Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-09-01
Words:
3,947
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
25
Bookmarks:
1
Hits:
719

GMMTV Outing

Notes:

Hi. I usually post my works on twitter @lamoretata

Work Text:

Kursi di bus yang Santa naiki perlahan terisi satu persatu. Di antara jejeran kursi, Santa sengaja memilih kursi bagian belakang. Merasa aman karena di sekitarnya adalah orang terdekat.

“Belum sampe juga si Perth?” Tanya Pond yang duduk di kursi sebrangnya. Santa jawab dengan gelengan kepala.

“Kok bisa kesiangan amat?” Santa menghembuskan napas sedikit keras.

“Lo tanya aja sama orangnya nanti, Bang. Capek banget udah gue bilangin tidur cepet, malah keasyikan ngotak-ngatik mobil. Ga tau sampe jam berapa, gue udah ketiduran duluan.” Pond tersenyum menggoda.

“Video call semaleman?” Menangkap nada ejekan di dalamnya, Santa mengernyit jengah.

“Gak usah heran. Kayak lo sama Phuwin gak lebih alay aja.” Pond hendak menyangkal sebelum suara Phuwin dari kursi di depannya menyela tiba-tiba.

“Kak. Tas aku sama kamu, kan?”

“Iya, Sayang.”

“Tolong ambilin hand sanitizer sama tissue, ya.” Pond tidak menjawab, tetapi tangannya langsung bergerak membuka tas Phuwin yang tergantung di depannya.

“Ini, Sayang.”

“Makasih, Sayang.” Phuwin tersenyum manis sebelum kembali menghadap depan dan lanjut beradu argumen dengan Forth dan Satang.

“Sama-sama, Cantik.” Pond mengusap kepala Phuwin sebentar dari belakang membuat Santa tersenyum meledek.

“Najis.” Keduanya saling pandang sebelum menertawakan satu sama lain.

Tak lama, pintu bus terbuka. Perth datang dan langsung disambut oleh sorakan serta kalimat-kalimat godaan dari seisi bus. Laki-laki itu hanya tersenyum —memohon maaf karena membuat perjalanan mereka terlambat dan langsung berlalu menghampiri Santa di kursi bagian belakang.

“Telat amat, Bro.” Baru saja bokongnya bertemu kursi, suara Pond sudah menyapa telinganya.

“Kesiangan.”

“Abis ngapain lo?” kali ini Ohm yang duduk di kursi paling belakang bertanya.

“Modif anak gue dikit, Bang.” Perth menjawab tetapi pandangannya sudah fokus ke arah Santa yang sedang menatap ke luar jendela.

Pond dan Ohm yang melihat itu saling pandang dan tersenyum geli, memilih untuk tidak melanjutkan obrolan dan memberi waktu untuk pasangan itu berbicara.

“Adek, Kakak udah sampai, loh. Kok ga disambut? Tadi di chat kayaknya gak marah, deh.” Perth menarik satu tangan Santa ke atas pahanya setelah meletakkan bawaan di bawah kursi.

“Adek … Liat kakak dong, Sayang.” Perth menusuk pipi Santa dengan ujung jarinya karena tidak kunjung mendapat jawaban. Santa yang merasa terganggu akhirnya menoleh dengan bibir yang mengerucut sebal.

“Kakak nih kenapa telat sih? Malu aku dari tadi ditanyain terus kamu di mana, udah sampai mana, kok bisa telat. Aku capek jawabinnya.” Perth meremat pelan jemari Santa yang berada di genggamannya.

“Kakak kan udah minta maaf tadi di chat. Adek juga udah maafin. Kok marah lagi sekarang? Kenapa, hm?” Santa menghela napas. Berusaha menguasai dirinya agar tidak bersikap konyol karena hal sepele.

“Gak apa-apa.” Pandangannya lalu jatuh ke tangan mereka yang bertautan.

“Adek … Ngomong dulu, Sayang.” Tangan satunya yang bebas Perth gunakan untuk meraih dagu Santa agar sedikit mendongak dan menemukan kedua matanya. Bibir Santa mencebik. Kesal karena dirinya tidak bisa menahan perasaan.

“Gak apa-apa. Cuma kakak kelamaan datengnya. Aku pengen lanjut tidur tapi kakak belum dateng. Kangen.” Rasa hangat langsung menjalar di dada Perth, tangannya otomatis bergerak mengusap kepala Santa sebelum sadar suhu tubuh kekasihnya tidak begitu normal.

