Work Text:
Jiyan menarik tajam napasnya, memegang batang pohon di belakangnya sebagai jangkar kesadaran. Penduduk desa sudah dievakuasi, tetapi tiba-tiba timnya disergap Tacet Discords yang jumlahnya berkali lipat dan kini mereka terpisah-pisah. Luka di dadanya tidak cukup fatal untuk melumpuhkannya, untung saja. Hanya saja tetap perlu segera ditangani sementara sebelum ia kembali ke posko medis terdekat.
Ah, namun Jiyan rasa anak buahnya lebih membutuhkan perawatan itu. Sang jenderal sudah terlampau terbiasa menelan rasa sakitnya. Ia bisa menanganinya sendiri. Tangannya sudah terbiasa mengobati orang lain. Tiada berbeda dengan mengobati diri.
Tertatih, ia meniti jalan menuju sebuah gua. Di bawahnya, air mengalir pelan. Sebetulnya, menunduk membuat tubuhnya semakin menjerit, tetapi Jiyan butuh perlindungan sementara untuk membalut luka-lukanya. Sesampainya di sisi terdalam gua, Jiyan duduk bersandar di dinding gua. Tumbuhan-tumbuhan bioluminesens dan kunang-kunang menyinari tempat itu. Tidak terlalu terang, tetapi cukup untuk Jiyan melihat luka-lukanya.
Dilepasnya lapis demi lapis pakaiannya sebelum merendamkan tubuhnya di dalam air. "Hssh! Mmm. Perih juga," gumamnya sambil membasuh luka-lukanya. Dingin air menggigit kulit. Jiyan menarik napasnya dalam-dalam, menghitung setiap detik napasnya masuk, tertahan, diembuskan. Selama ini, teknik bernapas itu membantunya tetap tenang.
Jiyan tidak pernah suka melihat darah, tetapi panggilan tugas memaksanya menyaksikan itu setiap hari. Darah yang terkucur dari tubuhnya tidak sebanding dengan darah rekan-rekannya yang mengotori tangannya. Tangis dan napas tersengal mereka, memohon Jiyan untuk mengakhiri rasa sakit mereka—yang tak jarang berarti mengakhiri hidup mereka.
Napasnya tersengal sejenak. Tidak. Tidak. Jiyan tidak boleh panik sekarang. Kalau panik sekarang, lukanya tidak bisa ditangani dengan baik. Jika tidak ditangani dengan baik, bagaimana dengan anak buahnya nanti? Siapa yang bisa membantu mereka jika bukan dia? Banyak orang membutuhkan Jiyan. Darah di tangannya sangat merah. Sejak kapan darahnya sebanyak ini? Apakah lukanya lebih dalam dari yang dikiranya?
Darahnya banyak sekali. Akankah aku mati hari ini?
"...ey."
"Hey!"
Badai yang berkecamuk di dalam benak Jiyan seketika menghilang. Suara itu memecah lamunannya. Ia mendongak ke asal suara; seorang pria yang sepantar dengannya, pakaian penuh aksen merah-kelabu, rambut putih dengan beberapa garis kemerahan, serta bekas luka di wajahnya yang mencolok. Seorang buronan yang beberapa waktu lalu baru saja melarikan diri dari penjara.
"Scar."
"Kamu terluka?"
Sebenarnya Jiyan tidak tahu pasti sejak kapan langkah mereka bersimpangan. Jiyan hanya mengingat awal mulanya adalah ketika Scar terluka dari hasil pertarungannya dengan Rover, sang penyelamat yang diramalkan. Di gua ini, di waktu yang kurang lebih sama, Fractsidus Overseer itu berlindung. Di gua ini pula, saat itu Jiyan hendak membersihkan tubuhnya.
Melihat kriminal kelas kakap itu sedang dalam kondisi rentan, Jiyan tahu ini kesempatan baginya untuk menyelesaikan entah perseteruan apa yang dimiliki Fractsidus dengan Jinzhou—hei, bahkan Scar menantangnya untuk segera mengalahkannya. Akan tetapi, akal sehatnya berkata lain. Sang jenderal memutuskan untuk mengobatinya, lalu membiarkannya pergi.
Semenjak saat itu, jalan mereka terlampau sering bersimpangan. Rasa-rasanya seperti takdir yang dibuat-buat. Dari tantangan sparing saat Jiyan berkeliling untuk berjaga, hingga momen-momen tersembunyi di balik dinding dan jeruji sel. Jiyan tidak menyangka kali ini jalan mereka kembali bersimpangan.
"Ah, ini. Gak apa-apa."
"Naik. Jangan kelamaan berendam. Nanti kedinginan, malah sakit."
