Work Text:
Giyuu menggerutu kesal saat Tanjiro, rekannya, memberitahu bahwa nanti siang ada urgent meeting dengan rekan sesama KOL Specialist untuk membahas upcoming campaign bulan depan. Terkadang Giyuu merenung dan berpikir, kenapa dia harus kerja di agensi gila seperti ini. Menjelang akhir tahun adalah hal paling menakutkan untuk semua orang di kantornya, termasuk dirinya. Karena semua jenis pekerjaan seperti turun dari langit tanpa bisa dicegah. Membuatnya harus bekerja siang malam, sambil juga mengurus beberapa talent yang harus dia pastikan mengerjakan pekerjaannya sesuai dengan SOW yang sudah disepakati. Singkatnya, menjelang akhir tahun adalah neraka. Neraka tanpa sehari pun libur melainkan lembur berkepanjangan. Lagipula tidak ada kata libur di dalam kamus Giyuu. Terlebih setelah dia tercebur ke dunia agensi yang membuat kata libur seperti tidak pernah ada sebelumnya.
Suara ketukan dua kali terdengar lagi dari balik kubikelnya saat Giyuu sedang mengecek kembali beberapa agenda di notes-nya, lalu tidak lama kemudian kepala Tanjiro menyembul dari baliknya. Matanya menyorotkan penyesalan, tapi penting. Seperti biasa, pasti bukan hanya urgent meeting.
"Apa lagi!?" sembur Giyuu dengan ketus. Melihat Tanjiro yang diam saja di posisinya, sambil memilinkan pensil yang ada di tangannya, entah mengapa membuat perasaan Giyuu gusar.
Tanjiro seperti kehilangan kotak suara, ia mendadak bisu. Keningnya sudah mengeluarkan keringat dingin sebesar biji jagung. Mengganggu ketenangan Giyuu adalah daftar paling terakhir yang ada di dalam agendanya. Tapi ini penting!
"Kamado Tanjiro? Kamu mau diam terus? Memangnya ga ada KOL yang harus kamu follow up?"
"Ga gitu loh Kak," potong Tanjiro gugup. Ia menarik napasnya dalam-dalam, kemudian melanjutkan, "Itu, tadi Kak Tsutako DM aku di Instagram, katanya minta Kakak buat pulang ke rumah. Kakak ga angkat telfon katanya, makanya aku di-DM diminta untuk--"
Belum sempat Tanjiro menyelesaikan kalimatnya, Giyuu sudah memotongnya dengan decakan kasar. Juga umpatan. Membuat nyali Tanjiro seketika menciut. Ia ragu, antara ingin melanjutkan informasinya, atau segera kembali ke kubikelnya dan memilih menghadapi segala jenis tingkah KOL yang ajaib-ajaib itu.
"Aduh," geram Giyuu tertahan.
Kemudian, tanpa menunggu lagi Tanjiro sudah duduk kembali di kursinya. Yang mana Giyuu syukuri, karena tidak perlu membuang tenaga untuk menyuruhnya enyah.
***
Kakak : kakak gak mau tau, ya, gi, Kalau minggu depan kamu masih tidak datang juga, kakak hapus nama kamu dari kartu keluarga. abah udah setuju.
Abah Sayang : Kamu sudah dewasa. sudah bisa memutuskan. abah, sih, dukung yang menurut kamu baik Gi.
Kakak : loh, abah tadi ngomongnya ga gitu!
T. Giyuu : masuk bulan november tuh, udah peak season kak. lo ngomong gitu kaya ga pernah kerja aja sebelumnya.
T. Giyuu : gue udah kasih hadiah ulang tahun ke abah. jangan sewot tolong.
***
Douma tersenyum saat mendengar pasiennya mengucapkan terima kasih. "Sama-sama Eyang, jangan lupa minggu depan datang lagi, ya!" Peringatnya dengan ekspresi galak dibuat-buat. Membuat Shinobu, asistennya, terkekeh pelan.
"Iya, aku gak akan lupa," sahut Eyang ketus. Tipikal seorang kakek yang ogah-ogahan kalau diminta untuk rutin minum obat.
Kemudian Shinobu mengantar Eyang sampai ke pintu, tidak lupa Douma menitipkan salam untuk anak gadisnya. Hanya ramah tamah, tidak lebih. Toh, anak gadisnya Eyang juga sudah memiliki kekasih.
Shinobu menutup pintu setelah Eyang pergi. Ia mendesah lelah, pasien terakhir yang satu itu memang menguras tenaga sekali. "Kamu juga jangan lupa pulang, udah ga ada pasien lagi sampe lusa."
