan tatapan bingung.

Yunho mendekat, menggenggam tangannya erat. "Semua akan baik-baik saja."

"Ada apa, Yunho?" suara Jaejoong lirih, penuh tanda tanya.

Bukannya menjawab, Yunho menariknya ke dalam pelukan.

TING TONG!

Bel berbunyi lagi. Yunho tersentak. Ia hampir lupa—Changmin dan Zico sedang menunggu di depan pintu.

Dengan langkah cepat, ia membukakan pintu.

"Hyung!" suara Changmin kembali melengking.

Jaejoong tertegun. Yang berdiri di ambang pintu memang benar Changmin. Tapi tidak hanya dia, Zico pun ikut hadir.

Tubuh Jaejoong menegang. Ia memang masih berhubungan baik dengan Changmin, tapi sekedar lewat SNS atau chat. Mereka jarang sekali bertemu. Bahkan dengan Junsu pun ia sudah hampir tak pernah bertemu.

"Sebenarnya ada apa?" tanya Jaejoong lagi, kali ini suaranya lebih tegas, sadar ada sesuatu yang tidak beres.

***

Malam itu, keempatnya sudah duduk di sofa ruang tamu.

Baik Yunho maupun Jaejoong kini berpakaian rapi seadanya, mencoba menyembunyikan kepanikan yang masih melekat di wajah masing-masing.

Suasana apartemen begitu hening, hanya suara pendingin ruangan yang terdengar. Changmin dan Zico sudah menjelaskan semuanya, siaran langsung, jutaan penonton, dan bagaimana dunia luar kini sedang gaduh.

Jaejoong nyaris pingsan ketika mendengarnya. Tubuhnya dan wajahnya pucat. Ia tidak menyangka kecerobohannya bisa berbuah sebesar ini.

Sekarang ia duduk dengan tablet di pangkuan, jari-jarinya gemetar menyapu layar. Sesekali ia membuka portal berita, lalu beralih ke email, mengkhawatirkan bisnisnya, kontrak, dan brand yang bisa saja terdampak. Tatapannya gelisah, napasnya tersengal.

Sementara tiga lelaki lain hanya diam. Menunggu Jaejoong bersuara.

Akhirnya, ia berujar lirih, tapi tegas, "Sepertinya keinginan Jung Yunho akan terkabul."

Alis Yunho terangkat. "Maksudmu?"

Jaejoong menatap layar tablet, lalu menutupnya perlahan. "Kita harus mengadakan konferensi pers. Entah untuk mengklarifikasi, atau untuk mengakui semuanya. Kalau tidak, mundur sekalian dari dunia entertain."

Ucapannya menggantung di udara.

Yunho tidak langsung menjawab. Tatapannya dalam, rahangnya mengeras. Ia sedang berpikir keras.

"Yunho," Jaejoong melanjutkan, suaranya bergetar. "Aku siap. Kalau harus meninggalkan panggung yang sudah membesarkan namaku...aku siap. Tapi selama ini aku hanya memikirkan dirimu. Aku tahu, ucapanmu tentang hidup normal hanya sebatas kata-kata. Kau belum benar-benar siap meninggalkan semuanya."

"Aku siap." Yunho pun menjawab dengan tegas, tanpa ragu.

Jaejoong menatapnya tercengang. "Pikirkan keluargamu. Ayah, ibu, adikmu—"

"Apalagi yang harus aku pikirkan?" potong Yunho, suaranya meninggi. "Ini sudah terjadi, Jaejoong! Satu dunia sudah tahu! Detik ini keluargaku pasti sudah tahu!"

Bentakan itu membuat Jaejoong terdiam. Matanya melebar, napasnya tercekat.

"Jaejoong," Yunho melanjutkan, nadanya tajam, "kau selalu bilang 'siap' tapi menundanya demi aku. Bohong! Kau lah yang belum siap kalau harus membuka semua ini ke publik!"

Kata-kata itu menghantam telak. Jaejoong menunduk, terdiam. Ia menelan ludah, hatinya terasa dirobek. Pertanyaan berputar di kepalanya, benarkah dirinya yang sebenarnya tak siap?

Matanya memerah. Air bening mulai menggenang di pelupuknya. Yunho segera menyesal telah meninggikan suara, namun lidahnya terlalu pahit untuk menarik kembali ucapannya.

