Work Text:
Surat kabar yang tiba di depan rumah pagi itu serasa memanggil namamu. Biasanya seonggok kertas itu kamu ambil dan tumpuk di dalam lemari kertas hingga penuh dan dimakan rayap
Tapi hari itu kamu membukanya sambil duduk menyesap teh hangat.
BIRO JODOH.
JOHN PRICE
41 TAHUN
TENTARA
Inggris. Duda cerai mati. Ingin teman hidup.
KÖNIG
29 TAHUN
TENTARA (PROFESIONAL)
Inggris-Austria. Mencari istri yang setia dan hangat hatinya.
Kamu mengernyit membaca biro jodoh hari ini. Bapak Price yang sudah lama jadi langganan mencari istri masih belum kunjung menemukan pujaan hatinya, dan hari ini ketambahan satu orang lagi.
König. Tanpa foto. Sama-sama seorang tentara seperti Price, hanya saja dengan tambahan kata profesional dicetak tebal. Sepertinya dia ingin terlihat lebih mencolok daripada Price.
Kamu menimbang-nimbang seraya menurunkan koran, hanya ladang kosong sejauh mata memandang, ladang peninggalan orang tuamu. Kamu tidak cukup kuat (dan malas) untuk mengerjakan ladang itu sendiri. Rasa bosan dan takut hidup sendiri di tempat ini serasa menghantui.
Seharusnya mencari suasana baru tidaklah dosa kan?
Secarik kertas kosong di atas meja menjadi korban spontanitasmu hari itu. Kamu menulis surat berisi perkenalan diri singkat dan sedikit kalimat mengungkapkan betapa inginnya kamu mengenal pemuda itu lebih jauh. Betapa kamu ingin meninggalkan kehidupan desa yang membosankan. Betapa kamu ingin tau bagaimana rasanya berjalan di tengah kota dalam hiruk pikuk keramaian.
Hati kecilmu tidak berharap mendapat balasan surat apapun ketika menulis semuanya, hanya ingin melontarkan perasaan saja pada pemuda malang itu dengan menyemprotkan sedikit parfum kesayangan. Semuanya murni keisengan yang spontan.
Hingga suatu hari tukang pos datang dengan paket besar.
Kamu heran melihat barang sebesar itu kontras dengan koran harian pagi di sampingnya. Buru-buru kamu membukanya dengan gunting dan isinya di luar dugaan. Sebuah topi fedora berbulu burung, kain satin halus, sebuah foto dan secarik surat.
Kamu menatap lekat lekat foto itu, mendapati bahwa itu adalah foto sebuah resimen tentara berisi selusin orang. Salah satu kepalanya dilingkari dengan spidol warna putih dengan tulisan "Aku, König."
Hatimu tertegun melihat wajahnya bersembunyi di balik kain topeng hitam, kulitnya tertutup seluruhnya dengan seragam. Tidak seperti rekannya yang masih memamerkan tato lengan, luka di wajah, dan betis yang kekar. König sama sekali tidak menunjukkan sesenti permukaan tubuhnya kecuali mata yang menyala.
Puas memandang foto, kamu beralih ke surat.
"Dear, Fräulein. Terima kasih atas suratmu yang hangat menanggapi apa yang aku tulis di koran sebulan lalu. Aku menulis surat ini di negara [redacted] karena aku menerima suratmu sehari sebelum aku pergi bertugas, jadi mungkin barang-barang ini akan sampai terlambat padamu. Surat dan foto ini kutitipkan kepada teman kami yang bertugas mengantarkan surat dan telegram penting ke kantor pos. Aku juga memintanya secara pribadi untuk membawakanmu kain sutra dan topi fedora yang kudengar sedang disukai wanita di kota (aku harap kau suka). Kita bisa bertemu begitu di halaman pertama koran pagi menyatakan bahwa timku sudah kembali dari [redacted] dan sedang dirawat di rumah sakit [redacted]. Salam. König."
Kamu hampir tersedak membaca paragraf terakhir itu, bisa bertemu? Di rumah sakit? Kamu tidak pernah berharap akan ada yang serius menanggapi celotehanmu dalam surat, tapi kenapa dia mau repot-repot menanggapi balik dan mengirim hadiah?