Douma tidak ingat kenapa dia memilih pekerjaan ini sebagai cara untuk menghabiskan sisa umurnya. Ditambah saat ini dia sedang melanjutkan pendidikannya agar dia terkesan lebih serius dengan pilihan hidupnya ini. Memang terdengar serius, tapi kenyataannya tidak. Jauh dari kata serius, sangat serius. Douma hampir tidak memiliki waktu untuk sekadar menyenangkan dirinya sendiri. Maka dari itu, atas bantuan Shinobu dan perawat lainnya, Douma berhasil diliburkan oleh mereka. Kalau tidak begitu, lama-lama klinik ini akan berubah nama jadi "Douma Physiotherapist" karena setiap jadwalnya hanya diisi oleh dirinya seorang.
Douma masih memasang senyum tipisnya, senyum karir yang sudah bertahun-tahun dia jadikan sebagai default ekspresinya. Hanya saja, satu desahan lelah tak ketara berhasil lolos dari bibirnya. "Nanti malam aku pulang, kok. Tenang aja. Kamu tuh kayanya seneng yah, ga ada aku di sini?"
Shinobu tanpa ragu sama sekali langsung mengangguk semangat, mengiyakan. "Kalau ada kamu tuh, entah kenapa, klinik jadi berisik, aku sama Kanao jadi ga fokus."
Douma mencibir, "Ngawur."
***
"Aku masih di jalan loh Bu," sahut Douma lembut. Ibunya menelepon hampir setiap 15 menit sekali. Menanyakan sudah sampai di mana, kenapa lama sekali, di jalan macet atau tidak, dan pertanyaan khawatir lainnya. "Gak tahu, tadi lancar-lancar saja, kok."
Douma tertawa saat mendengar Ibunya mendengkus kesal di ujung sana. "Sudah, ya, Bu. Nanti aku ditilang polisi, nih, kalau telfonan terus,"
"Ya gak bisa gitu, sudah ya ... apa? Oh, iya, dah Bu,"
Douma melepaskan earphone dari telinganya. Kepalanya menggeleng sambil sesekali terkekeh. Ibunya tidak akan berhenti seperti itu sampai ia memiliki pasangan hidup. Atau minimal, kekasih. Tapi sayangnya Douma harus lebih membesarkan hati lagi tahun ini. Jadwalnya di klinik hampir selalu penuh, belum lagi dia yang masih harus mengikuti beberapa seminar di hari-hari tertentu sebagai salah satu bentuk tanggung jawabnya atas pilihannya. Hari-harinya sudah terlalu penuh untuk ditambah satu agenda lagi, bahkan untuk sekadar makan siang saja Douma masih mengandalkan Shinobu untuk mengingatkannya. Jadi, kalau sudah begini, Douma hanya bisa pasrah saja, kan?
Topik mengenai pasangan hidup memang lumayan sering diungkit oleh Ibunya, tapi Douma masih bisa mengatasinya. Terakhir kali Douma membawa orang untuk menemui Ibunya adalah Shinobu, tapi respon Ibunya di luar prediksi. Termasuk Shinobu, siapa sangka wanita paruh baya itu akan menolaknya secara halus. Bukan Ibunya tidak merestui, tapi interaksi anaknya, Douma, dengan wanita seanggun Shinobu terlihat sangat dibuat-buat. Mereka tidak seperti pasangan yang memilik perasaan satu sama lain, lebih cocok disebut rekan kerja saja.
Dan memang begitu kenyataannya. Douma yang membawa Shinobu ke kediamannya hanya sebuah upaya untuk membungkam permintaan Ibunya untuk sementara, dan berhasil. Walau bukan penolakan sang Ibu yang ada di kepala Douma, tapi ya sudah. Tetap berhasil.
Douma menginjak pedal rem dengan segera ketika mobil di depannya berhenti tiba-tiba. Ia melirik kaca spion tengahnya. Untung saja di belakang gak ada mobil.
"Kak gimana, sih, kalau mau berhenti itu kasih lampu sign dong! Bikin celaka saja!"
Douma mendengar bentakan suara bapak-bapak. Keningnya mengerut. Hujan deras menghalangi jarak pandangnya, bahkan wiper-nya saja tidak bisa membantu banyak. Awalnya Douma menyerah, dia hanya berusaha mendengar percakapan yang seperti saling tarik urat itu dari dalam mobilnya. Tapi lama kelamaan ia merasa gusar, melihat sekumpulan bapak-bapak mengerubungi entah apa di sana.