Changmin akhirnya bersuara, mencoba menengahi. "Hyung... bagaimana kalau kita ke kantor? Konsultasi dulu dengan tim yang mengerti. Jangan putuskan apa-apa sekarang."

Yunho terdiam, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Aku tidak mau gegabah."

Ia bersiap berdiri. Namun langkahnya terhenti ketika Jaejoong bersuara dingin, tanpa menatapnya. "Pergilah. Semua memang keputusanmu saja."

Ucapan itu membuat ruangan kembali menegang.

Yunho menghela napas. "Keputusanku? Perlu aku sebutkan bagaimana keputusan sepihakmu di masa lalu, Kim Jaejoong? Dan sekarang semua ini terjadi karena kecerobohanmu sendiri!"

"Hyung, cukup!" Zico segera bergerak, duduk di samping Jaejoong, tangannya menggenggam erat jemari sang hyung yang bergetar. Ia tahu, jika ini diteruskan, mereka akan benar-benar bertengkar.

Namun Jaejoong tidak mampu menahan air matanya. 

"Kenapa harus bertengkar?" suaranya pecah, lirih. "Kenapa... saat ini juga?" Zico menunduk, hatinya ikut perih.

Changmin menepuk dahinya keras, frustrasi. "Hyung, kita harus ke kantor. Aku akan telepon tim legal sekarang juga. Jangan tambah masalah."

Tapi Jaejoong sudah berdiri. Matanya masih berkaca-kaca, namun suaranya terdengar dingin. "Pergilah kalian semua."

Ia berbalik dan melangkah keluar ruangan, meninggalkan ketiga lelaki di ruang tamu.

Zico buru-buru menyusul, khawatir Jaejoong makin hancur sendirian. Sementara di sofa, Yunho terdiam dengan wajah muram, dan Changmin hanya bisa menghela napas berat, frustrasi, karena masalah besar ini justru memperlihatkan luka lama yang belum sembuh di antara mereka.

Pintu kamar tertutup keras setelah Jaejoong masuk ke dalam, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di ruang tamu.

Changmin menatap Yunho tajam, napasnya berat menahan emosi. Suasana seolah menekan dari segala arah.

"Hyung..." suara Changmin serak, namun tajam. "Apa yang barusan kau lakukan?"

Yunho tidak menjawab. Ia duduk di sofa, kedua tangannya menutupi wajahnya, seakan berusaha menahan ledakan dari dalam dirinya sendiri.

Changmin melangkah maju, berdiri di hadapan Yunho. "Kau sadar tidak? Bukannya meredakan, kau justru memperparah semuanya. Hyung... kau baru saja menghancurkan orang yang paling ingin kau lindungi."

Yunho mendongak, matanya merah, rahangnya masih tegang. "Kau pikir aku tidak tahu? Kau pikir aku tidak menyesal?"

Changmin menahan napas sejenak, lalu menunduk, menatap Yunho lurus tanpa goyah, "Menyesal tidak ada artinya kalau kata-kata yang kau lontarkan sudah menusuk lebih dalam dari masalah itu sendiri."

Yunho mengepalkan tangan di atas pahanya. "Aku hanya... aku hanya tidak bisa diam melihat dia selalu menunda. Aku ingin kita keluar dari semua ini, Min!"

Changmin menatapnya dengan getir. "Lalu caramu adalah dengan mengungkit masa lalu? Menuduhnya tidak siap? Hyung, dengarkan aku baik-baik, dari semua orang di dunia ini, hanya kau satu-satunya tempat Jaejoong hyung merasa aman. Dan barusan, kau yang merobohkan pertahanan terakhirnya."

Kata-kata Changmin menggantung di udara, menohok keras.

Yunho terdiam. Napasnya tercekat, dadanya terasa semakin berat.

Changmin melanjutkan, suaranya lebih dalam. "Kalau kau benar-benar ingin hidup normal bersamanya, mulai dari sini, sekarang. Kau harus jadi orang yang paling kuat, bukan yang paling menyakitinya."

Yunho menutup mata, meremas rambutnya sendiri. Ia tahu Changmin benar. Tapi luka di hatinya sendiri, ketakutan, dan tekanan yang menumpuk membuatnya kehilangan kendali.

Changmin menarik napas panjang, lalu melangkah mundur. "Aku akan telepon tim legal. Tapi, hyung, kalau kau terus begini, yang kau perjuangkan akan hilang. Bukan hanya karier, tapi juga dia."