“Adek kok hangat badannya?” Santa sudah merapatkan tubuhnya ke arah Perth.

“Lusa lalu aku gak tidur, revisi tugas akhir. Sekarang gak enak badan dikit. Tapi udah minum vitamin.”

“Pantesan.” Perth berdecak.

“Apa?”

“Pantesan rewel. Kakak kan udah bilang pas lusa lalu supaya kamu tidur. Gak nurut ya, Adek? Udah sarapan belum?” Tanya Perth kesal tetapi sarat akan kekhawatiran.

“Maaf. Kakak jangan marah. Aku udah sarapan, kok.”

“Sarapan apa?”

“Roti tawar. Dua lembar.” Santa mengangkat dua jarinya di udara membuat Perth menghela napas panjang.

“Kurang. Gak cukup ganjel perutnya sampai nanti makan siang.” Perth membawa tangannya melingkari pinggang Santa sebelum menariknya lebih dekat, lebih rapat, sampai tidak ruang yang terlihat “Makan dulu, yah? Tadi Mama ada titip buat Adek.” Lanjutnya sembari meremas pelan pinggang Santa.

“Gak mau. Mau tidur.” Santa menolak tegas. Dirinya memang tidak lapar dan sedang tidak ingin makan.

“Adek.” Suara Perth mulai terdengar dominan membuat Santa merengek dan menenggelamkan wajahnya di dada Perth.

“Adek gak laper, Kak. Ngantuk.” Kata Santa dengan suara yang teredam di atas dadanya. Perth mendesah —mengalah dan memilih untuk tidak memaksa.

“Kalo gitu minum aja, ya? Bibir kamu kering banget, Sayang. Kurang minum air putih.” Santa kali ini menurut; menarik tubuhnya dari dekapan dan membiarkan Perth mengambil air minum dari tasnya. Santa menyerahkan kembali botol minum setelah menenggak isinya dengan kerutan di dahi yang tercetak jelas.

“Pusing, Kak,” ucap Santa sembari menjatuhkan kembali kepalanya ke bahu Perth.

“Lagian kenapa begadang, sih. Minum obat dulu, ya, Adek?” Santa menggeleng lemah dan semakin merapatkan tubuhnya ke arah Perth.

“Nanti di sana gak bisa enjoy kalo kamu sakit.” Perth membawa lengannya melingkari punggung Santa, mengusap pelan lengan atas Santa —ke atas, ke bawah, dan sesekali membuat pola lingkaran kecil dengan penuh perhatian.

“Adek janji sampe sana gak sakit. Cuma butuh tidur aja selama perjalanan.” Perth menghela napas untuk yang ke sekian kali dan mengalah, membiarkan Santa terpejam di bahunya dengan napas yang perlahan semakin teratur.

Di tengah perjalanan, bus berhenti di rest area. Hampir semua orang yang berada dalam bus turun —membeli cemilan di minimarket, atau sekedar ke toilet. Hanya tersisa Perth, Santa, dan Ohm yang duduk di belakang mereka.

“Turun, gak?” Tanya Ohm menepuk Perth sekilas dari sela-sela kursi. Perth menengok ke belakang sembari menjawab ‘lo aja’ tanpa suara.

“Hah?” Ohm yang tidak menangkap maksudnya bertanya kembali dengan suara yang lebih keras membuat Perth meringis karena Santa sedikit bergerak —terganggu dalam tidurnya.

“I’m here .. shhh .. I’ve got you, Adek.” Satu tangannya masih melingkar di punggung Santa. Satunya yang bebas kini ia gunakan untuk mengusap pipi Santa pelan dan merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan.

Dirasa Santanya sudah kembali terlelap, Perth lalu menatap Ohm yang ternyata sedang menatapnya juga.

“Gak usah ngeledek.” Kata Perth sebelum Ohm sempat membuka mulutnya. Ohm memutar matanya —jengkel.

“Siapa juga yang mau ngeledek? Jelek banget pikiran elo kalo sama gue.” Perth balas dengan senyum tanpa rasa bersalah.

“Adek sakit?” Perth mengernyit.