Temanmu Valeria sudah melarang mengunjunginya begitu kamu cerita soal hadiah-hadiah itu. Dia bilang lelaki seperti itu penuh tipu daya, apalagi dia tidak mau menunjukkan wajahnya.
Kamu menghela napas. Tapi sambil membawa kain satin itu ke penjahit untuk menjadikannya sebuah gaun yang membalut tubuhmu. Sambil menunggu giliran diukur, kamu kembali menatap foto yang dikirimnya. König terlihat besar dan tinggi dibandingkan rekan-rekannya. Jika laki-laki pada umumnya saja sudah melebihi tinggimu, lalu apa kabar König yang lebih tinggi lagi?
Musim berikutnya, koran pagi datang di teras rumahmu, dengan halaman pertama yang dicetak tebal dan besar.
"Tim Kortac sudah kembali..... DI KOTA?! KÖNIG!"
Yeah.... Your voice was too excited for that. Kamu merasa malu. Tidak seharusnya kamu sesenang ini. Tidak seharusnya kamu berlari ke penjahit dan membayar lebih agar gaunmu diselesaikan lebih dulu daripada antrian lainnya. Tidak seharusnya kamu mencoba gaun itu dengan topi pemberiannya di depan cermin dan senyum lebar seperti saat ini.
Dan tidak seharusnya kamu memanggil kereta kuda untuk membawamu ke rumah sakit minggu itu juga.
Kamu turun dari kereta itu perlahan sambil mengecek apakah semua sudah terlihat baik mulai dari sepatu, gaun, tas, topi, hingga riasanmu. Dengan kesadaran penuh kamu masuk ke dalam rumah sakit tanpa peduli tatapan banyak orang yang berpikir kenapa wanita dengan pakaian semahal itu mau masuk ke gedung penuh orang sakit.
Kamu menghampiri resepsionis dan bertanya dengan informasi seadanya.
"Kortac? Atas nama König?"
Wanita itu tersenyum tipis, "Keluarganya?"
"Bukan, hanya teman."
"Kolonel König di bangsal nomor 3 lantai 2."
"Terima kasih."
Kamu sedikit berlari sambil mencincing gaun menaiki tangga ke atas. Bangsal nomor 3 berisi beberapa tentara yang sedang beristirahat. Kamu perlahan berjalan mengamati wajah masing-masing.
Hingga di pertengahan ruangan kamu melihat pria bertubuh besar memakai topeng kain di wajahnya.
"König?"
Matanya mengerjap dan tubuhnya yang gegap terbangun menatapmu dari atas ke bawah.
"Siapa?"
Padahal pakaian ini dia yang berikan tapi dia sendiri tidak mengenalimu. Oh tapi wajar mengingat dia bahkan tidak tahu kain satin apa yang dia kirimkan karena dia hanya titip pada rekannya untuk mengirimkan hadiah padamu.
"Kita bersurat selama 3 bulan terakhir."
"Oh, ja, surat itu. Oh baik."
....
"Oh."
"Hai?"
"Ah— ja, hai. Maaf kau jadi harus melihat aku seperti ini. Maaf kukira kau akan membalas suratku lagi dan bilang akan bertemu di mana dan kapan. Maaf aku tidak menyangka kau—um, nein. Maksudku terima kasih sudah jauh-jauh datang kemari."
Bibirmu tanpa sadar tersenyum melihat laki-laki sebesar itu sedang terduduk di atas ranjang yang sepertinya tidak akan muat jika ia pakai berbaring. Kakinya menjejak ujung ranjang, tampak tidak nyaman. Cairan infus hampir habis masih terpasang di tangannya.
"Sudah berapa hari di sini?"
"Baru semalam."
Jari-jarimu tidak tahan menyentuh jemarinya, besar dan kasar.
Kamu merasa malu. Tidak seharusnya kamu sedekat ini bertemu orang asing.
"I will be discharged tomorrow morning, hopefully i will see you then."
Dahimu berkerut, "Oh. Aku berencana pulang sore ini..."
"Eh? Maaf aku kira kau tinggal di sekitar sini."
"Tidak, butuh 2 jam untuk sampai kemari."
