Chapter Text
Sorak-sorai penonton meledak di udara sore Hogwarts, bendera berkibar, dan aroma rumput memenuhi lapangan Quidditch. Mereka saling bersahutan menyebut tim andalan masing-masing untuk memberi dukungan. Di tengah lapangan, hari ini, pertandingan antara Gryffindor dan Slytherin begitu sengit. Skor di papan masih menunjukkan angka seri.
Hermione Granger dengan lantang berteriak, “Harry! Kau pasti bisa!” Ia meneriakkan nama itu berulang-ulang. Wajah Hermione memancarkan kecemasan sekaligus kegembiraan yang terlihat dari senyumnya. Ia yakin sahabatnya akan menang lagi.
Di sisi lain, Ron Weasley menunjukkan raut wajah yang sama. Namun, teriakkannya tidak seheboh gadis di sampingnya. Ia terlalu fokus mengamati permainan sembari berdoa sahabatnya akan menang lagi.
Sedangkan, di tengah arena, Harry—yang menjadi harapan kedua sahabatnya—tengah sibuk mengejar snitch bersama rivalnya, Draco Malfoy. Mereka saling adu kecepatan di udara, tidak jarang bersenggolan, naik-turun secara drastis, dan melintasi belokan menukik demi menggapai harapan untuk menang.
“Itu milikku, Potter!” seru Draco sembari menyenggol Harry.
Harry hampir kehilangan keseimbangan, tapi ia berhasil mengontrol sapunya kembali. “Tentu, di dalam mimpimu, Malfoy.”
Draco menatap sinis ke arah Harry. Ejekan itu sukses membuatnya kesal. Dalam pertandingan ini, Draco Malfoy berambisi untuk menang—setelah dikalahkan berkali-kali oleh Harry Potter. Bagaimanapun ia harus menang. Namun, karena terlalu sibuk oleh rasa kesal dan tatapan yang terpaut kepada Harry, membuatnya hampir menabrak dinding. Dengan cepat, ia mengarahkan sapunya ke atas.
Harry terkekeh.
Mereka kembali saling mengejar snitch yang bergerak sangat gesit. Benda itu bergerak tidak karuan dan tidak dapat diprediksi. Snitch tiba-tiba jatuh ke bawah, membuat keduanya turun secara drastis. Namun, karena kecepatan yang tidak seimbang, keduanya terjatuh dan berguling bersamaan membuat semua penonton terkejut.
Harry tanpa sengaja menindih tubuh Draco. Mereka mengaduh bersama.
“Singkirkan tubuhmu, Potter.”
Harry cepat-cepat menjauhkan tubuhnya. Tidak disangka, dalam genggaman tangannya snitch berhasil ditangkap. Senyuman merekah di wajah Harry. Ia mengangkat benda itu penuh kemenangan, diiringi sorakan dari para penonton.
Secepat apapun Draco mengejar dan menghalangi Harry, kemenangan tetap diraih oleh pemuda itu. Seakan kemenangan mutlak hanya milik Harry Potter, dan hal itu selalu membuat Draco kesal.
Setelah permainan berakhir, semua pemain mendarat ke sisi lapangan. Penonton bersorak untuk Gryffindor. Hermione dan Ron langsung menghampiri Harry untuk memeluknya dan memberi selamat. Ketiganya berseri menunjukkan kebahagiaan yang tidak disukai sosok di seberang sana.
“Mereka menang lagi,” komentar Blaise.
Crabbe mengangkat bahu. “Benar, dan kita kalah lagi.”
“Ya, dan terus kalah,” timpal Goyle.
Draco yang berdiri di tengah melirik ketiganya dengan sinis. Ia tidak mengatakan apa pun, tapi lewat pancaran tatapannya mereka bertiga sadar Draco dalam mood yang buruk—sangat buruk! Mereka memilih bungkam dan tidak lanjut berkomentar.
Malam tiba, semua murid berkumpul di great hall menyantap makanan yang dihidangkan. Kegembiraan masih menyelimuti atmosfer di meja Gryffindor. Sedangkan meja Slytherin dipenuhi wajah murung yang hanya diam menyantap makanan.