“Jangan panggil Adek.” Ohm tersenyum miring. “Kan Tata lebih muda dari gue.” Lanjutnya meledek.

“Gak. Gak boleh panggil Tata, gak boleh panggil Adek.” Perth berusaha menjaga suaranya sepelan mungkin agar tidak mengganggu Santa dalam tidurnya.

“Posesif banget, Kakak. Adek gak suka ah.” Perth mengumpat ‘anjing’ tanpa suara membuat Ohm terkekeh pelan.

“Nitip aja gak? Gue mau beli minum. Santa ada bawa obat?” Perth berpikir sejenak. “Gue bawa, kok. Tapi nitip ByeBye Fever aja. Takut nanti malem demamnya gak turun.” Jawabnya membuat Ohm sedikit terheran.

“Anjir. Bayi banget. Dia emang suka pake itu kalo lagi demam?” Perth menggeleng.

“Engga. Gue pengen aja dia pake. Kayanya lucu.” Ohm mengehela napas, menahan diri untuk tidak memukul temannya sekarang juga.

“Emang akal-akalan montir, si tai.” Ohm berdiri dari kursinya dan turun menuju minimarket, menyisakan hanya Perth dan Santa di dalam bus.

Perth memerhatikan Santa yang terlelap. Matanya satu persatu menyusuri wajah kekasihnya yang terlihat damai dalam tidurnya.

Ujung jarinya menyentuh ujung mata Santa tanpa bisa ia cegah. Mata cantik yang dilindungi bulu mata panjang dan lentik tanpa perlu usaha. Setelah senyum, mata Santa adalah hal favoritenya. Perth berani bertaruh siapa saja akan jatuh dan tenggelam dalam tatapan Santa saat bertatapan lebih dari lima detik.

Seperti danau yang memantulkan cahaya matahari saat terbit, mata Santa menawarkan hal yang sama —kehangatan dan ketenangan di dalamnya.

Bergerak perlahan, jarinya kini berada di pangkal hidung Santa, menyusuri batang, dan berhenti di ujungnya. Hidung mungil yang begitu pas di wajahnya.

Terakhir, jarinya mendarat di atas bibir Santa yang sedikit terbuka. Bibir yang biasanya berwarna merah muda dan lembab, kini terlihat pucat dan kering. Perth menghela napas, merasa gagal karena Santa-nya begitu terlihat lemah.

Entah karena suara orang-orang yang mulai masuk kembali ke dalam bus, atau karena sentuhan Perth di wajahnya, mata Santa perlahan terbuka tetapi enggan beranjak dari posisinya.

“Udah sampai?” Tanya Santa pelan. Perth mengusap kening Santa yang sedikit berkeringat.

“Sebentar lagi. Adek tidur lagi, ya?” Santa mengangguk dan kembali terlelap di posisi yang sama —di dalam dekapan Perth yang terasa semakin erat dan hangat.

Satu setengah jam perjalanan dari rest area, bus mereka akhirnya sampai di pelataran parkir hotel. Santa langsung terbangun begitu mendengar yang lain sibuk berbicara, melempar candaan, dan bersiap-siap turun.

“Nyenyak banget, Adek.” Suara Ohm langsung menyapa begitu ia menegakkan punggungnya.

“Kakak kok gak bangunin?” Tanya Santa mengabaikan Ohm yang kini menatapnya kesal karena diabaikan.

“Gak tega banguninnya.” Perth menyentuh dahi Santa dengan punggung tangannya. “Masih pusing gak, Adek?” Santa menggeleng membuat sentuhan Perth terlepas. Ia lalu buru-buru membereskan bawaannya.

“Ayo, Kak. Yang lain udah pada turun.” Santa menarik tangan Perth sesaat setelah laki-laki itu mengambil bawaannya sendiri.

“Pelan-pelan, Adek. Nanti jatuh.” Perth memperingati membuat Ohm yang tertinggal di belakang mereka merutuk sendiri.

“Harus banget pacaran depan gue? Harus banget? Di depan gue yang jomblo ini?” Ohm menghela napas sebelum mengikuti yang lain turun menuju hotel tempat perusahaan mereka mengadakan outing.

———🫐

Perth bersyukur mereka diberi waktu untuk makan siang terlebih dahulu. Walaupun setengah terburu-buru karena mengejar rundown yang sudah disiapkan tim kreatif, setidaknya Perth sudah bisa sedikit bernapas lega melihat Santa menyantap sajian yang dihidangkan.