König diam, berpikir sambil melihatmu dari atas ke bawah lagi. Sesaat kemudian ia mengambil tas militernya dan mengintip sesuatu.
Ia menarik tanganmu dan menaruh sebuah amplop tebal yang masih tersegel, "If you're willing, please stay, Fräulein. Sewalah hotel, belilah pakaian cantik dan makanan enak dengan ini. Aku harap uangnya cukup."
----
Kamu tidak bisa menolak mata biru menawan itu. Dia benar-benar memohon dengan sangat, berharap kamu tidak buru-buru kembali ke rumahmu di ladang itu. Dia tidak mau kamu lelah di perjalanan. Dia ingin melihatmu lagi esok hari, bahkan kalian sudah bertukar informasi kapan dan di mana besok ingin bertemu.
Rencanamu yang sederhana jadi rumit. Padahal kamu cuma penasaran dan ingin bertemu sekilas, tapi König menganggap serius setiap detail usahamu. Mulai dari betapa enaknya makanan yang kamu masak untuknya, pakaian sutra yang kamu jahitkan, hingga jarak yang rela kamu tempuh.
König jelas bukan tipikal orang yang menganggap enteng orang lain. Betul-betul cerminan tentara sejati yang siap siaga.
Kini kamu sedang terduduk di sebuah toko pakaian wanita. Mengintip isi amplop coklat, lembaran uang bernilai besar tertumpuk rapi. Secarik catatan menemani mereka bertuliskan, "Dana Perjalanan Tugas Bulan X. Nama: König. Usia: 29 Tahun. Tim: Kortac. Total: £25.000"
Nanar matamu terkejut menatap 5 angka di kertas itu. Itu gajinya selama satu bulan dan König berikan cuma-cuma ke perempuan yang baru ditemuinya.
---
Kalian sudah janji bertemu di taman kota pukul 9 pagi, memberimu waktu untuk bersiap dan sarapan, katanya. Tapi kamu sudah siap dan selesai sarapan pukul 6.
Kamu merasa malu. Tidak seharusnya kamu sesemangat ini bertemu orang asing.
Untuk acara temu hari ini, sebenarnya gaun floral sepanjang lutut sudah kamu siapkan. Tapi kamu memilih untuk berjalan-jalan pagi dulu dengan pakaian sporty.
Kamu mulai berjalan keluar hotel ke arah selatan. Tanpa sadar mengarah ke rumah sakit tempat König dirawat. Kamu berpikir pasti sudah gila kalau mau menjemputnya dari rumah sakit, mengingat dia bilang dia akan selesai dirawat pagi ini.
Tidak berani masuk dan menjenguknya, akhirnya kamu menunggu agak jauh dari pintu utama, duduk di bangku taman terdekat. Bodoh sekali, pikirmu. Sungguh bodoh perempuan yang baru bertemu dengannya kini mengamati si badan besar keluar bersama seorang perawat. Mereka berbincang sambil tertawa-tawa dan berpelukan sebelum melambaikan—
"König?"
Kamu tidak pernah jatuh sakit separah itu sampai harus dirawat inap, tapi kamu yakin betul perawat memeluk pasien dewasa beda jenis kelamin itu amat tidak biasa. Kakimu baru saja hendak melangkah ke arahnya, tapi sekejap mata, König sudah menghilang dari tempat itu.
---
Tenggorokanmu tercekat begitu melihat König sedang duduk santai di kursi taman kota sendirian. Tangannya memegang rangkaian bunga bernuansa kuning. Kontras dengan gaun warna merahmu yang baru dibeli kemarin sore.
"H-hai, pagi," ia menyapa sambil memberikan bunganya padamu.
Kamu menelan ludah, menerima bunganya. Ia mulai menanyai bagaimana tidurmu semalam dan bagaimana kehidupan di ladang. Ia pun bercerita di mana dia tumbuh, tinggal, dan bolak-balik bertugas di luar negeri selama bertahun-tahun sehingga hal itu mulai membuatnya bosan dan kehilangan motivasi hidup ketika pulang bertugas.
"Bertemu denganmu rasanya seperti mendapat panggilan untuk menjadi sniper saat bertugas...."