Yunho menunduk dalam, diam membisu. Sejenak ia terlihat lebih hancur daripada siapa pun di ruangan itu.

***

Jaejoong terisak keras, tangannya menutupi wajah yang memerah. Nafasnya tersengal, sementara dadanya naik turun tak terkendali.

"Hyung..." Zico kembali berjongkok di depannya, menatap dalam-dalam ke arah Jaejoong. Ada rasa takut di mata Zico, takut melihat sosok yang selalu ia kagumi justru terlihat begitu rapuh malam ini.

"Aku hanya ingin Yunho menemaniku saat ini." suara Jaejoong pecah, bergetar. "Kenapa dia malah menyerangku dengan kata-kata seperti itu?"

"Karena dia juga takut, hyung." Zico menepuk lembut tangan Jaejoong, mencoba menurunkannya dari wajah. "Kau tahu bagaimana Yunho hyung, dia keras pada orang lain, tapi seribu kali lebih keras pada dirinya sendiri."

Jaejoong menggeleng pelan. "Tapi, kata-katanya barusan seperti menelanjangiku. Membuka semua yang berusaha kututupi bahkan dari diriku sendiri." Ia menunduk, suaranya nyaris berbisik, "Apa benar akulah yang belum siap? Akulah yang selalu menarik mundur langkahnya? Aku yang menjadi beban dalam hubungan ini?"

Air mata kembali jatuh, lebih deras dari sebelumnya.

"Kalau pun memang kau yang belum siap, apa alasanmu?" tanya Zico lirih, sengaja mendorong Jaejoong untuk menghadapi dirinya sendiri.

Hening. Jaejoong menahan nafas, tapi tak ada jawaban yang keluar. Hanya tatapan kosong ke lantai, matanya berair.

Zico mendesah, menggeleng kecewa, namun bukan pada Jaejoong, melainkan pada situasi yang menjerat mereka. "Lihat? Kau tidak bisa menjawabnya. Artinya bukan karena kau tidak siap, hyung. Bukan itu masalahnya."

Ia meraih kedua tangan Jaejoong, menggenggam erat. "Masalahnya, kalian berdua sama-sama hidup dengan topeng. Dunia tidak mengizinkan kalian untuk menjadi apa adanya. Kau takut merusak semua yang sudah kalian bangun. Yunho hyung takut kehilanganmu kalau ia terlalu memaksa. Jadi kalian terus terjebak di antara dua ketakutan itu."

Tangisan Jaejoong mulai mereda, tapi matanya masih merah, pandangannya kacau.

"Zico," suaranya pelan, hampir bergetar. "Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan untuk mereka? Untuk Yunho, untuk Changmin."

Zico terdiam sesaat, wajahnya ikut menegang. Ia bisa merasakan betapa terhimpitnya Jaejoong, seolah di ujung jurang.

"Aku takut," bisik Jaejoong lagi, nadanya semakin putus asa. "Kalau aku melangkah, aku menghancurkan karier Yunho. Kalau aku diam, aku menghancurkan hatinya. Aku tidak tahu lagi jalan mana yang benar."

Zico menatapnya lama, menimbang kata-kata yang akan keluar. "Hyung, mungkin tidak ada jalan yang benar. Tapi ada jalan yang bisa kalian pilih bersama. Bukan sendiri-sendiri, bukan saling menyalahkan."

Jaejoong menatap balik, matanya bergetar menahan air mata baru. "Bersama?"

"Ya." Zico mengangguk tegas. "Kalau sekarang kau ingin melakukan sesuatu untuk mereka, lakukan untuk dirimu juga. Jangan mengambil keputusan hanya karena rasa bersalah. Ambillah karena itu yang benar-benar kau mau. Kalau tidak, kalian akan menyesal seumur hidup."

Jaejoong terdiam. Kalimat Zico menusuk dalam. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar dihadapkan pada pilihan yang buram. Apakah ia akan terus bersembunyi, atau berani menanggung semua konsekuensi demi mereka?

***

Dengan langkah tergesa, Yunho keluar dari lift, napasnya memburu. Changmin mengikuti dari belakang. Begitu pintu basement terbuka, aroma oli bercampur debu menyergap. Yunho langsung mengedarkan pandangan, mencari sesuatu di antara deretan mobil.