Ada kecelakaan?
"Loh, Pak, kalau saya tahu mobil saya bakal mati kayak gini, gak akan saya berhenti di tengah jalan," adalah suara yang pertama kali terdengaroleh indra pendengaran Douma, meskipun lirih Douma yakin kalau yang baru saja membalas si bapak tadi itu adalah lelaki. Meski suaranya terdengar sangat kecil, Douma tahu kalau lelaki itu kesal.
"Duh, coba ke pinggirin mobilnya ini,"
"Kalau saya bisa juga, sudah dari tadi saya dorong, Pak!"
Entah sejak kapan Douma melepaskan seat belt-nya, dan membuka pintu mobilnya. Bibirnya spontan mengumpat saat merasakan tetesan air hujan di kepalanya. Douma kembali menutup pintunya, mengambil payung yang selalu dia letakkan di kursi belakangnya dan segera keluar.
Napas Douma tercekat saat melihat seorang lelaki mungil sedang mendorong mobilnya. Sendirian, dengan ditonton dua orang bapak-bapak. Orang gila pun tahu yang dilakukan bocah itu ga memengaruhi apapun. Mobilnya bergerak barang sesenti pun tidak.
Jadi, anak SMA yang mobilnya mogok? Ini bapak-bapak pada edan atau gimana!?
"Selamat malam bapak-bapak," nimbrung Douma. Membuat kedua bapak-bapak di sana menoleh padanya. Dengan dengusan kesal, membalas sapaan ramah Douma. "Ada masalah apa ini, Pak?" tanya Douma, sengaja mengeraskan suaranya saat deru hujan menelan suaranya.
"Ini, mobil Kakak ini mogok, Mas," disahuti oleh teriakan yang sama besarnya oleh salah satu bapak-bapak yang ada di sana.
Douma tersenyum tipis, berusaha menjaga kesan ramah agar tidak menimbulkan masalah tambahan, "Yaudah, yuk, Pak, kita bantu?" ajak Douma.
Bapak yang memakai boomber jacket berdecak. Lalu melepaskan jaketnya, dan menggulung lengan kemejanya. Diikuti bapak yang kedua. Dalam hati, Douma mendesah lega. Hanya perlu orang ketiga untuk menengahi. Dan itu dirinya. Douma juga melakukan hal yang sama. Ia menaruh payungnya di atas rumput, membiarkan sepenuhnya air hujan membasahi badannya, kemudian menghampiri lelaki mungil tadi.
"Gak usah, Pak! Saya gak butuh bantuan bapak-bapak," sembur lelaki mungil tadi ketus. Dia sudah tidak mendorong mobilnya lagi, mungkin tahu usahanya hanya sia-sia. Douma perhatikan yang sedang lelaki itu lakukan adalah mengutak atik ponselnya, di bawah hujan tanpa penadah apapun di atas kepalanya. Membuat tetesan hujan tanpa ampun jatuh tepat di atas layar ponselnya. Douma yang melihat itu rasanya ingin tertawa, keras kepala sekali, seperti Eyang si pasien istimewanya tadi.
"Loh, Kak gimana, sih? Sudah untung mau saya bantuin!"
"Gak, Pak. Gak usah."
Douma mengerang menahan umpatan di ujung lidahnya.
Dengan langkah cepat, Douma menghampiri mereka. Sebelum perdebatan semakin menjadi. Atau lebih parahnya, sebelum ada pengguna jalan lain yang menghubungi polisi. Demi Tuhan, ini hanya soal mobil mogok. Bukan kecelakaan.
"Selamat malam, Mas," ucap Douma dengan cepat. Ia tidak mau membuang waktu lagi. "Kalau Mas bisa dorong sendiri mobilnya, ya gak apa-apa. Tapi ini, kan, Mas gak bisa. Sebelum macetnya parah, mendingan Mas telan dulu, deh, kesalnya," suara Douma terdengar tegas. Jenis suara yang selalu ia keluarkan saat menghadapi pasien sejenis Eyang yang keras kepala.
"Saya gak butuh bantuan—"
"Ayo, bapak-bapak, dorong!" Seru Douma, sepenuhnya menghiraukan lelaki mungil tadi. Douma biarkan saja, mengabaikan sepenuhnya umpatan yang dilontarkan lelaki itu. Douma hanya mau masalah sepele ini cepat selesai sebelum bapak-bapak yang sudah mau membantu kembali berubah pikiran.