Oh.
Jiyan bangkit dari dalam air, mendudukkan dirinya di sisi aliran air. Scar membongkar tas bawaannya. Dua botol dikeluarkan dari sana, bersama segulung kain dan handuk kecil. Ditaruhnya barang itu di dekat Jiyan lalu ia membasuh tangannya dengan air yang mengalir di dekat mereka. Scar kemudian mengambil handuknya dan mendudukkan diri di samping Jiyan. Perlahan, ia menepuk-nepuk pelan handuk di tubuh Jiyan, mengeringkan area sekitar lukanya.
"Maaf, aku gak begitu paham medis dan ini belom pernah kupakai," ucap Scar sambil masih mengeringkan tubuh terluka Jiyan, "tapi aku coba sebisaku."
"Gak usah, gak apa-apa."
Scar menatapnya balik. Alisnya mengerut tak suka sebelum kembali pada pekerjaannya. "Aku mau bantu, Jiyan."
Oh ....
"Bentar." Jiyan meminta botol yang sedang dipegang Scar. Dilihatnya kemasan obat itu. Dari ... Ragunna?
"Itu aku dapet sambil nonton Phrolova ngisi Carnevale, hehe," jelas Scar. "Kata apotekernya, bisa jadi antiseptik sekaligus pereda nyeri."
Sang jenderal mengernyit, membaca bahan-bahan yang tertulis di label botol. "Aku gak begitu familier dengan beberapa nama bahan yang digunakan."
"Oh, ya?"
"Mungkin karena aku belum pernah ke sana." Jiyan mengembalikan botol itu pada Scar. "Kamu beli dari mana?"
"Ada apotek di tengah kota. Kamu mau pakai atau nggak? Aku belum pernah pakai, tapi di botolnya ada aturan pakai."
"Kalau gak pernah dipakai, untuk apa dibeli?"
"Mmm, jaga-jaga aja. Aku gak bisa berharap bakal ada kamu buat nolongin aku semisal aku terluka lagi."
Derik serangga malam terdengar di kejauhan. Hening menyela pembicaraan mereka. Dingin semakin menggigit tubuh Jiyan yang terluka—linu. "Ekhem," Scar berdeham, "atau kamu ada bawa obatmu sendiri?"
Jadi kini Scar mengambil obat-obatan dari tas yang dibawa Jiyan. Dengan kain perban, ia membalut luka di dada Jiyan.
"Pakai obat yang ini," titah Jiyan sambil menyodorkan sebuah botol pada Scar. "Taruh di perbannya aja. Jangan langsung di lukanya."
"Oke."
"Tarik yang kenceng."
"Nanti sakit—"
"Aku beritahu kalau sakit."
Pengalaman memang tidak bisa berbohong. Jiyan menarik kain itu, membebat tubuhnya yang terluka, dengan lihai. Rekan di sampingnya masih terlihat kikuk dengan pekerjaannya. "Balut lagi aja. Biar gak rembes," ucap Jiyan. Jemarinya menggenggam tangan Scar yang beristirahat di atas balutan perban yang baru saja mereka selesaikan. "Udah paham, 'kan?"
Walaupun menghabiskan waktu sedikit lebih lama dari yang biasanya Jiyan habiskan, pekerjaan Scar cukup rapi untuk ukuran seseorang yang tidak terbiasa mengobati luka. Kini ia beralih pada sayatan-sayatan yang menghiasi lengan dan bahu Jiyan. Scar mengoles tipis cairan antiseptik kekuningan dari botol obat lain menggunakan kapas sebelum menutupnya dengan kain kasa.
"Kenapa kamu bisa begini? Anak buah kamu ke mana?" Scar masih fokus dengan pekerjaannya.
"Lagi evakuasi warga sekitar sini terus terpisah. Abis ini aku harus langsung balik ke markas."
"Kamu tahu kalau kamu bisa istirahat sebentar, 'kan?"
Jiyan terdiam sejenak saat kedua netra berlainan warna itu menatapnya. Istirahat ... ya? Bisa, sih. Tetapi bagaimana dengan orang-orang yang dilindunginya? Dengan kota yang dilindunginya? Dengan anak buahnya yang dengan gagah berani menyertainya ke garis depan? Dengan .... Dengan ....
Kalau dia menutup matanya barang semenit saja .... Ah, terlalu lama. Nanti Jiyan bisa kehilangan pasukan jika ia mengutamakan waktu istirahat.
"Hey. Apa yang dilamunin, sih?"
Rupanya Scar sudah menyelesaikan pekerjaannya di saat Jiyan terdiam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Scar sekarang duduk di sampingnya, lutut menempel pada dada agar kepalanya bisa bertumpu di sana. "Gak ingat ada aku di sini, ya? Huu, sedihnya~"
"Kenapa kamu begini?"