“Kenapa ngeliatin terus?” Tanya Santa setelah menelan suapan terakhirnya. Perth menggeleng, tangannya reflek menghapus jejak makanan di sekitar bibir Santa.

“Kakak aku kan udah janji gak bakal sakit. Udahan khawatirnya.” Santa tersenyum, berusaha meyakinkan Perth yang kini menatapnya ragu.

“Jangan sakit, Tata. Kakak gak sanggup liatnya.” Perasaan hangat langsung menyelimuti Santa.

Mereka tengah menikmati hidangan makan siang, duduk di balik meja bundar yang sekilingnya terisi penuh rekan kerja di perusahaan. Tetapi, Perth dan Santa seperti tidak mendengar sama sekali selain suara satu sama lain.

Orang-orang di perusahaan sudah terbiasa, tidak kaget, dan malah menyediakan mereka suasana yang aman. Sangat beruntung mendapatkan ligkungan yang mengerti hingga Perth dan Santa tidak perlu menyembunyikan apapun.

Makan siang dilanjutkan dengan penampilan satu persatu dari setiap tim. Sebelumnya, mereka sudah dibagi menjadi beberapa bagian. Perth dan Santa kedapatan tampil bagian pertama.

Menjadi hiu, dan pelatihnya. Tidak perlu ditanya ide siapa. Santa yang mendengar pertama kali ide tersebut keluar dari mulut Perth saat sedang berdiskusi dengan rekan yang lain hanya bisa menghela napas pasrah.

Saat setelah Santa memakai kostum hiu, selama tampil, dan sesudah tampil, hanya kata-kata ‘*gemas, cantik, paling lucu.’* yang Perth keluarkan. Selalu mencuri kesempatan untuk memuji dan memuja Santa.

Suaranya pelan —terbawa angin dan riuh suasana, namun masih bisa terdengar jelas oleh Santa yang diam-diam bersyukur karena kostumnya dapat menutupi pipinya yang sudah berubah warna —merah merona.

![IMG_0657.jpeg](attachment:a041aa02-1681-4bd8-b183-ab9647ba93e9:IMG_0657.jpeg)

![IMG_0654.jpeg](attachment:37ed036c-57d3-4e40-8df7-20e844d38d77:IMG_0654.jpeg)

————🫐

Setelah semua penampilan selesai, mereka diberi waktu bebas. Sebagian memilih menikmat semilir angin di pantai belakang hotel, sebagian memilih untuk sekedar bersantai di sekitar hotel —kolam renang dan taman.

Namun, tidak dengan Perth dan Santa. Mereka lebih memilih menikmati waktu di dalam kamar. Di tengah kasur, mereka terlentang berdampingan. Satu tangan Perth dijadikan bantal oleh Santa, satu kakinya menindih kaki Perth, dan tubuh bagian atasnya hampir berada di atas dada Perth.

Keduanya sibuk menggulir layar ponsel masing-masing. Saling berbagi tawa sesekali ketika melihat komentar penggemar yang kelewat lucu.

“Kakak, liat.” Santa sedikit mengongak sembari menunjukkan layar ponselnya ke arah Perth. “Kamu keliatan banget pengen nyium aku pas tadi tampil.” Perth tersenyum geli sebelum melepaskan ponselnya sendiri di atas kasur —mencari posisi nyaman, berhadapan, dan lengannya yang bebas langsung melingkari pinggang ramping Santa.

“Gemes. Cocok banget Adek kostum hiu. Imut. Paling imut sedunia.” Santa tergelak begitu Perth membubuhi kecupan di tiap sudut wajahnya. Ponsel Santa juga sudah terlepas —saling berhadapan, dan merangkul pinggang satu sama lain.

“Geli, Kak.” Santa sedikit mendesah begitu rasa hangat menyapa lehernya. Kepala Perth sudah tenggelam di perpotongan leher Santa, dengan sengaja menggesek kumis tipisnya di atas kulit Santa yang masih terasa hangat.

“Kesukaan Tata. Kapan Kakak boleh shaving?” Perth lalu menggesek bagian dagunya yang juga dihiasi rambut tipis yang mulai terlihat terlalu jelas. Santa terbahak, menggeliat geli, dan berusaha menjauhkan kepala Perth dari lehernya. Tawanya reda begitu ia berhasil lepas dari lehernya.