Karena mood yang buruk, selera makannya hilang. Hidangan di depannya sama sekali tidak menggugah selera. Draco memilih meninggalkan great hall. Tidak ada yang berani mengejar, ketiga sahabatnya berpikir Draco butuh waktu menyendiri.
Hermione yang pertama kali melihat Draco berdiri dari kursinya, memberi isyarat pada Harry dengan menepuk pelan. “Lihat, sepertinya ada yang tidak berselera makan.” Gadis itu tertawa.
Ron ikut tertawa. “Malfoy pantas mendapatkannya. Kau hebat Harry. Dia tidak akan bisa melampauimu. Tidak akan bisa.” Setelah itu, ia menggigit paha ayam dengan lahap.
Harry melihat kepergian Draco. Ia berpikir kalah-menang adalah hal biasa. Namun, ambsisi di mata Draco terlalu besar dan Harry tidak paham mengapa Draco menyimpan ambisi sebesar itu. Padahal, dari sudut pandang Harry, Draco bisa dikatakan murid hebat. Dia pintar, cerdas, berkarisma, dan memiliki latar keluarga yang berpengaruh. Kesempurnaan seperti itu, apakah belum cukup untuk Draco Malfoy? Dibandingkan dirinya yang... tidak perlu dijelaskan.
——
Hari ini adalah kelas poison, dan raut wajah para murid begitu serius dan tegang, bagaimana tidak, sekarang adalah ujian bulanan di mana mereka harus membuat ramuan tanpa melihat buku. Artinya, mereka harus hafal keseluruhan bahan yang diperlukan.
Ron berharap Hermione akan membantunya, tapi harapan itu pupus karena gadis itu ditempatkan jauh darinya. Di sampingnya adalah Goyle yang tidak bisa diandalkan. Ron menggeleng mengasihani nasibnya. Seharusnya ia mendengarkan Hermione untuk belajar.
Di sisi lain, Harry mencampurkan bahan-bahan dengan ragu-ragu. Tidak jarang ia diam beberapa saat untuk meyakinkan diri sebelum memasukkan bahan ke dalam panci panas.
Di depannya ada sosok Draco Malfoy yang tampak tenang meracik ramuan. Gerakannya hati-hati dan telaten. Harry sesekali mencuri pandang tanpa alasan. Sepertinya, Draco bisa mengatasi ujian ini dengan percaya diri.
“Kalau kau bertanya padaku, tentu aku tidak akan menjawab,” ujar Draco tanpa memandang ke arah Harry.
Harry bingung. “Kau bicara padaku, Malfoy?”
“Hm. Omong-omong, seharusnya kau pakai Fluxweed, Potter. Bukan Shrivelfig.”
Harry tertegun. Apakah ia salah? Ia melihat bahan di tangannya. Tidak, seharusnya ini sudah benar, kan? Keraguan semakin menyelimuti Harry. Ia menggigit bibir bawahnya. Kalau salah, maka harus diulang dari awal. Keraguan memenangkan pilihannya, Harry dengan kesadaran penuh membuang ramuannya.
Draco tiba-tiba terkekeh saat Harry kembali dengan panci kosong. “Kau percaya omonganku, Potter?” Ia menatap Harry penuh kepuasan. Wajahnya berseri—mengejek.
Malfoy sialan!
Di tengah ketegangan ujian, suasana dikejutkan oleh suara pintu terbanting. Seseorang masuk, itu Hagrids, berjalan menuju profesor. Pria besar itu membisikkan sesuatu. Setelah itu, profesor mengumumkan bahwa ujian hari ini ditunda. Seisi kelas bersorak, kecuali Hermione yang sudah selesai dengan ramuannya. Para murid diperintahkan kembali ke asrama masing-masing
Dalam perjalanan menuju kamar, Harry merasakan kejanggalan. Melihat Hagrid yang tiba-tiba masuk ke kelas, dan kelas dibubarkan begitu saja, seperti ada sesuatu. Wajah para profesor yang memandu mereka ke kamar pun terlihat sangat serius. Walau mereka biasanya seperti itu, tapi kali ini terlihat berbeda, seperti ada ketegangan dan kekhawatiran di mata mereka.
“Apa ada sesuatu?” tanya Ron.