***
Giyuu meletakkan dua paper cup ke atas meja. Sedikit kasar, sengaja. Pria yang baru saja membantunya itu memaksa Giyuu untuk membelikan kopi hangat untuknya. Hangat, bukan panas. Kini mereka sedang menepi di salah satu Coffee Shop 24 jam yang ada di rest area. Tidak ada pilihan lain untuk Giyuu selain mengikuti instruksi dari salah satu bapak-bapak yang sudah membantu menepikan mobilnya barusan. Kalau tidak, dia pasti akan mati kedinginan.
"Terimakasi, Mas," ucap pria itu, tanpa sedikitpun mengangkat kepala dari ponselnya.
Giyuu memang bukan jenis manusia yang suka beramah tamah dengan orang asing, tapi dia merasa kesal dengan kelakuan pria yang sedang duduk di depannya ini. Boleh saja dia sudah membantu mendorong mobilnya, tapi menyuruh membelikan kopi?
Dalam kepala rumitnya, hanya Abah dan Kakaknya saja yang boleh menyuruhnya dengan nada memerintah seperti tadi. Tapi Giyuu baru saja melanggar prinsipnya sendiri.
Giyuu berdeham, selain untuk melonggarkan tenggorokannya, dia melakukan itu juga bermaksud untuk memancing respon dari pria di hadapannya ini. Sekali lagi, walaupun Giyuu bukan jenis manusia yang akan suka rela beramah tamah, tapi dia bukan manusia tanpa etika. Meminta maaf adalah hal yang akan dia lakukan. Pria jangkung di hadapannya ini sudah membantunya, membelikannya kopi saja tidak cukup.
Tidak ada tanggapan dari pria di depannya.
Baiklah.
"Terimakasi banyak, ya, Pak," mulai Giyuu perlahan. Sesekali matanya melirik ke arah pria itu. Karena masih belum mendapat tanggapan apapun, Giyuu melanjutkan. "Kalau gak ada Bapak tadi, mungkin sekarang saya sedang diinterograsi di kantor." Giyuu diam. Membayangkan saat ini dia sedang berada di kantor polisi merupakan sebuah mimpi buruk. Tanpa sadar ia bergidik ngeri.
Giyuu mendesah. Dia sudah menghubungi jasa derek untuk membawa mobilnya yang mogok tadi. Entahlah Giyuu tidak paham, tapi pria jangkung ini menyebutkan kalau terjadi masalah mesin di mobilnya. Dia saja tidak ingat kapan terakhir kali mengganti handuknya di kos, apalagi mengingat jadwal servis mobil bututnya itu. Jadi, yang perlu ia lakukan sekarang adalah menelepon taksi. Atau mencari hotel, paling tidak untuk istirahat.
"Makanya, kalau masih SMA itu jangan sok-sokan bawa mobil, Mas. Sampai ke tol pula,"
Hah?
Giyuu menahan napasnya sebentar, berusaha mencerna maksud dari ucapan si pria tidak diketahui namanya ini. Jadi pria ini mengira dia masih anak SMA?
"Saya punya SIM, Pak," sahut Giyuu tanpa sadar.
Pria itu mengangkat wajahnya, menatap Giyuu lekat. Kedua alisnya terangkat. Kalau boleh Giyuu tebak, pria di hadapannya ini sedang menilai penampilannya. Dilihat dari bola matanya yang bergerak naik turun.
"Baru berapa bulan punya SIM, Mas?"
Tomioka Giyuu lumayan terperangah mendengar pertanyaan yang diajukan untuknya itu. Selama dia bekerja di agensi dan menghadapi segala jenis watak manusia yang diciptakan Tuhan, tidak pernah sebelumnya Giyuu difitnah umur seperti ini. Jujur saja, dengan perawakannya yang memang jauh dari standar normal lelaki dewasa, ucapan seperti "keliatan kaya anak sekolah" tidak pernah Giyuu anggap pujian sama sekali. Giyuu adalah lelaki dewasa, di kasusnya kali ini, dia sudah punya SIM.
***
"Tomioka Giyuu," Douma mengeja nama yang tertulis pada SIM yang ada di tangannya. Matanya kemudian tertuju pada baris tanggal lahir, hal yang ia cari. Kemudian bibirnya mendesah tanpa sadar.
"Lihat, kan, Pak?" sungut lelaki di hadapannya.
Douma mengangguk tidak yakin. Lelaki di hadapannya ini hanya 4 tahun lebih muda dari dirinya. Tapi Douma merasa kalau satu dekade-lah yang paling tepat menggambarkan perbedaan umur mereka. Entah karena tubuh lelaki itu terlalu kecil, atau Douma saja yang merasa sudah berumur.