“Pulang outing nanti aku mampir ke rumah kamu, aku yang shaving-in aja.” Posisi mereka masih sama —saling berhadapan, satu tangan Perth masih menjadi bantal Santa, satu tangan lagi memeluk pinggangnya erat. Santa kini menangkup wajah Perth dengan kedua telapak tangannya.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang bersuara. Santa mengusap pipi Perth dengan ibu jarinya. Matanya seperti menghapal tiap sudut wajah Perth tanpa bisa ia cegah. Mata yang menatapnya begitu dalam dan memuja, hidung tinggi yang begitu sempurna, bibir pink yang dihiasi rambut tipis di atasnya …

“Ganteng.” Pujian itu terlepas begitu saja dari bibirnya membuat Perth tersenyum hingga ke mata.

“Punya Adek.” Tegas Santa sembari satu jari telunjuknya menekan pelan bibir Perth yang melengkung sempurna.

“Punya Adek.” Perth menyetujui klaim Santa atas dirinya. Seutuhnya.

Entah siapa yang memulai, bibir mereka bertemu di udara. Saling melumat pelan, dalam, tetapi tidak tergesa sama sekali. Ciuman yang seperti ungkapan tidak terbantah bahwa mereka hanya milik satu sama lain.

Tautan bibir mereka terlepas perlahan begitu ponsel Perth berdering pelan. Enggan menjauh, Perth malah menarik kepala Santa untuk berbaring di dadanya.

“Angkat dulu, Kak.” Perth mengalah, meraih ponselnya sebelum menyentuh lambang hijau di layar.

“Hm? Duluan aja deh. Iya. Iya bawel. Nanti gue nyusul. Berisik banget.” Santa mendongak begitu telfon sudah berakhir.

“Prom ngajak keluar, mereka lagi di pool.” Mata Santa berbinar seketika. Merubah posisinya menjadi duduk hingga membuat rengkuhan Perth di pinggangnya terlepas.

“Mau berenang!” Kata Santa dengan semangat yang langsung dijawab penolakan tegas oleh Perth.

“Engga.” Bahu Santa mengendur, bibirnya mencebik, binar di matanya perlahan menghilang.

“Adek masih hangat badannya. Gak boleh berenang dulu.” Perth menyusul duduk di hadapan Santa yang kini menatapnya sedih.

“Tapi kan udah gak pusing. Masa kamu berenang, aku engga. Aku juga mau berenang.” Rengek Santa manja membuat Perth otomatis mengusap kepalanya pelan.

“Nurut, ya, Adek? Di luar juga terlalu banyak orang. Kamu pasti gak bakal nyaman berenangnya.” Bibir Santa semakin melengkung turun.

“Tapi Adek udah lama gak berenang,” Perth menghela napas, masih berusaha memberi pengertian dengan sabar.

“Kakak juga gak berenang sekarang, kok. Nanti aja kalo udah sepi.” Tidak ada tanggapan, Perth langsung melanjutkan. “Adek boleh ikut berenang nanti, tapi sekarang tidur siang dulu, ya? Biar nanti makin fit. Nanti malem masih ada acara juga, kan.” Binar mata Santa perlahan kembali.

“Beneran boleh berenang? Janji?” Antusias tiba-tiba menguasai dirinya. Perth berdehem sebagai jawaban membuat Santa langsung mengatur posisi tidurnya.

“Yaudah. Aku tidur siang dulu. Kakak keluar aja gak apa-apa. Nanti sore bangunin aku, ya.” Perth mengiyakan, mengusap rambut Santa, dan mengecup keningnya cukup lama.

“Tidur yang nyenyak, Adek. Cepet pulih.” Bisiknya membuat Santa tersenyum dan mengangguk dengan mata yang sudah tertutup. Setelah dilihat napas Santa mulai teratur, Perth lalu bangkit dari ranjang dan menyusul teman-temannya yang sudah menunggu di luar.

———— 🫐

“Ayo berenang!” Perth terkejut begitu membuka pintu kamar langsung disambut Santa yang sudah lengkap dengan handuk dan tas jinjing berisi baju ganti tengah tersenyum lebar di sisi ranjang.