“Entahlah. Kuharap bukan hal besar,” balas Harry.
——
Keesokan harinya, langit pagi tampak tidak seperti biasanya. Tidak ada awan biru cerah atau sorot matahari yang menembus lewat sela-sela jendela. Seisi sekolah dikejutkan oleh langit merah serta lapisan yang mengelilingi Hogwarts. Jika dilihat dari luar, Hogwarts saat ini seperti snowball yang biasa dijual saat natal.
Harry, Ron dan Hermione menerawang menatap langit. Bertanya-tanya, “Apa yang terjadi?” Karena kejadiannya begitu cepat tanpa pemberitahuan apa pun. Apakah akan ada pertunjukkan sihir? Namun, warna langit tidak menunjukkan roman kesenangan. Sebaliknya, aura di Hogwarts berubah menjadi suram. Lapisan yang terbentang seperti segel.
“Aneh. Ini aneh. Kenapa dengan langitnya?” Nada Ron terdengar panik selaras dengan wajahnya. “Apakah ini tanda bahaya?”
“Apa kau pernah membaca buku yang menjelaskan fenomena ini, Hermione?” tanya Harry.
Hermione menggeleng. “Tidak pernah. Tapi, kurasa ini sesuatu yang buruk. Kita harus menemui profesor!”
Mereka berlari menuju ruangan profesor terdekat. Namun, langkah mereka terhenti oleh teriakan seorang murid yang mengatakan seluruh profesor menghilang.
Ron yang bingung langsung bertanya. “Hey, apa maksudmu?”
“Para murid dari setiap asrama melaporkan profesor mereka tidak ada! Mereka sudah berkeliling mencarinya.”
Ketiganya saling memandang, seakan sudah mengerti tanpa mengatakannya mereka lanjut berlari. Tentu saja, mereka berlari menuju ruangan seseorang—yang pasti dapat menjelaskan keanehan ini.
Draco yang melihat ketiga orang itu berlari, diam-diam mengikutinya.
——
Keadaan mendadak ricuh. Murid-murid berkeliaran saling bertanya keadaan saat ini. Akibat fenomena langit merah, suasana di dalam ruangan menjadi suram membuat penerangan memburuk. Beberapa murid membawa lentera untuk membantu penerangan.
Saat berpapasan dengan murid yang membawa lentera, Harry -tanpa izin-merebutnya. "Akan aku kembalikan nanti!" ujarnya seraya terus berlari menuju lorong.
"Hey!" Murid itu melayangkan protes, tapi ketiganya sudah melesat lebih dulu.
Tempat yang mereka tuju adalah ruangan Professor McGonagall. Mereka berharap, wanita itu bisa membawanya pada Albus Dumbledore. Namun, setelah sampai di ruangan harapan itu hampir pupus. Profesor McGonagall tidak ada, tapi ada sosok lain di sana.
Itu Hagrid.
"Hagrid!" seru Harry.
Ketiganya berlari mendekat.
"Apa yang terjadi?"
"Langitnya merah, pertanda apa ini?"
"Di mana semua profesor?"
Hagrid yang dihujani pertanyaan, hanya memberi instruksi kepada mereka untuk tenang. Pria tinggi besar itu tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan wajah ketiganya secara bergantian seakan tengah mempertimbangkan jawaban.
Air muka ketiganya menunjukkan rasa penasaran yang mendalam-menuntut Hagrid untuk segera menjawab.
Hagrid yang melihat tatapan mereka akhirnya bersuara, "Ikut aku." Lalu melangkah lebih dulu meninggalkan ruangan.
"Kurasa ini masalah serius," bisik Ron.
Mereka berjalan mengekori Hagrid seperti bebek yang berjalan mengikuti induknya.
Dalam perjalanan, Hagrid tidak mengatakan apa-apa. Semuanya fokus menuju ruangan yang dituju. Tidak disangka, Hagrid mengarah pada area belakang great hall. Ia mendadak berhenti di depan pintu batu. Entah apa yang dia lakukan, pintu itu tiba-tiba terbuka. Area ini tidak dilalui oleh murid, dan ini hal baru untuk ketiganya.