"'kan aku udah bilang aku cuma mau bantu kamu."
"Nggak. Maksudku," Jiyan menyandarkan tubuhnya pada bebatuan di belakangnya. Mengernyit sedikit karena linunya masih ada. "Kenapa kamu selalu mencariku, seolah kamu sedang mengejarku?"
Scar tersenyum kecil, tetapi matanya berbinar. "Entahlah. Kenapa kamu selalu menyambutku saat aku menemuimu? Kadang aku pikir, kamu memang menungguku datang."
Huh.
Kedua bibir mereka rapat. Sibuk dengan pikirannya masing-masing, tetapi tatapan mereka masih terkunci pada satu sama lain; Jiyan dengan segala pertanyaannya dan Scar dengan segala harapannya. Bahu mereka bersentuhan. Andai saja yang bersentuhan kali ini adalah bibir mereka.
"Jiyan."
"Aku gak bisa lama-lama," jawab Jiyan pelan. Napas mereka bertautan. Ujung hidung kedua pria itu bersentuhan. Scar memejamkan matanya, menikmati friksi lembut yang tercipta di ujung hidungnya. Oh, andai ia cukup berani untuk menyentuhkan bibirnya pada bibir sang jenderal. Napas Jiyan tercekat untuk sesaat, sebelum ia kembali menarik dan mengembus pelan.
Jiyan tidak bisa melepaskan pandangnya dari belah bibir mengilap itu. Apa Scar memoles bibirnya hari ini? Sekilas juga tampak lebih ranum dari biasanya.
(Dari biasanya?)
Sejak kapan Jiyan memerhatikan detail-detail terkecil dari Overseer itu? Informasi seperti itu tidak ada kegunaannya untuk melindungi Jinzhou dari ancaman Fractsidus maupun Dark Tide.
"Kamu harus istirahat. Sebentar saja. Di luar sana masih banyak Tacet Discords." Scar menarik dirinya menjauh lalu bangkit berdiri. Tas dan jaketnya ia lepaskan, hingga satu per satu pakaiannya dilucuti. "Tidur satu jam tidak akan kenapa-kenapa. Aku bersumpah tidak akan macam-macam."
"Kamu ngapain????"
Scar melangkahkan kakinya ke aliran air, merendam tubuhnya di sana. "Tubuhku rasanya lengket setelah seharian di luar. Sebenarnya aku kemari untuk mandi." Dibasuhnya bahu yang penuh bekas luka itu. "Kebetulan ketemu kamu lagi."
Jiyan menghela napasnya lelah. Tubuhnya memang terasa sangat lesu dan matanya berat. Sebentar saja ... Sebentar saja ia ingin beristirahat. Tidak ada salahnya, 'kan?
Toh, entah mengapa hatinya berkata bahwa kriminal itu tidak akan melukainya bangsa sehelai rambut pun.
Waktu berlalu tepat enam puluh menit ketika Jiyan kembali membuka matanya. Bertahun-tahun berada di militer membuatnya terbiasa memperkirakan waktu istirahatnya. Di sisinya, Scar turut terlelap dengan lutut yang didekap erat.
Sudah saatnya kembali.
Jiyan segera memakai kembali alat pelindung dirinya, mengencangkan kembali sabuk-sabuk dan tali sepatu botsnya. Ia harus meninggalkan tempat aman ini untuk kembali melintasi zona perang menuju tempat pasukannya berada.
"Buru-buru sekali."
Jiyan menoleh dari bahunya, melihat Scar yang meregangkan tubuhnya lalu bangkit berdiri.
"Sudah satu jam. Aku tidak bisa buang-buang waktu."
Scar terkekeh dan beranjak menuju jalan keluar. "Oh, rupanya Midnight Rangers bisa hancur-lebur misal ditinggal tidur jenderalnya barang satu jam, ya? Informasi yang menarik."
Sang jenderal menghampirinya, berdiri tepat di sampingnya. "Kamu mau ke mana habis ini?"
Scar mengedikkan bahunya. "Entahlah. Yang jelas jauh darimu ... untuk sementara waktu."
"Sampai tiba-tiba kita bertemu lagi?"
"Hahaha! Siapa yang tahu. Yang jelas, aku harap di kebetulan berikutnya aku tidak menemuimu dalam kondisi terluka."
"Terima kasih untuk yang tadi."
"Jaga dirimu, Jenderal."
Dan untuk entah berapa lama, mereka menunggu takdir mempertemukan mereka kembali dalam sebuah kebetulan.