“Kok udah siap aja? Adek dari kapan bangunnya?” Perth melangkah masuk setelah melepas sendalnya. Melangkah sampai tepat di depan Santa dan mengecek suhu tubuh kekasihnya. Sudah jauh lebih baik.

“Dari tadi. Kakak lama banget. Aku udah siapin juga baju ganti kamu di sini.” Santa mengangkat tas jinjingnya ke udara.

“Tapi udah terlalu sore. Takut Adek masuk angin, terus nanti malam demam lagi.” Bahu Santa merosot jatuh, senyumnya mendadak turun.

“Kakak tadi siang udah janji kalo boleh berenang.” Katanya pelan dan kecewa. Perth yang melihat itu langsung menarik Santa ke pelukan.

“Yaudah. Boleh. Tapi jangan lama-lama, ya? Asal basah aja terus masuk lagi. Adek belum dinner. Nanti lanjut ada acara juga.” Santa mengangguk senang.

“Ayo cepet, Kak. Nanti keburu mulai acaranya.” Kata Santa sembari melepas pelukan dan menarik tangan Perth ke arah pintu.

“Sebentar.” Perth menahan. “Adek kalo malam demam lagi, kakak langsung bawa pulang besok, ya? Gak usah nunggu bus.” Santa berdecak, “Iya. Gak bakal demam juga.” Jawabnya sembari menarik kembali tangan Perth agar segera bergegas ke kolam renang.

———🫐

Ditemani lampu pinggir kolam yang temaram, bau asin laut yang terbawa angin malam, dan suara jangkrik yang bersahutan membuat Perth dan Santa merasa tenang.

Tidak ada kerumunan, tidak ada lampu kamera yang menyilaukan, tidak ada teriakan penggemar, dunia serasa terhenti di tengah kolam.

Perth memandang siluet Santa yang sedang berenang ke sudut. Air beriak —menari dan mengikuti setiap gerakannya. Santa berhenti tepat di ujung kolam. Tetesan air langsung mengalir dari rambutnya yang basah. Menyesir rambutnya ke belakang, Santa tersenyum sampai ke mata memandang Perth yang tiba-tiba seperti membeku.

“Kakak? Kenapa?” Tanya Santa begitu Perth tetap diam di tempatnya selama beberapa saat. Santa hendak menghampiri sebelum Perth menyuruhnya menunggu. Yang lebih tua berenang, menyelam di dalam air, sampai tangannya menggapai pinggang Santa.

Mereka kini berhadapan. Perth mengusap wajahnya sekilas sebelum mendorong Santa lebih ke sudut —tertutup pohon dan gelap; cahaya lampu tidak sanggup menghantar terangnya karena terlalu pojok.

Perth meremas pinggang Santa pelan sebelum menyatukan bibir mereka. Tangan Santa otomatis langsung melingkari lehernya. Santa mendesah pelan begitu Perth menggigit bibir bawahnya dengan sengaja —mencari jalan agar terbuka.

“Ngh …” Santa melenguh begitu lidah Perth mengeksplor seisi mulutnya sebelum mengajak lidahnya menari bersama.

Meski sedang berada di luar ruangan dengan langit sebagai atap, Santa bisa merasakan oksigen semakin menipis sebelum akhirnya menepuk dada Perth karena kehabisan napas.

“Kakak …” Santa menyembunyikan wajahnya yang sudah merona di bahu Perth.

“Tata … Cantik. Cantik banget.” Perth mengeratkan pelukannya, tangannya ia bawa ke atas punggung Santa yang polos, mengusapnya naik dan turun.

“Maaf kelepasan. Adek cantik banget.” Perth berbisik. Keduanya masih berusaha menenangkan debaran yang begitu ketara —dada naik turun tidak beraturan.

Perth harus berterima kasih pada bulan karena terangnya membuat Santa bersinar. Tidak perlu lampu studio, make up, ataupun flashlight kamera. Santa di depannya sekarang —tanpa make up dan hanya cahaya bulan yang terpantul di matanya benar-benar membuat Perth gila.

Selama beberapa menit, mereka tidak berniat melanjutkan renang ataupun memisahkan diri. Angin yang tadi membawa hawa dingin pun tidak terasa. Tidak saat jarak pun tidak ada di antara mereka. Yang ada hanya kehangatan, di tubuh, dan perasaan mereka.