Dari luar, saat pintu terbuka, tempat itu terlihat lorong gelap. Harry mengangkat tongkatnya. "Lumos."
Tidak ada cahaya.
Dia mencoba lagi, tetap sama.
"Apa tongkatmu rusak?" tanya Ron, cemas.
Hagrid menoleh. "Bukan. Sejak batu pelindung hilang, seluruh kastil ada di bawah segel kuno. Sihir tidak akan bekerja."
Hermione menggigit bibirnya, kini mengerti kenapa beberapa murid tadi membawa lentera.
Hagrid mengambil alih lentera pada genggaman Harry. "Ayo, masuk."
Saat menuju ke dalam, ada sebuah tangga melingkar yang mengarah ke bawah. Di antara ketiganya, Harry berjalan paling depan. Hermione berpegangan pada pundak Harry, sedangkan Ron di paling belakang menggenggam erat jubah Hermione. Semakin jauh mereka melangkah ke bawah, udara semakin dingin dan mencekam, seperti napas es yang merayap di kulit. Hingga akhirnya, di ujung lorong batu itu, cahaya lembut menanti.
Saat keluar, kecemasan di wajah mereka perlahan berubah menjadi kekaguman bercampur ngeri. Tempat itu ternyata sebuah aula bawah tanah yang luasnya tak terbayangkan. Lantai kaca berkilau bagaikan permukaan danau beku, memantulkan cahaya biru pucat dari ratusan kristal yang menggantung di langit-langit berkubah tinggi.
Di sepanjang dinding melingkar, tergantung lukisan-lukisan para profesor Hogwarts. Tapi mereka tak bergerak seperti biasanya. Semua wajah di kanvas itu tampak membeku, mata mereka terbuka lebar, menatap kosong, seolah terperangkap di antara tidur dan terjaga. Lukisan itu tidak bergerak seperti lukisan yang biasanya ada di Hogwarts.
Harry mengernyit. "Tempat apa ini...?"
"Apa maksud dari lukisan-lukisan ini?" Ron melangkah perlahan, matanya menelusuri satu per satu bingkai. "Sungguh... bahkan lukisan Profesor Snape tampak lebih mengerikan daripada dirinya di dunia nyata."
Hermione melotot ke arahnya. "Ron!"
"Apa? Lihat saja tatapan matanya. Rasanya ingin aku ubah lukisan itu dengan ekspresi tersenyum. Bayangkan Profesor Snape tersenyum lebar."
"Mengerikan," timpal Harry yang hampir memuntahkan tawa.
Hagrid berdeham menginterupsi. Tatapannya melirik sekilas ke arah deretan lukisan di dinding, lalu kembali menatap mereka bertiga.
"Dengar, Hogwarts sedang dalam bahaya besar. Lukisan-lukisan itu... mereka bukan sekadar hiasan. Itu adalah para profesor yang telah tersegel oleh sihir kuno. Artefak pelindung telah dicuri, lalu muncul langit merah sebagai tanda peringatan."
"DICURI?!" Hermione langsung memotong. "Bagaimana bisa? Siapa pelakunya?"
"Saat ini belum diketahui siapa pelakunya," jawab Hagrid singkat. Ia terlihat ragu untuk melanjutkan.
Harry tampak bingung. "Artefak pelindung? Apa maksudmu, Hagrid?"
Hagrid menghela napas, lalu menunjuk sebuah pedestal hitam di tengah ruangan. Bentuknya bundar dengan ukiran runik di pinggirannya. Di atasnya, hanya ada cahaya redup yang berputar perlahan-kosong di bagian tengahnya. Di sisi lainnya ada kaca besar. Permukaannya tidak memantulkan wajah siapa pun, hanya gelap pekat seolah terbuat dari air hitam yang terus beriak pelan.
"Di sana... seharusnya ada sebuah batu. Batu itu melayang di atas alas ini. Bukan batu biasa, tapi Batu Penyeimbang, artefak kuno yang dibuat oleh para pendahulu."
Ron menelan ludah. "Dan sekarang batu itu hilang..."
"Ya. Begitu artefak itu diambil dari tempatnya... sesuatu yang buruk mungkin akan muncul."
"Jadi, apakah mereka tersegel sebagai bentuk hukuman karena gagal melindungi artefak itu?"