Matanya berhenti pada mobil putih milik Changmin. Tanpa pikir panjang, ia melangkah cepat ke sana.

Changmin menangkap kegusaran itu, segera merogoh saku celana, lalu mengeluarkan kunci. Dalam satu gerakan, lampu hazard menyala. Mereka masuk hampir bersamaan, Changmin ke kursi kemudi, Yunho menjatuhkan diri di bangku penumpang.

"Kau tidak membawa mobil, hyung," suara Changmin terdengar datar, lebih mirip pernyataan daripada pertanyaan.

"Aku selalu naik bus kalau ke sini."

Changmin menoleh singkat, alisnya terangkat. "Bus? Dari sejauh itu? Tidak ada yang mengenalimu?"

Yunho hanya menggeleng, pendek dan berat. Sorot matanya kosong, wajahnya diliputi kegelisahan. Keningnya berkerut dalam, seakan ratusan pikiran berdesakan sekaligus.

"Hyung," Changmin menekan pedal gas setelah menyalakan mesin, suara mesin meraung halus di ruang bawah tanah. "Kau yakin pergi begitu saja meninggalkan Jaejoong hyung? Dia sedang kalut."

"Ada Zico. Dia bisa menenangkan Jaejoong," jawab Yunho cepat, nyaris terdengar seperti pembelaan diri. "Masalah ini lebih darurat, Changmin. Aku bahkan tidak berani melihat ponsel. Ayah ibuku pasti sudah tahu, terlebih Jihye."

Changmin tidak menanggapi, hanya menekan pedal gas lebih dalam. Mobil melaju meninggalkan basement, lampu-lampu neon berganti bayangan jalanan kota. Dalam kecepatan penuh, hanya bunyi mesin dan helaan napas berat Yunho yang mengisi kabin.

Mereka tahu waktu kini menjadi musuh terbesar.

***

 

Begitu Yunho dan Changmin tiba di kantor, mereka langsung menuju lantai tiga dengan langkah tergesa. Lift terbuka, keduanya melangkah cepat melewati lorong panjang yang sunyi. Di ujung lorong, cahaya dari ruang rapat besar terlihat terang tanda semua orang sudah menunggu.

Changmin sempat melirik Yunho. Wajah hyung-nya pucat, napas pendek-pendek, namun matanya dipenuhi tekad.

Saat pintu ruang rapat dibuka, napas Yunho tercekat. Ruangan itu penuh sesak. Jajaran direksi, para petinggi agensi, tim legal, semua hadir malam itu. Wajah mereka tegang, atmosfer menekan. Yunho segera sadar, ini bukan lagi sekadar masalah pribadi. Ini sudah menyangkut nyawa perusahaan.

Mereka berdua duduk di kursi yang disediakan. Tak lama, salah satu juru bicara tim legal, Choi Seok Joo, berdiri. Suaranya berat, datar, tanpa basa-basi.

"Selamat malam semuanya. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada pihak yang hadir, saya akan langsung ke inti. Besok pagi, Jung Yunho harus mengadakan konferensi pers. Dan pernyataan yang akan disampaikan adalah: Jung Yunho dan Kim Jaejoong tidak memiliki hubungan serius. Semua hanya bersenang-senang sesaat."

Changmin membeku. Matanya membelalak, jari-jarinya mengepal di pangkuan. Ia hampir bersuara, tapi menahan diri ketika melihat Yunho memilih diam, menunduk dan menerima. Posisi Yunho jelas, adalah orang yang bersalah.

Choi Seok Joo melanjutkan, "Naskah pernyataan sudah kami siapkan. Setelah itu Yunho akan vakum satu tahun penuh. Publik biasanya akan melupakan. Lalu, ia bisa kembali sebagai solo, atau bersama Changmin lagi dalam grup."

Salah satu petinggi agensi bersuara, penuh keraguan. "Kalian yakin publik akan menerima alasan itu? Bahwa semuanya hanya sesaat?"

"Kami sangat yakin," jawab Seok Joo tanpa ragu.

Tiba-tiba, suara berat Kim Youngmin, direktur perusahaan, memecah keheningan. "Jung Yunho. Kau tahu apa akibat dari semua ini?"

Yunho mengangguk lemah, tanpa bersuara.

"Aku tidak pernah melarangmu berpacaran dengan Kim Jaejoong," lanjut Youngmin. "Yang kuminta hanya satu, hati-hati. Tapi malam ini? Siaran langsung? Itu pengakuan terang-terangan. Tidak ada ruang untuk mengelak."