“Udahan?” Santa mengangguk dan melepaskan pelukannya. Perth mengusap pipinya sebentar dan mengusap bibir Santa yang sedikit membengkak karena ulahnya.

“Cantik.” Lagi dan lagi, Perth memuji dan memuja Santa. Ia memiringkan kepalanya, berniat mencuri barang satu kecupan atau dua. Namun, niatnya gagal begitu mendengar suara langkah mendekat membuat Santa buru-buru mendorongnya agar tidak menimbulkan kecurigaan.

“Anjing. Lo berdua ngapain?” Santa menunjukkan giginya sebelum menjawab, “Berenang, lah. Ngapain lagi?” Dengan kegugupan yang begitu ketara.

“Gemini sialan.” Perth mendengus kesal membuat Gemini terbahak di pinggir kolam. Ia langsung mengeluarkan ponselnya dan merekam keduanya sebelum berlari ke dalam hotel karena Perth keluar dari kolam hanya untuk merebut ponselnya. Beruntung ia tidak kalah cepat dan berhasil mengamankan barang bukti untuk ia sebar ke seluruh dunia.

“Biarin aja, Kak.” Santa menyusul Perth keluar kolam. “Lucu kok.” Lanjutnya. Dan entah keberanian dari mana, Santa melumat dua kali bibir Perth sebelum berlari ke bilas.

“Stop driving me crazy, you cute little kitten.” Perth tidak bisa menyembunyikan senyumnya dan langsung berlalu menyusul Santa begitu yang lebih muda berbalik dan menjulurkan lidahnya mengejek.

———🫐

Mereka hampir telat mengikuti acara terakhir. Namun, beruntung karena acaranya hanya berupa dinner santai dan mengambil gambar dengan kostum yang sudah masing-masing siapkan.

Setelah menggambil gambar, semua kembali diberikan waktu bebas. Bebas kembali ke kamar, atau meramaikan after party.

Tentu Santa lebih memilih menghabiskan sisa waktunya di atas kasur yang nyaman dan tenang —tanpa musik yang terlalu keras atau keramaian yang menguras seluruh tenaganya.

Perth mengikuti Santa kembali ke kamar mereka. Santa sempat menyuruhnya untuk tetap tinggal di ruangan. Namun, Perth menolak. Beralasan ada barang yang tertinggal di kamar.

Santa langsung menjatuhkan tubuhnya di tengah kasur begitu sampai di kamar. Perth menyusul duduk di sebelahnya.

“Apa yang mau diambil, Kak?” Tanya Santa saat melihat Perth tidak kunjung beranjak. Perth hanya menjawab dengan gelengan.

“Adek gak ikut after party?” Santa berpikir sembari menyelimuti tubuhnya. Perth membantu mencari posisi bantal yang nyaman sebelum merapihkan selimut di atas Santa yang sedikit berantakan.

“Engga deh. Kakak aja. Adek mau tidur, rasanya capek banget.” Perth tersenyum gemas dan menjawil pucuk hidung Santa.

Perth lalu menunduk, mengecup kening, pipi kanan, pipi kiri, dan diakhiri kecupan sekilas di atas bibir.

“Kakak turun lagi, ya? Janji ga terlalu malam dan gak sampai tipsy. Adek kabarin kakak kalo ada apa-apa, ya, Sayang? Hm?” Santa tersenyum dan mengangguk.

“Huum. Hafe fun, kakak.” Perth mengecup keningnya sekali lagi sebelum mematikan lampu dan berlalu menyusul teman-temannya yang sudah menunggu.

Selama after party, Perth menikmati malam yang semakin meninggi dengan minuman dan nyanyian. Namun, siapapun bisa melihat bahwa jiwanya tidak sepenuhnya di sini.

“Santa nyuruh balik?” Tanya Gemini begitu melihat Perth mengecek ponselnya untuk yang kesekian kali. Perth menggeleng.

“Ya ngapain elo ngecek hp terus, bang?” Perth masih setia membuka ruang obrolannya dengan Santa. Namun, tidak ada pesan masuk sama sekali. Dan entah kenapa, perasaannya sedikit tidak enak.

“Gue balik duluan, deh.” Menepuk bahu Gemini dan William sekilas sebelum berlalu kembali ke kamarnya. Tidak mempedulikan teman-temannya yang keheranan.