Hagrid diam sejenak. "Aku sendiri tidak yakin. Karena hanya itu yang kutahu. Kurasa pencuri memiliki kekuatan yang hebat. Dia bisa menggunakan sihir kuno semacam ini."
Mendengar itu, ketiganya diam. Semuanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Namun, Hermione tiba-tiba berjalan mendekati lukisan. Matanya menyipit memerhatikan satu persatu.
"Tunggu, kurasa ada yang aneh. Tidak ada lukisan Profesor Quirrell."
Pandangan semuanya tertuju pada setiap lukisan, dan benar saja profesor yang disebut Hermione tidak ada di mana pun.
Semua terkejut dalam asumsi yang sama, bahwa pria itu adalah pencurinya!
Saat di tengah keterkejutan, orang yang disebut secara tiba-tiba datang. Quirrell berjalan dengan tenang sembari tersenyum.
"Quirrell!" seru Hagrid.
"Sepertinya aku datang di waktu yang tepat. Apa kalian mencari ini?" Pria itu menunjukkan batu dalam genggamannya.
"Itu batunya!" Hermione menunjuk ke arah yang dituju.
Mereka bertiga hendak mendekat dengan langkah ceroboh sambil melayangkan tongkat, tapi usaha itu terhenti karena peringatan Quirrell.
"Maju selangkah lagi, kalian akan tahu akibatnya." Quirrel berjalan ke arah kaca besar di tengah ruangan. "Demi meluruskan ini, aku bukan... siapa nama pemilik tubuh ini? Qir? Quer?"
"Quirrell," koreksi Hermione.
"Ya. Itu dia! Aku meminjam tubuhnya untuk keperluanku."
Harry penasaran. "Siapa kau sebenarnya?"
"Aku Morrigan, salah satu penyihir terdahulu. Kalian pasti tidak pernah mendengarnya. Aku juga ragu namaku ada di buku mana pun, karena aku telah 'dihilangkan'."
Kali ini, Hermione yang bertanya. "Dihilangkan?" Kata dihilangkan mengandung arti yang ambigu.
"Ya, namaku dihapus, dan jiwaku disegel. Mereka tidak berani membunuhku, tapi menggunakan cara paling buruk dengan mengurung jiwaku di dalam Dunia Ilusi."
"Lalu, artefak itu?"
"Ah, batu ini?" Morrigan dalam tubuh Quirrell memandang objek tersebut sambil tersenyum. "Sudah saatnya Hogwarts jatuh ke tanganku. Aku akan menggunakannya untuk mengembalikan wujudku. Jika dari kalian ada yang berminat menjadi sosok pahlawan, datanglah."
Setelah mengatakan itu, ada bayangan yang keluar dari tubuh Profesor Quirrell, dan bayangan itu dengan cepat masuk ke dalam kaca-meninggalkan pemilik tubuh yang tergeletak.
Ketiganya terpaku sejenak untuk memahami apa yang baru saja terjadi. Harry mengepalkan tangannya, seharusnya ia bertindak sesuatu sebelum sosok itu menghilang. Namun, Hagrid memberitahu bahwa Morrigan tidak bisa dilawan dengan cara ceroboh, terlebih di tangannya ada sesuatu yang sangat penting untuk semua. Salah langkah akan membawa mereka terperosok ke jurang.
Mereka berdiskusi untuk membuat keputusan. Mereka harus mengejar Morrigan, tapi tidak ada yang tahu ada apa di balik kaca itu. Sebuah Dunia Ilusi yang dikatakan oleh Morrigan, menurut Hermione, mengarah pada dimensi lain yang bisa dikendalikan oleh seseorang. Mengingat itu adalah mantra kuno, membuat semuanya berpikir keras.
"Biar aku yang pergi," ujar Harry.
Ron tidak setuju. "Kau sendirian? Yang benar saja? Kita semua harus ikut."
"Tidak bisa. Yang tahu kondisi sebenarnya hanya kita. Lalu, bagaimana dengan murid-murid yang lain?" Hermione balas membantah.
Hagrid akhirnya bersuara. "Kalau begitu, biar aku dan Harry."