Kata-kata itu menjadi pemantik. Suara-suara lain menyusul, ricuh, bertumpuk, bagai palu yang menghantam bertubi-tubi.

"Kau sudah tahu mereka berpacaran?"

"Itu melanggar aturan!"

"Kalau junior saja dilarang pacaran, kenapa dia boleh?"

"Ini skandal terbesar sepanjang sejarah agensi!"

Yunho memejamkan mata. Suara-suara itu berubah menjadi dengungan tajam, memekakkan telinga. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Kepalanya berdenyut, sementara ruangan terasa berputar.

Hingga sebuah suara menusuk. Park Jun Young, salah satu dewan, bertanya tajam, "Jung Yunho, sudah berapa lama kau berpacaran dengan Kim Jaejoong?"

Yunho menarik napas panjang. Suaranya parau saat menjawab, "Tujuh..."

"Tujuh tahun?"

Yunho membuka mata, menatap kosong ke depan. "... Tujuh belas tahun."

Ruangan seketika meledak. Semua bersuara bersamaan—gumaman tak percaya, protes, tudingan.

"Yang benar saja!"

"Selama itu tidak ada yang tahu?"

"Pasti ada pihak yang dibungkam!"

"Kalian pikir bisa menyembunyikan ini selamanya?"

Kekacauan semakin mengguncang. Yunho menunduk, sadar sepenuhnya bahwa ini bukan lagi tentang dirinya dan Jaejoong. Ini menyangkut saham, sponsor, kontrak, dan nyawa agensi.

Akhirnya, dengan tubuh gemetar, Yunho berdiri. Suaranya pecah tapi tegas.

"Aku minta maaf atas semua yang terjadi malam ini. Aku akan bertanggung jawab. Aku akan mengikuti semua arahan tim legal. Bila ada kerugian materi, aku akan mengganti penuh. Aku akan menyelesaikan sisa kontrakku, apapun resikonya."

Ia membungkuk dalam, lama, hingga hening menyelimuti ruangan.

Di sebelahnya, Changmin hanya bisa mengusap wajah dengan kasar, frustrasi. Rahangnya mengeras. Semua ini hanya karena satu kecerobohan.

***


Zico baru saja menutup telepon, wajahnya terlihat canggung. Di sampingnya, Jaejoong duduk kaku di sofa dengan jemari terus-menerus menggigiti kuku. Mata indahnya bergerak gelisah.

"Apa kata Changmin?" tanya Jaejoong, suaranya rendah, tanpa menoleh.

"Besok pagi Yunho hyung akan mengadakan konferensi pers, lalu vakum satu tahun. Dia akan mengatakan kalau tidak ada hubungan serius di antara kalian. Hanya bersenang-senang sesaat."

Suasana ruangan mendadak hening. Zico menelan ludah, menambahkan, "Hyung, kau tidak apa-apa?"

Jaejoong tersenyum kecut, matanya berkaca-kaca. "Aku baik-baik saja. Aku tahu Yunho mempertimbangkan banyak hal. Perusahaan, keluarga, reputasi. Tapi aku berbeda. Aku tidak punya apa pun untuk direlakan kecuali Jung Yunho. Aku hanya memiliki dirinya. Seluruh hidupku, miliknya."

Zico tercekat mendengar pengakuan itu. Ia tahu, cinta yang Jaejoong simpan selama bertahun-tahun bukan sekadar perasaan, itu adalah napasnya.

Lalu, tiba-tiba Jaejoong menoleh, tatapan matanya kini tegas meski masih basah air mata.
"Zico, aku punya ide."

"Hyung?"

"Aku akan ikut dalam konferensi pers besok."

Zico membelalakkan mata. "Kau gila? Itu rapat internal agensi, bukan tempatmu. Yunho hyung—"

"Justru itu," potong Jaejoong, suaranya bergetar tapi penuh keyakinan. "Aku tidak bisa lagi duduk diam, membiarkan Yunho menanggung semuanya sendiri. Selama ini aku selalu bilang siap, tapi aku bersembunyi di balik ketakutanku. Cukup sudah. Jika dunia harus tahu, biarlah mereka mendengar langsung dariku. Aku ingin berdiri di samping Yunho, bukan di belakangnya."