Douma mengembalikan SIM milik lelaki itu, yang diterimanya dengan gerakan super gesit. Membuat Douma terkekeh. "Saya gak akan ambil SIM-nya, Mas,"
Lelaki itu membalasnya dengan dengusan. Ya Tuhan, galaknya.
"Mas mau kemana kalau boleh tahu?" tanya Douma kemudian. Jeda di antara mereka yang terlalu lama itu membuat Douma tidak tahan. Jam tangannya sudah menunjukkan hampir tengah malam. Dan lelaki di hadapannya ini sendirian, tidak ada tanda-tanda akan ada yang menjemputnya. Menggulirkan layar ponselnya hanyalah satu-satunya kegiatan yang dilakukan lelaki itu. Entah apa yang dicarinya di dalam posenlnya itu. Tidak mungkin, kan, kalau Douma melanjutkan perjalanannya? Mana tega.
Douma sebetulnya sudah siap untuk bertanya yang kedua kali, saat dirasa lelaki di hadapannya ini tidak mendengar pertanyaannya barusan. Tapi kemudian Douma mengatupkan bibirnya.
"Bogor," sahut lelaki itu.
"Saya mau ke Bogor juga, Mas," balas Douma. Siapa sangka kalau tujuan mereka ternyata menyambangi kota dengan julukan kota hujan itu?
Douma menunggu dengusan lain dari bibir lelaki di hadapannya. Tapi Douma entah harus terkejut atau heran, mendapati binar senang dalam mata lelaki itu saat menatapnya. Douma tahu, dia baru saja akan menolong lelaki itu untuk kedua kalinya.
"Panggil Giyuu saja, Pak," kata lelaki itu dengan napas tertahan. "Bapak sendirian, kan?—eh, maksudku, aku mau ikut numpang. Boleh, Pak? Nanti Bapaknya boleh turunin aku di Baranang Siang saja, aku juga bakal bayar, kok,"
Pergantian saya-aku yang dilontarkan lelaki mungil yang sudah memberinya izin untuk memanggilnya Giyuu itu, tentu saja, membuat Douma agak terkesiap. Tidak pernah dalam kepalanya membayangkan kalau Giyuu, si lelaki mungil itu, akan berusaha mengakrabkan diri dengannya seperti itu. Walau terlihat usahanya yang luar biasa untuk memaksa diri. Lucu sekali, pikir Douma.
"Eh ... sa--aku," Douma kesulitan menyamkan penyebutan dirinya antara saya dan aku. Ini terlalu mendadak.
"Bapak gak lewat Baranang Siang, ya? Atau kalau engga, Bapak turunin saya di Indomart dimana kek. Asal di Bogor,"
Douma tersenyum tanpa sadar. Ia mengambil paper cup yang belum disentuhnya sama sekali itu, lalu menyeruput kopinya perlahan.
***
"Selamat ulang tahun, Abah," kali ini giliran Giyuu yang dapat giliran. Ia memeluk tubuh ringkih Abahnya dengan hati-hati. "Gimana rasanya masih hidup sampe sekarang?" tanyanya jahil.
"Giyuu!" Itu suara Kakaknya. Juga bonus getokan di kepala. "Bukannya doain yang baik-baik buat Abah."
Giyuu hanya mendengkus.
"Ada tamu, tuh, di depan," Seru suara yang dikenal baik oleh Giyuu, Sabito, dari ruang tengah. "Nyari kamu, Gi,"
Siapa?
"Siapa, Gi?" Tanya Kakaknya penasaran.
Giyuu menggelengkan kepalanya. "Gak tahu," jawabnya enggan. Toh, dia memang tidak tahu siapa yang datang.
Namun Giyuu tetap berjalan ke depan, menemui tamunya. Orang gila macam apa yang ingin bertemu dengannya di pagi hari begini? Apalagi ini weekend. Demi Tuhan, Giyuu bahkan sudah mengajukan cuti!
"Loh, Pak—" bibir Giyuu terkatup. Tangannya dengan refleks menunjuk sosok yang sedang berdiri di pekarangan rumah Abahnya. Ia jelas sangat terkejut.
Douma tersenyum tipis, sedikit tertawa geli, menanggapi keterkejutan Giyuu. Dia lalu melambaikan tangannya, meminta Giyuu untuk datang menghampirnya ketika lelaki mungil itu justru diam saja.
"Kacamata kamu ketinggalan di mobilku."