"Hagrid, semua murid panik. Satu-satunya ancuan untuk mengendalikan situasi adalah kau." Lagi-lagi Hermione membantah. Lalu melanjutkan, "Biar aku dan Harry."
"Tidak perlu."
Bukan Hagrid. Bukan Ron. Bukan pula Profesor Quirrell yang masih terkapar. Suara itu datang dari arah tangga, diiringi langkah santai namun penuh percaya diri.
Harry langsung tahu siapa itu, bahkan sebelum sosoknya terlihat. Hanya satu orang yang menurutnya tedengar paling menyebalkan di sekolah ini.
Sosok berambut pirang itu akhirnya muncul bersama bibirnya yang melengkung tipis. "Biar aku dan Potter yang pergi."
Tentu saja, itu Malfoy.
"Hey, bagaimana kau bisa ke sini?" Hagrid penasaran.
Draco menjawab santai. "Aku tidak sengaja melihat profesor Quirrell, lalu mengikutinya karena hanya dia satu-satunya profesor yang kulihat." Pandangannya menayapu sekitar. "Tidak kusangka dia pergi ke tempat ini. Menakjubkan."
Sebelum semuanya melayangkan protes dan bantahan. Draco lebih dulu membuka suara untuk meyakinkan mereka semua.
"Kurasa Hagrid tidak bisa mengendalikan keadaan sendirian. Dia butuh orang lain yang bisa membantunya. Apa kalian tidak lihat bagaimana situasi saat ini?"
Ron menimpali, "Aku bisa pergi dengan Harry. Kau dan Hermione yang membantu Hagrid."
Draco menatap Ron. "Kau yakin? Apa kau pernah mendengar tentang sihir kuno dan dunia ilusi?"
Pertanyaan Draco membuat Ron kesal, karena harus mengakui bahwa ia tidak tahu mengenai hal tersebut. Namun dibandingkan jujur, ia memilih bungkam.
Tidak mendengar jawaban, Draco mendengus. "Kuanggap diammu sebagai jawaban."
Kedatangan Draco Malfoy-yang secara tiba-tiba-membuat keadaan semakin runyam. Mereka harus segera mencari jalan keluar.
Harry berjalan mendekat ke arah Draco. "Bagaimana denganmu, Malfoy? Apa kau mengetahuinya? Kalau kau hanya ingin bermain-main, sebaiknya kau pulang ke ayahmu."
Draco menyeringai tipis. Tatapannya mengunci mata Harry. "Bermain-main? Potter, aku tahu lebih banyak soal dunia ilusi dan sihir kuno daripada kalian. Tanpa aku, kau hanya masuk untuk mati konyol."
Hermione yang memiliki kepribadian kritis meragukan ucapan Draco. "Bagaimana kau tahu?"
"Privilage keluarga. Wajar kau tak tahu, Granger. Itu bukan pengetahuan untuk darah-lumpur."
Draco sialan. Hermione mengepalkan tangannya siap untuk memberikan tinjuan tepat di wajah titisan Malfoy yang kurang ajar itu!
Namun, tangan besar Hagrid menahannya. Memberi isyarat agar gadis itu tetap tenang agar tidak menimbulkan masalah baru. Ia juga merasa kesal dengan Draco Malfoy, tapi situasi sekarang lebih penting dibanding mengedepankan emosi.
"Kalau begitu, biarkan Harry yang memilih." Menurut Hagrid, ini cara paling adil agar mereka tidak bertengkar. Dan, ia percaya pada Harry.
Mendengar itu, Harry sekilas terkejut. Rasanya seperti diberi sebuah beban. Perkara utamanya adalah ia harus memilih antara sahabat atau Draco Malfoy. Harry tidak langsung menjawab, ia menatap ketiganya secara bergantian. Mempertimbangkan siapa yang harus dipilih.
Hermione cerdas dan bisa diandalkan. Ron pemberani dan juga bisa diandalkan. Sedangkan Draco... apa dia bisa diajak bekerja sama?
Harry ragus sesaat, tetapi sebuah gagasan muncul menuntutnya pada sebuah jawaban.
"Aku akan pergi bersama Malfoy."
Hermione dan Ron secara bersamaan, "???"
[To be continued... ]