Dan sisanya kamu tidak mau dengar. Kamu tidak mau bertanya dan bercerita lebih rinci. Bayangan perawat dan König terulang bagai kaset rusak. Dia bisa memeluk perawat itu tiap pulang bertugas tapi kenapa masih butuh biro jodoh koran?
Langkahmu dan König sudah jauh dari taman kota dan kalian mulai masuk ke area restoran dan cafe kota, "M-mau makan siang?" Tanyanya singkat yang membuatmu tersadar dari lamunan.
Kini matamu memperhatikan König dari atas sampai bawah. Berpikir kenapa bisa orang seperti ini membuatmu terjebak di kota. Dia bahkan bukan tipemu sama sekali. Buaya pemalu yang tidak laki sama sekali. Lagaknya saja tentara profesional berbadan besar.
"Aku harus pulang sekarang. Maaf."
Demikian pertemuanmu berakhir dalam waktu singkat.
Kamu masih menggenggam erat buket bunga itu sembari menuju menuju hotel, mengemasi barang-barang, dan meminta resepsionis memesankan kereta kuda.
Kamu berusaha untuk tidak kesal tapi hatimu tidak terima.
"Bitte, Fräulein!"
Sayup-sayup terdengar suara yang berusaha menghentikanmu, "Bitte, warten Sie!"
"König?" Dia mengikutimu sampai ke hotel dengan sebuah kotak di tangannya.
"Tolong jangan pergi, Fräulein. Bitte. Maaf aku tidak sesuai yang Fräulein harapkan, sumpah demi apapun aku benar-benar ingin lebih mengenalmu—tolong—satu kesempatan saja, bitte, ja? Fräulein?"
Ia membuka kotak itu di hadapanmu dan terlihat sebuah cincin berbatu permata putih yang menyilaukan.
"Ini apa König?"
"Cincin untuk melamarmu...?"
Semua orang di sekitarmu terkesiap kaget. Bahkan kusir kereta kuda yang datang sejak tadi ternganga melihatnya.
"Tapi kita baru bertemu kemarin!"
"Justru itu aku menjadi yakin untuk menyiapkan cincin ini Fräulein—karena kau datang padaku seperti malaikat..."
Semua orang kembali terperanjat. Tekad König sudah bulat sejak kamu repot-repot menempuh perjalanan jauh itu demi menjenguknya ke rumah sakit, yang menurutmu itu hal biasa saja.
Namun kekesalanmu mencuat teringat kejadian yang tidak sengaja kamu lihat pagi tadi.
"Aku tidak mau menerima cincin dari pria yang bisa mendapat pelukan dari perawat tiap selesai kembali bertugas perang! Sudah, aku mau kembali!"
Mata biru König menatap nanar, menangkap ujung jarimu sebelum kamu naik ke dalam kereta, dan berbisik pelan.
"Engkau bertemu nenekku?"
---
Rencanamu untuk kabur hari itu gagal total. Kereta kuda yang hendak kamu sewa pulang ke rumah malah mengantarmu dan König ke rumah nenek asuh, perawat yang kamu lihat pagi itu, yang memeluk König di halaman rumah sakit.
Matamu beredar ke luar jendela kereta, namun mata König hanya menatapmu. Kamu bisa merasakan di balik kain penutup wajahnya, dia sedang tersenyum lebar-lebar.
"F-Fräulein sudah tidak marah?" Tanyanya dengan polos.
"Kenapa tidak cerita soal nenekmu waktu di taman kota?"
"Uh, aku—aku kira kita belum saatnya bercerita tentang keluarga satu sama lain?
"Huh? Terus kenapa kau sudah beli cincin untukku?"
"K-karena aku mau... ingin... s-sejak di hari pertama kita bertemu.... Aku—"
Kamu menghela napas, lelah berusaha memahami perkataannya yang terbata-bata, "Sudah. Simpan saja dulu cincinnya."
Kotak di genggaman König pun menjalar masuk kembali ke dalam saku celananya. Air mukanya berubah sedih, seperti gagal menjalankan tugas negara.