Perth membuka pintu kamar perlahan, berusaha tidak membuat suara kalau-kalau Santanya sudah terlelap.

Namun, begitu ia masuk, punggung dan layar ponsel Santa yang menyala langsung menyambutnya. Perth menghela napas dan memilih untuk membersihkan diri sebentar.

“Adek kok belum tidur?” Bisik Perth yang sudah ikut berbaring di samping Santa. Lampu kamar tetap mati, hanya samar-samar cahaya dari ponsel Santa yang jatuh di tengah-tengah mereka ketika Santa membalik posisi menjadi menghadapnya.

“Tungguin kakak. How was the party?” Perth meraih pinggang Santa, membawa tubuh yang lebih kecil merapat ke dadanya.

“Seru. Tapi gak ada Tata.” Santa tersenyum sembari matanya menutup perlahan. Kantuk yang sedari tadi ia tahan terus menggelayut di bulu matanya. Terlalu banyak, terlalu berat untuk kelopaknya terbuka.

“Adek kenapa gak tidur kalo udah ngantuk?” Tanya Perth sembari mengusap punggung Santa.

“Ngantuk. Tapi gak ada kakak. Mau bobo sambil disayang kakak,” Santa bergumam di dadanya membuat Perth semakin mengeratkan dekapannya.

“Shhh, kakak udah di sini. Selamat tidur, Adek.” Perth mengecup puncak kepala Santa. Sekali, dua kali, tiga kali, dan menghirup aroma shampoo Santa dalam-dalam hingga hatinya terasa penuh.

Perth terus mengusap punggung Santa dan memberikan kecupan di kepalanya sesekali hingga dirinya menyusul Santa yang sudah terlelap ke alam mimpi.

Pagi-pagi sekali, Perth bangun lebih dulu karena Santa yang terus menggeliat dan tidak tenang dalam dekapannya. Punggung tangannya langsung bertemu kening Santa dan menyadari suhu tubuh kekasihnya kembali tidak normal.

Perth lalu mengambil ponselnya di atas nakas sebelum mengirim pesan ke supir pribadinya dan menekan panggilan di kontak bernama Ohm Pawat.

“Kenapa?” Tanya Ohm di ujung sambungan membuat Perth mengernyit —setengah lega, setengah heran.

“Lo udah bangun, apa belum tidur, Bang?”

“Belum tidur. Kenapa?” Sesuai dugaan. Ia ingin memberi nasihat pada temannya yang lebih tua, tetapi Santa yang bergerak semakin gelisah di dekapannya menarik seluruh perhatiannya.

“Adek, shhh. Kaka di sini. I’ve got you, Sayang.” Untuk sesaat Perth melupakan telfonnya yang masih tersambung.

“Perth?”

“Bang, supir gue lagi on the way. Tata mau gue bawa pulang naik mobil aja. Lo bisa bantu cover dan bilangin ke staff gak, ya? Gak mungkin gue nunggu mereka bangun cuma buat pamit.” Ucap Perth to the point sembari perlahan berusaha melepaskan dekapannya sepelan mungkin agar tidak mengganggu tidur Santa sebelum membereskan barang bawaan keduanya.

“Aman aja. Gue bakal balik dijemput temen juga, tapi kayanya agak siangan. Nanti gue bilangin yang lain kalo lo sama Santa balik duluan.” Perth berterima kasih sebelum menutup panggilan.

Buru-buru ia merapihkan tas berisi pakaian dan barang penting lainnya. Ponsel Perth berbunyi tepat setelah ia selesai memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Pesan masuk dari supirnya yang mengabari bahwa ia sudah sampai di depan lobby hotel.

Perth benar-benar bersyukur karena saat telat kemarin ia tetap meminta supirnya untuk menyusul dan menginap di hotel yang jaraknya tidak terlalu jauh.

“Adek, ayo pulang.” Perth menyentuh bahu Santa pelan namun tidak ada jawaban. Tiga tega untuk lanjut membangunkan kekasihnya, Perth meminta tolong supirnya untuk menjemput ke kamar dan membawakan tas mereka.

Sedangkan Perth, dengan hati-hati menarik lengan Santa agar bangkit duduk dan mengalungkan kedua tangan Santa di lehernya. Perth lalu menggendong Santa seperti koala dari kamar hingga masuk ke dalam mobilnya.

—end