Zico terdiam. Hatinya berdebar mendengar tekad Jaejoong.

"Hubungi Changmin," lanjut Jaejoong dengan nada perintah yang jarang keluar dari mulutnya. "Katakan padanya, atur agar aku bisa hadir di konferensi pers. Entah bagaimana caranya, aku tidak peduli. Aku harus ada di sana."

"Hyung..." suara Zico lirih, campuran khawatir dan kagum.

Jaejoong menghela napas panjang, lalu menyeka sisa air mata di pipinya. "Zico, selama ini aku pikir aku melindungi Yunho dengan diam. Tapi ternyata aku hanya melukai dia. Besok, aku tidak akan lari lagi. Aku akan melindunginya, bahkan jika dunia menolak kami."

Tatapan Jaejoong kini tidak lagi goyah. Ia seperti seseorang yang baru saja lahir kembali, siap menghadapi badai.

Zico hanya bisa menatapnya lekat-lekat, sebelum akhirnya mengangguk perlahan. "Baiklah, hyung, aku akan menghubungi Changmin."

***

Ruang konferensi malam itu penuh sesak. Wartawan dari berbagai media menjejali kursi dan lorong, kamera-kamera besar sudah dipasang, blitz berkilat tanpa henti. Suasana tegang, nyaris mencekik. Di barisan depan, jajaran direksi agensi dan tim legal duduk dengan wajah kaku.

Pintu samping terbuka. Jung Yunho melangkah masuk, diikuti Changmin di belakangnya. Blitz kamera langsung meledak, memotret setiap gerakan kecil mereka. Yunho duduk, namun kegelisahannya jelas terlihat, jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja, matanya berulang kali melirik kertas pidato yang sudah disiapkan.

Beberapa menit kemudian, juru bicara memberi kode. Yunho berdiri dan berjalan menuju podium. Semua mata menatapnya.

Di bawah cahaya lampu yang menyilaukan, Yunho menggenggam kertas itu erat-erat. Nafasnya memburu.

"Selamat malam," ia memulai, suaranya sedikit bergetar. "Aku seharusnya membaca pernyataan resmi dari agensi. Tentang rumor yang sedang beredar."

Ruangan sunyi. Puluhan kamera fokus padanya.

Namun mendadak, dengan satu gerakan tegas, Yunho merobek kertas itu di depan semua orang. Potongan kertas jatuh berhamburan ke lantai.

Suara desahan kaget terdengar serentak. Blitz kamera menyala lebih cepat, wartawan langsung riuh. Para direksi di barisan depan bangkit, wajah mereka pucat pasi.

Yunho menatap lurus ke arah kamera. "Aku tidak bisa lagi berbohong."

Keheningan pun mulai mencekam.

"Aku tidak akan berdiri di sini hanya untuk menutupi kebenaran. Fakta sebenarnya adalah aku mencintai Kim Jaejoong. Dan aku sudah bersamanya selama tujuh belas tahun."

Ruangan meledak. Wartawan menjerit bersamaan, kursi bergeseran, suara teriakan bercampur dengan kilatan kamera. Direksi berusaha berdiri dan memberi kode agar siaran live diputus, namun semuanya sudah terlambat.

Sementara itu di luar aula, Jaejoong yang bersiap masuk membeku di tempat. Niatnya semula hanya untuk hadir, berdiri bersama Yunho mengikuti naskah resmi yang disusun tim legal. Namun telinganya jelas mendengar pengakuan Yunho. Kata-kata itu menghantam hatinya. Matanya melebar, tubuhnya gemetar. Yunho... memilih kebenaran?

Tanpa sadar, air mata menetes di pipinya. Dengan langkah mantap, ia mendorong pintu aula hingga terbuka lebar. Suara pintu yang membentur dinding membuat semua kepala menoleh.

Yunho terpaku. Matanya membelalak begitu melihat Jaejoong berdiri di ambang pintu, wajahnya basah oleh air mata. Ia sama sekali tak menyangka Jaejoong akan muncul malam ini.

Sementara blitz kamera semakin brutal, Jaejoong melangkah ke panggung. Langkahnya cepat tapi matanya tak lepas dari Yunho, antara kaget, marah, dan terharu.

"Yunho..." suara Jaejoong pecah saat ia tiba di sisinya. "Kau... kau benar-benar mengatakan itu?"