Malam itu kamu menghabiskan waktu di rumah nenek asuh König. König sibuk memasak dan mencuci di belakang, sedangkan kamu dan nenek berbicara banyak tentang masa kecil König, keinginannya untuk masuk militer, tahun demi tahun tidak bertemu satu sama lain hingga ia selesai menyelesaikan pendidikan dan tugas-tugas wajibnya.
"Nenek tidak meminta kamu menerimanya. Jadi temannya saja nenek sudah senang," pintanya.
---
Malam itu kamu sulit tidur. Bukan karena kamar yang luas dan kasur yang terlalu lembut. Kamu memikirkan perasaanmu pada König.
Memang selama ini kamu merasa tertarik dengan laki-laki bertubuh tinggi besar, namun König tidak seperti lelaki pada umumnya yang keras dan kasar— ia justru mampu memohon dan berlutut padamu di muka umum. Kamu bahkan yakin ia bisa menangis berminggu-minggu kalau kamu kabur dari tempat ini diam-diam.
Rasanya berat menerima lelaki seperti ini, terlalu berisiko, takut menjadi beban kalau kamu tidak menuruti keinginannya. Takut ia akan menghalangimu. Seharusnya perjalanan ke kota ini cuma perjalanan biasa, untuk mengusir kebosanan, dan tidak tereskalasi ke titik seperti ini.
"Belum tidur?" Suara ketukan dan parau König terdengar dari balik pintu.
"Belum," kamu berpikir sejenak, "masuklah," dan menerimanya masuk—yang lagi-lagi untuk mengusir kebosanan.
Kepala König menunduk masuk melewati kusen pintu yang lebih rendah dari tinggi badannya. Ia menyerahkan salah satu dari dua gelas, cokelat panas.
"Terima kasih," gumammu.
König ikut duduk di atas ranjang, hampir bersentuhan kulit denganmu, menyesap cokelat panasnya dalam diam.
Kamu merasa malu. Tidak seharusnya kamu sedekat ini dengan orang asing. Tapi anehnya, keberadaan König sudah tidak terasa asing. Semua ceritanya dan cerita dari neneknya membuatmu seperti sudah mengenal König sejak lama. Hanya kamu yang belum menceritakan masa lalumu di rumah ini.
"Aku tinggal sendiri di ladang," lidahmu getir bercerita, "Orang tuaku sudah lama tiada, tapi aku satu-satunya orang yang harus menjaga tanah seluas itu."
"Aku sudah delapan kali memanen gandum sendirian. Tidak punya waktu bicara dengan orang lain. Aku terlalu sibuk bekerja."
"Kemarin adalah pertama kalinya aku meninggalkan ladang dalam keadaan kosong setelah memanen semua gandum. Aku lelah melihat ladang. Aku mau melihat sesuatu yang lain."
Bibirmu tersenyum pahit, "Aku menghargai kebaikanmu, König, tapi aku tidak berharap hubungan serius. Aku harus menggarap ladang besok."
"Kalau begitu aku yang akan ikut denganmu."
"Huh?"
"Aku kuat dan cepat, bisa menggarap ladang untukmu, ja? Selama aku bisa melihatmu, aku senang melakukan apa saja. Bitte, Fräulein."
"König...."
"A-aku bisa ajukan cuti panjang. Aku tidak p-pernah ambil cuti selama di militer."
Penawaran ini terlalu bagus untuk disia-siakan. Bagaimana bisa Ia langsung tahu kesulitan hidupmu dan cara memperbaikinya dalam sekali dengar?
"Kalau bosan di ladang, kita bisa ke kota, ja?"
Dan detik itu juga dinding pertahananmu runtuh di hadapannya, tubuhmu melesak dalam pelukannya, kepalamu terbenam dalam bahunya, air matamu membahasi dadanya. König cuma memberikan visinya dan kamu sudah menumpahkan sisa coklat panas ke mana-mana.
Tangan König yang panjang sigap meletakkan gelas-gelas itu ke atas meja, lalu memelukmu lembut. Membawa tubuhmu berbaring di atas ranjang dengannya.
"Ja, Mausi, i hear you clearly. It's okay, don't worry. I will be with you always—"
Dan mencium bibirmu dengan hangat.
"—Meine Liebe."