Yunho masih gemetar, menjawab dengan lirih tapi tegas, "Aku tidak bisa lagi bersembunyi, Jaejoong."

Keheningan sesaat, lalu Jaejoong menarik napas panjang, menoleh ke arah wartawan.

"Kalau Yunho berani berkata jujur malam ini, maka aku pun tidak akan bersembunyi lagi. Apa pun akibatnya, kami akan menanggungnya bersama."

Ruangan kembali pecah. Direksi berteriak panik, wartawan saling berebut mic, kamera menyorot tanpa henti. Tapi di tengah gemuruh itu, Yunho dan Jaejoong saling menatap, terkejut, tak percaya keduanya sama-sama melangkah sejauh ini.

Perlahan, Yunho mengulurkan tangannya. Jaejoong meraih tanpa ragu.

Kamera menangkap momen itu.

Dua pria, berdiri di panggung, terkejut akan keberanian masing-masing, namun akhirnya menggenggam tangan, menentang dunia bersama.

Malam itu, karier mereka mungkin runtuh. Agensi mungkin hancur. Publik bisa saja menghujat.
Tapi untuk pertama kalinya, mereka tahu bahwa kebenaran akhirnya keluar, dan mereka tidak lagi sendirian.

Epilog

Keesokan harinya, berita tentang Yunho dan Jaejoong memenuhi seluruh portal media.

Judul-judul besar terpampang:

"Skandal atau Revolusi? Jung Yunho Akui Hubungan 17 Tahun dengan Kim Jaejoong"

"Konferensi Pers Paling Mengejutkan dalam Sejarah Industri Hiburan Korea"

"Cinta yang Melawan Dunia"

Media sosial meledak. Tagar nama mereka mendominasi trending topic global. Ada yang menghujat, menuduh mereka merusak citra idola, ada yang marah, menuntut kontrak dibatalkan. Namun di sisi lain, dukungan mengalir deras. Fans dari seluruh dunia mengunggah pesan cinta, foto, dan video lama mereka, lalu mereka yang diam-diam selalu tahu, kini bersuara lantang.

"Kami mendukung kalian apa pun yang terjadi."

Di kantor agensi, suasana kacau. Para direksi bertengkar, saham merosot tajam di bursa. Namun anehnya, justru beberapa brand internasional menghubungi manajer mereka. Perusahaan-perusahaan luar negeri yang pro-LGBTQ mulai melihat Yunho dan Jaejoong sebagai simbol keberanian.

Di apartemen Jaejoong malam itu, mereka duduk berdua di balkon. Kota Seoul berkilau di kejauhan, tapi keheningan menyelimuti keduanya.

Yunho menggenggam tangan Jaejoong, suaranya lirih.

"Apapun yang terjadi mulai besok, kita akan menanggungnya bersama."

Jaejoong menoleh, matanya masih merah tapi penuh keteguhan.

"Aku lebih takut kehilanganmu daripada kehilangan dunia."

Yunho tersenyum tipis, lalu mendekapnya erat. Untuk pertama kalinya, beban bertahun-tahun itu runtuh.

Mereka tahu badai akan panjang, tapi malam ini, mereka sudah menang.

END

 

Notes:

HOLAAAA PARA YJs anaknya PapaBear dan MamaBooJae

Ini ff aku tulis pas kepala Jaejoong luka. Bahkan sekarang aku udah lupa, dulu itu kepala Jaejoong kenapa luka. Wkwkwk. Makanya ada adegan Yunho nanyain luka pala Jaejoong udh sembuh apa belom.

Terus, aku random pengen buat ff dengan plot begini. Bahkan waktu itu Changmin belum menikah. Tapi di ff ini udh aku edit, biar kerasa real. Wkwkwk

Ini bisa dijadikan very long story. Juga bisa stop sampai disini aja. Yang jelas aku ga janjikan apa-apa. Aku post ff ini krn rasanya sayang gitu mangkrak di draft.

Mau diganti ke cast lain juga pasti beda. Ngetik nya bayangin YunJae, bakal aneh di aku kalau diubah ke cast lain.

Akutuh punya kebiasaan jelek, buat banyak draft story dari banyak couple juga, tapi mandeg. Ujung2 nya aku diemin. Maka dari itu, daripada diem di draft mending aku abadikan disini. Siapa tau ada yang baca wkwk.

Xixi. Sekian dan terimakasih kalau ada yang baca.